Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
A Piece of Advice



a piece of advice (phrase): an informal spoken helpful comment


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


Hari Sabtu adalah hari di mana TPK latihan sekaligus persiapan terakhir untuk agenda Aqisol. Mereka kini berada di Lembah UHW sejak pagi-pagi tadi. Untungnya hari ini cukup sepi jadi mereka bisa leluasa.


Seperti biasa, latihan dipimpin oleh Aylin. Sudah hampir dua jam dengan istirahat sepuluh menit beberapa kali mereka melatih fisik dan mental. Bahkan hari ini, beberapa senior mereka menyempatkan untuk hadir─walau beberapa kali memang ada senior yang hadir sebelumnya. Namun, hari ini kedua mantan ketua TPK sebelumnya hadir, Zul dan Teguh.


Bahkan Zul yang bulan ini ada magang di sekolah rela menyempatkan hadir. Dan tentu saja semua TPK tahun ini benar-benar menghargai dan menghormatinya. Mereka pastinya tidak mau memperlihatkan sisi yang kurang optimal dihadapan para seniornya, bukan?


"Mas-mas sekalian, besok pas Aqisol bisa hadir nggak mas?" tanya Andre ketika mereka semua istirahat.


"Wah sori ya, aku nggak bisa. Kan aku magang ngajar di sekolah," jawab Zul. Cowok yang kini berpotongan rapi itu mendapat tempat magang di salah satu SMK di luar kota Jogja bersama kelompoknya. Namun, masih dalam satu provinsi untungnya. Walau begitu jarak sekolah dan UHW cukup jauh. Zul mengajar di jurusan TKJ alias Teknik Komputer dan Jaringan di SMK.


"Nggak tahu kalau Bang Teguh gimana. Kalau aku beneran nggak bisa. Tapi pas penutupan Ospek aku dateng kok!" sambungnya.


"Aku bisa nengok, soalnya masih di kampus juga buat ketemu dosen sama kelas seminar. Tapi aku datengnya pas nggak ada jadwal shift di tempat kerja," ujar Teguh. "Kalau pas penutupan, aku usahakan ya."


"Makasih ya Mas Zul sama Mas Teguh!" kata Rima diikuti yang lain.


Kedua senior itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian, Teguh beralih ke Aylin.


"Lin, aku tahu kau pasti bisa memimpin mereka," ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu Aylin.


Aylin tersenyum kecil. "Makasih Mas Teguh."


"Awalnya..." dia agak ragu mau menceritakannya atau tidak. Semua anggotanya tengah sibuk bercanda atau sekedar beristirahat.


Teguh menangkat sebelah alisnya. Menunggu juniornya ini untuk melanjutkan kalimatnya.


"Awalnya aku sempat nggak pede Mas. Terus banyak yang kontra, nggak setuju kalau aku jadi ketua. Akeh sing omong nek aku ra pantes karang wedhok," akhirnya Aylin bercerita. [Banyak yang bilang kalau aku tidak pantas karena cewek/ perempuan]


"Terus apalagi?" tanya Teguh.


"Ya itu, katanya aku kurang inisiatif, kurang gerak. Mana bisa jadi ketua. Aku juga awalnya berpikir, kenapa aku? Kenapa bukan yang lain gitu lho. Kenapa Mas Teguh memilihku dulu buat jadi ketua," lanjut Aylin.


"Sekarang apa kau masih ngerasa gitu?" tanya Teguh sekali lagi.


Aylin tersenyum kecil, lalu berkata, "Setelah beberapa kali mencoba dan meyakinkan diriku sendiri, aku ngerasa aku bisa. Mereka tanggung jawabku, dan aku ingin nunjukin ke semua orang kalau aku bisa. Kalau aku emang pantas."


"Nah itulah! Itu yang terpenting," kata Teguh. "Keputusanku menjadikanmu jadi kandidat ketua TPK itu bukan tanpa alasan. Orang lain mungkin nggak mesti ngerti kenapa, toh ini aku yang memutuskan bukan mereka. Dan kau yang diamanahi jadi ketua, bukan mereka. Awalnya sulit, emang kuakui itu. Zul juga pernah diposisimu. Semua itu adalah proses. Jadi nikmati aja prosesnya."


Zul yang sejak tadi diam mendengarkan, kemudian membuka suara menimpali.


