![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
long-awaited (adj): having been hoped for or expected for a long time
.
.
.
[minor editing | a quite long chapter | mention of song lyrics]
.
.
.
Hari ini adalah jeda sebelum pertandingan final untuk sebagian besar cabang olahraga ada di Sport Week.
Hari ini juga adalah hari di mana lomba menyanyi beregu dilaksanakan. Semua orang yang ingin menonton sudah mulai memadati gedung pertunjukan yang ada di Fakultas Bahasa dan Seni, tempat di mana acara di gelar.
Gedung yang bisa menampung seribuan orang yang baru selesai di renovasi itu terlihat begitu modern dengan desainnya yang baru.
Dan di sinilah Ojan, Ridwan, Rifa, dan Maya berada. Mereka bersama-sama memasuki gedung pertunjukan bersama orang-orang yang ingin menonton acara hari ini.
Keempatnya memang sengaja janjian berangkat bersama dari FT ke FBS.
Begitu sampai di dalam, mereka mencari-cari bangku yang sekiranya masih kosong. Agak kesulitan karena banyak orang yang berlalu lalang dan kursi sudah hampir penuh.
Sampai mata Ojan menangkap seseorang melambaikan tangan sambil berteriak memanggil.
"OI! SINI, SINI!" yang ternyata adalah seniornya. Cowok tinggi bermata sipit itu mengisyaratkan Ojan dan teman-temannya untuk mendekat.
Para junior itu lalu duduk bergabung bersama anak-anak FT lain di deretan kursi bagian tengah di lantai satu. Sepertinya mereka memang sengaja menggerombol dan menandai tempatnya.
Terlihat tidak hanya beberapa senior tahun kedua dan ketiga yang hadir. Teman-teman angkatan mereka juga terlihat duduk membaur.
"Tempatnya stretegis banget ini," komentar Ojan setelah duduk.
"Wo ya jelas dong!" sahut Budi dengan bangga. "Emang sengaja kita cim tempat dulu biar bisa barengan. Thanks ya Nggar, posisinya cakep!"
Senior tahun ketiga yang telinganya bertindik menyahuti, "Yo'i!"
Benar kata Ojan. Tempat duduk di mana anak-anak FT mengerombol terbilang strategis. Deretan tengah, tidak terlalu depan tetapi juga tidak terlalu belakang dari panggung, plus di lantai satu.
Salah satu pentolan angkatan ketiga tadi yang berhasil mendapatkan tempat duduk strategis ini.
Enggar yang dikenal sebagai salah satu anak buah Aylin yang terkenal sangar dan menakutkan bagi para maba, kini para maba sudah mulai mengenal sosok asli cowok itu.
Pentolan angkatan tahun ketiga yang terkenal rada sengklek dan ternyata cukup flamboyan.
Kembali ke topik acara hari ini. Keempat belas fakultas sebentar lagi akan menampilkan masing-masing kelompok mereka. Selain para fakultas, ada juga kelompok dari para dosen dan tendik.
Panitia yang bertugas sebagai MC lalu membuka acara. Pembukaan acara disambut dengan meriah. Penonton dari berbagai fakultas yang sudah hadir memenuhi gedung pertunjukan terlihat begitu antusias. Ada yang rela berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Bahkan ada yang rela bawa kursi dari luar.
Memang tidak salah kalau UHW dijuluki Kampus Festival karena memang orang-orang di dalamnya selalu menyambut antusias acara dan pergelaran yang diadakan di UHW.
Mereka penasaran dengan kelompok mana yang akan tampil duluan.
Bahkan beberapa fakultas membawa atribut seperti poster dan banner untuk mendukung fakultas mereka. Salah satunya ya Fakultas Teknik, yang memang tidak pernah tidak ada persiapan.
"Penampilan pertama, kita sambut...." Perkataan MC membuat semua orang yang ada di ruangan penasaran menunggu kelanjutannya.
"Kelompok dari Fakultas Teknik!"
Perkataan itu disambut teriakan heboh dari anak-anak FT yang hadir, sebelum mereka kembali diam.
Lampu dimatikan.
"Woah...."
"Woah...."
Banyak menahan napas menunggu dengan penasaran begitu mendengar ada suara dari balik tirai panggung yang masih tertutup. Suasana gedung masih dalam keadaan redup.
