![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
more (determiner): a greater or additional amount or degree of
.
.
.
[it's a long chapter, jadi aku bagi jadi 2 bagian | baru minor editing]
.
.
.
Pandu adalah tipe orang yang akan lebih memilih menikmati waktu kesendiriannya daripada harus berinteraksi dengan banyak orang. Hal yang akan membuatnya lelah, seperti energinya tiba-tiba akan terkuras habis.
Bahkan saat SMP, temannya tak begitu banyak. Meski tak dipungkiri juga dia masuk jajaran cowok idola di sekolah lamanya. Bisa dibilang, Pandu itu tipe cowok yang akan jadi tokoh utamanya dalam sebuah novel remaja.
Ganteng, tinggi, pintar, anak tonti, dan tergabung dalam OSIS.
Namun, Pandu tidak merasa seperti itu. Justru risih saat dia jadi perhatian banyak orang. Mungkin dia akan menutupinya dengan senyum sopan yang sialnya malah membuatnya tambah diincar.
Dia ikut OSIS pun karena memang murni untuk mencari dan menambah pengalaman. Bukan agar bisa jadi idola sekolah seperti hampir kebanyakan teman-teman OSIS-nya.
Bagi Pandu, kehidupan di SMP-nya terasa monoton. Tidak ada yang menarik buatnya. Bahkan dia sangat bersyukur bisa lulus dari sana.
Saat masa pendaftaran SMA dan SMK, Pandu sebenarnya masih bingung ingin lanjut ke mana. Dia sempat kepikiran untuk mendaftar di SMK. Namun, ayahnya meminta dirinya mencoba mendaftar di SMA 3. SMA yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan oleh Pandu sebagai tujuan selanjutnya.
Pertama karena itu adalah SMA 3. Semua orang Jogja pasti tahu dan kenal sekolah itu. Salah satu sekolah favorit di Jogja. Kebijakan sekolahnya dan lulusannya pun tak main-main. Tidak salah kalau masuk sekolah favorit.
Kedua karena SMA 3 terkenal sebagai sekolah elit. Di mana anak-anak menengah ke atas berkumpul di sana. Punya koneksi dan kuasa. Hal yang membuat Pandu merasa sungkan sampai membuatnya tidak kepikiran untuk sekolah di sana.
Nilai hasil ujian Pandu bukan jadi masalah. Dia bisa saja masuk ke sekolah favorit seperti Teladan atau SMA 8. Cowok itu tidak akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi perihal masalah akademik.
Pada akhirnya, Pandu menuruti permintaan ayahnya untuk mendaftar di SMA elit itu. Dia akan mencobanya. Lagipula dia belum ada gambaran untuk SMA mana yang akan dia tuju selanjutnya. Kalaupun nantinya dia akan gagal, tidak jadi masalah. Dia bisa melanjutkan rencananya untuk mendaftar di SMK.
Kenapa ayahnya meminta dirinya lanjut di SMA 3?
Selain jaraknya yang cukup dekat dari rumah, ayah Pandu ingin putranya itu lanjut ke sekolah yang terbaik. Lalu beberapa alasan lain yang membuat Pandu setuju untuk mencoba saran ayahnya.
Pada akhirnya Pandu berhasil diterima sebagai siswa baru di SMA 3. Hal yang cukup diluar dugaannya. Berhubung kepalang sudah diterima, Pandu memutuskan untuk melanjutkannya saja.
Dan di sinilah dirinya sekarang. Bersama anak-anak baru lain tengah melakukan upacara pembukaan orientasi siswa di Ghra Padmanaba. Dia juga melihat beberapa teman lamanya yang ternyata juga mendaftar di SMA 3.
Pandu cukup terkesima dengan arsitektur sekolah barunya ini. Arsitektur bangunan lama yang membuatnya terkesan klasik. Kesan elit pun terasa. Menunjukkan kalau sekolah ini bukan sembarang sekolah. Menunjukkan bahwa tidak sembarang orang bisa menjadi bagian dari warga sekolah ini.
Entah Pandu harus merasa bersyukur atau bagaimana mengetahui dirinya kini menjadi bagian dari almamater SMA 3.
Sejauh ini, sejak datang ke sini untuk menyerahkan formulir pendaftaran, belum ada yang membuatnya tertarik selain bangunannya yang khas.
