![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
antithesis (noun, singular): a person or thing that is the direct opposite of someone or something else; opposition
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
Terlepas dari kejadian Guntur dan seorang maba dari batalion empat, Aqisol hari pertama terbilang cukup lancar. Dan tentu saja Aylin tidak serta merta melepas gitu saja masalah tersebut. Cewek itu tetap mengawasi Guntur buat memastikan tidak melakukan hal yang sama lagi. Pun dengan semua anggota lainnya. Aylin berusaha memastikan agar tidak ada yang berniat balas dendam.
Kendala lain adalah banyaknya maba yang mengeluhkan kegiatan hari ini yang cukup berat.
Para maba itu belum tahu ketiga hari kedepan seperti apa. Dapat dipastikan akan lebih berat dari hari pertama.
Dan Aylin tidak banyak berharap besok semua maba akan datang seperti hari ini. Dirinya tidak mau terlalu optimis, tetapi lebih ke realistis saja untuk Aqisol besok. Mengingat kejadian hari ini, Aylin sudah menduga kalau besok akan ada yang membolos.
Entah berapa banyak dia tidak tahu.
Untungnya, maba 0057 bernama Kayvan itu tidak membuat ulah hari ini. Dan semoga besok-besok akan sama seperti hari ini. Andai saja Aylin tahu bahwa itu tidak akan mungkin terjadi.
Setelah membubarkan maba dari Aqisol hari ini, Aylin dan yang lainnya bisa bernafas lega. Mereka bisa beristirahat di area kampus. Cuaca siang hari ini cukup terik dan membuat siapa saja lebih memilih tidak banyak gerak.
Kecuali para maba yang kini mulai begerak memburu para senior untuk meminta nama dan tanda tangan.
"Kantin yok!" ajak Andre.
Beberapa TPK yang tersisa di tepi lapangan mengangguk mengiyakan ajakan Andre. Anggota TPK yang lain sudah menyebar entah kemana.
"Gila sih, hari ini panas banget," keluh Andre sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Iyo. Padahal tadi pagi dinginnya minta ampun," sahut Burhan.
"Jadi kantin kan Bang?" tanya Adi kemudian. Cowok itu tadi pergi sebentar untuk membuang sampah.
Andre dan Burhan mengangguk.
"Yok gas! Keburu nggak kebagian meja," kata Andre. Adi, Frans, dan Tiara mengikuti kedua senior itu menuju kantin.
"Lin, Ma, ayok!" panggil Andre kepada Aylin dan Rima yang belum beranjak.
"Duluan aja! Mau ke basecamp bentar!" Aylin membalas.
"Oke! Tak cimke panggon!," seru Andre yang sudah berjalan menjauh. [Kupesankan tempat]
"Ya!"
Kini hanya tinggal Aylin dan Rima. Aylin lalu berjalan menuju basecamp untuk menaruh toa pelantang yang dibawanya. Sementara Rima mengikuti di sebelahnya.
"Lin," panggil Rima.
"Hmm?" jawab Aylin tanpa menoleh.
"Aku izin keluar bentar boleh ya?" tanya Rima sedikit ragu.
"Buat apa?"
"Ada urusan mendadak yang penting banget. Nanti deh tak ceritain, tapi aku mau mastiin dulu," kata Rima dengan tatapan memohon.
"Ya? Ya? Ya?" desaknya lagi.
Aylin mendengus, lalu berujar, "Ya deh... tapi nanti balik lagi ya?"
Cewek itu tidak ambil pusing untuk menanyai lebih lanjut alasan sahabatnya itu. Toh nanti Rima juga akan memberitahunya.
"Yes! Nanti tak susul ke kantin kalau sempat!"
Setelah berkata demikian, cewek berambut pendek itu langsung pergi ngacir keluar kampus. Aylin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rima. Lalu melanjutkan urusannya sebelum berlalu ke kantin menyusul yang lain.
