![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Blow the lid off (phrase): reveal unwelcome secrets about
.
.
[baru minor editing | maaf lama | and sorry if it doesn't make any sense]
.
.
.
Ridwan geram dengan apa yang dilakukan Kai di belakangnya. Bisa-bisanya sahabatnya itu bertindak tanpa persetujuannya!
Dia akhirnya tahu kalau Kai sudah bergerak lebih dulu terkait masalah ibunya. Di mana beberapa waktu lalu ibunya tersandung kasus yang membuat nama baiknya tercoreng. Kasus yang Ridwan sangat yakin itu semua ulah ayahnya.
"Kau udah janji Kai," kata Ridwan dengan tajam. Saat ini Kai dan Ridwan tengah bicara empat mata setelah pertemuan di Third House sore tadi. Kini mereka sedang di depan asrama depan asrama C, tempat di mana Neo dan Ridwan tinggal. Neo lebih dulu masuk ke asrama, membiarkan Kai dan Ridwan bicara. Sedangkan Teo sudah lebih dulu ke asrama B.
Ridwan terkejut saat mendengar isi pertemuan tadi, terutama tentang informasi-informasi jackpot yang didapatkan Kai dalam upayanya menyelidiki kasus ibunya. Ridwan sendiri sudah tahu rencana apa yang akan dilakukan Kai menggunakan caranya. Oh, dia sangat tahu cara main sahabatnya itu.
Namun, Ridwan sudah pernah bilang mereka akan menggunakan cara Kai kalau memang benar-benar kepepet. Karena cara yang dilakukan Kai itu dia akui memang sangat cepat dan efektif, tetapi membuatnya merasa berlebihan dan semakin berhutang pada Kai.
Dia benar-benar merasa tidak enak. Apalagi kasus ibunya ini menurutnya tidak perlu sampai sejauh itu.
"Wan," Kai membuka suara, "Aku tahu kau bakal nggak setuju. Tapi ada hal-hal yang kupertimbangkan saat aku mutusin buat melakukan caraku ini."
"Aku memikirkan ibumu Wan. Nasib ibumu kalau sampai kasus ini semakin lama dan bahkan melebar kemana-mana. Ini soal nama baik dari orang yang nggak bersalah. Apalagi kau sekarang juga jadi target mereka, Wan."
"Tapi ini berlebihan Kai!" sahut Ridwan dengan keras.
"Aku merasa makin berhutang padamu. Jadi beban dari awal," kini suara Ridwan terdengar lebih pelan. Tangannya yang tidak digips mengepal kuat-kuat.
"Kau bukan beban Wan," Kai menggelengkan kepalanya. "Kau sahabatku. You're my brother. Sejak awal aku udah bilang, anggap kami keluargamu. Anggap Neo keluargamu juga. Karena kau nggak sendirian Wan. Kau berhak mendapatkan itu semua."
"Banyak yang peduli Wan. Kami peduli padamu. Kau nggak sendirian..."
"Sudah kubilang 'kan, kau nggak sendirian di sini..."
Ridwan terdiam. Dia kembali ingat kata-kata orang itu.
"Wan?"
"Biarkan aku sendiri dulu," kata Ridwan kemudian. Dia membuang muka.
"Kau nggak akan pergi sendirian 'kan?" tanya Kai memastikan. Sekali lagi, Ridwan masih jadi sasaran utama di sini. Takut kalau sahabatnya kenapa-napa apalagi baru pemulihan.
"Aku nggak sebodoh itu, Kai," jawab Ridwan tanpa menoleh.
"O-okei," Kai berujar pada akhirnya. "Kalau begitu aku balik dulu."
"Hmm."
Kai menahan dirinya untuk berkata-kata lagi. Setelah itu Kai pamit dan kembali ke asramanya menggunakan motornya. Dalam hati dia berharap sahabatnya itu akan tetap baik-baik saja.
Ridwan mengeluarkan sebatang rokok dan korek api dari saku celananya. Dia akan merokok di balkon depan kamarnya. Pikirannya terasa penuh dengan informasi-informasi hari ini. Apalagi kini perasaannya terasa campur aduk. Membuatnya perlu melepaskan stres yang ada dengan nyebat.
.
.
.
Kasus yang menimpa ibunya Ridwan kini tengah dalam proses pemulihan nama baik. Di mana ibunya Ridwan pada akhirnya dibantu oleh seorang pengacara untuk melawan tuduhan yang merugikannya.