Hal yang membuatnya agak-agak cemas kalau dirinya harus kembali mengulang kehidupan monoton seperti saat SMP dulu. Namun, Pandu berusaha menepis pikirannya itu. Ini baru awal. Siapa tahu Pandu menemukan hal menarik di sini.
Mungkin kehidupan SMA-nya tidak akan semembosankan seperti SMP dulu.
Dan benar saja. Hari pertama orientasi setelah upacara pembukaan Pandu sudah terlambat sampai ke sekolah. Dia bangun kesiangan karena salah menyetel alarmnya. Semalam dia bergadang menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan seniornya untuk hari ini.
Kalau bukan karena kakaknya yang mengguncang tubuhnya dengan keras untuk membangunkannya, mungkin Pandu baru akan bangun pukul tujuh.
Niatnya habis subuh ingin tidur sebentar karena masih mengantuk, tetapi dirinya malah kebablasan dan tanpa sadar telah menyetel alarm pukul tujuh.
Dan di snilah sekarang. Di lapangan melaksanakan hukumannya karena terlambat karena kesiangan. Bahkan dirinya hanya sempat mengambil roti seribuan yang ada di rumah—kakaknya biasanya membeli stok roti yang biasa dia bawa ke kampus untuk dia makan disela-sela jeda singkat perkuliahan—untuk dia makan sambil jalan.
Memang lagi apes saja hari ini. Langsung dapat hukuman di hari "pertama" MOS setelah upacara orientasi kemarin.
Sebenarnya tidak hanya dirinya yang mendapatkan hukuman untuk membersihkan halaman—membantu OB katanya—tetapi ada juga satu anak lain. Entah karena apa Pandu tidak mendengarkan tadi.
Pandu tengah mengumpulkan sampah dan menaruhnya ke tong sampah saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang tengah menyapu tak jauh darinya. Sepertinya dia adalah salah satu anak yang dihukum itu selain Pandu.
Sekolah barunya ini termasuk sekolah yang banyak pepohonannya, teduh. Jadi salah satu hal yang disyukuri Pandu saat menjadi salah satu siswa di sini.
Dia melihat cewek itu terlihat pucat dengan peluh bercucuruan deras di dahi dan pelipisnya. Tanpa pikir panjang, Pandu menghampiri cewek berambut pendek itu.
"Capek ya?" tanya Pandu mencoba basa-basi. Oh dia jarang menginisiasi basa-basi. Apalagi dengan orang yang belum dia kenal.
Cewek berambut pendek itu mengangkat kepalanya. Lalu tersenyum kecil yang sudah cukup bisa memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Hehehe, iya," katanya. "Panas juga. Mana tadi belum sempat sarapan lagi."
Meskipun sekolahnya terkenal rindang, tetapi kalau hawa dan cuacanya panas tetap akan terasa. Apalagi di sekitar tempat mereka yang tak banyak pohon besar yang bisa menaungi. Di tambah sekarang matahari terlihat terik meski baru pukul setengah sepuluh pagi.
Pandu tersenyum tipis. Dia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus roti pia seribuan. Roti yang sengaja dia simpan di sakunya untuk siapa tahu bisa curi-curi makan sebelum waktu ishoma.
Cowok itu lalu menyodorkannya pada cewek yang belum dia tahu namanya itu.
"Nih! Mending kau makan aja ini dulu. Takutnya malah kenapa-napa nanti."
Eh? Apa nggak papa? Nanti kalau ketahuan kakak kelas gimana?" ekspresi cewek itu terlihat khawatir.
Pandu melihat sekitar sejenak, memastikan apakah ada senior atau tidak, sebelum kembali fokus ke cewek di depannya.
Tidak ada senior di sekitar mereka.
"Lagi aman kok," katanya. Lalu kembali menyodorkan roti miliknya. "Nih, buat kau aja."
Cewek itu masih terlihat ragu untuk menerimanya.
"Yakin nih?"
Pandu mengangguk. "Iya. Tadi aku bawa dua, udah tak makan satu pas berangkat ke sini. Tadi pagi juga buru-buru jadi ngambil seadanya di rumah buat ganjal perut."
Cewek itu menerima roti itu dan tersenyum memperlihatkan dua lesung pipinya.
"Makasih ya!"
"Santai aja."
