Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Hypothesis



hypothesis (n): a supposition or proposed explanation made on the basis of limited evidence as a starting point for further investigation


.


.


[baru minor editing, maaf kalau aneh]


.


.


.


Mendekati puncaknya festival FT membuat suasana kampus jadi lebih ramai. Stand-stand yang ada terlihat sibuk melayani pelanggan. Baik dari anak FT sendiri maupun yang dari luar FT.


Tak jauh dari panggung mini dan aula besar, terlihat gerombolan yang terlihat cukup tak biasa. Gerombolan yang tak jarang menarik perhatian anak-anak FT yang berlalu lalang. Mereka terlihat penasaran dan cukup heran dengan pemandangan yang ada.


Kenapa bisa begitu?


Pasalnya, dalam gerombolan itu terdiri dari geng yang sudah dikenal di kalangan anak-anak FT. Geng yang terlihat agak mustahil tetapi nyatanya terjadi juga untuk berkumpul dan bercengkerama dengan akrab.


Lima sekawan alias Aylin dan kawan-kawan.


Dan yang satunya adalah geng anak-anak maba, Kayvan and the gang.


Banyak yang berpikir Aylin dan Kayvan tidak akan terlihat seakrab ini mengingat riwayat mereka selama Isimaja. Namun, beberapa minggu terakhir memang keduanya terlihat cukup akrab.


Namun tetap saja, banyak yang belum terbiasa.


Dalam gerombolan itu juga ada Frans dan Bimala. Bahkan ada Trio Gila yang lain alias Pasha dan Maul di sana!


Perihal Trio Gila yang terkadang menyambangi FT memang sudah jadi pemandangan biasa. Apalagi ketika mereka bertemu dengan Frans dan kawan-kawannya.


Namun, kali ini melihat geng dari tiga angkatan berbeda berkumpul cukup menyita perhatian orang-orang.


Pemandangan tidak biasa, tetapi juga tidak terlalu mengejutkan.


Sementara di sisi mereka, mereka terlihat tidak peduli, bahkan mungkin tidak sadar dengan efek yang dihasilkan.


Sebenarnya ada Pandu dan Nana yang tadi berkunjung buat melihat penampilan Aylin dan Frans. Namun, keduanya kini memilih berkeliling dulu, sekalian cari makan siang. Mumpung di sini katanya.


Teman-teman Kayvan, apalagi Neo, sudah merasa tidak canggung lagi—meski belum bisa dibilang sangat akrab—dengan Naufal dan yang lain.


Sebenarnya, pada awal-awal itu Neo dan Ojan masih agak takut-takut. Apalagi berhadapan dengan Aylinb.


Namun, Budi dengan isengnya bilang, "Nggak usah takut. Nggak menggigit kok. Kecuali kalau kalian nggak ngasih sesajen—"


Kepala Budi waktu itu langsung ditoyor Aylin. Cewek itu berujar, "Sembarangan."


"Nggak usah dengerin makhluk gaib yang satu itu. Santai aja. Kita bukan lagi di ospek."


"Hoi!"


Dengan begitulah, perlahan Neo dan Ojan mulai lebih santai.


Kembali ke hari ini. Begitu berkumpul setelah penampilan Frans dan Aylin selesai, mereka, para junior dan senior itu sudah ada bahan obrolan.


Apalagi Budi, Ojan, dan Neo kalau sudah bertemu. Ketiganya ternyata satu frekuensi.


Yang lainnya hanya mengobrol biasa dan ada yang memilih diam mendengarkan. Tak lupa berkenalan dengan Trio Gila bagi yang belum kenal.


Naufal, Taufan, dan Teo yang membahas tentang ketua angkatan dan tugasnya. Naufal adalah ketua angkatan tahun ketiga. Di sebelah Teo, Ridwan memilih diam mendengarkan.


Rima yang mengobrol dengan Trio Gila dan Frans entah membahas apa.


Bahkan mereka sepertinya tidak menyadari kalau Kayvan dan Aylin sempat menyelinap pergi sebentar sebelum kembali lagi.


Ingat di mana Kayvan marah dan cemburu melihat kedekatan Aylin dan Frans? Iya, saat itu.


"Nggak nyangka ya kita ngumpul personil lengkap gini," celetuk Taufan. "Ada Frans sama Trio Gila juga. Kedua kali ini bukan sih kita nggak sengaja kayak gini?"


