![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Show (noun): a play or other stage performance, especially a musical
.
.
.
.
.
[baru minor editing. warning! mentioned of song lyrics jadi disarankan sambil mendengarkan lagunya kalau ada yang tahu biar lebih ada gambaran, a lil bit long chapter]
.
.
.
.
.
"Di sini 'kan tempatnya?" tanya Teo memastikan. Mereka berempat sedang berada di area parkir dekat Laboratorium Karawitan atau Labkar FBS. Selepas shalat isya untuk Ridwan dan Ojan, mereka langsung pergi ke sini untuk menghadiri malam pemilihan duta kampus. Keempatnya sudah bersiap di masjid kampus selepas maghrib tadi mengingat jaraknya lebih dekat dengan FBS. Hanya berseberangan jalan. Dan begitu azan isya berkumandang Ridwan dan Ojan segera menunaikan shalat saat itu juga daripada menunggu nanti pas acara selesai. Kondisi di sini begitu ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang dari berbagai fakultas. Bahkan tempat parkir yang disediakan sudah hampir penuh dengan kendaraan. Mereka tadi cukup kesulitan menemukan tempat untuk memarkirkan motor.
Untungnya, mereka berempat datang berboncengan. Jadi, tidak terlalu lama menemukan tempat parkir.
"Iya. Lima menit lagi mulai nih. Mending kita segera masuk, biar dapat tempat duduk," kata Neo. Yang lain mengangguk dan berjalan menuju gedung Labkar untuk antre mengisi presensi.
"Oi, Pang!" tiba-tiba Ojan berseru memanggil seseorang yang berada tidak jauh dari mereka. Seseorang yang merasa dipanggil namanya menoleh. Dia tersenyum lebar dan berjalan mendekat diikuti temannya.
"Eh Ojan! Nonton juga?" cewek berambut panjang itu berkata penuh semangat.
"Iya dong," sahut Ojan. Lalu dia menoleh ke arah teman-temannya.
"Gaes, ini temenku pas SMP dulu, Papang," Ojan mengenalkan.
"Papang?" Teo mengerutkan dahi bingung. Nama yang cukup aneh menurutnya.
"Bukan, bukan. Kenalin, Rifa dari Tata Boga. Ojan emang kebiasaan manggil aku Papang pas SMP," katanya lalu melemparkan delikan tajam ke arah Ojan.
"Ini Maya, Teknik Industri. Kami temen segugus Freya," teman Rifa yang dikenalkan hanya tersenyum malu dan mengangguk sopan.
Setelah perkenalan singkat dari Teo dan yang lainnya, mereka segera mengisi presensi dan memutuskan untuk mencari tempat bersama-sama.
Sesampai di dalam Labkar, tempat duduk sudah hampir penuh. Konsep gedung Labkar memang seperti gedung pertunjukan dengan tempat duduk berundak yang terbagi menjadi dua tribun, kanan dan kiri. Di tengahnya merupakan jalan. Di depan sana ada sebuah panggung dengan tirai merah. Di bawah panggung, sudah ditata sedemikian rupa gamelan-gamelan yang sepertinya akan dimainkan nantinya. Selain gamelan, ada juga alat musik modern lain.
Kamera-kamerapun sudah ditata sedemikian rupa di beberapa sudut untuk sesi live streaming.
Ada deretan kursi khusus dan meja panjang di depan, tidak jauh area panggung, merupakan tempat yang disediakan untuk para juri nantinya.
Untungnya, rombongan Ojan dan yang lain bisa menemukan tempat duduk meskipun agak sedikit di belakang di sisi sebelah kanan dari pintu masuk. Namun, setidaknya, panggung masih terlihat jelas tanpa ada penghalang karena berada di undakan yang tinggi—kecuali kalau orang di depan mereka memutuskan untuk berdiri.
Acara sudah dibuka oleh MC beberapa menit yang lalu ketika mereka mencari tempat duduk. Benar-benar tepat waktu sekali. Kedua MC yang bertugas itu mengenakan batik sarimbitan yang terlihat modis. Acara diawali dengan pembukaan lalu dilanjut sambutan singkat dari ketua panitia, perwakilan dari jajaran rektorat yang diwakili oleh wakil rektor tiga, dan duta kampus tahun lalu, Pasha dan Cindy.
