![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Anticlimax (n): a disappointing end to an exciting or impressive series of events.
.
.
.
[warning: pembahasan cukup serius dan dialog yang panjang. chapter panjang dan baru minor editing]
.
.
.
.
"Oke, nanti aku sama yang lain ke sana," Naufal menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Taufan.
Naufal terlihat menghela nafas sebelum menjawab, "Alin sakit."
Jawaban singkat dari Naufal mendapat respon yang berbeda.
"Hah? Serius?" tanya Taufan tidak percaya.
"Bisa-bisanya bocah mageran itu sakit," komentar Budi.
Hari ini mereka sengaja lari pagi bareng sekaligus hang-out. Aja kan Naufal tentunya. Bertiga saja karena yang cewek katanya mau rebahan di asrama saja. Malah barusan ditelepon Rima yang mengabari kalau Aylin sedang sakit.
Padahal semalam waktu mereka kumpul cewek itu sehat-sehat saja. Malahan pesan minum es waktu mereka makan.
"Udah yok, habis ini kita cabut ke asrama mereka. Aku tak ngirim pesan ke kepala asrama cewek buat jenguk Aylin," kata Naufal lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Kepala asrama cewek, bahkan sampai satpamnya, sudah hafal dengan mereka bertiga tiap kali berkunjung. Biasanya mereka bertiga berkunjung untuk numpang makan, belajar bareng, atau menjenguk seperti yang akan mereka lakukan setelah ini. Jadi, sudah tidak menjadi masalah besar kalau tiba-tiba ada penghuni asrama cowok datang mengetuk pintu.
Kecuali kalau mereka membuat keributan─sumber masalah biasanya Budi─ketua asrama tak segan-segan untuk menendang pengunjung ilegal tak ilegal itu keluar.
Mereka bertiga lalu berbalik arah dan pergi ke asrama cewek untuk menjenguk Aylin. Di perjalanan, Naufal mampir sebentar ke apotek di dekat kampus untuk membeli obat pesanan Rima untuk Aylin.
"YUHUU I'M COMING, MATAHARIKUUHH!!" Budi berteriak keras begitu mereka sampai di depan pintu kamar Aylin. Cowok itu bahkan langsung nyelonong masuk tanpa memedulikan keadaan penghuni kamar yang kaget mendengar suara toanya.
"BERISIK BUDII!!" seru Rima marah karena tingkah Budi yang seenaknya. Sementara Nana masih mengelus dada untuk menenangkan keterkejutannya. Walaupun Nana sudah cukup mengenal baik anak-anak gengnya Aylin, tetap saja dirinya belum terbiasa dengan segala tingkah polah mereka yang ajaib.
Sedangkan pasien utama kita tengah memijat pelipisnya karena merasa tambah sakit kepalanya mendengar lolongan tak beradab dari Budi.
"Nih Makcik, aku belikan bubur sama teh anget. Bubur spesial kubeli dari mas-mas yang biasa mangkal di jalan masuk wilayah asrama FT. Untung banget jualan dan masih sisa," kata Taufan lalu menyiapkannya agar bisa dimakan Aylin dengan mudah.
"Noh makan, jangan lupa sama obatnya juga. Hari ini jangan puasa dulu kalau nggak kuat," lanjutnya. "Bisa-bisanya malah sakit. Perasaan semalem sehat-sehat aja deh."
Aylin hanya meringis lalu mengucapkan terima kasih kepada sohibnya itu atas bubur dan teh hangatnya. Naufal juga memberikan obat yang tadi dibelinya dan mengingatkan Aylin untuk meminumnya setelah makan bubur.
"Bud, kau nggak bawa apa gitu buatku?" tanya Aylin.
"Heleh ngelunjak! Kehadiranku itu udah cukup Lin. Dijamin bakal sembuh kalau dijengukin sama orang ganteng gini," sahut Budi dengan narsis. Cowok itu sampai memasang raut wajah songong minta ditonjoknya ketika berkata demikian.
"Yang ada Alin malah tambah sakit bego!" tukas Rima jengkel. Benar-benar deh, cewek itu rasanya ingin menonjok wajah songong Budi.
