![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
code (n): secret language
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
Hari Sabtu tidak jauh beda dengan hari kemarin. Agendanya adalah rapat dan rapat.
Tinggal menghitung hari, lebih tepatnya kurang dari empat puluh delapan jam lagi adalah Isimaja UHW 20XX. Para panitia mengadakan rapat final untuk fiksasi dan pengecekan persiapan mereka untuk hari yang dinanti-nantikan.
Tak lupa juga doa bersama agar selama Isimaja berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti.
Lalu setelah itu, para panitia memanfaatkan jeda yang tersedia untuk beristirahat atau melakukan persiapan lain.
Namun, bagi Aylin, ada atau tidaknya jeda, dia merasa sama saja. Dia tetap harus benar-benar mengecek persiapan Isimaja, mulai dari FT sampai di GOR. Walau sedikit lebih longgar.
Dari itulah, Aylin tahu kalau jadi ketua TPK itu ribet.
Ribet banget. Meski tidak seribet ketua Tim Acara.
Rasa-rasanya dia ingin menangis meratapi nasib, tetapi dia tidak bisa melakukan itu.
"Senin udah hari H aja ya?" celetuk Rima. "Nggak nyangka bisa secepat ini rasanya."
Mereka berlima tengah makan malam di warung makan lesehan di dekat FBS. Tempat itu terbilang cukup populer dan ramai karena banyak variasi lauk pauk dan harganya terjangkau untuk kantong mahasiswa.
Kenapa mereka bisa sampai di sana padahal jarak FT dan FBS itu cukup jauh?
Jawabannya adalah karena ajakan Aylin sendiri. Tumben sekali memang.
Jadi begini, cewek itu nyaris saja kelupaan kalau dirinya punya janji untuk datang ke acara pemilihan duta kampus malam ini. Dari siang sampai sore dia sibuk mengurusi persiapan Isimaja di FT dan GOR.
Awalnya Aylin bingung bagaimana bilangnya ke gengnya soal kesepakannya dengan Kayvan tanpa harus bilang soal itu—Aylin mana mau mengakui kalau dia punya deal-dealan dengan maba yang dibencinya. Bisa-bisa diceng-cengin habis-habisan oleh Naufal dkk.
Karena sibuk memikirnya cara itu dari pagi sampai siang dan berakhir nyaris kelupaan karena fokusnya teralihkan, Aylin baru bisa bilang ke gengnya setelah sore menjelang malam. Ketika mereka semua sudah luang waktunya.
"Gaes, mau nonton ke Labkar nggak?" ajak Aylin tiba-tiba ketika mereka semua keluar dari area masjid kampus.
Sesibuk apapun kalian, tetap jangan lupakan ibadah. Luangkan waktu paling tidak lima kali sehari bagi yang muslim—bagi yang non muslim menyesuaikan sesuai keyakinan masing-masing. Jiwamu juga butuh recharge setelah seharian mengurus hal-hal yang melelahkan fisik dan mental.
Sontak empat pasang mata menatapnya heran.
"Tumben Lin ngajakin duluan," kata Taufan.
"Hooh nih. Tahun lalu aja kau mager nonton, tapi karena dipaksa si Bia baru mau," timpal Rima.
Aylin itu tipe orang yang mageran kalau ada acara seperti itu. Dia baru akan datang kalau memang dia berniat datang—ada kemauan dari diri sendiri, diajak (baca dipaksa) orang lain, dan ada kewajiban yang mengharuskannya datang.
Karena pemilihan duta kampus itu diadakan malam dan bisa ditonton lewat live streaming, Aylin tentu akan memilih menontonnya di asrama sambil bergelung di kasur.
Tahun lalu Aylin datang karena diseret Bimala untuk menemaninya. Ada Maul, sahabat Bimala yang sama-sama Kedokteran, dan Rima. Waktu itu Bimala belum kenal Frans tetapi cewek itu berkoar-koar kalau dia mendukung Frans karena cowok itu lebih pantas jadi duta kampus daripada Pasha yang cupu—menurut Bimala.
Yah... waktu itu Bimala kurang setuju kalau Pasha jadi duta kampus. Cewek itu bahkan protes ketika Pasha-lah yang menjadi pemenangnya. Padahal Bimala sudah memvote Frans.
Cewek itu bahkan juga mengakui kalau Frans itu ganteng dan macho.
Dan Pasha hanya tertawa mengejek penuh kemenangan di depan wajah Bimala. Mereka berdua memang suka ribut. Aylin dan Rima waktu itu sampai kasihan melihat Maul yang berada ditengah-tengah pertengkaran tidak masuk akal dua orang itu.