"Woah...."
"Woah...."
Tiba-tiba tirai dibuka dengan cepat dan sorotan lampu lighting mengarah ke panggung. Suara musik yang familiar mulai terdengar.
"Woah...."
"Ladies and gents this is the moment you've waited for." "Woah...."
"Been searching in the dark your sweat soaking through the floor." "Woah..."
Berdiri di tengah-tengah sana dengan sorotan lampu mengarah padanya adalah sosok TPK FT yang sangat familiar.
"Taking your breath stealing your mind, and all that was real is left behind..."
Meski sudah tahu apa yang akan ditampilkan, tetap membuat anak-anak FT yang hadir menonton terkesima seperti anak-anak dari fakultas lain.
Seperti yang Budi bilang sebelumnya, kelompok FT yang ikut lomba menyanyi beregu adalah anak-anak yang punya bakat bernyanyi—atau setidaknya punya suara bagus—dari tiga angkatan berbeda.
Angkatan tahun keempat memang tidak ikut karena memang syaratnya hanya tiga angkatan yang boleh ikut.
Dengan Frans sebagai lead singer-nya, tim FT membawakan salah satu lagu dari film The Greatest Show. Kalau diibaratkan, Frans di sini berperan sebagai sang aktor utama dalam film tersebut, Hugh Jackman.
Kalau ditotal, kelompok mereka terdiri dari lima belas orang dari tiga angkatan.
Mereka bernyanyi menirukan—dengan beberapa modifikasi—gerakan yang ada di film aslinya. Alasan utamanya karena mereka tidak mau ambil pusing.
Toh asalkan menyanyi sambil menarikan 'kan?
"This is where you wanna be...."
Kemudian, para penonton kembali dibuat terpukau dengan suara bernada tinggi Freya. Sang duta kampus itu di sini berperan sebagai Keala Settle yang memang di filmnya, sang aktris punya vokal yang tinggi.
"This is the greatest show...!"
Kembali heboh saat bagian Zac Efron dinyanyikan si maba ganteng alias Kayvan Candra. Lalu tebak siapa yang menyanyikan bagian Zendaya?
Yap betul!
Tentu saja sang ketua TPK FT itu sendiri. Semenjak anak-anak FT tahu bakat terpendam Aylin, mereka tentu akan mengajukan Aylin untuk ikut dalam tim dan
Bagaimana dengan Aylin saat tahu fakta itu sebelumnya? Tentu saja dia kaget dan sempat ada penolakan.
Namun, Aylin akhirnya dengan terpaksa mengiyakan karena kalah suara.
Sebenarnya kasihan juga dengan cewek itu. Namun ya mau bagaimana lagi?
Untungnya ada uhuk-pacar-uhuk yang menemani dan menyemangatinya.
Di antara lima belas perwakilan yang tampil di atas panggung, beberapa nama yang familiar ada di sana. Seperti Frans (jelas), Kayvan, Aylin, Freya, Vera, lalu ada Teo juga di sana?
Kok Teo bisa ikut?
Teo aslinya punya suara bagus dan memang dulu jadi salah satu anggota padus di gereja. Mengetahui fakta tersebut, Budi jelas tidak melewatkannya.
"Oh, this is the greatest show!"
Begitu selesai lagu pertama, mereka mendapat tepuk tangan meriah dari para penonton. Bahkan ada yang bersiul.
Tidak perlu menunggu jeda yang lama—diiringi permainan lighting—musik berikutnya kembali terdengar. Masih sama dengan sebelumnya, salah satu lagu pengisi dalam film The Greatest Show.
Kali ini yang berjudul 'A Million Dream'. Namun, versi yang dinyanyikan oleh P!nk.
Penonton kembali dibuat heboh ketika Aylin yang menyanyikan verse pertama. Siapa sih yang tak kaget ketika ketua TPK FT yang terkenal ditakuti para maba bernyanyi di atas panggung. Apalagi suaranya sangat bagus.
Anak-anak FT sendiri masih belum terbiasa dengan fakta ini. Apalagi bagi anak-anak di luar FT. Tentu bukan hal yang biasa.
"I close my eyes and I can see, the world that's waiting up for me. That I call my own..."