Budi menatap sinis ke sepupunya. "Sensi amat, Mak! PMS ya?"
"Ugh, Budi..!!" geram Rima semakin jengkel.
"Hoy udah!" seru Naufal melerai. "Nggak kasian apa sama Alin yang lagi sakit kalau kalian ribut gitu?"
"Iya tuh," timpal Taufan yang tumben sekali waras. Biasanya cowok itu akan mengompori kalau Rima dan Budi sudah mulai ribut.
"Tuh lihat, Alin udah kayak onggokan yang tergeletak tak berdaya," lanjutnya yang berhasil mendapatkan hadiah lemparan bantal di kepalanya oleh Aylin.
"Dikira apaan onggokan," gerutu Aylin.
"Heh Alin, sebenarnya kau sakit apa?" tanya Budi.
"Demam Mas Budi. Tapi ini udah agak mendingan sih daripada tadi."
Bukan Aylin yang menjawab, tetapi Nana. Mana sudi Aylin memanggil Budi dengan embel-embel 'Mas' atau 'Bang' sekalipun cowok itu lebih tua darinya. Cewek itu sibuk mencoba memakan bubur yang sudah dibawakan Taufan walau rasanya hambar dan tidak menggugah selera. Padahal bubur yang dibelikan Taufan adalah salah satu bubur terenak yang pernah dia rasakan. Namun, karena sakit, rasanya jadi hambar.
"Kau bisa demam ya Lin ternyata," kata Budi kemudian. Aylin hanya melirik tajam ke arah Budi karena rasanya tidak mood untuk meladeninya.
.
.
.
Akhirnya Aylin bisa istirahat dengan lega. Sungguh, kepalanya terasa tambah berat setelah teman-temannya datang. Bagaimana tidak? Bukannya Aylin bisa mendapatkan waktu istirahat yang tenang dan cukup, malah harus menahan sakit kepala karena tingkah jejadian para sohibnya. Di mulai dari Budi dan Taufan yang malah mengajak main kartu─dia tak ikut tentu saja─dan dua orang sableng itu berteriak-teriak heboh. Aylin yakin tetangga asramanya pasti terganggu dengan suara mereka.
Untung bukan di bangsal rumah sakit. Bisa malu tujuh turunan si Aylin nanti.
Naufal yang biasanya waras malah ikut-ikutan main kartu tidak jelas. Di mana yang kalah harus merelakan wajahnya dicemong dengan tepung. Entah Budi mendapatkannya dari mana.
Nana yang memang social butterfly, pecicilan, dan suka rusuh tentu langsung ambil bagian dalam kerusuhan yang diprakarsai oleh Budi Arif Prasetyo. Namanya tidak mencerminkan kearifan sosoknya.
Untungnya Aylin tidak sampai pingsan saking pusingnya dengan keributan di kamarnya. Sampai-sampai kepala asrama yang biasanya di lantai pertama naik ke lantai tiga dan menendang keluar para perusuh berkedok menjenguk teman yang sakit. Dipaksa keluar dengan wajah yang penuh cemongan putih dari permainan mereka.
Entah bagaimana dulu waktu maba bisa bertemu dan bersahabat dengan mereka sampai sekarang. Entah harus bersyukur atau meratapi nasib.
Setidaknya hari ini Aylin bisa izin untuk tidak ikut rapat koordinasi pukul dua siang nanti. Dia bisa istirahat sepuasnya dan semoga tak ada yang menganggu. Bukannya cepat sembuh, malah tambah sakit nanti.
Lagipula, hari ini masih hari di mana David menjabat sebagai ketua sementara.
Jadi, Aylin punya alibi kuat kenapa David yang justru hadir di rapat nanti sebagai ketua, bukan dirinya. Dia juga sudah meminta Rima untuk menelepon Adi sebagai perwakilan anggota yang akan mendampingi ketua nantinya. Awalnya mau Frans, seperti sebelum-sebelumnya karena secara cowok itu sudah jadi salah satu tangan kanannya, tetapi Frans bilang dia ada pertemuan perdana untuk persiapan pemilihan duta kampus.
