![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
found out (phrase): to discover, learn, or verify something
.
.
[baru minor editing. nanti bakal ada part dua]
.
.
Acara puncak sekaligus penutupan kegiatan sport week sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Lebih tepatnya setelah ba'da isya.
Beberapa penampilan dari beberapa UKM menjadi pembukan kegiatan malam ini.
Lalu ada sambutan dari panitia dan perwakilan jajaran rektor—yang diwaliki salah satu profesor dari Fakultas Olahraga.
Tribun yang ada di GOR dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan acara mala mini. Sementara di lapangan, sudah ditata sedemikian rupa dengan kursi-kursi, space, dan panggung. Hampir mirip seperti setingan saat Isimaja hari pertama di GOR.
Kursi-kursi itu diisi perwakilan dari tiap fakultas yang berhasil menjuarai masing-masing cabor yang ada.
Jadi di sinilah Aylin berada bersama Rima dan perwakilan FT lainnya. Mereka membaur dengan anak-anak dari fakultas lain. Aylin dan Rima duduk bersebelahan. Di samping mereka ada perwakilan dari FO dan FMIPA. Katrin, rival Aylin di bulutangkis, bahkan duduk di sebelah kanan Aylin. Kedua cewek itu mengobrol dengan akrab.
Seolah-olah persaingan mereka sebelumnya tidak pernah terjadi.
Sebentar lagi pengumuman kejuaraan akan dimulai.
Dua orang MC naik ke atas panggung. Aylin tidak mengenal siapa mereka, tetapi Kai pernah memberitahu kalau keduanya itu adalah duta fakultas dari FO. Salah satunya adalah teman dekat Kai di duta kampus. Angga atau siapa namanya, Aylin lupa.
Dua MC itu yang juga membuka acara pada malam hari ini tadi.
"ARE YOU READY?"
"YAA!!"
"KALIAN SIAP?"
"YAA!!"
"Baik kami akan membacakan para juara dari rangkaian agenda Sport Week, Universitas Hayam Wuruk tahun 20XX."
"Yang pertama, dari cabang olahraga atletik, kategori lari jarak 100 meter putra..."
Kedua MC lalu membacakan nama-nama yang menjadi pemenang di atletik. Dari semua kategori lari, yang menjadi juara didominasi oleh anak-anak FO.
Setiap nama yang dipanggil akan naik ke panggung untuk menerima medali. Layaknya sebuah event besar olahraga. Ada medali dan sertifikat penghargaan.
FT juga berhasil memenangkan dua kategori di lari estafet putri dan lari marathon putra. Masing-masing memenangkan juara tiga dan dua.
Lagu-lagu bertema heroic dan yang biasa diputar di tiap agenda-agenda olahraga mengiringi pembacaan juara lomba.
Satu persatu nama-nama pemenang di masing-masing cabang olahraga yang dilombakan di pekan olah raga kali ini dipanggil. Total ada enam belas cabang olahraga.
Atletik lari—itupun masih dibagi menjadi tiga, renang, panahan, sepak bola, tenis, sepak takraw, voli, futsal, pingpong atau tenis meja, silat, taekwondo, judo, karate, bulutangkis, basket, dan catur.
Satu jam berlalu cukup tak terasa. Satu persatu perwakilan sudah maju ke depan dan menerima penghargaannya.
FT sendiri sudah mengantongi beberapa gelar juara sejauh ini.
Juara ketiga di estafet putri.
Juara kedua di lari marathon putra.
Juara pertama karate putri. Saat maju ke depan dan berdiri di podium untuk menerima penghargaan, Rima tersenyum sangat lebar bahkan ikutan heboh saat anak-anak FT menyorakinya.
Juara ketiga sepakbola putra dan juara kedua sepakbola putri.
Juara kedua futsal putra dan juara ketiga futsal putri.
Juara kedua voli putri.
Juara ketiga tenis ganda campuran.
