![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Sunmor (acronym): Sunday Morning, a morning market place where people can buy street foods, clothes, or drinks
.
.
.
.
.
Pukul setengah tujuh kurang, Kai, Teo, Ridwan, Neo, dan Ojan menuju pasar sunmor menggunakan sepeda motor. Posisinya adalah Kai memboncengkan Teo dengan motornya, Ridwan memboncengkan Ojan, dan Neo dengan motornya sendiri. Tumben juga Ojan sudah bangun pagi-pagi sekali tadi sehingga Neo dan Ridwan tidak perlu membangunkannya.
Sebenarnya, Ojan juga punya motor sendiri. Namun, daripada terlalu banyak motor malah ribet dan ngurus parkiran juga, Ojan memilih membonceng Ridwan berangkatnya.
Mereka berlima memilih berangkat pagi-pagi biar mudah mencari tempat parkir sebelum penuh. Alasan lainnya adalah sebelum terlalu ramai dan macet juga. Lagipula, Kai juga harus kembali ke asrama untuk siap-siap pergi latihan.
Sesampainya di dekat sunmor, Kai dan kawan-kawan memutuskan untuk parkir di pelataran pendopo desa dekat masjid. Di sana aksesnya mudah untuk keluar masuk dan hanya ada beberapa motor yang baru terpakir di sana. Pasar sunmor itu sendiri terletak disepanjang jalan disebelah barat kompleks penduduk Karangmalang dan Kuningan. Dan masih masuk di dalam area kampus.
Jalan yang Kai lewati kemarin saat mampir masjid kampus adalah tempat pasar sunmor diadakan. Jalan itu juga yang sebagai sekat bagian wilayah kampus timur dan barat. Fakultas yang paling dekat dengan area sunmor adalah FBS, FO, FEB, dan klinik milik FKH.
Bagi Kai, Ridwan, Teo, dan Neo, ini adalah pengalaman pertama mereka semenjak sampai di Jogja. Pasar ini hanya buka setiap hari Minggu pagi. Biasanya akan tutup sekitar pukul sepuluh atau sebelas. Sunmor sendiri adalah akronim Sunday Morning. Sementara Ojan, dia tidak usah ditanya lagi karena rumahnya masih satu kecamatan dengan UHW, cowok itu sudah beberapa kali ke sunmor. Lebih seringnya menemani ibunya atau saudara perempuannya berbelanja.
"Mau nyari apa dulu nih?" tanya Neo.
Mereka berlima tengah berdiri di trotoar jalan yang lengang, di dekat stan kios penjual minuman. Sudah cukup banyak tenda-tenda yang mulai berjualan. Beberapa penjual ada yang baru sampai dan mencari tempat. Ada juga yang lagi dalam proses mendirikan tenda.
"Kita disuruh nyari, handuk selamat pagi, air desa satu setengah liter, susu kebangsaan satu sachet, tiga bantal segi empat, sama obat pribadi," kata Teo sambil membaca daftar tugas untuk besok di ponsel pintarnya.
"Hanya obat pribadi yang normal di sini."
"Handuk selamat pagi itu jelas handuk good morning 'kan?" Kai menebak, "Istilah-istilah yang dipake itu sama kayak buat MOS. Bedanya ya barang yang harus kita bawa lebih sedikit."
"Susu kebangsaan itu susu bendera bukan sih?" tanya Neo ragu, dia mengerutkan alisnya mencoba mengingat-ingat.
"Ingat nggak Kai, Wan, dulu kita pas MOS SMA pernah disuruh bawa?"
Ridwan dan Kayvan mengangguk.
Teo tersenyum senang, "Dua istilah udah terpecahkan. Tinggal sisanya nih!"
"Air desa itu apaan?" tanya Ojan bingung. Baru kali ini dia menemukan istilah itu. Dulu pas dia MOS tidak ada istilah semacam air desa.
"Sama bantal segi empat? Kita disuruh bawa bantal besok apa gimana? Bukannya mau latihan fisik ya, apa malah besok disuruh latihan tidur?"
Neo dan Teo tertawa mendengar celotehan Ojan. Sementara Kai hanya tersenyum geli mendengarnya.
"Coba cek grup. Temen kita udah ada yang nyari nggak," Ridwan berujar memberi usul. Data paketan internetnya habis tadi malam. Dia baru mau beli lagi setelah ini.
"Rata-rata pada nanyain soal air desa sama bantal segi empat," Ojan menggulirkan layar ponsel pintarnya yang menampilkan grup gugus.
