![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Green-eyed monster (phrase): jealousy
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
"Bang Frans itu... pacarnya Kak Alin ya?" komentar Teo tiba-tiba. Membuat keempat yang lainnya menatapnya heran sekaligus terkejut.
"Ha? Dari mana kau tahu?" tanya Neo kaget.
"Bukan tahu. Cuman penasaran sama curiga aja," jawab Teo membela diri. "Mereka dari Isimaja 'kan kelihatan dekat. Terus ini tadi Bang Frans kelihatan menenangkan Kak Aylin? Ya intinya perhatian banget gitu. Jadi aku penasaran kalau mereka pacaran."
Para sahabat Kai ini sudah cukup akrab dengan Frans jadi sudah tidak sekaku dulu saat memanggil Frans.
"Iya juga ya?" Ojan menimpali. Dia nampak berpikir sambil memperhatikan Frans dan Aylin. "Kalau dilihat-lihat emang sus banget sih. Bang Frans yang perhatian banget sama Kak Aylin yang kelihatan nyaman sama dia."
"Menurutmu gimana Kai?" tanya Neo ke Kayvan yang sejak tadi diam.
Kai yang sudah sejak tadi menahan diri karena hatinya merasa panas dan perasaan tidak suka itu semakin menjadi, hanya berujar singkat.
"Nggak tahu."
Oke, Kai sekarang sudah merasa dongkol. Hatinya benar-benar panas mendengarnya. Ditambah dengan kepalanya yang memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Apalagi dia juga mendengar beberapa orang mempertanyakan hal yang sama seperti Teo. Bahkan ada yang menebak kalau keduanya berpacaran!
Aylin tidak pernah cerita soal ini. Kai tahu cewek itu akrab dengan Frans. Namun, tidak sedekat dan seintim ini yang membuat banyak orang curiga dengan kedekatan mereka. Bahkan untuk sekedar tampil berdua dipanggung.
Cowok itu juga tidak tahu kalau seniornya itu akan tampil hari ini.
Lalu mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya kepikiran benar-benar menjengkelkan.
Bukankah Aylin sudah tahu kalau Kayvan menyukainya? Dan mengizinkannya untuk mengejarnya? Lalu kenapa sekarang Aylin malah begitu dekat dan nyaman dengan cowok lain?
Apa jangan-jangan Aylin berbohong?
Ridwan yang menyadari ada hal aneh dari nada bicara Kayvan tadi—yang sepertinya tidak disadari ketiganya—berujar sambil mengerling ke arah Kai yang diam fokus ke depan, "Terlepas dari itu semua. Kita nggak bisa nge-judge hanya dari apa yang kita lihat. Bisa jadi mereka emang hanya teman yang sangat akrab."
Sepertinya cowok itu tahu apa yang dipikirkan Kai.
Iya, Kai merasa cemburu. Dia hanya diam sambil menatap tajam ke arah panggung, di mana Frans dan Aylin mulai lagu yang ketiga. Lagu yang familiar di telinga Kai dan salah satu lagu dari band lokal Amerika favoritnya.
Bahkan kali ini suara Aylin lebih mendominasi menyanyikan lagu yang berjudul That Was Us itu.
Meski begitu, Kai tidak bisa benar-benar menikmatinya. Hatinya masih terasa panas. Jadinya, dia tidak begitu memperhatikan.
"Racing uphill, going mile by mile. Getting harder now with every trial. I can see... We go so easily..."
"I'm on fire as long as I'm near you. Side by side, that's our past in the rearview..."
Andai Kai fokus memperhatikan lebih lagi, cowok itu mungkin akan menyadari sebuah tatapan yang tertuju padanya beberapa kali.
.
.
.
Aylin merasa sangat lega ketika selesai menyanyikan lagu keempat, Roman Picisan, seperti kesepakatan mereka sebelumnya. Setelah ini mereka bisa langsung turun dari panggung dan selesai sudah penampilan mereka hari ini.
Sayangnya, sebelum benar-benar terealisasikan, Frans menghancurkan angan-angannya. Cowok itu meminta dengan sangat—ditambah dengan tatapan memohon—untuk menyanyikan satu lagu lagi.
Lagu spesial untuk orang kesayangan Frans alias pacarnya alias Bimala yang menonton mereka bersama Maul dan Pasha.
