![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
top dog (n, informal): a person who is successful or dominant in their field; a leader
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
Selepas ishoma, halaman GOR kembali dipenuhi oleh para ormawa dari semua fakultas yang ada di UHW. Masing-masing membawa pasukannya dengan ciri khas yang kentara.
Seperti yang sudah jadi rahasia umum, pasukan ormawa FBS seolah-olah tengah persiapan pawai karnaval. Ditambah dengan bendera tiap-tiap ormawa mereka dan tak lupa maskot FBS yang sudah terlihat cetar—buto wungu dengan keempat dayangnya.
Fisipol seperti dugaan semua orang, mereka membawa spanduk, banner, dan poster yang berisikan kritikan dan isu-isu terkait kemahasiswaan. Untung saja, display dari LPM Narasi pas sesi satu tadi terbilang aman—dan tentu tetap ada orasi-orasi dan lagu keramat, Darah Juang.
FT sendiri membawa mobil UHW rakitan para mahasiswa. Sebelumnya di sesi pertama, UKM teknologi juga membawa mobil rakitan yang telah diikutkan di berbagai lomba bergengsi.
Itu adalah mobil yang sama—ada dua mobil untuk saat ini dan di sesi pertama tadi ditampilkan keduanya. Karena UKM teknologi itu sendiri dulu memang diprakarsai anak-anak FT yang mau mengajak fakultas lain untuk bergabung.
"Ini Mbak Lin," Frans menyerahkan HT yang sebelumnya dia pegang selama bertugas. Kini cowok itu mengenakan setelah hitam putih UHW dengan lambang FT di dasi dan kemejanya. Tidak lupa mengenakan selempang bertuliskan Duta Fakultas Teknik.
"Oke. Nanti ini tak oper ke Rima atau Andre yang udah selesai," kata Aylin yang kini memegang dua HT.
"Semangat buat orasinya nanti."
Frans tersenyum. "Makasih Mbak Lin."
"Semangat Frans! Jangan sampai grogi, oke? Tunjukin siapa Frans sebenarnya. Semangat...!" yang ini dari Bimala. Cewek itu sampai bela-belain melipir untuk menemui pacarnya itu.
Kali ini Frans tersenyum lembut ke arah Bimala. Lalu membelai lembut kepalanya. Cowok itu mengangguk dan berujar, "Pasti."
Aduh! Salah kalau Aylin berada di sini. Dua orang ini tidak memberikan kesempatan pada orang yang jomblo sepertinya.
Malah sekarang tatap-tatapan lagi!
Serasa dunia milik berdua dan yang lain cuman ngontrak.
Iya, Aylin tahu. Bimala dan Frans memang jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Apalagi kalau sudah masuk kuliah. Namun, tolong diingat ya masih ada orang lain di sebelah mereka.
Aylin lalu berdeham keras untuk menghentikan keuwuan yang justru membuatnya semakin merasa ngenes dilihat.
"Ehm!"
Juniornya itu hanya mengusap tengkuknya tidak gatal. Merasa bersalah karena terbawa suasana. Sementara Bimala hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
"Karena lagi baik, kudoakan biar cepat terealisasikan menuju Alin nggak jomblo lagi tahun ini. Biar nggak ngenes dilihat," kata Bimala.
"Sialan," umpat Aylin dengan nada pelan.
"Terutama sama yang ngelamar waktu itu. Si maba kesayangan kalau kata Mbak Rima."
Bimala terkekeh sambil mengerling jahil ke arah sepupunya. Cewek itu suka sekali menggoda sepupunya yang keras kepala ini.
"HOY!" seru Aylin tidak terima.
Amit-amit deh kalau sampai terjadi!
Frans terbatuk menyembunyikan tawanya. Aylin melotot tajam ke arah cowok itu, memperingatkan. Lalu Frans segera berdeham untuk meredakan tawanya. Cewek di depannya ini selain sebagai ketuanya, tetapi juga sepupu alias keluarga dari orang yang dicintainya. Dia tidak mau kalau restu bersama Bimala bisa dicabut.
Tsk, dasar pasangan menyebalkan! Aylin berdecih.
"Udah udah... balik kerja lagi."
Sekali lagi, Frans dan Bimala menebar kemanisan padahal hanya untuk pamitan pergi. Bimala lalu kembali ke posko medis dan Frans berencana mencari Vera yang katanya sudah ada bersama anak-anak ormawa FT. Sementara Aylin lalu mencari Rima untuk menyerahkan HT.
