Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Two-Sided



two-sided (adj): having two sides


.


.


.


[minor editing, cukup banyak narasi, part mayan panjang]


.


.


.


"Kita sambut, Duta Fakultas Teknik... Johan Abimanyu...!" Enggar berseru heboh ketika Frans datang bergabung bersama beberapa TPK lain pada evaluasi internal TPK hari ini. Seperti biasa, evaluasi mereka dilakukan di tempat parkir di dekat aula besar. Tentu saja sudah dipastikan semua maba sudah tidak ada di kampus begitu tadi dibubarkan.


Bisa-bisa mereka syok memergoki Tim Penegak Kedisiplinan bertingkah di luar karakter. Mana di area parkir lagi.


TPK yang lain ikut menyambut Frans dengan teriakan heboh dan tepuk tangan. Seolah-olah seperti kilas balik tahun lalu di mana Frans dinobatkan menjadi runner-up duta kampus.


Sementara orang yang bersangkutan cukup terkejut dan tidak menyangka dengan sambutan yang dilakukan anak-anak TPK. Bahkan sang ketua, Aylin, juga ikut-ikutan.


Cowok itu sedikit salah tingkah dengan tingkah teman-teman seperjuangannya—Tim Penegak Kedisiplinan FT. Bahkan mereka melakukan yel-yel dengan heboh. Dengan hentakan kaki dan tepukan tangan.


Frans benar-benar merasa déjà vu.


"FT! FT! FT, FT, FT! HOY!"


"FT! FT! FT, FT, FT! HOY!"


Semua TPK lalu menutupnya dengan tepuk tangan sekali lagi.


Enggar merangkul Frans yang masih terkejut.


"Frans penerus Bang Teguh fix pokoknya!"


"Wah jangan aku kalau buat itu, Mas Enggar," Frans masih tetap keukeuh menolaknya.


Tidak. Dia merasa tidak pantas kalau dijadikan Raja Teknik. Selain itu dirinya juga tidak mau ribet. Lagipula julukan Raja Teknik itu bukan hanya sembarang julukan. Ada beban yang dibawanya.


"Jangan gitu Frans," kata Burhan. "Kau itu kandidat terkuat buat gantiin Bang Teguh. Belum ada gantinya yang cocok."


"Apalagi pas kau orasi tadi Frans," Adi menambahkan.


"Gila keren banget bro! Udah layak jadi aktivis kampus yang sering turun ke jalan. Jadi ketua BEM boleh juga tuh."


Banyak yang sependapat dengan perkataan Adi.


"Edan, edan c*k!" Enggar bertepuk tangan kagum. Beberapa TPK mengikutinya.


"Ternyata kau punya bakat terpendam jadi orator ulung juga Frans," kata Aylin sambil menepuk-nepuk pundak cowok jangkung itu.


"Boleh juga. Bisa jadi nilai plus buat ketemu ayahnya Mala nanti," perkataan Aylin sontak membuat Frans kembali salah tingkah. Namun, diam-diam cowok itu merasa sedikit lebih lega mendengarnya.


Pakdenya Aylin atau ayahnya Bimala itu suka orang yang punya karakteristik tegas dan kuat. Apalagi cakap dalam public speaking menjadi nilai plus. Dan Frans tadi saat di GOR menguatkan kalau dia punya karakter itu.


Meskipun seorang dokter dan terkenal ramah dengan pasiennya, ayah Bimala itu orangnya tegas dan cukup mengintimidasi. Apalagi kalau berurusan dengan putrinya.


Ayah Bimala termasuk bapak-bapak yang protektif ke anak perempuannya.


Bimala pernah cerita ke Aylin kalau dia pengen mengenalkan Frans ke kedua orang tuanya dan kakaknya, Mas Gio. Pacar pertama yang dikenalkan ke keluarga oleh seorang Bimala menandakan bahwa cewek itu benar-benar serius.


Sementara orang tua Frans sendiri sudah tahu kalau anaknya punya pacar. Soalnya, ketika ibunya video call, cowok itu sedang bersama Bimala buat kencan. Jadinya sekalian saja dikenalkan. Dan kata Bimala, reaksi ibunya Frans itu lucu karena wanita itu terlihat excited anaknya akhirnya punya pacar. Katanya, ibu Frans khawatir kalau putra sulungnya itu punya kelainan.


Selama ini Frans terlalu fokus pada band dan terlalu cuek orangnya.


Benar-benar kocak!


