![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Pool (n): a small area of still water, typically one formed naturally
.
.
.
[I'M BACK, FINALLY! Pemanasan pakai side story dulu ya, coba tebak ini ceritanya siapa]
[baru minor editing]
.
.
.
Friendzone.
Dia tidak menyangka akan merasakan yang namanya friendzone. Di kisah cinta pertamanya lagi!
Dia tidak tahu harus tertawa atau merasa sedih. Dia mengenal orang ini sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan ketika orang itu menyatakan suka pada sahabat mereka, dia tidak merasa sepatah hati ini.
Dan ketika rasa suka orang itu pada sahabat mereka berakhir "friendzone" juga, dia tidak tahu apa dia harus bersyukur atau ikut prihatin juga. Karena perasaan yang orang itu rasakan pada sahabat mereka—yang sebenarnya bersifat platonis—disalah artikan cowok itu.
Setelah itu, hubungan persahabatan ketiganya berjalan seperti biasanya.
Namun, dia sangat yakin, secara perlahan perasaan yang seharusnya tidak ada itu perlahan tumbuh. Bahkan jauh sebelum orang itu menganggap dirinya menyukai sahabat cantik mereka.
Dia tidak bermaksud merasa insecure. Dia hanya sadar diri saja. Dibandingkan mantan-mantan orang itu yang cantik-cantik, dia merasa dirinya masih kalah soal penampilannya. Namun dia masih bisa percaya diri soal value dibandingkan beberapa mantan orang itu.
Sedikit sombong soal diri sendiri sebagai bentuk self-love memang sesekali diperlukan menurutnya.
Banyak yang bilang kalau dia terlalu galak, dia akui itu. Dia akan galak pada orang-orang yang menyebalkan dan benar-benar mengganggu hidupnya. Bahkan orang itu tidak jarang jadi sasaran kegalakannya. Apalagi ketika orang itu sudah bertingkah seperti bos yang menyebalkan. Membuatnya dan sahabat cantik mereka seperti babu yang sering disuruh-suruh.
Kisah cintanya tidak semenarik sahabat cantik mereka—meski sebenarnya ada kejadian yang membuatnya miris dan kasihan dengan sahabatnya itu. Julukan primadona yang tersemat pada sahabat cantiknya itu bukan bualan semata. Karena memang cewek itu benar-benar cantik. Bukan seperti orang itu yang dinobatkan sebagai prince charming—rasanya mau muntah mendengar julukan itu. Bisa-bisanya galah panjang itu dijuluki prince charming.
Singkatnya, dirinya dikelilingi dua orang populer yang penampilannya bak tokoh-tokoh drama korea yang sering dia tonton bersama sahabat cantik mereka.
Tinggi, menawan, dan pintar.
Dia sebenarnya tidak semenyedihkan itu. Selain dikenal sebagai sahabat mereka berdua, tak jarang dia mendengar pujian yang ditujukan untuknya. Bukan bermaksud narsis—tidak, dia bukan seperti orang itu yang punya hobi narsis. Dia hanya mengutip apa kata orang-orang saja—cukup banyak yang bilang dia itu manis. Apalagi dengan dua lesung pipi yang dia miliki akan terlihat jelas saat dia tersenyum.
Hal yang mungkin membuatnya agak insecure adalah kedua kakinya yang pendek. Dia terkadang merasa iri dengan sahabat cantiknya yang memiliki kaki jenjang. Kaki pendek dan postur tubuhnya yang mungil membuatnya mendapat julukan si pendek. Julukan yang dibencinya.
Dia terkadang cukup kesusahan mengimbangi langkah kaki kedua sahabatnya yang lebih lebar saat mereka berjalan buru-buru.
Tinggi badannya bisa dibilang tidak pendek-pendek amat. Karena masih ada yang lebih pendek darinya. Namun, dengan tinggi badan yang hanya 155 cm dan bersanding dengan kedua sahabatmu yang tingginya 165 cm dan 179 cm tentu akan terlihat jelas perbedaannya.