Pada lagu kedua kali ini. Kelima belas orang yang tampil mendapatkan bagiannya. Paling tidak satu baris lirik lagu.
Kemudian, mereka akan menyanyikan bagian chorus bersama-sama dengan warna suara yang berbeda.
Pada lagu kedua ini juga, suasana yang dibawakan tidak seheboh pada lagu yang pertama. Mungkin menyesuaikan lagu yang dibawakan.
"However big, however small. Let me be part of it all..."
Lead singer di lagu kali ini adalah Aylin sendiri. Yang tentu pada awalnya sangat keberatan karena itu artinya dia bakalan lebih banyak jadi sorotan. Kenapa bisa Aylin? Karena banyak yang ingin melihat Aylin bernyanyi lebih banyak.
Padahal awalnya mau Freya. Namun, cewek itu dengan senang hati menyerahkannya karena dia juga ingin melihat seniornya itu nyanyi lagi. Diam-diam dia ngefans dengan suara Aylin.
Hahaha!
Aylin sempat gugup, demam panggung, dan overthinking. Untung saja ada junior kesayangan alias Kayvan yang berhasil menenangkannya ketika mereka sedang berdua.
Kalian tidak lupa 'kan kalau Kayvan dan Aylin sedang lowkey perihal hubungan mereka? Dengan kata lain bisa dibilang backstreet tetapi juga tidak terlalu backstreet.
"For the world we're gonna make."
Tepuk tangan meriah, siulan, bahkan teriakan apresiasi menyambut berakhirnya penampilan pembuka oleh perwakilan tim FT.
.
.
.
Setelah lomba menyanyi beregu dua hari lalu, kini semua orang fokus pada final sekaligus puncak dari agenda Sport Week. Di acara puncak nanti juga akan diumumkan semua pemenang dari cabor olahraga sekaligus fakultas mana yang dinobatkan punya tim suporter terkompak semester ini. Pengumuman lomba menyanyi beregu juga akan diumumkan pada saat itu.
Saat ini, di dalam GOR, sebentar lagi akan dimulai pertandingan final untuk memperebutkan juara pertama dari semua sektor bulutangkis.
Semua tribun lebih penuh dari sebelum-sebelumnya.
Seperti kilas balik saat Isimaja meski tidak sebanyak itu massanya. Bedanya kali ini tiap fakultas datang untuk menyemangati perwakilan mereka. Dan tentunya tidak semua fakultas masuk final di cabor bulutangkis.
Namun, tetap ada anak-anak dari fakultas lain yang datang untuk melihat final bulutangkis kali ini. Apalagi mengingat ada dua rival yang kembali dipertemukan di lapangan. Tentu akan sangat seru menyaksikan keduanya.
Pada saat bersamaan, di beberapa fasilitas olahraga lain yang dimiliki UHW juga digunakan untuk final beberapa cabor lain.
"F – B – S, FBS!"
"FT...? HU~ HAH!"
"FO, BISA! BISA!"
"Siapa kita? F-G-K!"
"FIP...! FIP...!"
Masing-masing fakultas terdengar bersaut-sautan menyerukan jargon dan yel-yel mereka sebelum pertandingan di mulai.
Sesi kali ini adalah perebutan gelar juara untuk sektor tunggal putri. Suporter Fakultas Teknik dan Fakultas Olahraga kembali heboh saat perwakilan mereka memasuki lapangan untuk melakukan pemanasan.
Mungkin kalian sudah menduga siapa perwakilan FT di sektor tunggal putri.
Ya, Aylin Maharani.
Hari ini dia akan kembali menghadapi rivalnya dari Fakultas Olahraga. Yang merupakan atlet bulutangkis daerah.
Di tribun penonton, Budi dan Taufan datang mendukung sahabat mereka. Bahkan mereka tampil totalitas bersama suporter lainnya.
Lalu ke mana Naufal dan Rima?
Rima saat ini juga tengah final di cabor karate. Tempatnya ada di gedung olahraga di dekat wilayah rektorat. Naufal yang datang untuk mendukungnya di sana.
Jadi kelima sekawan kita ini berbagi tugas.
Bukannya Naufal masuk tim sepakbolanya FT? Benar. Cabor sepakbola sudah final kemarin dan FT mendapat juara tiga. Makanya dia bisa lebih leluasa ikut jadi suporter.