"Iya Lin. Dulu aku juga pernah diposisimu. Ya walau tentu beda, tapi awal-awal emang sulit. Kau dulu tentu tahu kan gimana kejadiannya? Ada anggota yang keluar karena waktu itu aku kecolongan. Sampai aku harus nyari anggota baru lagi. Dan kuakui, kau lebih baik dalam penjagaan daripada aku. Kulihat semua anggota masih lengkap sampai detik ini. Bahkan, yang awalnya menentang mereka masih bertahan. Kau hebat Lin! Dan sama kayak Bang Teguh tadi, nikmati aja prosesnya."


Aylin mengangguk mengerti. "Makasih Mas atas nasehatnya."


"Halah... kayak sama siapa aja, Lin," tukas Teguh.


"Kalau ada apa-apa, hubungi langsung aku atau Bang Teguh aja Lin. Jangan dipendem sendiri, oke?" ujar Zul sambil merangkul adik tingkatnya itu.


Sekali lagi, Aylin menganggukkan kepalanya. Kemudian tersenyum penuh terima kasih.


.


.


.


"Pembagian kelompoknya seperti biasa ya? Batalion satu ada gugus satu sampai lima, batalion dua itu gugus enam sampai sepuluh. Gitu seterusnya. Total ada lima batalion," kata Aylin.


Selesai olahraga mingguan mereka, kini dilanjutkan pembahasan kelompok dan fiksasi konsep Aqisol besok. Para senior sudah izin undur diri sejak beberapa saat yang lalu dan membiarkan junior mereka melakukan tugasnya.


Semua anggota mengangguk setuju dengan keputusan Aylin.


"Lalu buat TPK pendampingnya udah tak share ya semalem. Tapi tak ulangi lagi aja. Batalion satu ada Enggar sama David, batalion dua itu Fuad sama Joni, batalion tiga Megan sama Febrian, batalion empat Guntur sama Rima, dan batalion lima ada Rahmat sama Adi. Yang lain jaga pos masing-masing sesuai yang udah ditentukan. Buat sie lapangan, jangan lupa makan kencur ya, soalnya bakalan teriak-teriak besok," jelas Aylin sekali lagi.


"Ada yang ditanyakan?"


Seorang anggota mengacungkan tangannya.


"Ya gimana Na?"


"Soal menwa udah clear berarti?" tanya Riana.


"Menwa pendamping alhamdulillah udah beres. Andre sama Kevin udah konfirmasi juga. List-nya ada di grup, yang dikirim Andre semalem," jawab Aylin dengan profesional.


Di TPK FT tahun ini, yang ikut Resimen Mahasiswa UHW selain Aylin adalah Andre, yang seangkatan dengannya, dan Kevin yang merupakan mahasiswa tahun kedua. Sebenarnya ada beberapa orang lagi di FT, tetapi mereka tidak ikut di kepanitiaan fakultas.


Riana mengangguk menanggapi.


"Ada lagi?" sekali lagi Aylin bertanya. Namun, tidak ada satupun yang bertanya.


"Lanjut aja, Lin," kata Riana mengusulkan ketika semua anggota terdiam.


"Oke... kita lanjut ke pembahasan soal ketua angkatan," kata Aylin kemudian.


"Tahun kemarin ketua angkatan dipilih dari perwakilan tiap jurusan. Dan tahun ini ada dua pilihan. Pertama, mau dipilih lewat perwakilan tiap jurusan, yang artinya kita nunggu maba ngirim perwakilan mereka. Kedua, kita pilih dari ketua gugus yang ada. Sekaligus kita nyari komandan buat Aqisol dari mereka. Gimana?"


Beberapa ada yang memilih opsi pertama tetapi lebih banyak yang memilih opsi kedua.


"Pilih opsi kedua karena nggak perlu mindon gaweni. Kita bisa minta daftar nama ketua gugus dari Galang. Sekalian melibatkan dia buat ngasih pendapat soal masing-masing ketua gugus buat jadi ketua Angkatan. Kalau opsi pertama, akan lebih banyak memakan waktu nggak sih? Kenapa nggak memanfaatkan apa yang udah kebentuk? Pastinya ketua gugus juga dipilih oleh maba sendiri," Burhan memberi alasan dan disetujui mayoritas anggota. [bekerja dua kali]


"Jadi pilihan kedua fix ya? Mau dibahas sekalian atau besok aja?" tanya Aylin.


"Kalau Galang sekarang luang, mending langsung aja," Megan berpendapat dan disetujui yang lain.


"Iya Lin, biar cepat selesai. Tapi kalau Galang bisa sekarang lho..." timpal Andre.


