Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Going Undercover



Undercover (adj): (of a person or their activities) involved in or involving secret work within a community or organization, especially for the purposes of police investigation or espionage


.


.


.


[sekali lagi, cerita ini akan di revisi setelah semuanya selesai. jadi biar fokus dengan penyelesaian plot. bisa dibilang cerita ini masih draft setengah matang, karena saya sendiri sadar banyak yang perlu diperbaiki]


.


.


.


.


Setelah hampir dua jam melakukan temu perdana dan rapat internal, akhirnya Aylin bisa pulang dan beristirahat di asrama.


Hari ini terbilang cukup melelahkan. Di mana sejak jam setengah delapan Aylin ada kelas sampai jam satu kurang sepuluh menit. Jadwal kuliahnya hari ini memang cukup padat, tetapi untungnya tidak ada kelas praktik dan hanya kelas teori saja. Lalu dilanjut jam dua siang ada rapat internal TPK.


Yang untungnya, semua anggotanya bisa hadir tadi karena tidak ada kelas atau jam kosong.


Semoga saja tidak ada yang berbohong. Awas saja nanti!


Aylin akan mengeceknya nanti. Cewek itu tidak suka kalau ada orang, apalagi anggotanya, yang lebih memilih membolos hanya untuk menghadiri kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah seperti rapat organisasi misalnya. Dengan kata lain, menomorduakan kuliahmu. Menurutnya, hal itu bisa ditunda dulu dengan izin, kalau bisa ditunda, atau di ganti hari lain.


Lihat dulu seberapa urgensinya. Kalau memang tak bisa ditinggalkan dan sangat penting, kau bisa menggunakan kesempatan empat hari dari total wajib hadir kelas untuk membolos. Kuliah itu lebih fleksibel daripada ketika saat masih duduk di bangku sekolah. Peraturan dibuat menyesuaikan mahasiswa yang memang sudah dianggap dewasa dan bisa bertanggungjawab dengan apa yang mereka lakukan.


Dan kembali ke tugas TPK, Mas Teguh dan Bang Zul sudah menjelaskan semuanya mengenai tugas-tugas seorang ketua kepada Aylin. Dua seniornya itu juga berpesan kalau ada apa-apa atau hal yang kurang jelas, Aylin bisa menghubungi mereka kapan saja.


Dan itulah, tadi ketika rapat, Aylin menjelaskan secara padat dan jelas mengenai tugas TPK ke anggotanya. Terutama anggota yang baru bergabung pertama kali. Dan untuk anggota yang tahun kemarin sudah pernah ada pengalaman, mereka membantu menjelaskan. Dalam rapat, Aylin juga mewanti-wanti anggotanya untuk siap dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Meskipun Aylin dan anggota yang lebih senior menjelaskan gambaran seperti apa eksekusi tugas mereka tahun kemarin, tetapi tak ada salahnya mempersiapkan diri.


Tahun lalu dengan tahun sekarang tentu berbeda, walaupun konsepnya sama.


Lalu Aylin juga langsung membagikan jobdesk atau tugas masing-masing anggota yang telah dia susun semalaman di asrama untuk sementara waktu dan secara generalnya. Menyusul nanti ada beberapa perubahan ketika sudah ada perkembangan di rapat besar dan rapat koordinasi dengan fakultas lain.


"Kalau sudah paham dengan jobdesk masing-masing, kita lanjut bahas mengenai tata tertib. Oh iya, kalau nanti misal ada pertanyaan terkait jobdesk bisa ditanyakan nanti menyusul. Dan ini ada kopian tata tertib tahun lalu, bisa kalian pelajari dulu."


Aylin lalu menunjukkan tata tertib tahun lalu dengan membagikan beberapa kopian cetak ke anggotanya agar bisa menyimak. Dia juga mengirimkan berkas digitalnya ke grup agar nanti bisa dilanjut via daring.


Jadi untuk sementara, rapat hari ini menghasilkan pembagian jobdesk, penjelasan tentang tugas TPK, dan mendiskusikan tata tertib tahun lalu sebelum memilih mana yang perlu diubah, ditambah, dan dihapus⸺meskipun baru mendapat beberapa poin dalam tata tertib untuk panitia, seidaknya ada hasilnya.


Ya, dia bergerak cepat karena Aylin tidak mau membuang banyak waktu. Pembahasan tata tertib akan jauh lebih banyak memakan waktu nantinya. Apalagi perlu diterangkan lagi di rapat besar juga.


