Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
De Nile



the nile (n): a river in Egypt


(pun words): refer to denial (the action of declaring something to be untrue)


[minor editing, part panjang. ada bonus di akhir]


Sudah berapa kali Aylin bilang kalau cowok bernama Kayvan itu orangnya menyebalkan?


Rasanya sudah berkali-kali. Di kamus Aylin, Kai sepertinya sudah punya banyak julukan yang tersemat padanya.


Annoying.


Tidak sopan.


Tengil.


Sok jagoan.


Penggangu.


Dan masih banyak lagi. Yang tentu saja bukan julukan-julukan yang bagus. Aylin sudah kepalang jengkel dan gemas dibuatnya tiap kali dia harus berhadapan dengan si duta kampus terpilih itu.


Anehnya, Aylin tetap saja meladeninya.


Cowok yang punya julukan Senyum Sejuta Volt dari orang-orang yang menyaksikan malam pemilihan duta kampus kala itu sepertinya punya banyak akal untuk mengusik sang ketua TPK FT—oh Aylin masih ketua sebelum panitia benar-benar resmi dibubarkan. Yang artinya masih ada beberapa bulan lagi. Biasanya memang begitu, acara penutupuan sekaligus pembubaran panitia baru bisa dilakukan di jeda yang cukup lama dari selesainya Isimaja.


Mayoritas kepanitiaan di fakultas memang begitu.


Salah satu faktor utamanya adalah kesibukan masing-masing personil dan ada agenda kampus yang harus diprioritaskan.


Siang ini, Aylin tengah makan siang bersama Rima di luar kampus. Tepatnya di Gac*an yang letaknya di sebelah selatan UHW, di seberang jalan. Meski jarak dari FT cukup jauh dan harus antre cukup lama, Aylin dan Rima tidak masalah. Toh mereka memang ingin merasakan suasana baru.


"Si Kayvan?" tanya Rima saat melihat alis Aylin mengkerut ketika membaca sebuah pesan.


"Bukan," jawab Aylin lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Mereka tengah menunggu pesanan mereka untuk diantarkan.


"Dari grup kelas. Ada tugas pengganti buat besok."


"Kirain dari si junior kesayangan," goda Rima. Namun, wajahnya terlihat lempeng saat mengakatannya.


"Ish!" wajah Aylin seketika berubah masam. Paling malas kalau ada sangkut pautnya dengan junior itu.


Bicara soal junior kesayangan, Rima sudah tahu kalau Aylin dan Kayvan saling bertukar pesan. Namun, tidak tahu seberapa sering intensitasnya.


Awalnya karena ketidaksengajaan. Di mana Rima meminjam ponsel Aylin untuk main gim karena ponselnya baru di-charge, tiba-tiba ada notif pesan masuk dari kontak "0057".


"Lin, ada pesan dari 0057. Nggak aku baca kok. Mau kau buka sekarang?" Rima memberitahu Aylin yang kala itu sibuk membaca komik.


"Biarin aja. Nanti tak buka kalau sempat," jawab Aylin tanpa menoleh. Terlihat acuh.


"Oh yaudah," kata Rima.


"0057 siapa Lin?" tanyanya kemudian dengan penasaran.


"Kayvan," jawab Aylin yang masih kusyu dengan bacaannya.


"Oh... OH!" Rima baru ingat kalau selama Isimaja kemarin Aylin menyebut Kayvan Candra dengan 0057—nomor di nametag-nya.


Cewek itu masih ingat dengan jelas bagaimana selama Isimaja kemarin, dirinya menjadi tong sampah Aylin saat sahabatnya itu lagi jengkel setengah mati dengan junior yang menjadi duta kampus terpilih tahun ini.


Mengatahui kalau kini keduanya saling bertukar pesan agak membuatnya curiga. Hmm....


Walau begitu, Aylin terlihat masih judes dengan Kayvan.


Kembali ke waktu ini di mana pesanan mereka sudah tiba. Aylin yang tidak terlalu suka pedas memesan mie-nya dengan level terendah. Tak lupa es susu milo sebagai minumannya karena di sini tidak menjual susu stroberi—hal yang disayangkan Aylin tentu saja.


"Kai masih mengganggumu?" tanya Rima kemudian. Oh, dia tentu tahu akan hal itu karena Aylin terkadang sambat padanya tentang junior yang suka sekali mengusiknya.


