![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
plan (n): an intention or decision about what one is going to do
.
.
[minor editing | part pendek]
.
.
.
Benar saja, Aylin dan Kai sudah ditunggu oleh anak-anak yang memang menitip pesanan makan siang. Mereka langsung mengehentikan diskusi sengit mereka dan memilih memakan makanan yang sudah datang lebih dulu.
Keadaan menjadi hening. Semua sibuk menikmati mie mereka di tempat duduk masing-masing. Mereka memilih lesehan beralaskan karpet yang memang sengaja disediakan di Third House.
Atmosfer kebersamaan saat ini begitu terasa.
Namun, keheningan tidak berlangsung lama. Percakapan-percakapan ringan mulai muncul di sela-sela acara makan bersama mereka. Sampai satu persatu mie dan minuman masing-masing tandas, habis.
"Bud, aku sama Kai tadi lihat doi," Aylin berujar ke Budi yang tengah minum di samping kirinya.
"Si doi yang confess depan panggung," lanjutnya dengan santai.
Namun, reaksi yang dikeluarkan Budi bukan seperti biasanya—seperti ketika dengan mantan-mantannya dulu. Cowok bermata sipit itu bahkan sampai tersedak, bahkan Aylin tidak bilang siapa namanya—karena dia pun belum tahu namanya.
"Woi, kalem bro, kalem," ujar Taufan.
"Ohok, ohok...!" Budi terbatuk karena air yang dia minum salah masuk saluran. Dia bahkan sampai memukul-mukul dadanya.
"Hah? Di mana?" tanya Budi setelah dia bisa mengendalikan dirinya.
"Deket restoran mie tadi. Tanya aja ke Kai, dia juga lihat," jawab Aylin.
"Hmm..." Budi terdiam berpikir.
"Dia ngapain ya?" tanyanya kemudian.
"Auk," Aylin mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Jujur, baru kali ini dirinya melihat Budi seperti ini gara-gara seorang cewek.
Tidak hanya dirinya, tetapi Naufal, Rima, dan terutama Taufan yang merupakan sobat karibnya sejak SMP, juga dibuat heran dengan tingkah sahabatnya yang tidak biasa.
Mereka tahu apa yang dilontarkan cewek misterius kala itu merupakan pernyataan rasa suka. Bagaimana mereka tahu sedangkan yang diucapkan cewek itu pakai bahasa Jerman?
Ada Naufal yang pas SMA pernah mendapatkan pelajaran bahasa Jerman selama tiga tahun. Dia cukup familiar dengan beberapa kosakata yang dia dengar. Apalagi kalimat yang cewek itu ucapkan merupakan kalimat yang dulu teman-temannya sering pakai buat ala-ala confess ke orang yang disukai.
Ada juga Ojan yang mengonfirmasi kebenaran itu karena dia juga mendapat pelajaran bahasa Jerman saat dia SMA. Ojan bilang, bahasa Jerman merupakan salah satu mata pelajaran yang dia suka makanya dia masih ingat sampai sekarang.
Dan semenjak itu, tingkah Budi jadi aneh. Tidak seperti Budi si playboy biasanya. Membuat Lima Sekawan yang lain, bahkan Kai dan kawan-kawan, heran melihatnya.
Kemudian, Budi mengatakan perkataan yang membuat teman-teman dan juniornya semakin merasa sangsi.
Cowok bermata sipit itu bilang dia ingin mencari tahu siapa cewek misterius itu.
Sangat amat bukan seperti seorang Budi.
"Oh iya, karena semua udah selesai makan, kita lanjut pembahasan yang tadi ya," kata Aji kemudian.
"Yang tadi Bang Topan nelpon soal plan yang melibatkan aku sama Kak Alin itu gimana Mas?" tanya Kai.
"Nah, pas banget kita mau bahas itu," jawab Aji.
Aji lalu menjelaskan rencanya yang sebelumnya mereka bahas. Yang akan melibatkan peran Aylin dan Kayvan.
Rencana yang akan mereka eksekusi itu bertujuan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait kasus yang tengah terjadi. Syukur-syukur menemukan titik terang.
"Kau masih jadi ketua TPK 'kan Lin?" dengan perlahan Aylin mengangguk mengiyakan.
"Bagus. Sebelum pembubaran secara resmi, aku mau kau gunakan posisimu sebagai ketua TPK buat nyari informasi. Kita gali informasi dari TPK fakultas lain, terutama FGK karena mereka dugaan utama sementara kita."
"Dan kau Kai," Aji beralih ke Kayvan, "Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Bedanya kau gunakan posisimu sebagai duta kampus. Kita diuntungkan karena Kayvan tidak hanya duta fakultas. Aku juga akan melakukan hal yang sama di BEM."
