Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Bad-Mouthing and The Doubt



bad-mouth (v): criticize (someone or something)


doubt (n): a feeling of uncertainty or lack of conviction 


.


.


(baru minor editing, maaf lama dan maaf kalo gaje)


.


.


.


Keadaan kembali seperti semula begitu festival berakhir. Kembali sibuk dengan kuliah dan kegiatan masing-masing.


Apalagi tak lama lagi akan tiba penghujung tahun. Banyak hima dan ormawa sudah mempersiapkan agenda puncak mereka sebagai penutup tahun. Lalu disusul dengan persiapan musyawarah akhir tahun, ketika masing-masing divisi memaparkan laporan pertanggungjawaban mereka.


Beberapa waktu lalu juga sudah terselenggara pemilwa dengan lancar. Ketua dan wakil ketua BEM yang baru sudah terpilih. Baik di tingkat univ maupun yang ada di fakultas.


Ketua BEM FT tahun ini adalah Aji dari Teknik Elektro tahun ketiga dan wakilnya sendiri adalah Naufal dari Teknik Industri tahun ketiga.


Fakta bahwa Naufal didaulat sebagai calon wakil BEM FT cukup membuat geger para sahabatnya. Masalahnya cowok itu tidak pernah bilang-bilang bakal jadi wakil ketua.


Sejujurnya, Naufal sendiri awalnya ragu menerima ajakan dan tawaran Aji buat maju di pemilwa FT. Dia sendiri tahunya sudah ditembung oleh salah satu kepala departemen—yang dia sendiri merupakan anggota departemen itu—buat jadi ketua selanjutnya.


Namun, setelah berbagai pertimbangan dan dukungan banyak orang, akhirnya Naufal mantap buat maju bersama Aji sebagai salah satu paslon ketua dan wakil ketua BEM FT.


Aji sendiri adalah ketua Hima Teknik Elektro dan anak BEM FT juga. Dia tidak ikut panitia Isimaja fakultas tahun ini. Sebagian mungkin ada yang tidak mengenal sosoknya—padahal dia sendiri berkawan dekat dengan pentolan tahun ketiga dan Teguh yang masih menjadi raja teknik.


Namun, begitu debat paslon beberapa waktu lalu, banyak orang terpukau dengan karisma dan ketegasannya. Orasinya mampu membius orang-orang yang melihatnya.


Pada akhirnya, setelah perdebatan sengit dengan tim lawan, Aji dan Naufal berhasil menang dengan perolehan suara terbanyak.


Lalu bagaimana reaksi Aylin dan ketiga yang lainnya? Mereka memaksa Naufal buat traktiran sebagai perayaan. Apalagi Budi dengan semangat empat lima kalau ada traktiran makanan gratis.


Emang tidak ada akhlaknya si Budi itu.


Untung Naufal tidak keberatan karena itung-itung sebagai syukuran juga.


Selain Naufal yang memang sudah pasti bakal ikut BEM lagi, beberapa orang juga berencana mendaftar di kabinet kepengurusan baru besok.


Ada Frans yang pada akhirnya memutuskan buat ikut organisasi kampus tahun ini.


Ada Aylin juga yang memutuskan buat mendaftar. Rima belum pasti akan mencoba ikut atau tidak karena dia juga sibuk di UKM Karate. Dan jangan tanya Taufan dan Budi.


Dan ada juga maba seperti Maya, Neo, Rifa dan Kai juga berencana buat ikut BEM.


.


.


.


Sudah beberapa hari ini Aylin terlihat lebih diam. Naufal dan yang lain sebenarnya sudah biasa dengan Aylin yang memang kadang jadi pendiam di antara mereka. Namun, kali ini diamnya Aylin terasa berbeda.


Sangat berbeda.


Bukan diam yang marah. Bukan, bukan itu. Mereka pasti tahu betul kalau Aylin lagi marah atau tidak. Termasuk Budi yang kadang tidak peka dan tidak tahu sikon.


Bukan juga diam ketika, Budi menyebutnya "Minggu-minggu ketika aku jadi babu", di mana biasanya Aylin atau Rima jadi sangat menyebalkan kalau kata Budi.


Lebih ke diam yang rasanya tak biasa ada pada diri seorang Aylin, sahabat mereka ini.


Diam yang terlihat murung meski Aylin berusaha menutupinya. Kalau digambarkan, mungkin akan ada awan mendung yang menggantung di atas kepalanya.