Mulai dari sana juga, Frans mulai memperhatikan Bimala. The rest is history.
Karena Naufal dkk tahu kalau Aylin bagaimana, mereka heran ketika mendengar Aylin tiba-tiba berinisiatif mengajak ke Lab Karawitan buat menonton.
"Hayoo Lin... pasti ada udang dibalik bala-bala," kata Budi.
"Nggak yo," kilah Aylin, "Lagi pengen aja buat nonton. Tahun depan belum tentu kita bisa nonton, kan kita udah mulai magang. Itung-itung sebagai senior yang baik, support FT."
Walau agak kurang percaya tumben-tumbenan Aylin inisiatif sendiri, mereka toh akhirnya ayo-ayo saja. Tidak perlu ribet. Apalagi diiming-imingi Aylin dengan traktiran sempol dan es teh. Siapa sih yang menolak jajanan gratis?
Sempol Pak Anjar yang di dekat Plaza UHW itu salah satu jajanan favorit anak-anak UHW karena memang rasanya enak dan harga murah dengan ukuran sempol yang besar.
Jadi begitulah kira-kira ceritanya. Kelima sekawan itu selepas dari masjid kampus, mampir dulu untuk membeli sempol. Baru ke warung lesehan di dekat FBS buat makan malam.
Mereka benar-benar kelaparan.
"Iya nih," timpal Taufan menanggapi celetukan Rima. "Jadi nggak sabar buat besok senin. Eh tapi, konsumsi nggak boleh masuk GOR buat lihat, haish...!"
"Kan bisa lihat lewat streaming," kata Naufal. "Lagipula, panitia yang punya akses masuk itu pas di dalam GOR juga nggak bisa nonton kayak maba."
"Aku sih nggak masalah bisa masuk GOR atau nggak. Yang penting bisa tidur pas semua maba ke GOR. Kenikmatan haqiqi setelah berhari-hari kerja lembur bagai quda" ujar Budi sambil menekankan huruf k menjadi q di akhir kalimatnya.
"Tapi harus siap kalau ada apa-apa lho Bud," Naufal mengingatkan. "HT tetap di sanding, jangan lupa!"
"Ashiaapp bosku!"
"Jam berapa sih?" tanya Aylin beberapa saat kemudian. Baterai ponselnya hampir habis dan dia matikan saja biar nanti selesai dari Labkar bisa dicek lagi. Dia juga tidak memakai jam tangan hari ini.
"Sembilan," jawab Naufal setelah mengecek ponselnya.
"Wew udah jam segitu aja," sahut Rima. "Telat dua jam nih buat nonton. Kira-kira acaranya sampai mana ya?"
"Penampilan para kandidat," jawab Taufan yang memantengi ponselnya.
"FT udah tampil?" tanya Naufal.
Taufan menggeleng. "Belum kayaknya. Tapi nggak tahu juga ding, soalnya nggak tak pantengin terus."
"Ke sana sekarang gimana? Udah pada habis kan?" usul Naufal dan disambut anggukan kepala oleh keempatnya.
"Gas!" sahut Budi.
"Untung udah sekalian Isya ya tadi sebelum ke sini," kata Rima. "Pulang nanti bisa langsung tidur deh."
Setelah membayar masing-masing pesanan—kecuali untuk es teh karena ditraktir Aylin—mereka lalu bergegas ke Laboraturium Karawitan di FBS. Jaraknya terbilang singkat dari tempat mereka makan, yang cukup memakan waktu itu adalah memarkirkan sepeda motor mereka karena tempat parkir yang penuh.
Setelah melakukan administrasi, mereka berlima lalu masuk ke gedung Labkar. Sesampainya di dalam, semua tempat duduk sudah penuh. Bahkan ada yang sampai mengambil tempat duduk dari luar, duduk berdempetan, atau rela berdiri.
Walau ada sedikit kegaduhan saat mereka memasuki Labkar—Budi tidak sengaja tersandung kabel—tetapi acara tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Benar saja, acara sedang memasuki penampilan masing-masing perwakilan fakultas. Dan pas ketika mereka masuk, kedua MC tengah memanggil perwakilan dari FT sebagai penampil berikutnya.
"Sepertinya kita tepat waktu, Lin," kata Rima yang berdiri di sebelah Aylin.
Di atas panggung sana, dua perwakilan dari FT, Kayvan dan Freya tengah bersiap-siap. Terlihat maba 0057 itu membawa sebuah gitar. Sepertinya mereka akan bernyanyi.