"Pemandu kita cuman bantu ngonfirmasi doang, nggak ngasih tahu arti istilahnya," ujar Kai menambahkan. Dia juga melihat grup gugus di ponsel pintarnya.
"Ealah..." Ridwan mendesah rendah. Dia terlihat ogah-ogahan. Kai dan Neo sudah biasa dengan tingkah Ridwan yang seperti itu. Sementara Teo menepuk-nepuk bahu Ridwan untuk menyemangati.
"Tanyain juga dong sekalian," kata Neo.
"Apa?" tanya Ojan. Semua menatap ke arah Neo, menunggu lanjutannya.
"Susu benderanya yang putih apa cokelat ya?"
"Kirain apa," celetuk Ridwan.
"Yeee... siapa tahu ada ketentuan harus cokelat apa putih," sahut Neo dengan sewot.
"Bentar, bentar," Kai mengacuhkan ulah keduanya dan memilih mengetikkan pertanyaan Neo lalu mengirimkannya ke grup.
"Nih, nih, Mbak Haya fast-respon nih," seru Teo yang sejak tadi masih standby memantau grup.
"Apa? Apa?" tanya Neo memberondong.
"Katanya bebas, sesuai selera," Teo memberitahu, "Jadi amanlah ya mau beli cokelat atau putih. Kita belinya yang satu bungkus isi sepuluh aja gimana buat barengan? Feeling-ku kok nggak cuman sehari besok itu ya disuruh bawanya..."
Kai mengangguk setuju mendengar usulan Teo.
"Boleh. Beli dua atau tiga pack sekalian aja. Empat hari 'kan jadwalnya?"
Yang lainnya mengangguk membenarkan.
"Oke fix ya. Buat dua penugasan lain, coba tanya-tanya anak gugus lain siapa tahu mereka udah nemu artinya. Kita pikir sambil jalan nyari handuk sama susu. Sekalian obat pribadi kalau ada yang butuh, sama beli data pekatan Ridwan."
"Googling aja istilahnya. Siapa tau ada, kalau nggak ya nanya yang lain," usul Ridwan dan langsung disetujui Kai.
"Boleh juga," sahut Teo.
"Sambil jalan aja, biar nggak makin lama," kata Neo, "Si Kai kan katanya ada latihan habis ini."
Mereka lalu mulai mencari benda yang dibutuhkan. Ojan memimpin jalan untuk mencari handuk terlebih dahulu. Cowok itu bilang dia ada kenalan penjual pakaian obralan di sana. Dia dan Teo juga menanyakan ke teman mereka yang ada di gugus lain perihal dua tugas lainnya.
Sementara Neo, Kai, dan Ridwan tidak ada teman lama yang ada di gugus lain. Mereka satu SMA dan secara kebetulan ditempatkan di gugus yang sama. Kai sebenarnya ada kenalan dari gugus lain berkat dirinya yang terkenal karena memprovokasi ketua TPK, tetapi cowok itu tidak punya kontak mereka. Mereka—kecuali Ridwan karena paket datanya habis—hanya bisa membantu dengan mencarinya di internet dan memantau grup gugus mereka.
Kai menginfokan teman-temannya, setelah melihat grup, kalau sore nanti sudah bisa mengambil kaos untuk pelatihan fisik. Pemandu gugus mereka akan menunggu di teras gedung dekanat.
"Buat ospek ya?" tanya penjual pakaian ketika Ojan mengatakan maksud tujuan mereka.
"Yoi, Pakde. Wonten mboten Pakde? Buat lima orang," Ojan berujar dengan akrab. Dia juga menggunakan bahasa Jawa yang belum dimengerti keempat yang lainnya. [Ada nggak Pakde]
"Woo... yo jelas ono lah, Jan," jawab bapak itu dengan bahasa Jawa. [Oo.. ya jelas ada lah]
"Bapak udah nyiapin stok kalau-kalau ada mahasiswa nyari buat ospek," kata bapak itu lagi dengan logat agak medhok kepada kelima pelanggannya, "Tiap tahun emang selalu gini, jadi ya tak siapin. Tadi juga sudah ada mahasiswa dari FO apa ya, nyari handuk."
"FO juga, Pak?" tanya Teo penasaran.
Bapak itu mengangguk, "Iya. Yang nyari handuk ginian itu ya cuman FO sama FT pas ospek. Monggo, ini handuknya." [Silakan]
"Diskon ya, Pakde?" tanya Ojan berusaha negosiasi.
