![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Challenge (noun): a call to take part in a contest or competition, especially a duel
.
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
.
Hari keempat sekaligus hari terakhir Aqisol sebentar lagi dimulai!
Para maba yang masih bertahan dan beberapa ada juga yang kembali berangkat, kebanyakan merasa sangat gugup dan cemas untuk hari ini. Mereka yang sudah berkumpul di tepi lapangan untuk sarapan terlihat tenang. Tidak seperti kemarin-kemarin yang lebih hidup. Bertanya-tanya, apakah hari ini akan semakin berat mengingat dari kemarin-kemarin level latihan mereka meningkat perharinya. Dan menerka kira-kira apa yang akan mereka lakukan di hari terakhir ini?
"Eh, Wan..!" Ojan berseru menyapa melihat siapa yang barusan datang. Kai dan semua maba gugus sembilan belas beserta pemandu menoleh ke arah yang diteriaki Ojan.
Tidak jauh dari mereka, sosok Ridwan berjalan dengan santai ke arah mereka. Dia mengenakan kaos polo UHW dan celana olah raga seperti dresscode untuk hari ini.
"Ridwan~!"
"Apa kabar bro?"
"Akhirnya berangkat juga, dap!"
"Pagi Wan!"
"Eh, Ridwan..!"
Maba gugus sembilan belas dengan antusias menyambut kedatangan teman mereka itu. Bahkan beberapa maba laki-laki menepuk-nepuk bahu Ridwan dan ada juga yang merangkulnya.
Cowok itu terlihat sangat canggung, tetapi senyum simbul terbit di wajahnya. Kemudian, Ridwan bergabung ke tempat di mana Kai dan ketiga yang lainnya duduk setelah membalas sapaan hangat dari para pemandu gugus Jayapura.
"Kukira kau nggak berangkat lagi, Wan," celetuk Neo, "Tahu gitu tadi nebeng berangkatnya."
Karena kaki Neo yang kemarin terkilir dan hari ini masih terasa nyut-nyutan, saat berangkat tadi dia membonceng Ojan. Namun, Ridwan sudah duluan keluar asrama pagi-pagi sekali dengan alasan nyari angin. Bahkan Neo baru mau bersiap mandi ketika Ridwan sudah keluar kamar.
"Aku nggak bawa motorku ke sini," kata Ridwan dengan kalem.
"Eh..?" terlihat raut wajah kebingungan Neo dan yang lain.
"Lah? Terus jalan kaki?" tanya Ojan.
Ridwan mengangguk dan berujar, "Pas kau mandi tadi, aku sekalian berangkat."
"Eh...?! Pagi sekali!" ujar Neo tidak percaya. Pasalnya, Neo mandi tadi jam masih menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Dan hari masih terlihat cukup gelap.
"Ngapin?" Neo masih tidak percaya Ridwan berangkat sepagi itu.
Cowok jangkung dengan wajah RBF atau resting b*tch face alias berwajah jutek itu menghela napas, lalu berkata, "Kan aku udah bilang tadi, sekalian nyari angin."
"Nyari angin pagi-pagi begitu? Nggak kedinginan?" Ojan berceletuk dengan watados.
"Jan!"
"Nggak gitu juga maksudnya!"
Teo dan Neo berujar dengan gemas. Kai hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Sementara Ridwan hanya menatap datar ke arah Ojan.
Dasar si Ojan ada-ada saja!
Tidak lama kemudian, suara sirine toa pelantang berbunyi nyaring. Para maba kemudian menaruh tas di pinggir lapangan di mana pemandu mereka berada dan segera berbaris di lapangan. Neo dan maba yang belum disarankan mengikuti pemanasan di minta untuk duduk di tepi lapangan bersama pemandu mereka.
Meski Ridwan, dan mungkin beberapa maba lain, kembali mengikuti Aqisol, jumlah maba yang hadir tidak sama dari hari pertama latihan. Masih ada cukup banyak maba yang memang tidak berniat ikut Aqisol selain yang sakit. Namun, hari ini terbilang lebih mendingan dari hari kemarin.
Yah.. Semenjak kejadian antara Ridwan dan Guntur, banyak maba yang semakin berani dan nekat untuk membolos Aqisol.
Semua maba sudah berbaris rapi di masing-masing batalion mereka. Menunggu dengan gugup arahan dari para senior.
