Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Serendipity?



serendipity (n): the occurrence and development of events by chance in a happy or beneficial way


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


Kai baru selesai melondrikan pakaian kotornya, membereskan kamar, dan membuang sampah.


Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu mengambil ponsel yang dia letakkan di nakas dekat tempat tidur. Kai membuka whatsapp, berniat mengecek apakah ada pesan penting yang masuk atau tidak.


Tiba-tiba di terbangun. Saat menggulirkan jempolnya di layar ponselnya, dia baru ingat akan sesuatu. Buru-buru dia lalu mengecek daftar kontaknya.


Ah iya, dia baru ingat kalau sekarang dia sudah punya nomor seniornya itu.


Senyum terbit di wajahnya. Dia berniat mengirimi pesan ke seniornya itu. Sekedar basa-basi memberitahukan kalau ini nomornya. Dan selanjutnya, entah, lihat saja nanti.


Untuk pemenuhan janji itu, saat ini Kai belum menemukan permintaan yang tepat.


Dengan senyum yang tak luntur di wajahnya, Kai tanpa pikir panjang mengirimkan pesan ke kontak yang dia beri nama "Kak Aylin". Kontak yang belum terlihat foto profilnya karena memang belum menyimpan nomornya.


[Selama siang Kak Aylin] Oh klise sekali. Sayangnya di lupa menyertakan ini dari siapa dan pesan sudah terkirim. Kai terlalu bersemangat.


Dia tak mungkin menarik pesannya lagi. Tak berapa lama kemudian. Pesan balasan masuk dari kontak yang sama.


^^^[?^^^


^^^Siapa?]^^^


[Maaf Kak lupa menyertakan tadi.


Ini Kayvan]


^^^[Oh^^^


^^^0057^^^


^^^Ada apa? Apa sudah tau yg kau inginkan?]^^^


[Sayangnya masih belum kak, hehe 😅]


^^^[Lalu ngapain ngechat?]^^^


[buat ngasih tahu kakak nomor saya 😁]


^^^[ish! 😠]^^^


[kakak sedang apa? Apa kakak saat ini sibuk?]


^^^[ngapain tanya-tanya?]^^^


[saya takut malah ganggu kakak ☺]


^^^[kau ngechat itu udah ganggu!  😠]^^^


[😆


Kakak lucu sekali pakai emot marah dari tadi]


^^^[0057!]^^^


[😆😆😆]


^^^[😠😤🤬^^^


^^^kalau kau blm tau apa keinginanmu, jangan ganggu aku!^^^


^^^Aku sibuk!]^^^


[😆😆😆


Tolong simpan nomor saya ya kak 😁🙏


Biar nanti Kak Aylin langsung tahu kalau ini dari saya]


^^^[Y]^^^


Kayvan terkekeh pelan begitu mendapat jawab super singkat yang hanya terdiri dari satu huruf saja Meski jawaban Aylin terkesan agak cuek, Kai tidak mempermasalahkannya sama sekali. Orang lain mungkin akan kesal, tetapi Kai justru terhibur dengan respon seniornya ini.


Benar-benar menggemaskan.


Kalau Ojan dan Neo melihatnya, mungkin akan menatap Kai dengan pandangan aneh. Orang akan segan kalau pesan mereka dibalas cuek dan terkesan tidak bersahabat. Apalagi ini dari senior yang mereka takuti.


Untungnya, dua orang itu tidak melihat sahabatnya sekarang.


Bisa-bisa menyangka Kai sudah tidak waras.


.


.


.


Pagi-pagi sekali, sebuah mobil sudah siap dan terpakir di depan asrama F, asrama putri FT. Mobil Jeep berwarna biru gelap itu sudah terparkir di sana sejak lima menit yang lalu.


"Hoahm... ngantuk banget c*k," keluh Budi dengan muka bantal. Bantal leher bahkan sengaja dia pakai sejak tadi keluar asrama. Matanya setengah terpejam. Semalam bergadang main gim dan pagi-pagi tadi, habis subuh, pintu kamarnya didobrak masuk Taufan untuk membangunkannya.


Dia benar-benar kurang tidur.


"Mana sih mereka?" tanya Budi. Mereka tengah menunggu Rima dan Aylin.


"Dan kenapa kita harus berangkatnya pagi banget?" tanyanya lagi. Matahari saja baru mau terbit.


"Biar punya banyak waktu kelilingnya. Biar puas main," jawab Naufal dengan kalem.


"Tapi aku laper woy.." untuk kesekian kalinya Budi mengeluh.


"Berisik sekali!" sahut Taufan mulai terganggu. "Gampang. Nanti kita mampir beli sarapan di jalan."


