Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Cat is Out of the Bag



the cat is out of the bag (idiom): reveal a secret carelessly or by mistake.


.


.


[minor editing | cringe | maaf baru bisa update. sebenarnya aku pengen nulis part ini sejak lama, akhirnya ketulis juga. tapi agak beda dari plot awal]


.


.


.


"Ehem!" suara dehaman keras terdengar.


"Kok kalian makin akrab banget sih. Pacaran ya?" Budi berujar dengan keras, entah sengaja atau tidak dia melakukannya.


Karena suara Budi yang cempreng, ditambah suasana juga tidak begitu ramai, kini jadi hening tiba-tiba. Semua mata menoleh ke arah Aylin dan Kayvan.


'Budi sialan!' ingin rasanya dia mengubur diri hidup-hidup.


Aylin merasakan banyak pasang mata mengarah padanya.


Mana posisi mereka sekarang tidak hanya duduk berhadapan, tetapi sudah berdiri dengan posisi yang berdekatan. Sesuatu yang bagi orang-orang tidak terpikirkan untuk terjadi pada ketua TPK dan duta kampus mereka.


Andai Kai dan Aylin tahu, sebenarnya Budi sudah memperhatikan mereka sejenak saat tak sengaja melihat mereka berdua begitu dekat. Lalu dia dan Taufan dengan iseng menirukan bagaimana Kai dan Aylin memakaikan gelang.


Baru setelah itu Budi bersuara—sengaja dengan volume keras—karena sudah merasa greget dengan tingkah mencurigakan keduanya.


Oh siapa sih yang tidak curiga tiba-tiba melihat sahabatmu bertingkah aneh dan terlihat begitu lebih akrab dari biasanya dengan junior populer itu. Junior yang menjadi opponent sahabatmu selama Isimaja.


Apalagi melihat sahabatmu terlihat tersenyum malu-malu meong yang membuatnya semakin mencurigakan. Lalu tatapan keduanya yang aneh.


It's kinda sus!


"Eh—"


"Kalau iya kenapa? Masalah?" perkataan tak terduga yang keluar dari mulut Aylin memotong Kai yang berusaha menyanggah.


Dengan sepenuhnya sadar, dan mungkin terpacu adrenalin hingga dia sudah merasa masa bodoh, Aylin menautkan tangan kanannya dengan tangan kiri Kayvan. Membuatnya semakin menjelaskan hubungan keduanya secara tidak langsung.


Sementara Kai, cowok itu terlihat terkejut selama beberapa saat karena tindakan tak terduga dari senior kesayangannya ini. Niatnya tadi ingin mencari alasan untuk menutupi hubungan mereka karena dia kira Aylin belum siap semua orang tahu.


Dia benar-benar tidak menyangka kalau Aylin bakalan membeberkannya dengan jelas di depan banyak orang.


Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Kai membalasnya dengan meraih pinggang Aylin dan merangkulnya mendekat. Sebuah gestur yang terlihat intim. Senyum khas terbit di wajahnya yang tampan.


"WOAAHH...!"


"CIYEE...!"


Sorakan terdengar dari orang-orang yang mendengar dan menyaksikan fakta yang tak terduga itu.


Wajah Aylin terlihat memerah. Dia benar-benar ingin melarikan diri saat ini juga karena tindakan spontannya barusan. Namun, tangan Kai yang merangkul pinggangnya membuat hal itu tidak mungkin.


Namun, senyum yang memperlihatkan lesung pipinya terpatri di wajah Aylin. Meski dia merasa malu, tetapi di sisi lain dia juga merasa lega.


Apalagi melihat respon positif dari anak-anak FT yang lain. Terlebih Naufal dan yang lain begitu heboh menyoraki pasangan itu.


.


.


"Uluh-uluh... ciyee!"


"Suit-suit...!"


Budi dan Taufan masih saja heboh saat kelima sekawan berkumpul. Acara kembali berlanjut seperti semula setelah dari terjadi kehebohan karena pengakuan tak terduga karena sang ketua TPK FT.


Bahkan Galang dan Seno yang masih memegang pelantang, kehebohan mereka terdengar sangat keras. Mereka juga mengatakan keterkejutan mereka, lalu diikuti ucapan selamat dan doa semoga langgeng.