Aylin menarik napas dalam-dalam. Kini ormawa dari semua fakultas berkumpul di luar GOR. Bersiap masuk setelah display UKM selesai di dalam.
Anak-anak ormawa itu kini tengah mendengarkan orasi dari ketua LPM Narasi dan ketua DPM univ mengenai isu terkini, adanya wacana biaya operasional gedung tambahan ketika daftar ulang untuk maba.
Isu itu memang lagi hangat-hangatnya terjadi di UHW. Makanya ketua BEM univ berencana melakukan dialog dengan perwakilan rektorat untuk konfirmasi—kalau bisa ya jangan sampai menjadi kenyataan wacananya.
Baik saat kembali bekerja!
HT yang dia pegang tak henti-hentinya berbunyi. Entah dari anak buahnya, ketua tim lain, dan Naufal.
Setelah orasi, para ormawa menyanyikan lagu Indonesia Raya diikuti lagu Darah Juang. Tak lupa ditutup dengan teriakan "Hidup Mahasiswa!".
.
.
.
Pertunjukan display UKM yang terakhir adalah penampilan dari kelompok kolaborasi UKM marching band, Palang Merah, UKM budaya dan bahasa asing, dan UKM paduan suara. Kombinasi yang cukup unik.
Lalu ditutup dengan parade bendera semua UKM dan membentuk sebuah koreo. Menunjukkan meski berbeda-beda bidangnya, mereka tetap satu dalam atap yang sama, yaitu bagian dari Universitas Hayam Wuruk.
Begitu selesai, semua maba kembali heboh memberikan apresiasi. Benar-benar pertunjukkan yang mengesankan.
Acara kembali diambil alih oleh MC dari panitia, Brian dan Niken. Bukan lagi Pasha dan Cindy karena mereka sudah undur diri begitu mengumumkan display UKM terakhir hari ini.
Brian dan Niken lalu mempersilakan semua fakultas menyanyikan yel-yel andalan masing-masing. Suasana dalam GOR benar-benar ramai dan bising dengan suara-suara yang bersautan dan bersamaan.
Rasa-rasanya, GOR seperti bergetar dengan euforia yang menggelora.
Masing-masing fakultas menunjukkan kekompakan mereka. Seolah-olah bersaing siapa dari mereka yang lebih kompak.
Terutama untuk FT, FBS, FO, Fisipol, dan FGK. Benar-benar lebih mendominasi.
"Kami ini Jawara!" Galang berteriak dengan kencang.
"KAMI INI JAWARA!" semua maba FT yang kini sudah berdiri di tempatnya menyahut.
"Rajawali utara!"
"RAJAWALI UTARA!"
Benar-benar tercampur baur ketika keempat belas fakultas yel-yel bersamaan. Fakultas yang suaranya kurang powerful akan tenggelam dengan fakultas yang lebih kuat kekompakannya.
Walaupun fakultasmu punya masa yang paling banyak sekalipun, kalau tidak kompak dan bersemangat, ya akan kalah dengan fakultas yang mabanya lebih sedikit.
Kemudian, Brian dan Niken menyudahi adu yel-yel diwaktu bersamaan itu. Mereka lalu mengumumkan acara selanjutnya yaitu orasi dan parade ormawa. Semua maba boleh menunjukkan yel-yel atau jargon ketika ormawa fakultas mereka memasuki GOR satu persatu.
Namun, sebelum itu, kedua MC memberikan jeda sejenak untuk para maba istirahat setelah tadi berteriak menyanyikan yel-yel dan melakukan persiapan. Terlihat di lapangan bawah sana, beberapa perkap menggotong sebuah mimbar dan stand mic lalu meletakkannya di tengah-tengah.
Parade ormawa dipimpin oleh BEM dan DPM univ. Masing-masing membawa bendera mereka. Lalu ketua BEM berdiri di atas mimbar yang sudah disediakan. Rasyad, sang ketua BEM, memanggil satu persatu fakultas mulai dari yang paling tua.
"Fakultas Ilmu Pendidkan!" parade ormawa FIP disambut dengan yel-yel ketika memasuki GOR. Dipimpin oleh ketua BEM FIP yang membawa bendera. Tak lupa duta fakultas dan maskot FIP juga ikut serta dalam rombongan.
Satu persatu dipanggil. FK, FKH, FH, lalu FBS.
