Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
First Step



step (n): an act or movement of putting one leg in front of the other in walking or running


.


.


.


[baru minor editing, part pendek]


.


.


.


Tidak disibukkan dengan kegiatan Isimaja yang sudah berlalu beberapa hari rasanya sangat aneh. Terbiasa bangun pagi-pagi, memakai dresscode, jalan ke kampus saat matahari belum terbit, mengecek penugasan, sarapan ala kadarnya bahkan sampai tidak sempat sarapam juga terjadi, dan menunggu gerbang dibuka oleh TPK.


Sejak empat hari ini, rutinitas itu sudah tidak berlaku. Sepuluh hari lagi adalah hari pertama kuliah dimulai. Semester baru dimulai.


Bagi para maba, mereka tak sabar menunggu hari di mana mereka resmi menjadi mahasiswa dan mengikuti perkuliahan.


Berbeda dengan para senior, mulai dari tahun kedua dan seterusnya, hari pertama kuliah tidak semenarik rasanya saat mereka masih maba. Libur panjang akan berakhir dan diganti rutinitas kuliah yang makin hari makin meningkat levelnya.


Apalgi senior yang sedari awal sibuk di kepanitiaan hanya mendapatkan waktu libur sedikit.


Hari ini, Kayvan akan pergi ke kampus untuk mengikuti kegiatan silaturahmi yang diadakan rohis FT. Agenda tahunan yang memang ditujukan untuk para maba muslim. Tiap fakultas punya agenda tersebut, hanya namanya saja yang berbeda.


Kai tidak sendirian. Dia mengajak Ridwan dan Ojan. Awalnya, Ojan tak mau datang dan lebih memilih rebahan di rumah saja—dia tidak lagi menginap di asrama sepupunya. Namun, Kai tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Apalagi Ojan sudah kepalang daftar saat pengumpulan formulir daftar ulang dulu.


Pukul delapan, ketiganya sudah berada di aula besar. Tempat diadakannya acara itu. Setelah melakukan registrasi dan diberikan pin berlogo nama kegiatan silaturahmi, Kai, Ojan, dan Ridwan mengambil tempat duduk.


Cukup banyak juga yang datang. Meski tidak semua maba muslim FT, tetapi setidaknya terbilang banyak. Acara seperti ini, yang berbau-bau agama, entah kenapa cukup sepi peminat. Padahal tidak ada ruginya juga meluangkan waktu satu jam dua jam untuk datang.


Kayvan tipe orang yang berprinsip selama kegiatan itu positif dan dia bisa belajar darinya, dia akan dengan senang hati ikut berpartisipasi. Asalkan kegiatan itu juga tidak menyimpang dari prinsip dan komitmennya selama ini.


Sedangkan Ridwan sejak SMA dan mengenal Kai, sudah terbiasa diajak sahabatnya itu untuk mengikuti acara-acara seperti ini. Dia tidak keberatan. Toh tidak ada ruginya juga. Bahkan, Ridwan sangat berterimakasih pada Kai karena masih tetap mengajaknya.


Kalau Ojan dia termasuk orang yang kadang-kadang. Kadang-kadang mau diajak dan kadang-kadang malas. Namun, lebih sering malasnya. Untungnya Kai berhasil mengajaknya.


Malah sekarang ini Ojan terlibat aktif di acara gim yang diarahkan panitia. Bahkan sampai mendapatkan doorprize.


Pembicara yang diundang juga asik. Merupakan alumni juga dan dulu memang pernah menjabat sebagai ketua rohis FT. Topik yang dibicarakan terdengar sepele, tetapi punya makna yang dalam.


Orang itu mampu membius peserta yang hadir untuk menyimak materi yang dia sampaikan. Benar-benar banyak hal yang bisa diambil pelajarannya dan memotivasi semua yang ada.


Hiburan yang disajikan memang tak jauh-jauh dari kata islami. Namun, tentu saja hal yang lumrah ada di kegiatan seperti ini.


Semua terlihat bersenang-senang. Lalu berfoto bersama sebagai penutupnya.


"Dapat apa Jan kau tadi?" tanya Ridwan. Mereka bertiga tengah dalam perjalanan pulang. Ojan ikut mereka untuk main ke asrama. Katanya di rumah sedang kosong. Kedua orang tuanya ada acara di rumah kerabat dan kakak perempuannya pergi kerja. Jadi daripada gabut di rumah, lebih baik main keluar.


"Dapat kaos nih, lumayan bisa dipakai," kata Ojan sambil menunjukkan isi hadiah yang dia dapatkan tadi. Sebuah kaos berwarna merah marun dengan logo rohis FT berwarna emas.


"Mampir warung dulu berarti? Si Teo sama Neo kan tadi nitip jajan," kata Ojan memastikan.


