![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
friend (n): a person whom one knows and with whom one has a bond of mutual affection, typically exclusive of sexual or family relations
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
Hidup itu lucu ya? Mungkin kalau diibaratkan manusia, mereka pasti sudah menertawai nasibnya yang jelek.
Dia benci dengan keadaan yang menimpanya. Benci sekali sampai dia tidak tahu bagaimana rasanya sekarang.
Harusnya dia bisa bersenang-senang dengan para sahabatnya. Namun, sepertinya takdir tidak ingin membuat hal itu terjadi bergitu saja. Hari di mana, setidaknya, dia bisa merasa lebih bebas tanpa bayang-bayang masalah yang selalu menghantuinya, justru kini malah dirusak dengan pesan spam yang dikirimkan oleh orang paling terakhir yang dia harapkan.
Benar-benar perusak suasana!
Kenapa sih orang itu suka sekali merecoki kehidupannya lagi? Ikut campur padahal dia sudah jadi orang asing yang kehadirannya bahkan tidak diharapkan. Sudah sejak lama juga orang itu pergi dari kehidupannya dan ibunya.
Namun, kata gone for good sepertinya tidak berlaku untuk ayahnya. Bahkan sampai Ridwan merantau sejauh ini, dari Jakarta-Bekasi ke Jogja, pria itu masih ikut campur.
Untung saja, pria tua bangka tak tahu malu itu tidak tahu dia benar-benar di Jogja. Hanya tahu kalau dia merantau jauh. Kalau sampai tahu, entah apa yang akan orang itu lakukan.
Ridwan menggelengkan kepalanya. Menghalau pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan.
Semoga ibu dan kakeknya di rumah baik-baik saja.
Ridwan menyalakan rokok dengan korek yang diberikan Kai tadi. Dia memastikan kalau di sekitarnya tidak banyak orang atau anak-anak. Dia masih cukup peduli dengan orang lain yang tidak merokok.
Masalah sama yang tidak berkesudahan membuatnya sakit kepala. Merokok adalah salah satu caranya melepas stres.
Ya, Ridwan memang seorang perokok. Dia mulai merokok sejak kelas sepuluh. Bukan tanpa alasan dia menjadi perokok. Lagipula, cowok itu tidak sering melakukannya. Hanya saat ada masalah yang membuatnya mengeluarkan batang nikotin itu.
Asap mengebul dan pandangannya menerawang.
Kapan ya orang itu bisa tobat? Lalu pergi dari kehidupannya dan tidak mengusik lagi.
"Sebenci apapun kau pada orang, jangan pernah mendoakan yang buruk-buruk padanya. Itu artinya kau sama aja dengan mereka, bahkan lebih pengecut," kata Kai pada suatu hari kala itu.
"Dan Ridwan yang aku tahu bukanlah pengecut. Kau orang yang luar biasa, lebih dari apa yang dikatakan ayahmu. Aku nggak memintamu buat cepat-cepat menyudahi kebencianmu. Take your time, sampai hatimu lega. Apapun yang terjadi, I get your back, bro."
"Wan, meski kita kadang berantem, kau udah jadi salah satu saudaraku. Rumahku, rumahmu. Begitupun dengan Kai," lalu ini dari Neo kala itu.
Saat di mana dia benar-benar terpuruk. Nyaris saja dia menyerah karena beratnya masalah sudah melebihi kapasitas. Ketika itu juga, Neo dan Kai akhirnya tahu semuanya.
Katakan dia memang pecundang yang merasa takut saat ada orang asing yang masuk ke kehidupannya dan memaksa menjadi bagian itu, lalu orang itu akan pergi menjauh setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Nyatanya, Kai dan Neo bertahan sampai sekarang. Mereka sangat keras kepala. Dan juga orang itu, lebih keras kepala lagi dulu. Kalau sekarang, mungkin dia masih sama. Sudah lama tak berjumpa dengannya. Di sinipun hanya dua kali benar-benar bisa bicara. Di pertemuan keduapun hanya sebentar.
