Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Task



Task (noun): a piece of work to be done or undertaken


.


.


.


.


Hari ini hari Kamis. TM Isimaja sudah selesai kemarin, tetapi Kayvan tidak bisa bersantai-santai begitu saja. Sesuai kesepakatan gugusnya kemarin dan di grup whatsapp, hari ini mereka akan ke kampus untuk kumpul gugus sekaligus membuat atribut buat hari-H Isimaja.


Pukul delapan pagi, Kai sudah siap untuk pergi ke kampus. Setelah memastikan dirinya rapi sekali lagi, dia mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar kamar asrama. Tidak lupa mengunci pintunya.


Seperti biasa, Kai berangkat bersama Teo karena satu asrama. Kai menunggu Teo di lobi sambil bermain dengan ponselnya. Tidak lama kemudian, cowok yang dimaksud datang.


"Udah lama, Kai?"


Kai menyimpan ponselnya dan menjawab, "Nggak, baru lima menitan."


Berbeda dengan Kai yang berpenampilan rapi dengan kemeja sebagai atasan dan sepatu warna putih, Teo justru mengenakan kaos oblong sebagai atasannya dan sandal gunung. Benar-benar terlihat seperti mau pergi main.


Tidak ada aturan dresscode di hari libur seperti ini, jadi para mahasiswa dibebaskan mengenakan pakaian asalkan masih terhitung sesuai etika dan norma yang berlaku.


"Bentar Kai, aku bawa gunting nggak ya," Teo memeriksa tak selempang kecilnya untuk mencari benda yang dimaksud.


Setelah selesai memastikan, mereka berdua berjalan keluar asrama. Mereka berjalan melewati gedung asrama C dan melihat Ridwan yang sudah berdiri menunggu mereka di dekat pos satpam. Geng mereka janjian berangkat bersama degan berkumpul terlebih dahulu di dekat pos satpam komplek asrama FT. Namun, Kai dan Teo hanya menemukan sosok Ridwan seorang diri.


"Loh, Ojan sama Neo mana?" tanya Teo bingung.


"Ojan masih molor. Dia semalam bergadang ngegame," jawab Ridwan, "Kalau Neo, katanya sih perutnya mules gara-gara salah makan tadi. Dia bilang bakalan nyusul sama Ojan kalau udah selesai bokernya."


"Udah shalat subuh belum tuh si Ojan?" tanya Kai dengan nada yang terdengar cukup khawatir.


"Udah. Tak seret dia buat shalat subuh bareng sebelum dia lanjut ngebo lagi," jawab Ridwan dengan santai. Bersahabat dekat sejak SMA dengan Kayvan membuat Ridwan lebih "terarah". Prinsip Kai, apapun yang terjadi jangan lupa shalat lima waktu, dan prinsip itupun "tertanam" pada diri Ridwan yang dikenal sebagai anak badung.


Kai mengangguk puas.


Kurang idaman apalagi sosok Kayvan ini?


Kalau dilihat-lihat, penampilan Teo hari ini malah lebih mending dibandingkan dengan Ridwan. Cowok jangkung itu justru hanya mengenakan kaos dan celana cargo pendek. Tidak lupa sandal selop—untungnya cowok itu tidak pakai sandal jepit swallow andalannya. Dia hanya membawa tas kecil yang diselempangkan di depan dadanya.


Benar-benar seperti mau nongkrong main dibandingkan untuk kumpul gugus di kampus.


Namun, karena pada dasarnya Ridwan itu masa bodoh dengan penampilannya, jadi dia terlihat santai-santai saja.


"Kita tinggal mereka jadinya?" tanya Kai memastikan.


Ridwan mengangguk dan berujar, "Iyalah. Kalian mau nunggu mereka berapa lama? Kalau aku sih ogah."


Yup! Tipikal Ridwan sekali.


Lalu mereka bertiga berjalan menuju kampus tanpa menunggu Neo dan Ojan. Rencananya sih mereka mau menggunakan motor—mumpung bebas dan tidak ada peraturan seperti di TM dan Isimaja, tetapi entah ada angin apa Ridwan mengajak mereka untuk jalan kaki saja. Tidak jauh sebenarnya, lima belas menit dengan jalan kaki.