Selesai mandi dan shalat ashar, Aylin merebahkan dirinya di atas kasur. Beruntung saat maba, dirinya mendapatkan kamar asrama untuk satu orang jadi tak perlu berbagi. Cewek itu betah mempertahankan kamarnya ini dan belum ada keinginan untuk pindah atau sekedar meminta teman sekamar. Meski tak jarang Rima mampir dan menginap, Aylin punya kasur lipat yang bisa digunakan seandainya ada yang menginap.


Tak mungkin berbagi kasur karena kasurnya hanya untuk satu orang alias single-bed.


Aylin memang sengaja mendaftarkan asrama sejak dirinya diterima di UHW. Jarak kampus dan rumahnya sekitar satu jam lebih. Bisa mencapai satu setengah jam. Jarak yang nanggung memang, tetapi Aylin malas ngelaju tiap hari ke kampus dari rumah. Aylin tipe cewek yang masih kikuk saat mengendarai sepeda motor di jalan raya. Di kampus saja, Aylin sengaja membawa sepedanya sebagai transportasi. Atau naik transportasi umum kalaupun jarak cukup jauh dan malas menggunakan sepeda.


Lagipula, Aylin akan pulang ke rumah tiap weekend atau tiap liburan ketika dirinya tidak ada kegiatan kampus⸺sayangnya cukup banyak agenda di kampus yang harus dia ikuti. Ketika pulang, Aylin akan menebeng bareng Naufal atau Rima, dijemput ayahnya, atau naik bus.


Untung saja bus-bus umum masih beroperasi antarkabupaten. Yang hanya membayar jauh dekat sama harganya.


Untuk kegiatan di wilayah kampus atau acara pergi ke mana, biasanya Rima yang akan menebenginya, tetapi ketika cewek itu cukup sibuk atau jadwal yang berbeda, Aylin lebih memilih menggunakan sepedanya. Atau meminjam motor saat keadaan mendesak seperti harus rapat malam-malam di kampus.


Kondisi malam tak akan seramai di siang hari. Ngeri dan bahaya.


Iya, Aylin tahu kok kalau dirinya itu penakut sama hal-hal yang berbau mistis.


Ngomong-ngomong soal Rima, cewek itu juga tinggal di asrama kok. Kamarnya bahkan bersebelahan dengan Aylin. Bedanya Rima berbagi kamar dengan kakak tingkat. Walau gitu, Rima suka sekali merusuh di kamar Aylin dengan alasan tak mau menganggu kakak tingkatnya yang tengah sibuk menyelesaikan studi akhir.


Drrtt... drrtt... drrtt...


Ponselnya bergetar di atas meja. Aylin lupa mengaktifkan kembali nada deringnya saat sampai di asrama. Kebiasaan Aylin karena takut ada pesan atau telepon penting tetapi malah tidak tahu atau telat menyadarinya.


Sebuah video call dari adik sepupunya, Nana.


Aylin mengangkat panggilannya sambil bersandar di kepala tempat tidur. Terlihat sosok cewek berambut pendek di layar ponsel pintar yang sudah terhubung dengan panggilan.


"Iya, ada ap⸺" belum sempat Aylin menyelesaikan kalimatnya, Nana sudah memotong.


"Mbak Lin!"


Aylin memutar kedua bola matanya. Sudah jengah dengan kebiasaan adik sepupunya ini yang suka sekali memotong ucapannya.


"Iya, kenapa, Na?" tanya Aylin lagi. Terdengar suara ramai yang samar berasal dari seberang sana. Terlihat latar belakang di mana Nana berada menunjukkan suasana lapangan basket sekolah yang terlihat masih ramai.


"Belum balik? Uwis sore lho..." [udah sore lho]


Nana menggeleng, "Masih latihan basket, Mbak. Ini lagi istirahat. Bentar lagi DBL, kurang dari dua minggu lagi."


Aylin mengangguk-angguk paham. Nana memang anak basket di SMA-nya, SMA Negeri 3 Yogyakarta. Salah satu SMA terbaik di Jogja dan terkenal merupakan SMA anak-anak elit, itu kata teman-teman SMA-nya dulu. Paman Aylin, ayahnya Nana adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Beliau merupakan seorang pilot sedangkan ibunya Nana adalah mantan pramugari yang memilih jadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus anak-anaknya. Jadi wajar saja Nana bersekolah di sana, selain karena memang Nana punya prestasi.


Sebenarnya alasan sebenarnya Nana bersekolah di sana bukan karena elitnya, tetapi lebih ke dekat dengan rumah. Sepupunya itu termasuk orang yang lumayan mageran. Untung saja Nana termasuk anak yang cukup pintar jadi bisa mengimbangi anak-anak di sana.


"Oh iya Mbak, karena bentar lagi turnamen, boleh 'kan ya nginap di asrama Mbak Alin, hehe..."


