Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Touch and Go Situation



Touch and go (adj): (of an outcome, especially one that is desired) possible but very uncertain


.


.


[baru minor editing, a quite long chapter]


.


.


.


Aylin tengah berjalan ketika dia melihat punggung seseorang yang dikenalnya. Hari ini dia memang sengaja tidak membawa sepedanya karena dia berangkat bersama Ana, teman sekelasnya yang menginap. Keduanya tengah menyicil mengerjakan tugas mini proyek yang harus dikumpulkan minggu depan.


"Oi, Ridwan!" Aylin memanggil orang itu. Cowok yang dipanggil namanya berhenti dan menoleh. Dia mengangkat tangannya yang tidak di-gips sebagai balasan sapaan.


Cewek itu lalu berjalan ke arah sahabat pacarnya itu.


"Ke Third House 'kan?" tanya Aylin pada juniornya. Ridwan mengangguk sebagai jawaban. Lalu mereka berdua berjalan ke arah Third House. Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka.


Keduanya memang tipe orang yang lebih suka diam dan tidak suka basa-basi. Jadi suasana hening bukan jadi masalah bagi mereka.


Mereka ke Third House karena memang ada "meeting" terkait masalah yang akhir-akhir ini tengah terjadi. Apalagi sasaran utamanya adalah junior di sebelah Aylin ini.


Aylin sendiri kebetulan habis selesai menyetak laporan tugas yang dikumpulkan besok. Tidak ada kelas setelah ini. Makanya ketika Frans mengirim pesan ke grup darurat yang berisi orang-orang yang terlibat kalau ada meeting di Third House, cewek itu bisa datang tanpa masalah. Lalu dia bertemu Ridwan di jalan.


Sedangkan Ridwan baru saja selesai dari kelas. Dia tidak bersama Teo yang sekelas dengannya karena cowok itu ada urusan lebih dulu ke sekretariat DPM. Jadinya menyusul setelah urusannya selesai.


Jarak Third House dari area FT tidak begitu jauh. Hanya lima belas menit jalan kaki. Jarak terasa jauh dan lama karena memang lokasi Third House yang masuk-masuk gang meskipun dekat Asrama C.


Langkah keduanya terhenti. Tak jauh di depan mereka ada segerombolan orang, enam sampai tujuh kalau Aylin tidak salah hitung, yang menghadang mereka.


Aylin tidak mengenal mereka dan cewek itu juga cukup sangsi kalau juniornya juga mengenal orang-orang itu. Namun, keduanya sudah bersiaga dengan mata yang awas.


Aylin bukan Rima yang jago, bahkan praktisi, bela diri. Seumur-umur dia belum pernah ikut latihan bela diri karena memang tidak terlalu tertarik. Namun, dia tahu dasar-dasar pertahanan diri yang pernah diajarkan ayahnya. Jaga-jaga ketika dia berada pada keadaan yang membutuhkan pertahanan diri.


Meski begitu, kalaupun amit-amit nanti mereka diserang gerombolan di depannya, Aylin tidak bisa membantu Ridwan. Aylin tahu juniornya memang jago berkelahi dari cerita-cerita Kayvan. Namun, kondisinya sekarang mungkin akan sedikit kurang menguntungkan.


"Mbak Alin, kau kenal mereka?" tanya Ridwan pelan. Mata tajamnya dengan awas mengamati gerak-gerik gerombolan di depan mereka.


Aylin menggeleng. "Aku nggak pernah melihat mereka sebelumnya."


Diam-diam, Aylin mengirimkan pesan ke grup darurat mereka.


'SOS.


Aku sama Ridwan dihadang orang'


Aylin buru-buru menutup ponselnya tanpa menunggu balasan.


Ridwan dan Aylin semakin siaga ketika gerombolan itu berjalan mendekat. Jantung Aylin sudah berdebar begitu kencang. Jujur dia khawatir dan takut sekarang. Meskipun jalan yang mereka lewati ini tidak sepi jadi kalau dia berteriak pasti orang akan mendengarnya, tetap saja rasanya was-was.


Tiba-tiba mereka terhenti. Gelagat mereka seolah-olah malah jadi ragu.


Aneh sekali!