Sejak maba sampai sekarang, mungkin bisa terbilang hanya hitungan jari Aylin memakai kaos Aqisol selepas Isimaja dulu.
Alasannya karena biar nggak mencolok.
Desain kaosnya memang sederhana, tetapi warna tulisan "Engineering Brotherhood"-nya itu yang mencolok dengan warna emas menyala. Jadi, kalau tidak ditutupi jaket atau kemeja, akan sangat kelihatan.
Aylin kembali mengepang rambutnya dan memakai celana olahraga selutut untuk memudahkannya bergerak nanti.
Pertandingan dimulai ketika peluit berbunyi nyaring. Set pertama saja Aylin sudah ketinggalan poinnya. Padahal baru mulai beberapa menit.
Membuat semua yang mendukungnya terlihat cemas.
"FOKUS LIN! FOKUS!" teriak Budi dari bangkunya saat melihat sohibnya itu terlihat banyak eror.
"KEJAR LIN! YOK BISA YOK!"
Beberapa lalu mengikuti Budi berseru menyemangati Aylin.
Set pertama, Aylin kalah sementara dengan skor 21-11. Tertinggal cukup jauh.
"ALIN, FOKUS AJA LIN," Budi kembali berteriak. "Kurangi erornya juga! Kau bisa Lin! Aku percaya kau bisa!"
"IYA LIN!" timpal Taufan ikutan berseru.
Aylin menatap sekilas ke arah tribun di mana anak-anak FT berseru menyemangatinya.
Lalu dia mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha memfokuskan pikirannya.
Set kedua dimulai. Seolah terbakar semangat, Aylin berhasil membalikkan keadaan.
"YOK BISA YOK RUBBER!"
"BALAS LIN!"
Permainan Aylin terlihat berbeda dari sebelumnya. Meski masih ada beberapa eror, tetapi jelas lebih baik dari set sebelumnya. Seolah-olah set pertama tadi hanya pemanasan dan sengaja cewek itu lakukan.
Bahkan lawannya dari FO cukup terkejut melihatnya. Teknik bermainnya kali ini jelas cukup berbeda selama mereka berhadapan sebelumnya.
Seolah-olah Aylin memang sengaja membuat sebuah kejutan.
Bahkan saat lawannya berteriak tidak membuat Aylin gentar. Dia memang punya keinginan untuk bisa mengalahkan rivalnya ini. Setelah semester-semester yang lalu selalu jadi yang kedua.
Untuk kali ini, biarkan dia yang jadi yang pertama.
17-22 untuk Aylin. Cewek itu berhasil menang di set kedua dan membuat rubber (lagi) pada permainan mereka setelah perlawanan yang sengit.
Teriakan heboh dari suporter FT dan fakta dia menang di set kedua tidak serta merta membuat Aylin lega.
Set ketiga adalah penentunya. Dan Aylin pastikan kalau dia yang akan menang kali ini.
Semoga.
Peluit kembali dibunyikan.
Suasana seolah tiba-tiba hening. Seperti menunggu dengan jantung berdebar-debar set penentu siapa yang nanti akan keluar sebagai juara.
Bahkan fakultas lain juga fokus menyaksikan pertandingan keduanya. Sudah jadi rahasia umum kalau Aylin dan Katrin adalah rival di lapangan. Meskipun bukan atlet, Aylin bisa mengimbangi permainan Katrin yang seorang atlet dan berhasil rubber tiap kali bertanding meski sering kali kalah dari Katrin.
"Gila sih Alin, dia kayak kesetanan coy!" komentar Taufan yang matanya fokus pada pertandingan.
"Sampai teriak juga si Alin," sahut Budi yang juga fokus ke lapangan. "Ner-bener ambis buat jadi juara kali ini dia."
Apa yang dikatakan Budi memang dilakukan Aylin. Di set tiga ini, Aylin sampai berteriak untuk menakuti lawannya. Smash yang dia lakukan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Bahkan gerakannya terlihat lebih gesit.
Membuat Katrin cukup kewalahan mengimbanginya.
Suasana yang semula hening, kini kembali hidup dengan suara suporter yang mendukung jagoan masing-masing.