"Nah tuh mereka," kata Naufal yang melihat Rima dan Aylin berjalan santai ke arah mereka. Masing-masing membawa tas ransel berisi pakaian ganti, jajanan dan minuman, serta perlengkapan masing-masing.


"Wiih... bawa kamera? Asyik bisa foto-foto pake kamera bagus, haha!" kata Taufan yang melihat kamera yang menggantung di leher Rima.


"Iya dong.. aku niatnya emang sekalian mau hunting foto," tukas Rima dengan bangga.


Rima itu hobi fotografi. Selain karate, hobi memotret adalah kesukaannya. Dia membeli kamera miliknya yang tergolong cukup mahal dari hasil dia mengikuti kejuaraan karate. Dia juga cukup sering ikut lomba fotografi.


"Yok gas sekarang," ajak Naufal lalu dia masuk ke jok pengemudi. Posisi duduk mereka adalah di jok paling depan itu Budi dan Naufal. Budi yang nanti bergantian dengan Naufal buat menyetir mobilnya.


Di jok tengah adalah yang cewek-cewek, Aylin dan Rima. Dan yang paling belakang dikuasai Taufan.


"Lah, udah molor aja tuh anak," komentar Rima saat melongok ke depan. Mereka baru berjalan sepuluh menitan. Namun, Budi sudah tertidur dengan pulas. Membiarkan Naufal sendirian dan berfokus menyetir.


"P*lor alias nempel molor dia emang," sahut Taufan dari belakang. "Kasian si Nopal, hahaha...! Siap-siap aja ya Pal kalau tuh bocah ngorok."


"Hahaha... siap!" tawa Naufal mendengar perkataan Taufan.


Di antara mereka berlima, Budi memang orang yang gampang tidur di manapun. Mana sering kali suka ngorok anaknya.


Yah... mereka sudah terbiasa dengan sifat bobrok satu sama lain.


"Kita mau sarapan di mana?" tanya Naufal kemudian.


"Manut..." sahut Rima dan Aylin nyaris bersamaan. [ngikut/ terserah]


"Nyari nasi padang aja kalau udah ada yang buka. Kalau nggak ya soto atau nyari penjual nasi lesehan kalau masih buka," jawab Taufan.


"Boleh, boleh," timpal Rima.


"Oke..." sahut Naufal dan kembali fokus untuk menyetir.


Keadaan tidak benar-benar menjadi hening. Meski sibuk dengan diri sendiri—Naufal menyetir, Aylin memandang ke luar jendela melihat pemandangan tempat yang mereka lewati, Rima sibuk buka medsos, Taufan main gim, dan Budi yang tertidur sambil ngorok—sesekali mereka mengobrol dan saling bercanda.


Membuat suasana di dalam mobil terasa hidup dan tidak membosankan. Perjalanan jadi terasa lebih singkat.


Sampai pada akhirnya sampai di tempat untuk sarapan. Mereka menepikan mobil dan memarkirakannya di dekat sebuah lesehan penjual nasi tak jauh dari pasar. Tak lupa membangunkan Budi yang untungnya mudah dibangunkan.


Mereka sarapan di tempat sambil menghirup udara bebas. Setelah sarapan, mereka harus menunggu Budi dan Taufan membeli jajan dan minuman tambahan untuk bekal mereka.


Bekal di perjalanan dan bekal setelah sampai di tempatnya nanti.


Kelima sekawan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk piknik. Suasana dalam mobil ramai karena diprakarsai Budi yang sudah tidak mengantuk lagi dan Rima, mereka karaokean.


Hampir semua genre yang mereka tahu lagunya yang ada di playlist mobil mereka coba nyanyikan.


Perjalanan cukup panjang benar-benar tidak terasa membosankan sama sekali.


"Baj*gur c*k! Aku lali nggowo s**pak!" seru Budi tiba-tiba. Mata sipitnya membulat, dia baru ingat kalau dia tidak bawa ganti celana. Padahal nanti rencana mau main air. [Aku lupa bawa s**pak]


"Hahahaha...! Kapok! Hahaha!" Taufan tertawa paling keras mendengar kebodohan sohibnya itu. Mereka sudah setengah lebih di perjalanan menuju GK. Tidak mungkin balik ke asrama lagi. [Syukurin, hahaha]


"Gemblung! Padahal kan malamnya kau koar-koar di grup mau nyoba diving. Hahahaha... kocak banget!" kata Rima sambil tertawa.