Rima bahkan tidak hanya melakukan telepon suara saja, tetapi telepon video sekaligus yang memperlihatkan Aylin yang terbaring lemah dengan bye-bye fever tertempel di dahinya. Katanya biar jadi bukti kalau Aylin beneran sakit.
Untung Adi yang melihat dan bukan anggota lainnya. Adi itu sebelas duabelas dengan Frans.
Kalem, bisa diandalkan, tidak neko-neko, sopan, dapat dipercaya, dan sama-sama punya pacar. Keduanya juga menghormati Aylin sebagai ketua.
Bagi yang naksir Adi sebelumnya, lebih baik mundur teratur. Adi dan pacarnya sudah pacaran sejak SMA kelas dua dan sampai sekarang going strong.
"Dah Lin, istirahat aja biar cepet sembuh," kata Rima setelah berteleponan dengan Adi untuk menyampaikan pesan Aylin.
"Kau kayaknya demam gara-gara semalam malah minum es banyak. Terus sering tidur telat sama kebanyakan pikiran soal TPK," tuturnya lagi. "Meski jadi ketua, kau juga harusnya jangan lupa jaga kesehatan. Terus kalau ada apa-apa terkait, kau bisa bilang ke aku, Frans, Adi, atau anggota lain Lin biar kami bantu. Kau nggak sendirian, ada kami di belakangmu."
"Jadi, jangan menanggungnya sendirian, oke?" tanya Rima memastikan.
"Kalau sampai ketahuan, awas aja semua komikmu akan kubakar," tambahnya dengan nada mengancam. Dan Rima memang lebih sering tidak bercanda terkait ancamannya.
Aylin mengangguk lemah. Tidak punya daya untuk protes. Akhir-akhir ini memang dia punya banyak pikiran masalah TPK. Dari dia yang mencoba menjadi ketua yang baik, tugas-tugasnya, sampai ke masalah David. Padahal baru beberapa minggu Aylin menjadi ketua secara resmi. Baru awal-awalnya, belum sampai ke bulan-bulan berikutnya hingga hari-H.
Sakit itu benar-benar tidak enak!
"Na, kalau ada apa-apa, ketuk kamarku aja atau telepon ke nomorku. Punya kan? Aku mau balik dulu, mandi sama sekalian beres-beres kamar," Rima berpesan kepada Nana.
Nana mengangguk. "Siap, Mbak Ma. Makasih banget lho mbak udah bantuin."
"Alin kan sahabatku, jadi wajarlah. Kau juga jaga kesehatan biar nggak tumbang kayak kakak sepupumu itu," kata Rima.
"Pasti, Mbak!"
.
.
.
Hari ini adalah jadwalnya rapat internal TPK dan sekaligus penentuan soal masalah David. Aylin sudah sebelum sejak kemarin. Memang benar, dia memang butuh istirahat yang cukup. Ibunya juga sudah sempat menelepon dan mengomelinya karena tidak menjaga kesehatannya. Bahkan mau datang ke asrama, tetapi Aylin mencegahnya dan mengatakan kalau kondisinya sudah mendingan. Ada Nana juga di asrama jadi ibunya tak perlu cemas.
Bagaimanapun, Aylin itu anak satu-satunya. Perempuan lagi.
Bimala juga sempat mampir ke asrama. Namun, cewek itu dengan kurang ajarnya malah tertawa dan mampus-mampusin Aylin karena jatuh sakit. Tidak beda jauh dari Budi.
Yah... walau begitu, Bimala juga membantu merawatnya menggantikan Nana. Membiarkan cewek itu istirahat. Untung Bia itu calon dokter, jadi Aylin merasa aman-aman saja meski kupingnya harus panas mendengar omelan kakak sepupunya itu yang tak kalah cerewetnya dari ibunya.
Astaga berdosa bange kau Aylin, mengatai ibumu cerewet!
Kembali ke hari ini, seperti biasa, Aylin datang lebih dulu─selama dia tidak ada halangan dia akan datang lebih dulu dari anggotanya─dan menunggu di tempat biasanya. Agak deg-degan juga karena hari ini menentukan nasib David ke depannya.