Terlepas dari masalah tinggi badannya, banyak yang akan meremehkan dirinya dan hal itu dia manfaatkan karena orang-orang itu tidak akan menduga apa yang akan dia lakukan.
Sama seperti rasa sukanya kepada sahabat jangkungnya itu. Tidak ada orang yang menduga, termasuk orang itu.
Kecuali sahabat cantiknya itu. Cewek itu bisa dibilang orang yang peka. Makanya dia tiba-tiba mengajak bicara padanya secara empat mata pada suatu hari di kelas sepuluh. Apa yang dikatakan sahabatnya itu kemudian membuatnya terkejut tentu saja. Karena dia sendiri belum mengatakan apa-apa pada sahabat cantiknya itu. Pertama, karena dia tidak mau membuat hubungan persahabatan mereka menjadi canggung. Kedua, dia baru beberapa minggu lalu melihat cowok jangkung itu mengatakan suka pada sahabat cantiknya ini dan berakhir sisterzone/brotherzone dengan cepat karena cowok itu salah paham mengenai rasa "sukanya". Kemudian yang ketiga adalah karena dirinya sendiri bingung bagaimana dan kapan menceritakannya pada sahabatnya ini.
Dan ketika sahabatnya itu menodongnya dengan pertanyaan—lebih tepatnya pernyataan—mengenai kecurigaannya membuatnya kehabisan kata-kata.
Pada akhirnya dirinya tidak bisa terus menutupinya dan sahabatnya ini termasuk orang yang tidak bakal percaya dengan alibi yang akan dia utarakan.
Dia mengakuinya, tentu saja. Namun dia memohon pada sahabatnya itu untuk merahasiakan semuanya. Dia tidak mau merusak persahabatan mereka. Dia tidak mau orang itu tahu karena jujur dia takut apa yang akan terjadi kalau dia tahu.
Cukup seperti ini saja. Biarkan dia dan perasaannya diam-diam tanpa mengusik siapapun.
Sahabat cantiknya itu hanya memeluknya. Membiarkannya dengan keputusan yang dia ambil. Bahkan sampai meminta maaf soal dirinya yang membiarkan orang itu mengatakan suka walau akhirnya platonis juga.
Bukan salahnya, dia bilang ke sahabat cantiknya itu. Kita tidak bisa mengendalikan kepada siapa hati kita jatuh cinta dengan segala desiran anehnya yang menggelitik.
Dan hatinya justru memilih menyukai orang yang dianggapnya terlalu narsis dan suka memerintah itu sejak SMA atau mungkin jauh sebelum itu tanpa dia sadari sebelumnya.
Keputusan yang dia ambil tentu punya resiko. Salah satunya adalah patah hati saat melihat orang yang disukainya itu dekat dengan cewek lain. Meski aslinya cowok itu termasuk bukan orang yang semudah itu dekat dengan cewek. Namun, kalau dia sudah suka seseorang, bisa dikatakan dia benar-benar mendedikasikan dirinya.
Dan patah hati terbesarnya adalah ketika melihat orang itu jadian dengan orang yang disukainya sejak akhir SMA. Adik kelas yang merupakan anak pindahan di sekolahnya dulu. Lalu mereka dipertemukan lagi di acara pemilihan duta kampus. Di mana si adik kelas itu ternyata menjadi kandidat duta kampus dari FMIPA.
The rest is history.
Karena sejujurnya dia tidak sanggup lagi menceritakan patah hati terbesarnya itu.
Dia menangis dipelukan sahabat cantiknya saat mereka hanya berdua. Bahkan dia tahu cewek itu sedang dekat dengan si duta kampus FT. Namun, dia memilih menemaninya menangisi patah hatinya daripada menerima ajakan cowok itu pergi keluar.
Dia galau selama berhari-hari. Bahkan saat malam pun dia masih menangis saat mengingat kebodohannya.