Acara pemilihan duta kampus di UHW ini sudah berjalan selama delapan belas tahun. Jadi bisa dibilang sudah cukup lama. Pencetusan acara tersebut awalnya sebagai salah satu upaya mengenalkan UHW ke lingkup yang lebih luas, yang merupakan salah satu misi menuju go international pada saat itu. Dan baru sepuluh tahun terakhir ini diadakan dalam bentuk semacam ajang perlombaan. Dulunya hanya ditunjuk dan dipilih berdasar prestasi mahasiswa dan pertimbangan jajaran dewan.
"Mari kita sambut, masing-masing duta fakultas Universitas Hayam Wuruk!"
"Yang pertama, pasangan Duta Fakultas Ilmu Pendidikan!"
Tepuk tangan bergemuruh menyambut satu persatu perwakilan duta fakultas yang memasuki panggung. Di mulai dari Duta FIP, di mana perwakilan yang laki-laki masuk melalui panggung sisi sebelah kanan dan yang perempuan dari sebelah kiri. Mereka lalu bertemu di tengah dan berparade bersama sampai depan panggung, baru kembali dan berbaris. Hal itu diikuti perwakilan fakultas lain diiring MC yang menyebut nama fakultas mereka.
Bayangkan saja seperti acara pemilihan Puteri Indonesia dan runaway catwalk pada acara fashion.
Perwakilan yang banyak mendapatkan gemuruh tepuk tangan adalah Duta FBS yang berada diurutan nomor tiga setelah FMIPA. Saat parade memang dipanggil sesuai urutan fakultasnya, bukan urutan saat tampil nanti. Bahkan ada teriakan melengking dari bangku penonton dan teriakan yel-yel yang terdengar seperti: "FBS Bersatu, tak bisa dikalahkan". Benar-benar hectic.
FT berada diurutan nomor enam setelah Fisipol. Dan ketika perwakilannya dipanggil, sambutannya tidak kalah bergemuruh dari sebelumnya. Meski tidak separah FBS.
Dan ternyata, tidak hanya Ojan dan kawan-kawan yang hadir menonton. Ada beberapa teman mereka yang duduk di depan dan beberapa senior.
"Selanjutnya, pasangan Duta Fakultas Teknik!"
"FT?!" seseorang penonton, entah senior atau maba, yang duduk di depan berteriak.
"JAWARA!!" lalu dibalas tidak kalah keras oleh mahasiswa FT yang lain, termasuk Ojan dan yang lainnya, sambil mengepalkan tangan ke atas.
Terlihat Kai dan Freya berjalan sambil melempar senyum andalan mereka. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang berteriak memanggil nama pasangan itu. Sepertinya Kai dan Freya menjadi pasangan terfavorit sejauh ini dengan penggemar dari fakultas lain.
Parade perwakilan duta fakultas dilanjutkan sampai fakultas yang terakhir yaitu Fakultas Filsafat. Semua perwakilan menggunakan setelan lengkap hitam putih mereka.
Tiba-tiba lampu dimatikan. Membuat beberapa orang terkejut. Perlahan sorot lampu di panggung yang dinyalakan. Tirai merah dibuka kembali secara perlahan. Terlihat beberapa properti seperti meja dan kursi telah ditata sedemikian rupa di atas panggung. Ada tiga orang duta fakultas di sana. Sepertinya mereka akan menampilkan sebuah drama.
Drama yang dimainkan adalah tentang diskriminasi dan perundungan. Di mana ada seseorang yang di-bully karena orang itu berbeda. Mengingat tema pemilihan duta kampus tahun ini adalah kampanye anti diskriminasi dan bullying. Akting mereka terlihat bagus dan meyakinkan. Bahkan beberapa penonton berjengit kaget ketika ada pemain yang menggebrak meja, menendang kursi, dan berteriak marah. Ketika drama pendek itu akan menuju puncak ketegangan, tiba-tiba lampu dimatikan. Membuat penonton kembali terkejut dan mendesah kecewa.
