Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Hue and Cry



hue and cry (n): a loud clamor or public outcry


.


.


[maaf baru bisa update | minor editing | warning! ada kata-kata kasar, harap bijak dalam membaca]


.


.


.


Untuk pertama kalinya selama dia menjadi mahasiswa FT, Kai merasakan langsung tentang bagaimana FT UHW 'bekerja'.


Selama ini Kai hanya mendengar cerita dari orang-orang. Terutama kakak sulungnya, Rivan, dan juga bibinya—adik bungsu ayahnya. Keduanya merupakan alumni FT UHW dan bisa dikatakan mengenal baik seluk beluk FT.


Bukan hanya sekedar tahu sebagai mahasiswa. Namun, pernah terlibat langsung.


Melihat bagaimana para senior menjaga adik tingkat mereka, terutama yang masih angkatan pertama, membuat Kai jadi semakin yakin kalau embel-embel 'Brotherhood' di slogan FT bukan hanya omong kosong saja.


Sejak Kai membantu Teo melakukan apa yang diperintahkan Aylin, Kai melihat aksi yang dilakukan oleh para senior itu. Bahkan yang sebelumnya anggota TPK yang dibenci atau senior yang masih asing terlihat tak segan menjaga adik-adiknya.


Meski sebenarnya, Kai belum benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


Namun, satu dua hal dia sudah mulai sedikit paham soal kondisi sekarang.


Yang pertama adalah semua anak-anak FT diwanti-wanti agar tidak keluar area FT atau berada di sekitar dekat wilayah FT untuk sementara waktu. Kalau terpaksa, mereka harus pergi bersama-sama.


Tidak boleh ada yang sendirian.


Yang kedua adalah, sepertinya kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya. Sesuatu yang membuat para senior lebih siaga dan tanggap. Sesuatu yang terdengar berbahaya sedang terjadi.


Karena Kai yakin, sesuatu yang terjadi itu bukan masalah sepele.


Apalagi melihat reaksi para senior itu sendiri.


Kai memutuskan untuk mencari tahu. Persetan dengan peringatan Aylin tadi.


Dia jauh lebih khawatir dengan pacarnya yang meski Kai tahu Aylin cukup bisa menjaga dirinya. Di sisi lain, Kai juga penasaran dengan apa yang terjadi. Apa yang menyebabkan semuanya jadi seperti ini.


Kai tidak benar-benar menyelinap pergi begitu saja. Dia bilang ke Teo kalau dia akan mengecek keadaan di tempat lain.


"Hati-hati Kai," kata Teo pada akhirnya. Sebenarnya dia juga penasaran dan ingin ikut mengecek. Namun, dia masih harus mengecek dan memastikan anak-anak tahun pertama baik-baik saja. Teman-temannya tetap aman.


Sesuai dengan apa yang di arahkan para senior.


Kai berlari kecil ke arah para senior yang dilihatnya tadi pergi. Ke arah gerbang sisi barat yang jarang digunakan.


Semakin mendekat, Kai semakin jelas mendengar suara keributan. Membuatnya semakin penasaran.


Kai terkejut dan nyaris saja kena saat sebuah patahan balok kayu yang cukup besar hampir mengenainya.


Apa yang dilihatnya di luar sana membuatnya membulatkan matanya terkejut.


Keadaan di sana benar-benar terlihat kacau.


Kai seperti merasa de javu dengan apa yang dia lihat saat ini. Saat dirinya dan Neo menyusul Ridwan yang terlihat tawuran lebih dari setahun lalu.


Belum sempat dia melangkah lebih jauh, seseorang menariknya cukup kencang.


Kai tersentak lalu menoleh, dan melihat pacar yang dicarinya ternyata yang menariknya. Raut wajahnya mengeras, terlihat kaku seperti saat dia menjadi ketua TPK.


Namun, Kai bisa melihat sorot kekhawatiran di matanya yang indah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Aylin dengan sedikit membentak. "Sudah kubilang jangan keluar kampus sembarangan. Kau bisa nggak sengaja terlibat dan masalah makin tambah runyam."


"Aku mencari Kakak," kata Kai dengan sejujurnya. Dia tahu Aylin juga khawatir padanya. "Aku khawatir sama Kak Alin."


Aylin menghela napas menenangkan diri.