"Biar kenal medan. Kalo pake motor belum tentu nemu jalan tikus," tulis Ridwan di grup chat mereka semalam. Alasan yang cukup absurd dan random memang, apalagi Ojan dan Neo yang sempat menolak mentah-mentah. Namun, karena Teo dan Kai yang tidak keberatan, jadi mereka berdua kalah telak.


Tiga lawan dua.


"Kalian bawa buku kecil buat minta tanda tangan, nggak?" tanya Kai.


"Eh? Udah bisa mulai ya?" Teo malah bertanya balik.


Kai mengangguk, "Iya, katanya jeda sehabis TM sampe hari-H 'kan?"


"Bawa, bawa," kata Teo. "Wan, kau bawa nggak?"


"Meski sebenernya aku nggak ngerti pentingnya buat apaan dan males juga, aku bawa kok di sini," Ridwan menunjuk tas selempang kecilnya.


Mereka berhenti sejenak, sebelum menyeberang jalan yang lumayan ramai pagi ini. Jalan lebar yang masih terhitung di wilayah kampus yang berada di utara FT dan FGK (Geografi dan Kependudukan), yang menjadi perbatasan antara kampus dan asrama, memang untuk umum. Akan ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang dan bisa jadi cukup macet saat sore-sore sepulang kuliah dan kerja.


"Woy, jangan lupa ngingetin Neo sama Ojan buat bawa bukunya," ujar Kai. Mengingat dua orang itu yang lebih sering pelupa dan teledor diantara mereka berlima.


"Aku kabarin di grup, moga aja mereka ngecek," kata Teo.


.


.


.


Kai, Teo, dan Ridwan tengah mencari keberadaan gugus mereka sesampainya di area kampus FT. Tidak hanya gugus mereka saja yang mau kerja kelompok, semua gugus juga melakukan hal yang serupa. Bahkan mayoritas senior yang menjadi panitia terlihat hilir mudik di area kampus FT yang luas.


"Gedung Arsitek di mana sih?" tanya Teo yang sejak tadi memantau grup whatsapp Gugus 19 Jayapura.


"Nggak tau," sahut Ridwan, "Ada yang shareloc gitu nggak?"


"Katanya Mbak Haya sih yang deket air mancur, sebelah timur. Deket pintu masuk timur. Yang mana sih? Belum hafal aku."


"Suruh shareloc aja, daripada bingung," ujar Kai.


"Bentar," Teo mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Mereka bertiga kini berada di samping gedung aula besar. Mereka tadi masuk lewat gerbang utama yang berada di utara. Melewati jalan setapak tepi lapangan yang rindang. Tepat di selatan lapangan adalah gedung, dengan taman kecil, yang terdiri dari lobi utama, resepsionis, TU, dan kantor jajaran dekanat. Di sebelah timur, sejajar dengan gedung dekanat adalah aula besar tempat para maba melakukan TM sebelumnya.


"Nih, nih, dapet balesan dari Mas Widi di grup," kata Teo kemudian. Dia memperhatikan lokasi yang dikirim dengan cermat selama beberapa saat.


Lalu dia berujar, "Posisi kita udah bener di timur, dari sini kita lurus aja sampe lihat air mancur. Cuma lima menitan kok."


"Yaudah ayo," Kai menimpali.


Kemudian mereka bertiga berjalan ke arah lokasi yang di maksud. Sesampainya di sana, mereka melihat pemandu gugus dan mayoritas teman-teman gugus mereka sudah berkumpul di teras Gedung Arsitek. Terlihat beberapa bahan untuk pembuatan atribut ospek sudah disiapkan oleh pemandu mereka. Kata Dimas, selaku ketua pemandu gugus 19, semua bahan untuk atribut sudah dicarikan dan sediakan oleh pihak panitia dari uang iuran maba saat mereka melakukan daftar ulang dulu.


