Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Surprising Duo



Duo (n): a pair of people or things, especially in music or entertainment


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


Rian dan kedua temannya yang berasal dari jurusan yang sama dengannya berjalan memasuki area FT yang terlihat ramai. Sang Duta FBS itu terlihat celingukan mencari seseorang di antara orang-orang yang berlalu lalang.


"Kawanmu mana Yan?" tanya salah satu temannya yang bernama Rizal. Di antara mereka bertiga dia yang punya potongan rapi. Rian dan teman satunya yang bernama Aji berambut gondrong khas anak-anak seni.


Rian tidak langsung menjawab karena masih berusaha menghubungi seseorang. Tidak lama kemudian, cowok itu menjawab sambil menunjuk ke depan.


"Nah, itu dia."


Seseorang yang dimaksud adalah Damar yang datang bersama Angga. Selepas acara pemilihan duta kampus beberapa waktu lalu, mereka masih saling berkomunikasi. Terkadang janjian bertemu untuk nongkrong ketika mereka sama-sama luang. Seperti hari ini, mereka janjian ke festivalnya anak-anak FT sekalian mengunjungi Kayvan.


"Kalian bareng?" tanya Rian saat Angga dan Damar sudah sampai.


"Kebetulan ketemu tadi," jawab Damar. "Aku tadi bareng temen-temenku yang lain. Tapi nggak tahu sekarang kemana mereka. Terus ketemu si Angga yang sendirian."


Rian lalu mengenalkan kedua temannya ke Angga dan Damar.


Selain nongkrong, mereka juga bertemu untuk bertukar cerita selama menjadi duta fakultas masing-masing. Apalagi Kayvan yang juga menjadi duta kampus menggantikan Pasha. Mereka saling belajar dan memahami ternyata tiap fakultas punya keunggulan dan masalahnya sendiri.


Dari Rian yang agak kewalahan dengan permasalahan lama yang belum selesai di FBS. Permasalahan yang pernah dibahas Freya ketika cewek itu menjawab pertanyaan juri. Adanya dua kubu yang berbeda. Makanya, Rian memilih netral dan membaur dengan keduanya tanpa pandang bulu meski ada beberapa yang menyayangkan sikapnya. Salah satu kawan dekat Rian, Dewo, bahkan merupakan anak rohis yang sering dipandang sebelah mata di fakultas budaya itu.


Lalu Angga yang ternyata di FO masalahnya juga agak mirip dengan FBS. Bedanya mungkin dalam versi anak-anak olahraga. Dan ada Kayvan yang tidak hanya FT tetapi seluruh UHW.


Mereka lalu berjalan meliha-lihat sambil mencari Kayvan kalau bertemu. Festival FT membuat mereka terkesan dengan segala persiapan yang dilakukan anak-anak FT yang totalitas menurut mereka.


Kelimanya bertemu Kayvan di dekat booth informasi yang tak jauh dari panggung mini.


"Wih.. kalian jadi datang," ujar Kai sambil tersenyum melihat teman-temannnya.


"Wah ya jadi dong," sahut Damar.


Rian lalu mengenalkan kedua temannya ke Kai. Mereka semua lalu mengobrol sejenak. Kebetulan sekarang ini Kayvan tidak begitu sibuk. Dia jadi lebih leluasa dan bisa menikmati festival seperti yang lain. Dia juga sedang tidak ada jadwal shift untuk stand kelasnya.


Kelas Kai membuat stand minuman tradisional.


Jadinya, Kai benar-benar memanfaatkan waktu luang yang dia miliki sekarang.


Sebenarnya dia ingin menemui Aylin. Namun, sejak tadi dia tidak melihat keberadaan seniornya itu. Bahkan saat dia mengunjungi stand kelas Aylin, tidak ada seniornya di sana. Kata salah satu teman Aylin bilang kalau cewek itu memang izin sejak pagi dan belum ke stand.


Ketika Rian dan yang lainnya pergi untuk berkeliling—Kai tidak ikut, Neo dan yang lainnya datang tak lama kemudian. Ojan dan Neo membawa makanan yang mereka beli di stand-stand makanan yang ada. Ridwan membawa dua gelas es kopi dan memberikan satu untuk Kai karena tadi dirinya memang titip saat Ridwan bilang mau ke sini. Sementara Teo membawa tiga minuman yang merupakan miliknya, Neo, dan Ojan.


Kelimanya lalu mencari tempat yang sekiranya pas dan panggung mini terlihat jelas. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat.


