Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Warning



warning (n): a statement or event that indicates a possible or impending danger, problem, or other unpleasant situation


.


.


.


.


[baru minor editing, part pendek]


.


.


.


.


Aylin dan Adi bertemu Naufal di depan ruangan kantor Pak Rudi. Sejak tahun lalu, saat masih jadi anggota, Aylin cukup sering diajak Zul menemui Pak Rudi untuk membicarakan Aqisol dan tugas di Ospek yang menjadi ranah tanggung jawab TPK. Walau begitu, tetap membuatnya gugup ketika harus berhadapan Pak Rudi terkait inaugurasi. Apalagi dia jadi ketua sekarang.


Naufal lalu mengetuk pintu kantor Pak Rudi. Ada jawaban dari dalam sebelum cowok itu membukanya pelan dan permisi. Dipimpin Naufal, mereka bertiga memasuki ruangan ber-AC yang terlihat rapi. Di sana sudah ada Pak Rudi yang menunggu mereka.


"Silakan duduk dulu, Mas, Mbak," kata Pak Rudi sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di ruangan.


"Terima kasih, Pak," mereka menjawab sopan dan kemudian duduk di sofa panjang yang tersedia. Aylin duduk di tengah, diapit Naufal dan Adi. Tidak ada waktu untuk memikirkan posisi tempat duduknya sekarang.


Setelah Pak Rudi duduk di sofa di seberang mereka bertiga, alasan pertemuan pagi ini pun dimulai.


Diawali dengan sedikit basa basi ringan sampai topik yang menjadi apa yang akan diperbincangkan diangkat. Pak Rudi bercerita kalau banyak yang pro dan kontra mengenai pelaksanaan Aqisol. Tentu Aylin, Naufal, dan Adi sudah mengetahuinya.


"Ada cukup banyak keluhan masuk soal pelaksanaan Aqisol dan Ospek. Saya juga lihat dari tahun kemarin makin parah. Banyak yang tumbang dan mengeluh keberatan. Saya sempat berpikir untuk menghentikan Aqisol secara permanen. Dan yang saya lihat kemarin, jadi menambah alasan kenapa Aqisol harus dihentikan."


Perkataan Pak Rudi jelas membuat Naufal, Adi, dan Aylin sangat terkejut dan cukup panik.


Apa? Menghentikan Aqisol secara permanen?


Masalahnya, Aqisol itu merupakan tradisi FT sejak lama dan sudah mengakar kuat. Seolah-olah, FT tanpa Aqisol itu seperti sup bening tanpa garam. Hambar. Walau memang banyak pro dan kontra, sejauh ini tidak ada dosen atau mahasiswa yang mempermasalahkan sampai harus menghentikan Aqisol secara permanen.


"Maaf Pak, tapi Aqisol itu adalah tradisi di FT Pak. Kalau sampai dihilangkan, berarti menghilangkan salah satu khas-nya FT, Pak," Naufal berujar kemudian. Cowok itu terlihat khawatir.


"Saya tahu, Mas Naufal," balas Pak Rudi. "Saya alumni sini juga. Dan saya tahu persis seluk beluk FT dari saya masih jadi mahasiswa sampai saya jadi dosen di sini. Tapi saya juga bertanggungjawab dengan segala kegiatan kemahasiswaan di sini. Memastikan semua mahasiswa punya hak dan kewajibannya secara adil dan nyaman."


Mereka bertiga terdiam mendengar jawaban Pak Rudi.


"Iya Pak, kami mengerti," kata Naufal beberapa saat kemudian.


"Tapi kalau saya boleh berpendapat, karena Aqisol itu bukan sekedar tradisi FT, akan sangat disayangkan kalau tiba-tiba dihapus begitu saja Pak. Ada banyak hal yang bisa diperoleh dari tradisi ini Pak."


"Beri saya alasan kenapa harus mempertahankan Aqisol," kata Pak Rudi.


"Dari Aqisol, hubungan kating dan dekting jadi lebih dekat, Pak. Karena di Aqisol kita mempelajari artinya persaudaraan itu sendiri. Seperti semboyan FT yang menjunjung tinggi persuadaraan, Pak," jawab Naufal.