Juara pertama bulutangkis tunggal putri. Dengan gugup Aylin maju ke depan. Namun, terlihat jelas senyum mengembang di wajahnya dan memperlihatkan lesung pipinya.
"Lin, lihat sini Lin," Katrin memanggil Aylin yang berdiri di sebelahnya. Tangan kirinya memegang ponsel dengan kamera yang sudah siap untuk swafoto. Mereka lalu berswafoto berdua dengan memperlihatkan medali begitu mereka selesai menerimanya. Senyum lebar tercetak di wajah keduanya. Tak lupa lalu mengajak sang juara ketiga dari Fisipol.
"Aku tag di ig ya nanti," Katrin memberitahu mereka. Keduanya mengangguk.
Selanjutnya tentu saja juara pertama basket putra—di mana finalnya sempat ada kejadian kurang menyenangkan. Terdengar anak-anak FT yang ada di GOR menyambut kemenangan itu dengan heboh dan meriah.
Bambang, selaku kapten tim basket putra FT—yang sudah cukup sembuh dari cederanya, maju sebagai perwakilan tim untuk menerima penghargaan. Sayangnya Ridwan tidak bisa datang malam ini. Bahkan awalnya Bambang ingin minta Ridwan saja yang nanti naik ke podium. Namun, karena baru saja cedera dan benar-benar harus istirahat.
Karena Ridwan adalah Ridwan, tentu dia benar-benar memanfaatkannya untuk tidur di asrama. Bisa saja dia tetap hadir. Toh dia juga hanya akan duduk. Namun, Ridwan paling malas kalau harus berdesakan dengan banyak orang saat keluar GOR nanti. Apalagi kakinya yang sedang tidak bisa diajak kerjasama sekarang.
Setelah itu Angga dan temannya, Kayla, membacakan pemenang lomba nyanyi beregu.
"Juara ketiga... FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN!"
Anak-anak FIP berseru heboh mendengarnya.
"Juara kedua... FAKULTAS TEKNIK!"
Kemenangan tak terduga itu tentu disambut anak-anak FT tak kalah heboh dari FIP.
"Dan juara pertamanya adalah... FAKULTAS BAHASA DAN SENI!"
Anak-anak FBS menyambutnya dengan heboh. Bahkan sampai yel-yel "FBS bersatu, tak bisa dikalahkan" beberapa kali.
"Tentu saja penghargaan istimewa kepada tim bapak ibu dosen yang ikut berpartisipasi dalam lomba nyanyi beregu beberapa waktu lalu. Tepuk tangan untuk semuanya!"
Semua bertepuk tangan.
"Dan yang terakhir, juara umum Sport Week Universitas Hayam Wuruk tahun 20XX adalah... FAKULTAS OLAHRAGA!"
Terinspirasi dari Hogwarts, beberapa bendera kuning besar berlogo Fakultas Olahraga menggantung di beberapa titik di atas tribun. Menandakan siapa juara umumnya.
Sepertinya beberapa panitia yang bertugas di atas memang sudah bersiap melepas gulungan bendera yang dipasang untuk pengumuman juara umum.
FO memang sering menjadi juara umum. Jadi bukan sesuatu yang mengejutkan. Apalagi agenda ini merupakan ranah keahlian mereka. Beberapa fakultas yang pernah menjadi juara umum itu ada FT, Fisipol, FH, dan Fakultas Pertanian.
Ada jeda beberapa saat setelah Angga dan Kayla pamit undur diri.
"Cepat, cepat jangan terlambat..."
Lalu suara musik mulai terdengar. Terlihat di atas panggung band kampus tampil membawakan lagu dari Kotak – Inspirasi Sahabat. Bahkan mereka juga menggunakan vokalis perempuan. Ada Frans juga di sana memainkan gitar.
