Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Proposing



Propose (v): make an offer of marriage to someone.


.


.


.


"Dan pastikan kalian tetap mengikuti aturan. Jangan karena kalian terlalu pengen dapat gir dan pengakuan, kalian lupa aturan!" kali ini Aylin bersuara dengan nada tajamnya. Seketika para maba terdiam dan menatap ke arah Aylin. Suasana riuh dan kehebohan yang baru saja terjadi tadi seketika hilang seolah-olah tidak pernah terjadi.


Benar-benar Aylin perusak suasana!


"Kalau sampai diantara kalian melanggar aturan atau berbuat seenaknya," Aylin menghentikan ucapannya selama beberapa saat. Dia menyapukan tatapan tajamnya ke arah maba yang banyak dari mereka menatapnya takut, khawatir, bahkan ada juga yang kesal.


"Ucapkan selamat tinggal pada gir dan pengakuan kami. Bukti kalau kalian tidak pantas menjadi bagian dari keluarga FT UHW," lanjutnya dengan kejam.


Terdengar seruan protes dan tidak percaya dari para maba. Tidak menyangka kalau Aylin bisa sekejam dan setega itu.


Deretan TPK paling 'sadis' dan ditakuti di UHW memang berasal dari FT, FO, FBS, FH, dan FMIPA. Meski hanya dua fakultas, FT dan FO, yang melakukan hukuman fisik seperti push up dan punya program pelatihan fisik. Lalu, jangan salah dengan julukan FMIPA yang dikenal fakultas teralim di UHW, mereka juga punya pasukan Penegak Kedisiplinan yang sangat disiplin dan ketat dalam aturan. Bahkan FBS yang dikenal sebagai fakultas tersantai selain Fakultas Filsafat dan Fakultas Psikologi, TPK yang mereka miliki bisa mengimbangi milik FT dan FO meski tanpa hukuman fisik—mereka punya eksekusi sanksi tersendiri dengan memanggil setiap maba yang melakukan kesalahan dan akan berhadapan langsung dengan anggota TPK di tempat yang tertutup.


Seperti seorang tersangka yang sedang diinterogasi.


Sepertinya fakultas yang memiliki TPK paling ramah hanya dari FIP. Saking ramahnya sampai hampir menyamai tim pemandu.


Kembali ke acara TM FT yang masih berlangsung. Keadaan kembali sedikit bergemuruh dengan para maba yang saling berbicara lirih. Membicarakan perkataan Aylin barusan.


Hingga akhirnya, seseorang di tengah-tengah mereka mengangkat tangan kanannya. Izin untuk berbicara.


"Ya, silakan, Dek Kayvan," kata Naufal mempersilakan setelah melihat siapa yang mengangkat tangannya.


Kayvan berdiri dari tempat duduknya. Semua mata tertuju ke arahnya. Bahkan para mabapun menghentikan obrolan mereka untuk melihat apa yang akan cowok bernama Kayvan dari Teknik Industri itu lakukan.


"Saya Kayvan, 0057, dari Gugus Sembilan belas Jayapura, izin berbicara kepada Kak Aylin," kata Kai dengan suara lantang.


Aylin hanya mendengarnya mengangkat sebelah alisnya, heran. Namun, tidak mengubah ekspresi datarnya.


Naufal mengizinkan dan mempersilakan Kai untuk bicara.


"Kak Aylin, kami akan buktikan kalau kami bisa mendapatkan gir FT dan pengakuan para senior," katanya dengan sangat yakin. Sorot matanya tajam penuh keyakinan.


"Oh?" ucap Aylin menanggapi, "Apa kau bisa menjamin tidak ada pelanggaran yang terjadi? Sementara yang saya lihat hari ini, bahkan beberapa dari kalian bolos tanpa memberitahu pemandu atau bahkan teman kalian sendiri. Ini masih TM, belum kegiatan yang sebenarnya."


"Lalu bagaimana kau bisa menjamin kalian bisa menunjukkan pada kami, bahwa kalian ini benar-benar bagian dari FT UHW?" tanya Aylin sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Dan mengambil gir ini dari tangan kami? Bagaimana kau akan mengambilnya ketika teman-temanmu sendiri melanggar aturan?" Aylin menunjukkan lencana gir miliknya yang telah dia jadikan bandul kalung. Untuk sementara dia melepas rantai kalungnya dan menyimpannya di saku korsa.


Banyak mahasiswa FT yang menggunakan lencana gir yang mereka peroleh selama Isimaja FT sebagai bandul kalung. Atau membiarkannya tetap sebagai lencana dan menyimpannya dengan hati-hati. Lalu menjadikannya kenangan dan pengingat saat mereka lulus nanti. Perjuangan mereka untuk mendapatkan lencana gir itu memang kebanggaan tersendiri. Apalagi desain lencana gir FT UHW memang dipesan khusus dan terbatas tidak dijual belikan. Lencana gir itu adalah hasil ciptakan anak-anak FT di bengkel mereka yang memang merancang khusus gir itu dengan tangan mereka sendiri dan hanya membuat setahun sekali untuk inaugurasi.


