Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
D-Day



D-day (noun): the day on which an important operation is to begin or a change to take effect


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


Hari ini Isimaja!


Kayvan sudah bangun sejak sebelum subuh tadi. Mengecek lagi segala kelengkapan buat Ospek, penugasan hari ini, dan tidak lupa mengingatkan Ridwan dan Neo lewat grup whatsapp mereka untuk membangunkan Ojan.


Selesai bersiap-siap, cowok itu memanaskan makanan yang semalam dia beli di microwave. Iya, dia sengaja membawa microwave ke asrama dengan alasan biar tidak ribet antre ke dapur asrama. Lagipula, penghuni asrama dibebaskan membawa barang elektronik bawaan asalkan sesuai aturan dan bertanggungjawab dengan barang bawaan.


Hampir mirip di kos-kosan atau kontrakan. Hanya saja lebih tertata.


Setelah semua selesai, Kai sekali lagi mengecek jam di kamarnya. Sudah pukul lima lebih seperempat. Saatnya berangkat ke kampus.


Kai bertemu Teo di lobi asrama. Lalu mereka berjalan kaki bersama ke asrama sebelah. Di mana Neo, Ridwan, dan Ojan menunggu mereka.


"Yo bro!" sapa Ojan begitu Kai dan Teo sampai.


Teo dan Kai balas tersenyum dan menyapa balik Ojan.


"Deg-degan nggak sih kalian?" tanya Teo.


"Iya," jawab Neo. "Takut kayak pas TM sama Aqisol."


"B aja sih," Ridwan menjawab cuek. Cowok itu terlihat rapi dengan dresscode hari pertama Isimaja protokoler—setelan hitam putih UHW, sepatu pantofel dan kaos kaki putih, dasi hitam dengan pin lambang FT, jas almamater UHW, dan tak lupa tas serut dengan logo Isimaja FT.


Mereka juga mengenakan atribut Isimaja FT berupa nametag dan hiasan kepala yang telah dibuat bersama gugus mereka waktu itu.


"Santai aja Yo," kata Ojan menenangkan Neo. "Hari pertama kita di GOR dan acaranya formal kok."


Kai dan Teo mengangguk setuju dengan ucapan Ojan. Terlihat Neo menghela napas lega mendengarnya.


"Gaes, foto dulu lah kita sebelum berangkat," ajak Ojan. Dia sudah mengeluarkan ponselnya.


"Lah siapa yang mau ngefoto?" tanya Teo. Pasalnya suasana masih terbilang cukup sepi. Ada juga beberapa maba yang sudah mulai berjalan ke kampus.


"Minta tolong Pak Taat aja. Aku yang bilang," jawab Ojan. Pak Taat adalah salah satu satpam asrama dan menjaga asrama C.


Setelah mereka foto bareng, berpose di depan asrama dan difotokan oleh Pak Taat, kelima sekawan itu lalu berjalan ke kampus untuk Isimaja hari ini.


Dalam hati, Kai tidak sabar menunggu hari H. Setelah mengikuti rangkaian TM dan Aqisol, dia akan bisa merasakan betapa wah-nya Isimaja UHW seperti kata orang-orang. Dan katanya, Isimaja menjadi salah satu saat-saat tak terlupakan dan paling dikenang.


Selain itu, cowok itu diam-diam menantikan bertemu kembali dengan senior yang akhir-akhir ini selalu membuatnya kepikiran.


Oh, dia tidak sabar menantikannya.


Di sisi lain, di waktu yang hampir bersamaan...


"Karena maba sudah mulai berdatangan, kita tutup briefing pagi hari ini dengan tos oke?" Naufal berujar. Lalu mengajak semua panitia yang ada di aula besar—kecuali beberapa TPK yang sudah berjaga di pos masing-masing—untuk melakukan tos.


Tepat pukul setengah enam pagi, gerbang utama sudah dibuka oleh beberapa TPK yang berjaga di sana. FT selama Isimaja universitas memang sengaja lebih pagi mengingat jarak FT dan GOR yang lumayan jauh. Butuh waktu berjalan ke sana.


Iya berjalan, kau tidak salah lihat kok. Untungnya walau FT letaknya di paling utara, jarak ke GOR tidak sejauh FK, FKH, FH, dan Fakultas Pertanian.


