Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: And I'm here (pt. 2)



here (adv): in, at, or to this place or position


.


.


[baru minor editing, part cukup panjang | song lyrics mentioned]


.


.


.


"Bia?—"'


"MALA!"


Frans mengalihkan pandangan khawatirnya dari Bimala yang terkulai tak sadarkan dipelukannya ketika mendengar seseorang berteriak.


Orang itu adalah Aylin, yang berlari ke arah mereka dengan wajah panik. Bahkan cewek itu masih menggendong tasnya, terlihat baru balik dari kunjungan industrinya.


Tak jauh di belakangnya adalah Haris, Adi, dan Asep.


"Ya Allah kenapa ini terjadi lagi," gumam Aylin pilu yang sangat jelas terdengar Frans.


.


.


..."And I'm here just, just like I used to be. We were here in old days with you, with me..."...


Kini mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit begitu tadi Aylin selesai mengabari Gio. Hanya tersisa Adi, Frans, Bimala, dan Aylin. Mereka menggunakan mobil Adi. Aylin duduk di bangku sebelah Adi di jok penumpang depan. Sementara Frans masih mengurus Bimala yang masih tidak sadarkan diri. Sesekali Aylin akan menoleh ke belakang dengan tatapan khawatir.


Lalu ke mana Haris dan Asep?


Keduanya diperintah Frans buat mengurus sisanya. Frans sudah memberitahu nama dua orang yang sudah dia kantongi.


Raut wajah Frans mengeras. Lengannya dengan protektif melingkar dibahu Bimala.


Gelagat Frans tak luput dari pandangan Aylin. Namun, untuk saat ini dia tidak mau ambil pusing. Dia harus fokus pada kondisi kakak sepupunya sekarang.


Adi hanya diam membisu. Fokus menyetir dan memang memilih untuk tidak berkata apa-apa.


Sepanjang perjalanan benar-benar hening. Bahkan ketika sampai di rumah sakit umum yang memang ada di kawasan FK, tanpa banyak bicara langsung bergegas. Aylin berlari lebih dulu diikuti Frans yang menggendong Bimala. Sementara Adi akan menyusul setelah memakirkan mobilnya.


Aylin sudah menelepon dokter yang biasanya menangani Bimala dan pas sekali si dokter sedang di rumah sakit UHW dan agak lengang. Dibantu beberapa perawat yang sigap, mereka menuju ruangan yang sudah disiapkan oleh si dokter.


dr. Hasna sudah menunggu mereka di sana.


Dengan sedikit tidak rela, Frans membiarkan perawat dan dokter mengambil alih. Dia duduk di kursi tunggu di luar ruangan bersama Adi yang berhasil menyusul. Sementara Aylin berjalan mondar-mandir dengan tidak tenang.


Tidak berapa lama kemudian, seorang cowok yang masih mengenakan seragam polisi datang. Frans dan Adi tidak tahu siapa itu. Namun, cowok itu sempat tanya ke Aylin tentang kondisi adiknya yang membuat keduanya menyimpulkan kalau dia adalah kakak Bimala.


Gio begitu mendengar kabar kalau adiknya kenapa-napa, buru-buru menyusul ke rumah sakit setelah mendapatkan izin dari atasannya. Dia belum memberitahu ayahnya, baru bundanya. Ayahnya masih ada di ruang operasi kalau kata salah satu kolega sang ayah dan saat ini pun sang ayah berada di rumah sakit lain—Ayah Gio dan Bimala memang bertugas sebagai dokter bedah di beberapa rumah sakit, termasuk di UHW. Sedangkan sang ibu baru dalam perjalanan ke sini.


Frans masih cukup terguncang dengan apa yang terjadi. Dirinya bahkan tidak sadar saat Gio dan Aylin memasuki ruangan saat mendapat izin dokter. Sayup-sayup dia sedikit mendengar beberapa potong kata seperti terapi, kambuh, dan obat.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Ada apa dengan Bimala?


Kenapa mereka membicarakan terapi? Terapi untuk apa?


Tolong seseorang jelaskan sesuatu padanya!


Dia sangat khawatir, oke? Hatinya merasa semakin gelisah. Tidak tenang. Bimala ada di sana dan dia tidak benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sekarang.