Tidak sampai lima menit, Aylin sudah sampai di area kantin FT. Walau beberapa warung ada yang tutup karena libur semesteran, tetapi kondisi kantin siang ini terlihat penuh dengan mahasiswa.
Terutama para maba yang sibuk mencoba meminta tanda tangan senior mereka.
Menjadi TPK, bahkan biangnya, menjadi salah satu hal yang disyukuri Aylin pada saat-saat seperti ini. Sangat jarang maba yang mendatanginya untuk sekedar berkenalan dan meminta tanda tangan. Tidak akan ada penghalang ketika berpindah tempat atau diam bersantai.
Pandangan Aylin menjelajah selama beberapa saat sebelum menemukan tempat di mana Andre dan yang lainnya duduk.
Baru ada Andre, Burhan, dan Tiara.
"Mana Adi sama Frans?" tanya Aylin lalu mendudukkan dirinya di bangku sebelah Tiara.
"Nyusul bentar lagi. Tadi mereka dimintai tanda tangan sama gerombolan maba dekat bengkel mesin," jawab Burhan.
"Meski tampang dingin sama nggak bersahabat, tetap aja banyak yang nyoba minta tanda tangan Frans. Si Adi jadi kena juga, haha!" ujar Andre.
"Frans ganteng soalnya. Kudengar banyak maba cewek naksir dia. Meski dia TPK sekalipun," Tiara menimpali, "Belum tahu aja tuh para maba kalau pacarnya Frans siapa, haha!"
Posisinya sebagai salah satu anggota tim yang banyak dibenci para maba tidak membuat reputasi Frans sebagai salah satu senior idola tenggelam. Justru malah semakin bersinar. Lalu meski terkesan dingin dan cuek, Frans aslinya merasa risih dengan semua perhatian yang ada.
Ironinya lagi, Frans memiliki gelar sebagai duta kampus favorit.
"Kalian nggak sekalian juga?" tanya Aylin lagi dengan heran.
"Ada sih tadi satu atau dua, tapi nggak tak gubris soalnya udah laper duluan," kata Burhan.
"Si Tiara malah bisa-bisanya langsung ngibrit lari pas lihat ada maba jalan mendekat tadi."
"Hahahaha! Itu namanya insting pertahanan diri," celetuk Tiara dengan khas.
Aylin terkekeh mendengarnya.
.
.
.
Maba yang bernama Kayvan itu, apa yang dilakukan olehnya?
Aylin mengamati dalam diam kerumunan maba dan senior yang berada beberapa meter dari tempatnya. Setelah Andre memberitahunya barusan, Aylin memandang dengan tatapan menilai apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah selesai dengan makan siangnya beberapa menit yang lalu.
Maba 0057 itu terlihat mencurigakan. Buat apa dia membagi-bagikan buku merah kecil yang harusnya dipakai untuk meminta nama dan tanda tangan senior?
Ah... atau mungkin...?
"Dia mau jadi joki?"
Pertanyaan retorik bernada sinis yang dilontarkan Adi menyimpulkan apa yang Aylin duga barusan.
Aylin melirik ke arah Frans sekilas. Cowok itu adalah mentor maba itu di kedutaan kampus. Dan Aylin mempercayakan Frans masalah pelajaran ke maba 0057.
"Apa rencanamu, Ketua?" tanya Andre.
Raut wajah Aylin yang semula datar, berubah sinis.
Ada alasan kenapa tugas itu diberikan.
Membiarkan orang lain bersusah payah sementara kau sendiri dengan santai menunggu hasilnya dari orang lain, itu percuma. Tidak akan ada esensinya sama sekali!
Meskipun tidak ada aturan khusus tentang cara mendapatkan tanda tangan senior, tetapi membiarkan temanmu atau dirimu sendiri melakukan semuanya—kasarannya jadi joki—tentu termasuk kecurangan bukan?
Lalu kenapa maba 0057 itu dengan gayanya yang sok jadi pahlawan melakukannya?