Terkadang dia bertanya-tanya, apa dia pantas punya teman seperti mereka? Lalu sekarang bahkan bertambah.
Seumur-umur, dia tidak pernah membayangkan memiliki lingkaran pertemanan seperti ini. Terlalu banyak trust issues dan masalah lain membuatnya tidak berani berharap banyak.
Dia belajar dari ahlinya. Namun, teman-temannya itu berhasil merongrong dinding tebal dan tinggi yang dia bangun. Perlahan membuatnya menjadi versinya yang saat ini.
Versi yang sedikit lebih baik, menurutnya.
Senyum tipis terbit di bibir tipisnya.
Dia menengadahkan kepalanya ke atas. Membiarkan angin pantai menerpa wajahnya. Matanya memandang langit yang cerah tanpa awan.
Setelah puas dan merasa sedikit lebih lega, dia mengalihkan perhatiannya. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing.
Sosok yang sangat dikenalinya.
Ridwan sudah menduga bahwa kemungkinan besar akan bertemu dengannya di sini setelah dia melihat ketiga senior yang dikenalnya juga ada di sini.
Orang itu tak berubah. Masih suka dengan hobi memotretnya.
Dia mengamati sejenak orang itu yang terlihat asyik dengan dunianya. Belum menyadari keberadaannya yang tidak begitu jauh dari tempatnya.
Sampai pada akhirnya, cewek berambut pendek sebahu itu mengalihkan pandangannya. Dan disitulah mata mereka bertemu pandang.
Cewek yang mengenakan luaran kemeja Hawaii berwarna ungu bermotif bunga-bunga sempat terkejut selama beberapa detik. Sebelum senyum lebar terbit di wajahnya.
Ridwan yang melihatnya tersenyum, mau tak mau ikut tersenyum juga.
Cewek itu berlari kecil menghampirinya. Senyum masih menghiasi wajahnya.
"Kau ke sini juga?" katanya.
Ridwan mengangguk. "Iya, sama yang lain. Kau?"
"Sama. Tapi aku melipir buat hunting foto dulu. Sampai nggak sadar kalau udah lumayan lama."
Ridwan mengangguk mengerti. Paham benar kebiasaan cewek di sebelahnya ini. Ridwan lalu kembali menghisap batang nikotinnya. Menghabiskan sisa rokok yang semakin habis terbakar.
Cowok itu tidak masalah Rima melihatnya merokok. Toh, selain Kai dan Neo, Rima juga termasuk orang yang tahu kebiasaannya ini.
Ya, Rima adalah orang itu.
Rima yang melihat hal itu menghela napas sejenak. Tahu betul maksudnya.
"Kali ini orang tua itu berbuat apalagi?" tanya Rima pelan. Tak ingin ada orang yang menguping pembicaraan mereka. Ini ranah privasi.
"Seperti biasa," jawab Ridwan. "Kali ini meneror nomorku. Menganggu sekali. Tua bangka itu..."
Kata-kata selanjutnya tertahan. Tangan kirinya mengepal kuat.
Rima yang menyadari gelagat dari Ridwan, mendekat. Lalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri Ridwan yang mengepal, mengusapnya pelan. Bermaksud menenangkannya.
"Apa yang pernah kukatakan dulu, masih sama," ujar Rima dengan lembut. "Kau tak sendirian dan kau berharga.."
Ah, ternyata masih sama. Caranya pun masih sama.
Dan itu berhasil. Tangan Ridwan yang semula mengepal begitu kencang sampai urat-uratnya terlihat, kini mengendur. Lebih rileks. Namun, tangannya masih agak tremor. Tanda bahwa jejak emosi itu masih ada.
Tak disangka, cowok itu menggenggam tangan Rima yang semula memegang tangannya. Meremasnya lembut. Cewek itu tak berhenti mengusap punggung tangan Ridwan dengan lembut.