Aylin sudah tahu kemungkinan besar rencana ini akan dieksekusi. Di mana Frans ingin mempersembahkan lagu untuk Bimala.
Ketika Aylin bertanya dulu kenapa harus lagu ini, Frans menjawab kalau di bulan ini dan di waktu yang sama dulu—minggu Festival FT tahun lalu, Frans memutuskan untuk mengejar Bimala.
Di mana waktu itu mereka hanya berteman, mereka kenal pun gara-gara Pasha mengenalkan mereka saat pemilihan duta kampus tahun lalu. Setelah itu mereka jadi teman baik. Jadi bukan sebuah cinta pertama.
Baru setelah berbulan-bulan kenal baik, ada sebuah kejadian yang membuat Frans memutuskan untuk mengejar Bimala yang saat itu menolak hubungan apapun.
Makanya, hari ini Frans ingin mempersembahkan sesuatu untuk Bimala. Sekalian jadi semacam anniversary dari keputusannya mengejar Bimala.
"Hadeh... bucin bener nih anak," gumam Aylin rendah. Dengan agak berat hati, akhirnya Aylin setuju. Untuk sepupunya meski rasanya dia ingin segera cepat-cepat turun dari panggung.
'Kau berhutang padaku Mala.'
Frans tersenyum lebar. Senyum khas yang sering dijuluki sebagai gummy smile.
"Makasih Mbak Lin," ucap Frans pelan. "Habis ini kutraktir."
Kemudian Frans berbicara melalui pelantang. Mengatakan kalau ada satu lagu tambahan lagi. Sebuah lagu spesial yang dia persembahkan untuk seseorang yang juga spesial.
Cowok itu lalu mengerling ke tempat di mana orang itu berada. Melemparkan senyum lembutnya ke orang itu sebelum kembali fokus ke penonton. Para penonton dan yang mendengarnya di area stand dan booth sontak heboh. Anak-anak FT dan sebagian besar anak fakultas lain mulai dari angkatan kedua langsung paham siapa orang yang dimaksud.
"Beneath Your Beautiful oleh Labrinth."
Sepanjang lagu, tatapan Frans sering tertuju di mana Bimala berada. Sepupu Aylin itu pun juga menatap ke arahnya dengan senyum kecil menghiasi wajah ayunya.
Di sisi lain, seorang junior yang sudah kepalang panas hatinya sudah tidak fokus dengan lagu yang ditampilkan. Suasana hatinya kian memburuk ketika tadi mendengar kata lagu spesial untuk orang spesial. Apalagi melihat kedua penyanyi terlihat menikmatinya.
.
.
.
"Mbak Lin! Mbak Lin tadi keren banget!"
Begitu sampai di belakang panggung, Aylin langsung dibombardir oleh Nana—yang secara mengejutkannya datang ke sini entah kapan.
"Ternyata Mbak Alin bisa ngerap juga ya? Kapan-kapan kita collab yuk Mbak," cerocos Nana dengan bersemangat.
Ngomong-ngomong soal rap, lagu Believer memang ritmenya ada yang cepat dan bisa dibilang lagu yang cukup sulit. Aylin harus berlatih berkali-kali dibagian yang beritme cepat karena dirinya memang tidak terbiasa dan suka rap seperti Nana.
"Heh kok ke sini? Nggak sekolah?" tanya Aylin kemudian.
Nana hanya cengengesan dan Aylin langsung tahu kalau adik sepupunya itu sengaja membolos.
"Kau kan bisa datang sorenya. Ngapain bolos sih? Udah kelas tiga pula," omel Aylin.
"Ih, tapi 'kan mau lihat Mbak Lin tampil. Kesempatan yang hampir nggak pernah terjadi ini." Nana beralasan.
"Eleh," cibir Aylin. Cewek itu lalu beralih ke Pandu. Cowok bongsor itu datang bersama Nana. Mana mereka berdua masih pakai seragam lagi! Untungnya pakai jaket jadi bet sekolah mereka tidak kelihatan dari SMA mana.
"Lain kali, jangan sering ngeiyain ajakan Nana. Kau juga punya hak buat nolak," kata Aylin.
Pandu hanya terkekeh, merasa agak malu. "Hehehe... iya Mbak. Tapi ini emang mau lihat Mbak Alin sama Bang Frans."