Namun, tidak! Aylin punya caranya sendiri.
Satu persatu anggota TPK hadir. Aylin mengamati mereka satu-satu dari tempatnya. Sampai David dan temannya datang sambil tertawa-tawa dengan candaan mereka. Cewek itu mengamati David selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk bergabung bersama anggota yang lain.
Beberapa langsung menyadari kehadiran Aylin dan menyapanya. Aylin balas menyapa mereka lalu memutuskan duduk di sebelah salah satu anggota TPK cewek yang berhijab, Megan, seorang mahasiswi tahun ketiga jurusan Teknik Kimia. Aylin cukup dekat dengan Megan sejak mereka menjadi anggota TPK tahun lalu.
"Udah sehat, Lin?" tanya Megan menyapa.
Aylin mengangguk dan menjawab, "Alhamdulillah, udah Meg. Emang cuman butuh istirahat aja kok."
"Syukurlah..." sahut Megan. "Kalau kau ada butuh bantuan, kau bisa bilang ke kita lho Lin. Jangan tanggung sendiri, oke? Manfaatkan saja anggotamu ini yang banyak, haha..."
Aylin ikut terkekeh.
"Pastinya. Thanks, Meg."
"Yo'i!"
Aylin menunggu sambil mengamati. Sesekali dia mengobrol dengan Megan dan anggota TPK cowok berambut keriting bernama Febrian dari jurusan Teknik Otomotif tahun kedua.
Tepat pukul dua siang, Aylin memulai rapatnya. Bagaimanapun, David tak lagi dalam masa tantangan karena hari ini penentuan. Namun, sebelum itu, Aylin akan membahas permasalahan David.
"Sesuai kesepakatan minggu kemarin, hari ini adalah penentuan apakah David tetap jadi ketua atau tidak," kata Aylin setelah mengucap salam dan basa-basi sejenak untuk pembukaan.
Beberapa anggota terlihat kasak-kusuk membicarakan kesepakatan itu. Aylin membiarkannya.
"Langusng aja. Jadi..." Aylin menjeda, lalu menyapukan pandangannya ke seluruh anggota yang ada.
"Yang pilih David tetap jadi ketua cung!" [ngacung "cung" dalam bahasa Jawa artinya mengangkat tangan]
Terlihat ada tiga orang yang mengangkat tangan. Sudah dapat dipastikan secara mutlak kalau Aylin tetap menjabat sebagai ketua TPK.
Aylin manggut-manggut tanpa terkesan meremehkan.
"Tolong berikan alasan sejujurnya, kenapa David dan kenapa aku yang jadi ketua. Aku ingin tahu pendapat kalian. Terlepas dari ketua sebelumnya yang memberikan mandat," ujar Aylin.
Suasana hening selama beberapa detik sebelum salah seorang anggota TPK mengangkat tangan untuk berbicara.
"Kalau aku pilih Mbak Alin karena ya emang pantes. Sekaligus emansipasi juga. Mbak Alin itu sebagai salah bukti kalau perempuan pun bisa jadi pempimpin, terutama di FT," katanya.
Lalu seorang cowok yang duduk tak jauh dari Aylin menimpali.
"Terlepas dari Bang Teguh ya, selama Alin jadi ketua sejauh ini kurasa lebih gercep sama efisien. Aku sih nggak masalah mau ketua itu cowok apa cewek, yang penting kerjanya beres."
Terlihat banyak orang mengangguk setuju.
"Bener apa yang dibilang Rahmat," sahut Rima menambahkan. "Ini menurutku ya, di sini bukan sebagai sahabatnya Alin tapi sebagai sesama TPK dan bawahannya. Nggak peduli cowok atau cewek yang memimpin, asal dia itu tanggung jawab dan jelas kerjanya nggak masalah. Kita sebagai anggota bisa menilai sendiri."
Beberapa orang mengangguk setuju dengan pendapat Rima.
"Kalau aku sih lebih ke David," kata seseorang yang duduk di belakang. "Kalau aku lebih sreg TPK itu dipimpin cowok. David juga punya koneksi kating-kating, jadi kalau ada apa-apa gampang."