Dan Aylin itu tipe orang yang lebih memilih diam memendam untuk dirinya sendiri dan tidak bercerita apa masalahnya. Terkadang sampai Naufal dan yang lain, bahkan Bimala, mendesaknya buat bercerita baru Aylin akan cerita.


Itupun kadang Aylin tetap teguh dalam diamnya. Lalu kadang sampai menjauh.


Biasanya, Naufal dan yang lainnya akan menunggu sampai Aylin siap bercerita.


Karena itu, kali ini mereka juga akan menunggu sampai Aylin yang akan bercerita sendiri.


Dua hari lalu, Rima dan Naufal sudah menanyakan langsung pada Aylin kenapa. Namun, hanya di jawab, "Nggak papa. Nggak ada apa-apa."


Meski sebenarnya, mereka juga penasaran dan khawatir.


Penasaran apa yang membuat Aylin yang biasanya lempeng-lempeng, terlihat chill, sampai jadi pemurung—mereka tahu meski Aylin berusaha bersikap biasa saja—seperti ini.


Dan mereka juga khawatir pada sahabat mereka ini.


Di sisi lain, Aylin memang tidak ingin menceritakan hal ini pada sahabatnya. Dia bahkan menyembunyikannya dari Bimala karena sepupunya itu tidak tahu sama sekali. Dan dirinya bersyukur sahabatnya, terutama Budi, tidak ember ke Bimala.


Kenapa Aylin memilih menyimpannya sendiri?


Karena dia pikir, sejak awal mereka tidak tahu dan Aylin tidak mau mereka tahu dari awal.


Tentang dia dan juniornya.


Ya, benar sekali.


Hal yang membuatnya galau beberapa hari ini memang seputaran Sang Duta Kampus baru.


Sebenarnya, Aylin sudah kepikiran sejak lama. Sejak dia mulai menyadari kalau ternyata dia juga suka pada Kayvan dan memberikan lampu hijau pada Kai.


Hanya saja, dia lebih sering mengabaikannya. Meski begitu, pikiran-pikiran itu tetap ada.


Namun kali ini, lebih tepatnya beberapa hari yang lalu, sesuatu membuat pikiran-pikiran itu semakin menjadi-jadi. Membuatnya sulit fokus karena terus kepikiran.


Saat tahu kalau Maya menyukai Kai—oh Aylin tahu karena melihat gelagat Maya meski tidak kenal dekat, salah satu junior yang jadi kawan baik Freya—dirinya bersikap biasa saja. Tidak merasa terusik atau apa.


Namun, kali ini berbeda.


Bahkan kali ini hati dan kepercayaan dirinya ikut terlibat.


Membuatnya merasa insecure, sangat, dan pikiran negatif sering muncul.


Mari kita kembali ke beberapa hari lalu, di mana alasan Aylin sebenarnya berawal.


Waktu itu, Aylin berniat menemui Kai sesuai janjian mereka. Kai minta diajarkan salah satu tugas kuliah miliknya. Dirinya sendiri baru kembali dari kantor dosen untuk mengumpulkan tugasnya sendiri.


Aylin berjalan melewati gedung PKM untuk ke tempat janjian. Dan di sanalah, dia tidak sengaja mendengar sesuatu yang membuatnya terus kepikiran sampai sekarang.


Sebuah percakapan dari tiga orang mahasiswi yang Aylin tidak tahu namanya tetapi cukup familiar orangnya.


Ketiganya tengah bergosip. Awalnya, Aylin tidak tertarik dan memilih tidak mau tahu. Namun, ketika mendengar namanya dan Kayvan disebut, membuatnya terhenti.


"Kalian tahu nggak," sebuah kata-kata pembuka untuk bergosip, "Ada rumor kalau Kayvan saat ini lagi deket sama seseorang."


"Hah? Siapa?" ucap salah satu dari mereka tak percaya.


"Itu sama si onoh. Ketua TPK FT."


"Hah?! Serius? Demi apa?" suara ketiga menyahut, terkejut.


"Kau jangan bercanda ah. Yakali si ganteng Kayvan sama Aylin," suara kedua berujar, "Nggak, nggak percaya."


Sejak percakapan itu, Aylin sebenarnya ingin cepat-cepat pergi dari situ. Tidak ingin mendengarnya terlalu jauh. Namun, entah kenapa entah kenapa kakinya seperti membeku ditempat.


Percakapan pertama, kedua, ketiga masih tidak masalah. Namun, berikutnya membuat hatinya mencelos. Lalu seperti diremas dan membuatnya merasa sangat sedih.