"Ya begitulah," jawab Aylin apa adanya. Dia mulai menikmati menu mie malaikat level satu yang menurut Rima tidak pedas sama sekali. Rima sendiri memesan mie iblis level lima. Dia memang sangat suka pedas.


"Suka kali padamu," kata Rima dengan asal. Dia tengah mencampur mie-nya agar lebih rata dengan sambalnya menggunakan sumpit.


"Uhuk!" Aylin tersedak mendengarnya. Dia sudah memasukkan mie ke dalam mulutnya ketika Rima berkata seperti itu.


"Uhuk! Uhuk!"


Buru-buru dia minum es milonya beberapa teguk. Saat sudah lega, wajahnya cemberut. Lalu menatap Rima yang masih anteng makan mie-nya dengan marah.


Perkataan Rima tadi adalah hal ter-absurd dan paling gila yang pernah cewek tomboy itu katakan.


"Kau gila?!" mana ada iya kan? Rima paling sudah mulai tidak waras.


"Alhamdulillah masih waras, Lin," balas Rima. "Semoga aja besok masih. Semester ini udah mulai bikin agak stres dan tertekan."


"Ish!" Aylin kesal dengan respon Rima yang ngawur. Amit-amit kalau sampai apa yang dikatakan Rima kejadian. Aylin bergidik. Dia tidak bisa membayangkannya.


Seolah tahu apa yang dipikirkan Aylin, Rima berkata, "Jangan terlalu benci. Nanti suka beneran nyaho."


"Aku nggak pernah bilang kalau benci dia?" dan Aylin memang tidak merasa kalau dirinya membenci Kayvan. Benci itu emosi yang kuat. Dan Aylin adalah orang yang sebenarnya tidak bisa benci orang tanpa alasan yang kuat.


Aylin lebih sreg menyebutnya kalau dirinya itu tidak suka Kayvan.


"Tapi nggak suka 'kan? Jengkel or whatever **** it is."


Aylin hanya mencibir. Dia tidak akan percaya. Toh memang kenyataannya itu hal yang paling konyol.


Cewek itu jadi ingat Bimala pernah bilang hal serupa seperti Rima—walau Aylin tahu kalau sahabatnya itu hanya bercanda tanpa ada maksud khusus. Agak berbeda dengan karena Bimala terlihat yakin dengan ucapannya.


Beberapa waktu yang lalu, Aylin pergi ke FK karena diajak makan Bimala di sana. Sekalian butuh penyegaran dan suasana baru karena dia agak stres dengan berbagai tugas yang diberikan awal semester ini. Dan tidak lama lagi ada UTS meski tak semua dosen melakukan ulangan karena mereka pikir lebih baik memberikan tugas daripada melakukan tes.


Ada Maulida, Pasha, dan tentu saja Frans. Juniornya itu memang cukup sering menyambangi kantin FK dan begitu Bimala sebaliknya kalau ada waktu luang.


Maul dan Pasha terlihat sibuk mengerjakan tugas paper mereka sambil makan siang dan sesekali ikut menimbrung pembicaraan. Sementara Bimala sudah menyimpan tugasnya dan dia bilang akan melanjutkannya nanti. Cewek itu sudah penat dan mau muntah melihat tugas yang mulai tak ada jedanya.


Selain Rima, Bimala adalah orang lain yang tahu. Bagaimana tidak kalau Aylin sering cerita. Kedua sepupu itu memang saling bertukar cerita. Makanya tidak heran kalau dulu Aylin sering sekali jadi tong sampah Bimala saat Frans mengejarnya—Bimala orangnya terkesan lebih sering memendam masalahnya daripada Aylin, jadi sebisa mungkin Aylin lebih peka ketika sepupunya itu ada banyak pikiran.


Beda dengan Aylin yang paling tidak akan bercerita ke satu orang yang sekiranya tepat untuk permasalahannya. Dan biasanya Naufal-lah yang sering jadi tempat ceritanya. Mereka memang dekat sejak kecil dan Naufal memang orang yang paling bijak dan dewasa di geng mereka.


Sayangnya, Naufal akhir-akhir ini sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara sikrab jurusan. Cowok itu bahkan pernah sampai izin dari kelas karena harus turun tangan mengurusnya.