"Aku baik-baik aja. Sebelum kau tanya, Rima juga baik-baik aja. Dia sekarang nyusul Nopal sama Aji."


Aylin dan Kai menjadi awas saat keduanya mendengar suara keributan dan pertikaian di balik tembok pagar pembatas. Terdengar semakin sengit.


Aylin segera menarik lengan pacarnya untuk bersembunyi. Aylin tadi mendapat pesan—lebih tepatanya perintah—langsung dari Frans agar jangan ada anak-anak FT lain yang tidak sengaja ada di tempat dan waktu yang salah.


Karena Aylin sangat paham dengan maksud Frans, makanya Aylin benar-benar memastikan tidak ada anak FT lain yang berkeliaran di area ini. Dia tidak sendirian, ada Budi dan Taufan yang membantunya sebelum keduanya menyusul Rima ke tempat Nopal dan Aji berada.


Salah satu resiko sebagai ketua BEM adalah mau tidak mau berurusan dengan masalah seperti ini. Biasanya mereka yang memastikan masalah tidak membesar sampai ke jajaran dekanat dan petinggi kampus lain.


Membuat para orang tua itu turun dan bisa saja penyelesaiannya akan jadi berbeda.


Nah, baru urusan di lapangan sampai memastikan masyarakat umum tidak terlibat itu menjadi urusannya Raja Teknik.


Aylin masih ingat jelas bagaimana dulu Teguh turun ke jalan bersama pasukannya saat sekelompok geng meneror di gang-gang dekat wilayah asrama kampus FT dan FGK. Sampai harus tawuran saat anak-anak geng itu tidak mau damai.


Aylin ingat betul dia dan Rima sampai khawatir untuk sekedar keluar beli makan malam-malam karena bakal dihadang geng itu.


Setiap kota punya sisi gelapnya. Termasuk dengan Kota Pelajar itu sendiri.


Lalu sekarang Frans yang mengambil alih posisi Teguh. Namun, kali ini sepertinya lebih parah sampai membuat Frans yang tidak mau terlibat harus turun untuk menyelesaikannya.


Frans tipe orang yang tidak akan membalas jika tidak diusik lebih dulu. Apalagi sampai ada pasukannya segala.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kai pada akhirnya. Dia sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya.


Apalagi saat ini dia dan Aylin terjebak di tengah-tengah tawuran di persembunyian mereka.


"Kau udah tahu bukan kalau fakultas kita punya love-hate relationship sama fakultas sebelah?" tanya Aylin retorik.


Kai tahu siapa fakultas sebelah yang dimaksud.


"Kayaknya mereka dendam gara-gara Sport Week kemarin. Mana mereka sampai kena sanksi kan? Terus ini juga ada hubungannya sama kasus si Ridwan kemarin-kemarin. Ada yang curiga kalau tiga yang mukul Ridwan itu anak FGK, tapi ini masih perlu dikonfirmasi lagi oleh Ridwan sendiri. Dan sayangnya, dua diantaranya itu bukan anak FGK. Entah siapa mereka.


"Sialnya lagi, Ridwan bukan korban satu-satunya meski dia yang paling parah. Ada beberapa anak FT laporan kalau mereka diganggu. Nggak sampai dikeroyok kayak kasusnya Ridwan. Mungkin karena temanmu itu yang secara nggak langsung mempermalukan mereka. Yang ngebuat dia jadi target utama. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa mereka sampai segitunya?"


Kai mendengarkan dengan seksama penjelasan Aylin. Namun dia juga tetap waspada kalau-kalau tempat persembunyian mereka ketahuan.


Teriakan, benda jatuh, dan suara-suara lain bisa mereka dengar. Baru kali ini dia melihat seniornya yang terkenal kalem dan dingin semarah ini.


"Jan***!" suara teriakan Frans terdengar dari tempat mereka.


"Kalian lebih dulu ngelanggar perjanjian su! Kalah mah kalah aja pant**! Nggak perlu ngeroyok bikin anak orang masuk rumah sakit. Wanine keroyokan! Jan*** koen!" [Beraninya keroyokan]


Logat Suroboyoan-nya sampai keluar.


Kai dan Aylin melihat Frans memaki-maki anak-anak FGK yang tersisa. Cowok itu sepertinya berhasil mengalahkan mereka. Terlihat cowok-cowok FT yang lain menatap cowok-cowok FGK dengan sengit. Sebagian besar dari mereka babak belur meski tidak separah anak-anak FGK.