Suara sirine sudah berhenti beberapa saat yang lalu. Namun, belum ada tanda-tanda Aqisol hari ini akan dimulai. Tidak biasanya senior mereka tidak langsung menyuruh mereka untuk melakukan pemanasan lari keliling lapangan. Hal yang membuat para maba gelisah tetapi juga penasaran.
Terlihat sosok ketua TPK berjalan maju beberapa langkah dari barisan beberapa TPK dan Menwa di tengah lapangan. Dia berdiri di atas mimbar tiga tingkat yang diletakkan di sana. Entah para maba harus merasa lega atau cemas melihat senior cewek itu kembali ke lapangan. Namun, sepertinya ada seseorang di antara mereka yang terlihat senang melihat ketua TPK yang hadir hari ini.
Berbicara soal senior, yang menyalakan sirine toa pelantang tadi adalah Frans. Jadi, banyak yang mengira kalau hari ini masih diambil alih olehnya. Namun, melihat Aylin yang berada di depan, cewek itu yang sepertinya akan mengambil alih hari ini.
"Selamat pagi!" Aylin berseru menyapa dengan toa pelantang. Wajahnya terlihat judes seperti biasa.
"Pagi, Kak!" Maba menjawab dengan serempak.
"Hari ini adalah hari terakhir Aqisol tahun ini," Aylin berujar dan menyapukan tatapan menilainya ke seluruh maba.
"Saya ucapkan selamat untuk kalian yang bisa bertahan sampai hari ini. Karena saya tahu, masih ada teman kalian yang memilih bersantai di kamar daripada ikut tersiksa bersama kalian di sini. Dan saya ucapkan selamat datang kembali kepada kalian yang memilih bergabung lagi ke lapangan penyiksaan ini," lanjutnya sedikit menyindir.
Beberapa TPK yang berada di lapangan terlihat bertepuk tangan. Namun, wajah mereka masih tetap terlihat tanpa ekspresi. Entah bermaksud memuji atau menyindir, para maba tidak bisa menebaknya.
Kembali ke Aylin. Senior cewek itu kini mulai membahas apa yang akan mereka lakukan hari ini.
"Hari ini akan ada sedikit tantangan. Dan selama tantangan berlangsung, kami harap kalian selesaikan sebaik mungkin. Jika gagal, kalian harus ulangi dari awal sampai berhasil. Gunakan cara apapun yang sekiranya terbaik. Selama tiga hari kemarin, kalian sudah banyak berlatih. Dan kalau kalian memahaminya, kami yakin kalian bisa menyelesaikan tantangannya dengan baik."
Pandangan Aylin kembali menyapu ke seluruh maba. Lalu, dia kembali berucap, "Tetap berada di dalam kelompok, tapi boleh saling kerjasama. Masing-masing komandan yang mengomando kalian, jadi dengarkan mereka baik-baik. Satu kelompok gagal, ulangi dari awal. Buat semuanya!"
Sebagian besar maba terlihat gugup mendengarnya.
Kemudian, Aylin memanggil kelima komandan maju ke depan untuk menerima beberapa tantangan dalam permainan. Setelah beberapa saat, mereka kembali ke tempat masing-masing—di sisi sebelah kanan barisan kelompok.
"Waktu kalian sampai pukul setengah sepuluh!" Aylin berseru lantang kemudian, "Tidak ada toleransi tambahan waktu. Kalau kalian terus gagal sampai batas waktu, kalian akan semakin jauh dengan lencana gir kalian. Gunakan apa yang kalian pahami selama latihan kemarin!"
Itu artinya, para maba hanya punya waktu kurang dari tiga jam lagi!
.
.
.
Matahari semakin naik. Membuat peluh bercucuran deras walau masih terbilang pagi. Namun, hawa musim kemarau di bulan Agustus sudah membuat semua orang gerah dan kepanasan. Apalagi bagi lebih dari seribu maba yang dijemur di lapangan. Udara pagi sudah tidak terasa sejuknya sejak beberapa saat yang lalu.
Sudah ada satu jam mereka berkutat dengan tantangan tugas yang diberikan ketua TPK. Sebenarnya tantangannya sederhana, hanya ada dua. Mereka diminta membuat sebuah pola koreo yang melibatkan seluruh maba yang ada dalam waktu sesingkat-singkatnya. Lalu yang kedua adalah mereka melakukan serangkaian latihan dari push up, lari, sampai berbaris dengan rapi dengan waktu singkat dan kalau sampai ada yang gagal dan terlihat tidak kompak, mereka harus mengulangnya dari awal.
