![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
See in a new light (idiom): to perceive, regard, or understand someone or something in a new, typically more positive way
.
.
.
[Semua chapters belum major editing]
.
.
.
.
Hari ketiga Aqisol dimulai! Suara sirine toa pelantang dibunyikan. Seluruh maba yang mulai terbiasa dengan bunyi sirine, segera menyelesaikan sarapan mereka dan bergegas ke lapangan lalu berbaris rapi di masing-masing batalion.
Ada yang berbeda pagi ini. Jika biasanya yang memegang kendali sirine toa pelantang adalah ketua TPK, kali ini berbeda!
Di tengah lapangan, berdiri sosok jangkung Duta FT dengan wajah dinginnya. Terlihat mayoritas maba perempuan yang melihat sosok tinggi ganteng itu, menjerit tertahan. Baru pertama kali ini Frans benar-benar muncul di hadapan para maba selain waktu pembacaan tata tertib dulu. Selama ini Frans hanya berjaga di belakang, di gerbang saat open gate, dan jarang sekali benar-benar terlihat.
Di samping Frans, ada sosok senior berambut pendek yang berwajah angkuh. Maba di kelompok empat dan sekitarnya sangat mengetahui senior cewek itu. Dia adalah senior yang waktu itu melumpuhkan Guntur dan salah satu TPK yang mendampingi batalion empat.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Aylin. Dengan kata lain, Aylin saat ini MIA atau missing in action.
Karena Aylin meski tidak sedang bertugas, dia akan selalu memantau. Namun, sejauh mata memandang, sosok ketua TPK itu tidak terlihat. Naufal dan panitia inti juga tidak terlihat hari ini. Meski memang biasanya Naufal sering datang dan pergi karena banyak urusan, biasanya cowok itu akan menyempatkan untuk hadir terlebih dahulu pas pagi-pagi seperti ini.
Beberapa maba terlihat bertanya-tanya mengenai keberadaan Aylin yang absen hari ini. Namun, kebanyakan juga ada yang merasa lega. Mereka pikir hari ini tidak akan terlalu berat.
Kayvan termasuk salah satu maba yang bertanya-tanya mengenai keberadaan Aylin. Dia terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan ketua TPK yang tumben sekali tidak ada di tempat.
"Kau mencari siapa?" bisik Neo yang berdiri di sebelahnya.
"Kak Aylin."
"Kenapa kau mencarinya? Hari ini beruntung karena dia nggak di sini 'kan? Latihan jadi lebih ringan."
"Benar!" Ojan menimpali. Dia berdiri di sebelah Neo.
Obrolan mereka terputus ketika Frans membuka suara.
"Hari ini, latihan akan saya ambil alih," Frans berujar tegas tanpa basa-basi, menggunakan toa pelantang.
"Saya harap kalian mengecamkan baik-baik apa yang sudah Kak Naufal evaluasi kemarin. Dan siapapun yang melanggar, tidak ada toleransi!" lanjutnya sambil menatap tajam ke seluruh maba.
"Kalian itu mahasiswa! Jadi jangan bertingkah seperti bocah!"
"Dimengerti?!"
"Mengerti, Kak!"
"DIMENGERTI?!"
"MENGERTI, KAK!"
Kemudian, TPK cewek yang berambut pendek, Rima, menyuruh para komandan dengan dipimpin oleh Teo untuk melakukan pemanasan lari lima belas putaran mengelilingi lapangan.
"YEL-YELNYA KURANG JELAS, DEK!" bentak Rima ketika para maba sudah menyelesaikan satu putaran.
"MASIH PAGI KOK UDAH LEMES!" seru TPK lain.
"JANGAN LEMBEK!"
"SUARANYA MANA?!"
"Tiap komandan, perhatikan anggotanya!" Frans berseru menggunakan toa pelantang ketika mata tajamnya melihat barisan yang kurang rapi. Ada ruang antara maba depan dan belakang yang cukup jauh. Beberapa maba juga terlihat kesusahan menyesuaikan langkah temannya.
