Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
48. Bloodlust



Kagami dan liyana pun berjalan jalan sebentar bersama sebelum untuk melanjutkan petualangannya berlanjut.


Liyana yang langsung menarik tangan kagami dan mengajak mempercepat langkahnya untuk menuju suatu tempat yang liyana inginkan.


"Liyana kau kenapa seperti kau berbeda dari sebelumnya?" Kagami langsung bertanya kepada liyana.


"Ti-tidak kok mungkin firasatmu saja kok" liyana yang menjawabnya.


"Sepertinya kau masih belum merelakan Mikhaile pergi yah?" Kagami langsung berbicara ke intinya agar liyana mengakuinya.


"Disini saja kagami memperhatikan pemandangan indah" liyana yang mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah kalau kau tidak mau mengakuinya" kagami langsung memperhatikan pemandangan dari ketinggian.


"Maaf kagami aku masih belum bisa melepaskan Mikhaile yang akan pergi dan tidak akan bersama kita lagi" liyana yang memeluk badan kagami dari belakangnya.


"Mengerti kok dan tidak perlu di sembunyikan begitu dariku" kagami yang memegang kedua tangan liyana.


"Maaf karena takut mimpiku menjadi kenyataan" liyana yang berbicara sambil ketakutan.


"Tidak apa apa jangan takut karena aku ada disini melindungimu dan pedang Bloody Sfraksor juga sudah ada di tanganmu lalu kau tidak perlu takut kau hanya harus mengakui kekuatanmu kuat jika kau ingin hidup bersama" kagami membalikkan badannya menghadap liyana.


"Begitukah?" Liyana yang bertanya sekaligus tidak percaya.


"Lihat saja aku kenapa bisa kuat? Dan berani menghadapi semuanya meskipun konsekuensinya aku harus pingsan setelah selesai pertarungan" kagami yang membuat liyana agar percaya.


"Tapi kau akan melindungiku jika aku kalah?" Liyana yang masih ragu ragu.


"Ya aku akan melindungimu meskipun kau kalah lalu aku akan membalaskan dendam karenamu yang kalah" kagami yang berbicara kepada liyana.


"Terimakasih kagami" liyana yang mulai tersenyum tandanya telah percaya.


"Yasudah mau kemana lagi sekarang?" Kagami bertanya kepada liyana.


"Oh ya kapan mau berpetualang lagi?" Liyana yang bertanya lagi.


"Mungkin besok untuk sekarang istirahat dan mengembalikan energi yang sudah terpakai dahulu saja" kagami yang menjawab pertanyaan liyana.


"Yasudah bagaimana kalau istirahat dan kembali ke dalam kamar" liyana yang mengajak kagami.


"Kau ingin tidur lagi bersamaku? Lalu hoaxen dan Tenebris kalian ingin tinggal di sana?" Kagami yang bertanya kepada liyana, hoaxen dan Tenebris.


"Aku mmm tidak tau tapi tidur denganmu sempit hampir aku terjatuh" liyana yang kesal mengingat hal itu.


"Baiklah aku akan coba bicara dengan Mikhaile nanti" kagami berbicara lalu hoaxen dan Tenebris pun memperlihatkan dirinya.


"Maaf tuan kami berdua tidak sadar atas hal itu dan saya kira tuan masih pingsan" Tenebris yang berbicara sambil meminta maaf.


"Jadi aku sudah bangun dan melakukan pemanas-- hah lupakan saja" kagami yang sudah kesal lalu tidak melanjutkan bicaranya.


"Sudah sudah kagami jangan marah dan kesal begitu" liyana yang menenangkan diri kagami.


"Terimakasih atas sudah memaafkan perbuatan kami berdua" Tenebris dan hoaxen langsung menghilang dan masuk ke dalam dunia buatan kagami.


"Baiklah liyana kau tidak ingin istirahat?" Kagami yang bertanya kepada liyana.


"Tidak akuakan mengikutimu kagami lalu kau mau kemana lagi?" Liyana yang bertanya balik kepada kagami.


"Mungkin melanjutkan latihan untuk mencoba kekuatan yang ingin di kendalikan" kagami sambil berjalan sambil menggandeng tangan liyana.


"Nanti sampai disana aku ingin bertarung denganmu kagami boleh? Lalu ini senjatamu aku kembalikan" liyana sambil melepaskan tangannya lalu memberikan senjatanya kepada kagami.


"Baiklah kalau kau ingin melakukannya dan terimakasih sudah mengembalikannya" lalu kagami memberhentikan langkahnya lalu menerima senjatanya yang di titipkan sebelumnnya lalu mengusap kepala liyana yang sudah semakin dewasa.


"Dimension : Teleportasion!" Lalu kagami dan liyana pun langsung melakukan teleportasi ke belakang gunung dengan pengendalian ruang dan waktu.


Liyana dan kagami sesampainya disana melakukan persiapan sebelum pertarungan dengan kekasihnya untuk pertama kalinya.


"Kau siap liyana" kagami yang tersenyum kepada liyana.


"Lexalicus bentuk ke 2 : Thusilent Spear" kagami mengubah senjatanya menjadi spear lalu liyana tidak mau kalah mengeluarkan pedang Bloody Sfraksor.


"Baiklah ayo kita mulai" liyana yang langsung melesat ke depan kagami langsung melancarkan serangan kepada kagami.


"Lumayan tapi masih lambat" kagami yang menghilang dari hadapan liyana lalu mencul di belakangnya lalu memukul badan liyana hingga terpental menabrak gunung di belakangnya.


"Uhuk lumayan aku tidak akan kalah dan itu hanya akan terjadi 1x tidak akan terulang 2x" liyana yang langsung melesat dengan kecepatan yang meningkat cukup untuk mengecoh kagami.


"Hehe baiklah" kagami langsung menutup matanya dengan tangan.


Liyana yang langsung melancarkan serangan kepada kagami tapi semua serangan di tahan semua oleh salah satu tangan kagami lalu kagami melepaskan tangannya yang menutupi matanya.


"Bagaimana kekuatan baruku tidak terlalu butuk bukan!" Kagami yang berbicara sedikit berbeda.


"Kau! Awas kau!" Liyana yang melihat kagami matanya berubah menjadi merah dan juga bagian dasarnya bola matanya menjadi hitam lalu liyana meningkatkan auranya dan mengumpulkan energi darah sekitar.


"Hehe lumayan bisa membantu peningkatan dirimu" kagami yang berbicara dalam batinnya sambil tersenyum.


"Hah Bloodlust!" liyana yang mendapatkan kemampuan barunya sehingga auranya membesar dan menerbangkan rambut kagami sedikit.


Liyana langsung menyerang kagami dengan kecepatan yang berbeda dengan sebelumnya tapi lebih cepat.


Kagami pun menahan semua serangan liyana sehingga tidak menyadari bahwa ada satu serangan yang menggores wajahnya dengan pedang Bloody Sfraksor di pipinya.


Kagami tidak mau kalah juga sehingga mengikuti menyerang dan saling bertukar serangan dengan liyana di depannya.


"Hah hah hah kaga--" liyana yang langsung pingsan karena kelelahan dan kagamj sigap langsung menangkap tubuh liyana.


"Usaha bagus liyana" kagami yang mengubah pupil matanya menjadi biasa lalu mengembalikan bentuk senjatanya ke bentuk awal.


Kagami lalu membawa liyana menuju kamarnya untuk menempatkan liyana agar tidur disana lalu kagami menggunakan kemampuan kendali ruang dan waktu melakukan teleportasi ke kamarnya langsung.