Pria paruh baya itu menghela napas sejenak sebelum berujar, "Yaudah. Itung-itung hadiah ucapan selamat keterima kuliah. Bayarnya separuh aja."
"Iya, sama-sama. Sing tenanan le melu Ospek." [Yang serius ikut Ospeknya]
"Ojan ini keponakan saya," pria itu memberitahu keempat yang lain.
"Eh, benarkah?" tukas Neo tidak percaya.
"Iya. Dia anaknya adik perempuan saya. Pas ada pengumuman keterima di FT UHW, sekeluarga pada nggak nyangka, hahaha...."
Mereka berbincang sejenak lalu mengucapkan terima kasih sebelum beralih ke tenda lain untuk mencari susu bendera.
"Mantap bro," ujar Ridwan sambil menepuk-nepuk pundak Ojan.
"Makasih lho Jan. Lumayan dapat diskon 50% hemat uang," Kai berujar. Teo mengangguk menyetujui, sementara Neo mengacungkan dua jempolnya.
"Sans dap," kata Ojan dengan santai, "Kita lanjut nyari susu bendera. Kata pakdeku tadi ada toko yang jual di ujung jalan sana. Sekalian nyari air mineral sama roti tawar."
Setelah pencarian di google, Kai menemukan istilah air desa artinya adalah air mineral semacam Aq*a dan dibenarkan oleh Neo. Untuk istilah bantal segi empat, tidak ada di google. Malah muncul gambar bantal yang sebenarnya. Namun, Teo dapat kabar dari temannya di Gugus 4 Medan, bahwa yang dimaksud bantal segi empat adalah roti tawar!
Ada-ada saja.
Mereka lalu memberitahukan apa yang mereka dapat di grup gugus yang masih kebingungan dengan dua istilah itu. Dan segera dikonfirmasi benar oleh pemandu mereka.
"Air mineralnya bebas 'kan? Nggak harus Aq*a?" tanya Ojan.
"Iya, bebas," jawab Neo yang memantau grup whatsapp.
"Oh yaudah, nyari yang murah aja berarti. Pel*ngi lebih murah dari Aq*a, rasanya juga sama-sama air putih," kata Ojan, "Eh, tapi ada orang yang nggak cocok sama merek tertentu sih..."
"Nyari Pel*ngi aja udah. Pas TM 'kan kita minum itu juga aman-aman aja tuh," seloroh Ridwan. Pasar sunmor sudah mulai ramai orang berlalu-lalang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Mereka belum sempat sarapan juga.
"Rasa air putih doang, cuman beda merek."
"Beli sekalian banyak buat empat hari bisa nggak sih? Biar praktis. Latihan fisik nggak mungkin nggak bawa air minum menurutku," usul Kai.
"Boleh, boleh. Kalau kurang kita tinggal beli di kopma, kalau sisa ya diminum sendiri di asrama," kata Teo setuju dengan usulan Kai.
"Beli roti sama susunya juga sekalian aja. Kita 'kan boncengan, jadi bisalah bawa banyak," tambahnya kemudian.
Mereka lalu menuju toko kelontong yang buka di daerah Kuningan untuk membeli air mineral dan roti tawar. Toko itu berada di tepi jalan dan agak tertutupi oleh stan tenda yang berjualan takoyaki di depannya.
Mereka selesai dengan belanja keperluan untuk besok. Dilanjutkan dengan Ridwan mampir ke konter pulsa untuk membeli paket data, lalu ke burjoan—setelah menaruh barang di motor dan menitipkannya sebentar pada tukang parkinya—untuk sarapan. Lalu mereka jalan-jalan sebentar sambil melihat-lihat tenda-tenda yang menawarkan dagangannya. Siapa tahu ada niat dan tertarik untuk beli. Soalnya ini pengalaman pertama, kecuali untuk Ojan.
Pukul delapan lebih lima belas, Kai balik ke asrama terlebih dahulu karena dia harus siap-siap untuk latihan. Auditorium sedang dipakai untuk hajatan—beberapa gedung UHW memang bisa disewa untuk umum, salah satunya untuk hajatan pernikahan—jadi latihan dipindah ke halaman rektorat yang luas.
Sebenernya, Kai mau membawa barang bagiannya untuk langsung dibawa ke asrama, tetapi Teo dan lainnya malarangnya. Kata Teo, biar dia dan yang lain membawanya sekalian karena Kai juga buru-buru. Daripada kenapa-napa di jalan, lebih baik nyari aman saja.