Kenapa Bimala harus sampai masuk rumah sakit seperti ini? Lalu terapi apa yang mereka bicarakan di dalam? Kenapa Aylin tadi terlihat sangat kalut?


Terjadi lagi.


Apa yang terjadi lagi?


Frans benar-benar bingung sekarang.


Apakah sesuatu pernah terjadi pada Bimala? Namun, apa itu?


Sementara Adi yang melihat keadaan temannya yang terlihat gelisah hanya bisa ikut turut prihatin. Cowok itu tidak tahu sejauh mana hubungan Frans dan Bimala. Dia juga tidak sesering itu bisa berkumpul bersama dengan anak geng lain karena kesibukannya di UKM univ. Jadi intensitasnya melihat interaksi langsung antara Frans dan Bimala belum sebanding dengan Haris dan Asep.


Adi lalu mengajak Frans ke kantin rumah sakit dengan dalih membeli minuman. Sekaligus agar Frans bisa sejenak lebih bisa mengatur dirinya kembali.


Keduanya tak banyak bicara. Bahkan saat minuman yang mereka pesan sudah siap, tidak ada sepatah kata apapun.


Sampai Adi memutuskan membuka suara saat perjalanan mereka kembali dengan cup kopi masing-masing di tangan.


"Kau udah merasa lebih tenang?"


Frans mengangguk. "Terima kasih," ujarnya pelan.


Adi mengangguk singkat. "Semua akan baik-baik saja. Bimala akan baik-baik saja."


"Kuharap juga begitu," sahut Frans pelan, terdengar seperti gumaman.


Begitu keduanya sampai di tempat semula, sudah ada seorang wanita paruh baya yang menenteng jas putih milik dokter. Sepertinya wanita itu baru sampai, terlihat dari wajahnya yang berpeluh kelelahan tetapi raut kekhawatiran terpancar jelas.


Wanita yang diperkirakan adalah ibunya Bimala lalu berjalan masuk ketika Aylin dan Gio keluar ruangan. Sang ibu sempat berhenti sebentar memeluk anak sulungnya yang terlihat sedih begitu keluar dari ruangan.


Menenangkan putranya dengan lembut meski hatinya juga ikut berduka mendapat kabar kalau putrinya kenapa-napa.


Lalu wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu juga memeluk keponakannya sejenak. Kemudian, dia berjalan masuk ke dalam ruangan.


Aylin izin sebentar pada Gio untuk pergi ke toilet. Gio mengangguk, lalu menghela nafas sambil menatap pintu ruang di mana Bimala di rawat dengan sendu.


Sebelum pada akhirnya beralih ke arah di mana Frans dan Adi berdiri. Kakak Bimala itu lalu berjalan menghampiri mereka. Lebih tepatnya ke arah Frans yang masih diam mematung.


"Kau yang namanya Frans?" tanya Gio memastikan.


Frans mengangguk tanpa suara.


"Terima kasih," katanya kemudian. "Terima kasih udah menyelamatkan adikku. Aku udah dengar semua kronologisnya dari Alin. Terima kasih kau telah menyelamatkannya."


Gurat kesedihan semakin terlihat jelas ketika Gio berkata pada Frans.


"Aku nggak bisa membayangkan seandainya kau nggak ada di sana. Telat menyelamatkan dia," dia bersyukur Frans datang mencari adiknya. Gio bahkan sampai takut membayangkan kalau Frans tidak mencari Bimala.


"Sekali lagi terima kasih. Aku berhutang budi padamu karena kau telah menyelamatkan adikku. Terima kasih banyak!" Gio bahkan sampai membungkuk saat berterima kasih lagi pada Frans.


"Tolong Mas, jangan begitu," ujar Frans merasa tidak enak. Mengentikan Gio untuk membungkuk. "Bimala teman baik saya. Jadi udah pasti saya akan menolongnya."


Frans sebenarnya juga ingin bertanya pada Gio apa yang sebenarnya terjadi. Namun, sepertinya keadaan sekarang kurang tepat, bukan waktu yang pas. Jadi dia mengurungkan niatnya.


