Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: Fear



Fear (n): an unpleasant emotion caused by the belief that someone or something is dangerous, likely to cause pain, or a threat.


.


.


.


[baru minor editing. Warning! Ada topik sensitif soal sexual harassment, kalau ada yg punya trauma atau pengalaman kurang mengenakkan soal itu, diharap skip saja, terima kasih]


.


.


.


.


.


Everything is alright. Until one day...


.


.


.


Siapa yang tak kenal dengan Bimala Ayu Sekar?


Cewek cantik—benar-benar perwujudan namanya—yang easy going dan mudah berbaur dengan banyak orang menjadi salah satu primadona di sekolahnya. Selain itu, Bimala atau sering dipanggil Bia oleh teman-temannya adalah orang yang jahil juga. Suka sekali menjahili sahabat dan saudaranya kalau keisengannya kambuh.


Dia adalah anak bungsu dari pasangan dokter. Ayahnya, dr. Kurniawan, Sp. B adalah dokter bedah di rumah sakit terkenal. Sementara ibunya, dr. Sri Handayani adalah dokter umum di puskesmas lokal dan punya klinik kesehatan di rumahnya. Kakaknya, Giovani Mustafa atau akrab disapa Gio, merupakan mahasiswa tahun ketiga di jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Hayam Wuruk.


Walau rentang usia Bia dan kakaknya itu lima tahun, bisa dibilang mereka dekat. Apalagi Gio cukup memanjakan adik semata wayangnya itu. Ketika kedua orang mereka sedang sibuk bekerja melayani masyarakat, Gio berperan sebagai perpanjangan tangan orang tua mereka dalam merawat dan mendidik Bimala.


Kalau orang Jawa bilang, Gio itu gemati banget sama adiknya. [perhatian, penuh kasih sayang]


Selain dekat dengan Gio, Bia juga dekat dengan sepupunya, Aylin dan Nana. Aylin yang lebih tua setahun darinya dan Nana yang jadi anak bawang karena baru SMP kelas dua. Bimala sendiri baru masuk SMA dan Aylin menjadi kakak kelasnya.


Lalu, Bia juga punya dua orang sahabat yang kemana-mana sering bareng.


Nur Maulida Ratri atau akrab disapa Maul adalah teman Bia sejak SD. Dulu mereka bertetangga sebelum Bia pindah rumah—walau tak begitu jauh dan terhitung masih satu kecamatan.


Lalu sahabat yang satunya bernama Pasha Kuncoro. Cowok tinggi dan ganteng tapi rada sengklek itu bergabung dalam grup duo, Bia dan Maul, dan melengkapinya menjadi trio saat mereka SMP.


Ketiganya punya impian yang sama—terutama Bia dan Maul—untuk menjadi dokter.


Bimala karena terinspirasi dan termotivasi oleh kedua orang tuanya yang dokter. Maulida karena cita-citanya sejak kecil yang bertahan sampai sekarang untuk jadi dokter. Lalu Pasha yang awalnya santai dan tidak terlalu ambis, tetapi karena melihat kedua sahabatnya akhirnya jadi ikutan juga.


Pertemuan ketiganya bisa dibilang karena kebiasaan. Tidak terlalu istimewa dan menarik seperti di novel-novel.


Di mana sejak awal Bia dan Maul memang sudah kenal dan berkawan dekat, sering menghabiskan waktu bersama—entah ke perpus, kantin, belajar, dan main sepulang sekolah—meskipun mereka beda kelas.


Sementara Pasha yang sekelas dengan Maul di kelas tujuh kala itu ikut bergabung kemudian.


Bermula dari ketika cowok tinggi itu risih dengan cewek-cewek di sekolah yang terlalu genit dan sok kenal menurutnya. Dia juga rada dijauhi beberapa anak cowok karena dianggap sombong dan suka tebar pesona. Makanya diawal-awal SMP dia tidak punya teman dekat.