"Denger ya, andai itu beneran terjadi. Aku pikir hubungan mereka juga nggak bakal lama. Aku pikir si Kayvan mungkin hanya penasaran. Nggak beneran serius. Ya siapa sih yang nggak penasaran sama ketua TPK sok berkuasa itu? Lagipula, mereka juga terlalu berbeda, nggak cocok."


"Kayvan kan anaknya ramah sama siapa aja. Mungkin itu juga berlaku ke Aylin sampai-sampai ada rumor seperti itu?"


"Aku dengar, pernah lihat juga, beberapa hari ini Kayvan terlihat deket sama salah satu anak DPM. "


"Oh iya bener. Yang cantik itu kan? Kurasa si Kai lebih cocok sama dia. Mereka juga terlihat manis berdua, serasi banget."


"Iya! Daripada sama yang digosipkan itu, si onoh. Hahaha..."


"Heran deh. Si Kayvan yang sempurna itu kok bisa digosipkan sama Ketua TPK yang sok berkuasa itu? She's too plain. Dia dikenal aja karena sahabatan sama Naufal dan kawan-kawan kan?"


"Heran juga ya kok bisa mereka temenan?"


"Caper kali."


Aylin sudah tidak tahan mendengarnya. Dia memaksa kakinya untuk melangkah pergi dari tempat itu segera. Sebelum mereka sadar kalau orang yang mereka bicarakan ada di sana mendengarnya.


Kedua matanya terasa memanas. Tanpa sadar, perlahan bulir air mata menetes ke pipinya.


Tidak peduli kalau dia ada janji hari ini, Aylin memilih kembali ke asrama. Pikirannya sudah berkecambuk. Jantungnya bertalu-talu, dengan hati yang rasanya seperti diremas kuat-kuat.


Sebuah notifikasi di ponselnya sedikit mengalihkan pikirannya.


Dengan enggan, dia membukanya.


Dari Kayvan.


'Kak Alin, maaf banget hari ini sepertinya kita nggak jadi. Ada rapat dadakan dengan perwakilan DPM, mau nggak mau harus ikut 😞🙏🏼. Mendadak banget soalnya. Jangan marah ya Kak... Nanti kupesankan makanan buat kakak. besok janji buat menebusnya buat hari ini


Padahal pengen ketemu Kakak juga hari ini ☹️'


Baguslah. Aylin juga tidak perlu mencari alasan buat membatalkannya.


Tidak berniat membalasnya, Aylin langsung menutup ponselnya.


.


.


.


Sudah beberapa hari ini Kai merasa kalau Aylin terkesan menjaga jarak darinya. Bahkan beberapa kali terlihat seperti menghindarinya. Membuatnya bertanya-tanya.


Ingin sekali Kai menanyakan langsung pada seniornya itu. Namun, sikap Aylin yang tidak seperti biasanya membuatnya harus menahannya.


Dia khawatir dan penasaran. Apa yang membuat Aylin terlihat lebih diam dan murung akhir-akhir ini. Bahkan kini malah terkesan menjauhinya.


Untuk beberapa saat, Kai mencoba berpikir positif.


Mungkin Aylin sedang stres karena akhir-akhir ini tugasnya semakin banyak dan ditambah persiapan untuk pelatihan magang. Habis semester enam nanti, sebelum semester tujuh dimulai, Aylin sudah mulai terjun magang diclapangan.


Atau mungkin dia ada masalah yang belum bisa atau tidak bisa diceritakan. Entah apa itu. Namun, Kai tetap berharap agar Aylin mau bercerita.


Paling tidak, dirinya bisa membantu mencarikan solusi dan jadi pendengar yang baik.


Sampai pada suatu hari, Kai merasa semua ini sudah cukup. Lama-lama gemas sendiri dengan situasi yang terjadi.


Sikap diamnya Aylin.


Dan cewek itu yang semakin ke sini semakin menjauh. Terlihat berusaha mendorong jauh Kayvan meski secara tidak langsung.


Hal itu tentu membuat Kai merasa ada sesuatu yang janggal.


Kai tahu kalau sikap Aylin akhir-akhir ini berbeda. Semenjak Kai terang-terangan mengejar Aylin, cewek itu memang terkadang mendorongnya jauh.


Namun, dengan wajah memerah atau dengan berusaha menutupi salah tingkahnya dengan sikap galak.