"Isimaja FT UHW 20XX....!"


"....SUKSES!"


Para panitia bertepuk tangan lalu membubarkan diri. Bersiap-siap di pos masing-masing. Para pemandu bergegas ke halaman selatan FT sambil membawa masing-masing papan nama gugus mereka biar mudah dicari. Mereka menunggu maba gugus masing-masing di tempat yang sudah diplot oleh Tim Acara di lapangan.


Kenapa tidak di lapangan seperti biasa? Karena nanti semua maba ke GOR-nya lewat gerbang selatan. Begitupun ketika kembali dari GOR, lewat gerbang selatan.


"Lin," panggil Rima ke ketua TPK yang tengah memastikan kalau HT yang dipegang tersimpan di saku kemeja hitamnya. Dresscode TPK masih mengenakan pakaian hitam-hitam dan handbadge merah. Bedanya, sampai empat hari ke depan, mereka mengenakan kemeja hitam lengan panjang bukan kaos hitam seperti waktu TM dan Aqisol. Tidak mengenakan blazer korsa juga.


"Ya?"


"Semangat yo!" Rima merangkul pundak Aylin. Untung mereka masih berada di dalam aula.


"Kau juga Ma," kata Aylin. "Semoga berjalan lancar selama Isimaja nanti."


Dan semoga tidak ada yang membuat ulah, Aylin menambahkan dalam hati. Kalian tahulah siapa yang dimaksud Aylin.


Aylin menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Menenangkan dan meyakinkan diri untuk tugas hari ini.


Semangat!


.


.


.


Kai duduk berbaris rapi bersama teman-temannya di Gugus 19 Jayapura sambil menunggu yang lainnya berdatangan. Ada yang saling mengobrol satu sama lain. Ada juga yang mengobrol dengan pemandu.


"DC para TPK agak beda ya dari pas TM sama Aqisol," celetuk Teo yang duduk di sebelahnya.


Kai mengangguk setuju. "Mungkin karena protokoler juga kali ya?"


"Bisa jadi."


Dimas menyodorkan presensi kehadiran untuk maba Gugus 19 Jayapura. Sambil menunggu yang lain dan acara dimulai, seperti ketika TM, mereka mengisi presensi dan mengopernya dari satu ke yang lain.


"Oh ya dek, nanti pas di dalam GOR dengarkan arahan dari TPK sama salah satu dari kami ya?" ujar Santi.


"Lho, emang pemandu nggak semua ikut Mbak?" tanya Ojan.


"Nggak dek. Cuman boleh satu pemandu pergugus. Tapi nanti gantian juga kok, ada shift-nya," Widi yang menjawab.


"Intinya kalian dengarkan arahannya ya? Kalau mau izin keluar bilang juga ke pemandu yang jaga, entah giliran siapa nanti. Kalau merasa sakit juga ngomong, jangan dipendem. Nanti juga bakal ada Tim Medis yang jaga. Baik dari fakultas atau univ," Dimas menambahkan.


"Oh iya, buat Kayvan, habis presensi ke GOR langsung ya. Sama Freya juga. Udah ada arahan dari panitia univ buat ke sana sekarang," kata Dimas kemudian.


"Saya sudah presensi Mas Dimas," kata Kayvan.


"Bagus!"


"Loh, kok Kai udah disuruh ke sana aja Mas?" tanya salah satu maba Gugus 19 bernama Doni.


"Nanti kalian juga tahu," jawab Dimas sok misterius.


"Enaknya..." komentar yang lain.


"Ah elah Mas, spill dong..."


"Temenmu kan kepilih jadi Duta Kampus. Jadi ya harus ke sana dulu buat tugas pertamanya. Ngomong-ngomong, selamat ya Kai," kata Dimas.


Pemandu dan maba yang lain ikut memberi selamat. Beberapa pemandu dan maba gugus lain yang mendengarnya juga ikut memberikan selamat kepada Kai.


"Makasih semuanya. Doakan semoga bisa amanah," ujarnya sambil tersenyum.


"Pasti bro!" sahut Ojan. Diikuti yang anggukan kepala yang lain.


"Yuk Kai," Dimas menganggukkan kepala ke Kayvan. Mengisyaratkan agar segera bergeas.