Lalu ketika Maul dan Pasha satu kelompok di tugas bahasa Jawa—waktu itu satu kelompok dua orang acak—makanya mereka jadi cukup sering berinteraksi. Pasha lalu sering ikut bergabung ketika Maul pergi menemui Bia.


Mulai dari sanalah, mereka bertiga menjadi lebih akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.


Kemudian, ketika kelulusan SMP, trio itu memutuskan untuk satu sekolahan lagi. Entah nanti akan sekelas atau tidak, yang penting target mereka harus bisa masuk jurusan IPA.


Impian mereka jadi dokter, ingat?


Mana kampus yang dituju sama-sama di UHW. Yang penting usaha dulu. Dan tak lupa doa juga.


Di SMA mereka, semua berjalan lancar. Mulai dari ikut MOS sampai pembelajaran biasa. Tetap ambis tetapi tentu tak lupa untuk bersenang-senang.


Maul ikut PMR dan Pasha ikut jadi pengurus OSIS—aslinya cowok itu tidak berminat sama sekali tapi dipaksa ikut dan akhirnya malah keterima. Jadilah dia mau tidak mau harus melakukan tugasnya.


Paling tidak selama satu periode kepengurusan.


Sementara Bimala, dia tidak tertarik untuk ikut ekskul atau organisasi apapun. Namun, dia jadi anggota tak resmi PMR karena cukup sering membantu. Cewek itu lagi mempertimbangkan untuk ikut PMR atau tidak.


Trio itu cukup terkenal di sekolah. Tidak hanya angkatan mereka saja, tetapi juga sampai angkatan kakak kelas.


Terkenal karena Bia yang cantik dan easy going, Pasha yang bak prince charming walau rada absurd, dan Maul yang ramah-ramah galak.


Dan yang paling mencolok, mereka terkenal sebagai trio yang cukup gila. Suka membuat orang lain geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Namun, banyak yang mengakui kalau mereka itu trio yang pandai di angkatan mereka.


Padahal belum lama KBM—baru minggu-minggu awal, tetapi mereka sudah punya pamor di sekolah.


Entah karena kegilaan mereka.


Atau karena prestasi mereka di akademik yang mulai terlihat—yang menonjol tentu saja Pasha. Cowok itu bisa dibilang berotak encer. Genius.


Makanya, walau bertingkah, guru-guru jadi agak segan menghukum mereka. Kalau orang Jawa bilang mereka itu sembada.


.


.


.


Seperti biasa, Bia akan pulang bersama sahabatnya. Atau kalau tidak bersama Aylin. Aylin memang sering mampir—bahkan menginap juga—ke rumah Bia karena jarak rumahnya lebih dekat ketimbang rumah Aylin. Dia akan menunggu ibunya menjemput setelah selesai mengajar karena beda sekolah. Atau ketika ibunya ada kegiatan ibu-ibu Persit.


Dari pada di sekolah luntang-lantung sendirian, lebih baik ke rumah Bia. Ortunya Bia juga selalu berpesan buat mampir saja ke rumah untuk istirahat daripada kecapaian. Apalagi pas kelas satu dulu, Aylin sibuk di tonti dan paskib. Sekarangpun dia tergabung dalam DPT dan akan ikut seleksi paskib di provinsi.


Yakali minta jemput kakek? Meskipun sudah sepuh tetapi masih kelihatan bugar, kakeknya itu sama seperti Aylin. Agak payah kalau urusan naik motor. Kakek lebih suka ngontel atau naik kendaraan umum. [naik sepeda ontel]


Dan hari ini, Bia akan pulang bersama Aylin.


Maul ada rapat di PMR. Sementara Pasha tidak berangkat hari ini karena sakit—Bia sempat berkomentar, "Bisa sakit juga tuh si genter ternyata." [galah, bambu]


Jadinya Bia menunggu Aylin yang masih ada rapat kelas sebentar. Sepupunya itu mau mampir ke rumah hari ini karena ibunya ada rapat sampai sore.


