Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Bizarre



Bizarre (adj): very strange or unusual, especially so as to cause interest or amusement.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


Seorang Kayvan Candra tiba-tiba menghampiri salah satu panitia yang bertugas di backstage dan mengurusi para penampil sedikit membuat keheranan. Apalagi saat tahu maksud Kai yang sebenarnya.


Cowok itu baru selesai dari tugasnya di gerbang depan.


Banyak yang bertanya, seorang duta kampus berjaga di gerbang sebagai tim keamanan?


Kenapa tidak? Tugas ya tugas. Tidak memandang apakah kau punya 'gelar' mentereng atau tidak. Itulah prinsip Kai.


Lagipula, dia dengan senang hati melakukannya. Membuatnya bisa sedikit memiliki gambaran tugas-tugas pacarnya selama Isimaja kemarin.


Begitu selesai bertugas sekaligus ishoma sebentar, Kai tidak langsung menghampiri Aylin. Namun, dia malah menuju belakang panggung untuk bilang ke panitia yang bertugas kalau dirinya mau tampil.


Dia tahu ada beberapa orang yang confess untuknya di atas panggung. Kai menghargai keberanian mereka. Tidak mudah untuk berani mengatakan perasaan suka kepada orang yang kita suka.


Apalagi di depan banyak orang.


Dan anak-anak FT tahu kalau Kai dan Aylin adalah pasangan kekasih.


Si maba tengil sekaligus duta kampus berpacaran dengan sang ketua TPK FT yang terkenal judes dan ditakuti.


Sebuah berita yang menggegerkan dan banyak membuat berbagai pihak patah hati, terutama penggemar si idola kampus itu.


Berasa seperti sedikit kilas balik saat sang 'bos' awal-awal berhubungan dengan si cantik dari Fakultas Kedokteran.


Tentu hubungan mereka tidak semulus kelihatannya. Tidak seperti novel-novel romansa yang digemari banyak orang.


Pasti ada sesuatu yang membuat masing-masing dari mereka belajar mendewasakan diri dan yang terpentin hal yang membuat keduanya mempertahankan dan memperbaiki hubungan yang telah ada menjadi lebih baik.


Kai tahu kalau Aylin masih suka kepikiran dengan omongan orang-orang. Entah tentang dirinya, mereka berdua atau tentang Kai sendiri.


Mengubah sifat seseorang memang tidak mudah. Apalagi Kai sekarang jadi lebih tahu tentang sosok pacarnya yang suka insecure itu. Entah apakah ada faktor yang membuatnya sering merasa tidak percaya diri soal dirinya sendiri.


Kai tidak tahu. Yang jelas, apapun yang terjadi, Kai tetap ada untuk Aylin.


Saat sudah di atas panggung, Kai mengedarkan pandangannya sejenak sampai matanya menemukan sosok Aylin yang berdiri bersama teman-temannya. Cowok itu melempar senyum padanya saat melihat eskpresi kebingungan di wajah Aylin.


Kai memang tidak memberitahu Aylin kalau dia akan tampil.


Cowok itu bersiap dengan gitarnya. Memulai lagu yang memang dia siapkan untuk orang kesayangannya itu. Berharap agar Aylin menerima pesan yang ingin dia sampaikan saat menyanyikannya.


'Kak, jangan pedulikan mereka. Orang-orang memang jahat dengan ucapan mereka. Kita nggak bisa membungkam mulut mereka. Mereka hanya iri dan buta dengan keyakinan mereka. Yang bisa kita lakukan hanya bersikap masa bodoh dan menutup telinga rapat-rapat. Fokus saja dengan apa yang kita punya. Banyak orang baik yang mendukung kita. Banyak orang yang sayang sama Kakak.'


.


.


Hal yang tidak Kai duga setelah dirinya turun panggung dan menghampiri sang pacar adalah mendapat pelukan hangat yang tiba-tiba. Dia bisa mendengar suara Budi, Taufan, Naufal, dan Rima yang terdengar keras menggoda mereka.


Bisa ditebak siapa yang memeluk Kayvan di tengah-tengah banyak orang sekarang. Tidak salah lagi orang itu adalah Aylin.


Cewek itu memang terkadang suka melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Contohnya seperti saat ini. Terlihat sangat bukan Aylin.


