Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Bad Blood



bad blood (noun): ill feeling


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


.


[Admin mau tanya, ospek dimulai kapan ya?]


[Kak, registrasi ulang kapan ya? Dan di mana]


[kak gedung layanan akademik di sebelah mana ya?]


[kak regis ulang boleh diwakilkan tidak ya? Soalnya saya blm di jogja]


[admin, pengisian krs itu gimana ya maksudnya?]


Dan berbagai pertanyaan lain yang disampaikan para maba kepada para admin yang memegang sosial media dan yang sebagai contact person. Stok kesabaran mereka memang diuji dan harus awet karena terkadang panitia sudah menyampaikan informasinya di sosial media, tetapi tetap saja masih ada yang bertanya.


Bahkan pertanyaan serupa dari maba yang berbeda-beda.


Kalau sudah gemas sendiri, para admin alias tim KSK dan Peter hanya membalas, "Tolong dicek lagi ya informasi yang sudah dibagikan panitia." Tentu saja tetap dalam koridor ramah kepada maba.


Sekalian menambah pahala bersabar karena bulan puasa yang sekaligus menunaikan ibadah UAS. Tahun ini UAS memang diajukan dengan alasan biar nanti setelah lebaran tidak perlu pusing memikirkan UAS seperti universitas lain.


Terkadang mereka harus menghadapi para orang tua super kepo dan ribet yang begitu sayang pada anak mereka sampai-sampai tak membiarkan si anak berusaha mandiri untuk mengorek informasi dari media yang ada terkait kampus baru mereka.


Kurang perjuangan apalagi coba kakak-kakak panitia kita ini? Demi kalian lho dek...


"Gemes banget deh sama maba satu ini," gerutu Eva saat para ketua tim berkumpul di basecamp mereka alias di lobi gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) dekat ruang sekretariat DPM. Para ketua tim kita ini sedang berkumpul untuk rapat internal antarkoordinator bersama PI atau Pengurus Inti.


"Kenapa Va?" tanya Fatimah, atau sering dipanggil Imah, si ketua Tim Medis.


"Nggak bisa dihubungi sama sekali lewat nomor ponselnya. Di akun FB sama Ig-nya belum dibalas. Padahal dia belum regis ulang sama ngisi data diri lengkap," jawab Eva yang sudah kepalang gemas.


"Lah? Kontak ortunya ada nggak itu?" tanya Seno menimpali.


Eva menggeleng.


"Nggak ada. Di form online-nya dia cuman ngisi bagian tertentu."


"Siapa sih? Cowok apa cewek?" kali ini Risa selaku ketua Tim Konsumsi bertanya, ikut penasaran.


"Cowok."


"Terus hubungi aja Va di kontak yang ada. Soalnya ya cuman itu yang kita bisa. Kita nggak mungkin ke rumahnya juga," kata Seno.


"Ini nih yang bikin susah panitia sama dia sendiri, maba yang sok misterius padahal ini juga buat kebaikan dia kedepannya."


Yang ada di sana mengangguk setuju dengan ucapan Seno.


Yah... mau bagaimana lagi? Ada memang beberapa maba yang susah dihubungi padahal ada agenda atau hal yang harus segera mereka tunaikan agar bisa resmi menjadi mahasiswa baru UHW.


Lulus diterima di UHW belum tentu serta merta sudah menjadi bagian dari UHW sebelum melakukan serangkaian registrasi dan inaugurasi. Terkadang ada juga camaba atau calon mahasiswa baru yang menyepelekan proses atau memang tak berusaha mencari tahu.


Yang pada akhirnya mereka kelabakan sendiri.


Lalu yang salah siapa? Apakah panitia yang mengurusi tidak hanya satu maba atau justru salah maba itu sendiri?


Dan bagi para panitia yang menyamar di grup-grup maba, mereka memiliki kesenangan tersendiri. Antara usil dengan menjalankan tugas memang dicampur jadi satu. Usil karena melihat para maba yang sok akrab tanpa tahu kalau yang mereka ajak bercanda adalah senior mereka dan bahkan ada yang sampai janjian bareng-bareng untuk ketemu dan melakukan registrasi bersama. Haduh... ending-nya tentu saja para penyamar kita ini tidak benar-benar menemui mereka dan menunjukkan diri mereka secara terang-terangan. Lalu menjalankan tugas negara karena untuk memastikan informasi apa yang diterima maba dan dari mana asalnya. Apakah info itu benar atau tidak.


Selama beberapa hari dalam dua minggu ini, Tim KSK sudah bertugas dengan mendirikan stan untuk registrasi ospek dan informasi para maba di sekitar gedung layanan registrasi di sebelah gedung rektorat dengan jadwal kloter tiap fakultas yang sudah ditentukan oleh panitia Isimaja universitas. Lalu ada beberapa TPK yang bertugas dengan dresscode serupa dengan tim KSK, mengenakan jas almamater UHW. Tak lupa satu dua anggota PDD untuk mendokumentasikan.