Ridwan dan Aylin saling lempar pandangan. Keduanya jadi bingung. Meski begitu mereka tetap tidak mengurangi kewaspadaan mereka.


Mereka terlihat sedikit berdebat. Entah apa yang didebatkan. Namun, salah satu dari mereka menggerakkan dagunya ke arah Ridwan dan Aylin berada. Seolah menunjuk mereka sebelum mereka kembali berjalan mendekat. Ekspresi mereka terlihat galak dan seram.


Bukan seperti topeng ekspresi yang dipasang anak-anak TPK. Lebih ke eskpresi preman tukang pukul yang ditujukan ke mangsa mereka.


Sekali lagi langkah mereka kembali meragu. Mata Aylin melirik awas ke kanan kirinya. Kalau-kalau ada hal yang membuat mereka begitu.


Aylin melihat sekelebat warna merah marun mendekat.


Satu, dua, tiga, dan lama-lama semakin banyak.


Ridwan dan Aylin mengamati sekeliling mereka. Terlihat banyak anak-anak FT yang mengenakan jaket korsa muncul entah dari mana. Membuat gerombolan berpenampilan seperti preman itu mundur. Semakin mundur ketika anak-anak FT yang muncul lebih banyak dan seolah mengepung mereka. Membuat mereka jadi kalah jumlah.


Tidak lama kemudian, gerombolan itu pergi. Memilih kabur.


Aylin dan Ridwan kembali melempar pandang. Bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Di sisi lain juga merasa cukup lega. Tidak lagi perlu bersikap defensive.


Salah satu orang berkorsa FT mendekati mereka berdua.


"Ke Third House 'kan?" tanyanya.


Aylin dan Ridwan mengangguk perlahan, mengiyakan.


"Kuantar aja kalian sekalian. Yok," tanpa menunggu persetujuan keduanya, orang itu sudah lebih dulu berjalan di depan mereka. Mau tidak mau Aylin dan Ridwan berjalan menyusulnya.


Aylin kembali melihat sekelilingnya. Anehnya, anak-anak FT yang barusan dia lihat begitu banyak dari berbagai sisi hanya menyisakan beberapa. Itupun mereka berjalan menjauh, kembali dengan urusan masing-masing.


Aylin jadi semakin keheranan, dan juga penasaran. Aylin tidak begitu kenal dengan wajah-wajah anak FT tadi yang tertangkap pengelihatannya. Namun, dia juga tidak asing dengan mereka. Jadi Aylin percaya kalau mereka benar-benar anak FT.


Bahkan orang yang mengantarnya dan Ridwan saja Aylin tidak tahu namanya, tetapi wajahnya tidak asing.


Yang jelas bukan maba.


Siapa yang menyuruh anak-anak FT itu? Kenapa mereka tiba-tiba muncul seolah tahu dia dan Ridwan dihadang para preman entah dari mana itu yang kemungkinan suruhan entah siapa.


Untuk anak-anak FT itu, apa Frans yang menyuruhnya? Secara tadi dia mengirimkan pesan ke grup yang mesti dibaca cowok jangkung itu.


Namun Aylin tidak memberitahukan lokasinya sama sekali.


Tanpa Aylin sadari, mereka sudah sampai di depan halaman Third House yang memang cukup luas.


"Dah sampai. Aku duluan ya, jaga diri kalian baik-baik," kata orang yang mengantar mereka. Sebelum pamit pergi ke arah yang berlawanan.


"Kejadian barusan ini rasanya aneh," komentar Ridwan.


"Kau benar," Aylin sependapat.


Keduanya memasuki Third House disambut wajah-wajah khawatir penghuninya. Ada Frans, Ojan, Naufal, Taufan, Rima, Adi, dan Aji. Orang-orang yang tidak ada di sana kemungkinan besar masih ada kelas atau urusan lain.


"Kalian nggak papa?" tanya Rima mewakilkan mereka yang ada di sana.


"Kami nggak papa," jawab Aylin menenangkan. Kemudian, dia menceritakan apa yang sebanarnya terjadi. Sementara Ridwan lebih dulu berjalan ke arah sofa terdekat untuk duduk. Cowok itu lalu membenarkan apa yang dikatakan Aylin.


"Anak-anak FT pakai korsa kau bilang?" tanya Frans. Aylin mengangguk sambil menundukkan dirinya.