"Iya," Kai mengangguk. "Pakai uangku dulu aja. Nanti urusan bagi-bagi buat patungannya belakangan aja. Aku mau ke sana dulu buat beli es kopi."


Kai menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke Ojan. Sebelum dirinya berjalan menuju kedai minuman yang tak jauh dari mereka berada.


"Kai, nitip juga satu," seru Ridwan.


Kai mengangguk mengiyakan. Lalu dia bertanya pada Ojan mau nitip juga atau tidak.


"Nggak ah. Nanti aku beli aja di warung sekalian," jawabnya.


Ada beberapa orang yang tengah mengantre di kedai minuman itu. Kai lalu langsung ikut mengantre di belakang mereka. Beberapa kursi yang disediakan di sana sudah terisi penuh oleh mereka yang sedang menikmati minuman dan jajanan yang dibeli. Jadi terpaksa dia berdiri bersama beberapa orang lainnya.


Sambil menunggu, Kai memutuskan untuk membuka ponselnya. Tak lupa sesekali mengecek apakah sudah hampir tiba gilirannya atau belum.


"Alin!"


Kai mendongak ketika mendengar nama seniornya disebut. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan penasaran.


Sampai matanya menemukan sosok seniornya yang berada tak jauh darinya tengah berbincang akrab dengan seseorang. Kalau tak salah ingat, orang itu adalah salah satu panitia di rohis saat acara tadi. Terlihat dengan masih mengenakan dresscode panitia.


Kai terkesima melihat keakraban mereka. Cewek dengan hijab lebar itu terlihat begitu akrab dengan Aylin. Dan seniornya itu juga terlihat tidak canggung.


"...kok nggak mampir dateng tadi? Kata Syifa katanya mau mampir," samar-samar Kai mendengar percakapan mereka.


"Maaf Van, malah nggak jadi. Rima lagi sakit tadi, asrama juga lagi sepi. Jadinya yah..."


"Ya ampun, innalillahi... cepet sembuh ya buat Rima. Nanti aku mampir ke kamar ya, habis ini."


"Boleh..."


Kai lalu kembali mengalihkan pandangannya saat dirinya ternyata sudah ada di depan meja pemesanan. Cowok itu lalu mengatakan pesanannya,


Dia mengamati dekorasi khas di kedai minuman ini sambil menunggu pesanannya dibuatkan.


Kai tak menyangka kalau hari ini dia akan bertemu Aylin. Sebuah kebetulan yang tak terduga. Namun juga bukan hal yang Kai sesalkan.


"Mas! Titipan pesananku tadi udah jadi?"


Baru saja dia pikirkan, orangnya tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Kai menoleh dan mendapati Aylin dengan pakaian kasual—kaos lengan panjang polos, rok di bawah lutut, dan sandal—serta rambut yang dikucir rendah. Dia tengah menenteng kantong kresek bening berisi dua sterofoam yang sepertinya berisi makanan.


Benar-benar berbeda dari penampilan Aylin waktu jadi TPK.


Dan sepertinya seniornya ini belum menyadari keberadaannya.


"Oh, es susu stroberi tadi 'kan? Udah dek," kata penjualnya. Lalu menyerahkan pesanan Aylin sambil menerima uangnya.


Ketika menoleh, cewek itu tak sengaja bertatap muka dengan juniornya. Matanya membulat terkejut. Buru-buru dia menyembunyikan minuman yang dipesannya di balik punggung.


Sayangnya, Kai sudah melihat hal itu. Cowok itu mengerling jahil ke arah Aylin. Namun, dibalas pelototan galak oleh sang senior.


Kai hanya terkekeh geli. Lucu sekali seniornya ini.


Menggemaskan.


"Apa kabar Kak Aylin?" tanya Kai basa-basi.


Aylin hanya mendengus mendengarnya. Namun, dia tetap menjawabnya meski terkesan ogah-ogahan.


"Seperti yang kau lihat."


"Saya baru tahu kalau Kak Aylin suka susu stroberi," katanya sambil tersenyum. Kalau boleh jujur, sebelumnya Kai mengira Aylin itu bukan tipe orang yang suka minuman manis. Iya, kesan pertama sebagai ketua TPK yang galak dan ditakuti membuatnya berpikiran begitu.


Namun, setelah tiga kali ini tahu kalau Aylin suka membeli minuman manis, membuatnya meralat penilaiannya. Mungkin seniornya ini memang suka minuman manis.


"Masalah?" Aylin mengangkat sebelah alisnya.


Kai menggeleng. "Tidak sama sekali."


Dia lalu menatap Aylin dengan penuh. "Saya pikir itu justru membuat Kak Aylin terlihat semakin manis." ...di mata saya.


Kai menahan tiga kata di belakang ucapannya.