"Alin juga punya koneksi btw. Malah dia anak Menwa sama BEM. Jadi patokan punya koneksi sih kurang pas menurutku," tukas cowok yang punya tindik di telinga.
"Kalau menurutku malah ketua itu nggak harus punya koneksi," kata seorang cowok berpotongan rapi yang duduk di seberang cowok bertindik. "Apa gunanya punya anggota yang banyak kalau apa-apa harus ketua? Mbak Alin bisa aja minta ke salah satu di antara kita yang kiranya punya koneksi luas, itu hak dan wewenangnya sebagai ketua. Punya koneksi luas itu hanya bonus. Yang penting kinerjanya."
Beberapa orang terlihat menyetujui ucapannya.
"Alin itu kurang inisiatif. Dia lebih milih diem, nggak ada inisiatif buat aktif di forum. Dari tahun kemarin pas jadi anggota gitu," kata Joni.
"Mana ada ketua kurang inisiatif kayak gitu?" tambahnya dengan nada meremehkan. "Nggak pantes!"
"Eh Jon, darimananya Alin nggak ada inisiatif?" seloroh Andre tak terima. "Kau aja gaulnya cuman sama David nggak lihat kinerja anggota yang lain, mana tahu? Walau kelihatan diem, tapi kuakui kinerjanya lebih bagus dari kita semua. Kau nggak ingat pas ada maba sakit waktu Aqisol tahu lalu? Alin yang sadar pertama kali, ***! Mas Zul aja baru tahu pas lihat si Alin lari ke tengah lapangan padahal di situ para maba lagi lari nyelesain tantangan. Terus pas kita semua kena hukuman gara-gara ada TPK yang bermasalah, Alin *** yang ngover tugasnya sama yang kena tanggungan dari Mas Zul padahal harusnya bukan dia. Karena kita terlalu pengecut waktu itu. Dan kau masih bilang nggak pantes?!"
Aylin mengisyaratkan Andre untuk menahan amarahnya yang sepertinya mau meledak. Joni itu memang cara bicaranya tajam dan nyelekit. Sementara Andre bisa dibilang emosian dan mudah meledak. Dan seharusnya Andre tak perlu mengungkit soal kejadian di mana semua TPK dihukum karena ada salah satu anggota yang bermasalah dan tidak ada yang mau mengaku. Apa yang dilakukan Aylin waktu itu semata-mata biar tidak berlarut-larut dan cepat selesai. Toh aslinya Zul dan Teguh sudah tahu siapa yang bermasalah, hanya mau kejujuran saja.
Para anggota TPK tahun kedua tahu kejadian pertama yang dibicarakan Andre. Waktu itu mereka terkejut ketika tiba-tiba Aylin berteriak menghentikan kegiatan mereka.
"Alin itu jeli. Dia juga orang yang teliti." komentar cewek bercepol.
"Mungkin beberapa orang nggak sadar, tapi Alin itu punya caranya sendiri buat inisiatif tanpa harus ditunjukkan ke publik. Aku udah pernah melihatnya beberapa kali, ketika dulu bertugas sebagai anggota sama sekarang pas jadi ketua."
"Ada lagi?" tanya Aylin beberapa saat kemudian. Dia mengedarkan pandangannya.
"Aku Lin," cowok berambut agak gondrong mengangkat tangan.
"Sebenernya, aku nggak begitu masalah arep wedhok apa lanang. Tapi cewek itu biasanya kurang bisa tegas sama keras. Dan sejauh ini kita ayem-ayem aja nggak kayak tahun kemarin, kurang menantang gitu. Entar malah pamor TPK FT jadi lembek," lanjutnya. [mau perempuan atau laki-laki]
Beberapa anggota menyahut setuju.
Aylin mengangguk menerima semua pendapat dari anggotanya. Mungkin ke depannya akan dia adakan evaluasi antarpersonal seminggu atau dua minggu sekali untuk bisa lebih meng-upgrade diri. Selain evaluasi terkait tugas dan segala macam urusan TPK, evaluasi tentang kinerja masing-masing individu juga perlu dilakukan supaya tahu di mana kesalahan dan mana yang harus diperbaiki.