"Ada tambahan Frans?" tanya Aji ke Frans yang sejak tadi diam. Cowok yang berwajah dingin itu lalu membuka suara setelah beberapa saat.
"Yang paling penting, jangan ikutan provokasi. Buat siapapun. Di sisi lain, kita juga menghindari kasus ini tersebar ke mana-mana. Cukup yang tahu-tahu aja." Kata Frans dengan nada yang serius. Dia menekankan beberapa kata dalam perkataannya. Menandakan kalau dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Dia lalu menambahkan, "Apalagi ada info kalau kejadian waktu itu melibatkan campur tangan orang luar. Dan kita belum tahu motif apa yang bikin mereka mau ikut campur. Jadi kita semua harus hati-hati."
Semua mengangguk dengan raut wajah serius.
"Oh ya tambahan," Aji berkata kemudian, "Ingat ya kita di sini sama-sama. Saling jaga satu sama lain. Kalau ada apa-apa saling ngabarin, biar kita tahu langkah apa yang bisa kita ambil. Oke guys?"
"Oke Ji!"
"Siap Ji."
"Mantap!"
.
.
.
Budi tengah jalan-jalan di wilayah Fakultas Ilmu Pendidikan. Entah apa yang dia pikirkan sebelumnya sampai dia ada di sini.
Sendirian. Tanpa Naufal dan yang lainnya.
Dia memang terbiasa berpetualang ke fakultas lain dan biasanya untuk mencari gebetan baru. Namun, kali ini dia merasa dia ingin ke Fakultas Hijau. Dan karena Budi adalah orang yang sering mengikuti intuisinya, makanya sampailah dia di FIP.
Belakang ini dia memang merasa aneh. Lebih tepatnya sejak kejadian di Panggung Confession beberapa waktu lalu.
Budi tidak menyangkalnya saat teman-temannya bilang dia jadi tidak seperti Budi biasanya. Karena cowok itupun juga merasakan hal yang sama.
Dia ingat betul saat dia nekat naik ke atas panggung karena dare taruhan dengan beberapa teman sekelasnya. Karena Budi anaknya juga termasuk nekat, makanya dengan pede dia naik ke panggung.
Rencananya dia mau ngelawak atau stand up comedy sekaligus siapa tahu ada hal tak terduga lain.
Nyatanya memang benar-benar mendapat hal di luar dugaannya.
Kesampingkan dengan mantan-mantan yang menyampaikan uneg-unegnya di depan panggung.
Budi ingat betul sosok cewek yang menyatakan suka padanya. Tipe cewek nerd berkacamata yang sangat bukan tipe seorang Budi. Bahkan Budi baru tahu kata-kata yang diucapkannya merupakan ungkapan suka kalau bukan Naufal dan Nana yang mengonfirmasinya.
Salahkan cewek itu karena memakai bahasa yang tidak dimengerti Budi. Seumur-umur dia bersekolah dia belum pernah belajar bahasa Jerman, oke?
Dulu di SMK, dia kedapatan belajar bahasa Jepang sebagai mapel pilihan. Itupun dia hanya ingat kata watashi, anata, arigatou, ohayou, dan konnichiwa saja. Selain itu sudah kabur tidak ingat.
Alias lupa.
Budi sendiri merasa tidak kenal dengan cewek itu. Namun entah kenapa di sisi lain dia juga merasa pernah bertemu.
Siapa dan di mana?
Kapan?
Saat pikirannya sedang tidak fokus dan Budi tidak memperhatikan langkah kakinya, dia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Ouch! Sori, sori," Budi buru-buru membantu membereskan barang-barang yang berjatuhan milik orang yang di tabraknya.
"Ini," Budi menyerahkan beberapa buku yang berhasil dia ambil ke sosok cewek yang masih menunduk memasukkan barang yang berserekan ke tasnya.
"Maaf ya. Beneran nggak sengaja."
"Eh, iya-iya nggak papa," cewek menerima uluran buku-buku dari tangan Budi lalu mendongak.
"Maka... sih," cewek itu terdiam. Ekspresinya terlihat terkejut mendapati siapa orang yang di depannya.
"Eh? Loh..." Budi yang sadar dan familiar dengan sosok di depannya juga ikutan terkejut.
"M-maaf!" cewek berkacamata itu buru-buru mengambil bukunya dari tangan Budi, lalu menunduk. Dia sudah bersiap lari dari sana tetapi hal itu digagalkan oleh Budi.