Dan sesuai kesepakatan bersama antarkomandan, mereka melakukan tantangan yang kedua terlebih dahulu. Masing-masing komandan mengkoordinir kelompoknya untuk melakukan push up dua seri lalu berlari ke sisi lapangan yang lain sebelum berbaris dengan rapi. Kelihatan sepele, tetapi tentu cukup sulit kalau waktu yang diberikan sangat singkat. Apalagi dalam sesi lari inilah yang paling sulit. Kalau tidak hati-hati, mereka bakal tabrakan satu sama lain sehingga harus mengulang dari awal. Dan kalau menunggu giliran, waktu akan terbuang percuma.
Percobaan pertama. Masing-masing kelompok atau batalion menyelesaikan tantangannya tanpa melihat kelompok lain. Hasilnya, saat mereka lari, mereka bertabrakan dengan kelompok lain dan terpaksa memulai dari awal.
Percobaan kedua. Setiap kelompok yang menyelesaikan push up belakangan menunggu kelompok lain lewat terlebih dahulu untuk menghindari tabrakan. Alhasil, semua maba kena amarah dari TPK yang berkata kalau mereka membuang-buang waktu. Jadinya, mulai dari awal lagi.
Percobaan ketiga. Kali ini tiap komandan menyuruh kelompoknya berbaris dengan rapi setelah berkomunikasi sejenak satu sama lain. Memang lebih mendingan daripada yang tadi, tidak banyak yang bertabrakan. Hanya sedikit bersenggolan. Namun, jarak antara barisan maba yang ada di depan dan belakang terlihat jauh. Terlihat tertatih-tatih menyesuaikan langkah. Jadinya, barisan menjadi pecah dan tidak rapi.
Hasilnya, mereka mengulanginya dari awal.
Lagi.
Sudah hampir satu jam ini mereka melakukan tantangan itu. Dan sudah beberapa kali gagal sebelum Teo memanggil komandan lain untuk berdiskusi. Teo juga meminta untuk membawa tiga orang lagi dari masing-masing batalion untuk ikut rapat dadakan. Mereka mendiskusikan cara yang efektif untuk menyelesaikannya karena cara yang sebelumnya masih saja gagal.
"Kita harus pakai cara apalagi?" tanya seorang komandan kelompok lima, Bagas.
Semua terlihat berpikir keras. Waktu semakin terkikis.
"Kak Aylin tadi bilang buat nggunain apa yang kita pelajari selama Aqisol," Teo berujar. Beberapa ada mengangguk menyetujui.
"Tapi selama ini kita cuman di suruh push up, squat jump, lari, gitu-gitu. Apa yang kita pelajari?" tanya seorang maba dari kelompok dua, Karno. Dia tidak terlalu paham maksudnya.
"Kita memang melakukan latihan fisik seperti itu," Kai membuka suara. Cowok itu ikut jadi perwakilan dari kelompok empat atas permintaan komandan dan teman-temannya.
"Tapi selain latihan fisik yang melelahkan, kita juga diberi waktu buat nyelesain tiap latihan 'kan? Coba ingat lagi, kita pernah disuruh serangkaian push up, squat jump, sama lari dalam waktu tiga menit 'kan?"
"Ah, iya!" komandan kelompok tiga berseru cepat. Matanya bebinar seolah dia paham apa yang dimaksud Kai.
"Bukankah kita disuruh lari dan lain-lain itu waktunya singkat banget 'kan? Ingat tidak, pas kita disuruh ngulang lagi karena kurang cepat sama barisannya nggak rapi?" lanjutnya.
"Hooh! Paham-paham..." timpal maba lain, "Kemarin juga Kak Frans sempet marah-marah juga 'kan pas ada yang ketinggalan jauh jaraknya."
Perlahan yang lainnya mulai paham. Mereka lalu mengingat-ingat lagi apa yang mereka lakukan beberapa hari lalu dan menyimpulkannya bersama-bersama.
"Itu artinya, tiap komandan harus ngatur ulang kelompoknya lagi. Utamakan yang cewek di barisan depan. Yang keliatan sakit disuruh mundur dulu atau ditaruh pinggir. Jadi kalian, dibantu perwakilan yang lain, cek lagi," kata Teo pada akhirnya setelah terbentuknya kesepakatan bersama.