"Iya Bang," sahut Teo. "Pertama kali dulu pas nggak sengaja ketemu di pantai."


Mereka lalu membicara hal random lain. Dari topik satu ke topik yang lain.


Bahkan sampai membahas soal lagu kenangan ketika lagu itu diputar oleh panitia festival yang bertugas.


Di mana Bimala berkomentar soal Aylin yang cukup tahu lirik lagu-lagu jadul yang diputar. Fakta yang cukup menarik dan baru karena tidak banyak orang yang tahu.


"Weleh... hafal betul sama lagu-lagu jadul," celetuk Budi.


"Ya gimana tidak kalau tiap di rumah bapak sering banget muter lagu kenangan. Ibuk juga."


"Aku juga suka kok," Taufan menimpali. "Enak aja di telinga. Hawanya jadi kayak nostalgia masa-masa kecil."


Aylin dan Teo mengangguk setuju.


Obrolan berlanjut dengan mengomentari penampilan Frans dan Aylin tadi. Pasha mengaku dia cukup terkejut mendengar Aylin ternyata punya suara bagus. Yang disetujui para maba.


Membuat Aylin merasa kurang nyaman dengan perhatian yang ada.


"Si Alin emang bagus suaranya. Dianya aja yang emang nggak mau nunjukin," ucap Bimala.


"Mau tak kasih lihat video kami nggak? Nana, adek sepupu kami yang kalian temui tadi, dia suaranya nggak kalah bagus juga. Video udah hampir setahun lalu."


Bimala lalu mengeluarkan ponselnya guna menunjukkan video yang dimaksud. Aylin yang curiga, memperhatikan video apa yang dimaksud Bimala.


Matanya membulat terkejut saat tahu video apa yang diputar Bimala.


"Mala!" dia berusaha merebut ponsel Bimala, bermaksud menghentikan video itu diputar.


Namun, Budi yang sudah kepalang penasaran dengan gesit mengambil alih ponsel itu dan menjauhkannya dari jangkauan Aylin. Kini ponsel Bimala ada ditangan Budi. cowok sipit itu dikerebungi orang-orang yang penasaran.


Aylin sendiri sudah pasrah dan tidak berniat sama sekali untuk mendekat melihat video yang mereka tonton.


Video yang dimaksud Bimala adalah video yang direkam oleh Gio ketika mereka main ke rumah Nana. Bertiga, Nana, Bimala, dan Aylin menyanyikan lagu Flashlight milik Jessie J. Suara iringan piano yang dimainkan Nana terdengar sampai tempat Aylin duduk dengan wajah setengah ditekuk dan setengah menahan malu.


"And though the road is long, I look up to the sky and in the dark I found..."


Awal mula video itu diambil tidak begitu ingat. Yang jelas pada waktu itu mereka berempat sedang berkumpul di ruang keluarga rumah Nana. Di sana ada sebuah piano. Lalu entah Nana atau Bimala mengajak duluan yang membuat ketiganya ditambah Gio yang kadang ikut menyanyikan beberapa lagu.


Terkadang gantian Bimala yang mengiringi dengan memainkan piano. Cewek itu bisa bermain piano. Kalau di rumah Nana punya piano, di rumah Bimala dan Gio hanya ada keyboard.


Gio dan Bimala bukan orang yang benar-benar menekuni musik seperti Nana—sampai ikut band dan klub musik sekolah serta ikut les juga. Kedua kakak beradik itu hanya menggunakan sebagai hobi untuk mengisi waktu luang.


"Udah jadi darahnya ternyata," komentar Taufan begitu selesai menonton video. "Sekeluarga jago main musik gini, ya pantesan aja."


Yang lain terlihat memberikan pujian dan mengatakan kekaguman mereka.


"Lin," Budi menatap ke arah Aylin.


"Apa?" balas Aylin terkesan agak ketus.


"Bisa-bisanya ya dulu bilang nggak bisa nyanyi. Mbelgedes tenan..."


.


.


.


Festival FT berlangsung dengan sukses. Bahkan saat acara puncaknya pun berkesan bagi banyak orang yang datang.


Dan acara itu juga menandakan babak baru bagi Kayvan dan Freya sebagai duta FT baru.


Untuk ketiga kalinya, kali ini memang disengaja dan direncanakan, lima sekawan dan gengnya para junior—belum ada julukan khusus untuk menyebutkan Kayvan dan kawan-kawannya—berkumpul selepas kesibukan festival.