Andre lalu mengusulkan kalau evaluasi hari ini sambil makan-makan buat merayakan Frans yang tadi sukses berorasi di GOR. Ide itu lantas disetujui semua TPK yang ada.


Pesta, pesta!


Sementara Frans dan Aylin hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Frans yang merasa agak aneh karena hanya orasi saja kenapa harus dirayakan dan Aylin yang hanya bisa pasrah melihat tingkah abstrak anggotanya.


Benar-benar tidak waras!


.


.


.


"Gaes, ingat kan pas orasi tadi di GOR?" tanya Ojan.


Kai, Neo, Ridwan, dan Teo mengangguk. Mereka berlima tengah berjalan santai menuju asrama.


"Yang pas Kak Frans tadi itu kan?" tanya Teo memastikan. Ojan mengangguk.


Mata Teo terlihat berbinar bersemangat. "Gila! Keren parah woy"


"Jujur ya, aku tadi sempat ngerasa takut bakal di marahi kayak pas Aqisol, deg-degan parah. Apalagi ini di depan satu univ," ujar Neo. "Mana pas diawal Kak Frans udah nge-dis kita dulu kan ya?"


"Hooh," sahut Ojan. "Sempat kepikiran kalau ada yang nggak bawa penugasan atau dc-nya nggak sesuai terus mau disidang depan umum."


"Tapi habis itu, Kak Frans kayak secara nggak langsung ngasih semangat dan wejangan ke kita kan," kata Teo. "Kata-katanya itu lho, benar-benar masuk. Semangat kita seperti dinyalakan lagi."


Neo mengiyakan. "Tapi kesannya masih kayak TPK ke maba. Beda sama fakultas lain yang kelihatan lebih ramah."


"Mungkin itu emang persona yang diambil Bang Frans. Lagian Bang Frans kan TPK juga selain jadi Duta FT," kata Kai.


"Kita juga pasti akan syok kalau tiba-tiba Bang Frans ramah ke maba kan?"


"Iya sih..." sahut Ojan. "Aku mungkin bakal nggak percaya kalau itu Kak Frans. Bakal mikir itu doppleganger."


"Jadi pas tahun depan, kau juga akan begitu juga Kai?" tanya Teo penasaran. "Seperti Kak Frans gitu? Atau emang semua duta FT kayak gitu? Tegas dan kaku?"


"Bayangkan Kai seperti itu..." Neo berceletuk. "Nggak bisa bayangin sama sekali."


"Bisa sih dibayangkan. Tapi malah aneh menurutku," sahut Ojan, lalu tertawa geli. Menurutnya, Kai memang cocok-cocok saja bersikap kaku dan datar seperti TPK. Namun, jatuhnya malah terlihat aneh karena Kai itu orang yang ramah dan murah senyum.


Lebih cocok jadi pemandu.


"Jadi gimana Kai?" tanya Teo sekali lagi.


Kai mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.


"Entahlah. Belum ada gambaran sama sekali. Aku juga masih harus banyak belajar dari Bang Frans juga terkait tugas duta FT itu apa."


"Jujur ya Kai," kata Ojan kemudian, "Aku masih penasaran kenapa kau bisa manggil Kak Frans dengan Bang? Nggak takut dicap sok akrab Kai?"


Yang lain menatap Kai penuh ingin tahu.


Kai hanya tertawa kecil melihat teman-temannya yang penasaran. Apalagi Ojan dan Neo yang terlihat agak takut-takut.


"Lah, dia kan mentorku buat duta kampus," jawab Kai apa adanya. "Jadi cukup sering berinteraksi langsung dengannya buat bahas kedutaan."


"Tenang gaes, udah dapat izin kok dari orangnya buat manggil Bang."


Ojan dan Neo menatap takjub ke arah Kai. Teo bersiul mendengar kalau Kai bisa dekat dengan salah satu TPK yang ditakuti maba. Sementara Ridwan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya.


Kai tentu tidak serta merta menceritakan semuanya. Takut kalau malah berakibat fatal menyinggung tugas-tugas TPK. Nantinya mereka semua juga akan tahu ketika closing.


Termasuk Kai juga.


"Yang penting kalian jadi lebih tahu kalau semua hal itu punya dua sisi," ujar Kai kemudian. "Bang Frans yang kita kenal sebagai TPK yang dingin, mengintimidasi, sama tegas ternyata bisa begitu."