Kai balas memeluk Aylin dengan satu tangannya yang sedang tidak memegang gitar. Diam-diam Kai menyukai tindakan Aylin yang tiba-tiba ini. Karena pada saat seperti inilah, Aylin tidak akan peduli kalau dirinya bakal jadi sorotan banyak pasang mata.


Apalagi Aylin tipe-tipe cewek jaim, tsundere.


Mereka berpelukan selama beberapa saat sebelum menyudahinya.


Wajah Aylin sedikit memerah dan sepertinya dia sudah sadar akan tindakannya yang jadi tontonan banyak pasang mata.


Cewek itu segera menguasai dirinya. Mengubah raut wajahya jadi datar.


"Apa?!" seru Aylin dengan galak pada Budi dan yang lain yang menatapnya dengan kerlingan jahil dan pandangan menggoda.


"CIYEEE...!!"


Bukannya semakin diam, mereka malah semakin menggoda sahabatnya itu. Budi yang paling keras menyuarakannya.


Sementara Kai hanya tersenyum dan tertawa melihatnya. Lucu sekali senior kesayangannya ini. Dia lalu menarik Aylin dengan lembut untuk mendekat. Melingkarkan tangan kanannya yang tidak memegang gitar ke bahu Aylin.


Tidak memedulikan kalau banyak orang yang melihat mereka berdua.


Yang terpenting adalah dia sangat menyayangi seniornya ini.


.


.


.


Hari kedua di acara Panggung Confession sekaligus hari penutupan. Para panitia berharap hari ini juga tidak hujan selama acara seperti kemarin.


Lapangan masih basah saat acara di buka karena semalaman, dari sore pukul enam sampai tadi pagi pukul tiga, hujan turun dengan lebat. Sempat membuat para panitia di grup daring mereka menyiapkan rencana B andai saja hujan belum reda dan panggung yang masih basah dan licin.


Untungnya, pagi ini langit terlihat cerah. Matahari bersinar dengan terang. Meski begitu, para panitia tetap siap-siap andai saja nanti siang tiba-tiba mendung lalu hujan kembali turun.


Hari ini Aylin tidak bertugas di pintu masuk seperti kemarin. Hanya saja, dia tentu bertugas di area dekat panggung. Mungkin dia nanti juga akan berkeliling.


Seperti kemarin, hari ini juga dibagi menjadi dua shift. Pagi saat pembukaan sampai sebelum ishoma dan setelah ishoma sampai menjelang penutupan pukul tiga sore nanti.


Sementara Kayvan, cowok itu mendapatkan tugas saat shift kedua nanti di pintu masuk.


Dengan fakta yang ada, tentu saja Kai tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Cowok itu memanfaatkan waktu yang lengang dengan memutuskan untuk berduaan dengan sang pacar.


Mengingat mereka tidak perlu lowkey atau sembunyi-sembunyi lagi sekarang.


Kai dan Aylin sudah dipastikan akan ikut BEM FT. Aylin yang sebelumnya memang menjadi staf dan periode ini dia jadi salah satu pengurusnya.


Sedangkan Kai memang sejak awal tertarik untuk bergabung di BEM FT. Jadi bukan karena Aylin. Saat tahu kalau ternyata Aylin juga ikut BEM, Kai jadi tambah yakin untuk mendaftar BEM FT.


Bahkan dia sudah ikut magang jadi staf bersama Neo, Rifa, dan Maya.


Mereka berjalan mendekat ke arah panggung dan bergabung bersama teman-teman mereka yang lain. Keduanya penasaran kenapa kerumuman semakin banyak seolah menunggu-nunggu sesuatu.


"Ada apa?" tanya Aylin pada Rima yang berdiri di sebelahnya.


"Sesi yang ditunggu-tunggu kayaknya," kata Rima, "Nanti bakal ada yang maju ke panggung terus para penonton bakal maju buat confess. Yang disuruh naik ke panggung itu yang jomblo-jomblo."


Aylin hanya manggut-manggut meski sebenarnya dia tidak terlalu paham. Jadi ini semacam acara take me out yang dulu sering ditonton ibunya?


"Kayak take me out gitu?" tanya Aylin lagi.


"Mungkin. Aku juga kurang mudeng tadi Seno bilang apa," jawab Rima.