"Selama jadwal turnamen sekolahku aja kok..." buru-buru Nana menambahkan.


"Jarak SMA tiga itu deket lho sama UHW. Palingan cuman sepuluh sampai lima belas menitan sampai. Yakin mau menginap?"


DBL seperti tahun sebelumnya, diselenggarakan di GOR UHW yang memang sudah menjadi langganan turnamen-turnamen bergengsi lainnya seperti Putih Abu-Abu Futsal dan lainnya. Bahkan tiap tahunnya akan ada pemain timnas sepak bola yang berlatih di FO.


"Tapi Mbak Lin, udah lama nggak ketemu Mbak Alin juga. Sama Mbak Mala. Kalian 'kan sibuk sekarang. Sekalian lihat-lihat calon kampus, eaa..."


Nana memang berencana melanjutkan studi di UHW. Namun, belum tahu jurusan apa yang mau diambil. Banyak yang menyarankan di FO saja karena Nana adalah atlet basket sekolah dan punya banyak prestasi di sana.


"Kenapa nggak minta antar jemput Pandu saja?" tanya Aylin.


"Nggak mau ngerepotin sering-sering. Dia juga ada persiapan buat turnamen futsal beberapa bulan lagi. Sama sibuk OSIS. Sekolahku soalnya mau ada event besar," Nana memberi alasan.


Pandu yang dimaksud adalah teman sekolah, partner in crime, sahabat, dan rivalnya Nana. Dua orang itu sering pergi bersama dan terlihat sangat dekat. Namun, mereka juga sering bersaing, terutama dalam olahraga. Jika Nana akan menyombongkan basketnya, maka Pandu akan menyombongkan futsalnya. Jika Pandu bisa sombong karena merupakan salah satu pengurus OSIS yang popular, maka Nana akan sombong karena dia merupakan Dewan Ambalan yang digemari karena ramah.


Begitu terus tidak ada habisnya.


Satu lagi, Pandu di kelas IPA dan Nana di kelas IPS.


"Boleh ya Mbak Lin, please..." Nana memohon.


"Iya, iya. Tapi nanti kau ikut aku izin sama ketua asrama ya?" Aylin berujar mengizinkan pada akhirnya.


Di asramanya, memang mengizinkan orang lain menginap asalkan bukan lawan jenis (meskipun itu keluarga), tidak berbuat gaduh, dan mau mentaati peraturan yang ada. Biasanya mereka akan diminta menyerahkan kartu identitas sebagai jaminan selama menginap di asrama. Kalau ditemukan sesuatu yang mencurigakan maka akan segera ditindak tegas.


Sepertinya, Aylin perlu bersiap-siap karena kamarnya akan dirusuh oleh adik sepupunya yang hiperaktif itu.


.


.


.


Layar ponsel Aylin terus menerus menampilkan notifikasi dari Line dan Facebook. Bukan, cewek itu bukanlah seorang social butterfly di dunia maya juga. Aylin juga bukan tipe orang yang menggubris pesan-pesan sok kenal dari orang asing di Facebook hanya karena biar nambah teman FB.


Semua notifikasi itu muncul dari grup maba yang sudah dibentuk tim KSK untuk menampung mereka dan memudahkan penyampaian informasi sebelum pembagian gugus dimulai.


Isi dari notifikasi itu kebanyakan adalah perkenalan para maba dan hal-hal lain utnuk mengakrabkan diri yang tidak ada sangkut pautnya dengan Isimaja. Semua grup baru berisi maba SNMPTN. SBMPTN belum ada pengumuman karena tes baru dilaksankan beberapa hari yang lalu. Apalagi Seleksi Mandiri yang masih akan nanti dilaksanakannya.


Ah iya, Aylin ingat dulu saat dirinya maba dari jalur SNMPTN. Sebuah keberuntungan karena dirinya tidak harus berpikir keras saat SBMPTN maupun SM Ujian Tulis. Aylin juga pernah di posisi mereka saat ini. Namun, dirinya termasuk yang lowkey dan pasif. Jadi kalau bingung dirinya akan melihat teman yang lain ada yang bertanya hal sama atau tidak.


Dan bersama, Seno (ketua Acara), pengurus inti, dan beberapa anak TPK yang dia tunjuk, melaksanakan operasi menyamar menjadi maba. Posisi admin dijalankan oleh Eva (ketua KSK) dan anggota yang dipasrahi sebagai penanggungjawab serta Peter (ketua PDD).