Makanya Aylin membiarkannya dan tidak mau menambahi beban pikiran sahabatnya itu. Dia merasa tidak enak karena harus merepotkannya dengan hal remeh. Sedangnya Naufal punya banyak tugas yang lebih penting. 


"Juniormu itu suka padamu," kata Bimala pada Aylin saat pembicaraannya mengarah ke duta kampus terpilih. Di mana Trio Gila berkata kalau mereka terkesan dengan sosok Kayvan Candra. Pasha bilang kalau Kayvan akan jadi duta kampus yang jauh lebih baik darinya.


Dan apa reaksi Aylin saat mendengar mereka memuji-muji Kayvan? Cewek itu hanya mencibir dalam diam. Tidak ikut menanggapi. Oh mereka tidak tahu saja kalau Kayvan itu aslinya super duper menyebalkan.


"Nggak," sanggah Aylin dengan cepat. "Mana ada."


"Tapi Lin," Bimala berargumen, "Bukannya salah satu tanda kalau orang itu suka pada kita adalah caper? Salah satunya suka bikin kita kesal setengah mampus?"


Bimala nyengir dan mengerling ke arah pacarnya. Frans menanggapinya dengan senyum tanpa bersalah.


Sebelum Bimala benar-benar jatuh hati ke Frans, cewek itu sering sekali dibuat kesal oleh Frans yang suka datang tiba-tiba ke kantin FK, menunggunya di lobi dengan dalih mengajaknya ke suatu tempat, menunjukkan perhatian-perhatian kecil seperti mengambilkannya makan siang di kantin, dan masih banyak lagi.


Waktu itu, menurut Bimala, Frans selain menyebalkan, dia juga agak creepy. Bimala pernah mencoba taktik yang sama seperti apa yang dilakukannya ke mantan-mantannya—julukannya sebagai the heart breaker dan iblis cantik bukan bualan semata.


Namun, semuanya tidak mempan untuk seorang Frans.


Makanya, hal itu membuatnya cukup kagum dengan kegigihan Frans. Sampai pada suatu kejadian yang membuatnya benar-benar percaya dan membuka hati sepenuhnya untuk duta FT tersebut.


Mendengar perkataannya Bimala, Aylin jelas tidak percaya. Bullsh*t!


"Nyenyenyenye..." Aylin mencibir tidak percaya.


Mana ada junior rese itu suka padanya?


Untuk Frans mungkin masih bisa berlaku karena cowok itu serius dan tidak pernah main-main. Dia benar-benar gigih mengejar Bimala yang sangat susah membuka hati setelah apa yang dia alami.


Lalu Kayvan? Cowok itu justru malah menganggu dan mengusiknya. Terlihat bermain-main. Mungkin dia ada dendam dengannya karena di Isimaja mereka benar-benar crash atau bertumbuk.


Oposisi.


Kayvan yang menentang dan memberontak berhadapan langsung dengannya sebagai ketua kedisiplinan yang tentu membuat aturan dan kebijakan yang cowok itu lawan.


Kalau memang iya, Aylin tidak heran. Resikonya jadi ketua TPK FT memang punya banyak resikonya. Salah satunya kalau ada yang jengkel dan dendam padanya.


Jadi, tentu tidak mungkin kalau maba itu suka padanya. Andai mungkin—yang mana tentu saja tidak mungkin—juniornya itu suka pada Aylin, paling hanya perasaan sesaat.


Aylin tidak buta kalau Kayvan itu populer. Dan kata populer sudah menjelaskan segalanya.


Lagipula, Aylin juga tidak suka pada junior. Jengkel dan kesal iya. 


She dislikes him and Aylin thinks it's mutual feeling, right?


Benar kan?


Hari ini sikrab!


Sejak pagi para maba sudah berkumpul di lapangan untuk pengondisian. Terlihat bus-bus yang disewa sudah datang dan siap kalau sewaktu-waktu berangkat ke lokasi. Para maba Teknik Industri itu mengenakan kaos berwarna biru dongker yang bertuliskan acara sikrab mereka.


Sementara panitia mengenakan kaos berwarna hijau.


Semua orang, baik panitia maupun maba, mengenakan nametag.