Tim KSK memang akan sangat sibuk pada awal-awal seperti ini. Menyiapkan dan membantu registrasi maba, menjadi pusat informasi maba, merekap data-data yang sudah masuk, dan lainnya.


Bisa dibilang, para maba lebih dekat lebih dulu dengan KSK sebelum dialihkan ke pemandu mereka nantinya.


"Va, gimana? Data maba SBMPTN udah masuk?" tanya Naufal.


"Udah, Pal. Tapi ya baru sebatas angka yang keterima. Belum data konkritnya, soalnya mereka juga belum ada jadwal regis online," jawab Eva.


Naufal mengangguk paham.


"Tema Isimaja udah siap, No?" kali ini Naufal bertanya pada Seno.


"Udah, besok pas rabes akan disampaikan," jawab Seno.


"Sip!" sahut Naufal.


"Peter, jangan lupa disiapkan desain logonya ya."


"Siap, Bos!" sahut Peter.


"Lin, tata tertib udah siap?" kali ini beralih ke Aylin.


Aylin mengangguk, lalu berujar, "Besok kami floor-kan pas rabes."


Begitu seterusnya. Naufal menanyai proges setiap ketua timnya. Awal bulan juni dan UAS sudah selesai tinggal hari-hari remidi atau pengumpulan tugas sebelum diliburkan karena sebentar lagi lebaran.


DBL tahun ini pas bertepatan bulan puasa juga. Entah kenapa bisa terjadi. Tidak biasanya seperti ini. Namun, untungnya pembukaan pertandingan dimulai tepat hari terakhir UAS di UHW jadi tidak akan menganggu konsentrasi belajar mahasiswa dengan euforia meskipun di tengah bulan puasa.


Benar-benar bulan yang sibuk.


.


.


.


"Jujur ya, aku masih nggak suka kalau ketua tim kita itu cewek," seorang cowok berambut agak gondrong berujar.


"Lah emang kenapa?" tanya teman di sebelahnya.


"Masak kita dipimpin sama cewek? Mana tim kita itu tim elit yang disegani, yakali diketuai cewek!" katanya sengit.


"Kenapa sih?" seorang cewek dengan rambut dikucir yang duduk tak jauh dari mereka bertanya.


"Emang kenapa kalau cewek?" lanjutnya dengan nada tersinggung.


"Woah... bukan gitu maksudku," kata cowok tadi yang bernama David.


"Coba bayangkan, tahun kemarin Aylin itu cuman pasif nggak ada tanda-tanda kalau dia pantas jadi ketua. Setahuku malah si Farid yang kelihatan banget karismanya buat jadi ketua. Eh, malah si Aylin yang kepilih. Mana dia 'kan cuman diem, kelihatan banget nggak becus, nggak pantas jadi ketua. Kok bisa ya dia dipilih?"


"Nyogok kali," timpal Joni, cowok yang duduk sebelahnya, dengan frontal.


"Edan doen! Bisa-bisanya nuduh sembarangan!" seru Riana, "Ingat puasa, cok." [Gila kalian]


"Oh... iya kali ya Jon?" David menyahuti. Menghiraukan komentar Riana.


"Gendeng kabeh!" Riana menggeram menahan kesal. Kalau tidak ingat dia puasa, mungkin Riana tidak akan menahan kekesalannya mendengar celoteh omong kosong penuh kedengkian David dan Joni. [Gila semuanya]


"Woy! Jangan sembarangan nuduh!" seru Rima ngegas mendengar sahabatnya dijelek-jelekkan.


"Mana ada Aylin nyogok. Kau kali yang nyogok buat bisa jadi TPK," lanjutnya dengan sadis.


"Ceesnya sih, jadi pantes membela," kata David dengan sinis.


"Aylin itu murni dipilih sama Mas Teguh, kalian aja netijen iri dengki yang nggak suka melihat keberhasilan orang lain," kata Rima. Riana dan beberapa yang mendengar perkataan Rima mengangguk setuju.


Orang-orang yang mendengar pembicaraan keduanya seketika heboh. Suasana yang semula tenang menjadi ramai.


Bisa-bisa itu dua makhluk mempertanyakan keputusan Teguh dan menuduh Aylin sembarangan? Kalau Aylin sampai dengar bisa-bisa mereka sudah ha⸺


BRAKK!!


⸺bis.


Semua orang yang semulai masih bersantai dan sibuk dengan urusan masing-masing, lalu heboh meributkan perkataan David di tempat itu berjengit kaget mendengar suara gebrakan meja yang sangat keras.


