Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Looking for You



look (v): attempt to find someone or something


.


.


.


[baru minor editing, mostly paragraphs]


.


.


.


Setelah berhasil menyelesaikan semua tantangan di tiap-tiap pos yang ada, saatnya untuk ishoma. Wajah para maba terlihat menunjukkan raut kelelahan karena harus berjalan mengelilingi area FT yang luasnya tidak terkira. Namun, mereka juga terlihat habis bersenang-senang. Terbukti walau terlihat agak payah, mereka masih bisa bercanda dan tersenyum satu sama lain.


Oh, tak lupa plang gugus mereka yang kini nampak berwarna-warni dan penuh hiasan unik hasil karya mereka.


Untuk ishoma-nya, mereka dibagi perkloter. Kloter makan siang terlebih dahulu atau shalat duzuhur lebih dulu. Tempatnya agak berbeda dari waktu TM. Kali ini, mereka shalat di pelataran dekat lapangan hijau yang sudah disediakan tim perkap.


Masing-masing pemandu gugus tak lupa memberi tahu soal rundown acara selanjutnya. Yaitu unjuk kreativitas maba. Nanti mereka diminta menampilkan sesuatu dengan persiapan yang singkat.


Penampilannya terserah mau apa. Asalkan bebas dari unsur SARA dan pornografi.


Untuk keterangan lebih lanjut, nanti akan disampaikan oleh Galang dan Seno.


Meski terdengar merepotkan dan ditambah waktu yang singkat untuk persiapan. Toh acara ini bertujuan untuk seru-seruan dan mengasah kreativitas. Dan bagi gugus yang penampilannya terbaik akan diberi hadiah apresiasi.


Begitu kegiatan itu dimulai selepas ishoma, nyatanya banyak dari mereka yang kretif-kreatif. Ada yang menampilkan lakon sederhana, stand-up comedy, accapela, bahkan sampai impersonate.


Lebih gilanya, ada salah satu gugus yang nekat menampilkan lakon meniru panitia Isimaja FT!


Yap! Bisa dibayangkan di situ juga ada yang menirukan TPK.


Banyak yang was-was saat melihat lakon gugus itu. Karena siapa sih yang nyari mati dengan menyinggung para TPK? Walau cukup menghibur, tetapi tetap saja!


Untungnya, sejauh ini, para maba tidak melihat reaksi berarti dari para TPK yang berjaga. Hanya diam seperti manekin bertampang dingin tanpa menunjukkan ekspresi berarti.


Salut mereka bisa menahan diri sampai sejauh ini. Padahal beberapa penampilan ada yang benar-benar full komedi mengocok perut. Ada juga yang terkesan menyindir. Namun, para TPK seolah disuntik mati rasa.


Sama sekali tidak terpengaruh.


Begitu semua penampilan tiap gugus selesai, acara kembali diambil alih oleh Galang. Pengumuman siapa yang menjadi penampil terbaik akan diumumkan di akhir Isimaja besok. Pun begitu dengan kategori-kategori lainnya yang dibicarakan di awal pagi tadi.


Acara selanjutnya adalah pertunjukan teater dari perkumpulan anak-anak teater FT, Gelagar. Penampilan Gelagar menjadi penutup hari ini.


Sebelum benar-benar ditutup oleh Galang begitu Gelagar selesai tampil, cowok itu kembali mengingatkan soal agenda besok. Agenda yang ditunggu-tunggu semua maba.


Apalagi kalau bukan pemberian lencana gir. Atau biasa disebut Gear Ceremony.


Namun, sebelum masuk Gear Ceremony, mereka masih ada Isimaja jurusan sebentar dari pagi sampai ashar.


Besok itu jadwalnya lebih lama dari hari sebelum-sebelumnya. Seperti tahun-tahun lalu juga. Hari terakhir Isimaja memang bisa dikatakan seharian. Dari pagi sampai petang.


Namun, hari itulah yang sangat ditunggu-tunggu. Bukan hanya sebagai hari terakhir ospek, tetapi juga sebagai awal.


Apalagi dengan adanya Gear Ceremony yang tiap tahun konsepnya nyaris beda disesuaikan dengan maba dan panitia yang ada. Jadi penasaran, kira-kira tahun ini akan seperti apa?


.


.


.