Awalnya, Bia menunggu di lobi sambil memanfaatkan fasilitas WiFi sekolah untuk streaming YouTube. Namun, lama-lama bosan juga. Mana Aylin belum kelar dengan rapat kelasnya lagi.


Karena suntuk dan merasa tontonan di YouTube sudah tidak menarik lagi, Bia memutuskan untuk berjalan ke luar lobi, ke halaman depan sekolah. Tentu saja ponsel tetap dinyalakan untuk jaga-jaga kalau Aylin mengabari.


Cewek itu lalu berjalan ke luar gerbang. Sekolah mulai sepi kecuali oleh anak-anak yang masih punya urusan di sekolah, ekskul atau rapat.


Dia melihat ada yang berjualan cilok di dekat seberang jalan dekat tempat fotokopian. Didukung dengan rasa lapar yang mulai berasa, akhirnya Bimala memutuskan untuk jajan cilok.


Mumpung empat hari ini dirinya tidak jajan jajanan pinggir jalan—ibunya selalu mewanti-wantinya agar tidak jajan sembarangan sejak kecil.


Setelah puas makan cilok, Bia memutuskan untuk kembali ke lobi. Siapa tahu Aylin sudah menunggunya.


Baru beberapa langkah ke gerbang sekolah, seseorang memanggilnya.


"Bia!"


Cewek itu menoleh dan mendapati seseorang yang sangat dikenalinya berjalan mendekat.


Bia tersenyum lebar melihatnya. Lalu dia melambaikan tangannya kecil.


"Hai Rangga!"


.


.


.


Aylin berjalan terburu-buru ke arah lobi. Begitu rapat kelasnya selesai, cewek itu segera melesat keluar kelas. Tidak mempedulikan teman-temannya yang masih di kelas. Rapat yang membahas agenda kelas dan tugas olahraga untuk membuat video senam ternyata berlangsung lebih lama dari dugaannya.


Makanya, dia buru-buru ke tempat sepupunya yang sudah menunggu di lobi. Sayangnya, begitu sampai, Aylin tidak mendapati Bimala seperti apa yang dia ketikkan di pesan sebelumnya.


Apa karena menunggu terlalu lama?


Pesan yang Aylin kirimkan tidak ada respon sama sekali. Bukan tipikal Bimala karena cewek itu termasuk cepat dalam membalas pesan.


Kecuali kalau cewek itu sedang fokus mengerjakan tugas.


Aylin lalu mencarinya ke perpustakaan dan ruang baca. Siapa tahu sepupunya itu ada di sana mengerjakan tugas.


Namun, tidak ada sama sekali. Kosong. Hanya ada penjaga perpustakaan yang tengah bersiap-siap menutup perpustakaannya. Kelas Bimala juga tidak mungkin karena Aylin sempat melihat Pak Prih—penjaga sekolah—sudah mulai mengunci tiap-tiap kelas.


Kelas Bimala ada di lantai dua dan Pak Prih biasanya mengunci kelas dari lantai atas.


Oh!


Aylin baru ingat kalau ada rapat PMR hari ini. Biasanya, Bimala akan nimbrung anak-anak PMR atau sekedar numpang duduk.


Dia lalu berlari lagi dengan harapan bisa ketemu sepupunya itu agar cepat pulang.


Ketika hampir dekat dengan ruang PMR yang berada di samping UKS, Aylin menjadi ragu. Dia tidak mau mengganggu rapat mereka.


Ke sana atau tidak?


Ke sana atau tidak?


Iya atau tidak?


Perdebatan batin Aylin buyar ketika seseorang memergoki dan memanggil namanya.


"Loh? Mbak Alin?"


Ternyata Maul yang baru saja keluar ruangan dan mendapati kakak kelasnya berdiri tak jauh dari ruang PMR.