"Duh si Katrin berhasil ngejar lagi," kata Taufan dengan cemas. Dia benar-benar dibuat geregetan dengan pertandingan kali ini. Skor saat ini adalah 17-19. Aylin masih unggul dua poin.
Teriakan Aylin kembali terdengar saat dia melakukan smash dan berhasil membuatkan kembali menambah poin. Membuat pendukung FT kembali melakukan selebrasi kecil sebelum kembali fokus ke pertandingan.
Katrin kembali mencoba peruntungannya untuk membalas dengan melakukan smash andalannya. Namun berhasil ditangkis Aylin yang bergerak gesit.
"Ayo Lin!"
"Semangat Lin!"
"Bisa yok bisa!"
Kembali terdengar seruan semangat untuk wakil tunggal putri dari FT. Tidak hanya berasal dari anak-anak FT saja, tetapi juga anak-anak fakultas lain.
Sepertinya banyak yang menginginkan Aylin untuk menang kali ini. Sebelum-sebelumnya, selalu Katrin yang keluar jadi juara pertama di sektor tunggal putri.
Aylin menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melakukan servis.
Tinggal sedikit lagi.
Sebenarnya dia sudah lelah. Peluh mengucur deras di dahinya. Kaosnya bahkan sudah kepalang basah. Namun ada pertandingan yang harus dia menangkan saat ini.
Sedikit lagi.
Ayo sedikit lagi.
Setelah beberapa saat perlawanan sengit dari Katrin dan Aylin, peluit panjang akhirnya dibunyikan oleh wasit.
"Set ketiga dimenangkan oleh perwakilan FT. Aylin Maharani keluar sebagai juara pertama!"
Sorak sorai heboh terdengar. Anak-anak FT terlihat begitu kegirangan mengetahui wakil mereka berhasil menang. Bahkan fakultas lain juga ikut melakukan selebrasi kecil sebagai bentuk apresiasi.
Pertandingan dari dua rival kali ini berlangsung menegangkan sekaligus mendapat hasil yang banyak ditunggu-tunggu.
Iya, banyak yang penasaran siapa yang bisa mengalahkan Katrin dari Fakultas Olahraga karena dia terlihat begitu tak terkalahkan. Dan ternyata gelar juara bertahan Katrin berhasil dipatahkan oleh rivalnya sendiri. Yang selalu berhasil mengajaknya untuk rubber dan melakukan deuce*.
*ketika skor kedua belah pihak yang bertanding sama-sama 20
Kini rivalnya benar-benar bisa mengalahkannya.
Benar-benar lawan yang sepadan.
Aylin tersenyum kecil dengan raut wajah kelelahan. Dia berhasil.
Ya, dia akhirnya berhasil.
After all this time, she finally did it.
Dia menang!
Hari ini adalah pertandingan terpanjang yang pernah dia lakukan. Nyaris satu jam! Lebih tepatnya 53 menit.
Untung saja dia tidak cedera kali ini. Hanya benar-benar merasa lelah. Seolah energinya terkuras habis.
Bahkan dia tidak sadar ketika seseorang berlari ke arahnya yang masih berdiri di tengah lapangan. Lalu orang itu menubrukkan dirinya dan membawa Aylin ke dalam pelukannya.
Orang itu adalah Budi. cowok itu nekat melompat turun dari tribun—yang tingginya tidak bisa dibilang rendah—lalu berlari ke arah Aylin dan memeluknya.
"Menang Lin! Akhirnya menang!" kata Budi dengan luar biasa gembira.
Aylin yang sudah sadar dari keterkejutannya, lalu balas memeluk sohibnya ini. Mereka berpelukan sambil meloncat-loncat kecil. Seolah melakukan selebrasi karena begitu senangnya akhirnya bisa menang.
Taufan berhasil menyusul mereka bersama anak-anak FT lain. Dia tidak nekat seperti Budi yang meloncat turun.
Tidak terima kasih. Dia manusia terhormat yang turun melalui tangga.
"Woy udah dong! Gantian napa!" bukan Taufan yang bilang, tetapi Rima. Ada Naufal juga yang berdiri di sebelah Taufan. Wajahnya terlihat berseri-seri.
Kenapa mereka berdua bisa ada di sini?
Pertandingan Rima sudah lebih dulu selesai dan dia berhasil keluar sebagai juara setelah melawan wakil dari FO di sektor yang dia ikuti. Bukan pertandingan antarrival seperti Aylin dan Katrin karena Rima baru pertama berhadapan dengan wakil FO kali ini.