Lampu panggung kembali dinyalakan secara perlahan. Kini ada tambahan pemain. Terlihat sosok Kayvan berdiri di tengah panggung, di depan para pemain drama yang diam membeku seperti adegan terakhir sebelum lampu dimatikan.
Sebuah intro musik mulai terdengar. Musik yang terasa familiar.
Kemudian, terdengar suara Kai yang menyanyikan lirik yang tak asing.
"I know they don't like me that much. Guess that I don't dress how they want. I just wanna be myself, I can't be someone else...."
Lalu lirik disambung oleh seorang perwakilan yang mengenakan hijab yang muncul dari belakang. Kemudian, ada perwakilan yang sekilas mirip Adipati Dolken menyambung bagian lirik selanjutnya.
Dan ketika pada bagian reff atau chorus, semua perwakilan menyanyikannya bersama-sama. Mereka tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menari dan melakukan sedikit gerakan drama yang menggambarkan makna lirik lagu yang mereka nyanyikan.
"Big boys don't cry. Shoot low, aim high. Eat up, stay thin. Stand out, fit in. Good girls don't fight. Be you, dress right. White face, tan skin. Stand out, fit in..."
Terhitung ada lima vokal utama, termasuk Kayvan di dalamnya. Bahkan cowok itu berada di tengah di baris depan saat menari dan bernyanyi.
"Aku tidak tahu kalau Kai bisa nyanyi," Neo berujar ke Ridwan yang duduk di sebelahnya saat melihat pertunjukan pentas dari para perwakilan.
"Selama ini, dia 'kan nggak pernah tuh nyanyi kecuali pas pramuka sama upacara bendera. Bahkan dulu pas ada pelajaran musik, Kai lebih milih megang gitar."
Ridwan mengangguk setuju. Jelas dia cukup terkejut mendengar sahabatnya itu bernyanyi di depan. Malah jadi salah satu vokal utama. Namun, Ridwan juga percaya saja sih kalau Kai punya suara bagus.
Walau bukan yang terbaik, tetapi punya standar bagus orang-orang yang bisa bernyanyi.
"I am who I am no matter what... Never changing no matter what... No matter what...." Kai kembali bernyanyi sendiri setelah ada adegan yang terinspirasi dalam video musik lagu yang mereka nyanyikan.
Dilanjutkan dengan kembali bernyanyi bersama-sama. Diiringi dengan gerakan tari yang memang dikhususkan untuk bagian reff.
Semua terlihat kompak dan selaras. Mereka menari dan bernyanyi dengan sungguh-sungguh dan menghayatinya. Pesan dan perasaan dalam lagu tersampaikan dengan baik.
"Stand out, fit in!"
Pertunjukan mereka berakhir. Mereka mengakhirinya dengan gerakan yang kompak. Semua mengangkat kedua tangan mereka, seolah-seolah berselebrasi. Terlihat wajah mereka yang terengah-engah tetapi mereka tetap tersenyum.
Semua penonton lalu memberikan apresiasi yang luar biasa. Bahkan ada yang memberikan standing applause kepada mereka. Dengan teriakan-teriakan pujian dan selamat yang diiringi gemuruh tepuk tangan.
Sementara itu, sorot mata Kai terlihat mencari-cari seseorang di antara para penonton. Tidak ada yang menyadari tindakannya kalau tidak memperhatikannya baik-baik. Namun, Kai belum menemukan sosok yang dicari. Mungkin belum datang. Tidak mungkin tidak datang 'kan?
.
.
.
Acara dilanjutkan dengan unjuk bakat tiap perwakilan duta fakultas. Namun, sebelum itu, ada jeda untuk mereka mempersiapkan diri terlebih dahulu. Selama jeda, acara diisi oleh penampilan tari tradisional yang diiringi gamelan yang dimainkan secara langsung. Selain tari ada juga nyanyi yang diiringi alat musik yang sudah disediakan.
Setelah dua lagu dinyanyikan, unjuk bakat segera dimulai.