Hari kelima alias hari terakhir Isimaja FT dimulai!


Para maba berbondong-bondong ke kampus dengan dresscode masing-masing jurusan. Hari ini memang agendanya Isimaja jurusan dari pagi sampai waktu ashar.


Mereka nanti akan dijemput masing-masing Hima jurusan untuk menuju lokasi Isimaja mereka. Jadi, ranahnya sudah menjadi tanggung jawab panitia jurusan bukan lagi panitia fakultas.


Namun, tiap ketua panitia jurusan punya tanggung jawab dan koordinasi dengan Naufal, ketua panitia fakultas. Dan tiap ketua tim punya tanggung jawab dan koordinasi dengan ketua tim fakultas.


Terlihat berbagai ciri khas masing-masing jurusan dari dresscode yang mereka pakai. Dan yang paling mencolok adalah dresscode anak Tata Busana. Jurusan mereka menginginkan para maba untuk sekreatif mungkin menciptakan sebuah kostum.


Ya! Anak-anak Tata Busana menciptakan sendiri kostum mereka sesuai desain yang telah diberikan oleh panitia.


Kalau di FBS, hampir mirip dengan jurusan Seni Tari. Mereka juga menciptakan kostum mereka sendiri.


Selain itu, ada jurusan Tata Boga yang mengenakan pakaian seperti koki dilengkapi dengan celemek dan topi tinggi. Ada juga Teknik Otomotif yang memakai baju montir berwarna biru tua. Lengkap dengan sarung tangan seolah-olah mereka akan bekerja di bengkel.


Dresscode anak-anak Arsitektur dan Teknik Sipil hampir sama. Mereka menggunakan kemeja, rompi, dan helm proyek. Yang membedakan adalah warna, atribut tambahan, dan logonya.


Kebanyakan jurusan memang menggunakan baju montir atau wearpack. Namun dengan warna atau atribut yang berbeda.


Ada yang mengenakan helm proyek, sarung tangan, dan goggle.


Ada juga yang mengenakan atribut normal berupa kemeja dan celana kain biasa ditambah atribut tambahan seperti nametag dan hiasan kepala.


Kai dan yang lainnya tiba di gugus mereka berada. Sudah ada cukup banyak anak gugus 19 yang datang.


Kai, Neo, dan anak-anak Teknik Industri memakai kaos putih dan wearpack model jumpsuit. Tak lupa helm proyek berwarna putih.


Ridwan dan Teo yang merupakan maba Teknik Otomotif menggunakan baju montir seperti anak-anak Teknik Otomotif lainnya.


Dan yang paling santai adalah Ojan. Dia dan anak TI hanya memakai kemeja kotak-kotak dan celana kain hitam. Atribut tambahannya hanya berupa nametag yang dibentuk dan dihias sedemikian rupa.


"Lah TI kan kerjanya nggak di lapangan langsung. Jadi nggak perlu pakai helm atau wearpack lainnya," Ojan memberi alasan ketika tadi ditanya oleh Neo.


Ketika semua maba sudah berkumpul di lapangan dan melakukan presensi, Galang lalu mengambil alih. Cowok itu memberikan briefing kepada para maba terkait agenda hari ini dan adanya penjemputan oleh Hima masing-masing jurusan.


Dia juga memimpin yel-yel sejenak biar tambah semangat.


Baru ketika ada anak Acara berbisik ke Galang kalau para Hima sudah siap, dia menyudahi acara yel-yel dan jargon.


"Karena jemputan kalian sudah datang, kalian siap-siap ya. Cek lagi barang-barang yang kalian bawa. Jangan sampai ada yang ketinggalan," katanya.


"Semangat buat Isimaja jurusannya! Jangan lupa habis itu ada gear ceremony, oke? Sampai jumpa nanti...!"


Satu persatu perwakilan jurusan berjalan memasuki lapangan. Mereka membawa bendera Hima masing-masing. Tiap rombongan didampingi TPK masing-masing jurusan.


Di mulai dari jurusan Teknik Otomotif karena letak Isimaja mereka yang paling jauh. Di sisi paling selatan FT.


"Untuk semua maba Teknik Otomotif dan Pendidikan Teknik Otomotif silakan berdiri. Dari gugus yang paling kanan dulu ya, gantian," ucap Galang mengarahkan.