"Oke, tak kabari dia dulu," jawab Aylin. Kemudian dia membuka ponselnya dan segera menghubungi ketua Pemandu itu. Setelah beberapa saat, Aylin menutup ponselnya.


"Gimana Lin?" tanya Rima penasaran.


Aylin tersenyum senang dan berujar, "Galang bentar lagi otw sini."


"Sambil nunggu Galang, kita bahas buat Aqisolnya," kata Aylin kemudian.


Mereka lalu mulai membahas masalah teknis Aqisol besok. Hari ini hanya tinggal fiksasi saja, jadi tidak perlu pembahasan yang detil. Dimulai dari penugasan untuk maba, dresscode yang digunakan baik panitia maupun maba, rundown kegiatan, dan siapa saja penanggungjawab yang bertugas tiap harinya.


Tugas TPK besok akan dibagi menjadi tiga: TPK pendamping tiap kelompok, sie lapangan yang bertugas langsung melatih fisik dan mental maba, dan TPK yang berjaga di balik layar─tidak terlibat langsung dan biasanya dilakukan TPK bayangan dan beberapa TPK yang berjaga di luar atau dipinggir lapangan.


Ngomong-ngomong soal TPK bayangan, selama olahraga mingguan, rapat internal, maupun rabes, mereka akan tetap hadir. Hanya panitia yang tahu adanya anggota bayangan itu─walau tak semuanya ngeh orang-orangnya siapa─dan maba sama sekali tidak tahu.


Aylin tentu saja tergabung dalam sie lapangan karena dirinya ketua. Tugasnya adalah mengeksekusi langsung dan bertanggungjawab dengan jalannya Aqisol tahun ini.


Semoga tahun ini tidak terjadi kejadian diluar rencana.


"What's up gaes!" Galang datang dengan gaya khasnya. Cowok itu tersenyum lebar sambil menyapa TPK yang ada.


"Yo bro!" Enggar dan Andre membalas tos dari Galang ketika cowok itu mengajak tos.


"Astaghfirullah Galang... datang itu ucapin salam kek atau apa," Riana berkomentar. Sudah terlalu terbiasa dengan tingkah ketua pemandu FT itu.


"Hahahaha..." Galang malah tertawa mendengarnya.


"Gimana Lang? Bawa list-nya juga kan?" tanya Aylin kemudian setelah cowok itu ikut mendudukkan dirinya tak jauh dari Aylin.


"Udah. Nih!" Galang mengeluarkan selembar kertas yang terlihat sudah lecek berisi nama-nama ketua gugus.


"Sip, makasih!" kata Aylin. "Kita langsung mulai aja ya? Eh yang tadi berarti udah fix kan? Nggak ada tambahan?"


Semua anggota TPK mengiyakan.


"Di mulai dari personalnya dulu. Kira-kira yang kau tahu dari para ketua gugus ini seperti apa Lang? Atau misalnya dari laporannya para pemandu gimana?" tanya Aylin.


"Hmm..." Galang terlihat berpikir. Dia mengamati daftar nama ketua gugus dengan hati-hati.


"Aku nggak begitu memperhatikan sih sebenernya," katanya kemudian, "Tapi ada beberapa nama yang kurasa cocok buat kandidat ketua Angkatan."


"Sebutin aja Lang," Burhan berujar.


"Menurutku ada Adam dari Gugus Empat, Ian dari Gugus Sembilan, Teodore dari Gugus Sembilan Belas, dan Wenda dari Gugus Duapuluh Satu," kata Galang menyebutkan nama. "Sebenernya ada lainnya juga sih, tapi menurutku empat itu yang personalnya paling kuat menurutku. Dari laporan para pemandu juga gitu."


"Wih ada yang cewek juga?" tanya Enggar. "Maba tahun ini gila sih, keren-keren."


Aylin lalu menanyakan pendapat mengenai keempat kandidat kepada TPK bayangan karena mereka-lah yang mengawasi langsung tanpa disadari maba gugus. Percaya atau tidak, mereka juga memantau grup daring gugus dengan bantuan para pemandu masing-masing.


"Adam itu cukup tanggap sebenernya, tapi kadang masih menyepelakan tugas," Zidan, salah satu TPK bayangan, berujar. "Kurasa kurang cocok buat ketua angkatan. Walau kata pemandunya punya banyak pengalaman organisasi, tapi menurutku no. Dia bisa terlalu angkuh karena jabatan."