Cowok itu mengikuti Dimas ke arah dekat aula besar. Di sana sudah ada Freya dan pemandunya, ketua Isimaja FT alias Naufal, dan Aylin.


Kai melihat penampilan Aylin yang sedikit berbeda karena mengenakan kemeja hitam yang sedikit kebesaran untuknya. Tidak, bukan sesuatu yang buruk kok. Tenang.


"Oke, karena sudah ngumpul, jadi bisa langsung ke GOR," ujar Naufal.


"Ngomong-ngomong, atribut kalian bisa disimpan dulu di tas."


Lalu Freya dan Kai melepas nametag dan hiasan kepala mereka dan menyimpannya ke dalam tas serut berlogo Isimaja FT yang mereka pakai.


"Nanti bakal di briefing di GOR buat serah terima. Ada latihannya bentar kok jadi kalian nggak bingung," kata Naufal memberitahu. Kai dan Freya mendengarkan baik-baik.


"Kalian nanti diantar ke sana sama salah satu Tim Perkap pakai mobil biar cepat. Kalian bakal didampingi Alin juga ke sananya sekalian standby di sana buat tugas. Ada yang ditanyakan?"


Kedua Duta Kampus terpilih menggeleng.


"Semangat!" ujar Naufal tersenyum sambil mengepalkan tangannya.


Kai dan Freya tersenyum yakin dan mengangguk.


"Terima kasih, Kak."


Aylin lalu mengisyaratkan mereka berdua untuk berjalan mengikutinya. Mereka berjalan menuju gerbang selatan dalam keadaan hening. Hanya ada suara HT yang dipegang Aylin yang mengisi keheningan.


Di gerbang selatan, sudah ada mobil yang menunggu di sana. Seorang anggota perkap sudah menunggu mereka.


"Udah semua Lin?" tanya Faishal, anggota perkap, yang ditugaskan mengantar mereka.


"Ya udah, yok masuk," kata Faishal yang kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di jok pengemudi.


Aylin duduk di jok depan di sebelah pengemudi. Sementara Kai dan Freya duduk di belakang mereka.


Selama perjalanan, suasana tidak sehening sebelumnya. Faishal mengobrol dengan kedua maba yang terlihat agak gugup itu. Sementara sang ketua TPK sibuk dengan HT-nya. Sesekali terdengar memberikan arahan entah kepada siapa melalui alat itu.


Mereka sampai di GOR dengan waktu yang relatif singkat. Sekali lagi, Aylin mengisyaratkan Kai dan Freya untuk mengikutinya ke dalam GOR. Mereka masuk lewat pintu masuk sebelah timur. Di mana belakang panggung berada.


"Akhirnya Duta Kampus baru kita datang...!" seorang cewek yang memakai tanda pengenal panitia Isimaja universitas menyambut dengan cukup heboh.


Selain panitia yang berlalu-lalang mengecek persiapan, di sudut dalam GOR di dekat panggung untuk para jajaran rektorat, ada beberapa panitia yang tidak dikenal dan tentu saja duta kampus tahun lalu, Pasha dan Cindy yang mengenakan pakaian formal. Di mana Pasha mengenakan jas hitam dan Cindy mengenakan dress brokat berwarna pastel. Rambut cewek itu juga digelung sedemikian rupa.


Kedua Duta Kampus tahun lalu itu yang menjadi MCR Isimaja tahun ini.


"Buat Kayvan dan Freya," Aylin berujar ke juniornya. "Dengarkan arahan mereka. Nanti ketika sudah selesai, bakal dijemput sama salah satu TPK buat diarahkan ke gugus kalian. Paham?"


"Baik, Kak."


"Semoga berhasil."


Setelah berkata begitu, Aylin lalu berlalu pergi untuk melakukan tugasnya. Kai menatap kepergian seniornya itu selama beberapa saat. Entah apa yang cowok itu pikirkan.


Kemudian, dirinya dan Freya diberikan briefing oleh panitia yang bertugas. Di mana mereka nanti menjadi perwakilan maba saat serah terima dan ketika diumumkannya secara resmi sebagai Duta Kampus berikutnya di depan jajaran rektor dan semua maba.


Untungnya, mereka tidak perlu melakukan sambutan.


