Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Wildfire



wildfire (n): a large, destructive fire that spreads quickly over woodland or brush.


.


.


.


[baru minor editing, warning! part lumayan panjang, mentioned of song lyrics]


.


.


.


.


...I've come so close to this...


...There's a feeling of such a heavy rush from it...


...And it whispers, calls out, holds on 'till I'm listening......


.


Sejak percakapannya dengan Naufal beberapa waktu lalu, membuat Aylin berpikir.


Masa sih dia suka Kayvan? Juniornya yang kini menjadi salah satu jajaran mahasiswa terpopuler di FT dan mungkin di UHW juga dengan statusnya sebagai duta kampus terpilih.


Namun semua ciri-ciri yang diberikan Naufal mengenai orang yang jatuh cinta benar-benar sesuai dengan apa yang Aylin alami.


Sebenarnya, tanpa Naufal beritahu, Aylin sudah curiga lebih dulu. Menebak-nebak kenapa dia merasa aneh tiap kali di dekat seorang Kayvan Candra.


Tidak seperti ketika dia di dekat Naufal, Budi, Taufan, bahkan Frans sekalipun.


Namun dia menepis segala kecurigaannya. Menganggap kalau itu tidak mungkin dan menganggap kalau apa yang dia rasakan ini karena terlalu lelah dan jengkel dengan sikap Kayvan dan tugas-tugas di semester lima.


Tidak ada hubungannya dengan praduga yang Aylin buat. Anggap saja itu hanya halunisasi. Khayalan semata.


Iya, Aylin itu memang denial parah dan pada dasarnya tidak peka kalau masalah asmara dirinya sendiri. Membuatnya sering lupa dengan apa yang dia rasakan.


Begitu perkataan Naufal masuk di kepalanya, Aylin mulai lebih paham kalau ternyata kecurigaannya di awal ternyata benar.


Di sisi lain, dia juga ragu. Semua ini benar tidak sih?


Apa dia hanya baper karena belum pernah diperlakukan manis oleh laki-laki? Pengecualian untuk Naufal karena dulu cowok itu bersikap seperti biasanya dan mungkin hanya lebih sering menghabiskan waktu bersama.


Atau Aylin memang suka?


Atau jangan-jangan dia hanya dipermainkan? Dekat dan kenal Bimala membuat Aylin jadi tahu kalau tidak semua orang yang menunjukkan rasa tertarik pada kita itu benar-benar murni tidak ada udang dibalik batu.


Meskipun ada keraguan-keraguan itu, Aylin jadi lebih memperhatikan perasaannya sendiri, rasa sukanya terhadap sosok Kayvan Candra yang masih menyebalkan di matanya. Memang dia jadi lebih sadar, tetapi masih in denial kadang-kadang. Untungnya tidak separah sebelumnya.


.


.


.


Hari Sabtu dan itu artinya ada janji yang harus ditepati. Sejak kemarin Aylin kepikiran dengan hari ini. Meski setiap ada kesempatan dia selalu bertemu Kayvan di kampus, tetap saja rasanya berbeda.


Perasaan aneh itu tiba-tiba muncul.


So what kalau dia suka Kayvan—ya dia mulai mengakuinya dengan sangat berat hati. Dia takut kalau semua ini hanya permainan atau ilusi saja.


Mereka janjian bertemu di dekat asrama B—asrama putra yang jadi tempat tinggal Kayvan. Asrama F alias asrama putri milik FT letaknya memang agak lebih ke utara dan agak jauh dari jalan utama ke FT.


Sengaja janjian di sana karena pertama, Aylin ogah dijemput Kayvan saat cowok itu menawarkan. Kedua Aylin tidak mau membonceng motor Kayvan yang bisa membuat kesalahpahaman saat orang yang dikenal melihatnya. Selain itu, Aylin tentu saja gengsi.


Yup! Mereka memutuskan untuk naik transportasi umum. Bersyukurnya di Jogja transportasi umum masih beroperasi aktif dan banyak ditemukan. Diputuskan setelah Aylin menolak mentah-mentah dengan usualan Kai untuk naik motornya saja.


Bodo amat terlihat ribet.