"OI!" seru Aylin salah tingkah mendengar perkataan nyeleneh juniornya. Matanya menyorot tajam. Namun, bagi Kai, Aylin terlihat tidak menyeramkan sama sekali.


Malah terlihat lucu.


Hei, Kayvan, apakah kau sadar apa yang kau pikirkan itu?


"Kau—!" Aylin bahkan sampai tidak bisa berkata-kata menanggapi perkataan Kayvan. Dia lalu menghela napas dengan kasar.


"Kau itu menjengkelkan sekali ya?"


Kai hanya tersenyum. Tidak merasa tersinggung dengan perkataan Aylin.


"Sudahlah," kata Aylin kemudian. "Bikin bad mood aja. Aku pergi."


"Tunggu Kak Aylin!"


Aylin membalikkan badan dengan enggan. "Apa lagi?"


"Soal perjanjian itu..."


"Oh iya!" tukas Aylin seolah baru ingat sesuatu.


"Cepat katakan apa yang kau mau?" tanyanya tak sabaran. Dia benar-benar tidak rela. Tidak mau berurusan lagi dengan junior di depannya ini. Sayangnya, janji adalah janji.


Dan Aylin kesal karena itu.


Kayvan terdiam sejenak, terlihat berpikir. Membuat Aylin tambah geregetan tak sabar.


"Saya belum tahu, hehe..." Kai cengengesan.


"Ish!" raut wajah Aylin berubah masam seketika.


"Bolehkah saya minta nomor Kak Aylin?" tanya Kai kemudian.


"Biar nanti saya bisa mengabari kakak langsung kalau saya sudah tahu apa yang saya inginkan," jawab Kai dengan kalem.


"Kita nggak tahu bisa secara kebetulan bertemu seperti ini lagi kapan," tambahnya memberi alasan.


Aylin terdiam. Terlihat berpikir. Kedua alisnya mengkerut. Dia mempertimbangkan permintaan Kayvan matang-matang. Antara pro dan kontra.


Setelah berdebat dengan dirinya selama beberapa saat, akhirnya, dengan tidak rela, Aylin memberikan nomornya ke Kayvan.


Tak lupa dengan ancaman agar juniornya itu tidak macam-macam. Setelah itu, Aylin pergi dari tempat itu. Bertepatan dengan pesanan Kai yang sudah jadi.


Kai tersenyum sepanjang jalan menuju tempat Ridwan dan Ojan menunggu. Bahkan setelah bertemu dan Kai memberikan minuman pesanan Ridwan, senyum tak lepas dari wajahnya.


Hal yang membuat Ridwan dan Ojan keheranan.


"Kau kelihatan bahagia sekali..." komentar Ridwan dengan kalem.


"Pasti habis ketemu seseorang 'kan?" Ojan menebak-nebak. "Siapa hayo!"


Kai tutup mulut. Tidak berniat untuk memberitahu Ojan siapa yang dia temui tadi.


"Sudahlah," kata Kai kemudian. "Lebih baik kita segera balik ke asrama."


.


.


.


"Ayok piknik!" seru Rima tiba-tiba.


"Bukannya kemarin kau habis sakit ya?" tanya Taufan tanpa menoleh. Cowok itu tengah fokus pada kartu uno di tangannya.


Kelima sekawan ini tengah bersantai-santai di salah satu gazebo FT. Taufan, Naufal, dan Budi sibuk bermain uno, Aylin sibuk dengan komiknya sambil sesekali membalas pesan di ponselnya, dan Rima yang sejak tadi hanya gabut dan sesekali mengeluh keras.


"Kan kemarin," jawab Rima. "Sekarang udah sembuh. Dan suntuk banget lek! Gabut nggak ada kegiatan. Kuliah juga baru dimulai minggu depan."


Kondisi FT memang cukup lengang. Tidak seramai saat TM dan Isimaja kemarin. Apalagi saat kuliah nanti.


Benar-benar sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa, dosen, dan karyawan yang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.


"Yaudah, yuk piknik!" seru Naufal tiba-tiba. Sekaligus mengakhiri permainan mereka karena Naufal yang menang. Terdengar erangan kesal dan sumpah serapah dari mulut Budi. Taufan tetap terlihat santai karena setidaknya dia tidak kalah dari Budi.


"Jan**k kalah meneh. Uwis lah!" seru Budi dengan kesal. [Kalah lagi. Udah lah]


Naufal tersenyum dengan pongah. Bisa sombong dia karena empat kali bermain, Naufal selalu menang.


"Lah kau sendiri yang nantangin si Nopal main uno. Udah tahu dia jago," kata Taufan tak habis pikir.


Iya, Naufal memang pandai bermain uno. Aylin sendiri saja tidak paham cara memainkannya. Makanya dia sangat jarang ikut kalau sohib-sohibnya ini main uno. Iya, dia noob kalau masalah permainan itu dibanding keempat yang lain. Aylin akui itu.