"Jangan Ian!" TPK bayangan bernama Deny menjawab cepat ketika ditanya. "Aslinya dia cocok, tapi dia terlalu canggung. Dia masih perlu banyak belajar, kalau tiba-tiba diminta jadi ketua angkatan takutnya nanti malah belum siap. Kurang percaya diri dia. Masih suka apa-apa Mbak, apa-apa Mas."


"Wenda itu berbakat buat jadi pemimpin. Dia juga punya pengalaman organisasi juga waktu SMA. Keren deh pokoknya. Tapi menurutku, jangan dia deh. Dia belum bisa merangkul, apa ya kata yang tepat? Emm... lebih ke belum bisa menjaga interaksi lebih tepatnya. Dia mudah akrab, bahkan sama seniornya. Tapi justru itu membuatnya terlalu ramah sama kurang tahu batasan," Julian, TPK bayangan lain, memberi jawabannya.


"Tersisa Teodore. Gimana menurut kalian. Kalau ketiga sebelumnya dicoret, hanya tinggal dia aja," kata Aylin kemudian.


"Oh ketua gugusnya si maba yang melamar Aylin ya?" tanya Andre sambil mengerling ke arah Aylin. Cowok itu sempat-sempatnya menggoda Aylin soal hal yang tabu─menurut Aylin─di saat seperti ini.


Aylin hanya mendelik tajam ke arah Andre. Mukanya memerah, entah karena malu atau menahan marah. Bahkan anggota yang lain dan Galang berseru menggoda Aylin. Cewek itu sampai harus berteriak untuk mendiamkan mereka.


"CIYEEE!!!"


"IHIIRR!!"


"DIAM!!"


"Kembali ke topik!" kata Aylin final.


Maria, TPK bayangan yang bertugas mengawasi gugus sembilan belas, menjawab, "Teodore itu... orangnya kalem. Dia belum pernah ikut organisasi pas sekolah. Pengalaman organisasinya minim. Cukup canggung orangnya, tapi nggak terlalu seperti Ian. Dia bener-bener melakukan tugasnya dengan baik. Gercep juga orangnya. Dan orang yang bisa diandalkan. Pemandunya juga bilang gitu."


"Soal interaksi gimana?" tanya Aylin. Tanpa perlu menjelaskan, semua paham maksudnya.


"Dia orang yang nggak neko-neko. Tahu gimana menempatkan diri kalau pas sama temennya dan pas sama yang lebih tua," jawab Maria.


"Eh bentar," Enggar menyela. "Teodore ini maba jurusan Teknik Otomotif bukan?" tanyanya memastikan.


Galang, Aylin, dan Maria mengangguk.


"Yang tinggal di asrama B lantai tiga?" tanyanya lagi.


"Ya nggak tahu aku Nggar," tukas Galang. "Emang kenapa sih?"


"Mau mastiin kalau orang yang dibicarakan sama kayak orang yang kumaksud," kata Enggar.


"Iya kali, mungkin. Aku nggak tahu sedetil itu soalnya. Dia tinggal di mana atau dia ke sini naik apa," sahut Maria tak acuh. "Intinya yang biasanya bareng Kayvan yang jadi kandidat duta kampus."


"Nah, iya! Ceesnya Kayvan!" seru Enggar.


"Aku tahu si Teodore-Teodore ini," katanya lagi. "Dia seasrama denganku soalnya, satu lantai lagi. Bisa dibilang, dia emang bisa diandalkan dan bertanggungjawab. Dia udah punya banyak nama dan tanda tangan btw, di bukunya. Aku sempet ngecek pas dia minta tanda tanganku di asrama. Mungkin yang terbanyak seangkatan."


"Kok tahu?" tanya Rima penasaran.


"Asrama B itu yang lebih dikit mabanya ketimbang Asrama C. Dan Teodore ini kebetulan tinggal di lantai yang isinya senior semua. Cuman tiga atau empat yang maba apa ya? Dia sering disuruh-suruh sama senior lain pas minta tanda tangan. Tanya aja Julian, David, Rahmat, sama yang lain. Dan emang menurut yang lain, Teodore ini yang jumlah tanda tangannya paling banyak sejauh ini," jawab Enggar.


"Kasihan sekali malah dijadiin babu," Aylin berkomentar miris.


"Eits! Jangan salah, Lin," seloroh Enggar membela diri. "Kan cuman buat tantangan doang. Habis itu jadi mayan akrab kok."


"Terserah deh," sahut Aylin.