"Kali ini aku setuju dengan Kai," Ridwan berujar pada akhirnya. Setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan. Kai melempar senyum kecil ke arah Ridwan dan dibalas hal yang sama.


"Kalau itu beneran terjadi, aku jadi sedikit—sedikit banget," Ojan mengisyaratkannya dengan jembol dan telunjuknya maksud sedikit versinya.


"Percaya kalau Kak Aylin punya sisi yang ramah."


"Semoga saja ya Jan. Kan nggak lucu kalau pas kita udah mulai kuliah, nggak sengaja ketemu Kak Aylin, kita malah kabur karena takut," timpal Neo yang berharap-harap cemas.


Teo tertawa terbahak mendengarnya. Sementara Ridwan tak habis pikir dengan dua orang itu yang begitu takut dengan sang ketua kedisiplinan FT.


Kai sendiri hanya tersenyum tipis mendengar nama cewek itu disebut.


.


.


.


Hari ketiga Isimaja dimulai!


Kali ini sudah tidak di GOR lagi. Jadi para maba sudah tidak perlu lagi berangkat lebih awal. Namun, tetap saja mereka diminta berangkat sesuai waktu yang dijadwalkan untuk open gate kalau mau tidak disidak TPK dan meminta izin masuk.


Semua maba mengenakan dresscode batik bebas berkerah karena batik UHW baru bisa didistribusikan belakangan. Biasanya sebelum masuk kuliah atau paling lambat di minggu awal perkuliahan.


Acara hari ini adalah bincang dekanat lalu dilanjut dengan hiburan. Karena display ormawa sudah dilakukan ketika TM, hari pertama Isimaja fakultas fokus ke sesi protokoler yang diselingi hiburan.


Hari kedua nanti ada unjuk kreativitas maba dan outbond untuk lebih mengenal lingkungan kampus FT. Baru di hari terakhir nanti adalah Isimaja jurusan setengah hari lalu ditutup dengan agenda penyerahan gir.


Seperti itulah rundown untuk tiga hari kedepan.


Kali ini, semua maba dikumpulkan pergugus di aula besar. Dipanggung sudah ada beberapa kursi dan meja yang ditata sedemikian rupa. Ada properti lain yang menghiasi seperti latar sebuah teater sederhana.


Acara berlangsung kurang lebih hampir sama seperti saat TM. Ada yel-yel, ice breaking, dan hiburan. Bedanya, kali ini jajaran dekanat—tentu saja Dekan FT dan ketiga Wakil Dekan yang punya tugas masing-masing—juga ikut mengisi dalam bincang dekanat.


Konsep bincang dekanat dibuat seperti talkshow yang dipandu sepasang MC—dan Kayvan sangat mengenali salah satu MC yang bertugas, Vera.


Jadi walau protokoler, tetapi masih terkesan santai karena diselingi candaan dan hiburan.


Yah... walau tetap saja para maba pasti sedikit suntuk dengan perbincangan yang terkesan monoton dan kurang menarik. Oleh karena itu para pemandu dan beberapa TPK yang berada di dekat mereka mengingatkan agar jangan sampai ketiduran.


Pembicara pertama adalah Dekan FT itu sendiri, Pak Thoriq yang juga mengampu mata kuliah di jurusan Teknik Kimia. Beliau menjabarkan visi misi dari Fakultas Teknik dan penjelasan mengenai bagaimana kuliah di FT itu sendiri.


Lalu ada Wakil Dekan I yang merupakan wanita satu-satunya di jajaran dekanat yang diundang. Wanita paruh baya bernama Yusefa itu menjelaskan tugas dan bidang yang dibawahinya. Beliau juga mengajar di jurusan Pendidikan Tata Busana. Kemudian ada Pak Jamal sebagai WD II dan mengajar di jurusan Teknik Mesin. Yang terakhir adalah Pak Rudi sebagai WD III yang nantinya berurusan langsung dengan mahasiswa. Beliau juga mengajar di jurusan Pendidikan Teknik Otomotif.


Selesainya sesi bincang dekanat yang terasa cukup panjang—ditambah dengan adanya sesi tanya jawab—akhirnya bisa lanjut ke agenda berikutnya.


Setelah ishoma, ada pertunjukan lakon dari anak-anak teater FT. Pertunjukan komedi yang menghibur dan sarat akan makna.


Kemudian, kembali dengan adu yel-yel. Kali antargugus. Gugus mana yang lebih kompak akan dinilai. Selesai penutupan akan diumumkan beberapa kategori penilaian dan nantinya akan diberikan sedikit kejutan.


