![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Untold (adj): (of a story or event) not narrated or recounted
.
.
.
.
[Semua chapters baru minor editing]
.
.
.
Setelah selesai melakukan syuting untuk video promosi alias kampanye, bergantian dengan Freya di latar depan gedung dekanat FT bersama perwakilan tim media panitia pemilihan duta kampus, Kai dan Freya bisa sedikit bernapas lega. Mereka tadi mulai melakukan rekaman pukul satu siang dan selesai satu setengah jam kemudian dengan dua kali pengulangan. Dresscode yang mereka kenakan adalah setelan hitam putih UHW lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel. Ngomong-ngomong, hanya mahasiswa laki-laki yang diminta mengenakan dasi saat rekaman dan pengambilan foto. Berbeda lagi ketika hari pertama Isimaja universitas yang protokoler, semua maba baik laki-laki maupun perempuan, harus mengenakan dasi.
Perekaman video promosi juga ditemani Frans dan Vera selaku mentor mereka. Keduanya juga memberi arahan dan masukan ketika pengambilan video tadi. Dan saat Freya dan Kai melakukannya tadi, kondisi kampus masih cukup ramai dengan maba yang sibuk berburu tanda tangan dan senior yang berlalu lalang.
"Kalian udah menentukan buat unjuk bakatnya?" tanya Vera.
Freya dan Kai mengangguk. "Udah, Mbak Ver," kata Freya. Mereka lebih dekat sekarang.
"Jadinya mau nampilin apa?"
"Kita mau nyanyi aja, Mbak," jawab Kai.
Freya mengangguk menyetujui, "Soalnya ya cuman itu yang kami bisa, hehe..."
"Kami juga udah berlatih sendiri-sendiri lagunya, tapi belum bisa latihan bareng. Rencananya nanti malam sebelum atau sesudah latihan pensi," lanjutnya.
"Bang Frans ada gitar? Apakah boleh pinjam?" tanya Kai kepada Frans.
Frans mengangguk dan berujar kalem, "Ada. Nanti tak bawakan sebelum kalian latihan pensi. Atau apa mau butuh sekarang?"
Kai menggeleng, "Nanti saja nggak apa, Bang."
Sekali lagi, Frans mengangguk.
"Kalau udah fix, langsung bilang ke panitia ya. Biar mereka nanti disesuaikan sama rundown acaranya," kata Vera.
"Siap, Mbak!"
"Oke, Mbak!"
Kai dan Freya berujar bersamaan. Setelah berbincang beberapa saat, Vera dan Freya beranjak pergi. Mereka berencana mau girls-time sekaligus membahas masalah kedutaan. Sementara Kai dan Frans akan membahas beberapa hal sesuai yang dijanjikan Frans tempo hari.
Frans mengajak Kai ke gazebo di dekat kantin, tidak begitu jauh dari gadung aula besar. Frans memesan dua es teh untuk mereka berdua di warung kantin yang masih buka.
"Makasih, Bang," kata Kai sambil tersenyum simpul.
"Yo'i."
Mereka lalu mulai membahas terkait kedutaan. Kai menanyakan tugas-tugas Duta FT selama setahun nanti seperti apa. Soalnya, ada sedikit perbedaan tugas antara yang laki-laki dan perempuan. Frans juga memberi masukan terkait untuk malam pemilihan nanti. Bagaimana menghadapi juri dan menjawab pertanyaan mereka.
"Ketika kau ditanya juri nanti, kau harus menjawabnya dengan lugas dan jelas. Jangan ada keraguan. Itu juga yang dikatakan Mas Agung pas aku ada diposisimu dulu," kata Frans.
Agung adalah Duta FT dua tahun lalu dan merupakan Duta UHW juga.
"Pertanyaan juri bakal beda-beda buat tiap kandidatnya," kata Frans kemudian dibalas anggukan Kai.
"Kau sudah tahu 'kan tema tahun ini apa? Kau bisa sedikit mengira-ira seperti apa pertanyaannya," lanjutnya, "Tapi kadang juri melontarkan pertanyaan yang tak terduga. Jadi, tergantung bejo atau nggaknya kau besok."