Mereka menoleh ke arah tersangka utama yang tak lain tak bukan adalah Aylin. Ketua TPK Isimaja yang David dan Joni gunjingkan barusan.


Cewek itu menatap tajam. Ekspresinya terlihat datar, tetapi orang-orang tahu kalau dia sedang tidak bisa diajak bercanda. Bahkan ada beberapa dari mereka yang baru sadar kalau ada Aylin di sana.


Riana melirik ke arah David dan Joni. Dia mencibir ke arah mereka dalam diam.


Mampus!


Hari ini rencana mereka akan membahas terkait tata tertib Isimaja sebelum menyampaikannya di rabes dua hari lagi. Mayoritas anggota sudah berkumpul, tinggal menunggu sisanya. Rapat internal mereka baru akan dimulai sepuluh menit lagi.


"Kok bisa tahu kalau aku menyogok?" tanya Aylin sambil menatap tajam ke arah David dan Joni.


Rupanya Aylin mendengar semuanya.


Aylin meskipun diam, dia itu pengamat dan pendengar yang baik. Dia tadi baru dari lobi gedung Industri untuk mengumpulkan tugas ke ketua kelas. Dan sampai ke lokasi rapat internal TPK bertepatan ketika dua orang itu membicarakan yang tidak-tidak soal dirinya.


"Tahu dari mana?" tanya Aylin sekali lagi.


David menatapnya dengan sengit. Sepertinya cowok itu benar-benar tidak suka kalau Aylin jadi ketua.


"Kau itu nggak pantas jadi ketua!" seru David. Semuanya terdiam melihatnya.


"Cewek pasif yang nggak ada pergerakan inisiatif sama sek⸺"


"Lalu siapa yang pantas?" Aylin memotong perkataan David.


Inilah yang ditakutkannya terjadi. Menjadi ketua dari tim yang ditakuti dan disegani ketika Ospek⸺bahkan setelahnya⸺tentu menjadi beban yang berat kalau tidak kuat mental dan siap menanggung konsekuensinya. Apalagi dirinya seorang cewek yang terkenal pendiam dan agak pasif.


Namun pendiam bukan serta merta tidak melakukan apa-apa, bukan? Sudah dituliskan bukan beberapa paragraf sebelumnya? Walau diam, Aylin itu pengamat dan pendengar yang baik.


Ada pepatah, the most dangerous person is who listens, observes, and thinks. Yang artinya orang yang paling berbahaya itu adalah orang yang diam mempelajari, mengamati, lalu bertindak dengan pemikiran yang matang.


Sayangnya, banyak yang menyepelekan orang yang hanya diam saja. Orang-orang akan menuntut untuk bertindak dan aktif bergerak tanpa tahu apa yang sebenarnya dilakukan orang yang sedang diam.


Sebelum mendisiplinkan maba, tugas ketua TPK harus bisa mendisiplinkan diri sendiri lalu anggotanya. Dan ketika ada anggota mempertanyakan kewenanganmu, pada saat itulah ada sesuatu yang perlu diluruskan dan perbaiki. Entah dirimu yang perlu evaluasi atau bawahanmu yang perlu diberi pelajaran.


Intinya semua sama-sama belajar untuk mencapai tujuan bersama. Anggota boleh saja mengoreksi ketuanya andai ada kesalahan. Namun, sampaikan dengan baik dan dengan adab. Begitupun sebaliknya. Ketua juga harus menerima kritikan dan masukan dengan lapang dada.


Aylin tidak boleh terbawa emosi. Puasa maupun saat tidak puasa, dirinya memang harus menjaga emosinya. Jadi, dia berusaha sebisa mungkin menyikapinya dengan kepala dingin walaupun saat ini rasanya dirinya sedang sangat kesal. Sebenarnya Aylin tak masalah ada orang yang mengkritiknya terkait kinerjanya. Namun, Aylin jelas masalah kalau malah direndah-rendahkan.


Intinya, jangan baper. Kalau baper yang ada menambah masalah. Itulah kenapa hampir tidak memungkinkan seorang cewek menjadi ketua TPK. Apalagi ketua Isimaja, malah tambah tidak mungkin lagi. Bukan berarti mendeskriminasi para cewek, hanya saja posisi itu sangat menghendaki orangnya agar tidak mudah baperan. Sedangkan cewek kebanyakan lebih sensitif, atau kasarnya gampang baper.


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang pantas jadi ketua?" tanya Aylin untuk kesekian kalinya.


"Kau?" lanjut Aylin dengan sinis. Dia menunjuk David dengan tatapan dinginnya. David terlihat mengepalkan tangannya kuat. Ekspresinya mengeras.