Tugas pertama Kai dan Freya hanya sebagai perwakilan maba untuk saat ini. Baru nanti setelah segala rangkaian inaugurasi selesai, mulai dari jurusan sampai univ bahkan UKM dan ormawa, Kai dan Freya bisa mulai tugas mereka sebagai Duta Kampus terpilih secara resmi.


.


.


.


"Karena sudah pukul enam seperempat menit, kita siap-siap ke GOR. Jangan lupa barisnya per gugus tiga banjar! Biar nggak memenuhi jalan," kata Galang melalui toa pelantang.


Setelah tadi ada briefing singkat dari Galang dan Seno serta pemanasan dengan menyanyikan beberapa yel-yel, akhirnya sudah tiba saatnya untuk berangkat ke GOR.


"Dari gugus satu lebih dulu, baru diikuti gugus berikutnya. Pulangnya nanti kebalikannya. Siap gaes?"


"SIAP KAK!"


"Bagus! Jangan lupa semangatnya biar nggak kalah sama fakultas lain!"


"BAIK KAK!"


Kemudian, panitia mengarahkan maba untuk mulai berjalan pergugus. Di dampingi pemandu mereka dan TPK, para maba berlari kecil menuju GOR di area Fakultas Olahraga.


Sepanjang perjalanan, para maba FT ini menyanyikan yel-yel Jawara. Bahkan sampai menjadi tontonan warga sekitar, orang lewat, atau mahasiswa lain yang melihat mereka.


"Kami ini jawara!" Galang memimpin yel-yel mereka menggunakan toa pelantang. Cowok itu berlari kecil di sebelah gugus tujuh.


"RAJAWALI UTARA!" para maba menyahuti.


"Siap membangun bangsa!"


"TUK INDONESIA JAYA!"


Mereka melewati empat fakultas untuk sampai ke GOR. Ada FGK, Fisipol, FMIPA, dan FBS. Mereka juga bersisian sebentar dengan barisan Menwa yang juga sama-sama berjalan tegap menuju GOR saat melewati gedung Student Centre. Derap langkah Menwa terdengar tegap dan keras. Baru mereka sampai di wilayah FO setelah lima belas menitan berlari kecil.


Mereka lewat jalan di dalam area kampus, jadi hanya butuh waktu lebih cepat daripada harus memutar lewat pinggir jalan raya.


Dari luar GOR, sudah terdengar sayup-sayup sorakan maba fakultas lain yang sudah hadir. Membuat semua maba FT semakin bersemangat untuk Isimaja hari ini.


Mereka lalu diarahkan oleh TPK ke pintu masuk yang sudah ditandai dengan nama fakultas. Terlihat tidak hanya TPK FT yang berjaga, tetapi TPK fakultas lain. Dresscode mereka sama, yaitu mengenakan pakaian hitam-hitam.


"Ayo dek, jalannya agak dipercepat!" kata salah satu TPK yang mengarahkan mereka.


"Ayo, ayo, ayo!"


Setibanya di dalam GOR, mereka kembali di arahkan oleh TPK yang berjaga untuk pemlotingan tempat mereka sesuai gugus. Di mana gugus satu berada di tribun paling atas diikuti gugus berikutnya.


FT menguasai tribun sebelah barat. Pas mendapatkan view panggung dari depan. Bersisihan langsung dengan Fisipol di sebelah kiri, dan FO di sebelah kanan. Banner dengan loga Isimaja Fakultas Teknik menggantung di atas mereka. Banner serupa juga terlihat di fakultas lain. 


Ada tribun yang masih kosong karena beberapa fakultas yang belum sampai di GOR. Sementara di bawah, di lapangannya, sudah tertawa rapi kursi-kursi dalam jumlah sangat banyak menghadap panggung di timur GOR. Sebuah jalan berkarpet merah membagi dua deretan kursi-kursi itu.


Tribun di sebelah timur GOR memang dibiarkan kosong untuk protokoler karena jatuhnya dibelakang panggung. Itulah sebabnya, sebagi gantinya, kursi-kursi di pasang di lapangan.


"Excited banget nggak sih rasanya?" kata Ojan. Neo yang duduk di sebelahnya mengangguk bersemangat. Hilang sudah rasa gugup cowok itu tadi pagi.