Tidak berapa lama, Seno datang memborbardir Aylin dengan reaksinya yang dramatis. Cowok itu terkejut, sekaligus terkesan, dengan Aylin yang ternyata bisa nyanyi juga. Dia lalu juga berkomentar kalau FT kini punya dua pemusik andalan yang bisa digunakan untuk mengisi hiburan di setiap acara.
Aylin segera menolak mentah-mentah. Dia tidak mau tampil lagi.
Tidak, terima kasih.
"Aduh aduh aduh... emang nggak salah ya ngasih dare ke Alin," ujar Budi dengan bangga sambil merangkul Aylin kuat dan mengacak-acak rambutnya. Membuat Aylin memberontak berusaha melepaskan diri.
Setelah berjuang selama beberapa saat dari cengkeraman maut seorang Budi, Aylin berhasil melepaskan diri dan merapikan ikatan rambutnya yang berantakan.
Mereka yang ada dibelakang panggung juga sempat menyoraki dan menggoda pasangan fenomenal, Frans dan Bimala. Frans hanya tertawa sambil merangkul Bimala. Sementara cewek itu merasa malu dan memukul Frans—yang tentunya tidak sakit.
Oh iya. Bimala juga punya sisi tsundere. Hanya saja tidak separah Aylin.
"Makasih ya Mbak Lin udah mau bareng nyanyi lagu yang terakhir tadi," ujar Frans ke Aylin. "Lagu dadakan yang untungnya sukses berkat Mbak Alin."
"Iyo, santai aja," balas Aylin. "Kayak sama siapa."
"Hehe... Tahu nggak Mbak, kalau Mbak Alin itu udah tak anggap seperti kakak sendiri."
"Heleh... Bisa aja nih bujang satu."
"Tapi kalau kau nikah sama Bimala nanti jatuhnya kau yang jadi kakak ke Alin malahan," komentar Naufal.
"Eh iya?" Frans agak terkejut. Dia kira Aylin itu yang kakak sepupu selama ini. Ternyata kebalikannya.
"Yaudah lah ya, untuk sekarang gini aja dulu."
Dan Frans sama sekali tidak megelak ketika Naufal tadi bilang nikah dengan Bimala. Aylin tersenyum kecil dalam diam.
Mereka lalu mengobrol. Kali ini topik yang berbeda.
Aylin merasakan seseorang menatapnya. Dia menoleh, mencari-cari siapa orangnya dan menemukan sosok Kayvan menatap ke arahnya dari kejauhan. Tatapannya tajam dan dahinya mengkerut.
'Kenapa lagi itu bocah tengil,' batin Aylin. Dia lalu izin ke teman-temannya yang lain dengan alasan ada urusan sebelum berjalan memisahkan diri.
Tidak ada yang menyadari kemana Aylin pergi. Mereka hanya mengiyakan sambil lalu.
Sementara cewek yang bersangkutan berjalan ke arah Kayvan yang berdiri sendirian. Masih dengan raut muka masam dan tatapan tajam. Tempatnya berdiripun cukup sepi.
"Kau kenapa?" tanya Aylin tanpa basa-basi.
Kai masih terdiam. Dahinya masih mengkerut.
"Hei... ada apasih? Kau bisa cerita padaku," kali ini nada bicara Aylin lebih lembut.
"Kak Alin," akhirnya Kai membuka suara. "Kak Alin ada hubungan apa sama Bang Frans?"
"Ha...?"
"Kalian terlihat dekat sekali. Nyaman banget rasanya," nada bicara Kai terdengar menyindir.
"Apa sih?" cewek itu menatap juniornya aneh.
"Tadi juga banyak yang bilang kalau kalian cocok, romantis," Kai masih saja mencerca. "Apa yang dikatakan mereka itu bener?"
"Mereka siapa sih?" Aylin masih bingung dengan perkataan Kai yang terdengar aneh.
Namun, Kai tetap membuka suaranya. Tentang hubungan Aylin dan Frans, banyak yang bilang kalau mereka cocok, tentang penampilan keduanya hari ini, lagu spesial dan segala omong kosong lain. Membuat Aylin lama-lama kesal juga. Apalagi Kayvan menuduhnya berpacaran dengan Frans dan menjadikan dirinya sebagai pilihan kedua.