"Mereka tiba-tiba datang dan banyak?" tanyanya memastikan sekali lagi.


"Iya. Kupikir itu ulahmu. Kau menyuruh mereka setelah aku ngirim pesan ke grup."


Frans menggeleng. "Aku belum ada minta tolong anak FT lain. Malah aku baru nanya posisi Mbak Lin sama Ridwan di grup tapi nggak ada balesan."


"Hmm..." Aylin terlihat berpikir. Dia tadi memang buru-buru mematikan ponselnya jadi tidak tahu apa yang terjadi setelah pesannya terkirim.


"Aku tadi juga sempet meneleponmu Wan, tapi nggak kau angkat," Rima berkata kepada Ridwan.


"Maaf," kata Ridwan sambil menunjukkan ponselnya, "Ponselku masih mode senyap, jadi nggak tahu."


"Kalau bukan Frans, lalu siapa yang nyuruh anak-anak FT begitu?" pertanyaan Aji mereka kembali berpikir. "Kalau aku jelas nggak mungkin. Aku juga baru aja datang sama nggak buka grup."


Dan Aji juga jelas tidak mungkin melakukannya. Dia hanya ketua BEM FT ingat? Bukan Raja Teknik.


"Yang nyuruh Bang Teguh," kata Frans kemudian. "Dan anak-anak FT yang tadi Mbak Lin lihat sama Ridwan tadi itu kemungkinan besar angkatannya Bang Teguh. Barusan aku konfirmasi langsung."


"Mbak Lin, mending buka ponsel deh. Kai nanyain tuh. Dari tadi spam chat di grup."


Buru-buru Aylin membuka ponselnya. Yang ternyata power off karena mungkin tadi Aylin salah menekan tombol karena buru-buru.


Setelah ponselnya menyala, banyak notifikasi yang masuk. Termasuk panggilan tak terjawab dan puluhan pesan dari Kayvan Candra.


Tak berselang lama, panggilan dari Kai masuk.


Dia lalu memutuskan untuk menepi sejenak dan mengangkat teleponnya.


.


.


.


Pada akhirnya, Aylin pulang bersama Kai. Kini mereka tengah makan malam berdua di lobi asrama F.


Kai datang menyusul begitu kelasnya selesai. Dia datang bersama Neo yang memang sekelas dengannya. Cowok benar-benar khawatir ketika dia membuka grup dan membaca pesan yang dikirimkan Aylin. Dia bahkan sampai keluar kelas untuk mengirim pesan dan menelepon Aylin ke nomornya langsung. Semakin panik ketika tidak mendapatkan respon apapun.


Dia juga sempat tanya pada Frans dan Ridwan.


Nyaris saja dia nekat membolos ketika dia mendapat pesan dari Frans kalau pacar dan sahabatnya sudah sampai di Third House.


Dia menghela napas lega. Cowok itu kembali menelepon senior kesayangannya untuk memastikan keadaannya.


Dan sekarang, dia tengah memakan makan malam mereka bersama-sama di lobi. Sesekali mengobrol membahas pertemuan di Third House tadi.


Pertemuan yang mereka lakukan di basecamp tadi menghasilkan beberapa fakta menarik dan mengejutkan.


Tentang apa yang didengar dan dilihat Frans tempo hari saat mau mengambil sepeda motornya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di ruangan itu heboh. Sementara lakon utamanya hanya diam tak memberikan respon berarti.


Lalu tentang hubungan sebenarnya antara Ridwan dan Vino, membuat reaksi terkejut dari sebagian besar orang di sana.


Kemudian terkait mantan Raja Teknik yang memilih ikut turun membantu para juniornya secara tidak langsung, dengan membantu mengawal dan mengawasi. Hal yang tidak disangka-sangka sebenarnya.


Selanjutnya adalah informasi yang didapatkan Frans mengenai geng yang ikut campur tangan dalam pengeroyokan Ridwan dan penyerangan beberapa waktu lalu. Sejauh ini, baru konfirmasi kebenaran dan rencana mereka—di sini Frans tidak menjelaskan secara detil soal rencana apa itu karena dia juga baru tahu sebatas itu. Frans belum mendapatkan kabar lebih lanjut lagi mengenai siapa saja pastinya yang terlibat dan motifnya dari informan yang dia hubungi.