"Aqisol juga mengajari maba untuk lebih disiplin dan bisa mengatur waktu, Pak. Selain itu juga untuk mengajari mereka untuk lebih kuat secara fisik dan mental," sambung Adi.


"Dan menurut saya, karena Aqisol adalah pengalaman sekali seumur hidup Pak," Aylin bersuara. "Sebagai senior, kami ingin mereka mendapat pengalaman berharga yang dulu pernah kami alami di posisi mereka. Akan sangat disayangkan kalau mereka tidak punya itu, Pak."


Pak Rudi terdiam selama beberapa saat. Membuat ketiga senior itu was-was dengan keputusan berikutnya.


"Saya bertemu istri saya dulu ketika maba. Kami satu batalion ketika Aqisol. Cukup lucu karena kami berdua dihukum oleh senior kami dulu karena salah menyanyikan yel-yel. Dan kami masih mengenangnya sampai sekarang," kata Pak Rudi kemudian.


Baru pertama kali mereka bertiga mendengar Pak Rudi bercerita soal istrinya. Apalagi kisah pertemuan pertama mereka.


"Kalian boleh mempertahankan Aqisol," perkataan Pak Rudi barusan membuat ketiga senior itu nyaris bersorak girang sebelum menahannya karena tatapan tajam Pak Rudi.


"Tapi," Pak Rudi melanjutkan, "Kalian perlu ingat baik-baik, mahasiswa generasi sekarang tentu berbeda dengan yang dulu. Saya ingat, senior saya dulu bahkan lebih tega dan keras. Tapi dulu dan sekarang itu tidak sama. Jadi, saya harap Aqisol sebagai tradisi FT bisa disesuaikan dengan karakteristik generasi berikutnya. Tentu tanpa menghilangkan ciri khas dan tujuan Aqisol itu dibuat. Dan kalau sampai saya melihat kejadian pembulian atau kesewenang-wenangan, saya tidak akan segan melarangnya secara permanen. Kalian paham?"


"Paham, Pak Rudi."


"Terima kasih, Pak!"


"Saya mengandalkan kalian."


.


.


.


Aylin tidak ke lapangan selepas dari kantor WD 3. Dia hanya mempercayakan Aqisol hari ini ke Frans dan memantaunya dari jauh. Bukan karena lepas tanggung jawab. Namun, dia hanya ingin waktu sendirian sambil memikirkan perkataan Pak Rudi.


Dan juga, dia mau menghindari maba bernama Kayvan untuk sementara waktu ini.


Tidak segampang itu meyakinkan Pak Rudi soal Aqisol setelah pria paruh baya itu berpikiran untuk membubarkannya. Memang diawal kelihatan baik-baik saja dengan memberikan alasan yang sekiranya tepat. Namun, selepas itu, Aylin, Naufal, dan juga Adi harus benar-benar membuktikan alasan dan perjanjian mereka. Secara tidak langsung, Pak Rudi sudah mengeluarkan teguran atau peringatan pertama.


Untung saja ini pertama kalinya Pak Rudi memanggil panitia untuk membahas masalah Aqisol yang terlihat diluar kendali. Jadi masih sedikit tertolong dengan adanya kesempatan kedua.


Memang benar, generasi maba sekarang berbeda dengan dulu. Maba sekarang lebih vokal dalam menyuarakan ketidaksetujuan mereka soal agenda inaugurasi yang terkesan menindas.


Tahun ini pun, Aylin memastikan sanksi atau hukuman lebih diringankan dan disesuaikan dengan kondisi daripada tahun kemarin. Cewek itu juga memastikan semua TPK tidak menyudutkan maba ketika eksekusi. Ya, walau teriakan dan sindiran keras tetap dilakukan untuk bertujuan melatih mental. Namun, dapat dipastikan bahwa itu tidak ada apa-apanya dengan yang pernah Aylin dulu alami waktu maba. Bahkan mungkin senior terdahulu seperti Zul atau Teguh.


Mengingat hal itu membuatnya agak jengkel dan serasa bernostalgia.


Namun, tetap saja, walau sudah dipermudah, masih banyak yang protes dan mengeluh tidak terima.


Itu sudah jadi resiko saat mengambil kebijakan.