Bahkan, jika lencana milikmu hilang dan kau berhasil menduplikatnya, rasanya tentu tidak akan sama. Meski terkesan sepele, tetapi makna gir yang menjadi lambang Fakultas Teknik sudah tertanam di setiap mahasiswa yang belajar di FT. Kalaupun tidak, bisa jadi orang itu tidak benar-benar menyukai apa yang dia pilih dan kerjakan.


Salah satu semboyan anak-anak FT adalah, kalau kau hanya melakukannya setengah-setengah, lebih baik kau mundur atau jangan ada niatan untuk melakukannya sama sekali.


Kembali lagi ke Kai. Cowok itu kini mengejutkan semua orang yang ada aula besar dengan perkataannya.


"Saya akan mengambilnya dari tangan Kak Aylin," katanya.


"Saya akan menjadikan Kakak sebagai pacar, bahkan istri saya," lanjutnya yang tak kalah mengejutkan, "Karena apa yang Kak Aylin miliki, juga milik saya. Bukankah pasangan itu saling berbagi barang yang sama?"


Semua menatap tidak percaya ke arah Kai. Bahkan Neo dan yang lainnya melongo mendengar ucapan Kai.


Tidak lagi mengejutkan, tetapi kali ini menggegerkan semua orang. Membuat gempar orang-orang yang ada di aula. Bahkan tidak sedikit maba dan panitia yang bercie-cie menggoda.


Ekspresi datar Aylin kini berubah menjadi ekspresi terkejut. Sangat terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Naufal dan Seno yang berada di sebelah Aylin benar-benar speechless dengan eskpresi yang sama, mulut terbuka dan mata yang membulat terkejut.


Naufal segera berdeham keras dan mengatur eskpresinya seperti semula. Aylin buru-buru merubah raut wajahnya kembali datar. Bukan, bukan datar kali ini. Lebih tepatnya eskpresi marah.


Ya, dia sangat marah sekarang! Bahkan matanya berkilat tajam ke arah Kai yang kini menyeringai kecil.


"DIAM!" seruan marah Aylin membuat semua orang terdiam. Para maba kini menundukkan kepala, takut melihat ketua TPK itu yang kini menahan amarah.


"Ternyata kau bermulut besar rupanya," kata Aylin dengan tajam ke Kai.


"Sebagai hukuman karena membuat kegaduhan," lanjutnya. Dia menyapukan pandangannya ke arah para maba yang menatapnya was-was.


"Para maba! Silakan berdiri dan lakukan squat jump sebanyak tujuh seri dan untuk Kayvan 0075 dilanjut push up tiga seri!"


"Laksanakan!" serunya lantang.


"Siap, laksanakan!"


Dengan terpaksa, para maba melakukan hukuman mereka. Terlebih Kai nanti harus menambah push up tiga puluh kali untuk hukumannya karena berani 'menantang' ketua TPK FT yang dikenal sadis.


.


.


.


"Kai!" Neo berteriak sambil membawa nasi kotak untuk makan siangnya. Dia berjalan cepat ke arah Kai, Ridwan, dan Ojan yang baru datang dari mushola fakultas bersama maba yang lain. Sementara Teo hanya berjalan santai dibelakangnya dengan nasi empat boks nasi yang dibagikan pemandu gugus.


"Kau benar-benar udah gila, Kai!" serunya lagi.


Teo membagikan nasi kotak itu kepada Kai, Ridwan, dan Ojan. Lalu berlalu lagi untuk mengambilkan botol air mineral dari pemandu mereka.


Teo memang benar-benar teman yang baik. Oh tidak lupa juga, dia dikorbankan oleh teman-teman segugusnya untuk menjadi ketua gugus sembilan belas, Gugus Jayapura—tahun ini FT menggunakan nama-nama ibukota provinsi di Indonesia untuk nama gugus. Kurang baik apalagi sih Teo?


"Kau sekarang mau ngikutin jejaknya si Ridwan, Kai?" tanya Neo dengan sakartis, "Baru aja hari kedua TM, kau udah nyari masalah. Sama ketua TPK lagi!"


Teo datang kembali diikuti Widi yang membawa kardus berisi beberapa air mineral berukuran sedang. Widi lalu membagikan botol itu ke Kai dan kawan-kawan yang baru datang.


"Aku tahu maksudmu tadi baik, aku juga salut sama keberanianmu. Tapi, tolong ditahan dulu ya?" ujar Widi sambil tersenyum ramah.


"Baik, Kak Widi," jawab Kai. Setelah itu, Widi berlalu pergi.


"Hoi Kai!" Neo berseru lagi karena sejak tadi dicueki sahabatnya.


"Apa?" Kai merespon dengan santai sambil membuka tutup botol minumnya. Dia meneguk air minumnya sampai tersisa setengah. Dia benar-benar haus.


"Kau mau jadi kayak Ridwan?" tanya Neo sekali lagi.


"Yang kayak apa?" Kai balik bertanya, "Kalau maksudmu troublemaker, nope. Aku masih bisa lebih bersabar daripada Ridwan. Dan mungkin lebih bersabar daripada kau juga, Yo."