Oh, Kai tahu itu dan sering menjadikannya alasan buat menggoda senior manis itu.


Sayangnya, hal itu berbeda dari apa yang dia rasakan akhir-akhir ini.


Kayvan lalu memutuskan untuk mengajak Aylin bicara, sambil mengajaknya makan siang di luar kampus seperti biasanya. Untungnya, Aylin menerima ajakan Kai setelah beberapa kali menolak dengan berbagai alasan sebelumnya.


Kai juga tidak langsung bertanya ada apa. Dia mengawalinya dengan menanyakan tentang keseharian dan bertukar cerita.


Dan Kai sangat menyadari, selama obrolan mereka, dirinya yang lebih mendominasi. Tidak seperti biasanya.


Malah lebih terkesan seperti dulu, ketika Kai belum terang-terangan mengejar Aylin. Hanya saja kali ini ada kesan yang agak beda.


Bahkan gelagat Aylin juga berbeda, terlihat gelisah dan terkadang melamun saat Kai perhatikan baik-baik.


Hingga percakapan mereka sampai juga pada topik yang memang ingin Kai bicarakan.


Kai bertanya dengan nada lembut. Mencoba membujuk agar Aylin mau bercerita masalahnya.


Aylin masih diam. Meskin Kai sudah beberapa kali mencobanya.


Sampai pada akhirnya, Aylin mengatakan sesuatu diluar dugaan. Dia akhirnya menceritakan semuanya. Seperti sebuah bendungan yang lama-lama tidak mampu menahan air di dalamnya yang makin lama makin banyak.


Setelah bergulat dengan dirinya sendiri berhari-hari ini, akhirnya Aylin mengatakan apa yang dia rasakan. Semua keraguannya, her insecurity dari sejak Kai bilang akan mengejarnya secara terang-terangan.


Sampai pada kejadian di mana dia tidak sengaja mendengar percakapan di dekat gedung PKM tempo itu.


Selama dia bercerita, Aylin tak berani menatap mata Kai. Terlalu takut dengan reaksi cowok itu.


Dan dia jujur soal ketakutannya kalau semua ini hanya permainan. Pikiran itu memang sesekali muncul saat dia mulai overthinking, merasa sedikit overwhelm dengan semua perhatian yang Kai berikan.


Terkadang dia berpikir, ini beneran terjadi?


Kenapa dia bisa suka sama orang sepertiku?


Puncaknya adalah ketika dirinya mendengar percakapan mereka. Membuatnya semakin kepikiran dan merasa ragu.


"Kakak..." pada akhirnya Kai mulai berujar pelan setelah hening selama beberapa saat.


"Kakak bisa tolong tatap aku?" pinta Kai dengan nada lembut.


Perlahan Aylin mengangkat kepalanya. Menatap Kai dengan mata yang terlihat sembab.


Kai menatap Aylin dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian, dia menghela napas. Terlihat seperti berusaha mengendalikan dirinya. Perasaannya jadi campur aduk.


"Terima kasih Kakak udah mau cerita," katanya, "Tapi aku juga mau jujur sama Kakak..."


"Jujur, aku merasa kecewa karena Kakak seperti meragukanku. Semua yang kulakukan buat Kakak itu beneran tulus."


Aylin terdiam, kembali menunduk. *******-***** kedua telapak tangannya yang ada di atas meja. Kebiasan ketika dirinya merasa sangat bersalah, sedih, dan resah di depan orang terdekatnya.


"Aku kecewa, karena kupikir Kakak tahu kalau perasaanku bukan main-main. Tapi ternyata nggak begitu ya?"


Mendengar kata kecewa keluar dari mulut Kayvan membuat hatinya semakin mencelos. Matanya kembali memanas. Namun, dia berusaha menahannya.


"Setelah kupikir-pikir, selama ini Kakak juga belum pernah membalas secara jelas perasaanku. Meski aku merasa perasaanku terbalas, tapi apa itu... benarkah? Apa hanya aku aja yang ngerasa begitu?"


Aylin mengangkat kepalanya dengan cepat begitu mendengar perkataan Kayvan barusan. Matanya sedikit melebar dan ekspresinya terkejut.


Kai menatap Aylin dengan pandangan sedih, kecewa, dan ada kemarahan yang ditahan di sana bercampur jadi satu. Melihat hal itu, membuat hati Aylin seperti dihujam dengan palu.


.


.


.


Episode Aylin si pemurung masih berlanjut. Bahkan kali ini mungkin lebih parah dari sebelumnya. Membuat Naufal dan yang lainnya kembali bertanya-tanya.


