Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Hush-hush



hush-hush (adj, informal): (especially of an official plan or project) highly secret or confidential


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


.


Siangnya, selepas Aqisol, geng lima sekawan yang terdiri dari Aylin, Naufal, Budi, Rima, dan Taufan, memutuskan untuk makan siang di burjo langganan mereka. Selain menghindari keramaian dan antrean lama di kantin, mereka juga pengen menghirup udara bebas.


Bebas dari suasana kampus sejenak.


"Eh coy, udah rilis nih foto-foto para kandidatnya," celetuk Taufan yang sejak tadi fokus pada ponselnya.


"Eh iya? Mana-mana, mau lihat! Link-nya apaan?" sahut Rima yang langsung meraih ponsel miliknya.


"Kayak tahun-tahun kemarin. Tapi kalo nggak mau ribet cek aja di ig kampus. Mereka share link di sana," kata Taufan.


"Males buka ig. Kuotaku lagi sekarat. Share aja link-nya di grup kita kenapa sih?" Budi tetaplah Budi, tidak mau ribet.


Kemudian, Taufan mengirimkan link itu ke grup whatsapp geng mereka. Aylin dan Naufal hanya diam tetapi tetap membuka link yang dikirimkan.


"Wiiihh... pada cakep-cakep ya kandidat ceweknya," Budi berkomentar.


"Kebiasaan matanya jelalatan," Rima berucap sinis. "Ingat mereka masih maba, Bud. Masih polos, nggak pantes buat buaya sepertimu."


"Bud, ingat masih ada mbak pacar dari FEB loh. Jangan ngincer lagi," Taufan ikut menimpali Rima. "Baru dua minggu lalu jadian. Pacar ke berapa sih?"


Taufan pura-pura lupa.


"Enam selama delapan bulan ini. Tumben dikit sih emang. Nggak kehitung yang tahun lalu ya, udah lupa saking banyak mantannya," jawab Naufal kalem.


Budi hanya mencibir mendengarnya. Sudah biasa dirinya diejek seperti itu.


"Jadi ngebayangin gimana kalau suatu saat Budi ketemu orang yang bikin dia bucin mampus, tapi orang itu nggak suka sama Budi," celetuk Aylin. "Kayaknya lucu deh, hahaha. Akhirnya Budi kena imbasnya."


"Woy Lin!" protes Budi tak terima.


"Eh, tapi bisa jadi bener Lin," kata Taufan. "Pasti akan ada hari di mana si Budi tobat sama kena karma."


"Kalau hari itu datang, aku bakal yang paling pertama mampus-mampusin si Budi," ujar Rima penuh tekad.


"Yaa... semoga nggak sampai nunggu lebaran monyet baru kejadian," Naufal ikut berkomentar. "Tahu sendiri kan bocah kunyuk itu gimana. Sok-sokan bilang tobat tapi besoknya masih melakukan dosa."


"Parah sih emang Budi itu. Tsk! Tsk! Tsk!" Taufah menggelengkan kepalanya.


"Ingat nggak waktu si Budi kena apes seharian?" tanya Aylin. Taufan, Rima, dan Naufal mengangguk mengiyakan.


"OI!" seru Budi tak terima. Namun, tidak digubris oleh yang lainnya.


"OH! Pas semester kemarin nggak sih?" Rima bertanya memastikan. "Hahaha! Ngakak parah."


"Hooh. Kapan sih Budi nggak kena sial?" pertanyaan retorik dari Naufal.


"Bangun kesiangan, nggak bisa masuk kelas, tugasnya nyemplung got, motornya mogok, kekunci di luar kamar, sampai nggak bawa uang terus akhirnya nambah kasbon ke ibu kantin. Apa lagi ya?" Taufan menyebutkan kesialan yang pernah dialami Budi.


"WOII!!" teriak Budi.


"Makanya, Bud, kalau pak ustad bilang segera tobat ya tobat. Jangan pas diajak ke kajian malah mainan ponsel sama molor," kata Naufal ke Budi.


"Balik ke topik awal," Taufan menyudahi. "Gara-gara si Budi jadi melebar ke mana-mana. Mana topik yang dibahas Budi lagi."


"Tau tuh Budi!" Rima menimpali.