Lalu ibunya Bimala keluar ruangan tidak berapa lama kemudian. Gurat kesedihan terpancar jelas. Wanita itu seperti menahan dirinya untuk tidak menangis. Gio buru-buru menghampiri sang bunda dan memeluknya. Membiarkan ibu dua anak itu menangis dipelukan anak sulungnya.


Frans tidak sengaja mendengar beberapa potong kata saat dia hendak membuang cup yang sudah kosong isinya. Namun, satu kata berhasil mengentikan tangannya. Membuatnya membeku di tempat.


Dari sekian kata yang dia tidak sengaja dengar samar-samar, kata inilah yang sepertinya akan tercetak tebal dengan huruf kapital di sebuah kertas.


...PTSD... kambuh lagi...


PTSD...


PTSD.


Singkatan kata yang membuat diri Frans kaget bukan main. Hatinya semakin mencelos ketika dia berusaha mencernanya.


Bimala punya PTSD?


Apa yang sebenarnya terjadi sampai seserius ini?!


"Bia..." gumam Frans dengan tampang yang masih syok. Membuat Adi yang melihat temannya begitu semakin heran dan khawatir juga.


Belum sempat Frans mengatasi keterkejutannya, Aylin sudah kembali dari toilet. Terlihat wajahnya yang seperti habis menangis. Dia lalu mengajak kedua adik tingkatnya untuk kembali ke kampus. Membiarkan bunda dan Gio menemani Bimala saat ini.


Frans sebenarnya ingin tetap tinggal. Jujur dia sangat khawatir dengan keadaan Bimala. Dia ingin menemaninya. Apalagi setelah mendengar fakta yang mengejutkan. Terlebih saat bunda dan Gio berjalan masuk lagi ke ruangan karena mendengar Bimala sudah siuman.


Dia ingin tahu keadaan Bimala sekarang. Bahkan samar-samar mendengar suara Gio yang berusaha menenangkan adiknya di dalam.


Hatinya semakin teriris.


Bia ketakutan di sana.


"Bia..." bisiknya lirih.


Pada akhirnya, dengan berat hati, Frans mengikuti Aylin dan Adi kembali ke kampus. Namun, sepanjang perjalanan, bahkan ketika dia sudah ada di kamar asramanya, pikirannya begitu penuh.


Tentang kejadian tadi siang, ekspresi ketakutan Bimala dengan sorot matanya yang penuh teror, lalu fakta yang tidak akan Frans pernah sangka akan terjadi pada sosok Bimala.


.


.


.


Esok harinya, Frans memutuskan kembali lagi ke rumah sakit. Tidak ada jadwal kuliah hari ini karena jam kosong. Jadinya, Frans memanfaatkannya buat cabut ke rumah sakit.


Dia merasa tidak tenang. Frans terus kepikiran soal Bimala. Bahkan sampai terbawa mimpi menjadi mimpi buruk di mana dia mendengar teriakan Bimala yang minta tolong, tetapi dia terlambat melakukannya.


Benar-benar mimpi yang buruk. Membuatnya nyaris terjaga semalaman.


Dia belum pernah sebegitu pedulinya pada seseorang sampai membuatnya seperti ini.


Begitu sampai di rumah sakit, Frans menuju meja resepsionis. Menanyakan soal pasien bernama Bimala dan ternyata ruang rawatnya sudah dipindah. Untungnya Frans berhasil mendapatkan di mana letaknya.


Setelah berterima kasih, Frans bergegas menuju ruang VIP di lantai tiga.


Sebuah pintu coklat dengan nomor 365 tidak jauh dari lift menyambutnya. Langkahnya meragu. Dia memandang pintu yang tertutup di depannya dengan perasaan campur aduk.


Belum sempat dia memutuskan untuk mengetuknya, pintu terbuka dan memperlihatkan wanita paruh baya dengan jilbab agak kusutnya. Wanita itu cukup terkejut mendapati Frans berdiri di sana. Namun, kemudian senyum hangat terukir di wajahnya yang lelah.


"Iya tante," jawab Frans ikut tersenyum ramah. "Kenalkan saya, Frans, temennya Bia."


Frans menyalami ibunya Bimala.