Mereka lalu menyapa teman-teman dan pemandu mereka.


"Loh, Rozan sama Neo nggak bareng kalian?" tanya Widi keheranan. Mahasiswa jurusan Arsitek tahun kedua itu melepas jas almamater UHW yang dia kenakan dan melipatnya. Lalu menaruhnya di atas tasnya. Menyisakan kaos hitam lengan pendek yang kini tidak tertutupi jasnya lagi.


Sepanjang perjalanan di area kampus ini, Kai dan teman-temannya memang melihat mayoritas pemandu yang berkumpul dengan gugusnya mengenakan jas almamater.


"Nyusul nanti, Mas," jawab Kai. Lalu dirinya ikut bergabung duduk bersama maba cowok yang sudah datang.


"Oh iya, hari ini kita bikin nametag-nya dulu ya pake karton. Digambar dulu sesuai bentuk yang ditentuin, baru dipotong pake gunting atau cutter. Pada bawa to?" Pipit, salah satu pemandu cewek dari jurusan Pendidikan Tata Boga tahun ketiga, menjelaskan.


"Gambarnya kayak gini ya, teman-teman," Santi, mahasiswi jurusan Pendidikan Tata Boga tahun kedua, menunjukkan gambar pola yang akan mereka gunakan. Sebuah pola gambar burung rajawali dengan sayap terbentang lebar. Burung rajawali adalah maskot kebanggaann Fakultas Teknik sejak bertahun-tahun yang lalu.


Sudah jadi kesepakatan sejak lama bahwa bentuk nametag masing-masing fakultas menyesuaikan bentuk maskot—atau tema, tetapi lebih sering maskot—yang digunakan.


"Nanti bagi tugas, siapa yang gambar, siapa yang motong," lanjutnya, "Jangan lupa kertas asturo-nya dibentuk juga sesuai pola gambar. Nanti buat ngelapisin kartonnya. Habis itu diberi lubang buat masukin tali."


"Kertas asturo-nya ini ya," Pipit menunjukkan gulungan kertas asturo berwarna merah marun, sesuai dengan warna fakultas.


Bedanya dengan fakultas lain, nametag maba FT mempunyai ciri khas ada lampu kelap-kelip yang dipasang di kartonnya. Warna lampu yang digunakan biasanya merah dan putih.


"Lampu dan perangkatnya lagi diambilin sama Mas Dimas dan Mbak Haya," kata Santi, "Tapi kita fokus yang ada dulu. Kalau hari ini belum selesai, kita lanjut besok lagi."


Teo sebagai ketua maba gugus—dia dikorbankan oleh teman-temannya saat gugus mereka temu perdana sebelum TM untuk membentuk pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara gugus—membantu kakak-kakak pemandu mengkoordinir maba yang lain untuk berbagi tugas.


"Maaf Kak, kami telat," kata Ojan yang baru saja sampai bersama Neo. Mereka berdua terlihat ngos-ngosan. Bahkan Ojan hanya beralaskan kaki sandal jepit.


Berbanding terbalik dengan Ojan, Neo terbilang cukup rapi dengan atasan kaos polo. Dia juga mengenakan sepatu converse hitam putih.


"Kalian bawa bukunya nggak?" todong Teo langsung. Bahkan Ojan dan Neo belum sempat mendudukkan diri mereka.


Ojan menjawab dengan santai, "Wah jelas bawa dong! Untung aku baca grup," katanya dengan bangga. Kemudian, dia duduk dan bergabung dengan yang lainnya. Bertanya bagian tugas apa yang harus dia lakukan.


Lain halnya dengan Neo. Cowok bermata sipit itu membeku di tempat. Matanya membulat dan eskpresi wajahnya benar-benar terkejut. Dia menepuk dahinya cukup keras.


"Kau pasti nggak buka grup 'kan?" tanya Kai tepat sasaran.


Neo mengangguk perlahan. Raut wajahnya kini berubah khawatir.


"Masih ada besok 'kok, santai aja," kata Pipit berusaha menenangkan mabanya.