"Kak Alin!" seruan Kai membuat semua orang menoleh ke arah mereka.


Dengan gerakan cepat, Kai menendang tangan yang memegang batu dengan keras. Belum puas dengan hal itu, Kai memukul wajahnya sampai orang itu berteriak kesakitan.


Sejak tadi Kai memang selalu siaga. Matanya awas melihat sekitar. Itulah sebabnya dia bisa dengan mudah mencegah seseorang yang ingin melempar batu cukup besar di belakang tak jauh dari Aylin.


Pengalamannya mengurus Ridwan yang terlibat tawuran membuatnya jadi lebih peka.


Aylin masih agak syok di tempatnya. Mungkin kalau Kai tidak menyadarinya, Aylin sudah jadi sasaran batu yang dilempar tanpa dia sadari.


Kai buru-buru menghampiri Aylin yang masih terdiam. Raut wajah cowok itu terlihat sangat khawatir. Dia lalu mengecek, memastikan pacarnya baik-baik saja. Sedikit saja dia terlambat menyadarinya, senior kesayangannya ini akan celaka.


"Kakak nggak papa 'kan?"


Dengan perlahan, Aylin mengangguk tanpa suara. Dia masih cukup kaget. Apalagi melihat apa yang dilakukan Kai pada orang yang masih mengaduh kesakitan tak jauh dari mereka.


Si Tuan Muda yang rapi semacam Kayvan baru saja menendang dan meninju orang sampai jatuh kesakitan.


"Mbak Lin, Kai," panggil Frans yang berjalan mendekati mereka.


"Ada hal yang ingin kubicarakan. Bilang ke Bang Nopal sama Mas Aji juga. Aku mau ngurus mereka dulu," kata Frans sambil mengerling ke sisa anak-anak FGK yang terlibat.


Aylin lebih dulu menjawab. "Kita ketemu di Third House."


Frans lalu menoleh ke arah Kai. "Ajak sekalian teman-temanmu. Sepertinya ini berhubungan dengan temanmu yang bernama Ridwan."


Kai mengangguk tanpa suara.


.


.


.


Semua sudah berkumpul di Third House. Lima Sekawan, Empat Serangkai, Aji, Enggar dan para pentolan angkatan lain, dan tak lupa Kayvan and the gang.


Termasuk Ridwan juga ada di sana.


Meski memar-memarnya masih belum hilang sepenuhnya dan tangannya yang harus di gips, tidak menahannya untuk nekat datang. Apalagi setelah mendengar penjelasan singkat dari Kai kalau kejadian hari ini ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Third House saat ini sudah seperti sebuah markas komplotan geng.


Ojan dan Neo semenjak memasuki Third House dan melihat orang-orangnya jadi merasa tegang. Meski mereka tahu, mereka adalah senior-senior mereka yang kebanyakan sudah akrab.


Namun karena atmosfernya yang terasa sangat serius, membuat mereka tegang dan sedikit takut.


"Gimana Frans?" tanya Aji. Cowok yang biasanya ramah dan suka bercanda itu kali ini terlihat lebih serius.


Apalagi Enggar dan Budi yang bisa dibilang tidak bisa diam. Kali ini benar-benar hanya diam dengan raut wajah serius.


Frans lalu membuka suara. Apa yang dia sampaikan sebelas dua belas dengan apa yang dikatakan Aylin ke Kai tadi.


"Haris nggak sengaja dengar kalau ternyata ada dua tikus penyusup," Haris membenarkan perkataan Frans.


"Tadi pagi pas apel ke fakultas sebelah, aku nggak sengaja dengar gerombolannya si Vino ngomong kalau ada orang luar yang bantu mereka," Haris menjelaskan.


Haris itu sebelas dua belas dengan Budi. Player dan mantannya banyak.


Aslinya, dia juga sekongkol dengan Budi buat jadi mata-mata. Lebih tepatnya Budi yang punya ide buat jadi mata-mata. Sebuah ide gila yang muncul di benak Budi tanpa memberitahu Aylin dan yang lain. Itulah kenapa Aylin dan yang lain suka agak tidak paham dengan jalan pikiran Budi—mungkin terkecuali Taufan yang sepertinya sudah paham dengan jalan pikiran Budi yang out of the box.