Sejauh ini, FBS yang membawa rombongan terbanyak. Bisa ditebak, banyak maba—selain maba FBS—cukup kagum dengan totalitas anak-anak ormawa FBS yang wah. Seperti menyambut pawai karnaval ketimbang rombongan anak-anak ormawa.
Sangat kontras dengan keempat fakultas sebelumnya yang lebih terkesan rapi an sedikit formal. Walau mereka tentu saja santai dan cukup heboh juga.
Apalagi maskot FBS yang berjumlah lima—buto wungu dan keempat dayangnya—menambah meriah konvoi itu. Ketua BEM dan kedua duta mereka mengenakan jarik sebagai aksesoris tambahan. Tak lupa iket yang menghiasi kepala.
Benar-benar menggambarkan fakultas kebudayaan.
Para ormawa FBS disambut yel-yel meriah dari para maba. Bahkan anak-anak ormawa mereka yang tahu liriknya juga ikut bernyanyi. Lagu yang familiar seperti saat malam pemilihan duta kampus tempo hari.
"CERITANE FBS TERCINTA, ISIMAJA DI GOR UHW.. KREATIF CERDAS DAN HUMANIS, JANGAN LUPA SALAM BUDAYANYA..."
Para maba FBS lalu menghentakkan kaki mereka. Tak lupa mengacungkan kepalan tangan mereka ke atas.
"EEE... LAH DALAH! FBS DIOBONG SEMANGATE-SEMANGATE!"
"AYO KONCO WA A O! OJO PATING DOMBLONG... ISIMAJA! AYO BARENG-BARENG... OJO LALI, PODO SENENG-SENENG...!"
"BONG OBONG OBONG OBONG OBONG OBONG OBONG...!" mereka mengangkat kedua tangan mereka seolah mau melakukan tari kecak. Mereka melakukannya sampai tiga kali.
Fakultas berikutnya tentu saja FT. Semua maba diluar fakultas ikutan heboh ketika di parade ormawa FT terdapat mobil rakitan dikemudikan oleh mahasiswa dengan helm dan baju balap. Benar-benar mencuri perhatian.
Sementara itu, bagi maba FT sendiri, tidak hanya mobil balap rakitan yang mencuri perhatian, tetapi sosok TPK yang terkenal dengan wajah stoic memakai setelan hitam putih UHW dan selempang bertulis Duta Fakultas Teknik. Disebelahnya ada cewek berhijab yang mengenakan setelan yang serupa.
Terlepas dari kedua duta FT yang terlihat stoic dan tidak tersenyum sedikitpun—Frans dan Vera sepakat untuk mengambil persona tegas dan kaku—untuk pertama kalinya, semua maba FT melihat salah satu TPK tersadis mengenakan seragam selain kaos dan korsa secara langsung.
Duta FT mode on. Meskipun masih terlihat dingin dan karismatik seperti saat mode TPK.
Benar-benar membuat sedikit pangling.
"Who are we?!" Galang berseru lantang.
"ENGINEER!" dibalas tak kalah kompak dari semua maba FT setelah berhasil menguasai keterkejutan mereka.
"Who are we?!"
"ENGINEER!"
"Who are we?!"
"E-N-G-I-N-E-E-R, ENGINEER! ENGINEER!" hentakan kaki dan tepukan tangan ke dada mereka begitu terasa di dalam GOR. Orang mungkin akan mengira GOR UHW mau roboh karena begitu bergemuruh.
"HUU~ HAH!!"
Parade kembali dilanjutkan dengan ormawa fakultas berikutnya. Para maba menyambut ormawa fakultas mereka dengan jargon dan yel-yel yang bersemangat. Rombongan parade ormawa fakultas itu menempatkan diri di bawah tribun masing-masing fakultas.
Jadi seolah-olah melingkari ketua BEM univ. Dengan warna masing-masing.
.
.
.
"Jadi tahun depan kau juga kayak gini berarti Kai? Ikut rombongan ormawa sebagai duta FT," kata Ojan yang duduk di sebelah Kai.
Para maba FT tengah membuat koreo sederhana dengan slayer merah marun dan kuning kunyit mereka. Sambil melambaikan kedua slayernya dari kanan ke kiri berungkali.
"Sepertinya iya," jawab Kai.
Kai memperhatikan para ormawa berkerumun di bawah sana. Bisa dilihat dari sini kalau Frans dan Vera berdiri dengan sikap sempurna. Tidak ikut terlarut dalam euforia yang lain.