"JANGAN EGOIS!" bentak Frans, "Teman kalian ada yang ketinggalan dan kesusahan mengejar. Perhatikan teman samping kanan kiri kalian! Para komandan juga pantau anggotanya!"
"Gerak cepat bukan berarti meninggalkan teman kalian!"
"Yel-yelnya dikencengin!"
"Buktikan kalau kalian satu tim!"
Teriakan-teriakan dari TPK yang bertugas menemani pagi itu di sela-sela yel-yel yang dinyanyikan para maba. Dua TPK dan satu Menwa yang mendampingi setiap batalion terlihat juga ikut berlari bersama.
Sepertinya para maba harus meralat kalau hari ini akan lebih ringan. Buktinya, setelah menyelesaikan lari pagi keliling lapangan lima belas kali, mereka baru saja mengistirahatkan diri selama lima menit, harus segera melanjutkan latihan.
"Aku ralat. Kak Frans lebih gila daripada Kak Aylin!" Neo bergumam mengeluh di sela-sela latihan.
Hari ini mereka harus menyelesaikan beberapa tantangan, seperti hari kemarin, dalam waktu yang dibatasi. Bukan main-main memang. Bahkan, para maba merasa tantangan yang diberikan lebih ditambah jumlahnya, tetapi waktu yang diberikan tetap sama.
Kalau sampai ada satu batalion yang tidak berhasil, mereka semua harus mengulangnya dari awal sampai semua batalion berhasil menyelesaikannya. Dan kalau sampai ada salah satu yang gagal, mereka semua akan kena imbasnya dengan mendapat hukuman berupa push up dan squat jump berjamaah.
Kesimpulan hari ini adalah, Frans lebih brutal daripada Aylin. Para maba perempuan yang tadi sempat ber-fangirl ria karena latihan kali ini diambil alih oleh Frans, masih tidak percaya dan cukup syok karena Frans yang terlihat kalem tapi dingin lebih sadis daripada Aylin.
Sepertinya, gelar Duta FT tidak ada pengaruhnya pada tugas Frans yang merupakan TPK dan salah satu tangan kanan Aylin.
Lain halnya dengan Frans yang dingin dan sangat disiplin tidak kenal ampun, Rima sebelas dua belas dengan Aylin. Bedanya, mungkin level kegalakan Rima di atas satu level dari Aylin.
Jika Aylin membentak para maba masih terkesan dingin dan biasanya berupa sindiran tajam, beda lagi dengan Rima yang tidak segan-segan membentak maba dengan keras sampai membuat mereka berjengit kaget dan beberapa ada yang gemetar ketakutan.
Seolah-olah menghadapi Aylin masih bisa dibilang cukup mending daripada mereka berdua. Meskipun kalau beneran ditawari, para maba jelas menolak mentah-mentah kecuali beberapa dari mereka yang terlalu nekat. Aylin itu seperti perpaduan Frans dan Rima saat bertugas.
Rima membentak mereka juga tanpa alasan. Sekiranya ada maba yang berbuat kesalahan, maka Rima akan 'menegurnya'.
Bisa dibilang, hari ketiga Aqisol lebih berat daripada hari pertama dan kedua. Seolah-olah levelnya meningkat tiap harinya. Para maba hanya bisa berharap semoga hari keempat sekaligus hari terakhir tidak akan bertambah berat.
Para pemandu tidak bisa berbuat apa-apa melihat para maba mengeluh pada mereka saat mereka diberikan jeda istirahat. Para pemandu selain siap menyediakan minum dan menampung keluhan-keluhan, mereka juga hanya bisa berbuat sigap ketika melihat anak gugusnya mundur atau tumbang.
Selain Tim Medis, Tim Pemandu juga merupakan tim yang berseberangan dengan TPK dalam bertugasnya.
.
.
.
"Kenapa kau, Yo?" tanya Kai kepada Neo setelah semua maba dibubarkan dari Aqisol hari ini. Sebagian besar maba sudah membubarkan diri menuju tepi lapangan yang lebih teduh, di mana minuman dan pemandu mereka di sana.