Setelah mendengar Ridwan dan beberapa anak FT lain yang diserang dan anak-anak FGK yang tiba-tiba menantang mereka setelah berminggu-minggu tenang sejak Sport Week selesai digelar.


Apalagi Ridwan yang jadi sasaran utamanya. Salah satu junior yang menjadi bagian dari FT.


Dan berbagai kejanggalan lain.


Jadi saat tawuran tadi, Haris memang tidak ikut. Dia ada di FGK posisinya. Sepik-sepik ke gebetan barunya sambil sekalian mencari tahu kalau gebetannya itu punya informasi atau tidak.


Dan jackpot!


Dia bahkan mendapat informasi yang tidak dia sangka-sangka. Dia lalu segera mengabari Asep yang tidak ikut terjun dengan pura-pura mendapat telepon dari ayahnya. Biar tidak ada yang curiga.


Kenapa tidak Budi langsung saja yang melakukannya?


Semenjak Budi mendapat pengakuan yang mengejutkan di acara Panggung Confession beberapa waktu lalu, cowok itu jadi jarang tebar pesona karena masih kepikiran dengan siapa orang itu.


Jadi kasus pengakuan tak terduga ke Budi kala itu belum terpecahkan sampai sekarang.


"Orang luar?" tanya Naufal memastikan.


Frans dan Haris mengangguk.


"Menarik," kata Naufal sambil mengusap dagunya.


"Bentar, bentar," Enggar menyela. "Si Vino Vino ini itu yang mana ya orangnya? Kayak pernah denger itu nama."


"Seangkatan sama Frans. Anak basket juga dia," jawab Budi akhirnya bersuara.


"Kayaknya pas final waktu itu si Vino ini juga ikut main," dia menambahkan.


"Vino?" gumam Kai terlihat berpikir. Dia dan Neo bertukar pandang. Mereka lalu mengerling ke arah Ridwan yang masih berwajah datar. Namun, keduanya bisa melihat rahangnya mengeras dan sorot matanya yang dingin saat cowok jangkung itu mendengar nama Vino disebut.


"Bang," Kai bersuara, "Orang bernama Vino ini siapa nama lengkapnya?"


Meski terlihat heran, Budi menjawab, "Kalau nggak salah namanya Alvino Herianto. Eh iya nggak sih?"


Tak disangka, Ridwan yang menimpalinya. "Alvino Prasetya Herianto."


"Nah iya," Budi membenarkan.


Ridwan mendengus dan tersenyum meremehkan. Membuat hampir semua orang di ruangan itu bertanya-tanya.


"Sudah kuduga orang pengecut itu terlibat juga," katanya.


"Kau tahu orang itu Wan?" Teo bertanya dengan penasaran.


"Bukan hanya sekedar tahu. Bahkan aku sangat mengenalnya," jawab Ridwan dengan nada santai.


"Dan sekaligus buat menjawab dugaan kalian semua," Ridwan menambahkan.


"Orang bernama Vino itu juga yang jadi salah satu pelaku pengeroyokan."


Semua orang yang ada di ruangan tersebut bereaksi macam-macam.


"Edan!" Haris berseru. "Jadi dia terlibat langsung?"


Ridwan mengangguk.


"Kau yakin itu dia Wan?" tanya Neo terlihat khawatir. Dia ingin memastikan kalau nama yang dia dengar itu keliru. Teo dan Ojan menatap keduanya dengan penasaran sekaligus ikut merasa cemas juga.


"Ya."


"Kalau Vino terlibat, apa menurutmu orang itu juga terlibat?" Kai berspekulasi. Dia menatap Ridwan dengan pandangan bertanya.


Ekspresi Ridwan semakin mengeras. Matanya berkilat semakin tajam. Menunjukkan baranya. Sementara tangan kirinya mengepal kuat.


"Entahlah," jawabnya terkesan hampa.


"Hei Ridwan," panggil Rima yang sejak tadi hanya diam di tempatnya.


"Si Vino Vino ini bukan seperti yang kupikirkan 'kan?" tanyanya memastikan. Dia tidak mau percaya begitu saja kalau Si Vino itu adalah salah satu dalangnya.


Ridwan menatap ke arah Rima dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Menurutmu bagaimana?" Namun, Rima seolah paham apa maksudnya.


"Jan***!" sebuah umpatan keluar dari mulut Rima kemudian.