Sisi positifnya mereka bisa menghemat bensin dan mengurasi jumlah kendaraan pribadi dengan memanfaatkan fasilitas transportasi umum yang ada.


Tidak tahu saja si Aylin kalau Kai justru menganggapnya lebih manis. Kalau Aylin tahu apa yang cowok itu pikirkan, bisa saja acara hari ini batal atau Kai kena jitakan.


Mereka janjian pukul sepuluh. Tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang.


Kini Aylin berjalan agak buru-buru ke tempat janjian mereka. Dia agak terlambat karena dia tadi malah ketiduran. Bangun-bangun sudah pukul sembilan pagi. Persiapan satu jam karena dia harus mencuci bajunya dulu—sebenarnya dia maunya mencuci sejak pagi tetapi malah ketiduran.


Di tempat janjian, Kai sudah menunggu. Cowok itu berpakaian rapi dengan kemeja lengan pendek dan rompi rajut. Benar-benar terlihat seperti tuan muda—dan Kayvan memang seorang tuan muda yang penampilannya sering mengecoh orang.


He's so modest.


"Maaf telat," kata Aylin begitu sampai.


Kai tersenyum melihat kedatangan Aylin. Dia berujar, "Santai aja Kak. Aku juga belum lama di sini."


Dia berbohong. Faktanya dia telah ada di sejak dua puluh menit. Namun, Aylin tak perlu tahu.


Aylin yang melihat penampilan Kayvan yang terlihat rapi, dia merasa seperti salah kostum.


Cewek itu hanya memakai rok lipat selutut dan kaos kebesaran andalannya. Dia juga memakai tas selempang kecil untuk menaruh ponsel dan dompetnya. Kai memakai sepatu sedangkan dirinya hanya pakai sandal selop. She feels underdressed.


Sementara itu, Kai yang melihat seniornya mengenakan pakaian santai dengan kaos kebesarannya dan rambut yang kali ini dibiarkan terurai karena sedikit basah membuatnya terlihat menggemaskan.


Auranya jadi sangat berbeda.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Aylin.


Kai mengangguk. "Boleh."


Lalu mereka berdua berjalan ke halte bus yang jaraknya tak begitu jauh dari kompleks asrama. Mereka akan menaiki TJ ke tempat tujuannya. Mereka akan mencoba ke Jolie di daerah Wirobrajan membeli kado untuk keponakan Kayvan yang akan ulang tahun.


Keponakan Kai yang dimaksud adalah putri sulung dari abangnya Kai, Rivan Aldi. Kayvan dan Rivan berjarak sepuluh tahun. Sementara dengan kedua kakak kembar perempuannya berjarak delapan tahun. Kai sebagai anak bungsu dan jarak usia dengan saudaranya cukup jauh tak membuat mereka merasa asing.


Dua dari kakaknya, Rivan dan Ren, sudah menikah. Menyisakan satu kakak perempuan, Rin, yang lanjut studi dan mengurus cabang usahanya di Jogja.


Kata Kai, Kak Rin berencana menikah setelah dia selesai S2-nya ini. Tepat di usianya yang kedua puluh delapan.


Aylin tidak tahu secara langsung bagaimana rasanya punya banyak saudara kandung. Dia anak tunggal dan terkadang dia juga merasa kesepian saat kedua orang tuanya sibuk bekerja.


Untung saja hubungannya dengan semua sepupu dari pihak ibunya sangat dekat. Mas Gio, kakaknya Bimala, adalah figur kakak cowok untuknya. Lalu Bimala sebagai kakak perempuan kalau berdasar silsilah—kenyataannya mereka lebih seperti sebaya, kemudian Nana dan kedua adik kembarnya sebagai sosok adik bagi Aylin.


Aylin tidak terlalu dekat dengan saudara dari pihak ayahnya. Pertama, mereka tinggal di luar kota—bahkan berbeda provinsi yang lumayan jauh. Kedua, hanya satu tahun sekali atau dua kali mereka bisa bertemu—itupun kalau tidak sibuk dengan pekerjaan. Dan ketiga adalah ayahnya hanya dua bersaudara.


Balik lagi ke Kayvan dan Aylin, mereka kini sudah sampai di Jolie. Selama perjalanan mereka tak banyak bicara.


Di dalam Jolie, mereka ke lantai bagian aksesoris.