Penutupan malam ini diisi dengan penampilan band kampus membawakan beberapa lagu. Lagu yang dibawakan mereka pun bervariasi. Mulai dari Indonesia, barat, bahkan Jepang dan Korea. Jadi total ada empat lagu.
"...Ki jeokeun ireohke nae nunipe gwaelcheoisseo... Oh, jeoldae meomchujima... Maria... Ave Maria..."
.
.
.
Akhir pekan kembali datang dengan cepat. Beberapa hari lagi kuliah perdana di semester baru akan segera dimulai.
Tidak banyak yang memutuskan kembali ke rumah saat liburan sebelum semester genap dimulai. Selain karena acara Sport Week, durasi waktu libur yang pendek tentu menjadi alasan kenapa.
Mungkin yang pulang ke rumah hanya yang jarak rumah dan kampus dekat atau masih dalam satu kota atau provinsi.
Di akhir pekan ini juga, anak-anak FT mengadakan pesta perayaan atas pencapaian mereka di pekan olahraga beberapa hari yang lalu. Sekaligus untuk syukuran kecil-kecil dan kumpul bareng atau gathering.
Sengaja memilih weekend karena kesepakatan bersama sekaligus biar sesekali merayakan akhir pekan dengan anak-anak FT dari berbagai angkatan.
Biar tambah gayeng.
Anak-anak FT memang suka mengadakan agenda untuk kumpul bersama. Entah itu agenda dengan konsep dan terstruktur atau spontanitas. Secara mereka dikenal sebagai fakultas yang menjunjung tinggi persaudaraan.
Jiwa satu korsa, katanya.
Yang mungkin hal itu jarang atau bahkan tidak dijumpai di fakultas lain di UHW.
Dan seperti sebelum-sebelumnya, mereka akan mengadakan pesta perayaan setelah berhasil menyabet beberapa gelar juara. Apalagi mereka juga dinobatkan menjadi suporter tekompak dan termeriah semester ini.
Meskipun bukan juara umum dan semester ini pencapaian kemenangan mereka tidak sebanyak semester lalu.
Toh apapun hasilnya dan seberapa banyak hasilnya, tetap perlu dirayakan.
Lapangan FT telah disulap seperti pesta kebun dengan meja-meja yang berisi makanan dan minuman. Karena acaranya malam hari, lapangan FT juga dihias dengan lampu-lampu kecil yang cahayanya lembut dan hangat.
Ada panggung mini di sisi selatan. Beberapa alat musik juga sudah disiapkan untuk hiburan nantinya.
Suasana malam ini terasa hangat. Satu persatu mulai berdatangan. Mulai dari anak-anak tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, sampai tahun keempat hadir.
Bahkan ada beberapa alumni juga ikut meramaikan.
Meskipun tidak semua datang. Namun, malam ini terbilang cukup ramai dengan suasana yang hangat.
Semua angkatan membaur dengan akrab. Baik junior maupun senior.
Kelima sekawan datang akhir-akhir. Hal itu karena mereka mampir dulu untuk membeli sesuatu. Mereka datang menggunakan mobil Naufal.
Aylin dan Rima yang menyandang gelar juara pertama disoraki oleh Seno dan yang lainnya.
"Kita sambut... si juara bertahan dan si pemecah rekor kita!" seru Seno lalu bertepuk tangan diikuti yang lain sambil berteriak dan bersiul.
Aylin terlihat berusaha menahan diri. Dia jadi salah tingkah. Rasanya seperti ingin menghilang dan memukul Seno saat ini juga muncul bersamaan. Jadinya dia agak menyembunyikan dirinya di belakang Taufan.
Berbeda dengannya, Rima justru dengan pede-nya melambaikan tangannya bak miss universe. Cewek tomboy itu bahkan sampai membungkuk segala seolah dia selesai menampilkan pertunjukan.
Tidak ada rundown khusus untuk acara pada malam hari ini. Hanya Aji selaku ketua BEM memberikan beberapa patah kata dan memberikan apresiasi untuk semua perwakilan FT.