"Kenapa Mbak?" tanya Maul heran.


"Eh... itu, kau lihat Mala nggak?"


Maul menggeleng. Raut wajahnya nampak bingung.


"Lah kirain dia udah sama Mbak Al. Soalnya tadi dia bilang mau bareng sama Mbak Alin kan?"


Aylin jadi bingung sekaligus mulai agak khawatir.


"Nggak tuh. Tadi kebetulan aku ada rapat kelas dulu. Si Mala katanya mau nunggu aku di lobi tapi orangnya malah nggak ada. Aku kira dia ke sini karena kadang bareng anak-anak PMR 'kan?"


"Wah... sayangnya nggak hari ini. Coba cari di luar Mbak Lin. Biasanya tuh anak suka jajan cilok dekat fotokopian. Nanti kalau belum ketemu, kabari aku Mbak tak bantu nyari. Bentar lagi rapatnya selesai kok," ujar Maul.


Aylin tersenyum mengerti. "Ya udah. Makasih ya Ul. Tak cari keluar dulu. Maaf ganggu rapatnya."


"Santai Mbak. Lagian aku emang izin keluar bentar," jawab Maul.


Setelah itu, Aylin lalu pergi untuk kembali mencari Bimala. Sambil spam pesan dan menelepon ke nomornya.


Namun, tidak ada tanggapan sama sekali.


Hal itu membuat Aylin semakin khawatir. Sekolah mulai sepi. Hanya tersisa anak-anak ekskul musik, PMR, dan teater yang tentu berada di ruangan masing-masing.


Di taman dan halaman depan sekolah tidak ada sosok Bimala. Tempat parkir? Jelas tidak ada.


Niatnya mau ke pos satpam untuk bertanya, tetapi Pak Satpamnya sedang ke masjid sekolah untuk shalat ashar. Aylin bahkan sempat kepikiran untuk sekalian saja ke masjid untuk shalat. Namun, dia langsung ingat kalau ternyata dia lagi halangan.


Aylin lalu berjalan keluar gerbang. Melihat ke seberang jalan di mana biasanya pedagang cilok dan jajanan lain mangkal.


Namun, hanya tersisa pedagang bakwan kawi di sana. Itupun bapaknya bersiap pergi keliling lagi karena sudah tidak ada yang beli.


"Mala!" Aylin mencoba berteriak memanggil sepupunya. Sambil tetap berusaha meneleponnya.


Namun, nihil. Teleponnya tidak dijawab. Sangat amat bukan seorang Bimala.


Diliputi rasa panik, Aylin kembali berjalan untuk mencari Bimala yang entah bagaimana bisa malah menghilang.


Walau sekolah favorit, SMA-nya ini terletak di wilayah perkampungan dekat kota. Jadi suasananya masih adem dan asri. Jalanan juga tidak begitu ramai.


Tanpa sadar, cewek itu melewati gang yang sepi dan terasa asing. Jaraknya sudah lumayan jauh dari sekolah. Mana sudah sore jadi kesannya agak gelap.


Awalnya dia mau putar balik karena merasa takut, tetapi dia punya feeling kalau harus mengecek tempat ini. Mau tak mau, Aylin harus memberanikan diri.


"Tolong!"


Aylin terkejut ketika mendengar suara minta tolong. Suaranya begitu familiar.


"Tolong!"


"Tolong!"


"Bimala," gumam Aylin dengan panik. Tidak salah lagi. Suara itu adalah suara Bimala!


Buru-buru Aylin mencari sumber suara. Takut terjadi apa-apa pada kakak sepupunya itu. Pikiran-pikiran buruk mula berseliweran.


Suara Bimala tidak terdengar lagi. Hal itu membuat Aylin semakin panik.


"Mala!" Aylin berteriak. Berharap agar Bimala mendengar suaranya.


"Mala!"


"MALA!"