Kedua mata wanita itu membulat terkejut menyadari siapa yang ada dihadapannya, lalu segera membalas salam Frans. "Ah iya, akhirnya ketemu langsung. Alhamdulillah... Makasih sudah menyelamatkan Bia. Mas Gio sama Alin sudah cerita semua. Syukur alhamdulillah kamu ada di sana. Tante nggak bisa membayangkan kalau kamu nggak ada di sana. Terima kasih banyak ya... tante nggak tahu harus membalas apa..."


Reaksi ibunya Bimala membuat Frans cukup salah tingkah. Buru-buru dia berkata kalau wanita itu tidak perlu berhutang budi padanya. Apa yang dia lakukan pada Bimala memang karena dia peduli padanya. Bahkan untuk siapapun, Frans juga tidak akan tinggal diam.


Frans juga bilang kalau dia ke sini dia ingin menjenguk Bimala. Dengan cepat, wanita paruh baya itu mengizinkannya. Tak lupa dengan ucapan terima kasih berulang kali karena dia merasa bersyukur.


"Boleh, boleh. Silakan, nak. Tapi adek lagi tidur," raut wajahnya berubah sendu. Handayani—ibunya Bimala—terdiam beberapa saat mengingat putrinya yang kembali harus teringat dengan traumanya.


Dia lalu menggelengkan kepalanya singkat, mencoba mengenyahkan suasana yang tiba-tiba membiru.


"Oh iya Mas Frans, tante bisa titip tolong jaga Bia dulu? Tante mau ke kantin beli makanan sebentar. Kalau ada apa-apa bisa pakai telepon di sana atau pencet tombol alarmnya."


Frans mengangguk lalu berterima kasih karena sudah diizinkan membesuk.


Menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Lalu perlahan memasuki ruang rawat inap. Tak lupa menutup pintunya kembali sesuai pesan ibunya Bimala sebelum pergi.


Di sana, di atas tempat tidur, Frans bisa melihat Bimala tertidur dengan jarum infus menancap di tangan kanannya.


Perlahan dia mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Bimala. Frans menatap cewek yang terlelap itu dengan pandangan sulit diartikan. Perasaannya kembali campur aduk.


Dia tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang ini.


Selama beberapa saat, dia hanya diam sambil memandang Bimala dengan sorot menyendu. Sesekali membelai lembut kepalanya dan merapikan anak poni yang sekiranya mengganggu.


Alis Bimala mengkerut. Wajahnya yang sebelumnya damai tertidur, kini terlihat tak nyaman. Seperti tertanggu.


Frans menghentikan kegiatannya. Namun, tidur Bimala tak juga tenang kembali. Bahkan kini dia mulai menggerakkan tangannya. Lalu menggigau samar.


Dia mimpi buruk. Bahkan sampai bulir-bulir keringat muncul di pelipis dan dahinya. Menandakan mimpinya begitu menyeramkan.


"...j-jangan.. jangan... t-tolong jangan..." igauan Bimala semakin tak karuan. Kemudian dia membuka mata, sorotnya seolah penuh teror. Wajahnya memucat ketakutan.


Lalu dia berteriak histeris.


Frans berusaha menyadarkan dan menenangkannya. Namun cewek itu menepisnya. Kedua mata indahnya tidak fokus. Masih menyorot penuh ketakutan.


Bimala masih histeris. Bergumam untuk jangan mendekat, untuk melepaskannya. Dia berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangannya. Dia bertingkah seolah ada seseorang yang benar-benar melakukan hal jahat untuknya.


Frans berusaha menahan tangan Bimala yang tertancap jarum infus agar tidak menyebabkan luka. Namun, cewek itu menepisnya.


Tak ada pilihan lain, daripada membiarkan Bimala melukai dirinya sendiri, Frans memutuskan untuk naik ke tempat tidur dan memeluknya. Sambil memastikan infus masih aman.


Frans tetap bertahan meski Bimala berusaha melepaskan diri. Berusaha mendorongnya menjauh. Seolah dia belum sadar bahwa apa yang dialaminya saat tidur tadi hanya mimpi.


Kata-kata lembut menenangkan keluar dari mulut Frans.


"Ini aku, Frans," katanya menenangkan. "Aku di sini. Semua baik-baik saja. Kau aman sekarang. Tenang ya? Aku di sini..."


"Frans di sini..."