Sementara Neo yang tadi ditanya Kai masih terduduk di tempatnya. Dia terlihat mencoba mengurut kaki kirinya.
"Kayaknya kakiku terkilir, Kai," jawab Neo. Dia terlihat menahan kesakitan.
Kai menoleh ke sekitar, mencari Tim Medis yang sekiranya masih disekitaran lapangan. Ada beberapa, tetapi mereka terlihat sibuk menangani maba lain yang butuh bantuan. Bahkan perwakilan Tim Medis universitas yang membantu selama Aqisol juga terlihat sibuk dengan tugasnya.
Kai kembali menatap Neo.
"Mau aku antar ke posko?" Kai menawarkan.
"Bukannya kau habis ini ada rekaman video?" tanya Neo.
Kai mengecek jam tangannya, lalu berkata, "Masih ada satu setengah sampai dua jam lagi. Lagipula rekamannya juga di fakultas. Ada waktu juga buat siap-siap dan ganti juga."
Kemudian, Kai membantu Neo berdiri dan memapahnya. Kai melihat Ojan yang masih mengobrol dengan temannya tidak jauh dari mereka.
"Ojan!" Kai memanggil Ojan.
"Oit!" Ojan yang merasa dipanggil menoleh. Dia melihat Kai yang tengah memapah Neo. Ojan pamit ke temannya sebelum berlari kecil mendekat ke tempat Kai dan Neo.
"Tolong bantu bawakan tasku sama Neo dong," pinta Kai, "Aku mau nganter Neo ke posko medis dulu. Kakinya terkilir."
"Oke!" katanya, "Nanti tak susulin ke posko."
Setelah berkata begitu, Ojan berlalu pergi untuk mengambil tas miliknya dan kedua sohibnya.
"Makasih, Jan!" seru Kai.
"Yo'i!"
Kemudian, Kai membantu Neo berjalan menuju posko dengan perlahan. Jarak posko tidak begitu jauh dari lapangan. Sebuah tenda yang didirikan di seberang aula besar, di tepi lapangan, dan lokasinya yang cukup teduh merupakan posko medis selama Aqisol berlangsung.
Begitu sampai posko medis, Kai dan Neo disambut beberapa petugas yang berjaga. Terlihat di tenda, ada beberapa maba yang masih terbaring atau sekedar duduk memulihkan tenaga. Seorang petugas menghampiri mereka.
"Kakinya kenapa, Dek?" tanyanya. Senior itu meminta Kai untuk membantu Neo duduk di kursi yang dia siapkan.
"Keseleo, Kak," jawab Neo, "Yang kaki kiri."
Dengan perlahan, senior itu melepaskan sepatu sebelah kiri Neo untuk melihat keadaannya.
"Bentar, tak siapkan kompres dulu ya Dek," dengan sigap, senior itu menyiapkan handuk kecil dan baskom berisi air es yang memang disediakan untuk menangani kasus keseleo. Dengan telaten dan lembut, senior itu mengompres kaki Neo yang terkilir.
"Dek Kayvan, sehat?" tanya senior itu kepada Kayvan tanpa menoleh.
"Alhamdulillah sehat, Kak," jawab Kayvan.
"Duduk aja dulu nggak papa lho," kata senior itu lagi.
"Ah iya, makasih Kak."
Tanpa protes, Kai memilih duduk di kursi kosong terdekat.
"Hari ini cukup banyak yang keseleo sama kram juga. Ditambah latihan kali ini terhitung lebih keras dari kemarin-kemarin. Stok salep buat kram juga sampai habis tadi," senior itu bercerita. Setelah sekitar dua puluh menitan, dia menyudahi kegiatan mengompresnya. Kemudian, dia mengambil perban elastis dan membebatkannya pada kaki Neo yang keseleo.
"Oi Kai, Neo," terdengar suara Ojan memanggil. Neo, Kai, dan senior tadi menoleh dan melihat Ojan berlari kecil ke arah mereka sambil membawa tas mereka.