"Aku jadi penasaran, Kak," Kai berceletuk.


"Siapa sih informan yang dihubungi Bang Frans?" tanya Kai. "Penasaran aja karena kelihatannya Bang Frans punya banyak mata di mana-mana."


"Oh... itu," Kai menatap Aylin dengan penuh, menunggu jawaban dari senior kesayangannya.


"Kemungkinan besar itu kawan baiknya dari salah satu geng lokal, aku nggak begitu tahu nama gengnya karena emang nggak banyak yang tahu. Tapi mereka punya pengaruh juga di kota ini," jawab Aylin.


"Dulu Frans sempat ditawari geng itu buat join," kedua alis Kai terangkat tinggi. Cowok itu baru tahu fakta ini.


"Tapi...?"


"Dia nolak. Bener-bener nggak pake basa basi di muka mereka. Dan anehnya geng mereka nggak menganggap itu semacam "kurang ajar". Malah katanya mereka menyayangkannya tapi tetep menghormati pilihan Frans," Aylin lanjut bercerita.


Kai semakin tertarik mendengarnya. Soalnya Aylin pernah menceritakan tentang adik sepupu temannya yang tanpa sadar masuk salah satu geng karena pergaulannya. Untuk keluar dari geng tersebut sangat susah dan mungkin sampai terdengar mustahil, bahkan akan terus diikuti dan diteror. Ayah Aylin pernah didatangi keluarga temannya itu dan ayahnya sebisa mungkin membantunya.


Karena para geng yang ada di sebuah kota itu terkadang sifatnya tersembunyi dan punya backingan yang kuat. Hal yang menjadi masalah tiap tahun. Untuk sementara hal bisa dilakukan itu mencegah apa yang bisa dan perlu dicegah serta melalukan pemantauan, meliputi pergerakan mereka dan keamanan warga sipil.


"Itu kenapa Bang Frans bisa ditawari buat join geng mereka?"


"Kejadiannya pas dia berhasil ngalahin mereka buat nolong Bimala sama temen-temennya. Padahal dari cerita Mala, orang-orang yang turun buat berhadapan sama Frans itu termasuk petinggi-petinggi mereka. Bahkan Frans mendapat respect dari mereka. Kau bisa bayangkan sendiri kan kalau Frans ternyata seberbahaya itu."


"Bisa jadi itu salah satu sebabnya kenapa Frans punya banyak mata di mana-mana. Dia punya konkesi di luar. Koneksi yang mungkin bagi orang lain nggak mau berurusan. Informasi soal Vino dan gambaran rencananya aja dia dapatkan nggak sampai sehari. Dan kuakui, Mas Teguh itu meski kharismatik dan punya pengaruh, dia masih belum dapat menandingi Frans."


"Wow..." Kai bergumam. Tidak, dia tidak merasa takut atau terintimidasi sekalipun. Cowok itu jadi semakin kagum dan respect pada seniornya itu Ternyata dibalik pembawaannya yang tenang menyimpan sesuatu yang berbahaya.


Makan malam mereka sudah habis. Jam juga sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Suasana lobi tidak begitu sepi karena cukup banyak orang yang berlalu lalang.


"Kai," panggil Aylin sambil menatap junior kesayangannya yang tengah sibuk dengan ponselnya. Mereka memang sibuk dengan ponsel masing-masing selama beberapa menit ini. Menikmati keheninganan yang nyaman dengan kehadiran masing-masing.


"Hmm?" Kai menghentikan kegiatan bermain gim di ponselnya.


"Aku jadi kepikiran. Soal masalah ibunya Ridwan gimana?"


Masalah itu memang hanya orang-orang yang saat itu hadir di Third House yang tahu. Alias orang-orang yang masuk di grup darurat mereka yang berisi enam belas orang.


Lima sekawan.


Empat serangkai.


Kai and the gang.


Enggar si pentolan angkatan ketiga.


Dan Aji, si ketua BEM.


Kai tersenyum pada Aylin. "Untuk itu, Kakak tenang aja. Aku juga udah bilang Bang Frans sama Mas Aji biar itu aku yang ngurus. Jadi kita fokus sama masalah yang ada sekarang."