"Euforianya mulai kerasa pas mau masuk GOR tadi, " kata Neo.


"Kira-kira Kai di mana ya?" tanya Teo yang duduk di belakang mereka.


"Nggak tahu," jawab Ojan. "Tapi balik ke sini kan ya nanti?"


"Iyalah pastinya," sahut Ridwan yang duduk di sebelah Teo. Mereka berempat duduk di dekat tangga. Gugus 19 mendapat bangku di tengah-tengah.


"Iya. Balik ke sini kok nanti," Dimas menimbrung menimpali. Cowok itu yang mendapat shift pertama untuk mendampingi Gugus Jayapura di dalam GOR.


"Kirain nggak bakal ke sini lagi, Mas, hehe..." kata Ojan.


"Kan ikut upacara Ospek juga sama seperti kalian."


"Oh... kirain punya privillage gitu karena jadi Duta Kampus, Mas," kata Neo.


Dimas menggeleng. "Nggak ada privillage. Mau itu nanti ketua BEM, Duta Kampus, atau Mapres, sama aja."


"SELAMAT DATANG MABA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HAYAM WURUK...! " sebuah suara, kemungkinan dari MC, menyambut para maba FT yang semua sudah duduk di tribun.


"SALAM JAWARA!" dibalas oleh maba Teknik.


Salam itu juga dibalas oleh fakultas lain yang sudah hadir dengan salam mereka masing-masing.


Satu persatu fakultas lain mulai berdatangan. Mengisi tribun dan kursi yang semula kosong. Terlihat jelas kalau FBS adalah fakultas dengan pasukan terbanyak selain FT di UHW.


Setiap fakultas lain masuk, seorang MC entah siapa, menyambut mereka dengan ucapan selamat datang. Di balas dengan sorakan atau teriakan salam yang menggema dari fakultas yang disebut.


Setiap kali ada fakultas yang mengucap salam, fakultas lain menimpali dengan salam mereka.


Di lapangan, diisi oleh FEB, Fakultas Pertanian, FK, FKH, dan pascasarjana. Banner masing-masing fakultas itu di pasang di dinding pembatas tribun.


Semua banner dan hiasan di GOR melambangkan fakultas masing-masing di UHW. Bahkan di panggung, bendera dengan warna masing-masing fakultas dan logo UHW berjejer dengan rapi.


Terlihat Galang berdiri di atas meja di tribun bawah. Cowok itu mengenakan clip mic. Begitupun korlap lainnya.


"Oke gaes, kedengaran nggak suaraku?" Galang memulai di sela-sela suasana tribun yang ramai.


"Nametag sama hiasan kepalanya dilepas dulu ya! Dipakai lagi setelah acara serah terima. Nanti tunggu aba-aba buat memakainya lagi," cowok itu mengeraskan suaranya. Korlap lain yang sudah menempatkan diri di beberapa titik menyampai kembali hal serupa dari Galang. Memastikan semua maba mendengar arahannya.


"Hari pertama itu resmi dari rektorat. Jadi nggak begitu banyak kesempatan buat yel-yel. Jadi euforianya ditahan dulu selama acara. Baru pas dikasih waktu dari MC buat yel-yel, kita gaskan, oke?"


"Oke, Kak!"


"Siap, Kak!"


"Baik!"


"Sip!" Galang mengacungkan jempolnya.


"Besok ya, pas hari kedua pas display UKM, kita gaskan. Jangan kasih kendor!"


"SIAP, KAK!"


Tidak berapa lama kemudian, ketika semua jajaran rektorat telah hadir, Isimaja hari pertama lalu dibuka oleh duta Kampus tahun lalu, Pasha dan Cindy.


.


.


.


.


.


.


a.n.


pendek dulu ya, biar nggak kepanjangan


btw, mumpung bisa up mayan cepet dari biasanya. karena habis ini mungkin mau fokus ke tugas lain di rl dulu, baru bisa lanjut ke chapter berikutnya


and yes, aku gambarin suasana ospek di sini kayak pas aku ospek dulu di GOR. pokoknya sampai dalam GOR (bahkan diluarnya pun) euforianya udah terasa banget. jadi kangen...


semoga gambarannya tersampaikan ya ^^


see you on the next part^^