"Sorry lama, tadi ada kumpul gugus bentar. Oh iya, tadi Teo juga udah tak kasih tahu. Sekarang anaknya lagi ngambil motorku di parkiran buat ke sini," katanya begitu sampai.
Tadi pagi, Ojan dan Kai memang membawa motor mereka untuk berangkat setelah sebelum-sebelumnya cuman berjalan kaki. Kai memang membawa motornya karena hari ini jadwalnya cukup padat dengan jeda yang lumayan singkat dari Aqisol sampai rekaman video nanti. Sementara Ojan, dia tadi nyaris saja kesiangan karena mendadak sakit perut pagi-pagi.
"Syukurlah kalau ada yang bawa motor," kata senior Tim Medis tadi, "Dan buat Neo, nanti sampai asrama atau kosan, usahakan hindari dulu menggunakan kaki kirimu berlebihan biar nggak tambah bengkak sama nyeri. Kalau masih keliatan bengkak atau rada nyeri, bisa dikompres lagi pake es atau air dingin selama sekitar 20-30 menit tiga sampai empat kali sehari. Dan kalau pas lagi baring, kakinya ditaruh agak tinggi dari dada ya, diganjal bantal atau apa yang penting posisinya lebih tinggi biar nggak bengkak lagi."
"Kalau masih sakit besoknya, jangan ikut Aqisol dulu. Hubungi pemandu atau Tim Medis langsung, oke?" lanjutnya dan Neo mengangguk mengerti.
"Teman-temannya juga bantu ingatkan Neo ya?" senior itu berujar ke Kai dan Ojan.
Ojan dan Kai mengangguk.
Tidak lama kemudian, Teo datang dengan mengendarai motor Ojan. Dia tidak mengklakson untungnya karena tahu ada beberapa maba yang masih beristirahat di posko.
"Ini ada obat pereda nyeri kalau masih merasa sakit. Kamu nggak ada alergi obat tertentu 'kan?" Neo menggeleng dan menerima obat yang diberikan petugas medis.
Dibantu Ojan dan Kai, Neo berjalan tertatih menuju motor dan dengan perlahan menaiki jok belakang untuk membonceng menyamping. Nanti akan lebih mudah untuk turunnya sehingga tidak akan terlalu membebankan kaki kirinya yang masih dibebat. Tangan kirinya menenteng sepatu kirinya yang dilepas. Tasnya sudah dia pakai.
Teo dan Neo pamit terlebih dahulu sebelum berlalu pergi keluar area kampus FT dan menuju asrama.
"Kau gimana, Jan? Mau bareng?" tanya Kai.
Ojan menggeleng, "Nggak usah. Kau juga buru-buru buat persiapan rekaman 'kan katanya?"
"Tadi aku juga bilang ke pemandu kita kalau Neo keseleo. Aku mungkin bareng Mas Widi yang mau ngecek langsung ke asrama bentar lagi. Kau fokus aja ke duta kampus, biar fakultas kita bisa menang, oke?"
Ojan tersenyum tiga jari sambil mengacungkan jempol kanannya. Terdengar bunyi ponsel bergetar. Ojan mengecek ponselnya yang barusan bergetar.
"Aku duluan ya, Mas Widi udah nunggu deket gerbang masuk," katanya.
"Duluan ya Kai, semangat!" Ojan menepuk-nepuk bahu Kai menyemangati. Kai tersenyum berterimakasih.
Lalu, Ojan berlalu pergi.
Kai melihat jam tangannya lagi. Masih ada cukup banyak waktu untuk makan siang, shalat dzuhur, dan bersiap-siap di asrama sebelum kembali lagi ke sini. Dirinya sudah sangat lapar. Aqisol hari ini berakhir setengah jam lebih dari jam biasanya karena para maba yang baru bisa dibubarkan setelah berkali-kali mengulang tantangan yang gagal karena ada salah satu batalion tidak berhasil.
Sebelum beranjak pergi, Kai mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya.