Ketua acara lalu mengumpulkan semua maba dan meminta mereka untuk berbaris sesuai gugus. Para pemandu ikut berbaris di belakang mereka. Plang tiap kelompok dibawa oleh ketua gugus yang berdiri di paling depan.


Tas dan bawaan mereka taruh di bawah, di dekat tempat mereka berdiri, maupun mereka gendong.


Setelah briefing singkat dan pengecekan, para maba lalu di arahkan ke bus untuk berangkat. Satu bus bisa terdiri dari dua sampai tiga gugus. Beberapa panitia juga ikut masuk mendampingi.


Kai masuk agak belakangan ke bus tiga. Di dalam bus, kursi sudah hampir penuh. Kai melihat sekeliling, barangkali ada kursi yang masih kosong. Cowok itu juga melihat Neo sudah duduk dengan salah satu teman segugusnya, terlihat asyik mengobrol entah membahas apa. Sekilas Kai mendengar mereka membahas karakter gim baru.


Ada satu kursi kosong tersisa. Di sebelah Maya. Cewek itu memandang keluar jendela, tidak menyadari Kai yang berjalan mendekat.


"Boleh duduk di sini? Kursi yang lain penuh," tanya Kai pada Maya. Cewek itu agak terkejut dan dengan agak salah tingkah mempersilakan orang yang diam-diam ditaksirnya itu duduk di kursi kosong sebelahnya.


Sebenarnya Maya duduk bersama salah satu temannya, tetapi temannya baru ingat kalau dia gampang pusing kalau naik bus. Makanya dia pergi untuk duduk di paling depan. Takut kalau nanti malah merepotkan Maya kalau dirinya mabuk.


Dan kursi paling depan tersisa satu. Makanya Maya tidak bisa ikut pindah.


Selama perjalanan ke tempat sikrab, Kai dan Maya tidak banyak bicara. Maya yang tidak tahu harus berkata apa dan Kai yang lebih memilih diam dan sesekali mengecek ponselnya.


Hampir satu jam kemudian bus sampai ke tempat tujuan. Jalanan cukup macet pagi ini. Namun, setidaknya mereka tidak terlalu ngaret tiba di lokasi.


Sebuah bumi perkemahan yang berada di daerah Prambanan. Di sini mereka bisa melihat Candi Prambanan dengan cukup jelas.


Beberapa panitia memang sudah ada di tempat lokasi terlebih dahulu. Jadi begitu sampai, sudah ada panitia yang sigap mengarahkan para maba untuk pengondisian lagi.


Para maba akan diberi penjelasan detil terkait agenda hari ini. Sikrab hari ini diisi dengan serangkaian outbond. Dibuka dengan senam bersama lalu nanti akan ditutup dengan sedikit hiburan dan sesi kesan pesan.


Intinya, hari ini mereka akan bersenang-senang. Untung saja, para maba diminta membawa pakaian ganti karena nanti memang ada bermain air dan permainan outdoor lainnya.


Hampir mirip dengan permainan saat Isimaja, ada pos-pos dan misi yang harus mereka selesaikan. Tak lupa menghias plang dan menciptakan yel-yel dadakan. Di akhir acara nanti akan diberikan hadiah kejutan untuk kategori pemenang yang sudah disiapkan panitia.


Waktu ishoma, para maba makan siang bersama di gugus masing-masing bersama pemandu mereka. Bergantian melakukan shalat dzuhur berjamaah karena sarananya cukup terbatas.


Semua gugus sudah menyelesaikan misi dan tantangan di lima pos yang ada. Tantangan yang diberikan panitia yang menjaga pos selain untuk satu gugus, ada juga yang maba yang ditunjuk secara acak—dan biasanya tantangan yang ini cenderung nyeleneh seperti saat hunting tanda tangan tempo itu.


Zulfa bahkan diberi tantangan untuk menggombali salah satu TPK yang ditunjuk panitia penjaga pos. tidak hanya Zulfa, beberapa maba lainnya mengalami hal serupa.


Hal itu tentu menjadi tontonan cukup menarik dan menghibur.


Tidak ada hukuman. Semuanya bersenang-senang hari ini. Para TPK pun tidak se-strict saat Isimaja jurusan—TPK jurusan memang belum secara resmi membuka topengnya, jadi kesan sangar masih terlihat.


