Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
49. Perpisahan antara rekan



Kagami langsung menempatkan liyana di atas tempat tidur untuk memulihkan kondisinya setelah berlatih sebelumnya.


Setelah itu kagami pergi keluar dari kamar tidurnya lalu kagami mengalah untuk mengambil kursi di luar ruangannya lalu membawa masuk ke ruang tidurnya di depan tempat tidurnya agar ada tempat untuk bantalan.


Kagami dan liyana yang tertidur pulas di dalam kamarnya berdua sedangkan kondisi ruang santai semua para malaikat sedang berkumpul.


***Ruang santai POV***


Semua malaikat sedang berdiskusi untuk kelanjutan dalam keamanan kastil malaikat yang akan lebih di perketat agar tidak terjadi peperangan seperti dahulu dan juga meningkatkan teknologi yang lebih canggih lagi.


"Jadi Mikhaile apakah kau ingin bergabung lagi dengan kami disini?" Raphael yang berbicara kepada Mikhaile.


"Ya sudah pasti jangan di tanyakan lagi sekaligus menjaga keluargaku sebenarnya disini" Mikhaile yang berbicara dengan jujur kepada semua malaikatnya.


"Hehe pasti kau merindukan kami pada saat kau tidak bersama kami yah?" Maitimo mencoba menggoda Mikhaile.


"Begitulah karena aku selalu ingin berkumpul kembali dengan kalian semua" Mikhaile yang melanjutkan bicaranya.


"Jadi kau tidak ada niat buruk yang tersembunyi terhadap kami" Varane yang berbicara kepada Mikhaile.


"Tidak ada memangnya kalian ada apa sih?" Mikhaile yang tidak mengerti.


"Tidak ada santai saja Mikhaile kami hanya takut kau punya niat jahat terhadap kami seperti lucifer" Uriel yang berbicara kepada Mikhaile.


"Baiklah aku mengerti" Mikhaile yang mulai memaafkan sikap Malaikat lainnya.


"Selamat datang kembali" Uriel yang menjabatkan tangannya kepada Mikhaile.


"Ya terimakasih" Mikhaile langsung menjabatkan tangan Uriel lalu terpasang otomatis di tangan Mikhaile seperti jam tangan.


"Itu adalah alat komunikasi yang aku buat khusus untuk semua malaikat dan jika kau berhianat kepada kami alat komunikasi itu akan meledakan diri dengan menggunanya jadi mohon kerja samanya" Uriel menjelaskan kepada Mikhaile.


"Apakah ini hanya aku saja yang memakainya?" Mikhaile yang bertanya kepada Uriel.


"Semua malaikat disini memakainya termasuk kami juga memakainya lihat" Maitimo memperlihatkannya kepada Mikhaile.


"Ahh kalian memang semakin ketat peraturannya disini" Mikhaile merasa nostalgia bisa bertemu dengan temannya.


"Ohh ya lupa karena sekarang sudah malam aku sudah menyiapkan tempat tidur di sebelah Maitimo" Uriel yang memberitahukan kepada Mikhaile.


"Ayo Mikhaile ikuti aku" Maitimo yang sangat senang lalu menunjukkan tempat tidurnya oleh Maitimo.


******Hari Selanjutnya POV******


Di pagi hari yang sangat cerah dan damai lalu kagami terbangun seperti biasanya lalu di tempat lain para pempinan malaikat termasuk Mikhaile terbangun untuk melakukan tugasnya masing masing.


Para pimpinan Malaikat melakukan sesuatu untuk pesta perpisahan antara Mikhaile, kagami dan liyana secara tidak di ketahui.


Kagami yang sudah terbangun langsung melakukan pemanasan tubuh untuk persiapan keberangkatan berpetualang yang sudah di rencanakan oleh kagami sedangkan liyana sedang tertidur.


"Hah lebih baik mandi dahulu saja liyana masih tidur ini" kagami langsung masuk ke dalam kamar mandi di sebelah kamarnya untuk bersih bersih sebelum pergi.


Kagami yang selesai mandi lalu mengganti bajunya di dalam kamar mandi agar tidak terjadi yang tidak tidak lalu kagami pun selesai mengganti bajunya setelah itu keluar melihat liyana langsung membangunkan.