"Tapi aku sengaja nggak bilang Ridwan kalau jadi pakai rencanaku. Dia nggak bakal mau. Dia udah ngalamin banyak hal belakangan ini. Sebagai sahabatnya, aku ingin membantunya. Jadi, buat sementara kita diam-diam dulu."


"Oh... oke."


Aylin malah jadi penasaran rencana apa yang akan dilakukan Kai.


.


.


.


'yang selo, third house sekarang. Urgent.' [luang]


Kai membaca pesan yang barusan masuk. Sebuah pesan dari Frans di grup darurat mereka. Dia dan Neo saling bertukar pandang. Bertanya-tanya kira-kira ada hal penting apa sampai Frans mengirim pesan seperti itu. Baru dua hari lalu mereka melakukan pertemuan.


"Jadi kita ke Third House sekarang?" tanya Neo. Kai mengangguk dan kemudian mereka berdua bergegas ke tempat tujuan. Kebetulan kelas mereka ada kelas kosong saat ini.


Sesampainya di Third House, sudah ada Frans, Haris, dan Asep. Lalu Rima dan Budi menyusul tak lama kemudian. Sisanya masih ada kelas mengingat saat ini masih terbilang belum terlalu siang. Jadi kebanyakan masih berada di kelas kecuali yang jam kosong atau memang masuk siang.


"Kita pastikan nggak ada orang yang bisa nyuri dengar dulu," kata Frans. Letak Third House yang memang tidak jauh dari asrama C, salah satu asrama putra milik FT, juga tidak terlalu jauh dari asrama putra milik FGK.


Haris dan Asep memastikan keadaan steril sebelum menginformasikan ke Frans. Untuk jaga-jaga, mereka menutup pintunya.


Mereka berkumpul dengan raut wajah yang serius. Dan Rima satu-satunya perempuan di sana karena Aylin yang masih di kelas.


"Jadi gimana bos?" tanya Budi ke Frans. Cowok bermata sipit itu memang suka memanggil Frans dengan sebutan 'bos'.


"Dapat info baru dari Sentot," Frans memulai. Sentot adalah informan yang dihubungi Frans sejak kemarin-kemarin. Sentot juga bukan nama sebenarnya, hanya semacam nama panggilan akrab.


"Yang kemarin menghadang Mbak Alin sama Ridwan itu emang bener suruhan Vino. Geng yang ikut campur dalam kegaduhan ini."


"Udah kuduga!" sahut Budi.


"Biar kutebak, target utama mereka waktu itu adalah Ridwan?" Rima menebak.


Frans mengangguk. "Tepat sekali."


"Dan kebetulan Kak Alin kemarin bareng sama Ridwan," ujar Kai menyimpulkan. "Untungnya juga Kak Alin sempet ngirim pesan ke grup, jadi kita bisa tahu lebih dulu. Bukan setelah kejadian."


Sekali lagi Frans membenarkan.


"Lalu soal sesepuh yang ikut turun itu gimana?" tanya Haris.


"Mereka emang murni mau bantu. Jadi backingan istilahnya. Dan ya, para senior udah tahu permasalahan yang ada. Meski nggak sedetil kita," jawab Frans. Biasanya anak-anak FT tahun keempat dan keatas itu sudah mulai fokus dengan KKN, magang, dan tugas akhir. Jadi mereka cukup jarang terlibat langsung mengurusi masalah semacam ini.


Namun, kalau mereka diminta tolong, pasti bakal bantu.


"Dan untuk masalah geng yang ikut campur itu, kita harus hati-hati. Aku sama Haris masih nyari-nyari informasi lebih dalam soal mereka. Aku juga udah minta Bang Teguh menghubungi kenalan-kenalannya. Tapi aku bisa mastiin kalau mereka emang benar-benar terlibat atas permintaan Vino. Entah gimana dia bisa berhubungan dengan geng itu. Yang jelas mereka bukan cuman geng kemarin sore. Mereka punya daerahnya sendiri," Frans kembali menjelaskan.


Haris mengangguk di tempatnya. "Yup. Para petinggi di geng itu masih perlu dipastikan siapa ajanya juga."


Neo, Asep, dan Rima terlihat khawatir mendengarnya.