Nyatanya cukup banyak juga yang naik ke panggung. Baik yang cewek maupun yang cowok, meski kebanyakan itu cowok yang maju. Baik dari para junior maupun para senior.


Salah satunya ada Haris, salah satu sohib Frans yang terkenal playboy. Bahkan ada Enggar juga, salah satu pentolan angkatan ketiga, yang nekat naik ke panggung.


Sesi ini menjadi hiburan bagi anak-anak yang datang dan melihat.


Sampai tiba-tiba, Aylin and the gang terkejut saat tiba-tiba mereka melihat Budi sudah ada di atas panggung dengan gayanya yang khas.


"Ngapain itu si Apeng di sana woy!" seru Taufan.


"Nggak hidup dia kalau nggak nekat," komentar Rima.


"Ulah apa lagi ini, hadeh..." Naufal sepertinya sudah lelah.


"No comment," kata Aylin.


Kai hanya tertawa melihat reaksi mereka. Gengnya Aylin memang cukup unik.


Di sisi lain, Teo dan yang lainnya sudah terbiasa dengan tingkah senior mereka yang satu itu.


"Kok aku malah yang malu ya," kata Rifa sambil berusaha menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Seniornya yang satu itu memang nekat dan nyentrik. Namun, dia juga penasaran dengan apa yang akan terjadi.


Maya dan Freya mengangguk tanpa suara, menyetujui ucapan Rifa.


Karena Budi yang sudah dikenal sebagai playboy yang gonta-ganti pasangan, banyak yang memakinya karena pernah jadi salah satu korbannya.


"Sudah kuduga akan jadi begini," gumam Naufal.


"Biarin jangan?" tanya Rima.


"Hadeh... Budi seneng banget ya ngerepotin orang," keluh Taufan.


Belum sempat mereka menarik Budi untuk turun, bahkan Aylin sudah siap dengan HT-nya untuk mengomando anggota keamanan yang lain, sesuatu menghentikan mereka.


Ada seorang cewek, entah siapa karena hanya terlihat punggungnya, maju mendekat ke arah panggung dan mengatakan sesuatu yang sangat amat tidak terduga.


Tidak hanya membuat Aylin dan gengnya terkejut bukan kepalang, tetapi reaksi serupa juga terlihat pada Kai dan teman-temannya.


Membuat mereka kehabisan kata-kata.


.


.


.


Dia memang nekat naik ke atas panggung—entah apa yang membuatnya sampai berpikir untuk melakukannya—dan sudah memikirkan kemungkinan kalau akan terjadi seperti ini. Banyak yang memaki dan tidak terima karena pernah menjadi korbannya.


Dan Budi dengan sengaja membiarkannya. Hitung-hitung membiarkan cewek-cewek itu melampiaskan rasa kesal dan marah mereka.


Selama pacaran, Budi memang memperlakukan mereka dengan baik. Para cewek itu tidak benar-benar membencinya. Hanya jengkel dan marah karena pada akhirnya diperlakukan sama seperti yang lain.


Bosan, putus, lalu ganti yang baru semudah itu.


Tidak hanya dari FT, tetapi Budi bisa melihat anak-anak fakultas lain di bawah sana.


Cewek yang maju itu terlihat asing, tetapi di sisi lain dia sepertinya pernah melihatnya. Entah di mana.


"Mas Budi! Udah lama aku ingin bilang dass ich dich mag!"


Bukan, bukan makian yang dia dengar.


Budi yang bersiap menunggu makian yang keluar dari mulut cewek itu tentu saja syok karena tidak seperti dugaannya.


'Apa dia bilang barusan?'


Setelah berkata demikian, cewek itu lalu kabur.


"E-eh...? Hei tunggu!" seolah tersadar dari keterkejutannya, Budi segera berteriak memanggil entah siapa namanya. Mencoba mencegah orang itu untuk pergi.


Bahkan Naufal dan yang lainnya terkejut dengan kejadian barusan. Mereka juga ikut mencari-cari siapa yang nekat confess ke Budi tadi. Namun, orang itu sudah kabur lebih dulu, membaur dalam kerumunan.


Siapa dia?


Budi tak sempat melihat wajahnya dengan jelas. Namun, dia yakin kalau orang itu bukan dari FT.


Karena Budi familiar dan mudah mengenali anak-anak FT meski dia tidak mengenal namanya.