"Gile ya si Alin, tiba-tiba bilang kalau betulan pacaran sama Kayvan. Padahal tadi iseng-iseng aja nyeletuk, hahaha!" kata Budi. Namun, kecurigaannya tadi terbukti benar.


"Lagian sus banget sih kalian berdua," timpal Taufan.


"Kok kalian berdua kayak nggak kaget sih?" tanya Budi ke Naufal dan Rima yang terlihat santai, tidak heboh seperti yang lain tadi.


"Udah tahu duluan," jawab Naufal dengan kalem. "Spill nggak papa ya berarti sekarang Lin?"


"Wong Alin aja pernah cerita padaku. Terus si Kayvan juga bilang langsung pas dia malah cemburu dengan kedekatanku sama Alin, hahaha!"


"Hah? Kapan si Kai bilang?" tanya Aylin heran. Dia baru tahu fakta ini.


"Ada. Coba kau tanya sendiri pacarmu Lin," Naufal mengerling jahil. "Ceilah pacar. Duh kayak lagi melepas anak gadis menikah."


"HEH!" seloroh Aylin galak.


"Hahaha!" Naufal hanya tertawa. Apalagi melihat wajah sahabat kecilnya itu memerah salah tingkah. Benar-benar bukan seperti Aylin.


Seperti baru kemarin sahabatnya itu masih berada di fase clueless lalu denial. Eh sekarang tahu-tahunya sudah resmi berhubungan.


"Huuu...! Alin mah gitu, pilih kasih. Jangan-jangan dia juga cerita padamu juga ya?" tanya Budi ke Rima dengan nada menuduh. Dia kesal karena jadi orang bodoh dan tidak peka di sini.


"Nggak. Alin mana mau sukarela cerita pas gengsinya tinggi banget. Taruhan, pasti kalau nggak dipancing si Nopal, dia juga nggak bakal cerita sama dia," jawab Rima. Paham betul dengan perangai sahabatnya itu.


"Aku udah curiga sejak malam pemilihan duta kampus. Pas Kayvan tampil di depan," aku Rima. "Terus sahabat kita yang satu ini pasti tidak akan peka sama kode-kode yang diberikan Kayvan selama ini."


Dia merangkul Aylin lalu mengusak rambutnya dengan gemas. Membuat Aylin memberontak berusaha lepas.


"Wih... udah lama juga ya si Kayvan ngincer Alin, hahaha!" tawa Taufan.


"Jangan-jangan pas Kayvan nampil tadi, lagunya buat si Alin?" tebakannya tepat sasaran.


"Hooh kali," sahut Naufal.


"Duh akhirnya nggak jomblo si Alin," goda Budi. "Meski masih kesel jadi yang belakangan tahu. Tapi jangan lupa pj ya! Hahaha..!"


"Nyenyenye..." Aylin mencibir. Namun, dia juga lega karena para sahabatnya merespon dengan baik.


"Sadar nggak sih kalian, kalau perkataan Kayvan pas TM jadi beneran?" ucap Rima kemudian.


"Hah? Yang mana?" Taufan bertanya dengan bingung. Keempatnya menatap Rima, menunggu kelanjutan.


"Yang Kayvan bakal jadiin si Alin 'istri'-nya."


"Oh... OH! Yang itu! Beneran terjadi ternyata, hahahaha!"


Budi mengerling jahil ke Aylin yang hanya dibalas decihan dan memalingkan muka.


Sementara itu di sisi lain, tempat di mana Kai dan para sahabatnya berkumpul setelah pengakuan menggegerkan tadi.


"Aku tidak tahu kalau kau suka Kak Alin," komentar Neo. "Maksudku yang beneran suka. Kukira kau hanya bercanda."


Kai menghela napas.


"Aku nggak pernah seserius ini sebelumnya," kata cowok itu.


"Kau yakin?"


Kai mengangguk. Dia menatap sahabatnya lalu berujar dengan tegas. "Bahkan aku berani bilang, finally I found her."


Neo terdiam sejenak sambil menatap Kai tepat di matanya.


"Aku senang mendengarnya," Neo tersenyum tulus.


Lalu dia berujar dengan bercanda, "Sialannya kau merahasiakannya dari kami," dia meninju lengan Kai pelan.


Kai hanya tersenyum dan mengerling jenaka.


"Apa hanya aku sama Neo yang baru tahu?" tanya Ojan. Dia masih tak menyangka dengan fakta yang ada. Sahabatnya berpacaran dengan senior yang ditakuti. Bahkan mereka dua sering sekali clash selama Isimaja.