Begitu selesai ishoma, mereka akan melanjutkan agenda mereka selanjutnya. Yaitu jalan-jalan ke kompleks candi. Mulai dari Candi Prambanan, Candi Bubrah, dan kalau waktunya masih sempat mampir ke Candi Sewu.


Mirip seperti study tour jadinya. Memang kebetulan sudah berada di sini, jadi kenapa tidak sekalian panitia mengagendakan acara jalan-jalan ini? Mereka memang sudah merencanakannya sejak awal. Ya walaupun anggaran dana tentu jadi lebih banyak.


Kai sudah siap jalan bersama teman-temannya yang lain—dia hanya membawa tas kecil yang berisi ponsel, dompet, dan botol minumnya, Kai menyayangkan karena tidak bisa membawa kameranya—ketika matanya tak sengaja melihat sosok yang sangat familiar. Senyum mengembang di wajah tampannya.


Buru-buru dia memisahkan diri untuk menghampiri orang itu.


"Kak Aylin!"


Di sinilah Aylin sekarang. Pagi-pagi tadi dia sudah tiba di kampus dengan barang-barang yang memang perlu dibawa untuk acara sikrab hari ini. Lalu berangkat bersama beberapa panitia lain berboncengan menggunakan sepeda motor ke lokasi bumi perkemahan terlebih dulu.


Yap, Aylin ikut sikrab jurusan walau dia bukan panitia resmi.


Oh Aylin tentu tidak lupa bagaimana Naufal dari beberapa hari lalu menerornya untuk membantu di kepanitiaan. Beberapa panitia ada yang izin ketika hari-H karena ada acara mendesak. Makanya, Naufal dan panitia lain mencoba mengajak yang tidak ikut kepanitiaan untuk membantu.


Awalnya Aylin ogah-ogahan dan menolak karena dia memang malas ikut. Dia berniat untuk pulang ke rumah akhir pekan ini—acara sikrab Teknik Industri diadakan pas hari Sabtu. Baru setelah Naufal mengiming-imingi bakal mentraktirnya apapun yang Aylin mau, cewek itu mengiyakan. Siapa sih yang bisa menolak traktiran gratis?


Sialan memang si Aylin.


Jadi di sinilah Aylin sekarang.


Aylin membantu di tim PDD. Dia tidak perlu meminjam kamera karena sudah disediakan dari panitia yang izin hari ini.


Untuk urusan memotret, Aylin cukup jago. Walau hasilnya mungkin tidak sebagus Rima yang memang hobi fotografi.


Beberapa maba yang menyadari keberadaannya tak jarang menyapanya. Ada yang terlihat terkejut dia ada di sini, ada yang agak canggung karena melihat soon to be ex-ketua TPK FT.


Karena tidak ada kewajiban di sini sebagai TPK, Aylin membalas sapaan mereka dengan ramah—ramah seorang Aylin adalah dengan senyum dan balas menyapa secukupnya dengan sopan.


Ketika sedang membidik sebuah obyek di depannya, seseorang memanggilnya.


"Kak Aylin!"


Aylin menoleh dan mendapati junior yang akhir-akhir ini cukup sering muncul di lingkup pandangannya—dan sekarang mereka bertemu di sini—berjalan menghampirinya.


"Oh, halo," Aylin tidak tahu harus merespon apa.


"Kakak di sini? Kupikir kakak tidak jadi panitia," kata Kai. Jujur, dia cukup terkejut menemukan senior kesayangannya itu ada di sini, di acara sikrab sambil memegang sebuah kamera.


Dia pikir Aylin tidak ikut panitia.


"Dipaksa Nopal," jawab Aylin apa adanya. "Nggak sepenuhnya dipaksa sih, tapi diminta bantu PDD. Jadi ya, ini."


Kai mengangguk-angguk paham.


Mereka lalu berjalan bersama beberapa panitia dan semua maba yang lain menuju Candi Prambanan. Beruntungnya cuaca hari ini berawan jadi siang-siang tidak terlalu terik.


Kai bersama teman-teman segugusnya dan Aylin melakukan tugasnya sebagai PDD hari ini.