"KAYVAN!" seru Aylin yang sudah kesal. Cowok itu seketika terdiam. Apalagi setelah melihat raut wajah Aylin yang terlihat marah.
"Dengar baik-baik ya. Aku dan Frans itu nggak ada hubungan apa-apa," Aylin berujar perlahan. Menekankan setiap kata yang diucapkan.
"Dan lagu spesial yang dimaksud Frans itu buat pacarnya woy! Yakali buat aku," katanya lagi. "Kau nggak lihat kalau Frans berulang kali natap pacarnya? Terus tadi juga sempat pelukan."
"Tuh lihat," Aylin menunjuk Frans yang masih merangkul mesra Bimala di kejauhan.
"Oh," hanya itu respon Kayvan setelah melihatnya. Seketika dia merasa bodoh.
Jadi dia cemburu gara-gara begitu saja percaya dengan omongan orang dan tiba-tiba menyimpulkan seenaknya tanpa tanya dulu?
Bodoh kau Kayvan. Bodoh.
Mana dia sempat menuduh yang tidak-tidak ke Aylin.
Aylin lalu berjalan pergi. Kayvan buru-buru mengikutinya.
"Kak..." panggil Kayvan sambil tersenyum. Merasa malu dengan sikap serampangannya tadi.
"Apa?!" sahut Aylin dengan sewot tanpa menoleh.
"Hehehe... maaf aku salah."
"Lah situ akhirnya tahu kalau salah," Aylin masih sewot.
"Maaf ya? Maaf udah nuduh aneh-aneh. Maaf udah gampang percaya omongan orang tanpa crosscheck dulu. Maaf udah menyimpulkan sembarangan tanpa tanya Kak Alin dulu. Dan maaf udah bersikap bodoh," ujar Kayvan memohon.
Namun Aylin masih bergeming.
"Apa Kakak mau memaafkanku?" Kai terus memohon. "Janji deh nggak gitu lagi. Terus sebagai penebusannya, hari ini aku bakal menuruti kemauan Kakak. Ya?"
Cowok itu terus berusaha membujuk Aylin yang memilih diam malas meladeni Kayvan. Dia masih kesal, oke? Apalagi setelah tahu kalau juniornya ini tidak mendengarkan salah satu lagu dari band favoritnya dinyanyikan.
Aylin yang memilih lagu itu saat dirinya dan Frans membahas lagu apa saja yang akan mereka tampilkan beberapa hari sebelumnya. Dan Aylin teringat Kayvan suka salah satu band lokal Amerika.
Eh malah anaknya dengan bodohnya cemburu tanpa mikir? Kan Aylin kesal jadinya.
Ketika Kayvan tahu hal itu, membuatnya semakin merasa bersalah. Berulang kali dia membujuk dan minta maaf ke Aylin. Membuat Kai semakin takut kalau Aylin tidak akan memaafkannya saat seniornya itu tidak berkutik sama sekali.
"Kowe ki njelei ngerti ra?" Aylin berbalik dan menatap Kayvan kesal. [Kau itu menyebalkan tahu nggak]
Kayvan hanya tersenyum. Dia sudah terbiasa mendengar senior kesayangannya ini berujar dalam bahasa Jawa. Sampai membuatnya perlahan mengerti artinya.
"Iya, aku emang menyebalkan. Udah bikin Kak Alin marah dan kecewa," ujar Kayvan dengan tenang tetapi tetap terdengar tulus. "Maafkan aku ya? Lain kali aku nggak akan bertindak bodoh lagi."
Aylin memalingkan wajahnya. "Terserah."
Masih dengan senyumannya, Kayvan meraih tangan kiri Aylin dan menggandengnya. Tidak ada penolakan.
Cowok itu lalu mendekatkan wajahnya dan berujar, "Kakak kalau lagi marah itu sangat menggemaskan lho..."
Aylin menoleh cepat dan menatap tajam ke arah juniornya yang masih menyunggingkan senyum andalannya.
"KAYVAN!"
"Hahaha...!"
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
yap ini part duanya. lebih pendek dari kemarin :D maaf kalau aneh dan terkesan cringy
apa kai dan alin udah jadian? oh tentu belum :D
see you in Ramadhan, i guess..