Besok juga merupakan peluncuran resmi foto kandidat dan video kampanye pada pukul satu siang. Lalu pukul tiga sore, semua mahasiswa UHW bisa melakukan voting online dengan media yang nanti akan diberitahukan panitia. Cara voting nanti sangat mudah dengan memasukkan NIM sebagai nama pengguna sebelum memilih kandidat yang mau disukai. Votes terbanyak nanti akan menjadi penyabet gelar juara terfavorit.
Kai mengangguk-angguk paham. Dia terlihat berpikir.
"Oh iya, Bang, boleh tanya sesuatu?" tanya Kai kemudian.
Frans mengangguk tanpa bicara.
"Kalau boleh tahu, kenapa Bang Frans jadi TPK di panitia Isimaja?" tanya Kai penasaran.
Frans meminum beberapa teguk es tehnya sebelum menjawab. Dia menyisir rambutnya dengan jarinya, lalu tersenyum simpul.
Ngomong-ngomong, semua panitia, termasuk TPK, tidak wajib menyukur rambut mereka sampai botak tiga senti. Namun, mereka wajib memotong rapi rambutnya, tidak boleh ada yang gondrong, dan dicat warna. Mereka juga dilarang mengenakan aksesoris seperti anting, gelang, dan cincin selama Isimaja berlangsung sama seperti maba.
Dan sebenarnya Frans memiliki tindik anting di telinga kirinya. Namun, dia lepas karena dirinya adalah bagian dari panitia.
"Karena memang pengen di TPK," jawab Frans dengan sederhana.
"Kau tahu, dulu pas aku maba, aku kurang lebih sepertimu. Bahkan mungkin lebih membangkang. Sampai membuat Mas Zul, ketua TPK waktu itu, jengkel setengah mati," tutur Frans.
Kai terkejut mendengarnya. Tidak menyangka senior yang terlihat kalem tapi juga sangat dingin ini dulunya begitu. Meski diluar Frans terlihat seperti badboy, setelah berbicara dengannya, Kai menyadari kalau Frans itu orang yang kalem dan tidak neko-neko.
Frans mengingatkannya pada sosok Teo, sohibnya.
Dan mungkin juga Ridwan, secara penampilannya.
"Pernah nyaris baku hantam juga, karena dulu ada senior yang semena-mena," tambahnya.
Frans juga bercerita bahwa dulu dia adalah salah satu komandan, tetapi dia bukan ketua angkatan meski banyak teman-teman seangkatannya yang mengandalkannya. Cowok jangkung itu memang awalnya tidak mau mencari masalah. Namun, dia tidak suka dengan TPK yang menurutnya sewenang-wenang.
Hingga pada akhirnya, dia mulai memahami kenapa senior-seniornya dulu melakukan hal itu.
"Ada beberapa alasan kenapa orang ingin bergabung di TPK. Ada banyak yang mendaftar, tetapi juga banyak yang tidak lolos seleksi. Di antara alasan itu, ada orang yang ingin jadi TPK karena 'balas dendam'," Frans mengutip kata 'balas dendam' dengan jarinya.
"Dan ada juga orang yang memang murni mau menjadi bagian tim yang ingin mengajarkan disiplin dan menguatkan mental ke juniornya. Dan aku yakin, siapapun yang lulus seleksi dan berhasil bergabung, mereka adalah orang yang sama-sama memakai alasan yang kedua," lanjutnya.
Kai terdiam mendengarnya.
"Ada alasan kenapa aturan itu dibuat. Tanpa aturan, semua akan berantakan dan liar. Nah, tugas TPK itu adalah menjaga agar tidak berantakan, agar tetap dalam koridornya," kata Frans kemudian.
"Beberapa aturan mungkin terlihat tidak masuk akal buat maba sepertimu. Tapi, seperti yang kukatan tadi, aturan dibuat dengan alasan yang mendasarinya."
Mereka terdiam selama beberapa saat. Frans kembali meminum es tehnya. Sementara Kai masih diam dengan pikiran yang berkecambuk.
Terdengar suara orang-orang yang berbicara keras-keras tak jauh dari tempat mereka berada. Kai melihat ada seseorang, sepertinya mahasiswa non-panitia karena Kai tidak pernah melihatnya, tengah mengobrol dengan dua temannya di parkiran dekat aula besar. Orang itu sedang duduk di atas motornya yang sudah menyala.