Kelima sekawan itu memang janjian. Dari yang sudah selesai dengan shift-nya, tidak ada shift, dan yang baru nanti jadwal shift-nya dimulai.


"Hari ini terlihat lebih ramai ya? Apa karena dua hari lagi puncaknya?" tanya Neo penasaran. Di depan mereka adalah gerombolan para cewek yang sepertinya menunggu penampil hiburan hari ini.


"Bang Frans tampil hari ini," jawab Kai. "Jadi ya, para penggemarnya pada ke sini buat nonton."


Kai tahu dari rundown acara.


"Hah?" Neo masih belum terbiasa mendengar salah satu TPK yang disegani itu adalah idola yang punya banyak penggemar. Meski dirinya tidak meragukannya, tetapi masih agak terkejut.


"Asal kalian tahu ya, Bang Frans itu diam-diam penggemarnya banyak," Ojan memberitahu, "Kalian lihat sendiri 'kan pas kita nonton konser di mana band-nya tampil? Cuman emang sih, orangnya kelihatan cuek banget. Aku jadi sangsi kalau Bang Frans sadar dia punya banyak fans."


"Tapi bener lho kata Ojan," Kai menyahuti. "Aku pernah tanya ke dia soal penggemar, dia bahkan kaget punya penggemar sebanyak itu."


"Wih... bisa gitu ya?" ujar Teo heran.


"Dia mungkin tipe orang nggak terlalu peduli seberapa banyak penggemar yang dimiliki," Ridwan berkomentar.


Suasana jadi ramai ketika Frans berjalan ke atas panggung mini di sana dengan membawa gitar. Seperti biasa, cowok itu terlihat tidak terusik dengan teriakan penggemarnya.


Hal yang membuat semakin tidak percaya adalah, Frans tidak sendirian di sana—kecuali pemain musik lain yang mungkin diminta ikut mengiringi.


Ada senior yang sangat dikenali Kai.


"Eh.. ada Kak Aylin juga," celetukan Ojan mewakili keterkejutan Kai yang melihat senior kesayangannya di sana.


"Apa dia mau mengiringi Bang Frans?" tanya Teo penasaran mengingat ketika penutupan Isimaja Aylin tampil main drum.


"Eh tunggu dulu..."


.


.


.


Aylin berjalan bersama Rima ke arah belakang panggung sambil membawa gitar. Dia merasa tidak bersemangat hari ini karena dia mau tidak mau nanti harus tampil bersama Frans.


Frans nanti yang main gitar untuk mengiringi penampilan mereka. Rencana awal memang pakai gitar milik Frans. Sayangnya, senar gitar Frans putus dan belum sempat diganti lagi saat mereka berlatih kemarin. Alhasil pakai gitar yang ada di rumah Aylin dengan minta bantuan Naufal yang memang lagi pulang sebentar untuk membawakan serta gitarnya.


Sesampainya di lokasi, sudah ada Frans dan Bimala di sana. Ya, Bimala nekat membolos hari ini—yang katanya tidak ada kuis atau praktik karena hanya kelas teori—untuk datang ke sini. Pasha dan Maul akan menyusul nanti setelah kelas mereka pada jam ini selesai.


Selain Frans dan Bimala, ada Budi dan Seno di sana. Budi yang memang nanti jadwal shift-nya dan Seno yang kini tengah sibuk merupakan bagian dari panitia yang mengurusi hiburan. Naufal dan Taufan ada kerjaan di kelas masing-masing. Mereka akan menyusul saat Aylin dan Frans tampil nanti.


"Beneran punya gitar ternyata," komentar Budi saat Aylin menyerahkan gitarnya ke Frans.


"Perasaan kau pernah ke rumahku beberapa kali deh," sahut Aylin. Dia agak gugup sekarang. Beberapa saat nanti dia akan tampil di depan banyak orang.


Aylin duduk di kursi yang disediakan. Dengan sigap, Bimala memberikannya minum buat menenangkan.


"Nih, minum dulu," katanya. "Tenang Lin, kau pasti bisa. Kalian udah latihan."


"Apa mau snack biar nggak terlalu kepikiran? Nanti tak ambilin kalau mau," Rima menawarkan.


Aylin menggeleng. Namun Bimala bilang ke Rima untuk tetap mengambilkannya saja.


"Berapa lagu nanti jadinya?" tanya Budi penasaran.