Sial! Kenapa malah sepi begini? Tidak ada kendaraan lewat atau sekedar warga setempat.


"Mala!"


Aylin menuju belokan gang yang sepi yang menurutnya suara Bimala tadi berasal.


Pemandangan yang dia temui membuatnya kaget luar biasa. Di mana dia melihat sepupunya terpojok dengan wajah ketakutan dan penuh air mata. Matanya menyorot penuh teror. Tangannya menyilang ke depan, seolah mencoba melindungi dirinya dari orang di depannya.


Sementara orang itu, Aylin kenal betul siapa dia. Teman SMP Bimala yang kini sekolah di salah satu SMK di sini. Cowok yang disukai Bimala dan akhir-akhir ini memang mereka berdua sedang PDKT.


Cowok bernama Rangga yang kini tengah melakukan hal tidak senonoh kepada Bimala yang membeku ketakutan. Aylin bahkan tak sanggup menyebutnya.


Dengan penuh amarah dan kekhawatiran, Aylin berlari ke arah mereka. Dia mendorong dengan kasar Rangga sampai cowok itu jatuh tersungkur. Lalu ditendangnya di tempat paling sakit berulang kali.


Aylin memang tak pernah belajar bela diri, tetapi ayahnya mengajarinya beberapa teknik untuk menjaga diri.


Cewek itu tidak peduli pada Rangga dan mengerang kesakitan. Orang itu berhak mendapatkannya setelah apa yang dia nyaris lakukan pada Bimala. Amarahnya benar-benar meluap.


Setelah puas dengan pembalasannya, Aylin lalu beralih ke Bimala. Cewek itu meringkuk ketakutan. Tubuhnya menggigil hebat.


Buru-buru Aylin mendekat dan memeluknya. Sempat ada penolakan dari sepupunya karena mungkin masih syok dan trauma.


Tangis Bimala seketika pecah. Suaranya terdengar pilu. Aylin yang mendengarnya ikutan menangis. Dieratkannya pelukannya pada Bimala. Tidak peduli kalau seragam sekolahnya basah.


Diam-diam Aylin juga mengecek kondisi fisik sepupunya. Tidak ada yang luka. Hanya dua kancing baju yang terlepas.


Kalau saja dia telat barang sedetik saja, Aylin tidak tahu apa yang akan terjadi. Membayangkannya membuatnya bergidik ngeri. Syukur tadi Bimala juga sempat berteriak meminta tolong.


Sebuah keberanian yang luar biasa. Dan Aylin tahu itu tidak mudah dengan kondisi seperti tadi.


Walau hanya nyaris—sebatas pegang saja—itu sudah sangat kelewatan dan keterlaluan.


Tidak bermoral.


Aylin membiarkan Bimala menenangkan diri lebih dulu.


"Mau Mas Gio, Lin..." bisik Bimala masih sesenggukan.


"Kita keluar dari sini dulu ya?" kata Aylin dengan nada menenangkan sebisa mungkin.


"Mau ketemu Mas Gio..."


Aylin mengangguk. "Iya. Nanti aku teleponin Mas Gio buat ke sini. Tapi kita harus keluar dulu ya?"


Kaki Bimala masih terasa seperti jelly. Rasanya tak sanggup untuk berdiri. Dia masih merasa syok dengan kejadian barusan.


Dengan bujukan lembut, akhirnya Bimala mau perpindah ke tempat yang lebih lapang di luar gang jalan buntu ini. Aylin membantunya dengan cara memapahnya perlahan.


Sesampainya di luar gang, Aylin membantu Bimala untuk duduk di trotoar. Lalu menyampirkan jaket yang dia pakai ke tubuh Bimala.


"Ini kenapa dek?" seseorang bertanya. Aylin menoleh dan mendapati ada mas-mas yang membawa tas kresek belanjaan berjalan mendekat.


"Tadi pas aku lewat dekat sini seperti dengar ada keributan. Tapi karena buru-buru jadi nggak sempat berhenti."