Penampilan pertama berasal dari Fakultas Olahraga yang menampilakan kolaborasi gerakan jurus karate dan senam pita. Kombinasi yang tidak biasa, tetapi hasilnya cukup menarik dan harmonis. Kemudian, dilanjut lagi oleh penampilan dari fakultas lain.
Ada yang menampilkan tarian, akustikan, musikalisasi puisi, mini drama, dan bahkan ada yang menampilkan dangdut. Semua dengan kostum masing-masing. Walaupun ada juga yang tetap mengenakan setelan hitam putih tanpa dasi. Namun, di antara berbagai unjuk bakat itu, belum ada yang dari FT.
"Kai sama Fey urutan berapa ya?" tanya Rifa yang duduk di antara Ojan dan Maya.
"Tinggal tiga fakultas lagi berarti," timpal Ojan.
Rifa terlihat tidak sabar. Dia mengedarkan pandangannya dan mengalih perhatiannya dari panggung. Terdengar sedikit kegaduhan di belakang. Dengan penasaran, Rifa menoleh. Ketika dia melihat ke belakang, matanya membulat terkejut melihat siapa di sana.
Dia menyikut Ojan dan Maya yang duduk di kanan dan kirinya untuk mendapatkan perhatian mereka.
"Apa?" bisik Ojan keras. Sementara Maya menatap Rifa dengan bingung.
"Coba lihat siapa yang datang," jawab Rifa tanpa mengalihkan pandangannya. Dengan nyaris bebarengan, Ojan dan Maya menoleh ke arah yang dimaksud Rifa dan mendapati geng senior mereka berdiri tidak jauh dari mereka.
Geng yang terdiri dari Aylin, Rima, Naufal, Budi, dan Taufan. Mereka terlihat baru saja sampai.
Ojan lalu menyikut Neo yang duduk di sebelahnya.
"Apa sih?" bisik Neo agak kesal. Ojan mengisyaratkan Neo untuk menoleh ke belakang. Dengan agak enggan, Neo menurutinya. Matanya membulat terkejut melihat siapa yang dimaksud. Neo lalu memberitahu Ridwan dan Teo yang ada di sebelah kanannya. Jadinya, semua menoleh dan melihat ke arah Aylin dan kawan-kawan yang kelihatan cukup mencolok.
Aylin yang menyadari ada yang memperhatikannya, hanya melirik sekilas dengan raut wajah datar.
Buru-buru Rifa dan yang lainnya kembali menatap ke arah panggung. Tidak berselang lama kemudian, giliran perwakilan FT yang akan tampil selanjutnya. FT mendapat urutan kedua belas dari empat belas fakultas.
Samar-samar, Rifa mendengar salah satu seniornya, dia menduga kalau itu suara Rima, berbicara pelan.
"Sepertinya kita tepat waktu, Lin."
Kembali ke depan. Kayvan dan Freya mengenakan pakaian yang kasual. Di mana Kai mengenakan kemeja yang balut rompi berwarna abu-abu gelap. Lengan kemejanya digulung sampai dibawah siku. Kai terlihat keren malam ini. Sementara Freya berpenampilan manis dengan riasan natural dan gaun dengan lengan tanggung dan roknya yang menjuntai selutut. Dia juga memakai jepit rambut yang senada warnanya dengan pakaian yang dikenakan. Mereka berdua memakai sepatu kets biasa.
Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan. Kai bersiap dengan gitar yang dibawanya. Kai memulai dengan menyapa semua penonton yang ada. Lalu menyampaikan apa yang akan mereka tampilkan malam ini.
"Malam ini, kami akan menyanyikan dua buah lagu untuk kalian. Kita akan sedikit bersenang-senang dengan lagu yang pertama. Jadi, selamat mendengarkan," Kai melemparkan senyum andalannya.
"Kalau ada yang tahu lagunya, boleh ikut bernyanyi sama-sama," Freya menambahkan.
Lalu, Kai mulai memainkan intro lagu pertama dengan petikan gitarnya. Intro lagunya terdengar ceria sehingga membuat beberapa penonton mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama.