Baru saja tadi menyelesaikan masalah Guntur, sekarang junior menyebalkan itu berulah lagi! Sepertinya memang tidak ada hari di mana maba 0057 diam jadi maba yang patuh.
"Maba 0057 Kayvan!" seru Aylin memanggil. Suara Aylin sedikit teredam suasana kantin yang cukup berisik. Namun, maba yang dimaksud mendengarnya. Terbukti dengan cowok itu yang menoleh, lalu melangkah mendekat ke meja Aylin ketika melihat senior itu mengisyaratkannya untuk mendekat.
Aylin melirik buku yang dibawa oleh maba itu. Ada dua buku di tangannya.
"Kenapa kau punya dua buku?" tanya Aylin dengan datar.
"Yang satunya punya teman saya, Kak," jawab 0057.
"Temanmu mana? Kenapa bukunya bisa ada di tanganmu?" cewek itu kembali menginterogasi.
"Dia menitipkan ke saya, Kak."
Oh, maba itu tidak menjawab pertanyaan tentang keberadaan temannya. Aylin lalu mengisyaratkan Adi untuk mengecek buku yang dibawa Kayvan. Adi dengan sigap meminta buku merah yang dibawa Kai.
"Kau sudah punya tanda tangan saya?" tanya Aylin dengan nada santai.
"Belum, Kak," jawab Kai.
"Kau mau tanda tangan saya?" Aylin kembali bertanya.
"Boleh, Kak."
"Kalau gitu, ada hal yang harus kau lakukan untuk dapat tanda tangan saya," kata Aylin sambil menatap maba 0057 tepat di matanya.
"Dan karena sepertinya kau juga sangat populer," cewek itu tersenyum tipis dengan sinis.
"Kau harus mengatakan suka ke sepuluh senior—" ucapan Aylin terpotong.
"Dua puluh!"
"Lima belas!"
Tersangka yang menyelanya adalah Andre dan Adi. Mereka berdua berniat mengusulkan jumlah senior yang harus maba itu 'tembak'.
Aylin hanya melirik sekilas ke arah mereka, mengisyaratkan biar dia ambil alih dulu, sebelum kembali berbicara.
"Sepuluh senior yang ada di kantin ini, dan pastikan senior itu menjawabnya. Saya nggak terlalu peduli apakah senior itu menerima atau menolak pernyataanmu. Yang penting saya harus melihat dan mendengar kau melakukannya."
"Saya tahu kau bukan pengecut, Maba 0057," Aylin menyindir Kai yang selama berhadapan dengannya, cowok itu selalu menentangnya.
Maba itu terlihat memandang tajam ke arah Aylin.
Oh! Sepertinya ada yang tersinggung. Sambil tersenyum angkuh, Aylin mengisyaratkan cowok itu untuk segera mulai.
Lalu, maba itu pergi dan mendatangi meja-meja yang terdapat seniornya secara acak lalu mulai 'menyatakan perasaannya'. Aylin dan teman-temannya cukup bisa mendengar dengan jelas dari tempat mereka karena suasana kantin seberisik tadi. Banyak yang diam melihat ada juga yang memilih acuh tak acuh dan melanjutkan acara makan mereka.
"Kau udah mengeceknya?" tanya Aylin. Cewek itu mengerling ke arah Adi yang memegang buku merah milik Kai.
"Ya. Yang satu jelas punya teman maba itu. Satu gugus, namanya Neo Andhita Murti," jawab Adi.
"Aku juga tadi yakin maba itu nggak cuman bawa itu buku," timpal Andre. "Kalian lihat sendiri 'kan tadi? Dia bagi-bagi buku."
Aylin mengangguk. Lalu kemudian dia menoleh ke arah Frans dan berkata, "Frans, kau adalah mentornya. Jadi, tolong lakukan tugasmu sebaik mungkin."
Frans mengangguk mengerti, "Baik."
Setelah menyelesaikan tantangan dari Aylin dan membuatnya menjadi bahan tontonan gratis, maba itu berjalan menghampiri meja Aylin. Ekspresi wajahnya seolah puas telah berhasil menyelesaikan syaratnya.