Sampai pada akhirnya Bimala tidak melawan lagi. Sepertinya Bimala sudah mulai sadar dan tenang. Namun, tangisan pilu terdengar. Frans bisa merasakan kemeja depannya basah.


Cowok itu mengeratkan pelukannya. Dia merasakan tangan Bimala mencengkeram kemeja depannya. Hatinya semakin terisis mendengar isak tangis cewek yang ada dipelukannya ini.


Dia tidak tega. Hatinya ikutan perih melihat orang dipelukannya sampai seperti ini.


"Frans..." bisik Bimala nyaris tak terdengar disela isakan pilunya.


"Takut..."


"Aku takut..."


Frans meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Bimala. Membiarkannya menangis, menggumamkan ketakutannya di sela-sela isak tangisnya. Tubuh Bimala yang semula bergetar ketakutan kini lebih tenang.


Tanpa sadar, sebulir air mata menetes dari pelupuk matanya.


"And I'm here just, just like I used to be. We were here in old days with you, with me..." Frans mulai bersenandung kecil sambil tetap memeluk Bimala dalam dekapannya.


"All my fears have gone when you whisper to me. No matter how near or far apart, apart..."


Frans ingat waktu di mana Bimala mengajaknya menonton drama dari negeri Ginseng yang belum lama rilis. Waktu itu mereka belum lama dekat dan akrab.


Bimala memang suka nonton drakor. Bahkan dia punya banyak koleksi di harddisk yang sengaja dia khususkan untuk menyimpan film. Lalu ada drama baru yang dirilis dan Bimala langsung jatuh hati dengan alur dan para pemainnya.


Frans ingat, Bimala mengajaknya secara spontan setelah dia menceritakan dengan menggebu-gebu tentang drama yang baru ditontonnya—kala itu baru beberapa episode awal yang keluar.


Dia belum pernah menonton drakor. Frans akui itu pada Bimala yang membuatnya mengajaknya untuk mencoba nonton.


Pertama nonton, dia merasa agak aneh karena itu bukan tipe tontonan dia. Namun, dia diam dan tetap menonton, tak ingin mengecewakan Bimala yang duduk di sebelahnya kala itu. Pada akhirnya, Frans bisa menikmatinya. Alurnya juga menarik dan dia akui itu di depan Bimala.


Menerbitkan senyuman lebar di wajah Bimala, sampai membuat Frans terdiam beberapa saat waktu itu.


"When you feel so lonely, I'll be here to shelter you..."


Dan kini dia menyenandungkan pelan salah satu lagu pengisi drama favorit Bimala. Salah satu lagu yang Frans sukai, lagu pengisi drama pertama yang jadi favoritnya.


"When you feel so lonely, I'll be here, here for you..."


Orang dalam dekapannya semakin tenang. Tangisan pilunya juga mereda. Namun, Frans tidak melepaskan pelukannya dan tetap melanjutkan senandung kecilnya. Tangannya bergerak membelai kepala dan punggung Bimala dengan gestur menenangkan.


Dia menyayanginya. Frans menyayangi Bimala, orang yang ada dipelukannya kini. Sejak awal dia menyayanginya sebagai teman baik.


Namun, sepertinya kini lebih dari itu.


"My whole life and all my heart. You're my whole life and all my heart..."


Bimala kembali tertidur. Frans lalu melepaskan dekapannya. Dengan lembut dan perlahan, dia membaringkan kembali cewek itu agar bisa lebih nyaman. Merapikan rambutnya yang berantakan dengan kasih sayang.


Frans tersenyum sendu menatap wajah Bimala yang kini terlelap damai. Sebelah tangan Bimala masih menggenggam erat tangan Frans. Seolah takut melepaskannya.


Cowok itu kembali membelai lembut kepala Bimala dengan tangan satunya.


Perlahan, Frans memajukan kepalanya. Dengan lembut dan penuh kesadaran, dia mengecup kening Bimala.


"And I'm here," bisiknya. "Home... with you..."


"With me..."


.


.


Tanpa disadari, Handayani dan Gio melihat semuanya dari celah pintu yang terbuka.


Sepulang dari kantin, wanita itu sudah merasa tidak enak dan benar saja, begitu sampai depan pintu dan baru membuka sedikit pintu kamar inap putrinya, dia mendengar teriakan histeri Bimala yang terbangun ketakutan.