Tetap saja, Aylin lebih memilih bungkam.


Selepas pembicaraannya dengan Kayvan beberapa hari lalu membuatnya terus kepikiran. Perasaan bersalah, sedih, dan kalut bercampur jadi satu.


Berulang kali dia menyalahkan dirinya sendiri.


Ini salahnya Kai kini marah padanya.


Kecewa padanya.


Hubungan mereka jadi merenggang dan terasa lebih dingin. Bahkan Aylin sudah bisa merasakannya saat Kai mengantar pulang Aylin ke asrama saat selesai makan dan bicara tempo itu.


Padahal tidak lama lagi ujian akhir semester akan dimulai. Tinggal belasan hari lagi.


Aylin berusaha kembali fokus dengan tugas dan persiapan ulangannya, tetapi rasanya jadi cukup sulit. Pikirannya akan selalu melayang ke kejadian itu. Membuatnya kembali merasa lebih galau.


Apakah sejak saat itu, hubungan mereka yang belum resmi itu berakhir begitu saja?


Tidak.


Kai masih sesekali mengirimkan amunisi makanan ke Aylin. Hanya saja, tidak ada kata-kata atau apa. Hanya beruba makanan. Kai juga jadi jarang mengirim pesan ke Aylin. Begitupun sebaliknya.


Mereka disibukkan dengan tugas masing-masing sebagai mahasiswa. Aylin sendiripun takut dan ragu untuk sekedar menyapa Kai melalui pesan karena dia pikir Kai masih marah padanya dan tidak ingin bicara padanya.


Aylin juga bergelut dengan dirinya sendiri. Membuatnya selalu ragu-ragu dan merasa pengecut. Lalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


Dia juga berpikir, mungkin Kai sudah mulai tidak mau berurusan lagi dengannya.


Di sisi lain, Kai sibuk dengan kuliah dan tugasnya sebagai duta kampus dan anggota magang di BEM FT.


Apa dia marah?


Ya, dia sempat merasa marah. Namun, hal itu hanya sebentar. Selebihnya dia merasa kecewa dan sedih. Dia memilih untuk menjaga jarak sekarang.


Membuat dirinya dan Aylin agar lebih tenang. Dan mereka bisa lihat, keputusan apa yang akan mereka ambil selanjutnya. Dia tetap memberikan perhatian kecil seperti sebelumnya, tetapi kali ini tidak ada kata-kata, sapaan, atau gestur lain selebihnya.


Sejujurnya, diam-diam Kai sengaja memberikan waktu buat Aylin agar cewek itu bisa memberikan keputusannya—Aylin tidak tahu soal ini.


Keputusan soal kejelasan hubungan mereka.


Kai juga butuh kepastian. Sebuah kepastian dari mulut Aylin sendiri. Namun, dia juga tidak bisa serta merta memaksa Aylin untuk memberikan jawaban. Jadi, kali ini, dia memberikan waktu dan jarak untuk mereka berdua.


.


.


.


...Hatinya terasa panas dan seolah dihujam ribuan jarum bertubi-tubi ketika melihat pemandangan di depannya....


...Kedekatan dan keakrab dua orang itu membuat hatinya seolah terbakar. Bahkan dia bersumpah melihat mata itu melirik ke arahnya, lalu dengan sengaja mendekatkan diri ke orang di sebelahnya sambil tersenyum kecil meremehkan....


...Kemudian, orang itu kembali fokus bicara dengan orang di depannya. Seolah tak terjadi apa-apa....


...'Nggak, nggak mungkin,' dia menyangkalnya dalam hati setelah melihat hal itu....


...Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya. Hatinya berdenyut sakit....


.


.


.


.


.


a.n.


maaf lama, baru bisa up sekarang. dan maaf kalo kesannya malah gaje dan cringy. jadi ini part pertamanya. aku menulis ini sambil dengerin lagu all too well, head in the clouds, start again, dan beberapa lagu galau lainnya buat membangun mood :') so yeah... gini jadinya. bakal kuedit nanti pas ada waktu luang


what do u think about aylin di sini? yes she have insecurities, it's her first time to experience love, dan juga telah disebut di beberapa chapter sebelumnya tentang ketakutan aylin yg dipendam nya sendiri (sebelum dia jujur ke kayvan di chapter ini)


untuk minggu depan, aku blm bisa memastikan. tapi kuharap aku bisa up next part