"Aku benci..." kata Ridwan dengan pelan. "Aku ingin lebih membencinya, tapi aku nggak bisa. Aku udah lelah..."
"Aku tahu..." timpal Rima pelan, "Nggak ada yang salah. Kau lelah, istirahatlah. Kau udah berjuang sejauh ini. Bertahan sejauh ini. Tapi jangan menyerah ya?"
"Walau keadaan belum baik, jangan pernah menyerah. Kau nggak sendirian. Ibu, kakekmu, teman-temanmu, semua ada dibelakangmu kalau kau butuh tempat istirahat. Aku juga ada di sini. Nggak pernah berubah..."
Mereka terdiam beberapa saat. Masih dalam posisi yang sama. Puntung rokok yang ada di sela jari Ridwan sudah terbakar habis. Jatuh ke atas pasir. Belum ada niatan untuk menginjaknya. Bara apinya sudah padam karena bersentuhan dengan pasir putih yang basah.
Rima kembali membuka percakapan. Percakapan ringan seperti bertukar kabar, kegiatan baru-baru ini, dan sedikit nostalgia. Catching up untuk kedua kalinya setelah mereka bertemu kembali di Jogja. Atau yang ketiga? Kalau saat di aula itu juga diikutkan.
"Mereka berteriak heboh nggak jelas, berisik sekali. Aku nggak paham dengan gim yang mereka mainkan," Ridwan menggelengkan kepalanya pelan mengingat kejadian konyol beberapa hari yang lalu. Di mana, Neo, Ojan, Teo, dan teman baru mereka, Dafa, bermain PS di kamarnya dan Neo. Ada gim baru dan mereka mau mencobanya. Ada Kai juga, tetapi cowok itu tidak ikut main.
Dan Ridwan baru tahu kalau ternyata Teo yang terlihat kalem itu bisa bobrok juga kalau sudah berhadapan dengan gim. Ternyata dia juga seorang gamer sama seperti Neo dan Ojan. Kai sebenarnya juga gamer, tetapi tidak separah mereka berdua.
Rima tersenyum kecil mendengar cowok di sebelahnya bercerita tentang teman-temannya.
Dulu, hal seperti ini sangat jarang terjadi.
Iya, Rima sudah tahu siapa itu Kayvan dan Neo. Hanya sebatas tahu namanya saja, karena dulu Ridwan beberapa kali bercerita tentang mereka. Kini, lingkaran pertemanan dari cowok penyendiri ini bertambah tiga orang.
"Aku senang kau punya teman-teman yang baik," kata Rima pada akhirnya. Dia menatap Ridwan sambil tersenyum.
"Kau terlihat lebih bahagia sekarang, lebih sering tersenyum meski samar," lanjutnya.
"Apa itu buruk?"
Rima menggeleng. "Tidak. Tidak sama sama sekali. After all this time, you deserve all of this. Teman-teman baik yang selalu ada buatmu."
"Kalau kau... apa kau juga termasuk temanku itu?" tanya Ridwan kemudian. Dia menatap tepat di kedua mata Rima.
Rima terdiam sejenak. Sebelum seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
.
.
.
"Hadoh... mana sih si Paijem. Lama banget," keluh Budi keras-keras. Dia sudah sangat kelaparan. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Namun, dia belum bisa mencari makan sebelum Rima kembali.
Benar-benar itu anak! Kebiasaan kalau sudah pegang kamera suka lupa waktu.
Setelah selesai bermain tadi, Naufal mengajak mereka buat mencari makan siang. Tak lupa mengajak serta para juniornya untuk ikut sekalian. Biar tambah ramai. Semakin ramai semakin seru, itu kata Budi tadi.
Dan kini mereka tengah menunggu Rima dan salah satu teman dari junior mereka yang belum kembali.
Beberapa saat yang lalu, sebelum Budi dan kawan-kawan menyudahi permainan mereka, Kai dan Aylin memang sempat mengobrol sopan biasa. Tak banyak juga yang dibicarakan. Hanya seputar kuliah dan beberapa agenda yang diadakan kampus dalam waktu dekat.