Aylin melirik sejenak ke arah Bimala yang terdiam dengan pandangan kosong, khawatir. Lalu kembali beralih ke mas-mas yang tadi.


"Tadi ada," Aylin menjeda ucapannya. Bingung bagaimana cara mengatakannya.


"Orang kurang ajar Mas. Kakak saya yang kena," cewek itu menyamarkan kalimatnya. Ingin sekali dia bilang ada tindak pelecehan, tetapi takut Bimala mendengarnya malah tambah down karena harus mengingat-ingat kejadian yang barusan dia alami.


Aylin berharap mas-masnya paham maksudnya.


Harapan Aylin terkabul. Terlihat dari sorot mata dan raut mukanya yang terkejut.


"Innalilahi...!" katanya.


"Kakakmu nggak apa-apa dek? Terus pelakunya di mana sekarang?" untungnya tidak berjalan mendekat untuk melihat keadaan Bimala.


"Ini saya mau nelepon mas saya buat jemput. Pelakunya KO mas di gang itu. Tadi saya tendang berkali-kali," Aylin meringis mengingat apa yang dia lakukan tadi.


Lelaki itu mengangguk-angguk mengerti. Tidak menghakiminya. Lalu dia menawarkan untuk menelepon polisi biar bisa ditangani—semoga. Dia juga siap jadi saksi kalau diperlukan.


Aylin membiarkannya. Namun, sebelum itu, dia bilang ke orang itu agar tidak digemborkan ke publik. Cukup mereka dan pihak yang memang perlu diberitahu saja. Terutama jangan diumbar siapa nama korbannya. Takut kalau Bimala malah makin terguncang dan trauma kalau harus mendengar dari mulut orang-orang.


Apalagi ini di dekat lingkungan sekolah.


Ketika suatu hari Bimala sudah sudah siap, itu terserah dia nanti mau speak up atau tidak. Untuk saat ini, biarkan mentalnya tenang dan sembuh dulu


Aylin membiarkan mas-mas itu mengurus bedebah yang kesakitan karena tendangannya. Fokusnya adalah Bimala yang sejak tadi terdiam dengan pandangan kosong.


Aylin lalu menelepon Mas Gio. Tangannya gemetar, tetapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.


"Mas Gio! Plis, ini gawat banget! Tolong ke sini nanti ku share lokasinya," masa bodoh dengan sapaan.


"Kenapa Lin? Mas masih di kampus."


"Mala, Mas! Tolong banget segera ke sini. Aku nggak bisa jelasin lewat telepon. Tapi Mala butuh Mas Gio sekarang... hiks!"


"To-tolong banget... takut Mas. Kasihan Mala... hiks... hiks!"


Aylin kembali terisak. Dia benar-benar kalut.


"Oke... oke. Mas ke sana sekarang. Kau tenangin diri dulu ya, jaga Mala dulu ya? Mas langung otw ini. Tunggu ya..."


"H-hati-hati Mas..."


Aylin memutus sambungan teleponnya. Tak lupa mengirimkan lokasinya. Dia mengusap air matanya dengan lengan baju seragamnya. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah Bia yang memeluk kedua lututnya. Pandangannya kosong. Aylin lalu memeluknya untuk menenangkan.


"Dek," mas-mas yang tadi kembali.


"Polisi bentar lagi ke sini. Tenang, tak bantu urus. Yang penting kalian tenangkan diri dulu. Gang ini emang sepi dan sering jadi tongkrongan gondes sampai mabuk-mabukan. Makanya jarang warga yang lewat kalau nggak kepepet. Udah berulang kali lapor tapi belum ditanggapi serius. Semoga habis ini bisa beres."


Pantas Aylin merasa asing. Wong dia tidak pernah lewat sini. Bahkan dirinya baru tahu ada ini gang. Jaraknya juga lumayan dari sekolah.