"Jangan dibawa beban, dibikin santai aja, dek," Widi menambahkan, "Buat yang belum bawa hari ini nggak apa-apa kok. Besok kalian bisa mulai. Tak kasih bocoran juga, semua panitia juga bakalan ada di kampus, dan mungkin juga ada senior-senior non-panitia lain juga main ke kampus buat wifi-an."


Ucapan Widi membuat maba Gugus 19 Jayapura merasa lega.


"Tinggal kalian pinter-pinter bedain senior atau bukan sih. Buat yang panitia kalian mungkin bakalan cukup familiar sama orangnya. Beda lagi sama yang bukan panitia," lanjutnya, "Nanti kami bantu kok, tapi kalian harus usaha dulu juga."


"Iya, benar," sambung Santi.


"Tambahan juga, 5S juga diterapin ya. Nggak cuma pas ketemu senior buat minta tanda tangan. Tapi pas hari-hari biasa juga, sama pas ketemu dosen, karyawan, bahkan tukang kebun sekalipun."


Pipit dan Widi mengangguk menyetujui ucapan Santi.


Salah satu poin penting yang ditekankan TPK pas pembacaan tatib tiga hari yang lalu adalah penerapan 5S, atau Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun saat bertemu dengan orang lain. Dan itu hukumnya wajib, siapapun yang ketahuan tidak melakukannya akan kena hukuman.


.


.


.


"Baiklah, ini buku-buku kalian ya," seorang senior yang diketahui merupakan salah satu anggota dari Tim Acara, mengembalikan buku-buku kecil kepada beberapa maba laki-laki yang berbaris di depannya.


"Terima kasih, Kak Fatur dan Kak Usi," kata mereka serempak.


Dua senior yang dimaksud tersenyum ke arah mereka. Sebelum maba-maba itu undur diri, senior cewek yang bernama Usi memanggil salah satu dari mereka, "Eh, namamu Ridwan 'kan?"


Maba yang dimaksud mengangguk, "Iya, Kak."


"Lain kali pakai celana panjang ya? Aku dan Fatur nggak ada masalah sebenarnya, tapi beberapa senior mungkin bakal mempermasalahkan penampilanmu. Terutama para TPK," katanya.


Ridwan tersenyum sopan, "Baik, Kak. Terima kasih atas teguran dan infonya."


"Sama itu, bilangin ke temanmu yang masih pakai sandal jepit juga. Minimal pakai sandal gunung nggak apa-apa, pakai kaos oblong juga nggak masalah sebenernya mengingat masih masa liburan juga. Tapi senior lain mungkin bakal mempermasalahkannya juga. Jadi, buat amannya pakai standar pakaian bebas pas kuliah aja, udah tahu 'kan?" jelas Fatur menambahkan.


Ridwan mengangguk paham, "Baik Kak, nanti saya sampaikan ke teman-teman juga. Terima kasih sekali lagi atas sarannya, Kak."


Usi dan Fatur mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua lalu berlalu pergi setelah memberi semangat untuk Ridwan dan teman-temannya yang berdiri tidak jauh darinya.


Teman-teman Ridwan, yang tentunya terdiri dari Kai, Teo, Ojan, dan Neo, berjalan mendekat.


"Ada apa, Wan?" tanya Teo penasaran.


"Cuman ngasih tau aja, besok-besok kita pake DC kayak kuliahan. Alas kakinya boleh pake sandal gunung," jawab Ridwan tak acuh.


Mereka, kecuali Neo yang hanya ngintil tidak jauh pas melakukan tugas minta tanda tangan dan nama senior, sudah mendapatkan beberapa tanda tangan. Kebanyakan adalah dari pemandu, karena mudah mengenali mereka yang mayoritas memakai jas almamater. Sisanya ada dua dari Tim Acara dan satu dari Tim Perkab. Total mereka sudah mendapatkan delapan belas tanda tangan.