"Like the kitty in the house, we sing meow meow meow meow. Like the cutie on the prowl, come on meow meow meow meow..." Freya mulai bernyanyi. Lirik lagunya yang tak terduga membuat beberapa penonton tertawa karena lucu. Ditambah suara Freya yang sengaja dibuat terdengar menggemaskan sambil dirinya menggerakkan tangannya yang tidak memegang pelantang seolah kaki depan kucing pada lirik meow meow meow meow.
"Like my heart is beating out, fascination of your smile. Whatever you do I do meow meow meow meow!" penonton kembali tertawa.
Kini giliran Kai yang bernyanyi.
"Oh your love always needed somehow, I miss you each day and every hour. Be with me here and now, coz I know sure and cast no doubt. Oh that is what love is about..."
"As a cat I may hissing aloud, sometimes I threat you with teeth and my claws," Freya melanjutkan. Kembali membuat penonton tertawa terhibur dengan tingkah Freya yang memperagakan seekor kucing sambil bernyanyi.
"But you were so tender, you changed my life for the better. So let me be honey forever..."
Mereka berdua lalu kembali ke lirik pertama dan menyanyikannya bersama-sama. Beberapa penonton yang tahu liriknya mulai ikut bernyanyi. Tak jarang penonton lain yang tidak tahu lirik ikut-ikutan bernyanyi dibagian meow meow saja.
"You will get me try your blouse, I will love you and your smell. We will taste the sweet and sour, have a dream beyond the clouds. And I'll be with you no matter how...!"
Kai dan Freya mengulangi bait lirik pertama dan yang terakhir sekali lagi. Mereka terlihat menikmatinya. Terlihat senyum terbit saat mereka bernyanyi. Para penonton juga ikut menikmati lagunya dengan bertepuk tangan mengiringi.
Lagu berakhir disambut tepuk tangan penonton mengapresiasi. Bahkan ada yang berseru memanggil nama mereka mengelu-elukan.
"Lagu selanjutnya adalah All My Life dari WILD," Kai kembali berbicara, "Kami persembahkan untuk kalian semua, baik yang hadir di sini maupun yang menonton di rumah."
Kai mengedarkan pandangannya. Kembali mencari-cari seseorang di antara penonton. Beberapa penonton yang melihatnya terlihat heran dan bertanya-tanya siapa yang dicari-cari Kai.
Ketika mata Kai menemukan orang itu, dia tersenyum lembut. Ada kelegaan di sana.
Kai menghiraukan beberapa tatapan bertanya-tanya yang dilayangkan untuknya. Dia lalu mulai memetik gitarnya. Memainkan intro lagu kedua.
"We're holding on through all the years. Looking back brings me to tears. Oh, I.. wanna see this through," Kai dan Freya menyanyikannya bersama-sama. Suara Freya yang lebih mendominasi kini terdengar berbeda daripada saat menyanyikan lagu yang pertama. Kali ini terdengar lebih lembut dan disaat bersamaan juga ada sedikit ketegasan di sana. Suaranya sangat khas.
Suara Freya memang sangat bagus.
Kai dan Freya membangun chemistry yang bagus saat menyanyikan lagu kedua ini. Membuat semua penonton bisa merasakan apa yang disampaikan lagunya.
"Tell me how the tables turned. How I've grown from lessons learned. Oh, I'll... keep my faith in you."
Sesekali Kai menatap ke arah penonton. Lebih tepatnya ke satu titik di mana orang itu berada. Dan orang itu juga menatap ke arahnya. Entah apa yang dipikirkan orang itu.
Beberapa penonton yang mengetahui lagu itu, mulai ikut bernyanyi. Sebagian lain terhanyut dengan lagu yang dibawakan, meskipun tidak tahu lagunya. Lagu yang terdengar sederhana, tetapi bermakna sangat dalam.
Sementara itu, di salah satu deretan kursi penonton, Neo yang memperhatikan penampilan Kai menyadari ada hal yang janggal. Cowok itu selalu melihat sahabatnya yang beberapa kali memandang ke sebuah titik di area penonton. Selalu titik yang sama. Dan pandangannya begitu lembut, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Meski tidak begitu jelas, tetapi Neo tahu persis gelagat Kai.