Aylin memilih membantu anak-anak Tim Medis di posko. Saat ini, mereka tengah disibukkan dengan cukup banyak maba yang sakit, entah keseleo, pusing, atau sakitnya kambuh. Imah bilang, timnnya menerima dengan tangan terbuka segala bantuan dari panitia lain yang sedang kosong dan mau membantu. Hitung-hitung sedikit meringankan pekerjaan Tim Medis yang super duper hectic hari ini.


"Lin, nggak apa-apa 'kan aku minta tolong padamu?" tanya Abel, salah satu anggota Tim Medis yang bertugas di posko.


"Iya Bel. Kebetulan lagi kosong, cuman mantau aja. Hari ini diambil alih Frans sementara," jawab Aylin.


"Yaudah. Takutnya kau harus ke lapangan sewaktu-waktu gitu," kata Abel. "Kalau gitu, minta tolong ke apotek bisa? Salep buat keseleo mau habis. Nggak tahu deh hari ini kenapa banyak yang keseleo. Tolong beliin ya? Uangnya ada kok."


"Boleh. Sekalian aku juga mau beli vitamin," jawab Aylin dan menerima uang pemberian Abel.


"Tolong ya Lin. Anak-anak yang lain pada sibuk semua. Kalau aku ninggalin posko takut ada apa-apa nanti," kata Abel sekali lagi.


Aylin mengangguk. "Santai aja, Bel. Beli berapa salepnya?"


"Dua paling nggak. Yang besar kalau ada. Itu uangnya kurasa cukup kok," tukas Abel.


"Oke."


Letak apotek tidak begitu jauh. Hanya tinggal berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit dan menyeberang jalan.


Cewek itu memperhatikan sekali lagi kondisi lapangan dari kejauhan. Terlihat Frans benar-benar tidak berbelas kasihan kepada maba. Aylin akui, pacar Bimala itu memang lebih keras dan tegas daripada dirinya. Frans punya kemampuan leadership yang bagus.


Cowok itu akan sangat pantas menjadi ketua TPK selanjutnya. Selain Adi yang jadi opsi kedua tentu saja. Disbanding Frans, Adi lebih terkesan kalem seperti Zul. Namun, Aylin tahu, cowok itu luarnya saja yang terkesan kalem dan santai. Adi tidak kalah strict dari Frans.


Setelah puas mengamati, Aylin lalu melanjutkan jalannya ke apotek. Tidak perlu berlama-lama karena pasti salepnya akan segera dibutuhkan oleh anak-anak medis.


Dua puluh menit kemudian, Aylin sudah kembali ke kampus. Aqisol sudah selesai karena terlihat banyak maba yang beristirahat atau melakukan hal lain dan lapangan sudah sepi. Para panitia juga sudah sibuk beberes.


Tidak heran sebenarnya karena dirinya tadi pergi ke apotek memang sudah hampir ishoma.


Sementara di posko medis, beberapa maba masih beristirahat di sana. Ada juga beberapa Tim Medis yang tengah mengomati maba yang terluka.


Aylin mencari-cari Abel dan menemukan cewek berambut sebahu itu tengah membereskan meja.


"Bel, salepnya yang ini 'kan?" Aylin bertanya. Cewek itu lalu menyodorkan dua bungkus salep yang dipesan Abel beserta kembaliannya.


"Ah iya bener, Lin," kata Abel sambil menerima barangnya. "Makasih ya... maaf banget malah ngerepotin."


"Nggak papa, Bel. Kebetulan juga sekalian aku keluar beli vitamin juga," balas Aylin tersenyum tipis. Tangan kirinya menenteng keresek putih berisi vitamin yang tadi dibelinya.


Cewek berambut panjang itu lalu teringat sesuatu.


"Ah iya, maba yang asma kemarin gimana?" tanyanya. Maba cewek berkacamata yang kemarin tumbang karena asmanya kambuh saat latihan memang sempat membuat geger.


"Puji Tuhan, aman Lin," jawab Abel, "Anaknya tadi berangkat cuman izin nggak ikutan. Jadi dia nonton temen-temennya sama pemandu gugusnya di tempat teduh. Dia juga tak kasih pita merah biar gampang Tim Medis mengawasi kalau terjadi apa-apa. Soalnya kata dia, asmanya udah lama banget nggak kambuh, cuman kemarin aja tiba-tiba."


"Syukurlah, Alhamdulillah..."