Oh! Kai juga bertanya soal apakah Aylin kenal anak-anak rohis FT. Dia sempat tidak sengaja mendengar pembicaan beberapa dari mereka yang menanyakan Aylin jadi mampir atau tidak. Lalu dia mengaku tidak sengaja sekilas dengar juga percakapaan Aylin dan salah satu anak rohis saat antre minuman.
Dia pikir Aylin akan marah karena menganggapnya tidak sopan nguping pembicaraan orang. Namun, ternyata tidak sama sekali.
Dengan santai Aylin membenarkan kalau dia kenal baik dengan mereka. Bahkan beberapa senior dan alumni yang dulu anak rohis FT.
"Aku suka ngobrol sama mereka. Entah sharing, ikut kegiatan, atau sekedar main. Dan mereka nggak pernah menggurui harus ini harus itu."
Kai ikut senang mendengarnya. Ternyata lingkaran pertemanan Aylin, selain Naufal and the gank, benar-benar sangat baik.
Cowok itu sudah tidak berbicara dengan formal lagi pada Aylin. Namun, masih terbilang cukup sopan.
Bisa dibilang obrolan mereka nyambung. Mengejutkan bukan?
Kai bahkan agak kurang percaya bisa mengobrol cukup sesantai ini dengan Aylin. Bahkan dalam waktu dekat ini.
Obrolan mereka terputus ketika Budi datang sambil mengeluh kelaparan dan kelelahan. Cowok itu bahkan tidak sadar kalau dua orang yang kelihatannya tidak mungkin duduk berdua dengan jarak yang cukup berdekatan, mengobrol dengan santai.
Budi hanya menatap mereka sekilas sebelum beralih meminta air minum pada Aylin. Dilanjut duduk di tengah-tengah Aylin dan Kai. Lalu mengeluh lagi.
Tak berapa lama kemudian, Naufal datang bersama yang lainnya dengan wajah yang bercucuran keringat.
Siapa sih orang gila yang main bola di bawah terik matahari seperti ini? Apalagi bolanya hasil meminjam dari salah satu warga lokal yang punya warung makan tak jauh dari sini.
Padahal mereka bisa beli bola plastik yang harganya murah meriah. Atau kalau mau tambah hemat ya bawa saja dari rumah. Naufal punya bola sepak di kamarnya.
Sayangnya, tadi tidak kepikiran untuk itu. Sama sekali tidak.
Sudah jelas ini inisiatif siapa. Tentu saja manusia satu ini yang duduk menyempil di tengah-tengah Aylin dan Kai.
"Makcik, bawa PB nggak? Pinjem dong..." tanya Taufan ke Aylin. Terkadang Taufan memang suka sekali memanggil Aylin dengan sebutan Makcik yang artinya bibi dalam bahasa Melayu. Saat ditanya alasannya kenapa, cowok itu hanya bilang, "Nggak tahu. Muncul aja gitu di otakku."
Random memang.
"Ada, tapi tak tinggal di tas yang di mobil," jawab Aylin.
"Yah..."
"Si Nopal anaknya Bahenol! Teleponin si Paijem dong!" seru Budi dengan nada menyuruh.
Asal muasal Rima bisa dipanggil Paijem itu karena dulu pas berkunjung ke rumah kakek mereka berdua yang sudah sepuh dan pelupa, Rima dipanggil Paijem oleh kakek mereka itu karena lupa namanya. Alhasil, Budi tertawa terpingkal-pingkal saat itu dan menjadikan Paijem menjadi julukan Rima di geng mereka.
Tidak hanya Rima, Aylin, dan Budi yang punya julukan. Dua yang lainnya juga ada. Naufal yang dipanggil si Nopal sama seperti salah satu animasi populer di YouTube. Untung saja adiknya Naufal itu cowok. Kalau cewek, kata Budi, sekalian dipanggil Cute Girl biar totalitas.