"Kok bisa sih?" tanya Aylin tak habis pikir. "Ono-ono wae." [ada-ada saja]


"Wis, wis.. Mengko mampir toko klambi nek pas liwat," kata Naufal dengan santai. [Sudah, sudah... nanti mampir toko baju kalau pas lewat]


Seperti perkataan Naufal barusan, mereka memang berhenti dan mampir dulu saat menemukan toko baju di pinggir jalan. Budi langsung ngacir pergi masuk ke toko—tanpa melepaskan bantal leher dan masih pakai kacamata hitam.


Di antara kelimanya, gaya berpakaian Budi memang lebih nyentrik dan mencolok. Kemeja Hawaii berwarna neon dengan motif abstrak sebagai luaran, celana pendek, dan sandal jepit.


Para cowok—ditambah Rima dan Aylin—di geng mereka mereka memang pakai kemeja motif sebagai luaran. Benar-benar menjinwai untuk pergi ke pantai.


Aylin sendiri awalnya hanya pakai kaos oblong sebagai atasannya saja. Namun, sebelum benar-benar berangkat tadi dipaksa pakai kemeja motif sebagai luaran oleh Budi.


Katanya biar geng mereka tetap kompak. Padahal hanya ke pantai beda kabupaten.


Budi yang memberikan kemeja motif itu ke para sohibnya. Untung warna dan motifnya yang paling aneh dipakai Budi. Dengan bangga dia berkata, "Ini adalah seni dalam berpakaian."


Dan dibalas oleh Taufan dengan komentar julid, "Aku yakin anak-anak busana pasti akan menilai selera berpakaianmu itu minus."


Setelah Budi selesai dengan urusanan dan sudah balik lagi ke mobil. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.


.


.


.


Hari sudah menjelang siang. Matahari sudah mulai terasa terik-teriknya. Namun, trio kwek-kwek alias Naufal, Budi, dan Taufan masih punya banyak energi untuk bersenang-senang. Padahal ini sudah pantai ketiga untuk hari ini.


Benar-benar seperti anak-anak yang dilepas setelah seharian dipaksa belajar.


Rima sudah pergi entah ke mana menjelajahi daerah pantai pasir putih yang tengah mereka kunjungi saat ini. Dia mau hunting foto. Katanya ada dia menemukan banyak spot foto menarik di sini.


Sementara Aylin, dia memilih duduk berteduh sambil menikmati minuman es yang dia beli. Tak lupa komik yang sengaja dia bawa. Cewek itu sudah terlarut dengan bacaannya sampai tak menyadari mobil pengunjung lain datang.


Pengunjung yang tidak asing.


"Akhirnya sampai juga...!" seru Ojan dengan lepas. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tadi tidur di mobil dalam posisi duduk.


"Habis ini nanti kita nyari makan siang ya," kata Kai sambil menutup pintu kemudi. Lalu memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal di mobil.


Perkataan Kai disetujui yang lainnya.


Mereka menggunakan mobil milik Kai—iya dia punya mobil sendiri tetapi dia jarang menggunakannya. Mobilnya lebih sering digunakan Kak Rin karena kakak perempuannya itu memang lebih butuh saat di Jogja ini. Mobil Kak Rin sebelumnya dijual dan belum sempat beli karena sibuk dengan bisnis di Jogja dan kulias magisternya.


Bisa saja sebenarnya Kak Rin menghubungi asistennya untuk beli mobil, tetapi dia lebih suka datang langsung untuk memilih sendiri. Dan Kai memang menawarkan untuk memakai mobilnya saja dulu. Sedangkan dirinya sendiri juga lebih sering pakai motor di kampus.


Hari ini karena Kak Rin ada pertemuan dengan klien di luar kota selama beberapa hari, makanya mobilnya menganggur dan bisa Kai pakai. Kai yang menyetir tentu saja dan nanti rencananya bergantian dengan Ridwan kalau Kai kelelahan di jalan.


Mereka tidak hanya berlima saja. Namun, ada satu orang tambahan bernama Dafa. Dia merupakan teman sejurusan Ojan dan sekelas juga besok. Kenal dan dekat sejak ospek jurusan. Dafa orang Magelang, rumahnya tidak begitu jauh dari Borobudur.


Di Jogja dia ngekos. Tidak ambil asrama karena sudah kehabisan slot waktu itu. Belum ada yang kosong lagi. Mungkin, ketika senior tahun akhir sudah lulus, Dafa akan mempertimbangkan lagi untuk mendaftar asrama.


"Pssst..! Ada para senior," kata Neo dengan gugup.


Mereka berenam melihat tiga senior cowok yang sangat mereka kenal tengah sibuk berdebat. Entah apa yang mereka debatkan.