"Ya Allah aku meneh?" kata Budi. "Salah hamba apa ya Allah, sampai sahabatku yang kurang ajar pada ngebully hamba." [aku lagi]


"Salahmu banyak. Kalau dibahas bakal nggak habis-habis," sahut Naufal.


"Astaghfirullahal'adzim... akhi Naufal, kenapa berbicara seperti itu?" tanya Budi sok alim.


"Udah diem, Bud!" Rima akhirnya menginjak kaki Budi karena kesal. Lalu mengiraukan lolongan kesakitan Budi yang kakinnya diinjak keras olehnya. Untung saja pemilik burjo sudah terbiasa dengan segala tingkah polah kelima sekawan ini. Dan untungnya juga, warung tidak begitu ramai. Hanya ada dua pelanggan ditambah dengan kelima pelanggan setianya itu.


"Lin, coba lihat junior kesayanganmu ini deh," kata Rima kepada Aylin sambil menunjukkan foto Kayvan yang berpose ganteng di daftar para kandidat.


"Junior kesayangan apaan?!" tukas Aylin sewot. Seketika suasana hatinya berubah drastis.


Rima hanya cekikikan sambil mengerling jahil. Dia suka sekali menggoda sahabatnya ini.


"Tapi emang beneran lho Lin. Di foto ini, si Kayvan kelihatan cakep banget. Kharimanya kelihatan jelas."


Aylin hanya mendengus mendengarnya dan melirik sekilas ke foto Kayvan yang masih terpampang nyata di layar ponsel Rima.


"Si Freya juga cantik banget," komentar Taufan. "Aku suka dia potong pendek gini. Kelihatan fresh."


"Hooh," Rima menyetujui. Aylin menggulirkan jarinya di layar ponselnya dan menemukan foto Freya, kandidat dari FT dan pasangannya Kayvan. Cewek itu akui kalau Freya memang terlihat sangat cantik.


"Taruhan yok, kira-kira siapa yang bakal menang?" kata Budi tiba-tiba. "Kalau aku sih bertaruh FT bakal menang tahun ini."


"Bud," Naufal berujar.


"Antum muslim bukan?"


Dengan polosnya, Budi mengangguk. "Iya, Pal. Kan tiap hari shalat. Gimana sih Pal?"


"Antum tahu kan ada beberapa hal yang haram dilakukan?"


Sekali lagi, Budi mengangguk mengiyakan.


"Salah satunya judi. Judi itu haram, nggak baik. Ora ilok. Tahu kan?" [tidak bagus]


Entah polos atau lemot, Budi mengangguk sekali lagi.


"Udah tahu haram, ngapain masih ngajakin taruhan?!" kali ini Naufal ngegas. Kebiasaan buruk Budi itu kadang suka ngajak taruhan. Padahal ngakunya lagi miskin tidak ada uang dan akhirnya malah berimbas merepotkan sahabatnya yang lain.


"Iya iya.." ujar Budi dengan pasrah kemudian.


"Tau tuh si Budi. Hobi judi kok diperlihara," celetuk Taufan.


.


.


.


Sore ini, Aylin tengah berada di kopma—koperasi mahasiswa—untuk membeli beberapa persediaan yang mulai habis. Tidak ditemani oleh Rima karena cewek itu membawa sepedanya.


Kopma UHW terbilang cukup lengkap dengan segala barang yang disediakan. Bentuknya seperti minimarket dan terbuka untuk umum. Jadi tidak hanya warga UHW saja yang bisa berbelanja di sana, tetapi masyarakat umum. Tidak terbatas dengan yang tinggal di dekat area kampus saja.


Tidak banyak yang dibeli Aylin. Mengingat dia hanya memakai sepeda. Namun, untung saja dia memakai tas gendong ukuran sedang.


Ketika hendak mengambil susu kotak stroberi kesukaannya, Aylin terhenti sejenak. Dia tiba-tiba mendapatkan ide.


Mengambil susu kotak coklat dan stroberi tambahan. Lalu roti, wafer, dan vitamin masing-masing dua buah. Tidak lupa satu buah paper bag yang berukuran sedang.