Berawal dari lima sekawan yang memang berniat nongkrong di tempat langganan untuk melepas penat, lalu Budi usul untuk mengajak para junior.


Alasannya adalah karena mereka 'kan sudah cukup akrab dan dekat, jadi tidak ada salahnya mengundang.


Rencananya bahkan sekalian mengajak empat serangkai alias Frans dan teman-temannya serta anak-anak lain seperti Enggar, Megan, dan yang lain.


Namun, ide itu buru-buru diprotes Taufan dan Rima.


"Woy! Kita ini cuman mau ke angkringan Pak Harjo bukan mau tawuran!"


"Plis deh Peng. Ini bukan acara gathering. Mending kalau ngajak banyak orang ke Third House sekalian aja daripada cuman ke angkringan."


"Udah, udah," Naufal akhirnya melerai mereka. "Daripada nggak jadi-jadi. Ngajak gathering-nya kapan-kapan aja. Saiki fokus nang angkringan. Nek meh ngajak geng-e Kai, gek ndang dijapri. Selak ngelih aku." [Sekarang fokus ke angkringan. Kalau mau ngajak gengnya Kai, cepat dijapri. Keburu lapar aku]


Pada akhirnya, angkringan Pak Harjo sore itu ramai dengan anak-anak FT yang datang. Lima sekawan yang sudah menjadi pelanggan tetap dan sekarang ditambah beberapa maba yang diajak Budi.


Kayvan dan teman-temannya. Ditambah Freya dan kedua temannya yang ikut dengan canggung yang pada akhirnya memilih menggerombol sendiri karena masih sungkan dengan para senior.


Meski Naufal dan yang lain juga sudah mengajak mereka bertiga buat bergabung, tetapi ketiganya memilih duduk di lesehan bersama pengunjung lainnya.


Canggung dan belum begitu kenal. Sebenarnya Freya oke-oke saja bergabung dengan para senior, sayangnya Rifa dan Maya yang belum mau.


Angkringan Pak Harjo memang sudah lebih luas daripada waktu dulu. Itu karena semakin banyak pembeli yang datang.


Harga murah meriah dan menu makanan yang menggugah selera menjadi salah satu faktornya.


Jadi, yang duduk di kursi adalah lima sekawan dan gengnya Kayvan, mengitari dua meja yang sengaja disatukan. Dengan yang diduduk bersebelahan di ujung adalah Budi dan Neo sedangkan ujung yang lain Aylin dan Kayvan.


Iya, kalian tidak salah lihat kok.


Bukan karena disengaja. Lagipula, teman-teman mereka juga sudah tahu kalau keduanya sudah bersikap civil to each other.


Sayangnya, kedua pemeran utama kita ini lebih banyak diam satu sama lain. Sesekali menimpali perkataan teman-teman mereka. Itupun Kayvan yang lebih aktif berbicara.


Bagi Naufal dan yang lain, sikap Aylin yang terkadang pendiam meski bersama mereka memang sudah jadi hal yang biasa. Jadi tidak ada yang aneh.


Mereka makan sambil berbincang. Sesekali Budi berbuat rusuh membuatnya mendapat jitakan dan tendangan dari Taufan dan Rima. Membuatnya menjadi hiburan bagi Kayvan dan lainnya yang menyaksikan mereka.


Di sisi lain, entah mereka memperhatikan atau tidak, Kayvan dan Aylin sesekali memberikan gestur kepada satu sama lain.


Di mana Aylin mengoperkan tisu pada Kai yang kejauhan atau ketika Kai memberikan minum ketika Aylin tersedak gara-gara joke receh Budi.


Baru setelah beberapa saat kemudian, ketika Kai dan Aylin memilih diam menghabiskan makanan mereka sambil mendengarkan teman-teman mereka berbicara—terkecuali Ridwan yang pada dasarnya memang lebih diam dari yang lain.


"Kalian berdua kayak orang pdkt," Budi tiba-tiba berceletuk iseng. Dia baru sadar kalau sahabatnya dan juniornya itu lebih banyak diam. Terkadang berbicara seperlunya satu sama lain.


Karena itulah, satu meja menjadi hening. Memperhatikan dua orang yang dimaksud Budi dengan penasaran.


Sementara dua orang tersebut cukup terkejut dengan suasana hening yang tiba-tiba. Diam-diam, mereka saling bertukar pandang. Aylin memilih diam tidak merespon. Tetap tenang sambil kembali menghabiskan makanannya.