Pandu tersenyum melihat cewek itu memakannya dengan lahap. Sepertinya dia benar-benar kelaparan. Syukurlah, setidaknya roti itu bisa sedikit mengganjal perutnya. Dia benar-benar kelihatan pucat sekali tadi.
"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan," cowok itu berujar kemudian.
"Namaku Pandu dari kelompk delapan. Tapi kalau kelasnya, aku kelas X B."
"Eh? Kita sekelas dong ternyata!" sahut cewek berambut pendek itu terlihat cukup terkejut. Ekspresinya terlihat senang, terlihat dari matanya yang berbinar.
"Oh iya, aku Nana dari kelompok dua belas!" dia memperkenalkan diri.
.
.
.
Semua itu tak lepas dari Nana. Sosok cewek yang dikenalnya saat mereka mendapat hukuman bersama. Pandu bahkan merasa bersyukur karena dihukum kala itu.
Kalau tidak, mungkin dia tidak akan kenal bahkan sedekat ini dengan Nana.
Keputusannya untuk mengajak kenalan Nana memang tidak pernah disesalinya. Pandu bukan tipe orang yang bakal gampang akrab dengan orang lain begitu saja. Tidak seperti Nana yang cenderung social butterfly, punya teman dan kenalan di mana-mana.
Namun, saat berbicara dengan Nana sambil memberikannya roti seribuan kala itu, Pandu merasa sepertinya akan seru berteman dengannya. Vibes-nya sudah terlihat menyenangkan dan rasanya bakalan bisa satu frekuensi.
Dan ternyata benar. Bahkan sampai seakrab sekarang.
Bahkan di kelas sepuluh, mereka memutuskan untuk duduk sebagai teman semeja. Kebetulan kelas mereka jumlah antara murid cewek dan cowok sama-sama ganjil.
Suatu hal yang tidak akan Pandu lakukan saat SMP dulu. Namun, dengan Nana, semuanya terasa berbeda.
Secara perlahan, Pandu pun semakin mengenal sosok Nana. Begitupun sebaliknya. Dan hal paling menakjubkan bagi Pandu adalah dia sama sekali tidak merasa risih atau bosan dengan kedekatan mereka yang hampir setiap hari terjadi.
Bahkan keduanya sudah mengenal keluarga masing-masing karena sering main ke rumah satu sama lain.
Pandul kenal dekat dengan para kakak sepupu Nana, Aylin, Bimala, dan Gio. Cowok itu juga tahu kalau Nana sering sekali dipanggil si bontot atau si bungsu di keluarga besarnya meskipun Nana punya adik kembar yang baru masuk TK.
Pandu bahkan akrab dengan kedua adik Nana dan sering bermain dengan mereka. Cowok itu juga tahu soal sahabat kecil Nana yang bernama Chika yang pindah ke luar kota. Bahkan Pandu sudah pernah mengobrol dengan Chika saat dikenalkan Nana melalui telepon video.
Begitupun Nana sebaliknya. Kakak perempuan Pandu sampai akrab dengan Nana. Tak jarang kakaknya menanyakan soal Nana dan menitipkan sesuatu buat Nana lewat Pandu.
"Ndu, tanyain ke Nana dong, dia mau nitip sesuatu nggak. Besok aku baru sampai rumah," kata kakaknya melalui sambungan telepon. Beberapa hari ini kakaknya mengikuti trip acara jurusannya sekalian kunjungan ke mitra jurusan di luar kota.
"Sebenernya adikmu itu aku atau Nana sih?" tanya Pandu.
Cukup sering terjadi semenjak kakaknya itu akrab dengan Nana. Namun Pandu sama sekali tidak merasa marah atau iri. Justru dia senang karena kedua cewek yang berharga bagi Pandu setelah ibunya itu bisa seakrab ini.
Kalau ditanya sebenarnya hubungan apa yang dimiliki Pandu dan Nana yang sampai sedekat ini, Pandu cukup bingung bagaimana menjelaskannya.
Hubungan mereka cukup rumit. Sulit dijelaskan.
Kalau kalian bertanya saat keduanya masih kelas sepuluh, Pandu akan dengan yakin menjawab kalau mereka adalah sahabat dekat.
Sahabat yang suka bersaing. Entah dimulai dari kapan, tetapi Pandu dan Nana memang cukup suka bersaing hanya untuk bersenang-senang.
Namun, semakin lama rasanya kata "sahabat" dirasa kurang cocok untuk menggambarkan hubungan keduanya.