Kemudian, mereka menyudahi obrolan mereka. Dan tiba-tiba orang yang menggunakan motornya, menyalakan gas motornya dengan kencang sehingga terdengar sangat bising. Motor orang itu adalah motor yang sudah dimodif dengan suara keras saat gas dinyalakan.
"Kau lihat dia," Frans menunjuk orang itu yang kini melajukan motornya cukup kencang melewati jalan setapak di tepi lapangan.
"Mereka mengejar orang itu," kata Kai sambil memperhatikan dengan jeli, "Dan mereka menghentikannya. Mereka terlihat menegur orang itu sebelum membiarkannya pergi."
Frans mengangguk, "Ya."
"Apa yang bisa kau simpulkan?"
Kai terlihat berpikir, "Orang itu menganggu dengan menyalakan motornya keras-keras. Berisik dan tidak sopan karena ini wilayah kampus. Lalu para TPK itu menghentikannya."
"Benar," Frans membenarkan, "Ada alasan lain lagi. Coba kau perhatikan di sebelah sana. Ada panitia yang sedang berkumpul, entah rapat atau evaluasi. Di sebelah sana, ada beberapa maba yang tengah melakukan tantangan buat minta tanda tangan."
"Kau ingat aturan soal mematikan mesin motor dan menuntunnya ke parkiran?" tanya Frans.
Kai mengangguk. Dia ingat aturan itu. Salah satu aturan yang menurutnya berlebihan.
"Aku yakin kalian mungkin tidak akan seperti orang itu, tetapi coba bayangkan, lebih dari seribu maba menggunakan motor. Datang nyaris bersamaan menuju tempat parkir. Suara motor kalian pasti terdengar jelas 'kan? Sedangkan para senior kalian sedang melakukan briefing pagi sebelum memulai hari dan menyambut kalian di aula besar yang dekat dengan tempat parkir. Kira-kira senior akan apa?"
"Mereka akan terganggu dengan suara motor," jawab Kai. Kedua mata Kai terbuka lebar. Perlahan, dia mulai paham kenapa aturan itu dibuat. Dan kenapa TPK sangat tegas dan disiplin saat mengaplikasikan aturan tersebut.
"Ya. Alasan lainnya adalah sebagai bentuk menghargai dan menghormati," ujar Frans.
"Lalu, saat di kantin kemarin Kak Aylin kelihatan sangat benci padaku. Dia juga kelihatan marah tiap kali aku menyuarakan pendapatku," kata Kai, "Dia juga sempat bilang kalau dia membenci orang sok jagoan. Maksudnya apa?"
Kejadian di mana Kai dikerjai oleh Aylin di kantin saat berburu tanda tangan dan jadi bahan tontonan gratis.
Frans terlihat berpikir, "Hmm... untuk itu, kau harus menanyakannya langsung padanya."
"Dia pasti punya alasan kenapa melakukannya."
.
.
.
Kai mengendarai motornya dengan pelan. Pikirannya berkecambuk mengingat pembicaraannya dengan mentornya beberapa saat yang lalu. Berawal dari topik terkait kedutaan kemudian merembet ke perihal tugas seorang TPK. Tidak terasa kurang lebih dua jam mereka mengobrol di gazebo dekat kantin dan gedung aula besar, lebih tepatnya tidak jauh dari tempat parkir.
Perbincangan mereka ditutup dengan Frans yang mengajaknya melaksanakan shalat ashar di muhola FT karena azan sudah berkumandang sejak tiga puluh menit yang lalu.
Kai pamit pulang untuk beristirahat di asrama. Begitu pula Frans, tetapi cowok jangkung itu akan mampir sebentar ke kopma untuk membeli sesuatu. Dan ternyata, Frans tinggal di asrama yang sama dengan Ridwan dan Neo. Hanya saja senior itu berada di lantai satu yang kebanyakan dihuni oleh para senior.
Kai memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sebelum ke asrama. Lebih tepatnya keliling kompleks perumahan warga di sekitar asrama dengan motornya. Dengan perlahan dan tetap hati-hati mengendarai sepeda motornya, pikiran Kai kembali ke obrolan mereka tadi.
Selama kurang lebih dua jam mereka mengobrol, lebih tepatnya Kai lebih banyak mendengarkan cerita Frans, dirinya bisa mengerti beberapa hal.