Sementara Kai, cowok itu tersenyum jahil. Lalu berujar membalas komentar Budi, "Gimana Kak Alin? Ide Bang Budi sepertinya menarik."


Perkataan Kayvan membuat Ojan dan Neo tersedak minuman serta yang lainnya bereaksi heboh.


Sebenarnya mereka sudah mulai cukup terbiasa dengan celetukan Kai yang tiba-tiba kalau menyangkut Aylin. Namun, tetap saja hal itu cukup tetap membuat kaget bagi beberapa orang dan gelengan kepala tak habis pikir.


Aylin sendiri melotot kaget. Cari mati ini bocah satu!


Dia menendang kaki Kayvan di bawah meja cukup keras.


"Jangan sembarangan!"


Lalu percakapan merembet ke kemungkinan-kemungkinan andai Kayvan dan Aylin jadian. Membuat Aylin berusaha menahan diri di tempatnya karena dia malu banget dan rasanya ingin menimpuk seseorang.


Sementara Kayvan santai-santai saja mendengarnya. Dalam hati dia benar-benar membayangkannya.


Pembahasan itu bahkan merembat ke fakta yang ditumpahkan Neo kalau Kayvan sebenarnya adalah orang kaya ketika mereka membahas tempat kencan yang cocok.


Neo juga bilang kalau nama belakang Kayvan itu Notokusuma. Yang jelas membuat hampir semua yang ada di meja itu terbelalak. Teo dan Ojan selaku sahabat Kai saja baru tahu tentang hal ini. Apalagi para senior.


Di sisi lain, sebenarnya Aylin sudah curiga kalau Kayvan berasal dari keluarga berada. Kado ulang tahun bulan lalu yang diberikan Kayvan bukanlah sembarang kado yang bisa dibeli siapapun.


Ya siapa sih yang bisa membeli set komik edisi terbatas kalau bukan kolektor atau orang yang berduit?


Ada tanda tangannya lagi.


Aylin saja kaget bukan kepalang mendapat hadiah seperti itu.


Fakta kalau Kayvan itu anak salah satu konglomerat Indonesia tentu tetap membuatnya tidak menyangka.


Tidak kelihatan sama sekali. Mungkin iya masih bisa menebak kalau Kayvan anak orang kaya dari pembawaannya yang meski sederhana tetapi masih terkesan berkelas, seperti sosok tuan muda.


Namun, tidak sekaya itu.


"Jangan begitu. Itu semua punya orang tuaku. Aku di sini sama seperti kalian. Perlakukan aku seperti biasanya aja," ujar Kayvan kemudian.


"Tapi coba bayangin deh," Taufan bersuara, membuat suasana kembali hening. "Seandainya nih ya, seandainya. Plis Lin jangan marah dulu."


"Seandainya, Kai sama Alin jadian, mereka bakalan jadi pasangan "power" nggak sih?" Taufan mengutip kata power.


"Bener," Budi mengangguk setuju disebelahnya.


"Lah kok?" tanya Rima penasaran.


"Gini, si Alin meski kadang penampilannya kayak gembel—HEH!—tapi dari keluarga terpandang," Budi menjelaskan.


Aylin menyangkal kalau dia berasal dari keluarga terpandang.


"Lah, keluargamu 'kan ada yang dokter, pilot, tentara, polisi. Kan masuk keluarga berada yang penghasilannya gede-gede," kata Budi.


"Ya itu mah keluarga pakde sama paklik aja yang penghasilannya gede. TNI beda lagi cuy. Gaji TNI aja kalah sama gaji Polisi. Apalagi dibandingkan sama dokter, pilot," sahut Aylin.


"Tapi bapakmu pangkatnya mentereng Lin," timpal Taufan.


"Itu mah bapak aja. Punya pangkat tinggi, tanggung jawabnya jadi lebih besar. Kalau ada apa-apa, bahkan ada keluarga berbuat ulah, yang jadi jaminan ya pangkatnya."


"Wis cocok cah loro kuwi," celetuk Rima dengan santai kemudian. [Dah cocok kalian berdua itu]


"Sialan!" seloroh Aylin.


.


.


.


.


.


a.n.


maaf lama, baru sempat up. dan sekarang pukul 12 kurang 10 menit :'D


belum sempat ku edit kesemuanya, karena begitu selesai langsung ku up


see you after lebaran, hopefully soon