"Kita juga nggak usah lari kencang buat cepat sampai tujuan. Aku ingat Kak Aylin bakalan marah dan nyuruh ngulang lagi tiap kali kita buru-buru pas hari satu dua Aqisol. Itu artinya, berusaha cepat-cepat malah membuat kita kurang fokus ke sekitar. Lari kecil aja, asalkan barisan tetap rapi. Tapi juga harus gerak cepat pas perpindahan dari push up ke lari karena waktu kita nggak banyak."
Pada akhirnya, setelah kesepakatan bersama, para komandan meminta kelompoknya untuk berbaris terlebih dahulu. Dengan jarak antarmaba bisa dilewati oleh satu orang tanpa menyenggol satu sama lain dan miba berada di barisan-barisan depan. Tiga orang yang ikut rapat dadakan tadi juga ikut berbaris sesuai kesepakatan. Di mana komandan akan berada di sisi kanan, dua di belakang, dan satu lagi di sisi kiri.
Agak cukup memakan waktu untuk mengatur barisan. Untung saja para komandan dibantu beberapa anggota kelompoknya, jadi mereka tidak merasa kewalahan mengatur hampir tiga ratus maba. Dan setelah memastikan semua berbaris rapi, mereka bisa memulai untuk push up sebelum lari dalam barisan ke arah yang dituju.
Tidak ada aturan mana yang harus didahulukan. Aylin membebaskan mereka mengubah urutannya. Asalkan bisa menyelesaikan dengan baik dan sesuai harapan.
"Jadi gaes, pas selesai push up diusahakan, eh tidak, harus berada di posisi semula, oke?" Komandan kelompok empat, Yuda dari jurusan Teknik Mesin, berseru memberi arahan.
"Biar nanti nggak tabrakan dan ngulang dari awal, oke?" kelompok empat mengangguk paham.
"Habis push up kita siap-siap lari ke arah sana," Yuda menunjuk sisi lapangan yang berseberangan dengan mereka, "Perhatikan juga langkahnya, kalau bisa bareng ya macam baris gitu biar tidak ada yang kececer atau ketabrak."
"Bismillah ya, semoga berhasil dan nggak ngulang lagi. Yuk, semangat yuk! Kita pasti bisa menyelesaikannya. Kita tunjukin ke TPK kalau kita bisa!"
Cowok itu berseru dengan lantang untuk menyemangati kelompoknya.
"Ya!!" maba kelompok empat berseru menimpali.
Dengan aba-aba dari Yuda—maba itu juga saling memberi tanda ke komandan lain—mereka memulai tantangan itu dengan bersiap di posisi push up. Bersamaan dengan kelompok lain, mereka menghitung dengan keras sampai selesai dua seri.
"DELAPAN BELAS!"
"SEMBILAN BELAS!"
"DUA PULUH!"
Begitu selesai, semua maba berdiri ke posisi semula. Ada beberapa yang bergerak meluruskan barisan ketika dirasa tidak rapi. Mereka yang demikian harus melakukannya dengan cepat karena tidak ada jeda yang lama.
Sesaat setelah push up dan berbaris kembali, tiap-tiap komandan memberi aba-aba kelompoknya untuk berlari kecil sesuai irama langkah dan berusaha menjaga barisan agar tetap rapi.
Dan ketika bersimpangan dengan kelompok lain, para maba terlihat was-was karena takut bertabrakan lagi.
Waktu terasa begitu lama ketika mereka berlari kecil melewati kelompok lain yang sama-sama juga berlari. Berdoa dalam hati agar tidak menyenggol atau tabrakan dan tidak sampai mengulang lagi.
Dan akhirnya.... mereka berhasil!
Dengan raut wajah yang tampak senang dan lega yang luar biasa, mereka melanjutkan lari kecilnya ke tujuan masing-masing. Begitu sampai, seketika semua maba bersorak kegirangan karena telah berhasil menyelesaikan salah satu tantangan. Para pemandu dan beberapa panitia yang melihatnya bertepuk tangan dan berseru memuji meski tidak seheboh para maba.
Tidak ada yang tahu, di tempatnya, Aylin terlihat tersenyum kecil, sangat kecil dan sekilas, saat melihat para maba yang berteriak gembira.