Mungkin memang seperti itu konsepnya? Entahlah. Padahal duta fakultas lain terlihat membaur dengan euforia yang ada. Sejauh yang Kai lihat.
Terdengar yel-yel Fakultas Olahraga menyambut parade ormawa mereka—di mana mayoritas mereka mengenakan pakaian atau seragam masing-masing cabor dan membawa atribut atau alat-alat yang digunakan.
"...GANTENG-GANTENG COWOKNYA!" maba cowok FO berteriak keras.
"CANTIK-CANTIK CEWEKNYA...!" dan disambut maba cewek FO tak kalah keras walau jumlah mereka sedikit.
"WE ARE, WE ARE... FO! AW! FO! AW...!"
Yel-yel milik FO juga tak kalah nyentrik dengan fakultas lain. Apalagi dibarengi hentakan kaki dan tepukan tangan ke dada membuatnya semakin menggelegar.
"Sampai geter lantainya," celetuk Neo.
Ketika semua ormawa sudah berkumpul di dalam GOR dan menempatkan diri di bawah tribun fakultas masing-masing. Para ketua BEM juga sudah menyampaikan orasi mereka. Di mulai dari FIP yang pertama dan yang terakhir adalah Fakultas Filsafat.
Orasi masing-masing ketua BEM selalu identik dengan seruan, "Hidup Mahasiswa!" dan "Hidup Mahasiswa Indonesia!". Tidak lupa salam khas masing-masing fakultas. Di tambah anak-anak ormawa merespon orasi dari ketua BEM masing-masing dengan tak kalah menggebu-gebu.
Orasi berkesinambungan antarfakultas yang membahas kemahasiswaan, rakyat, Indonesia, dan UHW. Serta peran mahasiswa tiap fakultas itu sendiri dalam menyikapi isu-isu baik soal akademik maupun kemasyarakatan sesuai visi misi fakultas.
Para maba juga ikut menyahut ketika ketua BEM masing-masing fakultas tengah berorasi.
Masing-masing ormawa fakultas punya ciri khas masing-masing ketika menyikapi ketua BEM mereka selesai berorasi. Kebanyakan menyerukan jargon—dan tentu maba fakultas yang bersangkutan ikut serta—tetapi tentu ada yang begitu heboh.
Contohnya anak-anak FBS. Sejak datang, setelah yel-yel dari maba, serta sebelum dan sesudah ketua BEM mereka berorasi. Mereka selalu menyerukan jargon yang sama:
"FBS bersatu tak bisa dikalahkan!"
Benar-benar seperti segerombolan suporter bola dan masa yang tengah melakukan demonstrasi.
Super heboh!
Bahkan FT, FO, Fisipol, dan FGK yang juga terkenal heboh, mungkin akan kalah dengan yang ini.
Setelah semua ketua BEM berorasi—minus ketua BEM univ karena dia nanti yang akan jadi penutup, kini tiba giliran para duta fakultas.
Tidak seperti ketua BEM yang menggebu-gebu dan penuh semangat, para duta kampus lebih kalem karena isi pidato mereka lebih ke motivasi personal untuk maba fakultas masing-masing.
Persamaannya adalah sama-sama punya kesinambungan antara fakultas satu dengan fakultas lain.
Misalnya seperti ketika duta FIP berorasi, mereka menekankan bagaimana peran mahasiswa Ilmu Pendidikan terhadap pendidikan itu sendiri dan seterusnya. Lalu duta FK menyinggung kalau para maba FK itu calon dokter, bagaimana peran mereka nanti akan dibutuhkan masyarakat luas. Makanya perlu adanya pengorbanan dari awal di mana harus belajar keras agar bisa menyembuhkan penyakit dan seterusnya.
Durasinya juga tidak selama saat ketua BEM berorasi. Karena tugas duta fakultas di sini lebih ke encouraging and motivating maba yang telah memilih fakultas tersebut sebagai tempat belajar dan mengembangkan diri sampai wisuda nanti.
Kini giliran Frans untuk membuka suaranya. Berbeda dengan duta lain yang terkesan hangat, cowok itu justru terkesan tegas dan dingin. Tidak jauh beda dengan personanya ketika menjadi TPK.
Bahkan ketika duta fakultas sebelumnya berbicara dengan kata-kata penuh motivasi, justru Frans berbicara dengan nada sinis di awal-awal. Terkesan menyindir dan menjatuhkan.