Mereka lalu lanjut membahas maba bernama Teodore selama beberapa saat. Para kating yang seasrama dan selantai dengannya memberikan pendapat mereka mengenai adik tingkat mereka itu. Ada yang bilang kalau Teodore itu anaknya sopan, berdedikasi, dan lain sebagainya. Ada juga yang bilang kalau cowok itu sedikit segan dan kaku. Bahkan Galang sampai menelepon Dimas, ketua pemandu Gugus Sembilan Belas untuk meminta pendapat mengenai Teodore.


Se-desperate itu untuk menilai apakah Teodore lebih pantas jadi ketua angkatan daripada ketiga kandidat lainnya. Dibandingkan ketiga yang lain, memang Teodore dinilai sedikit lebih unggul.


Tentu saja berdasar observasi dan penilaian para senior, karena mereka belum benar-benar mengenal sosok Teodore─bahkan beberapa yang lain tidak mengenal sama sekali dan kurang tahu orangnya yang mana.


Hingga akhirnya, keputusan final dari diskusi dan pertimbangan mereka hari ini menetapkan Teodore sebagai ketua angkatan. Menjadi pemegang rekor pemilik nama dan tanda tangan terbanyak─sejauh ini─menjadi bonus. Itu artinya Teodore melakukan tugas dengan sebaik mungkin dan memanfaatkan peluang yang ada. Berada di lingkungan penuh senior yang masih terkesan asing tentu membuat maba segan untuk mendekat.


"Eh Lin," Andre berujar, "Kayaknya si Teodore ini cocok juga jadi komandan. Dia belum pernah ikut tonti atau organisasi kan? Sekalian buat latihan dia aja sih."


"Kita lihat besok aja Ndre. Kalau si Teodore ini lolos seleksi, boleh-boleh aja," kata Aylin sambil mengutip kata seleksi dengan dua jari tangannya.


"Kabar kaos Aqisol gimana?" tanya Aylin kemudian.


"Beres Lin kata PDD. Tinggal dibagi, tapi bisanya siang atau sore sebelum eksekusi Lin. Mau disortir dan dicek ulang sama PDD buat mastiin ukurannya nggak ada yang kurang," jawab Guntur.


Aylin mengangguk puas mendengarnya. Walau harapannya paling tidak dua hari dibagikan ke maba, tetapi setidaknya tidak sampai pas hari H baru dibagikan seperti angkatan Aylin dulu. Iya, angkatan Aylin dulu baru bisa menggunakan kaos Engineering Brotherhood ketika hari kedua Aqisol. Gara-garanya, kalau kata Mas Rifki─ketua Isimaja dua tahun lalu─ada sedikit kesalahan di sablonnya. Tidak semua, tetapi cukup banyak sampai harus sablon lagi. Untungnya pihak konveksi menanggung semua biaya ganti karena kesahalan teknis murni dari mereka.


Tahun lalu beruntung karena bisa jadi dua hari sebelum Aqisol dimulai.


"Fix Teodore ya?" tanya Aylin sekali lagi untuk memastikan. Dan mendabat beragam komentar yang menyepakatinya.


"Iya!"


"Mantap!"


"Gaskan Lin!"


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


Selamat Hari Raya Idhul Adha 1442 H 🌙


yang berkurban tahun ini semoga berkah dan diterima amalnya, dan yang belum semoga tahun depan bisa berkurban. aamiin.... apapun itu semoga ada hikmahnya


nggak nyangka ya bentar lai 1443 H :') (tanggal 10 Agustus). padahal kayaknya baru kemarin


oh iya, makasih yang udah komen, jadi amunisi tambahan buat bisa bertahan sejauh ini 


siapa yang udah pernah makan kencur mentah? cung!


dulu aku pernah "diancam" sama senior pas SMP mau dicekokin kencur kalo nggak mau, itu dulu pas LBB


dan pemilihan ketua angkatan ini, aku ngambil referensi pas dulu aku ikut rohis (biasanya pas mau penghujung tugas, dekat2 musyawarah akhir tahun, pengurus mendiskusikan kira2 siapa sih yang bakal nerusin estafet amanah, dan kenapa usul dia. tapi pada akhirnya nanti dibentuk tim formatur yang bakalan bener2 nyeleksi siapa penerus selanjutnya dan yang menghubungi calon yang terpilih)


sosok Galang disini terinspirasi dari temenku dan kedua senior yang kukenal (mereka semua koor pemandu wkwkwk) tingkahnya sok asik gitu, suka bercanda. tapi bakalan serius kalau memang harus, tahu sikon lah. dan sosok Seno terinspirasi dari sosok koor acara di tahun keduaku ikut panitia ospek fakultas.


see you^^