Selain itu biar tambah erat solidaritasnya. Biar TPK semakin kompak.
"Oh ya, aku ada evaluasi buat David selama jadi ketua seminggu lalu," kata Aylin kemudian. Auranya terlihat berbeda. Lebih dingin dan terkesan tegas.
"Jangan dikira aku nggak tahu ya! Kau kebanyakan menyepelekan tugasmu sebagai ketua dan waktu briefing ketua dan PI kelihatan bange kau nggak paham jobdesk-mu. Seminggu ini pas aku jadi anggota biasa, kurang ada progres kemajuan. Harusnya diskusi soal tatib tetap jalan, tapi nyatanya nggak ada sama sekali. Malah kau lebih fokus bahas Aqisol yang jelas-jelas itu buat pembahasan belakangan habis semua tatib beres. Kau emang lebih tegas dan keras, aku akui itu. Tapi jangan sampai itu malah membuatmu nggak mau nerima usul atau saran dari anggota yang lain. Aku dengar beberapa hari yang lalu ada salah satu anggota yang ngusulin buat nyelesain tatib dulu sama masalah jobdesk, tapi kau tetep keukeuh mau bahas Aqisol."
"Dan soal rapat koordinasi dua hari lalu, kau kurang menyampaikan progres dari FT ke forum. Malah Adi yang ngambil alih. Aku dapat kabar dari beberapa ketua TPK fakultas lain, nanyain soal progress FT gimana. Kukira kau sudah paham jobdesk-mu, Vid. Di awal aku udah ngasih gambaran sama nunjukin. Kudengar kau juga udah tanya-tanya ke Mas Zul. Tapi kau terlalu menyepelekan," lanjutnya dengan panjang lebar.
Aylin menyapukan pandangannya ke seluruh anggota yang terdiam.
"Jadi ketua itu nggak cuman masalah jabatan," katanya kemudian. "Tiap ketua juga punya karakteristik masing-masing. Dan aku emang sengaja membiarkan David ngambil alih seminggu buat dia merasakan, oh gini lho jadi ketua. Jadi ketua itu berat kalau kalian nggak siap. Nggak sekeren dan semudah kelihatannya. Tinggal duduk manis merintah bawahan, habis perkara. Bukan, bukan hanya itu guys. Banyak keputusan-keputusan yang harus dipertimbangkan sebelum dieksekusi. Apa baik atau tidak buat kepentingan bersama. Ketua itu juga harus mau terbuka dengan kritikan dan masukan. Jujur, aku itu bukan ketua yang baik. Bahkan aku ragu apa aku pantes atau nggak. Tapi aku belajar menerima tugas yang diberikan. Aku uga lagi belajar gimana caranya jadi ketua karena aku tahu batasanku. Kata Joni, aku kurang aktif sama inisiatif. Benar, aku nggak ngebantah kok. Tapi aku mau belajar buat jadi aktif dan berinisiatif yang rasanya benar-benar keluar dari zona nyamanku. Itu nggak enak btw. Tapi nggak masalah, selama itu baik untuk diriku sendiri dan kepentingan bersama, why not?
"Kita di sini sama-sama belajar ya? Aku belajar dari kalian, kalian belajar dariku. Mungkin selama ini aku terkesan diam, tapi aku tahu dari mengamati. Ada yang kurang sreg dengan jobdesk tapi nggak bilang, aku tanyain. Ada yang belum paham soal tugasnya tapi bilangnya malah ke temennya, aku kasih penjelesan singkat lagi. Aku juga tahu kok ada yang kurang suka sama kinerjaku, tapi aku diam. Aku buat sebagai bahan evaluasi diriku sendiri. Selama jadi ketua, aku berusaha buat lebih inisiatif lagi, jadi bilang aja langsung padaku kalau ada koreksi, biar aku langsung tahu dari kalian. Bukan dari orang lain. Yang mungkin bagi beberapa orang nggak suka kinerjaku. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, nggak bakal ada habisnya. Jadi, maaf kalau aku kurang sesuai ekspektasi kalian soal sosok ketua TPK. Nggak bisa setegas Mas Teguh atau sekeren Mas Zul. Karena ya ini cara kerjaku. Kalau ada yang miss, yuk kita evaluasi bersama dan perbaiki bersama. Karena kita di sini sama-sama dalam satu tim, bukan agenda ketua atau agenda individu masing-masing."