Dan dia bilang apa tadi? Budi tidak paham dengan apa yang orang itu katakan. Salahkan kenapa pakai bahasa yang tidak bisa dimengerti Budi.


Namun, satu hal yang membuat seorang Budi bertambah heran dan syok adalah, jantungnya yang kini berdebar kencang setelah sekian lamanya dia tidak merasakan hal semacam ini.


.


.


.


Pandu dan Nana datang ke acara Panggung Confession FT yang terbuka untuk umum. Jadi tidak hanya mereka berdua saja yang anak SMA di sini.


Keduanya berkeliling sekalian beli jajan.


Tidak sekali ini mereka main ke Fakultas Teknik UHW. Jadi, keduanya sudah cukup mengenal lingkungan fakultas dengan mahasiswa yang didominasi oleh laki-laki itu.


Selain ingin melihat kegiatan Panggung Confession, Nana sebenarnya juga ingin melihat siapa sosok pacar kakak sepupunya, Aylin.


Saat Bimala dengan sengaja keceplosan perihal Aylin yang tidak jomblo lagi, Nana jadi penasaran dengan sosok cowok yang bisa membuat kakak sepupunya yang keras kepala dan super jaim itu luluh.


Apalagi saat diberitahu Bimala clue kalau pacarnya Aylin itu adalah junior dan penerusnya Frans di duta kampus.


Pasti bukan orang yang sembarangan.


Melihat kerumunan di depan panggung, Nana mengajak Pandu untuk mendekat. Karena keduanya yang terbilang bongsor, mereka jadi tidak kesulitan untuk melihat apa yang ada di panggung sambil berdesakan dengan orang-orang yang juga ingin melihat.


"Lah Mas Budi?" celetuk Pandu saat tahu siapa yang ada di atas panggung sana sekarang.


"Lah iya," timpal Nana juga ikut keheranan. Apalagi melihat orang yang mereka kenal itu terlihat menerima banyak makian dari cewek-cewek yang maju mendekat ke panggung. Bahkan terlihat panitia mulai mendekat untuk melerai.


Sampai pada akhirnya kejadian tak terduga terjadi. Membuat Budi membeku di tempat dengan ekspresi wajah terkejut.


Pandangan Nana mengikuti cewek yang barusan confess ke Budi pergi meninggalkan kerumunan entah ke mana. Sampai Nana kehilangan jejak ke mana dia pergi.


Pandangannya teralihkan saat Pandu menepuk pundaknya lembut.


"Aku lihat Mbak Alin sama yang lain di sana," kata Pandu sambil menunjuk ke salah satu kerumuman. Dan benar saja, kakak sepupunya itu ada di sana bersama teman-temannya. Terlihat sama terkejutnya dengan kejadian barusan.


Nana dan Pandu lalu menghampiri mereka.


"Mbak Lin," seru Nana memanggil. Membuat Aylin menoleh dan raut wajahnya kembali terkejut melihat adik sepupunya ada di sini.


"Nana? Sama Pandu juga. Kok bisa ke sini?" tanya Aylin.


"Iya. Habis dari TO tadi. Terus emang sengaja pengen mampir lihat," jawab Nana.


"Tadi siapa yang confess sampai bikin Mas Budi kayak gitu Mbak?" tanya Nana kemudian.


"Kami aja juga nggak tahu, Na. Ada yang nekat confess ke Budi kayak gitu aja udah bikin geger."


"Wih... ada si bontot sama Pandu ke sini," ujar Rima setelah menyadari keberadaan mereka.


Semenjak tahu kalau Nana suka dijuluki 'si bontot' alias bungsu oleh Bimala, Gio, dan Aylin, Rima jadi ikut-ikutan memanggil Nana demikian. Padahal Nana tidak benar-benar anak bungsu—dia seorang kakak—dan punya dua adik.


Mereka lalu mengobrol dan saling bertukar kabar. Bahkan ketika Budi datang bergabung membuat suasana semakin pecah karena kini mereka membahas apa yang terjadi tadi. Apalagi reaksi Budi yang sangat amat bukan Budi yang biasanya.


Aylin and the gang ditambah Nana dan Pandu tidak lagi fokus ke panampilan saat ini. Mereka sibuk berspekulasi tentang siapa sosok yang menyatakan perasaan pada Budi tadi.