Selebihnya, mereka bebas mau melakukan apa asalkan tidak mabuk dan berbuat mesum. Ada yang mengobrol santai, makan dan minum hidangan yang ada, atau menikmati hiburan musik yang dimainkan.
"Tak terasa gelap pun jatuh. Di ujung malam menuju pagi yang dingin..."
Saat ini, duta kampus FT tengah tampil akustikan di atas panggung. Di mana Freya memainkan gitar dan Kayvan menyanyikan lagu. Lagu yang mereka mainkan juga pas dengan suasana malam hari ini.
"...Mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya..."
Aylin tengah duduk di salah satu kursi sambil menikmati minuman soda yang dia ambil. Sebenarnya dia bersama Rima tadi, tetapi cewek itu tengah pergi untuk mengambil makanan dan mungkin sambil mengobrol.
Budi, Naufal, dan Taufan sudah pergi membaur entah kemana.
Sedangkan Aylin memilih untuk menikmati kesendiriannya saat ini. Sambil menikmati musik yang dimainkan.
Oh, cewek itu tentu saja tahu lagu apa yang dimainkan pacarnya di sana. Salah satu lagu kesukaan Kai dari salah satu band indie kesukaannya.
Iya, Kayvan itu tipe cowok yang suka lagu-lagu indie. Lalu menghabiskan waktu dengan memandang langit senja dan minum kopi. Bahkan, Kai lebih pandai merangkai kata-kata indah dibanding dirinya.
Benar-benar definisi anak senja.
Selera musiknya tentu berbeda jauh dengan Aylin yang lebih suka pop rock atau rock.
Namun, keduanya sama-sama suka suasana yang tenang. Apalagi saat hujan ditemani minuman hangat dan buku bacaan masing-masing. Tanpa banyak kata-kata dan hanya suara hujan dan musik yang mengalun pelan.
Mereka tidak sengaja menemukan kesamaan itu saat tak sengaja keduanya terjebak hujan dan meneduh di sebuah kafe.
Mata mereka bertemu pandang.
"...Lalu mataku merasa malu. Semakin dalam ia malu kali ini..."
Keduanya melempar senyum tanpa orang lain menyadari. Hati keduanya menghangat.
Meski sekarang dia merasa lebih yakin, tetapi ketakutan itu masih ada. Kali ini, Aylin terbuka pada Kai tentang apa yang mengganggunya.
Terlebih tentang rasa tidak nyaman ketika Kai berinteraksi dengan Linda. Dia tahu kalau cewek itu naksir Kai dan Aylin pernah mendengar cerita dari Ana dan yang lain soal Linda yang bisa nekat.
Apalagi Aylin masih saja merasa insecure dengan dirinya sendiri.
"Kak Alin..." seseorang memanggilnya, membuyarkan lamunannya.
Aylin menoleh dan mendapati Kayvan sudah berdiri tidak jauh darinya. sejak kapan cowok itu ada di sana?
Bahkan Kai dan Freya selesai tampil pun dia tidak tahu kapan. Sekarang sudah diambil alih oleh Seno dan Galang sebagai MC dadakan yang tengah melontarkan banyolan mereka.
Aylin bahkan tidak sadar sudah berapa lama dia hanyut dalam lamunannya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak menemui sosok Rima di sekitar.
Seolah Kai bisa membaca pikiran Aylin, dia berujar, "Kalau Kakak nyari Mbak Rima, aku tadi melihatnya ngobrol di dekat meja makan."
"Ini untuk Kakak," Kai menyodorkan sebuah amplop sederhana berwarna putih gading.
Aylin mengernyit bingung. Kai tersenyum dan berkata, "Buka aja Kak."
Meski masih bingung, Aylin menerimanya. Lalu membiarkan Kai duduk di seberangnya. Menunggu Aylin membukanya.