"Rencananya empat," yang menjawab Frans. "Tapi ada satu lagu bonus. Lihat momen dulu yang pas nanti."


Aylin menoleh ke arah Frans dengan cepat dengan wajah terkejut. "Lagunya beneran jadi?"


Frans mengangguk. Aylin yang melihatnya menghela nafas cemas. Empat menurut Aylin sudah banyak. Ini malah jadi pakai lagu yang kelima.


Kenapa mereka diberikan waktu sebanyak itu sampai bisa menyanyikan empat sampai lima lagu oleh tim acara?


Jawabannya sederhana, Frans.


Karena cowok itu punya banyak penggemar dan pasti mereka meminta durasi yang lebih lama untuk tampil. Selain itu, Frans memang sejak tahun lalu menjadi salah satu yang mengisi hiburan di acara festival atau event lain.


Pak Rudi, wakil dekan tiga FT, datang berkunjung sebentar untuk mengecek. Yang tentu diladeni Seno sebagai penanggungjawab di bagian ini.


Setelah selesai berbincang dengan Seno, Pak Rudi lalu beralih ke Aylin dan kawan-kawan berada.


Pria berwajah ramah itu berujar, "Katanya yang ngisi hiburan Johan sama Aylin ya? Semangat ya... Tampilkan yang terbaik, Bapak tahu kalian bisa."


Frans membalas perkataan Pak Rudi dengan ucapan terima kasih dan senyum sopan, sementara Aylin hanya bisa tersenyum canggung karena seketika dia merasa semakin gugup.


Pak Rudi lalu pergi untuk melanjutkan aktivitasnya.


"Lima menit lagi ya," Seno mengingatkan Frans dan Aylin.


Aylin yang mendengarnya semakin tegang. Tangannya berubah dingin. Yang tadi sudah merasa gugup, kini semakin gugup.


Rasa-rasanya ingin melarikan diri saat itu juga.


Bimala dan Rima yang menyadari hal itu berusaha menenangkannya. Budi yang tumben hari ini tidak kumat isengnya, berbicara hal random ke Aylin.


Frans dan Aylin kali ini memakai pakaian senada, hitam putih dengan kemeja lengan panjang sebagai luarannya. Bimala yang mengusulkannya karena dia mau setidaknya gaya berpakaian mereka cukup pantas untuk manggung.


Frans memakai celana putih dan kaos hitam yang ditutupi kemeja berwarna warna FT alias merah marun sebagai luarannya. Sepatu kets putih senada dengan celananya.


Sementara Aylin memakai rok lipat berwarna hitam selutut dan kaos putih. Kemeja kebesaran berwarna mustard dengan lengan panjangnnya yang digulung menjadi luaran. Dia juga memakai sepatu boots yang dia pakai selama Isimaja—dan sesekali saat hari-hari kuliah.


Benar-benar terlihat seperti memakai warna kebanggaan FT.


Seno sudah memberi aba-aba lagi untuk segera ke panggung. Jantung Aylin semakin berdetak kencang. Dia semakin gugup dan takut.


Bimala memeluknya sejenak sebelum membiarkan Aylin mengikuti Frans naik panggung. Sebelum benar-benar pergi, Bimala berpesan sekali lagi ke pacarnya tentang Aylin. Frans yang memang pengertian dan juga bucin, mengangguk mengiyakan sekali lagi.


Mereka nanti tak hanya berdua. Ada dua orang lagi yang nanti akan membantu memainkan musik untuk mengiringi mereka. Frans dan Aylin memang sepakat untuk akustikan saja.


Menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, Aylin lalu mengikuti Frans menaiki panggung.


.


.


.


"Kak Aylin bisa nyanyi?" tanya Neo terkejut. "Atau dia hanya mengiringi Bang Frans?"


"Tapi yang bawa gitarnya Bang Frans," Ojan menyahuti.


Terkejut dan penasaran, mayoritas atensi orang-orang yang ada di festival tertuju ke arah panggung mini. Terkejut karena melihat sang ketua TPK FT juga ada di sana karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya—sosok Frans yang tampil main musik dan bernyanyi sudah menjadi pemandangan biasa. Dan penasaran dengan apa yang akan mereka tampilkan.


"Kau tahu sesuatu Kai?" tanya Teo yang ada di sebelahnya. Mereka sudah cukup terbiasa sekarang dengan kawan mereka ini yang akrab dengan sang ketua TPK.


Kai hanya menggeleng. Dia juga baru tahu ini.