Ridwan, Teo, dan anak-anak dari jurusan yang disebutkan berdiri lalu satu persatu berjalan menuju rombongan Hima mereka berada. Setelah mereka berbaris rapi dan tak ada yang ketinggalan lagi, dipimpin ketua Hima yang membawa bendera, mereka berjalan menuju lokasi.


Hal serupa juga dilakukan jurusan lain. Ketika rombongan satu jurusan sudah mulai berjalan menjauh, maka giliran jurusan lain untuk berbaris.


Lokasinya pun ada yang indoor ada yang outdoor. Tergantung masing-masing panitia.


Tiap jurusan saling bergantian dipanggil oleh Galang. Sampai pada akhirnya, tibalah jurusan Teknik Industri. Kai dan yang lainnya berbaris rapi di belakang si pembawa bendera. Cowok itu sejak Hima jurusannya datang, terlihat mencari-cari keberadaan seseorang.


Namun, tak ada satupun batang hidung dari orang yang dicari.


Bahkan ketika sampai di lokasinya, sebuah ruangan luas yang terletak di gedung agak di sisi barat, tak begitu jauh dari lapangan dan aula besar, Kai tidak melihat orang yang dicari. Bahkan di antara TPK jurusan Teknik Industri tidak ada orang itu.


Ke mana dia?


.


.


.


"Ah akhirnya bisa istirahat bentar!" seru Enggar dengan puas setelah semua maba sudah pergi ke jurusan masing-masing. Hanya tersisa beberapa panitia yang masih di tempat.


Beberapa panitia ada yang memutuskan untuk beristirahat atau berganti pakaian untuk menuju ke Isimaja jurusan.


Ya. Memang ada yang serajin itu ikut dua kepanitiaan. Entah bagaimana mereka mengatur waktu dan energinya.


Aylin juga kurang paham dengan mereka.


Cewek itu memilih fokus di kepanitiaan fakultas saja. Toh dia juga tidak ikut Hima juga jadi tak ada kewajiban tambahan. Cewek itu juga pada dasarnya tidak tertarik ikut di panitia jurusan meski tahun lalu sempat ditawari juga.


Jadi panitia di fakultas saja sudah cukup repot. Lalu mau ditambah di jurusan? Tidak, terima kasih!


Beda Aylin, beda Naufal. Cowok itu memang diharapkan kehadirannya di Isimaja jurusan. Wong dia itu ketua Hima Teknik Industri. Ya jelas saja harus datang. Cowok itu benar-benar penggambaran mahasiswa aktivis kampus.


Ikut Hima iya, BEM FT iya.


Mana sempat ikut UKM sepak bola lagi!


Untungnya, dia mulai melepas kegiatan UKM semenjak pertengahan menjabat sebagai ketua Hima. Meski sesekali kalau lagi mau ikut latihan dan ada waktu, dia menyempatkan datang.


Saat penjemputan maba tadi, bukan Naufal yang membawa benderanya. Tetapi wakil ketuanya. Ketua panitia berbeda dengan ketua Hima. Ketua panitia biasanya adalah kepala divisi yang tugasnya di bidang kaderisasi.


Selain Naufal, Rima ikut panitia jurusan juga. Dia itu pengurus Hima Teknik Sipil soalnya. Jadi mau tidak mau juga harus turun tangan—meski tiap panitia jurusan juga mengadakan oprec bagi mahasiswa yang bukan pengurus Hima bisa ikut.


Selain Rima, ada Budi juga. Dia di panitia jurusan malah jadi PDD. Bagian tukang foto lebih tepatnya.


"Yang mau istirahat monggo. Tapi tetap ingat sama kesepakatan seperti sebelum-sebelumnya," kata Aylin.


"Bakalan lama juga sih sampai nanti masuk waktu ashar."


"Boleh balik kos nggak Lin?" tanya Guntur.


"Nggak boleh!" sahut Aylin dengan cepat.


"Nggak ada yang boleh pulang ke kos, asrama, atau rumah. Berlaku buat semua panitia. Kalau mau istirahat di sekitaran kampus aja," lanjutnya.


Aylin jadi teringat sesuatu. Lalu cewek itu mengambil HT-nya dan menyalakannya. Dia mengingatkan ke semua ketua tim yang bawa HT hal sama yang dia katakan ke Guntur tadi.