Cowok itu terlihat congkak.
Dan Aylin benci melihatnya.
"Saya sudah menyelesaikannya, Kak," ujar 0057.
Aylin menyerahkan kembali dua buku merah yang tadi dibawa Kayvan, "Kau memang melakukannya dengan cukup baik."
"Tetapi saya tidak berjanji untuk menandatangani bukumu," Aylin menyeringai tipis.
Dia tadi memang bertanya dan menawarkan. Namun, bukan berarti dia berjanji akan melakukannya bukan? Dalam hati Aylin tertawa puas melihat ekspresi yang ditampilkan maba 0057 itu.
Kena kau!
Aylin bangkit berdiri, diikuti teman-temannya yang lain. Mereka lalu berlalu begitu saja. Bahkan Andre dan Adi sempat-sempatnya melempar tatapan sinis ke arah Kai.
Sebelum berlalu pergi, Aylin membisikkan sesuatu pada cowok itu. Tinggi badan mereka yang terpaut lima belas senti bukan menjadi halangan.
"Saya benci orang yang sok jagoan," kata Aylin kepada 0057 dengan lirih. Lalu dia melenggar pergi begitu saja tanpa mempedulikan reaksinya.
Ketika para senior itu di tempat yang cukup jauh dari kantin dan lalu lalang maba, seketika Andre, Burhan, dan Adi tertawa terbahak-bahak. Sementara Tiara terkekeh kecil, Frans dan Aylin tersenyum tipis.
"Good job Lin!" puji Andre di sela-sela tawanya.
.
.
.
"Aku dengar beberapa maba bilang kalau Aqisol bukan hal penting. Mereka bahkan bilang kalau kegiatan ini nggak ada gunanya."
Seorang cowok yang memakai dresscode seperti maba berujar dengan tenang. Saat ini Aylin dan semua TPK bayangan sedang berkumpul di basecamp. Mereka sengaja mem-booking ruangan ini beberapa menit untuk laporan singkat.
Cowok yang tadi barusan melakukan laporan adalah Raka, salah satu dari beberapa TPK bayangan yang berkostum jadi maba selama ishoma tadi setelah Aqisol.
Dan Raka adalah orang yang tidak sengaja mendengar beberapa maba yang duduk di gazebo membahas soal Aqisol. Kalau kalian lupa, dia itu cowok yang dikira hanya maba lewat di bagian sebelum-sebelumnya.
Beberapa TPK lain juga melaporkan hal yang serupa.
Sementara Aylin, cewek itu tidak begitu terkejut mendengarnya. Dia sudah menduga sebelumnya. Aqisol adalah agenda yang punya pro dan kontra. Mendengar ada yang kontra bukan sesuatu yang baru. Karena dulu, Aylin pernah punya pemikiran yang serupa. Namun, tidak seekstrim sampai menganggap Aqisol tidak ada gunanya sampai berniat membolos.
Dulu ketika maba, Aylin awalnya berpikir Aqisol itu agenda yang cukup merepotkan dan membuang waktu. Namun, harus dilakukan mau tidak mau.
"Terima kasih laporannya," ujar Aylin kemudian.
"Kurasa kita perlu lebih eksplisit dan tegas mulai besok," lanjutnya. "Dan antisipasi juga maba yang membolos. Karena kupikir, besok nggak ada yang nggak bolos."
"Baik, Lin!"
"Siap, Mbak Lin!"
Aylin benar-benar harus mewanti-wanti buat besok. Dan jujur saja, cewek itu merasa agak cemas. Semoga besok dugaannya tidak jadi parah. Walau ada kejadian senior dan maba yang nyaris berkelahi di lapangan tadi.
Ya, semoga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
pendek dulu ya kali ini ☆*:. o(≧▽≦)o .:*☆
Terus di a.n. ini aku lagi nggak mau banyak cakap *tulis (`・ω・´)
see you next chapter ^^