Untung tadi sempat ada firasat buat lewat sini. Kalau tidak....


Ah, Aylin tidak bisa membayangkannya.


"Kalau nunggu mas kalian di sekolah aja gimana? Aku antar. Di sini sepi soalnya. Nggak enak."


Aylin mengangguk. Dia juga tidak mau lama-lama di tempat ini.


Cewek itu lalu memapah Bimala yang masih membisu, masih syok berat. Bahkan sampai menggigil ketika laki-laki penolong itu berjalan mendekat untuk mengantar mereka. Alhasil, dengan penuh pengertian, orang itu berjalan agak jauhan dan tak terlihat dalam pandangan Bimala.


Bimala menggenggam erat tangan Aylin. Walau terasa sakit karena terlalu kencang, Aylin menahannya. Dia mengusap-usap tangan sepupunya yang sedingin es.


Mereka berjalan pelan. Jaket Aylin masih tersampir di bahu Bimala.


Sesekali Bimala bertanya di mana Mas Gio. Dijawab Aylin kalau dia lagi di jalan sambil terus menenangkannya.


Maul mengiriminya pesan. Rapat sudah selesai dari tadi dan dia di depan gerbang sendirian mencari-cari Aylin dan Bimala. Aylin membalasnya untuk menunggu mereka di sana.


Pandangan Aylin menerawang. Raut wajahnya nampak menahan kesedihan yang mendalam.


Kenapa hal ini bisa terjadi pada kakak sepupunya?


Kenapa?


.


.


.


Bukan hanya cinta pertamaku yang gagal. Namun, penilaian dan ekspektasiku terhadap laki-laki berubah total.


Mereka itu ternyata sama saja. Pikiran yang selalu ada di ************ saat melihat sesuatu yang cantik dan menggoda.


Mereka jahat.


Mereka menyakiti tanpa rasa bersalah. Mempermainkan hati dengan dasar taruhan siapa yang bisa menaklukkannya. Membuat teror dan ketakutan.


Mereka semua jahat. Tidak bisa dipercaya.


Kecuali ayah dan Mas Gio. Dan juga kakek dan paklik. Dan mungkin juga Pasha.


Mungkin hanya mereka laki-laki yang baik di sini.


Orang itu membuatku jijik dengan diriku sendiri. Bekasnya susah hilang. Bahkan sampai kulitku memerah, kenyataannya masih ada di sana. Bagaimanapun juga caranya. Mengingatnya saja membuatku marah, takut, merasa dipermalukan.


Bercampur jadi satu.


Harga diriku terinjak.


Rasanya sampai mau mati.


Kenapa?


Apa aku serendah itu yang akan dengan mudah menjual tubuhku?


Di tempat gelap itu, tangan kotor itu menyentuhku. Tubuhku seolah-olah membeku di tempat. Tak bisa digerakkan. Bahkan mulutku seolah terkunci rapat-rapat. Suara yang tiba-tiba menghilang.


Menatapnya penuh teror. Dan memohon agar dia tidak melakukannya.


Kumohon... jangan.


Jangan lakukan ini.


Tolong jangan lakukan ini.


Aku mohon!


Ayah, aku takut...


Mas Gio di mana? Aku takut...


Aku sangat takut...


Tolong!


.


.


.


.


.


.


.


a. n.


Maaf lama. Butuh waktu membangun mood sama feel buat nulis part ini. Belakangan ini lagi sibuk nulis beda genre, satunya tulisan akademik satunya cerita. Jadi kayak ke bagi-bagi pikirannya wkwk


Part ini menjelaskan latar belakang bimala. Sudah terjawab kan


Dan yup! Ada part dua nya, tunggu saja


Sengaja ngasih side story buat jeda sambil ingat2 dan mikir plot selanjutnya. Dan kebetulan banget pas lagi denger lagu Natalie Taylor - Iris, punya ide buat part ini


See you next week