"Bagus!" Aylin berseru ketika para maba sudah berhenti bereuforia, "Tapi, jangan senang dulu! Tantangan satunya masih menanti. Kita lihat, hasilnya mengecewakan atau tidak."
"Kalian sudah banyak membuang waktu! Dan waktu kalian hanya tersisa kurang dari sembilan puluh menit untuk menyelesaikan tantangan satunya. Daripada buang-buang lebih banyak waktu lagi dengan teriakan kegirangan kalian, lebih baik kalian segera mulai berpikir untuk tantangan kedua!" Aylin berseru menyindir.
Ah benar, masih ada satu lagi! Beberapa maba terlihat kembali lesu mengingat masih ada satu tantangan lagi yang belum diselesaikan. Bahkan waktunya tidak lebih dari satu setengah jam yang tersisa.
Buru-buru, para komandan segera berkumpul untuk berdiskusi lagi. Kali ini membahas pola koreo apa yang akan mereka bentuk. Mengingat waktu yang sangat terbatas, diusahakan koreo sederhana yang dipakai.
"Jadi, kita mau bikin pola apa?" tanya Yuda, "Waktunya mepet banget 'kan soalnya dadakan."
"Kita bikin pola koreo sederhana," kata Teo, "Tapi yang menceminkan FT. Soalnya, feeling-ku TPK nggak mungkin membiarkan kita bikin koreo asal-asalan. Daripada disuruh ngulang, mending langsung aja nyari pola yang melambangkan FT."
Yang lain mengangguk.
"Betul tuh!" timpal komandan kelompok dua, Felix.
"Soalnya 'kan ini Aqisol masuk Isimaja FT juga. Jadi seperti tak mungkin gitu kalau temanya sebebas itu."
"Aku malah kepikiran rajawali," kata Bagas, "Kan itu maskot sama julukan FT. Tapi kayaknya terlalu makan banyak waktu nggak sih? Kita juga harus bikin polanya dulu buat sketsa, belum lagi ngatur seribuan maba. Bakal tidak cukup waktunya."
"Gir aja!" celetuk Yuda kemudian. Semua menoleh ke arahnya.
"Gir 'kan lambang FT. Polanya juga nggak rumit kok, tinggal bikin lingkarannya dulu, baru nanti kita atur bikin geriginya."
"Setuju sama Yuda!" timpal komandan kelompok tiga, Ivan, "Nanti kita coba izin panitia pinjam mimbar sama scaffolding buat lihat polanya dari ketinggian."
"Boleh. Nanti aku yang minta izin," kata Teo.
Setelah berdiskusi untuk fiksasi bentuk roda gigi yang akan dieksekusi, para komandan bergegas memberitahukan kelompok masing-masing rencananya. Dan setelah bersusah payah menyampaikan rencana dan memastikan semua maba tahu, para komandan segera mengkoordinir teman-temannya untuk bergabung menjadi satu membentuk lingkaran raksasa. Lingkaran raksasa dengan garis yang berlapis-lapis di sisi luarnya karena tidak mungkin semua maba berbaris satu-satu. Akan sebesar apa nantinya kalau hal itu nyata terjadi? Sepertinya lingkaran akan memenuhi lapangan.
Dari kelima batalion, dua batalion akan membentuk lingkaran. Lalu sisanya akan membentuk geriginya.
Sementara itu, membiarkan komandan yang lain dibantu beberapa maba perwakilan mencoba membentuk lingkaran, Teo berjalan menuju TPK dan beberapa Tim PDD dan Tim Perkap berkumpul. Teo meminta izin ke Aylin untuk menggunakan mimbar dan scaffolding dengan alasan untuk mengarahkan teman-temannya membuat pola sesuai dengan yang direncanakan.
Sebenarnya Teo agak takut untuk meminta izin ke Aylin. Takut kalau bakal ditolak mentah-mentah.
Namun, kalau tidak dicoba kita juga tidak tahu bukan?
Dan saat ini Teo masih harap-harap cemas menunggu jawaban Aylin yang masih terdiam. Waktu semakin menipis. Kalau disetujui, Teo dan komandan lainnya akan segera mengeksekusi. Tentu akan semakin mudah juga memetakan polanya dan mengarahkan maba yang lain.
Kalau tidak, ya mau tidak mau berusaha seadanya dan menggunakan feeling.
Apa ya jawabannya kira-kira?
.
.
.
.
.