Semua panitia yang tidak ada kepentingan di jurusan tidak boleh pulang ke asrama, kos, atau rumah selama acara masih berlangsung. Tetap di area kampus. Terserah mau ngapain asalkan tidak kelihatan maba.


Sebenarnya dia juga sudah menyampaikannya di briefing tadi. Namun, untuk jaga-jaga saja dia mengingatkan sekali lagi.


Nanti dia juga akan mengecek kelengkapan tiap tim sesekali.


Beberapa anggota TPK izin istirahat di tempat lain. Sisanya ada yang ikut Aylin istirahat di basecamp panitia.


Sampai di basecamp pun sudah ada beberapa panitia lain yang asyik berleha-leha.


"Boleh nyetel musik nggak sih?" tanya salah satu panitia. Terlihat dari dresscode-nya, dia bagian dari Tim Humas dan Sponsor.


"Boleh nggak Lin?" Enggar malah bertanya ke Aylin.


"Boleh-boleh aja," jawab Aylin dengan santai. "Ya asal nggak terlalu keras sampai kedengeran di luar dan malah ganggu."


"Ashiaappp Mbak Lin!" sahut anak Humas dan Sponsor tadi. Lalu, dia mulai menyetel musik dari ponselnya dan menyambungkannya ke speaker yang ada di ruangan itu.


"Yang mau request bilang yo!" katanya.


Lalu semua sibuk dengan masing-masing diiringi musik yang mengalun. Ada yang sibuk mengobrol satu sama lain, main gim, baca novel, atau tidur.


"Mas Teguh sama Mas Zul jadi datang nanti Lin?" tanya Nanda. Salah satu anggota TPK.


Ada dua Nanda di TPK. Satu cowok dan yang satunya cewek. Satu seangkatan Aylin dan satunya lagi angkatan bawahnya. Namun yang cowok dipanggil Yuan untuk membedakan.


"Jadi katanya. Mereka kemarin udah ngasih kabar kalau mau datang," jawab Aylin.


"Eh cuy," kata Andre tiba-tiba menimbrung.


"Do gumun ora sih karo Bang Teguh?" tanyanya dengan nada khas untuk mulai bergosip. [Pada heran nggak sih sama Bang Teguh?]


"Gumun kepiye?" Enggar bertanya balik. [Heran gimana?]


"Bang Teguh itu kan jurusannya Arsitektur kan? Tahu sendiri kan kalau jurusan itu gimana? Sibuk banget."


"Kayaknya hampir semua jurusan di teknik emang sibuk. Tapi iya emang, di arsi emang kudu pinter-pinter bagi waktu," sahut Nanda.


"Dulu pas Bang Teguh dipasrahi buat jadi ketua TPK kan matkul jurusan arsi lagi repot-repotnya kan? Soalnya kebanyakan anak arsi emang pada nggak ikut lagi di kepanitiaan ospek fakultas pas masuk tahun ketiga," kata Enggar.


Jurusan Arsitektur di FT memang terkesan eksklusif anak-anaknya. Tak banyak yang bergabung di ormawa dan kepanitiaan fakultas. Tidak seperti jurusan-jurusan lain.


Hampir sama dengan jurusan Teknik Kimia.


Entah karena banyak tugas atau bagaimana. Nyatanya memang begitu.


"Bang Teguh juga pernah jadi pengurus DPM juga kan?" Frans menimbrung.


Cowok jangkung itu tidak ikut panitia jurusan. Bukan anak ormawa juga. Bisa dibilang Frans termasuk mahasiwa kupu-kupu kalau tidak tergabung dalam band kampus dan jadi duta FT.


Dia sempat kepikiran untuk ikut BEM setelah pemilwa nanti. Namun, entah jadi direalisasikan atau tidak nantinya.


"Eh iya?" tanya Enggar tak percaya.


"Lah? Kau nggak tahu?" Aylin bertanya dengan heran.


"Mas Teguh itu bagian dari DPM FT dulu."


"Lah... kukira anak BEM atau Hima," kata Enggar baru tahu.


"Itu mah Mas Zul, Nggar. Dia pengurus Hima, jadi kepala divisi di sana," tukas Nanda.


"Baru tahu aku," kata Enggar.