"Kau ingin membelikan keponakanmu apa?" tanya Aylin.


"Hmm... aku bingung. Bagusnya apa ya kak?" Kai terlihat berpikir. Jujur dia jarang memberikan hadiah ke anak cewek. Jadi tidak tahu apa yang ingin dibeli.


"Keponakanmu umur berapa?" tanya Aylin sekali lagi.


"Besok mau empat tahun, cewek," jawab Kai.


"Wah kalau gitu belikan mainan edukasi atau boneka aja," usul Aylin. Kai mengangguk setuju. Lalu mereka menuju ke deretan rak boneka. Kai lalu memilih hadiahnya dan Aylin melihat-lihat barang di sekitar.


Ketika Aylin sedang asyik memperhatikan gantungan kunci yang terpajang, Kai datang menghampirinya.


"Kak Alin," Kai membawa dua boneka beruang dengan ukuran dan warna yang berbeda.


"Menurutmu bagus yang mana?" tanya Kai.


Aylin mengamati dua boneka itu sejenak.


"Oh, kau milih beli boneka. Hmm... yang ini aja," Aylin menunjuk boneka di tangan kiri Kai. Boneka beruang warna cokelat yang ukurannya agak lebih kecil dari yang sebelah kanan.


"Ukurannya pas untuk anak empat tahun. Atau kau mau yang kanan juga nggak masalah."


Kai mengamati sejenak boneka yang dia pegang. Lalu dia berujar sambil tersenyum, "Yang kiri aja Kak."


"Ya monggo," balasnya cuek.


"Aku ke kasir dulu ya Kak. Sekalian minta bonekanya dibungkus."


Kai lalu mengembalikan boneka yang tidak dipilih dan membawa boneka yang dipilih ke kasir agar dibungkus dan diberi kartu ucapan.


Aylin pada akhirnya membeli dua mainan kecil berupa gantungan dan beberapa buku edukasi untuk kedua sepupu kecilnya, Faisal dan Rizal.


Ketika Kai ingin berjalan ke tempat Aylin berada, mereka bertemu di tengah jalan. Kado Kayvan sudah dibungkus dan dibayar, sementara Aylin mau membayar mainan yang dia ambil.


"Kakak beli apa?" tanya Kai.


Aylin menunjukkan mainan kecil, sebuah gantungan kunci dengan karakter dari kartun kesukaan si kembar, Pokemon, dan beberapa buku belajar bergambar untuk anak-anak.


"Ini. Buat adik sepupuku."


Kai mengangguk mengerti dan membiarkan Aylin membayar barangnya. Sebenarnya Kai berniat membayarnya sekalian, tetapi dia urungkan karena pasti seniornya ini menolak mentah-mentah.


"Kakak ada tempat yang mau dikunjungi?" tanya Kayvan begitu mereka berada di luar, sudah selesai dengan belanja mereka.


"Hmm... sebenernya aku mau ke salon bentar. Mau potong rambut," jawab Aylin agak ragu. Sudah lama sejak terakhir kali Aylin membiarkan rambutnya panjang. Dia hanya ingin memotong sedikit dan merapikannya. Tidak benar-benar memotongnya sampai pendek.


Sudah cukup dari SMP sampai SMA berambut pendek dan paling panjang sebahu karena konsekuensinya sebagai tonti dan paskibra.


Kai tersenyum lalu berujar, "Kalau begitu ayo ke salon sebentar. Habis itu kita nyari makan siang? Gimana Kak?"


"Boleh."


Lalu mereka berjalan mencari salon terdekat. Sepanjang perjalanan, Kai selalu menempatkan dirinya berada di sisi kanan yang bersisian langsung dengan jalan raya. Membiarkan Aylin berjalan di sebelah kiri.


Sayangnya Aylin tidak memperhatikan gestur yang dilakukan juniornya. Gestur yang kalau ditelisik jadinya terkesan manis.


Begitu menemukan salon, mereka segera masuk ke dalam. Kai menunggu di kursi tunggu dan membiarkan Aylin menyelesaikan urusannya.


Sambil menunggu Aylin, Kai melihat-lihat sekelilingnya. Sesekali memainkan ponselnya lalu membuka-buka majalah yang ada di sana.