Namun, tak jarang Kai menghampiri Aylin dan berjalan bersamanya lalu sesekali mengobrol—Kai kembali ke gugus ketika harus kumpul dan disuruh Aylin. Untungnya, semua maba dan beberapa panitia yang ikut terlihat membaur—kecuali beberapa TPK dan Tim Medis.


Aylin akui, dia sekarang tidak merasa risih kalau Kayvan ada di dekatnya. Mungkin karena dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah juniornya itu. Walau tetap, ada kalanya Kayvan membuatnya jengkel dan kesal.


"Kakak mau kufotokan?" Kai menawarkan karena sejak tadi Aylin terlihat sibuk mendokumentasikan kegiatan.


"Jangan mulai aneh-aneh," sahut Aylin tanpa menoleh.


"Padahal pemandangan di sini bagus, dan tempat kakak berdiri udah cocok angle-nya buat foto," kata Kai. "Kakak yakin nggak mau foto?"


"Ya. Dan jangan berisik!"


"Kenapa kau nggak balik ke gugusmu? Malah merecokiku di sini," kata Aylin kemudian.


"Mereka berpencar, sibuk foto-foto," balas Kayvan. Dan memang benar, teman-teman gugusnya sedang berfoto. Tidak hanya teman-teman segugusnya, tetapi gugus lain juga ada yang sama.


"Nggak ikut mereka foto?"


Kayvan menggeleng, lalu tersenyum dan menatap ke arah Aylin. "Lebih baik di sini menemani kakak saja."


Aylin mencibir mendengarnya. Lemas benar itu mulut kalau bicara. Tidak tahu saja kalau ucapannya membuat Aylin merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya.


Diam-diam, tanpa sepengetahuan Aylin, Kayvan memotret seniornya itu menggenakan ponselnya dan hasilnya tentu saja bagus meski pakai kamera ponsel. Dia mungkin akan memberikan hasil jepretannya ke Aylin. Entah kapan.


"Kak, ayo ke sana," ajak Kayvan sambil menunjuk ke sebuah arah. "Sepertinya mereka lagi ngobrol sama turis asing."


Dan benar saja, beberapa maba dan panitia terlihat asyik mengobrol dengan bule-bule yang tengah berkunjung ke candi. Rombongan turis asing yang cukup banyak dengan satu pemandu wisata. Entah apa yang mereka bahas, tetapi dari jauh terlihat seru sekali.


Kayvan lalu memegang tangan kiri Aylin yang tidak memegang kamera lalu mengajaknya mendekat ke kerumunan di sana.


Aylin terdiam, terkejut dengan apa yang terjadi. Dia pasrah saat dirinya diajak ke sana.


Matanya menatap tangannya yang digandeng oleh Kayvan dengan keterkejutan yang tergambar jelas di raut wajahnya—entah juniornya itu sengaja atau tidak, Aylin tidak tahu. Aylin membisu, tidak tahu harus apa. Dia bingung. Apa dia harus menarik tangannya agar lepas dari genggaman Kayvan? Atau membiarkannya saja?


Apa ini?


Kenapa rasanya seperti tersengat listrik?


Dan perasaan aneh apa ini yang menyusup masuk?


Sangat aneh, tetapi juga terasa hangat.


'Kak


aku udah tahu apa yg aku mau buat perjanjian waktu itu'


^^^'Apa?'^^^


'Bentar lagi keponakanku ultah, aku bingung harus membelikannya apa


jadi, untuk penjanjian itu, aku mau kakak menemaniku membelinya


sekalian jalan2 keliling jogja


udah lama banget gak muter jogja, hehe


apa kakak bisa?'


^^^...^^^


^^^'Kapan?'^^^


'Sabtu atau minggu? pas kakak luang aja'


^^^'Boleh^^^


^^^sabtu aja. Minggu buat persiapan presentasi hari seninnya'^^^


'Oke kak 😊


sampai jumpa sabtu depan kak'


^^^'Ya'^^^


Bonus:


Ketika pulang sikrab...


Semua maba lalu menuju bus yang mereka tumpangi tadi pagi. Begitu lelah hari ini tetapi juga terasa menyenangkan. Acara hari ini bisa dibilang seru dan cukup berkesan.


Hari ini juga, secara resmi TPK jurusan membuka topeng mereka.