Neo mencoba mengikuti arah pandang Kai. Mencari-cari siapa kira-kira yang diperhatikan Kai. Pandangannya jatuh ke arah belakangnya. Dia menoleh dan melihat seseorang yang tak terduga. Bahkan orang yang dipandang Kai juga memperhatikan ke arah panggung dengan tatapan serius.
Mata Neo membulat terkejut, mulutnya terbuka. Dia tidak menyangkanya.
"Kau juga melihatnya 'kan?" Ridwan berujar pelan di sebelahnya. Neo lalu menatap Ridwan dengan raut yang masih tidak percaya. Dia lalu mengangguk pelan.
"Aku sejak tadi memperhatikan Kai. Matanya selalu mencari-cari seseorang di bangku penonton. Lalu ketika cewek itu datang, pandangan Kai terkunci padanya."
Oh, wow!
"Oh, I... will keep you safe for all my life. And you... will have my heart for all the time. Even on your darkest days, you know that I will never change. Oh, I... will love you the same. Oh, I... will love you the same...."
Bahkan ketika lagunya berakhir, para penonton baru sadar beberapa detik kemudian. Mereka lagu memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan ada yang melakukan standing applause karena memang layak diberikan.
.
.
.
Penampilan terakhir sekaligus penutup unjuk bakat berasal dari perwakilan FBS setelah sebelumnya dari Fakultas Pertanian dengan permaian perkusi mereka. Seperti sebelumnya, penonton yang berasal dari FBS selalu heboh tiap kali perwakilan mereka tampil.
Rian dan Galuh menampilkan sedikit lakon dan tarian. Lakon yang ditampilkan adalah salah satu adegan dalam kisah Ramayana, di mana ketika Shinta yang diculik oleh Rahwana dan Anoman yang diutus Rama datang untuk menyelamatkan. Dan ya, penampilan mereka benar-benar totalitas. Dari segi kostum dan riasan. Rian yang memakai kostum Anoman, utusan dan abdi setia Rama, dan Galuh yang berperan sebagai Shinta, istri dari Rama.
"Caritane wayang jawi. Ing praja ngalengka diraja. Rahwana raja arane. Gawe geger nyolong Shinta. Anoman cancut tumandhang. Ngalengka wis dadi awu. Kobong gedhe jerone praja..."
Penonton seolah-olah dibawa menikmati pertunjukan ketoprak dan sendratari Ramayana yang sering diselenggarakan di Prambanan dekat area candinya. Bahkan tak hanya berlakon dan menari, Rian dan Galuh juga menyanyikan lagu Anoman Obong mengikuti iringan musiknya.
Benar-benar luas biasa!
Benar-benar khas FBS sekali!
"Iya wae yaeya, iya wae yae... Iya wae yaeya, iya wae yae...."
Penonton dari luar FBS pun begitu menikmati pertunjukan yang disajikan Rian dan Galuh. Suara Galuh yang seperti seorang sinden dan suara Rian yang tak kalah ciamiknya. Yang dari FBS tentu saja ikut menyanyikan lagunya. Terutama pada bagian ketika Anoman dibakar (obong).
"Obong obong obong obong obong obong obong...!"
Bahkan mereka sambil mengangkat kedua tangannya seolah akan menari kecak. Lalu digerakkan dari kiri ke kanan dan sebaliknya mengikuti irama lagunya. Karena banyak dari mereka yang duduk di bagian paling depan—belakang juri, jadi tidak terlalu menganggu penonton lain ketika mereka bereuforia mengiringi penampilan Rian dan Galuh.
Entah karena tempat ini merupakan wilayah mereka, atau mereka memang seperti itu.
Yang jelas mereka terlihat eksentrik, beda sendiri.
Bahkan ketika pertunjukan selesai dengan sempurna, penonton dari FBS bertepuk tangan paling heboh dan melakukan standing applause. Walaupun dari fakultas lain juga melakukan hal sama karena memang, penampilan perwakilan mereka benar-benar luar biasa, tetapi tidak seheboh yang dari FBS.
Rian dan Galuh menjadi penutup unjuk bakat yang paling berkesan.
.
.
.
.
.
ps. jargon fbs is credited to FBS. semua lagu yg ada di sini bukan milik saya