Matanya terus terfokus ke arah di mana kedua seniornya itu berada. Tatapannya berubah tajam melihat Frans yang terlihat mengusap lengan Aylin, lalu membisikkan sesuatu padanya. Wajah Aylin yang semula terlihat tegang, perlahan jadi lebih rileks.


Mereka terlihat begitu akrab. Begitu dekat.


Dan Kayvan sangat tidak menyukainya.


Bahkan ketika Frans memulai memetik gitarnya dan diikuti pemain musik yang lain, Kai belum bisa mengenyahkan rasa tidak suka yang tiba-tiba dia rasakan tadi.


Frans yang memulai bernyanyi dan ketika cowok itu melakukannya, para penggemarnya seketika heboh beberapa saat.


"Ini lagunya Imagine Dragon 'kan?" tanya Teo.


"Ha? Yang mana?" tanya Neo.


"Believer," jawab Teo. "Ternyata enak juga kalau dibikin versi akustik begini."


Ojan mengangguk menyetujuinya. "Setuju. Soalnya nggak semua lagu genre rock itu bisa dibikin cover akustiknya. Bisa, tapi nggak semua kedengeran pas."


Banyak orang berseru ketika Frans bernyanyi pada bagian tempo cepatnya. Kehebohan mereka tak berhenti disitu karena Aylin ikut bernyanyi pada bagian ref-nya.


Tidak hanya Kayvan dan para maba yang melihatnya, tetapi terlihat juga banyak senior yang terkejut sekaligus terkesan mendengar suara Aylin. Mereka baru tahu suara sang ketua TPK sebagus ini.


Apalagi sekarang berduet dengan Frans, terlihat serasi dan mampu membius penonton dengan penampilan mereka.


Para penonton dibuat heboh lagi, bahkan sampai ada yang bertepuk tangan, ketika Aylin menyanyin bagiannya. Apalagi yang tak disangka-sangka dia menyanyikan bagian tempo cepatnya. Terdengar agak lebih jago dari Frans.


"I was choking in the crowd, building my rain up in the cloud. Falling like ashes to the ground, hoping my feelings they would drown. But they never did ever lived ebbing and flowing. Inhibited limited, till it broke open and rained down... And rained down like..."


Ojan, Neo, dan Teo ikut berseru heboh dan bertepuk tangan dengan penonton yang lain.


Aylin memberikan kejutan yang tak disangka sama seperti waktu penutupan Isimaja beberapa bulan yang lalu. Sepertinya kejutan-kejutan tak terduga dari sosok Aylin dimulai sejak dirinya menjadi ketua TPK FT.


Kayvan akui, penampilan keduanya benar-benar keren.


Ketika lagu pertama selesai dinyanyikan, dia ikut bertepuk tangan bersama orang-orang yang menyaksikan keduanya.


Lagu kedua adalah lagu yang berasal dari band favorit keduanya. Kenapa Kai bisa tahu? Cowok itu tahu dari keduanya sendiri. Frans pernah akustikan dengan gitar disela-sela istirahat saat sibuk mengurus acara dies natalis UHW bulan lalu dan Kai sempat mengobrol dengannya membahas lagu.


Lalu yang kedua Aylin pernah bilang saat mereka main dua puluh pertanyaan tentang hal yang disukai dan yang tidak disukai setelah cewek itu mengajari Kai masalah tugasnya.


"Anywhere you are is where I want to go, you are my address. I don't care how I get it, I need a one way ticket home..."


Seperti sebelumnya, Frans dan Aylin mendapat apresiasi yang sangat bagus dari para penonton. Termasuk Kayvan meski dia sendiri merasa tidak suka dengan kedekatan mereka di sana. Terlepas dari Frans yang merupakan senior yang dia hormati, cowok jangkung itu terlalu dekat interaksinya dengan Aylin.


Dan Kai tidak suka itu.


Ada jeda setelah lagu kedua. Di mana ada basa-basi dari pemandu acara. Di sana, respon lebih didominasi Frans karena mungkin dia sudah terbiasa. Berbeda dengan Aylin yang terlihat agak kaku.


"Bang Frans itu... pacarnya Kak Alin ya?" komentar Teo tiba-tiba. Membuat keempat yang lainnya menatapnya heran sekaligus terkejut.


.


.


.


.


.


a.n.


maaf lama up. baru sempat sekarang soalnya


btw ini ada part duanya karena terlalu panjang.


see u on 2nd part