Kemudian, Aylin membawa semua barang yang dibelinya ke kasir. Setelah membayar semuanya, cewek itu lalu keluar dan mengambil sepedanya.


Dia lalu mencari tempat yang sekiranya bisa dia gunakan untuk duduk sebentar. Cewek itu agak risih kalau harus duduk di emperan kopma atau tempat parkirnya. Apalagi sedang ramai-ramainya. Masih cukup mending kalau dia bawa motor dan bisa duduk di sana.


Akhirnya, dia menemukannya tak lama kemudian. Sebuah gazebo di dekat FEB, tidak begitu jauh dari kopma.


Aylin kepikiran untuk membuat amunisi. Itulah kenapa dia tadi membeli paper bag dan beberapa makanan tambahan. Untung saja dia membawa tempat pensilnya. Jadi tidak perlu repot memikirkan perekat, sticky note, dan gunting.


Setelah beberapa saat berkutat dengan amunisinya, Aylin lalu memasukkannya ke paper bag dan membereskan barang-barangnya yang lain.


Sudah jadi. Tinggal bagaimana cara menyerahkannya tanpa diketahui.


"Balik FT dulu aja deh," gumam Aylin pada diri sendiri. Kebetulan TPK sore ini juga ada evaluasi internal. Kurang lebih tiga puluh menit lagi. Dia harus segera ke sana sekarang.


Tak sampai lima belas menit, Aylin sudah tiba di FT. Cewek itu lalu memarkirkan sepedanya dan berjalan menuju basecamp. Beruntungnya, dia bertemu Seno ketika cowok itu berjalan berlawanan arah dengannya.


"No!" panggil Aylin.


"Yo! Ada apa?" Seno berjalan mendekat.


"Nitip amunisi ya," Aylin menyerahkan paper bag yang dibawanya. "Buat duta FT tahun ini. Tapi jangan bilang dari siapa."


"Wiihhh... apa nih?" Seno menerima papar bag yang diberikan dan sedikit mengintip isinya.


"Aduh, aduh... Kak Aylin ternyata diem-diem perhatian ya?" komentarnya sambil mengerling jenaka.


Aylin hanya mendengus sebal. Lalu berkata, "Tolong ya, No."


"Ashiaapp Lin! Nanti kukasihkan ke mereka. Kebetulan habis ini aku mau ketemu mereka. Lagi nyari-nyari mereka dari tadi nih," kata Seno.


"Makasih ya No!"


"Yo'i Lin!"


.


.


.


Sudahkah Aylin bilang kalau dia baru bisa benar-benar istirahat dengan santai ketika semua rangkaian agenda inaugurasi selesai?


Benar sekali!


Bahkan saat ada jeda beberapa hari antara Aqisol dan Isimaja, ketika kau bisa sedikit bersantai melepas lelah, tetapi kau harus pergi ke kampus pagi-pagi untuk rapat dan evaluasi.


Ya, seperti inilah yang dilakukan seorang Aylin Maharani sekarang. Dia bersepeda ke kampus untuk menghadiri rapat dan evaluasi PI dan ketua tim. Sebelum ke kampus, cewek itu mampir lebih dulu ke warung makan untuk sarapan. Lalu mampir ke kedai minuman untuk membeli salah satu minuman favoritnya.


Ketika sampai tempat parkir, Aylin sekali lagi mengecek ponselnya barangkali ada pesan masuk. Dan benar saja, ada beberapa pesan belum terbaca di grup PI dan ketua tim.


Aylin lalu membuka pesan itu dan menemukan kalau tempat rapat diganti di basecamp bukan di gazebo dekat gedung dekanan lagi.


Untung saja dirinya membuka ponsel. Kalau tidak dia pasti menunggu sendiri di gazebo seperti orang hilang.


Sambil menenteng plastik transparan berisi chocobanana, Aylin lalu berjalan menuju basecamp tanpa peduli sekitar. Sambil sesekali berhenti sejenak dan mengecek ponselnya dan membalas beberapa pesan yang ditujukan padanya.


"Kak Aylin!" seseorang memanggil namanya. Aylin berhenti dan menoleh dan cukup terkejut melihat orang yang memanggilnya.


Dia lagi!


Buru-buru Aylin memasang raut wajah juteknya.