"Brengsek kau, Kai," ujar Ridwan sambil meninju lengan kiri Kai. Tentu saja dengan bercanda. Meski mereka kadang saling mengejek satu sama lain, mereka bertiga itu sahabat yang rasanya udah kayak saudara. Lalu sekarang ditambah Teo dan Ojan di lingkaran kecil mereka.


"Lalu, yang kau lakukan tadi apa, hah?" Neo menghiraukan ejekan Kai. Iya, dia mengaku kalau kadang dia itu tidak sabaran. Diantara mereka bertiga, memang Kai-lah yang lebih penyabar.


Namun, kali ini sepertinya Kai memecahkan rekor sebagai anak baik-baik dengan aksinya tadi ke ketua TPK.


"Eh, iya, Kai," kali ini Ojan bersuara di sela-sela makan siangnya.


"Kau serius ngelamar ketua TPK yang meski cewek tapi garang itu?" tanyanya penasaran.


"Gila juga si Kai, ngelamar ketua TPK di hari kedua TM," timpal Ridwan dengan nada takjub.


"Hmm..." Kai hanya bergumam. Tidak menjawab pertanyaan Ojan.


"Heh, Kai! Kau beneran ngelamar dia? Atau kau cuman mau membuatnya marah?" tanya Ojan sekali lagi.


"Aku nggak mau kalau disuruh push up atau squat jump lagi padahal latihan fisik baru dimulai minggu depan."


"Hmm, entahlah," kata Kai akhirnya setelah memakan beberapa suapan makan siangnya.


"Aku hanya pengen melihat reaksinya," lanjutnya, "Jujur saja, tadi itu juga spontan haha! Aku nggak kepikiran sama sekali, tapi mendengarnya ngeremehin kita semua membuatku terpancing."


"Dan mengatakan kalau kau mau menjadikan Kak Aylin istrinya? Kau benar-benar menggali kuburmu sendiri, Kai," Teo berkomentar setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Woah.. Kai," kata Ridwan dengan takjub. Kali ini dia menepuk-nepuk pundak Kai dengan salut.


"Aku bangga padamu, bro. Nggak salah emang temenan sama Kai daripada Neo yang cupu."


"Sialan," Neo melemparkan gumpalan bekas bungkusan kerupuk ke arah Ridwan yang sayangnya tidak mengenainya sama sekali. Namun, buru-buru cowok penakut itu melihat ke sekeliling mereka, memastikan apakah ada TPK yang bertugas di dekat mereka. Lalu dia bernapas lega karena tidak ada TPK satupun di sekitar tempat gugus mereka beristirahat.


Yah, peraturannya adalah tidak boleh mengumpat dan berkata-kata kasar selama agenda. Meski sekarang ishoma, tetapi masuk ke rundown acara 'kan? Neo takut menambah catatan merah di TPK dari gugus mereka karena sejak tadi mereka berkata-kata kasar.


"Tapi gugus kita malah jadi incaran TPK," kata Neo, "Dan kayaknya Kak Aylin benar-benar memperhatikanmu Kai. Dia menandaimu jadi incarannya."


"Jadi memperhatikanku? Hmm.. bagus," kata Kai dengan santai. Sorot matanya terlihat jenaka.


"Kau benar-benar udah nggak waras Kai," Ojan berkomentar. Sementara Teo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan unik teman-teman barunya.


"Aku bangga padamu, Kai," kata Ridwan sambil menepuk-nepuk bahu Kai.


"Wan—! " Neo menahan diri untuk tidak mengatai sahabatnya yang satu itu.


"Kenapa kau malah mendukungnya?!"


"Hahaha..!" Ridwan hanya tertawa lepas.


Teo dan Ojan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua. Sementara Kai sibuk menghabiskan makan siangnya yang tadi sempat tertunda.


"Hei, Kai," panggil Teo setelah melihat Kai selesai.


"Apa?" tanya Kai sebelum menandaskan air minumnya. Dia masih menyimpan satu botol air minum yang isinya masih separuh lebih di dalam tasnya yang dia bawa dari asrama.


"Sejak TM pertama, kau satu-satunya maba yang berani menghadapi Kak Aylin. Kau seperti nggak suka padanya," ujar Teo. Dia penasaran kenapa Kai melakukannya.


Kai menghela napas sebelum berujar dengan pelan, "Bukannya nggak suka. Tapi gimana ya, Isimaja FT, apalagi tugas dan aturannya terlalu berlebihan menurutku. Aku hanya belum nemuin alasan kenapa kita harus diperintahkan senior kayak gitu. Aku rasa kurang ada gunanya agenda ini dipertahankan."


"Lalu apa kau mau terus menentang mereka?" tanya Teo dengan suara pelan juga.


"Bukan menentang sih. Cuman mau nyari tahu. Tapi kalau sampai di luar batas, ya harus dihentikan," jawab Kai.


"Intinya, kita lihat saja kedepannya apa yang akan para senior itu lakukan ke kita," tambahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


a. n.


menurut kalian, ospek macam itu perlu dipertahankan nggak? atau tetap ospek tapi dg cara yg berbeda?