Satu hal yang Pandu yakin adalah baginya hubungan mereka memang sudah tidak pantas disebut sepasang sahabat lagi.
Karena Pandu sudah melanggar apa yang seharusnya jadi pantangan bagi sahabat cewek dan cowok.
Entah sejak kapan dimulainya, Pandu tidak tahu secara pasti. Rasanya seperti sudah sejak lama cowok itu mulai memandang Nana dengan pandangan berbeda.
Namun Pandu memilih diam. Dia tidak mau merusak persahabatan mereka berdua.
Untuk saat ini Pandu memilih diam.
Tentu saja teman-teman mereka tidak buta akan hal itu. Mereka menyadari perubahan sikap Pandu ke Nana. Bagaimana Pandu memperlakukan Nana dengan lebih perhatian dari sebelum-sebelumnya.
Pandu menyuruh mereka untuk diam dan tutup mulut. Dia tidak mau Nana kepikiran dan merasa harus membalasnya.
Pandu memilih untuk tidak terus terang dan berlebihan karena dia masih ingin menjaga hubungan yang mereka miliki sekarang. Entah kapan Pandu akan memberitahu Nana akan dia pikirkan nanti.
Untuk sementara ini biarkan seperti ini dulu.
.
.
.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..."
Tatapan Pandu jatuh pada sosok Nana yang tengah tertidur dengan tangan kedua tangan sebagai bantal di atas meja. Raut wajahnya terlihat kelelahan.
Beberapa hari terakhir ini Nana memang lagi sibuk-sibuknya di Dewan Ambalan. Kelas sepuluh akan persiapan untuk kemah di akhir tahun ajaran nanti. Yang artinya tinggal beberapa bulan lagi. Nana kedapatan tugas untuk survei lokasi kemah. Dan itu artinya Nana harus bolak-balik menggunakan motor dari satu tempat ke tempat lain. Meski tidak sendirian, tentu saja akan tetap melelahkan.
Pandu tidak bisa membantu banyak. OSIS sendiri ada proker besar yang akan dieksekusi dalam waktu dekat ini. Jadi dia harus hadir dalam rapat persiapannya.
Ditambah posisi keduanya sebagai kapten di masing-masing tim di ekskul dan mereka juga berbeda kelas.
Membuat Pandu kembali menyayangkan kenapa dia memilih IPA dulu. Setidaknya kalau mereka masih sekelas, Pandu bisa mengawasi Nana agar tidak terlalu memforsir tenaganya.
Belum lama ini Nana juga baru pulih dari cederanya saat latihan basket. Kejadian yang membuat Pandu panik setengah mati kala itu. Beberapa hari lagi Nana akan bertanding di GOR UHW untuk acara DBL. Hal yang sebenarnya membuat Pandu cukup was-was.
Kini Nana mampir ke ruang OSIS dan rencananya ingin mengerjakan tugas sekaligus menemui Pandu. Sebuah pemandangan yang lumrah bagi anak OSIS yang lain saat Nana menyambangi ruangan mereka. Lagipula anak-anak DA juga sering menggunakan ruangan OSIS untuk rapat atau pertemuan.
Namun, Nana pada akhirnya tertidur karena kelelahan setelah baru sepuluh menit membuka tugasnya. Ditambah dengan Pandu yang memainkan gitar dan bersenandung pelan di ruangan OSIS yang cukup sepi ini. Hanya ada beberapa orang termasuk Pandu dan Nana di sana.
Tidak hanya Nana yang bisa main musik, tetapi Pandu juga cukup bisa. Namun tidak sejago Nana. Cowok itu hanya main gitar untuk hiburan saja saat penat.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..."
.
.
.
.
.
.
a.n.
so... ini pov Pandu yak
kita break dulu dari main plot karena aku butuh inspirasi, muse, buat nulis main plot-nya.
Btw, untuk anak-anak SMA 3 yang baca ini (kalau ada) maaf ya kalau ada kesalahan dalam mendeskripsikan sekolah, karena aku cuman meraba-raba dan mendengar cerita-cerita dari temen :' tidak ada unsur menyinggung atau menjelekkan, murni sebagai bagian dari latar tempat saja 🙏🏼😔
and maaf lama baru up :'
I'll double up, hehe. karena part ini kepanjangan jadi kupotong jadi 2 bagian
see you!