Ibunya sendiri-lah yang menelepon Ridwan langsung untuk mengabarinya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai tak dapat membendung air matanya ketika melakukan video call dengan putra semata wayangnya itu. Cowok yang terkenal dengan RBF-nya itu tersenyum tipis dengan tatapan teduh melihat raut bahagia ibunya itu.
Kasus yang menyeret ibunya itu sempat membuat ibunya menjadi bulan-bulanan oleh banyak orang. Bahkan sampai membuat kakeknya ketika tahu hal itu jatuh sakit. Tubuh yang renta karena penyakit tuanya jadi drop saat mendengar kasus yang menimpa salah satu putrinya itu.
Ibunya dalam memperjuangkan keadilannya itu selain didampingi oleh pengacara, juga dibantu pamannya—suami bibinya. Sementara bibinya menjaga dan merawat sang kakek yang keadaan kini semakin membaik.
Keluarganya bukan termasuk orang-orang yang bisa dengan mudah mengeluarkan uang untuk menyewa pengacara. Apalagi pengacara yang membantu ibunya itu bukan sembarangan. Salah satu pengacara kondang yang memiliki pamornya sendiri.
Ini semua berkat Kayvan. Cowok itu sendiri yang meminta pengacara itu untuk membantu ibunya. Dan seperti biasa, Kai tidak meminta imbalan apapun.
Hal yang membuat Ridwan merasa kurang enak hati. Pasalnya ini bukan sekali dua kali sahabatnya itu membantu terkait masalahnya. Namun, tiap kali juga Kai akan selalu bilang:
"We're brother."
"Sekarang kau bisa lebih tenang, Wan," ujar Neo sambil merangkul pundak sahabatnya itu. "Keadilan pasti berpihak pada ibu."
Neo dan Kai memang sudah terbiasa memanggil ibunya Ridwan dengan panggilan "ibu". Hal yang sama juga dilakukan kepada ibunya Neo dan Kai, Mama Dina dan Mama Lisa.
Kini fokus mereka sekarang adalah Vino dan gengnya. Berbekal informasi jackpot yang Kai dapatkan dari orang suruhannya, mereka mulai menyusun rencana.
Tidak hanya Frans yang memiliki informan-informan di luar sana. Sang duta kampus terpilih pun juga memiliki informannya tersendiri. Sebuah fakta yang tak kalah mengejutkan bagi orang-orang yang baru mengetahui sisi lain dari seorang Kayvan Candra. Bedanya mungkin pada siapa yang jadi informan tersebut.
Kalau Frans punya koneksi luas pada para gangster, Kai punnya koneksi ke orang-orang yang memiliki jabatan dan orang-orang yang bekerja pada keluarganya.
.
.
.
"Rencana pertama yang bakal dieksekusi lebih dulu adalah kita lakukan apa yang telah Vino lakukan," Frans bersuara. Mata tajamnya dia sapukan ke orang-orang yang kini telah berkumpul di Third House.
Menyerang dengan cara yang sama, itulah rencana yang akan mereka lakukan terlebih dulu. Dengan kata lain mereka akan membalas dengan menghancurkan nama baik Vino. Seperti apa yang terjadi pada ibunya Ridwan sebelumnya.
Tuduhan yang diterima ibunya Ridwan itu tak lain tak bukan juga ada campur tangan dari seorang Alvino Prasetya Herianto. Di mana dia dan ibunya sebagai dalang utama bekerja sama untuk menghancurkan karir ibunya Ridwan dengan memberikan tuduhan palsu yang merusak nama baiknya.
Sejak awal, ibunya Vino memang sepertinya tidak menyukai keluarganya Ridwan. Apalagi ditambah ketika ayahnya memutuskan untuk menikahi wanita itu tidak lama setelah bercerai dengan ibunya. Sikap wanita itu terlihat semakin angkuh.
Lalu peran ayah Ridwan apa? Pria itu juga ikut andil, tetapi secara tidak langsung. Sayangnya, pria itu bukan otak dari segala hal yang terjadi itu.
"Oke gaes, udah kukirimkan emailnya," kata Ojan.
"Tanpa nama 'kan?" tanya Budi memastikan. Ojan mengangguk.
"Aman Bang. Nggak bakal tahu email itu dari siapa."
"Bagus bagus bagus," Budi manggut-manggut.
Mereka tengah berada di Third House. Tidak semua ikut kumpul. Terbukti Frans bersama Haris dan Enggar tengah pergi untuk menemui seseorang. Dengar-dengar kalau tidak salah mereka akan menemui Sentot, informan yang tempo hari memberikan informasi ke Frans terkait Vino dan rencananya. Sementara itu Naufal dan Aji sedang ada urusan di BEM.