Setidaknya besok bisa lebih bersenang-senang.


.


.


.


Hari keempat atau hari kedua Isimaja FT.


Sama seperti kemarin, para maba memasuki area kampus saat open gate pukul enam pagi. Bedanya, kali ini maba dikondisikan per gugus di lapangan karena agenda pertama di luar ruangan.


Dresscode para maba sama ketika hari kedua Isimaja di GOR, memakai kaos polo UHW.


Seperti saat TM, acara dipandu oleh Galang dan Seno. Sejauh ini, dari Isimaja hari pertama sampai pagi ini, tidak ada maba yang dihukum oleh TPK. Meskipun sudah ada pemeriksaan di depan gerbang utama dan sidak di lapangan kemarin. Namun, tidak ada tanda-tanda seperti saat TM dan Aqisol—hanya ada TPK yang diam berjaga dan mengawasi dengan raut sangar dan tatapan tajam penuh penilaian mereka.


Oh, atau mungkin belum.


Setelah melakukan jargon dan pengecekan tiap gugus, Galang dan Seno dengan gaya khas mereka lalu menjelaskan agenda apa yang akan dilakukan hari ini.


"Hari ini, kita akan ada permainan outbond buat mengenal lebih dekat kampus kita. Nanti, pergugus akan datang ke pos-pos yang sudah disiapkan. Tiap pos aka nada permainan yang diberikan kakak panitia dan harus diselesaikan biar bisa ke pos selanjutnya. Total ada enam pos dan finalnya ke aula besar," Seno mulai menjelaskan.


"Oh iya, selama perjalanan kalian dari pos ke pos, jangan lupa buat yel-yel gugus kalian, oke? Nanti bakal kami nilai kekompakannya. Gugus yang paling kompak akan dapat hadiah menarik dari kakak panitia," Galang menambahkan.


Seno lalu mengingatkan ke seluruh maba. "Dan jangan lupa 5S-nya ya gaes! Siapapun yang kalian temui nanti, entah tukang parkir, satpam, senior, OB, dosen, bahkan teman kalian sendiri. Saling sapa dan hargai satu sama lain, oke?"


"Baik, Kak!" balas semua maba dengan semangat.


"Oh iya, hampir kelupaan!" kata Galang tiba-tiba, "Jangan lupa plang gugus kalian dihias sekreatif mungkin ya gaes! Jadi selama perjalanan ke pos-pos nanti, kalian bikin yel-yel gugus sama menghias plang. Sekreatif mungkin. Buat hias plang gugus, kalian boleh pakai daun-daun kering yang jatuh juga asal jangan memetik yang masih hijau. Intinya, boleh pakai benda yang bisa kalian temukan tapi jangan merusak dan buang sampah sembarangan."


"Betul sekali apa yang dikatakan Kak Galang," Seno membenarkan. "Nanti hiasan plang gugus terbaik akan mendapatkan hadiah menarik juga dari kakak panitia."


"Semangat ya!" seru Galang sambil mengepalkan tangan kanan ke atas.


"YA!"


.


.


.


Setelah briefing internal dan semua panitia, para TPK segera menuju ke pos masing-masing. Bagi yang sedang tidak bertugas, boleh istirahat asalkan tidak dilihat maba. Jadinya, para TPK (dan juga panitia lain) memanfaatkan waktu yang ada untuk sejenak mengistirahatkan tubuh.


Nanti ada shift dengan anggota lain.


Di hari pertama Isimaja fakultas, para TPK tidak banyak melakukan tugas kecuali saat jaga pos dan melakukan sidak. Jadi mereka bisa sedikit bersantai. Secara karena kegiatan berada di dalam gedung.


Baru saat hari kedua Isimaja fakultas, mereka punya beberapa tugas dan mayoritas anggota tim mau tak mau harus terjun ke lapangan. Mereka dibagi untuk berjaga di beberapa titik dan pos untuk agenda pertama hari ini. Secara Fakultas Teknik punya wilayah yang luas.


Kini, Aylin tengah berada di dekat pos tiga. Dekat dengan bengkel milik jurusan Teknik Mesin. Selain dirinya, ada Rahmat yang berada di pos tiga itu sendiri.


Tugas Aylin adalah memantau agar semuanya berjalan dengan baik. HT selalu dia pegang agar mempermudah berkomunikasi dengan anak buahnya dan panitia lain.