Sebenarnya, pembentukan panitia Isimaja agak lambat dari tahun kemarin. Kalau tahun kemarin, panitia sudah melakukan beberapa kali rapat sebelum pengumuman maba SNMPTN. Sedangkan tahun ini, mereka baru melakukan satu kali rabes.


Aylin kini sedang ada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas bersama kelompoknya sambil memantai ponselnya. Kelas hari ini kosong tetapi ada tugas kelompok yang harus diselesaikan hari ini juga.


Cewek itu awalnya fokus dengan tugasnya, sesekali berdiskusi dengan temannya yang lain, sampai matanya tak sengaja menangkap notifikasi baru di layar ponselnya.


Dari grup Line dari seseorang dengan nama akun TeoMarcell


TeoMarcell: kak admin, mau tanya. Apa benar pas ospek maba disuruh minta ttd senior? Terus kalo nggak dapat dihukum?


Dari mana maba ini tahu?


Memang tak menutup kemungkinan para maba tahu karena itu merupakan salah satu tradisi FT beberapa tahun terakhir ini. Namun, siapa yang bilang pada maba ini soal hukuman andai tidak memperoleh tanda tangan?


"Kenapa, Lin?" tanya salah satu teman sekelompoknya, Ana.


"Kelihatan kaget gitu..."


"Ah, nggak. Ini ada maba yang tiba-tiba tanya soal tradisi hunting tanda tangan. Kaget aja gitu tiba-tiba dia tanya soal hukumannya kalau nggak dapat," jawab Aylin.


"Loh mereka kok udah tahu soal itu?" tanya Ana bingung. Cewek itu ikut panitia Isimaja, tetapi Isimaja jurusan.


"Bukannya wajar nggak sih? Soalnya udah tradisi dari tahun-tahun lalu?" timpal Faishal yang sejak tadi diam.


"Iya, tapi harusnya tetap jadi 'kejutan'," Aylin mengutip dengan jarinya pada kata kejutan.


"Mungkin ada senior yang cerita ke maba itu," kata Panji sambil mengendikkan kedua bahunya.


"Tetap saja, informasi itu harus dijaga dulu dari maba. Takutnya malah tersebar hal yang tidak-tidak sama dimanfaatin oknum nggak bertanggungjawab," kata Aylin.


Ketiga temannya mengangguk-angguk paham. Selain Ana, Faishal juga ikut panitia Isimaja. Cowok itu menjadi anak buahnya Budi di Tim Perkab. Sementara Panji tidak tertarik untuk ikut.


Aylin kembali fokus ke ponselnya dan melihat sudah ada respon dari Peter selaku admin utama grup Line dan beberapa pesan balasan lainnya.


Peter09: tahu drmn dek?


TeoMarcell: dari temen kak


Tris.yunda: ah iya aku jg pernah denger kak dari kakak kelasku


Tris.yunda: itu wajib kah?


Hana Alifa: beneran ada hukumannya kak?


Wendy: ih kok serem sih


Peter09: kta siapa ada hukumannya? Gak kok. Dan buat tanda tangan itu, nunggu info resmi dari kami ya... biar gak salah paham


Peter09: oh ya, klo ada info apa2 seputar isimaja yang bukan dari panitia, jangan dipercaya mentah2 ya dek. Takutnya malah hoax. Tanyakan aja langsug ke panitia buat konfirmasi


TeoMarcell: baik kak, terima kasih kak!


Tris.yunda: oke kak


Hana Alifa: siap kak!


Wendy: oke kak siap...


Jared: makasih kakak peter...


Satria.wildan: oke kak


Aylin terkekeh pelan melihat username Jared yang merupakan samarannya Seno di grup Line. Sebenarnya cukup mengenalkan namanya atau pakai nama belakangnya, para maba tidak akan tahu dia panitia atau bukan. Namun, karena Seno adalah Seno, jadinya dia mengubah nama akun Line miliknya segala.


Untuk totalitas katanya.


Tak hanya dua sosial media yang disebutkan tadi, ada juga grup whatsapp yang maba bentuk dan Aylin serta beberapa panitia lain berhasil bergabung sebagai maba.


Intinya, pantau semua grup yang ada maba FT UHW. Lalu untuk KSK dan Peter, mereka juga bertanggungjawab memegang akun Instagram, email, dan twitter. Jadi harus siap selalu ponsel masing-masing dan stok kesabaran yang banyak.


Sebuah notifikasi baru muncul dari Line.


Tomi Irwansyah: kak mau tanya. Katanya ospek itu nggak wajib, itu emang beneran? Soalnya saya tahu dari kakel saya, anak FT juga kak


Wah siapa nih yang bilang seperti ini?


.


.


.


.


.


a. n.


some of committee really did an undercover to "supervise" the freshmen