"Jadi gimana? Kita tetap di sini?" tanya Neo sekali lagi. Dia terlihat sungkan.


"Sini aja nggak apa-apa," kata Teo. "Toh sekarang 'kan udah bukan ospek lagi."


"Setuju sama Teo," timpal Dafa.


"Ya asal kita nggak ganggu mereka aja sih..." tambahnya. Ojan mengangguk-angguk setuju dengan perkataan Dafa. Ekspresinya juga terlihat gugup.


"Sini aja," kata Kai dengan final.


"Masih cemen kau, Yo?" tanya Ridwan meremehkan. Neo hanya mencibir. Namun, wajahnya masih terlihat agak tegang.


"Lagian.. kau lihat pakaian mereka?" Teo menunjuk Naufal, Taufan, dan Budi yang berada dikejauhan.


"Mereka nggak pakai dresscode panitia. Mereka juga terlihat sangat santai."


"Ternyata selera pakaian mereka cukup unik ya," komentar Dafa. "Kak Budi terutama sih."


Trio bebek itu masih mengenakan kemeja Hawaii. Apalagi Budi dengan pede-nya sampai memakai kacamata hitam segala. Benar-benar berasa turis asing.


"Hahaha iya. Mana warnanya ngejreng banget kan ya," timpal Teo.


"Itu motif apaan sih?" Ojan menyipitkan matanya guna melihat dengan lebih seksama kemeja Budi.


"Monyet nggak sih?" Neo ikut mengomentari.


"Bukannya beruang?" kali ini Kai yang bersuara.


"Ha? Emang iya beruang?" Neo bertanya. "Monyet kok itu. Warnanya ungu lagi."


"Kok aku ngiranya malah koala ya," Ojan berkata.


"Hahahaha..." Teo dan Dafa tertawa melihat mereka berusaha menebak-nebak gambar apa yang jadi motif di pakaian senior mereka itu.


"Guys," Ridwan bersuara kemudian.


"Aku keliling sambil nyebat dulu. Nanti kabari aja posisi kalian di mana," katanya. Dia mengantongi sebungkus rokok di saku bajunya. 


Kai dan Neo yang paham mengangguk mengerti.


"Bawa korek nggak? Nih," ujar Kayvan sambil menyodorkan korek yang disimpannya di saku celana.


Ridwan mengambilnya dan tersenyum tipis.


"Duluan ya."


"Ya! Hati-hati Wan," kata Kai dan diikuti yang lain.


Dafa terlihat heran. Dia orang baru di kelompok mereka. Lalu, cowok itu menatap Ojan dengan pandangan bertanya. Ojan hanya mengangkat kedua bahu tanda kurang paham.


"HOI! KALIAN..!" seseorang berteriak memanggil mereka.


Terlihat Budi yang ternyata pelakunya, melambai-lambaikan tangan untuk mengisyaratkan mereka mendekat.


Ojan dan Neo seketika gugup. Mereka berlima saling pandang. Bingung dan penasaran dengan maksud Budi.


Yang dimaksud itu mereka 'kan?


"KAYVAN DAN KAWAN-KAWAN, SINI-SINI..!" terlihat Naufal dan Taufan juga mengisyaratkan mereka untuk mendekat.


Dengan agak ragu, Kai dan yang lainnya berjalan mendekat ke arah senior mereka.


"Kalian ke sini juga ternyata," kata Taufan.


"Hehe... iya Kak. Kami memang ada rencana buat refreshing sebelum masuk kuliah perdana," jawab Teo.


"Kebetulan banget ya, bisa ketemu di sini."


"Kalian nggak usah formal-formal," kata Naufal, "Santai aja sama kita."


"Iya tuh. Santai aja," timpal Budi.


"Hehehe... iya Kak," kata Kayvan.


"Mas atau Bang," seloroh Naufal. "Sebutan kakak itu terkesan formal."


Taufan dan Budi mengangguk-angguk setuju.


"Hooh," kata Budi.


"Nih ya, panggil dia Nopal," Budi menunjuk Naufal.


"Ini Topan," lalu menunjuk Taufan.


"Nah itu Budi," kali ini Taufan yang bersuara sambil menunjuk Budi, "Panggil dia Apeng juga boleh, hahaha!"


Naufal tertawa mendengar nama panggilan Budi. Panggilan itu ada sejak Budi masih SMP. Entah siapa yang memulai dulu.


Kalau kalian lupa, Budi dan Taufan dulu satu sekolah pas SMP.


"HOI!" seru Budi tak terima.


"Dah, Budi aja."