Setelah menunggu beberapa lama dan sedikit berbincang dengan panitia yang berjaga di pos tiga, HT punya Aylin berbunyi—walau sejak tadi juga sesekali berbunyi tetapi kali ini ditujukan untuknya.


"Cek. Ketua, masuk ketua. Gugus pertama menuju pos tiga sekarang."


"Baik, dimengerti."


Tak berapa lama kemudian, benar saja, rombongan gugus berplang yang sudah ada hiasannya berjalan mendekat sambil melakukan yel-yel mereka. Ada tiga pemandu mendampingi mereka—yang dua lagi mungkin di aula sekarang ikut mempersiapkan agenda selanjutnya.


Aylin mengamati dalam diam, saat ketua maba gugus itu mengenalkan kelompoknya sebagai Gugus Sebelas Lampung. Sepertinya urutannya diacak oleh Galang dan Seno. Mereka adalah gugus pertama yang sampai di pos tiga.


Masih ada dua puluh empat gugus lagi.


Hah....!


Panitia yang bertugas di pos tiga—terdiri dari satu Tim Acara dan dua Humas dan Sponsorship—lalu memberikan tantangan ke Gugus Sebelas. Rahmat dan Aylin hanya diam mengamati.


Tantangan yang sederhana tetapi butuh kerjasama dan kekompakan. Kalau kedua itu tidak terpenuhi, mereka harus mengulangi dari awal.


Satu persatu gugus sampai di pos tiga. Ada yang bisa menyelesaikan tantangan dengan cepat ada pula yang butuh waktu—sampai gugus berikutnya harus menunggu di tempat yang cukup jauh dari pos tiga.


Hingga pada akhirnya, Gugus Sembilan Belas tiba di pos tiga.


.


.


.


Kai dan gugusnya baru mendapat giliran lima belas gugus sebelumnya dipanggil oleh Seno dan Galang. Untung bukan giliran terakhir.


Mereka di dampingi Dimas, Santi, dan Haya. Sementara Widi dan Pipit akan tinggal dan membantu persiapan lain di aula besar.


Sepanjang perjalanan, mereka membuat yel-yel gugus mereka dan memasrahkan Januar dan Zulfa untuk mengurus hiasan plang gugus. Dua orang itu memang jago dalam desain dan gambar—meski ada juga yang lain tetapi sudah jadi kesepakatan bersama satu gugus kalau Zulfa dan Januar yang bertanggungjawab menghias plang.


Lalu untuk yel-yel, untung ada Ojan yang punya ide cemerlang soal yel-yel gugus mereka. Lalu sesuai kesepakatan juga, Ojan yang nanti mimpin yel-yel karena yang lebih paham. Teo bagian laporan, membawa plang, dan memimpin jalan saja.


Ada keriuhan yang menyita perhatian di depan. Semua personil Gugus Jayapura melihat untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Itu kenapa ya Mas, Mbak?" tanya Ojan penasaran. Pertanyaan Ojan mewakili maba Gugus 19.


"Wah kurang tahu aku," jawab Dimas yang sama bingungnya. Tak berselang lama, ada seorang anggota PDD yang berjalan melewati mereka. Ada kamera menggantung di lehernya.


"Jo, ada apa sih kok rame?" tanya Haya.


Cowok bernama Jojo itu menjawab, "Tadi ada beberapa maba cewek sok akrab sama Frans. Godain atau apa gitu pokoknya jatuhnya malah nggak sopan dan bikin risih menurutku. Harusnya kan mereka fokus buat tantangan di pos. Padahal pas kejadian ada panitia lain."


"Wew berani banget..." Neo dan beberapa maba yang lain bergumam ngeri.


"Lah kok bisa?" tanya Santi penasaran.


"Mungkin efek karena habis lihat Frans orasi kemarin kali ya? Entah. Setahuku mereka ngefans sama Frans. Jadi mereka merasa nggak masalah sksd dan lupa sama batasannya. Tapi Frans dan TPK lain diam aja sih, nggak gubris apa-apa."


"Cewek semua?"


Jojo mengangguk. "Iya. Sebenarnya nggak cuman gugus itu aja sih. Tadi ada gugus lain juga."


"Kak maaf tanya, terus kena hukuman nggak?" tanya Zulfa penasaran.


"Nggak tahu. Tapi untuk saat ini TPK ngebiarin aja," Jojo mengangkat kedua bahunya.