Semua sudah terlambat. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan sahabat jangkungnya itu setelah diam-diam naksir junior dari FMIPA itu sejak tahun akhir mereka di SMA.
Yang harus dia lakukan sekarang menata hatinya kembali dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
Tidak ada yang tahu. Bahkan orang itu tidak tahu karena dia menyembunyikannya dengan baik. Hanya sahabat cantik mereka satu-satunya yang tahu.
Diluar mungkin dia terlihat baik-baik saja. Namun, hatinya cukup sering merasakan getir saat melihat orang itu bersama pacar imutnya itu.
Tidak, dia tidak membenci junior dari FMIPA itu. Sama sekali tidak ada kebencian di hatinya. Dia hanya merasa getir pada dirinya sendiri yang memang lebih memilih untuk diam selama ini.
Orang itu adalah cinta pertamanya yang gagal. Bahkan sebelum berlayarpun lebih dulu ditenggelamkan dengan kenyataan yang ada.
Bahkan ketika dia sempat mencoba berpacaran sekali saat SMA, hubungannya hanya bertahan tiga bulan. Bayangan sosok orang itu terus terngiang-ngiang. Dia juga tidak bisa membohongi hatinya.
Dia putus baik-baik dengan pacarnya kala itu. Sampai sekarang mereka masih berteman dan kabar terakhir yang dia dengar kalau mantannya itu sudah berpacaran dengan orang lain serta sudah berlangsung hampir setahun ini.
Dia senang mendengarnya. Sungguh. Itu artinya mantannya lebih bahagia sekarang.
'Dia kapan ya?'
.
.
.
Jika ada yang tanya apakah dia sudah move on dari orang itu atau belum, mungkin dia akan menjawabnya dengan berkata sudah.
Entahlah.
Dia tidak ingin memikirkannya. Sudah berbulan-bulan ini dia mengalihkan fokusnya ke hal lain. Untungnya tugas-tugasnya di perkuliahan berhasil mengalihkan perhatiannya.
Dia tidak ingin membuat dirinya berlarut-larut dengan patah hati yang dirasakannya.
Asalkan orang itu tetap berada pada ketidaktahuannya soal perasaan yang pernah dia pendam diam-diam, dia rasa semua akan tetap baik-baik saja. Kehidupan akan kembali berjalan normal seperti sebelum-sebelumnya.
Kini mereka bertiga tengah berada di rumah sahabat jangkungnya itu untuk mengerjakan tugas kuliah bersama. Laporan dan paper yang tidak ada habisnya membuat mau tidak mau di hari-hari libur singkat seperti ini tetap harus berkutat dengan tugas. Tiga hari libur yang mereka dapatkan rencananya ingin mereka manfaatkan untuk liburan.
Namun sampai pertengahan hari kedua ini, tugas mereka masih belum selesai. Kalau mereka nekat mengerjakannya nanti setelah tiga hari, takutnya malah akan semakin lama selesai. Jadi mereka berencana ingin menyelesaikan di hari ini.
Mereka sengaja memilih rumah bos mereka untuk mengerjakan tugas di hari kedua ini karena mereka—lebih tepatnya dia dan sahabat cantik mereka—sudah lama tidak berkunjung.
Si bos juga bilang kalau sepupunya sudah pulang dari pendidikannya di Akmil alias akademi militer.
Oh dia cukup kenal dengan sepupunya itu. Cowok hiperaktif yang sifatnya cukup berbanding terbalik dengan si bos.
Cowok yang setahun lebih muda dari mereka itu memang menempuh pendidikannya di Akmil setelah lulus dari Taruna. Jadinya intensitas pertemuan mereka memang terbilang cukup jarang.
Namun karena kepribadiannya yang supel dan sangat aktif, dia mudah akrab dengan siapa saja.
Kalaupun sepupu si bos itu sekolah di tempat biasa dan berkuliah, dia yakin kalau cowok itu pasti masuk FT dan bisa saja jadi kandidat pentolan anak-anak FT. Vibes-nya menunjukkan kalau cowok itu cocok jadi salah satu dari mereka.