Aylin belum pernah bicara sebanyak ini, apalagi di depan banyak orang. Namun, rasanya cukup lega juga mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Jadi, David," Aylin menatap ke arah David yang sejak tadi diam dengan tajam.
"Sesuai kesepakatan, tetap jadi anggota atau keluar."
Beberapa berteriak riuh mendengar ucapan Aylin. David pasti sudah kepalang malu karena terlalu besar kepala dan banyak bicara sebelumnya. Ini adalah sanksi yang dimaksud Aylin karena sejak awal cewek itu cukup paham karakteristik David.
Aylin itu pengamat yang baik, ingat?
Sejak tahun lalu mengenal David, memang cowok itu dekat dengan Mas Zul dan bisa menjadi TPK FT yang baik. Cukup bisa diandalkan lah. Namun, David bisa saja jadi ketua yang baik, lebih baik dari Aylin malah, tetapi rasa tanggung jawabnya masih kurang dan kurang bisa menempatkan prioritas. Dulu pernah bertugas bersama David beberapa kali jadi Aylin cukup tahu. Cowok itu tipikal seperti Andre. Meledak-ledak, tetapi juga terlalu santai.
Jadi Aylin memang sengaja membiarkan David memegang TPK selama seminggu, apakah masih sama atau berubah. Dan ternyata masih sama.
Dengan begitu juga, Aylin berharap agar bisa jadi pembelajaran untuk semua anggota. Bukan sebatas otoritas yang menakut-nakuti.
"Aku berharap kau tetap jadi anggota," perkataan Aylin kemudian mendapat respon yang beragam. Ada yang terkejut tidak setuju ada yang bingung.
"Aku bukan tipe yang gitu aja ngeluarin anggota terus nyari yang baru. Itu kayak habis manis sepah dibuang. Dan sebelum ada yang bilang kalau David pantas menerimanya, aku mau bilang kalau tiap orang punya kesempatan buat memperbaiki diri. Sayang kalau anggota seperti David keluar. Selain berpengalaman, sebenernya dia juga cukup bisa diandalkan dan tahu bidangnya," lanjutnya.
"Tapi, kalau sampai terjadi lagi. Nggak ada kesempatan. Aku nggak akan segan-segan lagi. Ini buat pembelajaran dan peringatan untuk kita semua," tambahnya lagi sambil mengedarkan pandangan ke seluruh anggota. Memastikan bahwa mereka tahu kalau dirinya tidak main-main dengan perkataannya.
"Dan untuk pendapat Enggar tadi, kukira dengan kondisi yang lebih adem ayem di internal kita bisa lebih membuat kalian tenang dan siap. Bukannya kondisi mental dan fisik yang lebih tenang, kalian bisa berperan sebagai TPK dengan baik ya? Tanpa tekanan gitu. Ternyata tidak ya? Baiklah... karena ada yang nyinggung juga, jadi mulai selepas lebaran kita adakan latihan fisik dan mental. Biar nggak lembek, sekalian nyicil persiapan buat Aqisol juga. Persiapkan diri kalian ya!"
Sambil berucap demikian, Aylin tersenyum manis.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
jujur aku kurang puas dengan part ini, tapi sudahlah. aku revisi nanti
sejauh ini, aku baru pernah jadi ketua itu pas pramuka SMA (itupun cuman beberapa minggu sebelum semua kelompok dirombag lagi, temen kelasku bahkan beberqpa ada yg nggak nyangka aku jadi ketua wkwk), sama jadi koor ksk acara alumni SMP (itupun juga cuman sebentar karena yah struktur panitianya kurang jalan). aku lebih suka bekerja dibalik layar, misal jadi sekbend, tim desain, konsumsi, dll daripada ketua wkwk
pengen punya temen kayak budi wkwk, dulu ada temen cowok yg heboh tapi nggak senarsis dan sesengklek budi di sini