Beberapa saat kemudian, Kai mengangkat kepalanya dari majalah yang di abaca begitu mendengar langkah kaki mendekat.


Cowok itu terdiam sejenak. Tertegun melihat seniornya dengan potongan rambut barunya.


Cantik.


Satu kata itu yang terpintas di benaknya. Oh tidak. Baginya, Aylin selalu cantik dan manis di matanya. Namun kali ini auranya jadi lebih beda.


Melihat reaksi juniornya yang malah terdiam, Aylin jadi berpikir kalau seharusnya tadi dia tidak menuruti saran dari mbak-mbak salonnya. Awalnya Aylin hanya ingin sedikit merapikan rambut, tetapi tukang salonnya menyarankan untuk potong layer agar terkesan lebih stylist dan potongan itu juga cocok untuk bentuk wajahnya. Poninya yang semula hanya poni bawang kini jadi poni belah samping—Aylin yang minta karena dia tidak mau aneh-aneh.


Bahkan awalnya si tukang salon menyarankan untuk potong bob panjang, tetapi Aylin menolak mentah-mentah karena dia tidak mau terlalu banyak memangkas rambutnya.


Entahlah, Aylin tidak begitu paham soal model rambut.


"Oi, Kayvan!" panggil Aylin ketika juniornya itu tidak juga merespon.


Kayvan tersadar lalu mengerjapkan matanya. "Eh? Iya Kak?"


"Emang aneh banget ya?" tanya Aylin merasa agak menyesal potong rambut.


"Jangan begitu," mbak-mbak salon yang tadi memotong rambut Aylin berjalan mendekat. "Model ini cocok untukmu. Percaya padaku. Kalau kau nggak percaya, bisa tanyakan saja pada pacarmu."


Wanita itu menunjuk ke arah Kayvan saat mengucapkan pacar. Membuat Aylin membulatkan matanya dan buru-buru menyangkalnya.


"Bukan-bukan. Dia bukan pacar saya, tapi adik tingkat saya," jelas Aylin agar tidak ada kesalahpahaman di sini.


Aylin tidak melihat Kayvan yang berusaha menahan tawanya dengan berdeham pelan.


"Oh? Kukira dia pacarmu," kata wanita itu sambil bergantian menatap Kayvan dan dirinya.


"Soalnya dia memandangmu seperti..." wanita itu menutup mulutnya dengan tangan lalu tertawa kecil. Sambil melirik ke arah Aylin dan Kayvan sekali lagi lalu berlalu pergi.


Aylin tidak tahu harus merespon apa dengan kejadian barusan. Lalu dia berbalik menatap Kayvan dan berujar, "Biarin aja."


"Potongan rambut Kakak bagus kok, nggak aneh," Kai berkata kemudian.


"Bicaralah yang jujur. Aku nggak masalah kalau sebenernya kau mau bilang aneh," sahut Aylin cepat.


Wajah Kayvan berubah menjadi serius.


"Sepertinya emang kurang bagus, Kak," katanya dengan nada menyesal.


Mata Aylin membulat terkejut. Dia mulai panik. "Hah? Seriusan? Yah... gimana dong? Aku jadi makin nyesel ngikutin saran mbak-nya."


Kayvan menggeleng.


"Bukan begitu Kak," katanya.


"Tapi emang kurang bagus," cowok itu lalu tersenyum memandang Aylin, "buat hatiku Kak."


Aylin melotot mendengar gombalan dari juniornya. "Kayvan!"


.


.


.


...I can't stay far from it...


...So beautiful, pulls you in 'tll you feel it...


...And it whispers, calls out, holds on 'tll I'm listening......


.


Setelah ishoma sebentar, mereka lalu melanjutkan jalan mereka. Saat makan tadi, Kai jadi semakin tahu makanan kesukaan Aylin. Oh tentu dia tahu kalau seniornya itu tidak suka pedas dan suka dengan susu stroberi. Kebalikan dengan Kayvan yang suka pedas dan suka kopi. Aylin yang melihat menu makan siang Kayvan mengerutkan hidung dan bibirnya melengkung ke bawah. Bagi cowok itu, ekspresi Aylin ini terlihat menggemaskan.