Dan untungnya, cowok itu memilih Akmil. Otomatis dia akan cukup jarang bertemu dengannya.
Kenapa begitu?
Cowok itu...
...annoying.
Lebih tepatnya sering sekali mengusiknya tiap kali mereka bertemu. Padahal ada dua sahabatnya yang lain, tetapi sasarannya selalu dirinya.
Membuatnya kesal bukan main. Kenapa harus dia gitu lho yang diganggu?
Cowok itu terlalu aktif dan usil.
Dan satu hal lain yang cukup mengganggu dirinya adalah cowok itu suka padanya. Remaja itu menunjukkannya secara terang-terangan. Bahkan jauh sebelum dirinya berpacaran dengan mantannya dulu.
Namun, kala itu hatinya sudah lebih dulu menyadari rasa sukanya pada sahabat jangkungnya. Sahabat yang pada akhirnya tanpa orang itu tahu membuatnya patah hati.
Lagipula, dia tidak percaya semudah itu pada sepupu sahabatnya itu. Cowok itu terkenal playboy. Pada tiap pertemuan mereka, cowok itu selalu ada dalam hubungan yang dengan cewek yang berbeda. Dan hubungan yang dimiliki cowok itu juga tidak bertahan lama.
Sayangnya, meski dia tolak berkali-kali juga, cowok itu memang dasar kepala batu. Tetap saja mengejarnya dan berusaha mendekatinya tiap kali bertemu.
Di hari-hari berikutnya, keduanya juga sering tak sengaja bertemu. Bahkan di area kampus sekalipun!
Katanya, mumpung lagi liburan, dia ingin melihat-lihat UHW. Dia bahkan sudah sempat berkeliling di FT dan FO. Dan sekarang dia di sini, di FK. Sekalian menemui kakak sepupunya dan siapa tahu ketemu dia di sini.
Lalu cowok itu memutuskan ikut makan siang di kantin FK.
Tak berapa setelah itu, datang pacar si bos. Cewek imut yang merupakan duta FMIPA itu menyapa mereka berempat dengan ramah sebelum mendudukkan dirinya di sebelah pacarnya.
Tepat di depannya.
Meski rasa sakit itu kini sudah terasa seperti kebas, tetapi tetap saja tetap ada kepahitan di sana.
Dia tidak tahu kalau cowok yang duduk di sebelahnya itu memperhatikan detil-detil yang mungkin yang lainnya tidak perhatikan.
Bahkan, ketika si bos dan pacarnya itu pamit pergi, dia tetap memasang senyum ramah di wajahnya. Apalagi ketika si bos mengajak sahabat cantiknya untuk sekalian nebeng karena katanya mau ke FT. Biar sekalian.
Tanpa dirinya.
Lagipula untuk apa? Tidak ada orang yang akan dia temui di fakultas lain. Dia juga tidak mau jadi orang ketiga.
Namun, sahabat cantik mereka itu justru menolak. Cewek itu bilang ingin menemani dirinya. Urusan ke FT bisa lain waktu atau dia bisa ke tempat sepupunya yang merupakan senior tahun ketiga di FT nanti.
Dia mengamati kepergian keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Lalu dia menoleh ke sahabat cantiknya dan bilang, "Kau ke FT nggak papa loh. Habis ini kayaknya aku mau ke asrama buat tidur siang sebelum kelas sore kita mulai."
Meski awalnya sempat protes, si cantik pada akhirnya setuju walau terlihat agak keberatan. Cewek itu menatapnya dengan tatapan kau-sendirian-nanti-bagaimana.
Dia tersenyum menenangkan. Namun, belum sempat dia membuka mulutnya, cowok di sebelahnya lebih dulu angkat bicara.
"Sama aku kok! Mbak tenang aja," bahkan cowok itu dengan seenaknya berkata kalau dia nanti akan menemaninya berkeliling UHW dan sekitarnya. Lalu dia akan mengantarnya kembali sebelum kelas dimulai.