"Hei putri tidur bangun sudah siang!" Kagami yang mencoba membangunkan liyana tapi tidak berhasil.


Lalu kagami mempunyai ide untuk mencipratkan air ke muka liyana lalu kagami membasahi tangannya lalu mencipratkan air ke muka liyana lalu bersiap mengagetkan liyana.


"Ahh basah siapa sih" liyana yang terbangun dan sesuai dengan rencana kagami.


"Cepat bangun putri tidur" kagami mengubah matanya menjadi hitam dan merah sambil memegang senjata Lexalicus tidak berbentuk.


"Kyaa jangan!" Liyana yang takut benar dengan tebakan kagami.


"Ini aku cepat bangun mandi bau" kagami berbicara dengan matanya yang belum di ubah.


"I-iya ba-baiklah" liyana langsung masuk ke dalam kamar mandi sendiri lalu kagami keluar kamarnya dan menunggu di luar.


"Dasar liyana susah sekali di bangunkan" kagami yang mengubah warna matanya semula lalu menyimpan senjata Lexalicus di pinggangnya.


Setelah lama menunggu kagami di luar ruangan akhirnya liyana pun keluar ruangan dengan penampilan sangat cantik penampilan dan menawan.


"Cantik sekali mau kemana cewek" kagami yang bercanda kepada liyana.


"Apa sih kagami!" Liyana yang tidak suka dengan gaya bicara kagami.


"Haha maaf bercanda biasa aja kali" kagami yang tertawa di depan liyana.


"Huh sekarang ingin pergi kemana?" Liyana yang masih saja tidak tau.


"Pamit kepada semuanya untuk saatnya kita pergi" kagami yang langsung hendak membawa liyana pergi lalu Raphael datang.


"Ahh kalian ternyata sudah bangun dan rapih" Raphael yang baru saja datang melihat kagami dan liyana.


"Ya memangnya ada apa?" Liyana yang bertanya kepada Raphael.


"Baiklah" liyana yang menjawabnya langsung mengajak kagami mengikuti dari belakang Raphael.


*****Ruang Makan*****


"Apakah mereka akan datang menurutmu varane?" Hariel yang bertanya kepada varabe karena malas.


"Sepertinya mereka datang aku telah merasakan pancaran energinya" Varane menjawabnya.


"Padahal aku malas ingin di tempat tidur saja sambil bermain game" Hariel yang menjawab sambil lemas.


"Kau seharusnya banyak berolahraga di luar agar sehat bukannya bermain game saja" Maitimo yang mengingatkan kepada Hariel.


"Huh terserahku saja" Hariel yang mulai tidak mendengarkannya.


Lalu beberapa saat pun Raphael, kagami dan liyana pun datang lalu masuk ke dalam ruangan makan yang sudah banyak sekali malaikat yang sudah mengenalnya dan yang tidak kenal.


"Silahkan duduk di kursi kosong yang saya telah sediakan" Uriel berbicara kepada kagami dan liyana.


"Ahh ya terimakasih banyak lalu tidak perlu repot begini mengundang lumayan banyak orang" kagami yang sangat tidak suka dengan cara melihat malaikat lain kepada dirinya.


"Tidak apa apa ini hanya kecil kok" Maitimo yang mulai berbicara.


"Baiklah" kagami pun langsung duduk di kursi bersebelahan dengan liyana yang sedikit gugup.


Mereka yang berada di ruang makan pun makan dengan senang sambil sesekali mengobrol dan sesudah makan bersama yang meriah.


"Baiklah untuk terakhir saya ucapkan terimakasih telah datang dan untuk liyana dan kagami sebelum berpisah kami ingin memberikan sesuatu sebelum pergi" Uriel yang berbicara lalu datang 2 barang yang di bawa oleh pelayan.


"Apa itu kagami?" Liyana yang bertanya kepada kagami yang sedang memperhatikan.


"Tidak tau dengarkan saja" kagami berbicara dengan pelan.


"Terimalah ini untuk tanda terimakasih atas mengantar Mikhaile pulang kemari an mengalahkan lucifer sekaligus menghukumnya" Uriel yang langsung memberikan 1 buah pedang dan juga gelang pelindung diri.