Namun, pada bagian akhir, ada perubahan drastis dalam orasinya. Secara tersirat Frans memberikan semangat ke semua maba FT yang ada di sana. Poin yang ditekankan dalam orasinya adalah tentang solidaritas, teknik atau tukang, dan bagaimana mereka harus selalu siap menghadapi apa yang terjadi kedepannya di FT maupun setelah lulus dengan terhormat.
Lalu ada Vera menambahkan sedikit motivasi untuk para maba FT. Dengan gaya yang lebih santai dari Frans tetapi tetap terkesan tegas.
Kalau respon FT dengan orasi ketua BEM mereka sudah heboh, kini lebih heboh setelah mendengar orasi dari duta fakultas mereka.
Apalagi para maba yang selama ini punya kesan kalau Frans itu tegas dan kaku layaknya seorang perwira ketika Aqisol kemarin. Mereka syok ketika melihat salah satu TPK yang disegani dan ditakuti itu melakukan orasi sebagai duta FT.
"Who are we?!" kali ini ketua BEM FT yang memimpin yel-yel.
"ENGINEER!" diikuti anak-anak FT yang ada di GOR, mulai dari maba, pemandu, sampai ormawa.
"Who are we?!"
"ENGINEER!"
"Who are we?!"
"E-N-G-I-E-E-R! ENGINEER, ENGINEER! HU~ HAH!"
Sementara itu, di luar ruangan, tepatnya di dekat pintu masuk tribun timur di mana FT berada, Naufal dan PI lainnya tengah mengecek jalannya acara—sembari Naufal melakukan koordinasi dengan panitia lain. Mereka juga melihat semua yang terjadi selama FT melakukan sesi orasi mereka.
"Gila, gila, gila... Frans keren betul orasinya," puji Suci.
"Nggak nyangka ya Mbak," sambung Rika.
"Hooh."
"Si Frans kalem-kalem gitu ternyata pas orasi kayak komandan ke kadetnya ya?" komentar Ageng.
"Hahaha... Mas Ageng bisa aja," sahut Winda.
"Nggak kaget kalau dia jadi ketua BEM atau Raja Teknik nanti," kata Ageng.
"Bener," Suci dan yang lainnya mengangguk setuju. "Denger-denger emang Frans yang bakal jadi Raja Teknik gantiin Bang Teguh."
"Banyak yang setuju sih Mbak," kata Winda. "Angkatan kami aja udah fix dukung Frans. Iya nggak Rik?"
Rika mengangguk. "Sadar atau nggak si Frans-nya, dia punya kharisma dan kepimpinan yang bagus. Sama anak-anak yang lain kayak udah nganggap Frans itu leader di angkatan, bosnya."
"Tapi sayangnya, Frans nolak mentah-mentah kalau dirinya jadi Raja Teknik," Naufal membuka suara.
"Hah? Kok bisa?" yang lain nampak tak percaya.
Naufal mengangguk, "Dia bilang sendiri pas ada senior iseng tanya gimana kalau Frans jadi penerusnya Bang Teguh."
"Yah..."
"Sayang sekali ya?" Suci berujar.
"Kali aja kedepannya Frans berubah pikiran. Siapa tau?" Rika mencoba berpikir positif.
Ageng mengangguk di sebelahnya. "Kandidat terkuat emang Frans sih. Dari angkatan atas sama bawah banyak yang dukung semisal Frans jadi Raja Teknik."
.
.
.
"Pacarku keren banget, huhu..." puji Bimala dengan penuh haru setelah melihat Frans melakukan orasinya melalui siaran langsung di YouTube. Sambil berjaga di posko, cewek itu beserta beberapa petugas medis, termasuk Maul, menonton siaran langsung sesi kedua melalu laptop.
Mereka tidak selalu memantengi layar, terkadang bertugas sambil mendengarkan—terutama yang tidak benar-benar sibuk. Awalnya para tim medis univ ini mau menonton setelah semuanya selesai, tetapi karena Bimala ingin melihat pacarnya berorasi makanya diputarlah lewat laptop salah satu anggota tim medis.
Bimala hanya fokus dan menjeda kegiatannya sejenak saat Frans mulai berorasi. Sebelum dan setelahnya, cewek itu mendengarkan sambil lalu.
Maul dan anggota tim medis lain yang mendengarkan punya reaksi yang beragam. Kebanyakan ada yang cukup terkejut saat melihat persona Frans yang terlihat seperti pemimpin.