Terkesan masih normal, tetapi beda lagi kalau ditambah dengan 'Anaknya Babeh Enol' dibelakangnya. Bisa-bisa kena copyright.
Bercanda.
Dan untuk Taufan, julukannya benar-benar random. Dari Budi tentu saja. Taufan malah disebut Tompel. Tidak tahu kenapa dia bisa dipanggil begitu.
Naufal menatap Budi sinis. "Kenapa nggak kau sendiri Peng?"
"Kuota sama pulsaku sekarat," jawabnya watados.
"Dasar miskin," yang ini komentar dari Taufan.
Keributan kecil mereka menjadi tontonan tak tertuga dan cukup menghibur untuk para junior yang masih ada bersama mereka. Mereka terkejut dengan tingkah laku senior mereka yang sangat berbeda dari saat masih jadi panitia.
Raut wajah Kai yang kelihatan heran dan takjub, terlihat oleh Aylin.
Cewek itu lalu bilang, "Kau juga nanti akan terbiasa."
Tanpa sadar, ucapan Aylin bisa bermakna ganda. Terbiasa karena apa ini? Itu artinya mereka akan sering bertemu lagi 'kan?
"Tentu, Kak Aylin," tukas Kai dengan tersenyum. Dia menatap Aylin dari samping dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dan sepertinya Aylin memang benar-benar tidak sadar dengan ucapannya itu.
"Akhirnya datang juga si Paijem," seru Budi ketika melihat Rima datang bersama seseorang.
"Lama banget woy!"
"Ya maap! Keasyikan motret jadi nggak lihat jam," jawab Rima apa adanya. "Kenapa? Kangen ya..?" guraunya dengan tengil.
"Najis!" seloroh Budi jijik.
"Kebiasaan Ma," komentar Naufal. Rima hanya cengengesan. Orang yang tadi bersama Rima kini bergabung dengan Neo, Teo, dan Dafa.
"Kalian kok bisa bareng?" pertanyaan dari Budi mewakili semuanya.
"Tadi nggak sengaja ketemu," jawab Rima dengan santai. Dia lalu berjalan ke arah tasnya untuk mengambil minuman.
"Udah ya? Berarti udah lengkap," kata Naufal kemudian. "Kita jadi pesen seafood 'kan berarti."
"Ada apa nih?" tanya Rima bingung.
"Kita sepakat buat makan siang bareng. Sekalian aja, mumpung di sini dan ketemu," Taufan yang menjawab. Yang lain mengangguk membenarkan.
Rima dan Ridwan bertukar pandang. Benar-benar tidak disangka.
Tak ada yang mengomentari lebih lanjut lagi terkait Rima dan Ridwan yang bisa datang berdua selain Budi tadi. Yang lain kini sibuk membahas menu apa saja yang akan mereka pesan. Budi dan Ojan yang paling bersemangat.
Junior berperawakan kurus itu kini tidak canggung lagi dengan para senior. Bisa dibilang dia lebih bisa membaur setelah cukup akrab daripada Neo yang masih terlihat agak canggung.
Berbeda dengan mereka yang sibuk membahas makanan, Aylin dan Kai menatap Rima dan Ridwan yang sesekali berbicara santai dengan agak curiga. Mereka terlihat dekat dan akrab.
Sepertinya ada hal yang disembunyikan.
Namun apa?
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
i'm back! setelah hampir dua minggu akhirnya bisa post part ini. maaf ya lama buat yang nunggu. karena emang bener sibuk
akhir tahun emang lagi banyak kerjaan, jadi ya begitu. tetap disyukuri
apakah rima dan ridwan itu teman? and btw, aylin dan kai terlihat makin akrab ya? wkwkwk
menurutmu, budi itu sadar nggak ya kalau aylin sama kai habis ngobrol berdua?
see you next year (yang tinggal bentar lagi)