"Kau yakin makan makanan neraka itu?" komentar Aylin terlihat ragu.


Kai tersenyum dan terkekeh pelan. "Ini tidak sepedas yang Kakak pikirkan. Kakak bisa mencicipinya kalau mau."


"Nggak perlu," sahut Aylin cepat. Terima kasih banyak, tetapi Aylin akan tetap menikmati menu makanan yang dipesannya ini meski bagi kebanyakan orang terlihat hambar atau membosankan.


Asalkan jangan pedas.


Sesuai janjinya, Aylin menemani juniornya ini keliling Jogja. Tentu saja dengan terpaksa. Mereka mengunjungi beberapa tempat dan berhenti di beberapa kali untuk istirahat sejenak.


"Kakak mau pakai topi? Atau payung saja?" tanya Kai terdengar khawatir. Siang ini cukup terik, meski sesekali terlihat mendung. Dan wajah Aylin terlihat agak kemerahan karena panas.


Mereka tengah berdiri di tempat teduh di dekat area Taman Sari.


"Nggak usah," jawab Aylin. Dia tengah mengucir rambutnya dengan karet rambut yang dibawanya.


Melihat bulir-bulir keringat di pelipis Aylin, membuat Kai mengeluarkan tisu dari sakunya—dia terkadang memang membawa tisu kering saat bepergian. Dengan gerakan tiba-tiba yang membuat Aylin gelagapan, Kai menyapukan tisu itu di pelipis Aylin untuk mengelap keringatnya.


Bagaimana kondisi Aylin saat ini? Dia membeku di tempat. Matanya membulat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari juniornya ini.


Deg... deg... deg...


Jantungnya kini memompa lebih cepat. Sangat keras membuat Aylin takut kalau cowok di depannya ini mendengarnya.


Perutnya kembali merasa digelitiki ribuan kupu-kupu. Perasaan hangat yang sebelumnya terasa janggal menyusup kembali. Kali ini rasanya begitu nyaman.


"Yuk Kak, kita lanjut jalannya. Habis ini kita cari tempat buat istirahat bentar saja," kata Kayvan dengan senyuk khasnya kemudian.


"E-eh? Iya," dengan agak gelagapan Aylin merespon. Masih setengah sadar rasanya. Bahkan Aylin masih membisu dengan pikiran berkecambuk dan dada yang berdebar kencang saat juniornya itu menggandeng tangannya.


.


.


.


...There's a wildfire...


...Set to blaze...


...Undiscovered here to change......


.


Sorenya Kayvan dan Aylin pergi ke Jalan Malioboro. Sisa siang tadi mereka lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan kota.


Jalan Malioboro yang familiar membuat Aylin tersenyum kecil melihatnya. Meski sudah berkali-kali ke sini, rasanya tetap sama. Tidak pernah membosankan.


"Aku udah lama banget nggak ke sini," ujar Kai sambil tersenyum bernostalgia. "Terakhir kali waktu SD kalau nggak salah."


"Sekarang banyak banget yang berubah."


"Dalam waktu dekat aja ada perubahan, gimana kalau belasan tahun?" sahut Aylin.


Mereka lalu berjalan bersisihan menyusuri trotoar yang penuh lalu lalang sepanjang Jalan Malioboro. Berhenti sejenak untuk melihat-lihat pernak-pernik, penampilan musisi jalanan, sampai membeli jajanan pasar yang dijual.


Sampailah keduanya di kawasan Titik Nol. Bangunan tua dan monument menjadi salah satu pemandangan yang disuguhkan.


Sepanjang jalan, suara musik gamelan dan lagu khas Jogja terdengar. Menjadi musik latar belakang sebuah lakon dunia nyata yang terjadi di Jalan Malioboro.


Kai dan Aylin mengobrol santai. Untuk pertama kalinya tanpa Aylin yang merasa jengkel dan Kai dengan sikap tengilnya.


Mereka membahas banyak hal. Hal-hal random yang terlintas di kepala. Dari Kai yang ternyata hobi memotret seperti Rima, Aylin yang mengoleksi beberapa pernak-pernik dari buku dan komik kesukaannya, Kota Jogja dan segala isinya yang penuh kenangan, tentang lagu Jogja Istimewa dari JHF yang berusan terdengar—Aylin suka lagu itu karena selalu mengingatkan akan rumah.