Frans bilang, diam-diam dia bersyukur mendapat gelar runner-up karena itu artinya dia tidak akan menjadi perwakilan maba pada saat serah terima di hari pertama Isimaja universitas. Kedua, dia tidak perlu repot-repot menjadi MCR pada saat hari kedua Isimaja. Ya, setiap pemenang duta kampus, mereka akan menjadi perwakilan dari semua maba pada saat upacara serah terima dengan pihak rektorat di GOR. Kemudian, di tahun berikutnya, mereka akan menjadi MCR di upacara protokoler Isimaja hari kedua di GOR.
Yah.. meskipun Frans diam-diam bersyukur dengan gelar yang dimenangkannya waktu itu, tentu ada konsekuensinya. Dia harus push up dan lari keliling lapangan bersama dengan Vera karena tidak bisa memenuhi janji mereka untuk jadi juara pertama.
Kalau saja Frans menang waktu itu, entah dia bisa menjadi TPK atau tidak seperti saat ini. Karena kalau iya, Frans mungkin akan berperan ganda. Dan itu akan sangat merepotkan.
Entah apa maksudnya, Kai kurang paham.
Kai ingat tadi dia bertanya, kenapa semua TPK terlihat menunjukkan senioritasnya dan bersikap keras kepada semua maba. Bahkan tidak jarang juga mencaci para maba saat dirasa ada kesalahan. Dan jawaban Frans kembali membuatnya terdiam.
"Pemandu adalah kebalikannya dari kami para TPK. Begitupun tim lain dalam panitia. TPK itu ibarat lawan dari semua hal yang disenangi. Aturan, kedisiplinan, bahkan tindakan tegas dan keras. Tapi, tanpa adanya hal yang kita benci, nggak akan berjalan mulus dan seimbang. Kau mungkin udah tahu, FT jadi salah satu fakultas yang terkenal sangat keras di UHW. Berbeda sama FIP yang bahkan TPK mereka bersikap ramah. Ya, itu emang tugas mereka di fakultas pendidikan yang harus punya pedoman jadi guru yang baik untuk siswanya. FBS juga keras karena mereka basic-nya seni dan sastra, harus siap menerima kritikan di setiap karyanya.
Begitupun FMIPA yang berurusan sama penelitian, kalau nggak diajarkan disiplin jadinya ya bakal ceroboh. Hukum apalagi, kalau tidak keras dan tegas, hukum nggak akan berjalan dengan baik dan mudah goyah. Lalu ada FO, mereka mencetak atlet. Baik pendidikan atau kepelatihan. Mereka harus dilatih kuat secara fisik dan mental. Lalu ada kedokteran, dua fakultas yang berurusan dengan nyawa. Kalau nggak hati-hati ya gimana mau menyembuhkan 'kan? Dan ada FT, kita berurusan dengan mesin. Resikonya tinggi banget. Berurusan dengan bahaya langsung karena kalau nggak hati-hati bisa kecelakaan kerja. Bahkan jurusan busana sama boga sekalipun kalau mereka nggak hati-hati ya sudah, dicap buruk atau nggak becus. Semua fakultas sama, tapi disesuaikan kebutuhannya."
Frans juga menambahkan, "Kita juga nggak tahu kedepannya bertemu sama orang yang kayak gimana. Bisa jadi kau bertemu sama orang yang wataknya keras dan tegas, lebih keras dari TPK yang hanya seniormu. Saat kalian bekerja nanti, mungkin kalian akan bertemu dengan bos yang kurang menerima kesalahan. Klienmu nggak mau kerjasama dengan orang yang ceroboh. Bekerja pada waktu yang singkat dan dikejar-kejar atasan dan klien biar segera menyelesaikannya. Sebenernya tugas kami simpel kok, Dek. Semua yang pernah jadi maba dan ikut Isimaja pasti merasakannya. Meski kebanyakan pasti bakal membenci atau bahkan menentangnya. Tinggal kita lihat dari sudut pandang mana. Semua hal pasti ada konsekuensi. Dan kami, para TPK, tahu resikonya saat menjalankan tugas. Selain menegakkan aturan dan kedisiplinan, kami melatih mental kalian. Dengan harapan, setidaknya di kemudian hari, kalian siap dan nggak jadi pengecut lalu nyerah gitu aja."