Hei! Dia tidak pernah menyetujui hal itu!
Namun, cowok menyebalkan itu berhasil meyakinkan sahabat cantiknya dan berakhir dia ditinggalkan sendiri di sini bersamanya.
Dia berteriak frustasi dalam hati ketika melihat kepergian si cantik. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini bersama bersama orang gila ini!
.
.
.
Tiga puluh menit lagi kelasnya akan dimulai. Namun, dirinya masih belum ada niatan untuk kembali ke FK.
Pada akhirnya, dia benar-benar menemani cowok menyebalkan itu melihat-lihat UHW. Sebenarnya tidak seburuk itu. Cowok di sampingnya bisa bersikap normal. Bahkan dirinya cukup kaget saat tahu ternyata wawasannya luas juga saat mendengar orang itu bicara tanpa mode hiperaktif dan tengilnya.
Dia sempat bertanya karena murni penasaran, kalau saja cowok itu tidak ikut Akmil, apa dia akan mempertimbangkan untuk mendaftar di UHW juga atau tidak.
Dan jawaban yang lebih muda cukup tak terduga walau dia sudah menduganya.
Katanya, dia memang menjadikan untuk ikut tes di UHW sebagai rencana cadangan kalau dia tidak lolos seleksi Akmil. Dia mempertimbangkan jurusan di FT, FO, atau FH kalau dia ikut tes di UHW.
Bahkan untuk mendaftar di Akmil pun dia benar-benar berjuang. Tidak semata-mata karena siapa orang tuanya dan siapa koneksinya. Membuatnya menjadi sedikit lebih respect pada yang lebih muda.
"Mbak..."
"...bisakah kau melihat ke arahku? Bukan ke arahnya, tapi aku yang di sini?"
"..."
"Aku udah mutusin akan tetap nunggu Mbak," lanjutnya. Membuat langkah mereka menuju mobil yang terparkir terhenti. Dia menatap sosok jangkung adik sepupu sahabatnya itu dengan tatapan bertanya.
"Selama apapun, aku akan nunggu sampai Mbak siap dan ngasih kesempatan buat melihat ke arahku. Kalaupun nanti kita emang nggak berkesempatan apa-apa, aku akan berhenti. Dan nggak akan ganggu Mbak lagi..."
Dia terdiam mendengarnya. Tidak tahu harus merespon apalagi. Sisa perjalanan mereka diselimuti keheningan. Mobil yang mereka kendarai kini menuju ke arah Fakultas Kedokteran. Cowok dibalik kemudi itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sementara dirinya, pikirannya kini terasa begitu penuh. Hatinya yang terasa mati semenjak patah hati terbesarnya sedikit tercubit ketika dia mendengar kalau cowok itu akan berhenti mengganggunya. Ada rasa tidak rela di hatinya.
Bukankah seharusnya itu bagus? Sudah lama dia merasa terganggu dengan sikap adik sepupu dari orang yang jadi alasan patah hati terbesarnya.
Namun, ketika membayangkan kalau orang itu akan menghilang dari kehidupannya, dia merasa tidak senang.
Dia melirik ke orang di sampingnya yang fokus menyetir selama beberapa saat.
Hati dan pikirannya bergelut hebat.
Sampai pada akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di wilayah FK. Bahkan cowok itu sengaja mengantarnya tidak jauh di dekat gedung perkuliahannya.
Mereka terdiam selama beberapa saat. Entah kenapa hatinya mulai terasa berdebar-debar.
"Malik," panggilnya pada cowok di sebelahnya.
"Kalau aku bilang kau nggak usah menungguku apa kau keberatan?" dia bisa melihat sorot terluka di mata cowok itu. Buru-buru dia menambahkan.
"Kau nggak usah menungguku buat melihat ke arahmu. Karena sejak awal aku udah melihat ke arahmu. Tapi mungkin tatapanku beda darimu."