"Serem ya cewek jaman sekarang itu," celetuk Ojan. "Nggak semua," buru-buru Ojan menambahkan setelah mendapat tatapan menusuk dari Zulfa dan kawan-kawan selaku cewek.


"Meski gara-gara orasi kemarin, pandangan kita ke Kak Frans sedikit berubah," kata Zulfa, "Kak Frans kan tetap TPK dan seorang senior. Ya tahu batasan lah."


Maba cewek yang lain mengangguk setuju.


"Sekali TPK tetap TPK ya gampangannya," timpal seorang maba cewek.


"Apalagi posisi kita lagi Isimaja gini."


"Udah udah..." Dimas melerai. "Yang penting jangan bikin ulah aja, ikuti aturan yang ada. Yok jalan lagi. Gugus depan udah mau selesai tuh."


Gugus 19 lalu berjalan dengan santai menuju pos pertama setelah harus menunggu beberapa saat karena insiden barusan. Di sana ada tiga orang panitia yang memakai handbagde Tim Acara dan Tim KSK. Tidak jauh dari pos pertama ada dua orang TPK yang berjaga. Salah satunya adalah Frans.


Mereka menyelesaikan tantangan di pos pertama dengan cepat tanpa kendala. Mereka juga menyanyikan yel-yel gugus mereka walau sedikit kurang kompak.


Saat di pos kedua, Gugus 19 juga tak mendapat kendala yang berarti. Sejauh ini kedua pos dilalui dengan cukup mudah. Sepanjang jalan mereka melatih yel-yel, mengerjakan hiasan plang—terutama Zulfa dan Januar, dan menyapa atau permisi ke orang yang mereka temui.


Mereka juga berusaha menyapa TPK yang mereka temui—meski banyak diantara mereka yang bilang tidak usah karena takut dan sungkan. Balasannya hanya anggukan singkat, "Ya" dengan datar, atau bahkan tidak dibalas sama sekali. Tidak ada kesan ramah sama sekali.


Toh mereka tak ambil pusing juga karena sudah sedikit lebih paham tugas TPK. Merasa takut dan sungkan juga untuk sekedar memikirkan apakah dibalas atau tidak.


Ketika perjalanan menuju pos tiga, Gugus 19 bertemu sang ketua TPK itu sendiri, Aylin. Keadaan mulai berubah lebih canggung daripada saat bertemu anggota TPK lain—kecuali Frans di pos pertama tadi, cowok itu sama mengerikannya dengan Aylin.


"P-permisi, Kak..." Teo mengawalinya dengan senyum canggung. Lalu diikuti anggota yang lain. Walau ada ketiga pemandu mereka, rasanya sama saja.


Aylin mengangguk sekilas sebagai balasan. Tatapannya tajam dan raut muka terlihat datar.


Suasana hening. Hanya ada suara langkah kaki rombongan Gugus 19 yang menuju pos tiga.


Sementara itu, Kai terdiam di tempatnya. Dia menatap ke arah Aylin seolah ingin mengatakan sesuatu. Dirinya yang berada di barisan paling belakang membuatnya sedikit lebih leluasa melihat cewek itu lebih jelas.


Cewek itu mengangkat sebelah alisnya ketika sadar kalau dia diperhatikan oleh maba yang selalu membuat masalah sebelumnya.


Kai yang melihat itu hanya menggeleng pelan, mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu tadi. Tidak mau membuat gugusnya terkena masalah (tumben). Cowok itu lalu melemparkan senyum kecil ke arah Aylin. Tidak ada balasan tentu saja. Tidak masalah untuk Kai.


Mungkin di Gugus 19, hanya Kai yang santai saja menghadapi TPK apalagi ketuanya. Tak lupa Ridwan yang memang pada dasarnya cuek dan masa bodoh.


Ngomong-ngomong soal Ridwan, cowok itu berjalan di sebelah Kai. Entah Kai sadar atau tidak, Ridwan melihat semuanya. Membuat cowok itu memicingkan mata curiga.


"Aneh," gumamnya pelan.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


Jojo.... wkwk random ngasih namanya, keinget si Jojo yg kemarin berhasil mengalahkan China di Thomas Cup jadi gitu deh [semangat Indonesia!]


btw sengaja tak ringkes buat dua hari ospek fakultas, biar nggak kelamaan 🙃 dan games di hari keempat itu emang based on experience


dan... horotoyoh, ridwan curiga kenapa tuh!


btw part besok side story lagi.


see you!^^