Dan untungnya, Sentot dan kawanan gengnya bakal bantu kalau sampai keluar batas.


"Gimana dengan para aparat? Kira-kira kita perlu melibatkan mereka nggak? Mungkin bisa minta tolong Kak Alin atau siapa," tanya Kai.


"Oh iya baru inget kalau bapaknya Alin itu komandan," celetuk Budi.


"Benar," Frans menjawab. "Tapi kita pikirkan dulu skenarionya gimana. Karena gimana pun, ini negara hukum. Makanya kita harus hati-hati. Jangan sampai kita yang malah kena juga. Niatnya ngebantu, tapi malah jadi tersangka karena dikira terlibat."


"Jadi kita harus bener-bener merencanakannya dengan hati-hati. Terlebih kita secara nggak langsung berhadapan sama geng lokal."


Ada jeda sejenak, di mana Frans membuka ponselnya ketika melihat ada notifikasi pesan masuk.


"Adi dapat informasi dari pamannya soal geng itu," kata Frans kemudian. Paman Adi bekerja di kepolisian setempat. "Katanya geng itu punya backingan yang lumayan kuat."


"Sial," umpat Haris dan Budi hampir bersamaan. Asep dan Neo merasa resah, terlihat jelas di raut wajah mereka.


"Terus gimana Frans?" tanya Rima terdengar mulai panik. Dia jadi kepikiran soal juniornya yang jadi targe di kasus ini.


"Tetap tenang gaes," Frans berujar menenangkan. "Jangan panik, jangan gegabah, dan jangan gampang terprovokasi. "Sore nanti kita ketemu lagi di sini buat bahas rencana. Sekalian sama yang lain. Sementara kita pending dulu."


Sementara itu, Kai hanya terdiam di tempatnya. Ekspresinya terlihat serius. Seolah dia tengah memikirkan sesuatu sejak mendengar penjelasan panjang lebar Frans tadi.


"Oke," kata Frans kemudian. "Ada yang mau ngasih info lain? Sebelum kita cukupkan."


Frans mengedarkan pandangannya.


"Kalau aku, nggak ada sih sekarang," kata Budi. Diikuti gelengan yang lain.


"Aku, Bang," Kai berkata. Semua mata kini mengarah ke cowok itu.


"Sebelumnya, aku udah bilang ke Bang Frans kalau aku yang bakal ngurus masalah ibunya Ridwan," Kai lalu tersenyum miring dan berujar, "Dan waktu nyari-nyari tahu, aku dapat jackpot."


Kini pernyataan Kai membuat semua orang tertarik. Apalagi yang lain kecuali Neo, yang pertama kali melihat senyum Kai yang seperti itu. Terlihat seperti bukan Kai yang terkenal gentleman dengan senyum sopannya yang menawan.


"Melihatmu senyum kayak gitu, aku yakin jackpot yang kau maksud bukan sembarangan," komentar Neo yang sudah tidak merasa aneh dengan sikap Kai barusan.


Frans yang mendengar perkataan Neo jadi tertarik untuk mendengarnya. Dia menatap ke arah junior duta kampusnya itu. Seringai yang jarang dia munculkan kini menghiasi wajah setengah bulenya.


"Do tell."


.


.


.


.


.


.


a.n. 


Selamat Hari Buruh!


maaf lama baru bisa update lagi. padahal rencana liburan kemarin, tapi ternyata tidak terlaksana.


we back on the game! maaf ya ada sedikit drama dan aksinya di cerita yang tag nya berkata slice of life :'D nggak ada drama kayaknya rasanya dingin


scene "aksi" ini emang udah direncanakan dari awal pembuatan cerita ini. scene yang menunjukkan sisi 'brotherhood' FT. cuman... ya itu eksekusinya cukup berbeda jauh dari rencana awal. karena setelah dipikir-pikir, lebih pas pakai kisah Ridwan daripada rencana awal


dan karakter frans emang desainnya gitu ya. malah rencana awal itu lebih 'badass' lagi tapi i'm still being 'realistic'. how about kai? let's see...


for this chapter, i recommend you to listen Kotak - Growing Up and Kotak - Hantam! :D bcz i used this song to write this chapter


see you next chapter (yang masih tetap really slow update karena sudah mulai semester baru dan kesibukan baru)