"Kalau bukan aku, kau yang jadi ketuanya begitu?" tanya Aylin lagi. "Kenapa diam? Tadi kau bilang aku nggak becus, nggak pantas jadi ketua, blablabla. Kok sekarang diam?"


"Wah... sepertinya si Raja Teknik waktu itu lagi mabuk kali ya pas memilihku jadi ketua," lanjut Aylin dengan nada menyindir.


Raja Teknik adalah julukannya Teguh. Julukan itu disematkan oleh anak-anak FT UHW ke orang yang sekiranya disegani di seluruh angkatan karena karisma, kepemimpinan, ketegasan, keberanian, dan beberapa kriteria lain yang menjadikan orang itu layak mendapat julukan Raja Teknik. Entah sejak kapan tradisi tidak resmi ini dimulai, tetapi tidak ada yang memprotesnya. Malah banyak yang melakukan cocoklogi atau mengaku-aku sebagai Raja Teknik. Setiap periode⸺entah berapa lama tetapi sampai bisa menemukan pengganti⸺akan berganti-ganti siapa Raja Teknik selanjutnya. Dan dua tahun ini, julukan Raja Teknik disematkan pada Teguh walau banyak juga yang belum tahu⸺banyak yang mengira mantan ketua BEM tahun lalu yang menjadi Raja Teknik.


Teguh tipe orang yang lowkey jadinya banyak yang salah paham mengenai julukan itu. Dulu, cowok itu bahkan tidak tahu kenapa dirinya bisa dijadikan Raja Teknik.


Bahkan Frans digadang-gadang menjadi penggantinya Teguh. Namun, cowok itu menolak mentah-mentah. Padahal angkatannya sudah mengakui Frans sebagai Raja Teknik selanjutnya.


"Aku tanya lho⸺"


David memotong perkataan Aylin. "Kau itu emang nggak pantes jadi ketua. Aku nggak tahu Mas Teguh melihatmu dari mananya. Bahkan aku yakin, aku lebih baik darimu untuk jadi ketua!"


Wow!


Aylin terdiam, menatap David yang terlihat pongah. Tidak disangka ternyata begitu ya?


"Kenapa? Kau tak bisa membalasku?"


Aylin tersenyum miring. Dia terkekeh pelan.


"Baik. Kalau kau merasa kau lebih baik dariku, coba buktikan. Jangan hanya omdo. Kuberi waktu seminggu untuk membuktikan ucapanmu, David. Kalau kau bisa melakukannya, this seat is yours."


"Aylin!"


"Kak Aylin!"


Beberapa orang berteriak tak terima secara bersamaan. Yang paling keras adalah Rima. Semua terlihat terkejut mendengar perkataan Aylin. Ini seperti taruhan. Kalau David gagal, entah dia akan dikeluarkan atau diberi hukuman dan mempermalukan dirinya sendiri. Dan kalau David bisa membuktikannya, maka Aylin tak bisa menjadi ketua walaupun Teguh sudah menunjuknya. Bisa jadi Aylin tidak bisa ikut menjadi anggota TPK tahun ini.


"Mudah 'kan? Kau tinggal buktikan omonganmu, daripada sibuk nyinyir nggak jelas," kata Aylin kemudian. "Dan biarkan semuanya ikut menilai."


"Kira-kira ketua TPK yang baik menurutmu seperti apa."


Frans sejak tadi hanya diam. Awalnya cowok itu ingin membuka suara setelah mendengar David berbicara aneh-aneh mengenai Aylin. Namun, saat melihat sorot mata Aylin yang terlihat berbahaya, dia mengurungkan niatnya. Frans penasaran kenapa seniornya sekaligus sepupu dari pacarnya itu membiarkan David selama seminggu untuk jadi ketua? Bukannya mendiamkannya langsung dengan otoritasnya?


Aylin bisa saja mengeluarkan David dari keanggotaan karena cewek itu punya wewenangnya. Tidak perlu Naufal yang melakukannya. Setiap ketua tim memang memiliki wewenang untuk menambah atau mengurangi anggotanya. Ya walaupun kasus mengurangi anggota itu hampir tidak pernah terjadi, tetapi tetap ada kemungkinan. Justru ketua tim lebih memilih untuk menambah anggota seperlunya. Biasanya lebih sering dilakukan oleh Tim Pemandu dan Tim Medis karena memang perlu banyak orang.


Nanti, Frans akan menanyakannya langsung pada Aylin. Cowok itu tahu, Aylin bukan orang yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan lebih dulu. Meski keputusan itu diambil dalam waktu yang singkat.


"Oke," kata David akhirnya. "Kalau aku bisa membuktikannya, kau nggak bisa menarik kata-katamu itu."


Aylin tersenyum miring.


"Kita lihat saja nanti."


.


.


.


.


.


.


a.n.


tiap kebijakan atau suatu hal pasti ada oposisinya bukan?