Kayvan sangat berterima kasih kepada teman-temannya sebelum izin pulang duluan. Mereka menyemangati Kai dan berharap Kai bisa jadi juaranya.
Sesampainya di kamar asramanya, Kai hanya mencuci muka dan berganti pakaian. Kali ini dia mengenakan kaos polo bukan kemeja seperti sebelum-sebelumnya. Tidak lupa jam tangan hitam yang selalu dia kenakan saat bepergian atau ke sekolah. Dia sudah mandi pagi-pagi tadi sebelum berangkat ke sunmor. Sudah kebiasaan soalnya. Lalu merapikan rambut sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh lima menit. Selesai bersiap, Kai memakai sepatunya, kali ini converse navy putih, dan mengambil tas selempanya lalu pergi berangkat.
Dengan mengendarai sepeda motornya, Kai sampai di halaman rektorat pukul sembilan kurang sepuluh menit. Sudah ada mayoritas dari total semua duta fakultas berkumpul di sana. Beberapa panitia dan tim medis mendampingi seperti biasanya.
Kai bergabung dengan teman-temannya, Rian, Angga, dan Damar. Mereka berbincang sejenak sebelum salah satu dari duta fakultas mengajak mereka untuk memulai latihannya.
Dan latihan dimulai pukul sembilan tepat sesuai kesepakatan karena pemain inti sudah berkumpul semua. Yang datang telat dibiarkan menyusul dan menyesuaikan. Itu juga saran dari panitia yang mendampingi agar mereka bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kalau saling tunggu, yang ada waktu terbuang percuma. Sementara waktu untuk persiapan dan lain-lain sangat terbatas.
"Kita mulai latihannya ya gaes! Semangat!"
"Yosh! Semangat!"
.
.
.
Kai selesai latihan pukul empat sore, dengan shalat ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Dia berencana sekalian beli makan untuk makan malam, tetapi Ridwan dan lainnya mengajak buat cari makan malam diluar selepas maghrib nanti. Sekalian pergi ke barbershop buat potong rambut.
Mulai kegiatan latihan fisik besok, semua maba laki-laki wajib memotong rambut—harus botak tiga senti—sampai Isimaja berakhir. Ya seperti potongan cepak Naufal pas TM pertama. Sementara maba perempuan yang tidak berhijab dianjurkan mengikat rambutnya atau potong rambut empat jari di bawah telinga.
Seperti mau baris-berbaris, bedanya aturan potongan rambut yang miba ada kelonggaran.
Hanya dua fakultas yang menyuruh mabanya memotong rambut sampai botak tiga senti untuk yang cowok dan opsi memotong pendek rambut sampai empat jari di bawah telinga untuk yang cewek. Mana lagi kalau bukan FT dan FO?
Fakultas lain biasanya hanya meminta yang maba laki-laki memotong rapi rambutnya dan mengikat rambut untuk maba perempuan yang tidak berhijab. Bahkan FBS dan Fakultas Filsafat mengijinkan maba laki-laki mereka berambut gondrong asal dikucir separuh tanpa poni dengan rapi.
Satu hal yang sama terkait aturan rambut untuk maba, semua fakultas mewajibkan rambut harus tetap hitam dan tidak diwarnai. Kecuali untuk warna rambut yang aslinya, naturalnya, memang berwarna tidak dibuat-buat.
Sambil menunggu ba'da maghrib, lebih baik Kai beristirahat sejenak. Masih ada kurang lebih satu setengah jam lagi.
Tok! Tok! Tok!
Baru lima menit Kai berbaring di kasurnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan agak enggan, cowok itu bangun dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Terlihat sosok Teo yang tersenyum. Cowok itu membawa dua kantong kresek besar di kedua tangannya.
"Malah repot-repot, Yo. Padahal bisa kuambil nanti pas sekalian keluar," kata Kai dengan tidak enak. Namun, dia tetap menerima dua kantong kresek itu dan menaruhnya di dekat meja belajar.
"Nggak papa, Kai. Sekalian aku mau turun juga ngambil paket," ujar Teo.
"Oh iya, kaosnya juga udah diambilin tadi. Tak taruh di dalem kresek juga."
"Makasih ya Yo, malah ngerepotin," kata Kai sekali lagi.
"Santai aja. Kalau gitu aku duluan ya," setelah itu Teo lalu beranjak pergi ke lobi untuk mengambil paket katanya tadi.
.
.
.
.
a. n.
Sunmor di cerita ini emang based on the real place