Ketika tahu ternyata Ojan jago hacking, Frans memberikan tugas pada cowok berkacamata itu untuk menemukan bukti sebanyak mungkin yang bisa menjatuhkan pamor Vino.
An eye for an eye, kalau kata Frans. Karena dia tidak mau menyepelekan masalah satu orang begitu saja. Malu juga dengan moto yang selama ini dijunjung anak-anak FT kalau mengabaikan satu orang dari mereka terlibat masalah sendirian.
Satu jiwa korsa, intinya.
Dan apa yang ditemukan Ojan benar-benar jackpot yang bakal jadi bumerang untuk Vino sendiri. Dibalik pamornya sebagai mahasiswa teladan dan kesayangan dosen, ternyata Vino itu juga bermasalah.
Semua takjub dengan kemampuan Ojan yang diam-diam ternyata bisa berbahaya juga disamping penampilannya mungkin terlihat culun bagi sebagian orang. Tidak membutuhkan waktu lama bagi seorang Ojan untuk meretas sistem dengan keamanan yang terbilang cukup tinggi. Mereka tidak kaget kalau Ojan bilang dia tergabung dalam komunitas orang-orang jenius pada teknologi informatika—yang memang cowok itu ikut UKM Teknologi UHW yang terkenal menciptakan banyak inovasi pada bidang robotika, permesinan, dan informatika.
Karena Ojan memang sejago itu.
Ridwan yang memang sejak hari pertama selalu tidak percaya pada Vino saja terkejut mengetahui fakta-fakta yang disembunyikan saudara tirinya itu.
Dia tidak tahu harus berekspresi apa. Apa dia harus bersyukur? Senang? Marah? Atau masa bodoh?
Untuk Vino sendiri, secara tidak sadar cowok itu memilih lawan yang salah.
"Gila, gila, gila c*k!" kata Taufan, masih dengan raut tak percaya. "Ternyata ya dibalik sosok mahasiswa berprestasi kayak dia, dalamnya busuk gini ya."
"Apa ini? Nyogok juri di acara gede se-Jakarta? Bukan main emang!" Taufan geleng-geleng kepala. Terlalu syok membaca fakta-fakta yang berhasil didapatkan juniornya.
"Bener Bang. Itulah kenapa ada istilah jangan nilai orang dari luarnya aja," timpal Teo. Dia masih tak habis pikir dengan semua fakta yang ada. Dia sendiri tidak mengenal secara personal siapa Vino itu. Namun, melihat dengan mata kepala sendiri ada orang yang begitu tega membuatnya mempertanyakan beberapa hal.
Kenapa?
Apa motifnya?
Orang yang berbuat jahat tentu punya alasan meskipun alasan itu ada yang tidak masuk akal bagi orang-orang yang waras.
Kai memilih diam di sebelah Aylin. Telapak tangan kanannya menggenggam tangan kiri sang kekasih. Di sisi lain, Aylin sendiri sebenarnya agak khawatir kalau rencana yang mereka lakukan tidak berhasil. Terlebih Vino sebelumnya berhasil menutupi kebusukannya sebelum kembali terbongkar oleh Ojan yang berhasil meretas dan menyelam lebih dalam.
Merasakan genggaman tangan Kai, Aylin melempar senyum tipis. Tautan jari mereka seolah-olah meyakinkannya untuk percaya pada mereka. Teman-teman mereka.
Sebenarnya, rencana awalnya Kai juga ingin membantu meretas data untuk mencari bukti-bukti penguat. Namun, dia sudah berjanji pada Ridwan. Jadinya dia memilih lebih fokus untuk mengawasi dari jauh jalannya penyelesaian kasus ibunya Ridwan bersama Neo.
Sementara itu, sejak datang ke Third House, Ridwan memilih diam. Dia hanya akan menjawab kalau ditanya saja. Dia duduk sambil melihat teman-temannya dan para senior bertindak. Dia masih merasa belum terbiasa dengan perlakuan yang ditunjukkan mereka.
Dia sudah terbiasa menanggung semuanya sendiri selama ini sebelumnya. Bahkan dulu, dia tidak membiarkan Kai dan Neo bertindak jauh untuk membantunya.
Namun kini semuanya rasanya berbeda.
Di sebelahnya, Rima juga duduk diam. Sambil sesekali bersuara dalam pembicaraan. Sejak percakapannya dengan Ridwan tempo hari, mereka tidak mengungkit itu lagi.
Sesuatu yang belum selesai di antara mereka berdua.