Cowok bermata sipit itu seolah tahu kalau cewek di depannya akan kabur lagi, langsung buru-buru meraih sebelah tangannya yang bebas untuk mencegahnya pergi.
"Oi, oi! Tunggu dulu," kata Budi, "Aku ingat kau."
.
.
.
Namanya Nala. Lebih tepatnya Nala Anindyaswari. Seperti namanya, dia termasuk orang yang pendiam. Temannya bisa dihitung dengan jari.
Dia bercita-cita menjadi guru atau orang yang terjun di dunia pendidikan. Itulah sebabnya dia di sini sekarang. Di Fakultas Ilmu Pendidikan UHW jurusan Teknologi Pendidikan.
Berhasil masuk dan diterima sebagai mahasiswa UHW hampir dua tahun lalu adalah sebuah kebanggan untuknya. Apalagi dia lulusan SMK sebelumnya. Banting stir memutuskan untuk kuliah yang jurusannya tidak berhubungan dengan mesin tentu cukup perlu perjuangan ekstra.
Meski tajuk jurusan yang dia ambil ada kata 'teknologi'.
Beberapa lalu, Nala iseng berkunjung ke Fakultas Teknik bersama seorang temannya. Andai dulu dia memilih jurusan yang sejalur dengan jurusannya dulu saat SMK, mungkin dia sudah jadi anak Teknik sekarang.
Namun, Nala tak pernah menyesali keputusannya menjadi bagian dari FIP.
Nala dan Audrey, temannya, menikmati acara dengan tema yang terbilang kurang umum di UHW. Mereka terhibur dengan beberapa penampilan dan aksi dari orang-orang yang naik panggung.
Panggung Confession, itulah nama acaranya kalau berdasarkan pamflet dari yang disebar.
Satu persatu orang-orang naik panggung silih berganti. Sampai mata Nala menangkap sosok yang tak asing berdiri di atas panggung sana.
"Nala, bukannya itu cowok yang diem-diam kau suka ya?" ujar Audrey di sebelahnya.
Nala terdiam, tidak membalas. Namun tidak menyangkal perkataan Audrey tentang orang itu.
Audrey satu-satunya orang yang tahu siapa orang yang dia sukai. Cewek berponi itu juga merupakan sahabat satu-satunya Nala sejak SMP. Bedanya Audrey bersekolah di SMA swasta sedangkan Nala nyasar di SMK.
Sampai pada akhirnya Nala dan Audrey bertemu lagi di UHW. Di fakultas yang sama dan jurusan yang sama. Hanya berbeda kelas saja.
Dan di UHW juga, Nala bertemu lagi dengan cowok yang disukainya diam-diam. Yang merupakan kakak kelasnya dulu di SMK.
Salah satu faktor yang membuat Nala juga ingin berkuliah di UHW.
Dan Nala juga tahu orang yang disukainya sering dijuluki playboy karena sering ganta-ganti pacar.
Namun Nala bisa apa? Dia sendiri tak berani menyapanya. Apalgi berinteraksi dengannya. Satu-satu interaksi yang pernah mereka lakukan adalah saat cowok itu menolong Nala dulu saat SMK.
Itupun Nala sangsi apakah dia masih ingat soal itu atau tidak.
Bagi Nala, sosok yang disukainya terlalu jauh. Tidak bisa digapai dan Nala tentu bukan tipenya. Makanya Nala memilih diam dan adakalanya dia curhat ke Audrey tentang perasaannya.
Bahkan ketika dia berkali-kali patah hati saat tahu cowok itu selalu berganti pacar, hanya Audrey yang tahu.
Terkadang Audrey juga ikutan sedih dengan apa yang dirasakan Nala. Masih ada sesal di hatinya saat dia tidak bisa menemani hari-hari Nala di SMK dulu. Hari-hari yang berat dan Nala menjalaninya sendirian.
"Eh? Kau mau ke mana?" tanya Audrey heran saat melihat sahabat pendiamnya itu malah maju mendekati panggung.
"Aku udah mutusin buat bilang Drey," kata Nala. Dia mengepalkan kedua tangannya. Seketika Audrey paham maksud sahabatnya itu.
"Kau yakin?" tanyanya setelah diam beberapa saat, memastikan.
Nala mengangguk.
"Dan mungkin jadi yang terakhir," tambahnya pelan. Namun, Audrey masih bisa mendengarnya.
.
.
.
a.n.
maaf lama updatenya dan cukup pendek part-nya
maaf juga kalau aneh di part ini, terkesan hambar mungkin? belakang ini juga membangun suasana yang pas di sela-sela kesibukan lain buat nulis
and... ada karakter baru, Nala! :D bisa tebak dia siapa?
see you, hopefully, soon