"Ini pedang bia--" kagami yang berbicara lalu Hariel memarahi kagami.


"Hei itu bukan senjata biasa tapi itu adalah pedang Guardians yang sangat tajam dan ada energi yang yang lumayan kuat di dalam pedang Guardians yang sulit di jinakkan" Hariel yang mengingatkan kepada kagami.


"Baiklah terimakasih banyak dan kebetulan aku sedang membutuhkan pedang gatal" kagami yang sangat ingin mencobanya.


"Haha baiklah tangkap dan gelang ini adalah gelang pelindung diri dan lumayan kuat lalu sulit sekali di tembus pertahanan pelindung ini dan maksimal yang bisa di lindungi hanya 4 orang saja" Uriel melemparkan pedang Guardians kepada kagami lalu memberikan gelang pelindung untuk liyana.


"Terimakasih dan Mikhaile sampai jumpa di lain waktu jika ada waktu" liyana langsung melakukan pelukan perpisahan.


"Ya hati hati untuk kalian juga" Mikhaile yang berbicara dengan pakaian yang cukup keren.


"Ohh ya aku lupa bilang bahwa pedang Guardians itu belum sebenuhnya sempurna karena pedang Guardians itu terbelah menjadi 2 bagian yang pecahan pertama di temukan olehku dan sisanya tidak tau dimana semoga saja kau bisa menemukannya" Uriel yang memberitahukan informasi kepada kagami.


"Hahh baiklah terimakasih untuk informasinya dengan makanannya dan barang pemberiannya juga lalu kami seudah waktunya untuk pergi" kagami yang berterimakasih kepada semuanya yang baik kepadanya.


"Tidak apa apa" Uriel yang tersenyum sangat senang.


"Ya kami berdua pergi dahulu" liyana lalu mendekati kagami.


Kagami dan liyana pun langsung pergi dari ruangan makan menuju keluar kastil malaikat lalu kagami melakukan teleportasi menuju daratan dan berjalan berdua.


"Uriel apakah kau benar mempercayakan pedang Guardians itu kepada orang itu?" Hariel yang seperti tidak rela.


"Ya semoga saja orang itu orang yang di takdirkan untuk membawa perdamaian dunia jadi aku menitipkan pedang Guardians padanya" Uriel yang sangat percaya.


"Ya semoga saja tuan kagami orang yang di takdirkan" Mikhaile yang baru saja berbicara.


*****Liyana dan kagami POV*****


Tenebris pun keluar dari dimensi buatan kagami dan berubah wujud menjadi seekor naga yang sangat panjang lalu kagami dan liyana menaiki badan Tenebris dan pergi entah kemana.


"Liyana kau tidak sedih kan?" Kagami yang menengok ke arah liyana.


"Tidak kok aku sudah melepaskan kepergian Mikhaile" liyana yang berbicara sambil tersenyum kepada kagami.


"Bagus kau sudah bisa melepaskan Mikhaile di sana liyana" kagami yang merasakan hembusan angin sambil mengusap kepala liyana.


"Ohh ya kagami waktu kita berdua bertarung matamu berubah menjadi hitam dan merah kenapa?" Liyana yang bertanya kepada kagami yang ingin tau.


"Ohh itu karena aku sudah bisa mengendalikan emosi jahatku tapi masih belum sempurna sih dan juga kemampuan barumu juga lumayan kalau tidak salah namanya Blood apa yah?" Kagami yang mulai mengingat waktu pertarungan.


"Bloodlust mungkin dan kegunaan dari Bloodlust itu adalah mempercepat semua energi di dalam tubuh dalam penggunaan sihir dan juga bisa menghemat energi penggunanya juga" liyana yang menjelaskannya kepada kagami.


"Tuan apakah harus melaju ke arah selatan?" Tenebris yang sedang terbang bertanya kepada kagami yang berada di punggungnya.


"Pergi ke arah utara mungkin ada yang bagus" kagami yang berbicara Tenebris.


"Baiklah tuan" lalu Tenebris pun mengubah arah menuju arah utara.