Namun sekarang waktunya belum pas.
.
.
.
"***! ADA BERITA PANAS REK!" teriakan Enggar dan suara pintu yang terbuka kasar membuat orang-orang yang ada di Third House berjengit kaget.
"Hot banget, tak jamin seratus persen! Berita ter-hot se-UHW," cowok dengan tindik di kedua telinganya itu kembali berujar dengan semangat.
"Berita apa nih?" tanya Budi mulai kepo. Persetan dengan rencananya yang mau memarahi Enggar yang datang tiba-tiba mengagetkannya.
Kini semua pasang mata menatap ke arah Enggar. Menunggu cowok yang kini kembali berambut gondrong itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Si Vino bakal kena sanksi gaes," kata Enggar. "Para jajaran dekanat FGK mulai 'mempertimbangkan' bukti-bukti anonim yang kita kirim. Mereka mulai nyelidikin kasusnya buat menetapkan dapat sanksi apa."
Beberapa ada yang bersorak senang mendengar kabar itu. Namun sebagian besar yang lain terlihat kurang puas.
"Setelah dua minggu lebih?" ujar Rima dengan sarkastik. "Sebegitu nggak mau kehilangan mahasiswa 'emas'nya ya? Padahal bukti yang kita kirim itu udah sangat jelas lho."
"Aku sependapat sama Rima," Naufal menimpali. "Waktu dua minggu itu terlalu lama untuk kasus yang ada bukti otentiknya. Selama dua minggu itu mereka ngapain? Bahkan katamu tadi mereka baru mulai mempertimbangkan buat penyelidikan."
"Karena ini juga soal nama baik fakultas," kata Frans menimbrung. "Dan mungkin faktor birokrasi lain yang gampang kita tebak. Aku udah yakin bakal lama. Salah satu prediksi kemungkinan yang kupikirkan bahkan lebih lama dari dua minggu. Yang penting selama jeda itu kita ngirimin email anonim secara berkala. Jadi biar terkesan bukan cuman pesan ancaman semata."
"Sampai waktunya tiba, kita tunggu... boom! Seperti bom waktu yang meledak pada waktunya."
Kini semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Frans, si Sentot ada ngasih kabar lagi?" tanya Haris kemudian.
Frans menggeleng. "Terakhir kemarin sore. Dia bilang buat siap sewaktu-waktu."
Haris mengangguk mendengarnya.
Di sisi lain, proses persidangan untuk memulihkan nama baik ibunya Ridwan juga masih bergulir. Prosesnya agak sedikit a lot karena ternyata ibunya Vino punya power juga. Namun bagi Kai sendiri, hal itu tidak jadi masalah besar.
Secara berkala, Kai berkomunikasi dengan pengacara yang mendampingi ibunya Ridwan. Bahkan kakak sulungnya ikut turun membantu begitu tahu kasusnya. Ayah mereka lah yang secara langsung menyuruh Rivan untuk membantu setelah tahu kasus yang menimpa ibu dari sahabat anak bungsunya.
Kalau ibunya Vino punya kekuasaan, maka Kai akan memberikan dukungan kekuasaan yang sama untuk ibunya Ridwan. Karena tidak akan adil kalau salah satunya yang ber-power sementara yang lain tidak.
Hukumnya nanti akan berbeda hasilnya. Orang-orang yang punya kekuasaan akan menang dengan mudah dengan hukum lemah yang dapat dimanipulasi.
Lagipula Kai memegang fakta kunci kalau ibunya Vino bermacam-macam. Bukti yang dia dapatkan secara tidak sengaja saat berbincang dengan ayah dan ibunya melalui telepon video. Waktu itu dia hanya bertukar kabar dan membahas kesibukan masing-masing.
Namun, siapa tahu ternyata dia mendapat informasi vital yang akan sangat membantu dalam penyelesaian kasus ini?
.
.
.
.
..."Bang Teguh sampai turun sama para senior lain ***!"...
..."Ada urusan apa kalian ke sini?"...
..."Ini bukan urusan kalian! Urusan kami hanya dengan dia."...
..."Urusan dia urusan kami juga!"...
..."BANG*** KOEN!"...
.
.
.
.
.
.
a.n.
maaf ya lama banget baru bisa update
maaf juga kalau chapter ini agak aneh, muse dan mood ku agak turun jadi ya kurang maksimal. nanti kalau sempat aku bakal mengeditnya
and guess what? aku lagi magang di sekolahnya Nana 😃 beneran nggak terbayang bakal di sini 😀
udah itu aja
see you (hopefully soon)