Gugus mereka tadi memang menyudahi kegiatan kerja kelompok mereka pukul satu siang, setelah sebelumnya pemandu mereka membiarkan untuk shalat dzuhur bagi yang menjalankan terlebih dahulu. Lalu melanjutkan pembuatan atribut lagi besok. Biar ada waktu luang untuk melakukan tugas yang diberikan TPK dan Tim Acara, yaitu berburu tanda tangan senior.


Hari ini masih mudah, karena tidak ada syarat aneh-aneh yang diberikan senior. Hanya disuruh mengenalkan diri beserta hobi lalu menghafalkan milik temannya atau menyanyikan salah satu yel-yel dengan kompak. Bahkan dari satu anggota Tim Perkab yang mereka temui tadi tidak memberikan syarat atau tantangan khusus. Senior itu terlihat agak sibuk soalnya.


Lalu, berbicara mengenai DC atau dresscode bebas buat kuliahan yang dimaksud Ridwan adalah semua mahasiswa di hari Selasa, Rabu, dan Kamis mengenakan pakaian bebas asalkan tidak memakai kaos dan sandal, minimal diperbolehkan memakai kaos polo dan sandal gunung, kecuali untuk jurusan tertentu seperti jurusan Seni Tari yang pastinya untuk praktikum menari. Beberapa jurusan dan fakultas bahkan mengharuskan mahasiswanya mengenakan sepatu dan tidak boleh memakai celana atau rok berbahan jeans. Biasanya peraturan itu sering ditemukan di jurusan-jurusan pendidikan dan di Fakultas Kedokteran (termasuk Fakultas Kedokteran Hewan) serta Fakultas Hukum.


Neo yang tidak membawa buku kecilnya, berwajah lesu. Dia itu agak kaku kalau disuruh melakukan hal yang berhubungan dengan bersosialisai seperti ini. Apalagi teman-temannya sudah bergerak duluan.


"Besok aku bantu," kata Kai yang melihat raut wajah Neo. Cowok itu sudah hafal dengan sifat Neo yang memang agak kesulitan bersosialisasi dengan orang asing atau baru.


Raut wajah Neo berubah cerah.


"Makasih, Kai! Gantinya aku bakalan dateng dah, pas hari pemilihan duta univ."


"Itu mah harus, pinter!" kata Ridwan dengan sarkastik.


"Hahaha!" Teo hanya tertawa melihatnya. Sementara Neo menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Eh, Kai, katanya ada latihan gitu ya buat duta-duta fakultas terpilih?" tanya Ojan pada Kai.


Kayvan mengangguk, "Iya. Nanti semua duta fakultas dikumpulin jadi satu di auditorium. Latihan buat pentas pembuka sih katanya."


Frans dan Seno kemarin malam bilang akan ada latihan bersama buat pentas pembuka. Detilnya akan disampaikan besok hari Jumat, yang artinya besok itu, pas kumpul perdana pukul tujuh pagi di Auditorium UHW. Itu artinya, besok Kai akan izin tidak mengikuti pembuatan atribut gugus dan mungkin akan menyusul kalau sudah selesai. Cowok itu tidak tahu sampai jam berapa besok, tetapi Frans bilang biasanya sampai jam sepuluh atau sebelas. Cukup lama karena temu perdana katanya akan membahas banyak hal terkait pemilihan duta universitas.


"Kapan itu?" tanya Teo.


"Besok jam tujuh pagi," jawab Kai.


"Jadi besok kau izin berarti?" tanya Teo lagi, memastikan.


Kai mengangguk dan bilang, "Nanti aku nyusul kalau udah selesai acaranya."


"Semangat, Bro," Ojan menepuk-nepuk bahu Kai, "Aku yakin kau pasti menang. FT bakal jadi juaranya."


Semua mengaminkan. Kai tersenyum dan berterimakasih mendengarnya.


"Makan yuk," ajak Ridwan.


"Kuy burjoan," Ojan menimpali.


Lalu mereka berjalan keluar area kampus, kantin kampus masih tutup karena masih waktu liburan, lalu mencari warmindo atau burjo terdekat.


.


.


.


.