Jujur dalam mengisi riwayat penyakit memang harus wajib dilakukan oleh seluruh maba. Walaupun sakitnya itu sudah jarang kambuh atau sembuh, setidaknya mengantisipasi keadaan akan lebih baik sebelum terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.


Seperti kejadian kemarin misalnya. Si maba tidak mengisi form riwayat sakit karena merasa sudah sembuh karena sudah lama tidak kambuh asmanya. Nyatanya, kemarin justru kambuh di tengah-tengah latihan.


Kalaupun malu mengisi, setidaknya punya pikiran buat kebaikan diri sendiri. Lagipula data maba aman terjaga kok!


"Kalau gitu, aku duluan ya Bel," kata Aylin kemudian. Dia ingin segera beristirahat. Mungkin setelah ini dia akan mencari keberadaan teman-temannya di mana.


"Yo'i! makasih sekali lagi ya, Lin!"


Ketika Aylin sudah berbalik dan hendak berjalan pergi, seseorang memanggil namanya.


"Kak Aylin!"


Cewek itu menoleh dan terkejut mendapati maba 0057 berdiri tidak jauh darinya. Sejak kapan cowok itu berada di sana?


"Kau... kenapa masih di sini?" tanyanya cuek setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.


"Tadi saya nganter temen ke posko, Kak," jawab maba itu.


Aylin mengangguk mendengarnya. "Aman kan?"


Dengan senyum simpul, maba itu menjawab setelah beberapa detik.


"Alhamdulillah Kak!"


Cewek itu hanya mengangguk meresponnya. Mau bagaimana lagi? Dia juga sedang malas berurusan dengan maba calon duta kampus itu. Oh satu lagi, sebelum pergi Aylin ingin mengatakan sesuatu.


"Sebaiknya kau pulang sekarang. Saya dengar hari ini ada rekaman. FT bukan tukang ngaret, itupun kalau bisa membuktikan," sindirnya dengan dingin. Terkesan meremehkan.


Anehnya, cowok itu justru tersenyum mendengarnya. Memang benar-benar tidak waras!


Tanpa repot-repot menunggu balasan maba 0057, Aylin kemudian berlalu pergi. Niatnya tadi mau membuat maba itu merasa tersinggung. Namun, justru malah tidak berhasil sama sekali.


"Kak Aylin!" panggil cowok itu sekali lagi.


Ada apa lagi sih?


Aylin menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Kenapa Kakak hari ini tidak di lapangan?" tanya Kayvan.


"Bukan urusanmu!" tanpa basa-basi lagi, Aylin langsung berjalan pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


long a.n.


Happy Independence Day to our beloved country! 🇮🇩 udah 76 tahun aja nih, semoga semakin maju dan ibu pertiwi segera sembuh dari sakitnya aamiin (ू•ᴗ•ू❁)


And this is another short chapter (again)


Di sini dijelasin kenapa aylin nggak muncul pas aqisol hari ketiga di part kayvan (chapter 16-17 apa ya, lupa 😅)


Sebenernya agak kurang puas dengan part ini, mauny besok baru tak up. Tapi ya nanti lebih dari seminggu jadinya


Btw, lagi rame di twitter soal ospek univ mana gitu. Banyak pro dan kontra emang. Dan personally, karena dulu aku pernah jadi panitia juga, emang perlu dilihat dari dua sisi (maba dan kating)


Dan aku emang nggak masalah ada ospek, tapi kalau kelewatan batas ya big NO. Jangan bandingkan generasi dulu sama sekarang ya, dan lihat sikon juga biar nggak saling menyusahkan.


Dan Alhamdulillah, di univku, ospek nya aman-aman aja (malah seru-seruan sih, bagian menegangkannya paling ya tim penegak kedisiplinannya karena memang itu tugas mereka) Dan di univku emang ospek itu masuk ranahnya WD 3 kalo di Fakultas. Jadi ya harus ada persetujuan WD 3 terkait acaranya


Dan sekali lagi, di cerita ini aku mau ngasih pandangan dari dua sudut yg berbeda (maba dan kating) berdasar pengalaman dan cerita2, ditambah bumbu2 buat menyesuaikan.


and thx u yang udah komen. aku baca kok + aku thumb up buat responnya ^^


See you in next chapter!