Keduanya sama-sama atlet profesional. Namun, kalau berdasar pengalaman, mungkin Rima-lah yang lebih unggul.
Wakil FO semester ini di karate putri adalah anak tahun pertama alias maba.
Begitu selesai tanding, Rima yang sudah tidak ada keperluan lain segera mengajak Naufal bergegas ke GOR untuk menyusul Budi dan Taufan.
Beruntungnya, keduanya masih bisa melihat set ketiga walau sudah setengah jalan. Mereka jadi bisa melihat Aylin melakukan servis final yang membawanya menjadi juara.
Budi dan Aylin selesai berpelukan. Tak menunggu lama, kini giliran Rima yang memeluk sahabat ceweknya itu. Diikuti Naufal, Taufan, lalu Budi.
Seperti melalukan pelukan teletubies.
Anak-anak FT yang melihat tidak heran lagi melihat tingkah kelima sekawan. Terkadang mereka iri melihat ikatan pertemanan mereka yang bisa dibilang sangat sehat.
Tidak hanya mereka sebenarnya. Di FT, fenomena itu tidak jarang terjadi. Karena sejatinya, ketika Aqisol, mereka digembleng salah satunya adalah menciptakan pertemanan yang positif.
Anak-anak FT yang masih menggerombol di tengah lapangan, lalu menyingkir ketika panitia yang tadi bertugas sebagai komentator meminta mereka untuk ke tepi lapangan. Lapangan akan disterilkan lagi untuk pertandingan sektor berikutnya.
"FT... FT... FT... FT... FT... FT... HOY!"
"FT... FT... FT... FT... FT... FT... HOY!"
Mereka melakukan yel-yel sambil berdiri melingkari Aylin yang ada di tengah bersama keempat sahabatnya saling berangkulan. Rasa lelah Aylin agak berkurang. Dia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
.
.
.
Kayvan tersenyum melihat cewek yang dicintainya dikelilingi para sahabat dan anak-anak teknik lain yang melakukan selebrasi dengan yel-yel.
Tidak ada kata-kata yang tepat yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Yang jelas, dia merasa sangat bangga. Apalagi setelah tahu cerita mengenai dua rival itu.
Dia baru saja tiba di GOR saat Aylin bermain di set kedua. Itupun sudah hampir selesai. Cowok itu baru selesai ikut latihan bersama tim basket FT untuk final besok siang. Pertandingan final pamungkas sebelum berlanjut ke acara puncak untuk penutupan dan pengumuman kejuaraan.
Dia datang bersama Ridwan dan Neo yang sama-sama tergabung dalam tim basket FT. Meski Kai pemain cadangan, tentu dia dan pemain cadangan lain tetap diminta ikut latihan.
"Gila... gila... Kak Alin keren banget tadi di lapangan," komentar Neo dengan nada kagum. "Bener-bener nggak nyangka banget."
"Kau benar," sahut Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari Aylin.
Mata mereka bertemu pandang tanpa ada orang yang menyadari. Keduanya tersenyum dan sorot mata yang hangat. Lalu Kayvan menggerakkan mulutnya, aku-bangga-pada-kakak membuat Aylin tersenyum lebar yang membuat keduanya matanya melengkung ke atas dan lesung pipinya terlihat.
Senyum yang kembali membuat hati seorang Kayvan kembali berdesir seperti pertama kali bertemu.
Ingin sekali dia berlari ke sana dan memeluk Aylin. Namun, dia menahan diri. Tidak, nanti saja. Biarkan pacarnya itu merayakan kemenangannya bersama para sahabatnya.
.
.
.
.
.
a.n.
maaf lama banget baru bisa up lagi
dikarenakan sibuk di kerjaan dan tiap pulang rasanya capek jadi baru sempat up sekarang. padahal draft udah setengah jadi sejak lebih dari seminggu lalu :')
maaf malah curhat
akhirnya bisa nulis part ini :D udah dari lama di note buat scene ini, and finally...
semoga nggak aneh ya. maaf kalau ada deskripsi yang salah, kuakan mengeditnya nanti. chapter berikutnya masih seputar sport week yaa
see u^^