"Wiihh... perwakilan FT bukan kaleng-kaleng emang kalau soal penampilan. Jadi penasaran mereka mau nyanyi apa," terdengar suara Taufan berkomentar di belakang mereka. Outfit Kayvan dan Freya malam ini memang terlihat keren dan cocok untuk mereka.
Sementara itu, kedua duta FT yang ada di atas panggung tengah memberikan intro kalau mereka akan menyanyikan dua buah lagu. Lalu, irama petikan gitar dari Kayvan mulai terdengar sebagai pembuka lagu pertama.
"Like the kitty in the house, we sing meow meow meow meow. Like the cutie on the prowl, come on meow meow meow..."
Lagu yang tak terduga membuat beberapa penonton tertawa mendengarnya.
"Tch! Apa-apaan ini..." decih Aylin dengan pelan sambil tersenyum meremehkan. Sebenarnya mereka berniat melawak atau apa sih?
"Oh your love always needed somehow. I miss you each day and every hour. Be with me here and now, coz I know sure and cast no doubt. Oh that is what love is about..." suara Kayvan terdengar lembut ketika tiba gilirannya.
"Psstt... Lin!" panggil Rima di sebelahnya, "Suara Kayvan ternyata bagus juga ya?"
"Bagus apanya?" sangkal Aylin.
Walau lagunya terdengar lucu, tetapi beberapa orang terlihat ada yang bernyanyi mengikuti keduanya. Sementara yang lain terlihat menggerakkan kepalanya, sadar atau tidak, mengikuti irama yang menyenangkan dari lagu itu.
"Like the kitty in the house, we sing meow meow meow meow. Like the cutie on the prowl, come on meow meow meow..."
Kayvan dan Freya menutup lagu pertama dengan manis. Lalu disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Bahkan di belakang Rima dan Aylin berdiri, bisa terdengar tepukan dan teriakan heboh dari Budi dan Taufan.
Namun, Aylin tidak ikut bertepuk tangan. Entah gengsi atau apa, tidak ada yang tahu.
"Lagu selanjutnya adalah All My Life dari WILD," terdengar suara Kayvan ketika suara dari penonton mereda.
"Kami persembahkan untuk kalian semua, baik yang hadir di sini maupun yang menonton di rumah."
Cowok itu mengedarkan pandangannya. Seolah-olah tengah mencari seseorang.
Sampai dua pasang mata bertemu pandang. Yang satu dengan sorot mata tenang dan yang satunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ketika cowok itu mulai memetikkan senar gitarnya, tatapannya tak pernah lepas dari target.
"We're holding on through all the years. Looking back brings me to tears. Oh, I.. wanna see this through."
Aylin diam di tempatnya mendengarkan lagu yang dinyanyikan juniornya. Tatapannya fokus ke depan. Entah apa yang dipikirkannya.
Rima jadi curiga. Cewek itu menyipitkan matanya. Pikirannya sibuk menduga-duga. Menyatukan kepingan puzzle yang menguatkan dugaannya.
Bahkan ketika tatapan cowok itu diedarkan ke penonton dan ke Freya, tetapi tatapan mata 0057 pada Aylin terasa lebih dalam. Entahlah.
Apa yang sebenarnya mau direncanakan Kayvan?
Ah... atau jangan-jangan?
"Oh, I... will keep you safe for all my life. And you.. will have have my heart for all the time. Even on your darkest days, you know that I will never change. Oh, I... will love you the same. Oh, I... will love you the same."
Rima melirik ke arah sahabatnya yang masih diam fokus dengan wajah serius. Dia tidak tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Apakah Aylin menyadarinya atau tidak.
Rima sebenarnya ingin terkekeh geli setelah menyadari sesuatu itu. Namun, dia berusaha menahannya. Bisa-bisa malah dikira aneh tertawa sendiri.
"Duh Lin, Lin. Jadi nggak sabar melihatnya. Semoga aja kau peka ya," gumam Rima dengan pelan.
.
.
.
"Gila sih FBS, nggak pernah mengecewakan kalau masalah tampil menampil," komentar Rima ketika perwakilan FBS selesai menampilkan bakat mereka. Suara di dalam gedung Lab Karawitan menjadi riuh dengan tepuk tangan dan teriakan penonton.
"Ho'oh," Aylin berujar menyetujui. "Mereka totalitas banget."
Penampilan FBS menjadi penampilan penutup di bagian unjuk bakat malam ini. Mereka mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari penonton.
Memang pertunjukan yang mengesankan.