"Ada apa?" tanyanya dengan enggan.


"Hehehe... cuman mau nyapa Kakak doang sih," jawab maba itu dengan santai. Cowok itu bahkan beraninya tersenyum palsu.


Kurang ajar!


Aylin mendecih. "Tsk! Kalau nggak penting mendingan kau pergi saja. Aku sibuk," usirnya.


"Eits, tunggu dulu Kak," belum sempat beranjak, cowok itu buru-buru menghentikannya.


"Apa?" Aylin menahan rasa kesalnya.


"Kakak tahu 'kan kalau besok malam adalah pemilihan duta kampus?"


Aylin memutar kedua bola matanya mendengar pertanyaan juniornya. "Iya, terus?"


Mau apa sih sebenarnya bocah ini?


"Bisakah kakak datang ke acaranya besok malam?" pertanyaan yang tak terduga datang dari mulut seorang Kayvan.


"Saya mohon, kakak datanglah ke acara pemilihan duta kampus. Kedatangan kakak akan sangat berarti."


Oh, benarkah?


"Untuk apa? Melihatmu tampil? Apa kau yakin bisa menang kalau aku datang?" Aylin bertanya dengan nada menantang. Siapa dia seenaknya memintanya datang ke pemilihan duta kampus. Secara Aylin dan juniornya ini tidak kenal dekat. Bahkan bisa dibilang musuh.


Pasti ada udang dibalik batu!


0057 mengangguk menjawabnya. Cowok itu terlihat begitu yakin.


"Iya, saya akan memenangkannya!"


"Jangan hanya bermulut besar. Aku butuh bukti bukan kata-kata kosong!"


"Saya akan membuktikannya kepada kakak, kalau saya bisa menang."


Cewek itu melihat sorot mata Kayvan yang terlihat bersungguh-sungguh. Percaya diri sekali dia.


Walau masih agak curiga, akhirnya Aylin mengangguk mengiyakan. Dia juga sedang tidak ingin lama-lama meladeni juniornya ini. Ada rapat yang harus segera dia hadiri.


"Baiklah, aku akan datang. Buktikan kalau kau bisa jadi juara, bukan sekedar juara kategori. Tapi, kalau sampai kau kalah, ada hukuman menanti untukmu yang tidak bisa membuktikan omongannya sendiri."


"Dan jangan pernah mengangguku lagi," tambahnya.


Maba itu mengangguk tanpa pikir panjang. "Satu lagi, Kak."


"Apa lagi?" Aylin mulai jengah.


"Kalau saya menang, bisakah kakak mengabulkan satu permintaan saya?"


Aylin mendecih kesal. Tuh kan! Beneran ada udang dibalik batu.


"Tsk! Tsk! Maruk banget. Iya, iya! Udah ya? Aku beneran ada urusan soalnya," Aylin akhirnya mengiyakan dengan tidak sabaran.


Bisa dilihat setelahnya, cowok itu tersenyum lebar. Bahkan kedua matanya sampai menyipit. Kalau diibaratkan dalam kartun, mungkin Aylin sampai harus menutup matanya saking cerahnya itu senyuman.


Oke, itu hiperbola.


Tanpa babibu lagi, Aylin lalu berjalan menjauh. Cewek itu mengecek jam di ponselnya, memastikan apakah dirinya telat atau tidak.


Untuk masalah Kayvan, dia pikirkan nanti saja. Sekarang fokus ke rapat dan evaluasi sebentar lagi.


.


.


.


..."Gaes, mau nonton ke Labkar nggak?"...


..."Tumben Lin ngajakin duluan."...


..."Hooh nih. Tahun lalu aja kau mager nonton, tapi karena dipaksa si Bia baru mau."...


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


another part pendek, belum di edit lagi, maafkan...


dan di sini udah kebongkar kan kalau ternyata aylin yang ngasih amunisi di part kayvan 😉


lagi kangen ngumpul sama temen, tapi mereka udah sibuk dengan urusan masing2 :" ditambah ppkm. jangan lupa prokes ya, kalau rasanya pengen ngeyel, seenggaknya ingat para nakes yang tengah berjuang dan orang terdekat kita yang kita jaga


dan di akhir aku kasih cuplikan buat chapter berikutnya