Dia hampir saja buru-buru menghambur masuk dengan panik dan nyaris menjatuhkan kresek berisi makanan yang baru dia beli. Namun, terhenti ketika melihat laki-laki bernama Frans yang telah menyelamatkan putrinya itu berusaha menenangkannya di sana.


Dia menahan dirinya untuk membantu ketika melihat bagaimana Frans menenangkan putrinya. Dia terdiam dengan perasaan campur aduk.


Bahkan ketika anak sulungnya tiba, dia tidak menyadarinya. Handayani kaget ketika Gio menepuk pundaknya sambil memanggilnya. Buru-buru dia menyuruh Gio untuk tenang dan melihat ke dalam melalui celah pintu yang terbuka sedikit.


Gio kaget tentu saja, dia ingin berlari masuk dan mengambil alih untuk menenangkan adik kesayangannya. Namun, sang bunda menahannya.


"Tapi Bun—"


"Sstt..." Handayani meletakkan telunjuk di bibirnya. Memberi isyarat agar putranya diam.


"Mas, coba lihat baik-baik ya," ujarnya pelan. "Nak Frans membantu adek di sana. Adek udah mulai tenang, kita biarkan aja dulu. Kalau tiba-tiba ke sana, takutnya adek malah kembali nggak nyaman."


Dengan enggan, Gio mengangguk setuju. Pada akhirnya dua orang itu mengawasi Frans yang menenangkan Bimala dari kejauhan.


Gio mengamati dalam diam tindak tanduk yang dilakukan Frans untuk adiknya. Gestur yang cowok itu berikan dan pembawaannya. Gio sedikit memicingkan kedua matanya, menyadari ada sesuatu dibalik gestur lembut yang dilakukan cowok bernama Frans itu dan bagaimana reaksi Bimala padanya.


Gio tahu betul, semenjak kejadian itu, Bimala memang menjaga jarak dengan para lelaki. Hanya Gio dan ayah mereka yang bisa kontak fisik langsung pasca trauma. Bahkan kepada Pasha yang jelas-jelas sahabat Bimala sejak SMP saja butuh waktu baru bisa kembali seperti semula.


Namun, ini dengan orang asing. Oke, Frans memang menyelamatkan adiknya. Hanya saja Bimala biasanya tidak akan semudah itu membiarkan laki-laki lain mendekat. Entah seberapa lama kenal mereka.


Dan hal yang dilakukan Frans membuat Gio berpikir. Cowok itu juga terlihat bukan orang sembarangan.


Gio baru saja kembali dari mengambil pakaian ganti buat ibu dan adiknya—ibunya tak sempat membawa pakaian ganti karena terburu-buru meninggalkan klinik dan untungnya saat itu ada koleganya yang bisa mengambil alih. Sang ayah sebenarnya sudah datang kemarin sore selepas operasi. Namun, pagi-pagi sekali tadi harus pergi lagi karena ada tindakan segera. Untungnya kali ini di rumah sakit UHW ini.


Dua sahabat adiknya, Pasha dan Maul, juga sempat menjenguk. Namun, mereka juga harus kembali pagi tadi karena ada kelas praktikum yang tidak boleh ditinggalkan.


Gio tetap diam sambil memperhatikan bagaimana Frans yang kini membaringkan Bimala kembali ke tempat tidur.


"Hmm..." gumamnya kembali berpikir ketika melihat apa yang barusan terjadi. Sepertinya dia harus bicara pada Frans itu.


.


.


.


.


.


.


a.n.


maaf lama yaa. kemarin-kemarin memang baru sibuk-sibuknya dan sempet drop juga :'


tahu kan drakor yang dimaksud tanpa nyebutin judulnya? :D


maaf kalau aneh. kira-kira bagaimana perasaan Frans kali ini? kalian simpulkan sendiri ya :D dan kira-kira gio mau bicara apa ya ke frans?


and yep! Frans-Bimala emang side couple utama di cerita ini. jadi sejak awal, emang rencanaku ada dua main couple (Kayvan-Aylin dan Frans Bimala) :D jadi juga bakalan banyak membahas pasangan kedua kita ini


see u next chapter!