Sampai alasan mereka memilih kuliah di UHW Jogja.


"Abangku lulusan Teknik Kimia UHW. Dan aku banyak mendengar cerita tentang UHW darinya," cerita Kai.


Mereka tengah duduk di bangku yang tersedia. Di seberang jalan tak jauh dari mereka adalah bangunan peninggalan Belanda yang menjadi sebuah bank.


"Jadi sejak awal aku udah niat kuliah di sini. Aku ingin membantu usaha keluarga, jadi jurusan teknik-lah yang sejalur dengan tujuanku. Meski aku juga tertarik untuk ambil bisnis juga."


Beda lagi dengan Aylin. Cewek itu mengambil jurusan di teknik karena dia suka fisika—pelajaran yang mungkin banyak dibenci orang. Dia juga tertarik dengan jurusan yang ada di teknik. Lalu alasan lainnya adalah cukup jarang perempuan mengambil jurusan teknik yang berhubungan dengan mesin.


Meski awalnya sempat ragu apa dia akan kuat berada di sini, pada akhirnya dia berhasil menjalaninya sejauh ini. Dan merasa tidak salah jurusan.


"Kayvan, aku ingin tanya," Aylin berujar beberapa saat kemudian, "Apa kau ada dendam padaku?"


Sudah sejak lama pertanyaan itu mengganjal di pikirannya.


Kai menoleh ke Aylin lalu berkata, "Kenapa Kakak tanya begitu?"


Aylin mengangkat kedua bahunya, lalu berkata tanpa menoleh, "Aku hanya kepikiran, dengan sikapmu selama ini dan aku yang sebagai ketua TPK FT, kau punya dendam padaku."


Kai menggelengkan kepalanya.


"Aku bukan orang yang pendendam Kak," kata Kai, "Awalnya emang kesal dengan semua kebijakan yang kupikir nggak masuk akal. Tapi aku nggak pernah menjadikannya dendam."


'Karena aku nggak mungkin benci Kakak,' Kai menambahkan dalam hati. Dia tidak mungkin membenci orang yang sudah membuatnya jatuh hati seperti ini. Semakin dalam setiap harinya.


Langit mulai berubah oranye. Sudah hampir seharian ini mereka berkeliling Kota Jogja. Mereka tengah berjalan pulang. Mencari halte terdekat untuk naik TJ ke arah UHW.


Jalanan yang semakin macet dan orang-orang yang mulai memadati Malioboro karena akhir pekan, membuat Kai dan Aylin harus sedikit berjuang ekstra.


Walau begitu, keramaian itu tidak mengurangi pesona salah satu tempat terkenal di Jogja ini. Yang katanya romantis oleh orang-orang rantauan yang ke Jogja.


Begitu sederhana dan hidup.


Kai dan Aylin sudah hampir sampai di halte. Tinggal menyeberang jalan yang butuh sedikit kesabaran karena ramai.


Sejak tadi, pikiran Aylin berkecambuk dan dia tengah bergulat dengan hatinya. Memikirkan kejadian hari ini yang kalau seseorang bilang dia akan jalan-jalan dengan Kayvan, bahkan sedekat ini, Aylin akan menganggap orang itu sudah gila.


Selama hampir seharian ini, sikap juniornya itu selalu manis. Membuat hatinya merasa hangat dan jantung yang berdebar-debar. Apalagi perkataan Kayvan belum lama tadi yang membuatnya semakin merasa tak karuan.


Dan selama hampir seharian dengan junior yang berdiri di sebelahnya ini, membuat perasaan Aylin menjadi tak karuan. Apa yang dia rasakan sebelum-sebelumnya semakin tak terbendung. Seolah-olah sebentar lagi akan meledak.


Karena Aylin yang melamun, dia tak sadar kalau orang-orang di sekitarnya berjalan menyeberang. Nyaris saja Aylin tertabrak mobil kalau Kayvan tidak menariknya.


Sentuhan tangan mereka seolah mengirimkan listrik kejutan ke Aylin. She feels the sparks.


Tanpa melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Aylin, Kai terus menggandeng cewek itu menyeberang dan berjalan menuju halte.