Kemudian, sesi berikutnya penilaian dari dewan juri. Namun, sebelum itu, kedua MC hari ini, Keisha dan Andi, sekali lagi mengingatkan ke semua penonton yang hadir maupun di rumah dan belum memberikan suaranya untuk segera memberikan suaranya.
Mereka juga memberikan opsi untuk mengganti vote sekali lagi, bagi yang sudah tetapi masih ragu, apabila sudah yakin dengan pilihan lain. Dan apabila sudah yakin dengan pilihannya, mereka juga bisa menguncinya dengan fitur yang tersedia.
Tenggat waktu yang diberikan adalah maksimal sampai penilaian juri selesai.
Lalu, Keisha dan Andi kembali menjelaskan bagaimana teknis di sesi kali ini berjalan. Setiap kandidat akan diundi lalu diberikan pertanyaan oleh dewan juri dengan cara mengundinya juga. Jadi setiap kandidat, secara individu bukan pasangan, akan mendapat pertanyaan yang berbeda.
Hal yang paling ditekankan di sini adalah kemampuan dan kecakapan masing-masing kandidat dalam menjawab pertanyaan yang dilemparkan dengan waktu yang dibatasi.
"Baik, tanpa membuang waktu lebih banyak lagi. Kita panggilkan, kandidat urutan yang pertama. Sandi Rahardian Fahmi dari Fakultas Kedokteran!"
Semua penonton memberikan tepuk tangan ketika duta FK berjalan maju ke depan. Semua kandidat sudah kembali mengenakan setelan hitam putih dan selempang yang menandakan fakultas mereka.
"Wah... bakal lumayan lama nih," kata Rima. "Sayang kita nggak kebagian tempat duduk."
Aylin hanya diam mengangguk. Dia melipat tangannya di depan dada. Sementara Rima menaruh tangan kirinya di pundak kanan Aylin.
Butuh beberapa kali pergantian untuk sampai urutan salah satu perwakilan FT dipanggil. Dan yang pertama di panggil adalah Freya dengan nomor urut undian sebelas.
Freya mendapatkan pertanyaan yang sangat menjebak. Di mana dia harus memberikan solusi netral untuk permasalahan di FBS yang masih belum terselesaikan.
Aylin dan Rima bisa mendengar suara protesan tak terima Budi di belakang mereka dan beberapa komentar Naufal dan Taufan mengenai pertanyaan yang dilontarkan dengan terkesan netral dan logis.
Rima juga berkomentar di tempatnya. Cewek itu juga menganggap kalau pertanyaan yang diberikan terbilang adil. Sebagai duta kampus, tentu saja tidak hanya mewakilkan salah satu fakultas saja. Namun seluruh UHW.
Melihat pembawaan Freya yang terlihat tenang dan percaya diri, Aylin yakin juniornya itu bisa menjawabnya. Dan nyatanya terbukti benar. Walau ada sedikit jeda yang mungkin karena keterkejutan mendengar pertanyaannya, Freya menjawabnya dengan cukup baik.
Aylin dan senior lainnya ikut bertepuk tangan setelah Freya berhasil menjawabnya dengan lugas, jelas, dan tepat waktu.
.
.
.
Malam semakin larut. Satu persatu kandidat duta kampus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dewan juri. Kini hanya tersisa empat peserta lagi yang belum mendapat gilirannya.
"Si Kayvan nomor berapa sih, lama banget," keluh Rima. Cewek itu udah beberapa kali berganti posisi berdiri karena sudah merasa pegal.
"Entah," jawab Aylin singkat. Jujur, dia merasa sudah sangat suntuk.
Seseorang menepuk pundak Aylin. Cewek itu menoleh dan mendapati Naufal menyodor sebuah kursi plastic yang entah dia dapatkan dari mana ke pada Aylin.
"Nyoh. Duduk barengan sama Rima. Aku dapat dari perkab sini," kata Naufal. Terlihat beberapa orang yang tadinya berdiri—terutama yang cewek—terlihat duduk di kursi plastik.
Sementara Naufal, Taufan, Budi, tetap berdiri di tempatnya. Budi terlihat paling tidak betah karena cowok itu beberapa kali mengubah posisinya dari berdiri, jongkok, dan membungkuk dengan kedua tangan di lutut.
Keterbatasan tempat duduk dan jumlah penonton yang hadir diluar perkiraan sepertinya menjadi salah satu hal yang perlu di evaluasi untuk tahun ini.
Setelah mengucapkan terima kasih. Aylin menerima kursi plastik yang diberikan dan mengajak Rima untuk duduk bersama.