"Gabut weh," Budi membela diri.


"Makanya ayo kita piknik berlima," Rima tetap keukeuh dengan ajakannya.


"Gas!" timpal Taufan. Dia membereskan kartu uno dan memasukkannya ke wadahnya. Kartu itu Budi yang ambil dari pos satpam. Dengan sok tadi cowok itu menantang Naufal main uno.


Hasilnya bisa dilihat sendiri 'kan?


"Yok, yok, yok! Mau kemana nih kita?" Budi ikut menimbrung. Dia sudah melupakan kekesalannya barusan.


"Yang deket aja," kata Naufal. "Jurusan kan masih nyiapin buat acara sikrab makrab masing-masing 'kan?"


"Oh iya. Masih ada makrab," kata Rima seolah baru ingat.


Makrab atau sikrab tiap jurusan biasanya diadakan di minggu kedua atau ketiga kuliah. Masing-masing jurusan punya kebijakan sendiri terkait pelaksanaannya. Baru nanti di minggu keempat atau kelima ada kegiatan sikrab atau makrab dari UKM dan ormawa.


"Kalau gitu ke GK aja," usul Rima. GK itu singkatan dari Gunung Kidul. Salah satu kabupaten di Jogja yang terkenal dengan wisata pantainya.


"Udah pernah," tukas Budi.


"Ih, aku belum!"


"Lah pas acara Hima kan ke GK tahun lalu? Oh iya, kau kan nggak ikut," kata Budi meremehkan.


"Kasian..."


"Heh! Aku kan waktu itu ada acara ya," sahut Rima tidak terima.


"Podo wae ra melu... Huuu!" [Sama aja nggak ikut]


"Hadeh... mulai lagi," komentar Taufan dengan jengah.


"Udah, udah! Kita besok ke GK aja," Naufal memutuskan.


"Yes!" seru Rima dengan wajah berseri. Tak lupa menjulurkan lidah mengejek ke arah Budi dan hanya dibalas cibiran oleh cowok bermata sipit itu.


"Pakai mobil?" tanya Taufan. "Atau mau pakai motor biar lebih berasa kayak trip-trip gitu."


"Mobil aja," tukas Budi. "Pakai punya si Nopal. Yakali muter-muter GK pakai motor. Tepos entar."


"Nggak bakal dipakai sama bapak kan ya, Pal?" tanya Rima ke Naufal.


Naufal terlihat berpikir. "Kayaknya nggak. Bapak nggak ada bilang mau dinas keluar kota. Nanti aku tanyakan lagi aja deh."


Rima mengangguk.


"Gimana? Setuju 'kan ke GK?" tanya Taufan. Semua mengangguk mengiyakan.


"Woy, Lin!" seru Budi ke Aylin yang masih bermain ponsel.


"Iya, iya. Aku dengar kok dari tadi," balas Aylin tanpa menoleh. "Aku setuju ke GK. Manut lah pokok e." [ngikutlah intinya]


"Sibuk amat Lin," komentar Taufan sambil mencoba mengintip ke ponsel Aylin. Namun, dihalangi oleh Aylin.


"Dari tadi kayaknya sibuk chatingan. Sama siapa hayo..."


"Apa sih!" tukas Aylin sewot. Dia lalu mematikan ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku.


"Nggak sama siapa-siapa."


"Tapi ekspresimu dari tadi cemberut tuh," kata Budi. "Pasti ada udang di balik bala-bala."


"Nggak..." sangkal Aylin.


"Ciyeee! Aylin punya cem-ceman...!" seru Rima.


"MANA ADA!" kali ini Aylin ngegas menyahutnya.


"Cuman orang iseng ganggu kok."


"Berarti bener chatingan dong... ihiir..!" goda Taufan.


"Aduh... aduh... anak piyik udah besar," Budi ikut mengompori.


"Iseng apa iseng tuh..." Rima manambahkankan dengan senyum jahil.


Naufal hanya tertawa terbahak melihatnya. Sama sekali tidak berniat membantu Aylin yang kini berwajah masam dengan wajah sedikit memerah entah sudah kepalang kesal atau malu. Mereka suka sekali menggoda Aylin. Jarang-jarang juga soalnya.


Apalagi setelah berbulan-bulan mereka terlalu fokus dengan Isimaja.


"Dua hari lagi kita berangkat ya! Besok buat persiapan," Naufal berkata kemudian.


"Oke!"


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


waduh modusnya kai wkwk, hilalnya udah mulai nampak jelas. tinggal yang yang satunya peka atau nggak


aku lupa kalo udah seminggu nggak up, maafkan.


untuk part ke depan, mungkin, akan lebih fokus ke Kai dan Aylin. tapi tetap ada selingan lain juga


see u..