"Oke guys," Taufan menyela, "Ada yang bisa jelaskan situasinya? Kurasa selain kalian, kita di sini nggak mudeng dengan omongan kalian."


Semua orang yang dimaksud Taufan mengangguk setuju.


"Jadi siapa Vino ini? Kenapa dia menargetkan Ridwan?" tanya Taufan.


"Kau kenal dia Wan?" kali ini Budi yang menyambung untuk bertanya.


"Lebih dari yang kau tahu, Bang," jawab Ridwan dengan nada yang terkesan santai.


.


.


.


Kai dan Aylin tengah mampir ke restoran mie di dekat kampus untuk makan siang yang terlambat. Sekaligus membelikan titipan teman-teman yang lain yang masih ada di Third House.


Mereka masih membahas masalah tadi dan beberapa hari terakhir ini. 'Mereka' yang dimaksud adalah Empat Serangkai, Lima Sekawan, dan para petinggi dari anak-anak FT. Ditambah Neo, Teo, Ojan, dan Ridwan yang masih di sana.


Lebih tepatnya Ridwan yang memilih untuk ikut bergabung membahas kejadian yang melibatkannya. Lalu Teo yang penasaran dan ingin tahu titik permasalahannya. Sedangkan Neo dan Ojan yang sungkan untuk meninggalkan teman-teman mereka yang memilih tinggal.


Mereka yang ada di Third House masih mengira-ngira. Banyak spekulasi berputar pada permasalahan yang bukan kali pertama terjadi. Namun, kali ini masalah ternyata lebih dari yang mereka kira.


Bahkan sampai melibatkan pihak luar. Hal yang membuat mereka berpikir kalau kejadian tadi bukan hanya perkelahian atau tawuran biasanya.


Sepertinya ada hal lain, tetapi apa?


"Udah, yuk?" ujar Kai menghampiri Aylin. Dia sudah selesai membayar semua pesanan mereka. Lalu membantu Aylin membawa pesanan mereka menuju ke mobil. Hari ini Kai memang sengaja membawa mobilnya.


Saat hendak bersiap pergi, mata Aylin tak sengaja melihat seseorang yang familiar.


"Eh? Bukannya itu cewek yang kapan hari confess ke Budi ya?" kata Aylin. Matanya tak lepas menatap ke arah cewek yang dimaksud.


"Hmm?" Kai mengikuti arah pandang Aylin dan melihat siapa yang dimaksud. Cewek berkacamata yang tengah berjalan tak jauh melewati samping mobil mereka.


"Kakak benar," Kai membenarkan. "Dia adalah orang yang sama."


Tiba-tiba dering ponsel Aylin berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk. Aylin lalu mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang ternyata dari Budi.


"Lin, di mana?" tanpa tedeng aling-aling, Budi langsung bertanya dari seberang telepon.


"Masih di jalan," jawab Aylin.


"Suruh Kai nyetir cepet. Laper woy! Jangan pacaran mulu cok." terdengar suara grusak-grusuk di seberang sana sebelum suara Taufan yang terdengar.


"Dah makcik jangan dengerin Budi," kata Taufan. "Selain karena kita udah laper, kita punya plan yang ngelibatin kalian berdua. Jadi cepet ke sini, oke?"


"Oke."


Telepon terputus.


Aylin lalu bilang apa yang dikatakan Taufan ke Kai. Lalu keduanya bergegas ke Third House.


Sebelum benar-benar meninggalkan area restoran mie, Aylin menoleh ke tempat tadi di mana dia melihat sosok cewek itu. Namun, cewek itu sudah tidak ada di sana. Entah masuk ke restoran atau hanya lewat.


.


.


.


.


.


.


a.n.


maaf baru sempat up. akhir-akhir ini memang sibuk di kerjaan dan persiapan mau resign karena mau lanjut studi 🙂


untuk part selanjutnya diusahakan tepat waktu ya. entah besok bakal side story atau lanjutan dari part ini


.


.


by the way...


.


Tebak siluet siapa mereka?



Jadi untuk beberapa part selanjutnya akan fokus ke mereka juga.


It kinda the third main couple in this story after Kai-Alin dan Frans-Bia.


Again, sorry for the late update. I'll update the next chapter as soon as possible when i get the time.


i won't tell any spoiler for this chapter. you have to figure out by reading it after i post the chapter.


see u soon (hopefully)