"...jadi, bisakah kau buat aku jatuh cinta padamu?"
Iya, dia memutuskan untuk mengatakannya setelah pergulatan hebat dalam dirinya selama sisa perjalanan hening tadi.
Ekspresi wajah Malik, nama cowok itu, kini berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya yang agak sipit terlihat melengkung ke atas.
"Benarkah?" tanya Malik tak percaya.
Dia mengangguk yakin. Senyum kecil terukir di wajahnya yang manis. menunjukkan sedikit kedua lesung pipinya.
"Will you trust me to catch you at the bottom of the pool?"
Dia terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata yang diucapkan Malik.
"I do," dia akhirnya menganggukkan kepalanya.
Dia dibuat gelagapan dengan pelukan tiba-tiba yang dilakukan Malik. "Terima kasih..."
"Aku akan buat Mbak jatuh cinta padaku. Aku janji."
Mungkin memang inilah saatnya untuk membuka hatinya lagi. Bukan karena dia memanfaatkan Malik karena patah hatinya, tetapi karena dia memang salut dengan kegigihan yang cowok itu lakukan untuknya selama ini.
Setelah dipikir-pikir, ternyata dia jahat juga dengan respon yang dia berikan pada Malik. Apalagi tak jarang dia bersikap dan berkata kasar. Namun, cowok itu seperti bermuka tebal dan bermental baja.
Terlepas dari Malik yang cukup sering gonta-ganti pacar, selama itu Malik tak pernah absen dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya padanya. Bahkan sampai dia benar-benar berhenti gonta-ganti pacar bak ganti kaos kaki pun sikapnya padanya tak pernah berubah.
Dia melambaikan tangannya kecil pada Malik yang dibalas lambaian penuh semangat yang khas sebelum cowok itu mengemudikan mobilnya keluar area Fakultas Kedokteran.
Senyum kecil masih terukir di wajahnya. Semoga keputusan yang dia ambil itu tepat. Dan entah kenapa hatinya kini terasa sedikit lebih ringan.
Benar apa kata Gloria Jessica dalam lagunya.
Jangan memaksakan dengan dia lagi. Coba lihat yang lain, ada cinta yang lain. Ada yang diam-diam mencintaimu.
Namun dalam kasusnya, Malik menunjukkannya secara terang-terangan. Apapun itu, entah diam-diam atau terang-terangan, kata kerja yang digunakan tetap sama.
.
.
.
.
.
a quite long a.n.
new character unlock: Malik (udah bisa nebak kan dia adik sepupunya siapa)
sosok Malik ini emang udah direncanakan cukup lama, jadi bukan semata-mata tambahan karakter atau karakter nemu di jalan buat selipan. No, tapi emang udah kurencanakan cuman baru sekarang aja keluarnya. Dia karakter yang mungkin cukup jarang muncul di sini, tapi punya peran yang penting juga :')
no, it's not just a cliche or even "cheap" story between a doctor and soldier. Dan maaf kalau ada istilah yang kurang tepat, I'll revise it later.
sebenernya, draft cerita ini sudah kutulis sejak awal bulan kemarin. tapi belum sempat ku tulis endingnya karena benar-benar sibuk dan baru sempat sekarang :'
karena mulai libur sampai awal mei, jadi aku punya cukup banyak waktu luang buat nulis kelanjutan cerita ini sebelum dihadapkan dengan kenyataan yang ada nanti :'D
tapi sebelum itu, aku bakal reread lagi ceritaku ini to keep track the plot sama biar dapat feel nya lagi setelah jeda yang lama :')
semoga suka ya
buat yang nggak paham apa yang dikatakan Malik "will you trust me..." itu adalah kutipan dari lirik lagu dengan sedikit modifikasi pada judul yang sama dengan cerita ini :D salah satu lagu yang kurekomendasikan buat kalian dengarkan sambil baca ini (penyanyinya stephen sanchez yang nyanyi until i found you)
see you