Sementara Aylin, dia membisu. Pandangannya mengarah ke tangannya yang digenggam Kayvan.


'Tangannya begitu hangat.'


Lalu perasaan yang sebelumnya semakin tak terbendung, kini membuncah keluar. Seolah meledak di dalam. Membuat rasa hangatnya menyebar dan jantungnya berdebar semakin kencang.


Penglihatannya seolah terbuka lebar.


'Aku beneran suka dia.'


Dan kali ini, Aylin tidak menyangkal lagi. Dia menyerah. Membiarkan semuanya mengalir membawanya pada perasaan asing yang menyenangkan ini.


.


...Even if it all burns out...


...We're still alive......


.


.


.


.


.


Di dalam bus di mana Kai dan Aylin duduk bersisihan karena kursi yang tersisa hanya itu.


"Kak," panggil Kai setelah keheningan di antara mereka.


"Hmm?" gumam Aylin tanpa menoleh. Dia melihat ke luar jendela, memandang tempat-tempat yang dilalui bus.


"Aku mau daftar panitia ospek tahun depan," Kai berkata, "Aku tertarik daftar TPK."


Kali ini Aylin menoleh ke arah juniornya begitu mendengarnya.


"Ha? Kau serius?"


Kai mengangguk yakin. "Iya, selain TPK aku juga tertarik dengan Tim Acara."


"Sepertinya acara cocok juga buatmu," Aylin mengomentari, "Tapi kalo TPK...? Jadi TPK itu nggak mudah lho, yakin mau? Banyak resikonya juga."


Sekali lagi Kai mengangguk yakin. "Iya, Kak. Setelah tahu dari Kakak dan Bang Frans, aku jadi tertarik buat gabung tahun depan."


"Terserah kau saja lah."


"Dulu Kakak bisa jadi ketua TPK karena apa? Apa itu keinginan Kakak sendiri?" tanya Kai penasaran.


"Hmm... sebenernya aku jadi TPK terus jadi ketuanya itu karena dipilih Mas Teguh. Dulu dia ketua TPK pas aku maba," jawab Aylin.


"Kok bisa?"


"Entah. Tapi Mas Teguh langsung mengincar-ku pas aku telat dan dihukum di hari pertama ospek di GOR. Karena telat lima menit. Aku bukan kau ya yang suka nyari masalah."


Kai hanya tersenyum tanpa rasa bersalah mendengarnya.


"Aku dulu mah ikutin aja ospeknya sama jangan cari masalah," lanjutnya.


Wow! Kai tidak menyangka mendengarnya.


"Oh iya Kak, pas malam penutupan ospek, Mas Teguh itu datang menghampiriku sama Mas Faiz," kata Kai kemudian. "Mereka menawariku buat jadi ketua ospek."


Aylin membulatkan matanya terkejut.


"Hah? Kau serius?" tanya Aylin tak percaya. Mantan ketua TPK pada saat dia maba dan mantan ketua Isimaja FT tahun lalu menemui juniornya ini.


"Masih ada dua tahun lagi. Pikirkan baik-baik. Jangan terlalu ambis juga."


"Tentu, Kak. Aku udah mikir ini matang-matang sejak penutupan Isimaja bulan lalu," kata Kayvan. "Dan sekarang emang masih terlalu dini buat ambil keputusan, tapi aku mempertimbangkannya."


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


people in love are stink! :v


JHF: Jogja Hiphop Foundation (coba dengerin lagu karya mereka)


ini part yang sejak lama pengen banget kutulis :D


lagunya judulnya sama seperti judul chapter ini, penyanyinya natalie taylor


jadi aku menggambarkan all those feeling yang dirasakan Aylin ketika dia mulai menerima dan nggak nyangkal lagi itu seperti api yang menyebar dengan cepat (wildfire) dan meskipun apinya padam, baranya masih akan tetap ada dan membekas yang sewaktu-waktu bisa menyala lebih besar  (aku mengartikan wildfire di sini pakai sisi positifnya)


actually i have other meaning: love is like a wildfire, it can pull you in and it can also destroy you, but if you find the right person, it can make love to be true and you'll be alright. in aylin's case it will be kai. vice versa


see u on next chap which is a side story and i'll upload it asap