Bahkan Taufan sampai menggoda Budi soal dirinya yang tumben kehabisan kata-kata saat dinyatakan perasaan oleh cewek.


Obrolan mereka terpotong saat HT Aylin berbunyi. Membuat Aylin sedikit menepi untuk berkomunikasi dengan seseorang melalui HT yang dia bawa.


Kemana Naufal? Oh dia sudah kembali bertugas dengan panitia lain di belakang panggung.


"Psst! Mbak Ma," panggil Nana dengan berbisik keras.


"Apa?" Rima menimpali.


"Pacar Mbak Alin itu yang mana sih?" tanya Nana penasaran.


Rima terkekeh mendengarnya. "Oh... itu."


Rima terlihat mengedarkan pandangannya sejenak, sampai matanya menatap kea rah satu tempat.


"Noh, yang cakep itu," Rima menunjuk dengan dagunya. "Yang pakai kemeja putih bercorak itu. Yang berdiri di samping yang pake kacamata."


Nana dan Pandu mengikuti arah yang ditunjuk Rima. Mereka mencari cowok dengan ciri-ciri yang dikatakan Rima dan benar saja, mereka menemukannya dengan mudah.


Cukup mencolok.


Oh itu... Terjawab sudah rasa penasaran Nana.


"Ganteng juga ya pacar Mbak Alin ternyata," komentar Nana memuji. Memang tidak bisa dipungkiri mengenai rupa sosok pacarnya Aylin.


"Iyalah. Duta Kampus terpilih dia. Bakalan jadi pentolan angkatan juga sepertinya. Bibit-bibit penerus Frans semenjak dia dikenal sebagai tukang rebel pas Ospek," jelas Rima.


"Selera cowok Mbak Mala sama Mbak Alin ternyata cukup mirip ya?"


Rima tertawa mendengarnya. Namun, kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Frans dan Kai itu terlihat mirip tetapi kontras juga.


Mirip karena sama-sama duta kampus, pentolan angkatan, idola kampus, dan punya jiwa-jiwa pemberontak.


Di sisi lain keduanya berbeda dari cara pembawaan mereka. Frans cenderung lebih keras dan lebih tega dari Kayvan. Bahkan Isimaja berikutnya kalau Frans jadi ketua TPK, dia bisa saja lebih ditakuti dan disegani daripada Aylin.


Sedangkan Kayvan seperti seorang gentleman. Pandai berargumentasi yang membuatnya lebih cocok sebagai negosiator ulung daripada si pengeksekusi.


Namun, entahlah. Rima belum terlalu mengenal lebih dekat sosok Kayvan.


Yang jelas, satu kesamaan keduanya yang bisa Rima simpulkan saat mengamati interaksi mereka dengan pacar dan orang terdekat masing-masing adalah, keduanya adalah orang yang tidak bisa dianggap remeh.


Apalagi kalau menyangkut orang terdekat mereka.


Rima tahu karena dulu melihat bagaimana Frans berjuang buat Bimala. Lalu belum lama ini saat mendengar Aylin cerita soal reaksi Kayvan mengenai dm-dm yang sahabatnya itu terima.


Entah Aylin menyadarinya atau tidak. Kayvan itu terlihat protective padanya.


Kembali ke Nana dan Pandu. Keduanya resmi berkenalan dengan sosok Kayvan saat cowok itu datang menghampiri Aylin yang sudah selesai dengan HT-nya. Kai dengan ramah menyapa mereka, membuat Nana dan Pandu merasa lebih nyaman bertemu orang baru.


Di sisi lain, Rima mengamati bagaimana Nana dan Pandu berinteraksi.


'Sepertinya bakal ada pasangan baru lagi, oh atau mungkin sudah?'


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...["SIALAN!"...


...BUAGH!!...


..."Gara-gara kalian, kami jadi dipermalukan!"...


..."B*ngs*t!"...


..."Beraninya kalian keroyokan! Dasar pengecut!"...


..."Cupu!"]...


.


.


.


.


a.n.


semoga tidak aneh ya. jadi ada cuplikan buat chapter depan. Kira-kira apa yang terjadi?


perlu ku ingatkan lagi, mulai babak baru lagi ya. bisa dibilang ini book kedua tapi nggak dipisah 🤔


buat rima, daripada jadi pengamat, kapan kau punya gandengan? 😀


see you!