"Bel, salepnya yang ini 'kan?" Kai berbalik dan melihat sosok Aylin yang baru saja tiba. Cewek itu sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
Aylin terlihat menyerahkan dua bungkus salep atau krim kepada seseorang yang dipanggil "Bel" tadi yang ternyata adalah anggota Tim Medis yang menangani Neo.
"Ah iya bener, Lin," kata "Bel" dengan senang sambil menerima salep dari Aylin.
"Makasih ya... maaf banget malah ngerepotin," tambahnya.
"Nggak papa, Bel. Kebetulan juga sekalian aku keluar beli vitamin juga," kata Aylin sambil tersenyum tipis. Aylin menunjukkan keresek putih yang dibawanya.
"Ah iya, maba yang asma kemarin gimana?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Puji Tuhan, aman Lin," jawab "Bel", "Anaknya tadi berangkat cuman izin nggak ikutan. Jadi dia nonton temen-temennya sama pemandu gugusnya di tempat teduh. Dia juga tak kasih pita merah biar gampang Tim Medis mengawasi kalau terjadi apa-apa. Soalnya kata dia, asmanya udah lama banget nggak kambuh, cuman kemarin aja tiba-tiba."
Setiap maba yang sakit atau punya riwayat sakit berdasarkan formulir yang diisi, akan diberikan pita yang harus ditempel di lengan baju kiri atau kanan tergantung posisi maba itu berada di sebelah pinggir mana. Yang penting terlihat oleh Tim Medis. Dan pita itu juga tidak boleh hilang. Ada tiga jenis pita berdasarkan jenis penyakit. Pita hijau untuk sakit ringan seperti batuk atau alergi, pita kuning untuk penyakit yang kambuhan tetapi masih kategori cukup ringan, dan pita merah untuk penyakit berat yang harus ada penangan khusus.
Tim Medis juga berpesan ke pemandu untuk mengawasi mabanya yang mengenakan pita. Dan juga memastikan maba yang lain benar-benar mengisi formulir mereka sewaktu pendaftaran ulang dengan sejujur-jujurnya. Itupun bukan untuk mempermalukan mereka, tetapi juga untuk kebaikan mereka selama Isimaja berlangsung.
"Syukurlah, alhamdulillah..." Aylin berucap lega.
Wow, baru kali ini Kayvan melihat sisi Aylin yang berbeda. Senior cewek itu terlihat benar-benar khawatir. Raut wajahnya yang biasanya judes kini seolah menghilang tanpa jejak.
"Kalau gitu, aku duluan ya Bel," katanya kemudian.
"Yo'i! Makasih sekali lagi ya, Lin!" Kemudian, "Bel" kembali dengan tugasnya setelah berkata demikian.
Melihat Aylin yang hendak berjalan pergi dari posko, buru-buru Kai memanggilnya.
"Kak Aylin!"
Aylin menoleh dan mendapati Kayvan yang berdiri tidak jauh darinya. Dia cukup terkejut melihatnya. Kai lalu berjalan mendekat.
"Kau... Kenapa masih di sini?" tanya Aylin dengan cuek.
"Tadi saya nganter temen ke posko, Kak," jawab Kai.
Aylin mengangguk, "Aman 'kan?"
Butuh beberapa detik untuk memahami maksud ucapan Aylin. Hingga akhirnya Kai tersenyum simpul dan berujar, "Alhamdulillah, Kak!"
Aylin mengangguk sekali lagi.
"Sebaiknya kau pulang sekarang. Saya dengar hari ini ada rekaman. FT bukan tukang ngaret, itupun kalau bisa membuktikan," kata Aylin dengan dingin dan sedikit menyindir tajam.
Orang lain mungkin akan menganggap ucapan Aylin itu meremehkan, tetapi anehnya Kai justru tersenyum mendengarnya.
Tanpa menunggu balasan Kai, Aylin berlalu pergi.
"Kak Aylin!" panggil Kai kepada Aylin yang sudah beberapa langkah menjauh.
"Kenapa Kakak hari ini tidak di lapangan?" tanyanya penasaran.
"Bukan urusanmu!" jawab Aylin tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya.
.
.
.
.