Kai dan lainnya sedikit terhibur dengan tingkah ketiga senior mereka yang di luar dugaan. Bahkan Neo dan Ojan kini terlihat lebih santai.


"Bang Nopal ke sini cuman bertiga sama Bang Topan sama Bang Budi?" tanya Kai penasaran.


"Nggak... kami berlima kok," jawab Naufal. "Tuh yang satu di sana," dia menunjuk tempat di mana Aylin berada.


"Yang satunya ngacir entah ke mana, hunting foto," tidak perlu dijelaskan lagi siap itu yang dimaksud. Geng lima sekawan cukup terkenal di kalangan maba.


Kai melihat arah yang ditunjuk Naufal dan menemukan sosok senior kesayangannya itu tengah duduk berteduh. Terlihat sibuk dengan apa yang dia baca dan tak peduli sekitar.


Cowok itu tersenyum tipis.


Mereka, secara kebetulan, bertemu lagi.


Budi mengajak para junior untuk main bola. Iya, itulah kenapa tadi Budi memanggil mereka begitu melihat wajah tak asing tiba di pantai. Mereka lalu terbagi menjadi dua tim empat empat—karena Ridwan tidak ada di tempat makanya jadi pas.


.


.


.


Sekarang Aylin merasa ngantuk. Dia bosan. Si Rima juga belum balik dari tadi. Ke mana dia? Padahal tadi dia bilang tidak akan lama.


Trio bebek masih asyik bermain. Bahkan sepertinya sekarang tidak hanya mereka bertiga saja yang main.


Apa ketiganya tidak lelah? Belum lagi mereka masih ada destinasi pantai selanjutnya setelah makan siang habis ini.


Rencana mereka benar-benar menghabiskan seharian penuh untuk mengunjungi tiap pantai. Meski tidak semua.


Aylin sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mengetahui kalau ada seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kak Aylin.."


Aylin agak terkejut ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati sosok junior yang tidak disangka akan ketemu di sini yang memanggilnya barusan.


"Hoih... 0057?" masih saja Aylin memanggilnya begitu.


Kayvan tersenyum mendengarnya. Sepertinya 0057 menjadi trademark panggilan ketua TPK ini untuknya.


Tidak, dia tidak keberatan. Sama sekali.


Asal Kai tahu saja, Aylin bahkan menamai kontak Kayvan dengan 0057.


"Kita bertemu lagi, Kak," kata Kayvan sambil tersenyum.


Sejujurnya, Kai tidak menyangka akan bertemu Aylin di sini. Bahkan lengkap dengan gengnya. Dan Kai tidak keberatan dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi. Padahal sepertinya baru beberapa hari yang lalu Kai dengan berani dan nekat mengirimi pesan ke Aylin.


Baru sekali saja waktu itu.


Begitu para cowok selesai dengan permainan sesi pertama mereka, Kai memutuskan untuk menyudahi. Dan memilih menghampiri sosok Aylin yang tengah duduk sendirian. Sementara yang lain melanjutkan permainan mereka sampai benar-benar puas dan sampai waktunya untuk makan siang.


"Boleh saya duduk di sini, Kak Aylin?" tanya Kai kemudian.


Aylin mengangguk perlahan. Tidak ada alasan untuk mengusirnya. Ini tempat umum dan dia juga sedang tidak mood berdebat.


Kai tersenyum sekali lagi lalu mendudukkan dirinya tak jauh di sebelah Aylin.


"Kak Aylin sudah dari tadi?" tanya Kai basa-basi.


"Lumayan," jawab Aylin kalem. Dia lalu menoleh sekilas ke juniornya.


"Kau?"


"Belum terlalu lama," jawab Kai, "Saya dan teman-teman baru saja sampai, terus tadi dipanggil Bang Budi diajak main."


"Hoih... bahasamu formal sekali," komentar Aylin dengan nada sedikit sinis. "Kau sedang nggak berhadapan sama dosen. Jadi santai aja kali."


"Kau juga sedang tidak di Isimaja 'kan?"


Kai yang mendengar perkataan Aylin tersenyum lebar memperlihatkan geliginya. Kedua matanya sampai melengkung ke atas.


"Siap, Kak Aylin," jawab Kai dengan nada riang.


Iya, dia senang bisa lebih santai berbicara dengan seniornya ini.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


Y.


rencananya mau kemarin up, tapi baru sempat sekarang. maaf kalau slow update, sedang sibuk di real life


yap, di sini kai dan aylin lagi mode civil with each other (especially aylin) wkwk


dan di sini kai tampan dan berani XD


lalu kenapa nih dengan si ridwan?


see you next chapter