Ketika Kai sudah memasuki bus, kursi sudah hampir terisi penuh. Suasananya juga terlihat agak berbeda karena beberapa panitia yang tadi pagi ikut bus ini sepertinya digantikan panitia lain.


Kai lalu mencari kursi kosong. Neo sekarang duduk bersama Maya. Dia melihat tempat duduk Neo sebelumnya yang telah dimonopoli oleh temannya yang tertidur. Terlihat kelelahan.


Senyum terbit di wajahnya ketika melihat senior kesayangannya ternyata ada di bus ini. Kai lalu berjalan mengampirinya dan sepertinya Aylin tidak sadar dengan kehadirannya. Cewek itu terlihat bersandar di kursi dan memejamkan mata, entah tidur atau tidak, Kai tidak tahu.


"Kak Aylin," panggil Kai dengan lembut.


Aylin membuka kelopak matanya dan melihat siapa yang memanggilnya.


Oh, dia lagi.


"Boleh aku duduk di sini? Kursi lain sudah penuh," kata Kayvan.


Aylin terlihat keberatan. Lalu dia menoleh ke sekeliling, mengecek dan benar kata juniornya. Kursi sudah terisi penuh. Cepat sekali.


Aylin lalu mengangguk dan mengisyaratkan Kai duduk.


Dengan senang hati, Kai duduk di sebelahnya.


"Kakak kelihatan capek sekali," kata Kai kemudian. "Kakak bisa istirahat saja."


"Hmm."


"Oh iya," Kai lalu merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sekotak susu stroberi. Dia lalu menyodorkannya ke Aylin.


"Ini. Tadi aku sempat beli minuman sebelum naik bus," Kai tadi memang melihat pedagang asongan yang menjajakan minuman. Karena minumannya habis, jadinya dia mampir beli dulu. Kebetulan ada susu stroberi di sana, mengingatkannya pada Aylin.


Kai memang membeli susu kotak stroberi dua. Satu nanti dia berikan untuk Aylin kalau bertemu di kampus nanti.


Dan menemukan Aylin di bus yang sama adalah kebetulan yang tak terduga. Namun, Kai senang dengan faktanya.


"Kau mau mengejekku?" tanya Aylin dengan sinis.


Kai tersenyum lalu menggeleng, "Tidak sama sekali. Aku emang beli ini untuk Kak Aylin. Dan pas sekali ketemu kakak di sini."


Aylin menatap agak curiga. Kai tetap menyodorkan susu kotaknya, menunggu Aylin menerimanya.


Setelah berbagai perhitungan antara terima atau tidak selama beberapa saat, akhirnya, Aylin menerima susu kotak pemberian Kayvan lalu bergumam terima kasih.


Kai tersenyum melihatnya. Lalu membiarkan Aylin meminum susu kotaknya.


"Kalau kakak lapar, aku masih ada makanan di tas," kata Kai.


"Tidak perlu."


Selama perjalanan, mereka hanya terdiam. Aylin yang lebih memilih memandang keluar jendela. Sementara Kai tersenyum dalam hati. Sesekali mengerling ke arah senior di sebelahnya.


Pada akhirnya, Aylin tertidur selama perjalanan pulang ke kampus. Jalanan sore yang sangat macet membuat jarak tempuh terasa lebih lama. Lebih lama dari tadi pagi saat berangkat. Aylin memang sengaja naik bus saat pulang karena ingin mencuri-curi waktu tidur selama perjalanan. Lelah sekali rasanya. Kalau pakai motor kan tidak memungkinkan untuk tidur. Jadinya, dia tadi tukeran dengan panitia lain di bus ini.


Kai yang melihat posisi tidur Aylin yang tak nyaman—bersandar ke kanan dan kepalanya nyaris membentur kaca jendela, berinisiatif merubah posisinya agar lebih nyaman.


Membiarkan kepala Aylin bersandar ke bahu kirinya. Setidaknya, kepala Aylin tidak akan membentur kaca jendela.


Sepanjang sisa perjalanan, Kai tidak berhentinya tersenyum dan menahan tangan kiri yang mulai terasa kebas karena berada di posisi yang sama.


a.n.


progresnya makin nampak ya bun, semakin jelas hilalnya


btw, kecepetan nggak sih? nggak kan ya? gimana bonusnya? hehew


agak berbeda dari rencana awal, tapi nggak papa


see you on next chap!