Cewek itu lalu membuka amplop dengan wangi kertas yang khas lalu mengeluarkan isinya.
Sebuah surat.
'Untuk perempuan yang selalu memenuhi kepalaku'
"Surat untukku?" tanya Aylin.
Kai mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Kalimat pembukanya saja Aylin sudah bisa menebak kalau cowok di depannya lah yang menulisnya. Dengan senyum kecil terlukis di bibirnya, dia kembali melanjutkan membaca isi surat itu.
Aylin senyum-senyum sendiri membaca isi surat Kayvan untuknya itu. Surat yang berisikan kata-kata sederhana tetapi terkesan puitis. Begitu selesai membacanya, Aylin merasa ribuan kupu-kupu bertebangan di perutnya.
Perasaan manis yang membuatnya kembali jatuh hati pada cowok di depannya ini.
Dari surat itu pula, hatinya jadi jauh lebih tenang dan lega. Seolah-olah kerisauannya terobati.
Dan ini adalah surat cinta pertama yang dia dapatkan selama ini.
"Terima kasih..." Aylin berujar dengan tulus. Senyum manis mengembang, memperlihatkan lesung pipinya.
Kai juga ikut tersenyum. Dia lega dan senang melihat Aylin menyukai surat pemberiannya.
Dia memang sengaja berinisiatif membuat surat itu untuk Aylin setelah percakapan mereka di tengah hujan kala itu. Ketika Aylin bilang kalau dia belum pernah menulis atau menerima surat untuknya sendiri.
"Oh! Aku juga ada sesuatu buatmu," seolah baru teringat sesuatu, Aylin menggeledah tas kecil yang dia bawa.
"Ini untukmu," Aylin mengeluarkan sesuatu dari kotak persegi hitam yang dipegangnya.
Sebuah gelang dengan tali kulit berwarna hitam dengan logam stainless berbentuk matahari di tengahnya.
"Sinikan tanganmu, biar kupakaikan."
Dengan senyum lebar, Kai mendekat dan menyodorkan tangan kanannya. Membiarkan Aylin memasangkan gelang sederhana itu di pergelangan tangannya.
"Dan ini untukku," Aylin memperlihatkan gelang satunya lagi. Warnanya sama, hanya bedanya di logamnya yang berbentuk bulan sabit.
"Biar kubantu pakaikan Kak," ujar Kai.
"Oh, baiklah," giliran Aylin yang kini membiarkan Kai memasangkan gelang itu di pergelangan tangan kanannya.
"Terima kasih buat gelangnya Kak," ujar Kai dengan tulus. "Aku akan menjaganya dengan baik."
Perasaan Kai luar biasa senang saat ini. Dia tidak mengira kalau pacar tsundere-nya ini akan memberikan gelang pasangan. Apalagi dengan lambang bulan dan matahari, yang melambangkan nama mereka.
"Kakak manis sekali—" belum sempat Kai menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, seseorang menginterupsi mereka.
"Kok kalian makin akrab banget sih. Pacaran ya?" Budi berujar dengan keras, entah sengaja atau tidak dia melakukannya.
Karena suara Budi yang cempreng, ditambah suasana juga tidak begitu ramai, kini jadi hening tiba-tiba. Semua mata menoleh ke arah Aylin dan Kayvan.
'Budi sialan!' ingin rasanya dia mengubur diri hidup-hidup sekarang.
.
.
.
.
a.n.
hayoloh! ketahuan kan... wkwkwk
kira-kira gimana nih? beneran ketahuan atau si budi cuman iseng doang?
sengaja tak potong sampai situ dan dilanjut di part berikutnya :D selain karena mungkin bakal kepanjangan, sesekali ada cliff hanger dikit lah.. :D
dan buat suratnya Kai, mungkin akan kubikin nanti. perlu membangun mood dan suasana yang pas biar bisa nulis surat Kai buat Aylin ini :')
so see you very soon!