Kalau diibaratkan seperti dalam novel-novel yang sering dibaca Maul, Frans itu adalah alpha-nya.
"Jujur, aku speechless," kata Maul kemudian. "Aku tahu kalau Frans itu punya kharisma buat jadi pemimpin, tapi ini... wew... Bahkan Pasha tadi pas orasi nggak se-wah ini lho, yang lain juga."
Beberapa anggota tim medis yang menyimak perkataan Maul mengangguk setuju.
"Jadi pengen meluk Frans," celetuk Bimala. Cewek itu masih terharu, tak bisa berkata apa-apa, bangga, semua bercampur jadi satu.
"Kayak aura pemimpinnya keluar gitu ya Ul," ujar Edo, salah satu tim medis yang menyimak perkataan Maul. Cowok itu tengah mendata sesuatu di lembaran kertas yang dia pegang.
"Hooh," jawab Maul.
"Btw, orasi buat duta kampus itu baru kali ini kan ya?" tanya Mutia yang baru saja selesai mengecek kesehatan maba yang dibawa ke posko sini.
"Iya. Biasanya kan cuman sebatas pas di fakultas aja kan," Edo menjawab. "Pas ospek fakultas lah pokoknya. Baru tahun ini dibuat barengan pas orasi BEM."
"Iya haha! Jadi inget Frans pernah misuh-misuh pas dikasih tahu ada orasi di GOR. Soalnya setahu dia, kalau di FT, orasi dari duta kampus itu pas mau closing, pas acara buat ngambil lencana apa ya," kata Bimala.
"Di FT ada tradisi buat lencana gir itu ya?" Mutia memastikan.
"Iya. Turun temurun. Nggak tahu dari kapan mulainya," jawab Bimala.
"Misuh-misuh awalnya, tapi pas orasi bikin speechless saking wow nya," ujar Maul sambil menggelengkan kepala.
"Hahaha!" Bimala tertawa mendengarnya.
"Aku aja sampai kaget diam-diam Frans jago berorasi."
"Bia yang pacarnya aja gitu, apalagi kita ya yang orang luar," kata Edo.
"Tapi aku nggak begitu kaget juga sih," sahut Mutia, "Dari pas pemilihan duta kampus tahun lalu apa ya. Pas Frans jawab pertanyaan juri. Awalnya aku ngira, nih anak badung ngapain jadi duta FT? Sori, Bia."
"Santai aja, haha!"
Lalu Mutia melanjutkan, "Cowok badung, tipe-tipe badboy yang suka melanggar aturan. Kayak apa ya, berbahaya mungkin? Apa dia dijadiin duta FT karena tampangnya yang good looking. Kesan pertamaku terhadap Frans gitu soalnya. Eh ternyata beda jauh dari apa yang tak bayangkan."
"Frans itu luarnya doang yang kelihatan badass sama urakan. Ya aslinya emang cuek sama bodo amatan, tapi dia kalem, lembut sama sopan. Tipe-tipe softboy ahahaha!" kata Bimala.
"Dari Frans kita belajar, don't judge a book by its cover," Maul menyimpulkan.
"Tapi nggak cuman Frans juga sih," tambahnya lagi. "Tahun ini, pas Isimaja gini, banyak anak-anak FT yang diluar dugaan. Mbak Alin misalnya."
"Iya loh," sahut Mutia dengan semangat. "Keren banget dia bisa jadi ketua TPK FT yang kayak nggak mungkin gitu."
"Mana dengar dari Mbak Rima dan yang lain, Alin itu jadi salah satu TPK yang ditakuti maba lagi," ujar Bimala, "Ya ampun, kalau mereka tahu Alin aslinya gimana, hahaha...!"
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
buat part Frans berorasi, nggak jadi tak masukin soalnya cringy banget :' (bayangin aja ya gimana orang berorasi yang wah)
sejujurnya part ini diawal nggak tak rencanakan, muncul gitu aja pas mau nulis (dan di part lain juga gitu), namanya juga sekalian slice of life, follow the flow but still keep the original plot
maafkan kalo aneh huhu...
dan ya kondisi pas parade ormawa kurang lebih kayak dicerita ya (dulu aku pernah ikutan, seru banget pokoknya pas di dalam GOR)
yel2 punya FBS itu beneran ada, terus kutipan yel2 FO juga ada
see you...