Penjelasan Frans yang sangat panjang dan gamblang membuat pikiran Kai terasa penuh. Penuh dengan berbagai kesimpulan dan pembelajaran. Dan hatinya dengan opini dan keyakinannya selama ini juga goyah. Kakaknya, yang dulu alumni, tidak menjelaskan mengenai hal itu dengan detail. Dia hanya bilang kalau FT itu keras. Dan ketika Kai bertanya lebih lanjut, kakak pertamanya itu hanya bilang untuk mencaritahunya sendiri.
Setelah berkeliling jalan kompleks perumahan dan mencoba jalan baru, Kai sampai di area yang familiar yaitu area asrama FT, tetapi dari arah yang berseberangan. Jika selama ini Kai dan yang lainnya berjalan ke kanan keluar asrama menuju kampus, wilayah yang kini dilewati Kai adalah sisi kiri asramanya.
Kai melajukan motornya pelan dan melewati lapangan semen multifungsi yang sepertinya tidak jauh jaraknya dari gedung asramanya. Kai bisa melihat gedung lantai empat bercat putih dan abu-abu dari sini.
Cowok itu tidak sengaja melihat sosok jangkung yang sangat dikenalinya. Lalu dia menghentikan motornya dan memarkirkannya di tepi lapangan. Selanjutnya, Kai menghampiri orang yang tengah sibuk bermain basket sendirian di lapangan semen itu.
"Wan!" Kai berseru memanggil.
Orang itu menghentikan permainan basketnya dan menoleh.
"Oh, Kai."
Kai bergabung dan ikut bermain basket dengan sahabatnya itu. Sudah dua hari ini Kai belum bertemu Ridwan sama sekali karena dirinya yang sibuk dan Ridwan yang masih dalam mode menyendiri.
"Tumben, Kai, pakai baju formal kayak gitu?" tanya Ridwan disela-sela permainan mereka. Mereka saling berebut bola dan mendrible-nya lalu memasukkannya ke ring. Bola basket yang digunakan adalah milik Ridwan yang memang dia sengaja bawa ke asrama.
"Tadi ada pengambilan video buat promosi," jawab Kai.
"Oh..."
"Ada kabar apa hari ini?" tanya Ridwan sambil mendrible bolanya lalu memasukkannya ke dalam ring.
"Banyak hal," Kai merebut bola dari tangan Ridwan, "Kau ketinggalan sangat banyak, Wan."
Kai berhasil memasukkan bola basket ke ring dan membiarkan Ridwan merebut bolanya.
"Kau tahu, aku juga belajar banyak hal," katanya kemudian. Dia melihat Ridwan yang berusaha memasukkan bola basketnya ke dalam ring. Namun, beberapa kali mencoba hasilnya gagal. Kata-kata Frans juga masih terngiang-ngiang di benaknya. Senior itu bilang, "Kalian bisa saja belajar banyak hal kalau kalian mau mencoba hal yang menurut kalian tidak berguna, buang-buang waktu, membuat capek. Kalian hanya bisa menikmati cerita orang lain tanpa terlibat ketika semuanya udah berlalu. That's their loss."
"Aku nggak tahu kau masih membenci para senior atau tidak. Tapi nggak semua senior seperti Guntur. Mereka punya alasan kenapa mereka melakukan semuanya," Kai berujar.
Kai mengambil bola basket yang menggelinding ke pinggir lapangan. Dia mendrible beberapa kali sebelum melemparnya ke ring. Dan hap! Masuk dengan sempurna.
Kai melempar senyum simpul ke arah Ridwan dan dibalas senyum tipis cowok jangkung itu.
"Hm. Aku tahu," ujarnya pelan. Hal yang Kai tidak sangka bakal keluar dari mulut seorang Ridwan yang terkenal keras kepala.
"Dua hari ini ada hal yang membuatku memikirkannya baik-baik," matanya terlihat menerawang sekilas, "Dan aku cukup mengerti meski masih cukup sulit buatku sendiri. Aku cuman butuh waktu untuk berpikir."
Kai tersenyum. Dia sedikit penasaran hal apa yang membuat sahabatnya itu memiliki pola pikir baru. Namun, dia menahan rasa ingin tahunya sekarang dan mungkin akan menanyakannya suatu hari nanti. Lau Kai berujar, "Jadi berangkat besok? Hari terakhir lho..."
Ridwan terdiam sejenak, sebelum melempar senyum tipis, "Tunggu besok."
.
.
.
.