"Nah kan!" Andre berkata, "Semakin membuat orang heran. Kok bisa ya? jadi DPM, ketua TPK FT, bahkan jadi Raja Teknik. Manusia macam apa itu si Bang Teguh. Heran!"


"Bilang aja kau iri, Ndre," celetuk Nanda.


"Ngawur!" seloroh cowok itu dengan cepat. "Justru aku itu kagum weh! Kalau di posisinya, aku mungkin nggak bisa haha..!"


"Nah, Frans. Bang Teguh nyatanya bisa, kau juga pasti bisa jadi Raja Teknik," ujar Enggar ke Frans.


"Malah semakin minder adanya," sahut Frans.


"Hahaha...!" Andre dan yang lainnya tertawa melihat Frans menjawab hal itu dengan wajah datar.


.


.


.


Kai dan semua maba Teknik Industri tengah melakukan pengondisian di dalam sebuah ruangan luas, salah satu ruang yang sering digunakan untuk seminar. Dan salah satu dari beberapa ruangan luas yang dimiliki FT.


Nama ruangan itu adalah Ruang Faraday. Gedung akademik dan beberapa ruangan penting memang dinamai dengan nama penemu atau tokoh penting lainnya. Nasional maupun internasional.


Dan aula besar FT sendiri memiliki nama Hall B.J. Habibie. Namun, tetap banyak yang hanya menyebutnya sebagai aula besar atau aula saja.


Tidak hanya di FT, semua fakultas di UHW juga begitu.


Kai dan Neo berbeda gugus. Jadi begitu sampai ruangan, mereka berpencar mencari gugus masing-masing.


Kembali ke Kayvan. Cowok itu sudah bersama teman segugusnya di jurusan. Sayangnya, satu-satunya teman yang segugus di fakultas yang juga satu kelompok di jurusan hanya satu orang, si Zulfa. 


Di Teknik Industri, ada dua belas gugus. Pergugus terdiri tujuh belas sampai delapan belas maba. Dan tiap gugus didampingi dua sampai tiga pemandu. 


Sebelum Isimaja, semua maba juga mengikuti agenda TM jurusan. Walau tidak selama di fakultas. Jadi, sudah lumayan akrab satu sama lain.


Agendanya tidak jauh berbeda dengan fakultas. Bedanya hanya berfokus pada jurusan saja. Jadi tiap jurusan bisa berbeda-beda kebijakannya. Dan tentu saja, durasi waktunya tidak sebanyak seperti di fakultas.


Bahkan saat perkenalan panitia di TM jurusan dulu, Kai melihat sosok Naufal. Seniornya itu mengenalkan diri sebagai ketua Hima Teknik Industri. Tidak terlalu terkejut karena Kai menduga-duga kalau seorang seperti Naufal itu pasti ikut Hima atau ormawa.


Ada juga beberapa wajah familiar dari panitia fakultas yang tergabung di panitia jurusan.


Namun, cowok itu tidak menemukan sosok yang dia cari.


Bahkan saat dari perjalanan menuju Ruang Faraday, Kayvan berharap bisa ketemu lagi dengan orang itu. Bisa saja tidak muncul di TM tapi muncul saat hari-H.


Sayangnya, harapan hanya sebatas harapan saja.


Sampai sekarang—saat acara sudah dimulai—Kai tidak melihat batang hidung dari orang yang dia cari. Dari orang yang dia harapkan keberadaannya meski hanya muncul beberapa saat.


Bahkan di TPK jurusan, tidak ada orang itu di sana. Cowok itu semula berpikir dan penasaran kalau orang itu akan jadi TPK jurusan. Namun, nyatanya tidak.


Tidak di TPK jurusan, tidak di tim lain.


Sayang sekali ya?


Kayvan harus menelan kekecewaannya dalam diam.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


dc ospek jurusan di FT itu ngarang wkwk soalnya aku kurang tahu kalau di FT biasanya gimana, jadi aku ngambil gambaran dari fakultasku terus kusesuaikan, sama karakteristik tiap jurusan


dan buat anak2 jurusan arsitektur dan anak teknik lainnya, sorry ya kalo ddeskripsinya agak beda dari real life 🙏🏼 ini fiksi tapi kubuat nggak terlalu melenceng jauh dari real life


hayooo si kayvan nyari siapa tuh! 🤭


see u next week