"Wah... akhirnya bisa duduk," kata Rima dengan lega.
Setelah sedikit ice breaking untuk melepas ketengana dan kejenuhan, kedua MC lalu memanggil kandidat berikutnya.
"Baiklah, mari kita sambut, Kayvan Candra dari Fakultas Teknik!"
Suara gemuruh tepuk tangan dan siulan menyambut cowok itu. Bahkan ketika maba itu melempar senyum andalannya, sebagian penonton perempuan menjerit histeris.
"Sialan. Si Kayvan ternyata jadi idola di luar fakultas juga ternyata," celetuk Budi di sela-sela keramaian.
"Dia pinter memanfaatkan kelebihannya," Naufal menambahkan.
"Mr. Perfect dari FT emang bisa bikin iri orang," kata Taufan. "Apalah aku yang cuman remahan rengginang di kaleng Khong Guan."
Sementara itu, Aylin hanya mendengus melihat betapa hebohnya sambutan untuk maba 0057 itu. Like, apa sih? Yang ada malah membuat cowok itu semakin besar kepala!
"Untuk Kayvan Candra, bagaimana pendapatmu mengenai sistem Isimaja atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ospek diterapka di beberapa fakultas yang terkenal dengan senioritasnya. Terutama di FT dan FO yang mimiliki latihan dan hukuman fisik dan beberapa senior lain yang sewenang-wenang? Apa perlu dipertahankan atau dihapuskan? Berikan alasanmu."
Wow!
Bisa dibayangkan reaksi dari penonton yang mendengarnya. Bahkan beberapa penonton ada yang menghela nafas terkejut. Ada yang saling lempar pandang kebingungan dengan pertanyaan juri yang kontroversial dan sangat amat menjebak.
"C*k! Edan pa?! K*mpr*t sekali pertanyaannya," seru Budi ditempatnya. [Gila apa?!]
"Ini mah menjebak banget pertanyaannya," komentar Taufan. "Siapa sih yang bikin?"
"Ini lebih parah dari Freya dan beberapa kandidat yang sebelumnya. Di sini Kayvan harus bisa milih mau pro atau kontra sekaligus punya argumen yang menguatkan alasannya. Di sisi lain, dia juga harus menempatkan posisinya netral," kata Naufal menganalisis.
"Maksudnya netral tapi juga harus milih itu gimana?" tanya Rima.
"Jadi gini, dia milih mau pro atau kontra. Nah, pas si Kayvan ngasih argumen terkait jawabannya, dia juga nggak bisa begitu saja nge-dis yang bukan pilihannya. Sederhananya, misal Kayvan milih kontra nih. Lalu dia ngasih argumen kenapa dia kontra. Tapi dia nggak boleh "menjelekkan" yang pro, jadi masih ada jalan tengahnya," jelas Naufal.
"Loh harus milih? Nggak bisa netral aja?" tanya Budi masih belum paham.
"Kan pertanyaan juri tadi ada pilihan mau dipertahankan atau dihapus," sahut Taufan.
"Oalah..." Budi manggut-manggut paham.
Aylin terdiam mendengarkan penjelasan Naufal. Pandangannya kembali fokus ke depan. Di mana Kayvan hendak menjawab setelah dipersilakan oleh kedua MC.
Kita lihat apa yang akan dijawab maba itu. Mengingat maba 0057 selalu saja mencari masalah dan paling keras menyuarakan keberatannya.
Aylin tidak akan terkejut kalau maba itu akan memilih kontra. Namun, entah kenapa rasanya kurang sreg (kecewa mungkin?) andai itu benar terjadi.
Bagi Aylin, Aqisol dan agenda inaugurasi FT lainnya itu adalah sesuatu yang perlu dipertahankan. Karena dari sanalah juga, salah satu faktor, FT bisa sejauh dan sesolid ini.
Itulah yang dia rasakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
sengaja up lebih awal karena lagi gabut XD
sebenernya mau tak terusin, tapi nanti kayaknya kepanjangan deh. jadi tak potong. part besok masih lanjutannya dari part ini.
buat yg belum ngeh, ini versi aylin dari part kayvan yang The Show dan The Chosen One. di sana kalian udah tau jawaban kayvan apa. tapi di part ini sama besok itu reaksi kelima sekawan, terutama aylin gimana :D
btw, ada yang sedang mengode tuh, entah kode apaan ya. yang dikodein kira2 ngeh apa nggak ya tuh :v
Masih samar tipis-tipis yak progresnya XD
see you^^