Benar-benar dia tak habis pikir sekarang.


"Kau udah tahu Yo?" cowok itu bertanya pada Teo yang tadi terlihat tidak begitu terkejut. Seperti sudah menduga apa yang terjadi.


"Sebenernya aku udah curiga sih dari gelagat Kai sebelum-sebelumnya, dari dia yang kayak naruh perhatian lebih ke Kak Alin," aku Teo. "Tapi aku diam aja karena aku nggak mau berasumsi lebih."


Ridwan tak perlu ditanya lagi. Dia tak menggubris tuduhan Ojan yang mengira dia menyembunyikan rahasia selama ini—tidak sepenuhnya salah karena dia membiarkan Kai mengatakannya sendiri.


Dia sudah menyadarinya sejak awal. Bahkan tanpa Kai bercerita langsung padanya, cowok jangkung itu sudah menduganya. Apalagi respon Kai terhadap beberapa perkataan Ridwan yang terdengar kasual sebelum-sebelumnya.


Cowok itu lalu tersenyum tipis ke arah Kai. "Akhirnya ya?"


Kai tersenyum. "Ya."


.


.


.


Kondisi grup whatsapp lima sekawan pasca pengakuan Aylin yang menggegerkan... [menggunakan pov Aylin]


...CIYE ALIN GAK JOMBLO LAGI GES...


...Topan mengubah nama grup...


...Topan menambahkan Budi Apeng...


^^^HEH^^^


^^^APAAN NEH NAMA GRUPNYA^^^


^^^-_-^^^


Topan


Ehe


Topan


CIYEEE ALIIIN WKWKWK


Akhirnya...


Setelah dari lahir ngejomblo


Nopal


Aku berasa ngelepas anak gadis ke suaminya :")


Baek-baek ya lin sama suami


Ihir


^^^Nopal sialan!^^^


^^^Suami apaan^^^


Rima


CIYEEE WKWK


Akhirnya bisa ngeluarin meme ini


[meme]


Rima


Ampe nyelem galeri buat nyari itu meme :')


Topan


Wkwk


Tapi aku setuju sih sama meme nya


Bener2 alin banget


Rima


KAN!


Nopal


Wkwkwk


Nopal


Yang awalnya jomblo cuek...


Rima


Tapi cukup banyak yang naksir


Eh...


Topan


Diem diem duar!


Jadian gak bilang2


^^^Kompak bener kalian bertiga^^^


^^^apaan dah -__-^^^


^^^biasa aja kali^^^


Budi


ASEM KABEH! [sialan semua]


Mosok aku agi di add grup [masa aku baru di add grup]


Rima


Harusnya dikasih trigger warning


Biar nggak kaget


Nopal


Sialan si rima wkwk


Dikira budi hewan berbahaya


😂😂


Topan


Kan emang dia 🐶


Budi Apeng


SEMPRUL KABEH! [semprul semua]


TEGANYA KALIAN PADA PADUKA


Rima


LEBAY


Topan


Ye maap lupa


Kirain udah masuk grup


Nopal


Tapi jadi adem gak sih grupnya


beberapa hari ini? wkwk


Gak ada budi yg bikin rusuh


^^^Si topan juga jadi lebih kalem wkwk^^^


^^^Gak ketrigger virus biang keroknya budi^^^


Budi Apeng


Si anj-


Mentang2 dah ofisyel si makcik


Nopal


Makanya bud jangan bikin ulah wkwk


Nyepam link video gajelas


Budi Apeng


Padahal video edukasi


Emang bener2 ye kalian ni


Budi Apeng


Mana aku jadi orang terakhir yg tau kalo


si alin jadian sama si junior kesayangan


Rima


Video edukasi your ndas


Mana ada video edukasi isinya amediketu meme gajelas


^^^Emang dah bener ma besok2^^^


^^^pake tw pas budi muncul di grup^^^


^^^Ato di kick lagi sekalian^^^


Budi Apeng


Janc*k!


Nopal


Indahnya persahabatan ini 😌


Topan


WKWKWK


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus!


Kayvan dan Aylin sedang duduk di salah satu bangku di taman rektorat. Buku-buku memenuhi meja di depan mereka. Kai yang duduk di depan Aylin tengah berusaha menyelesaikan soal, sesekali mencuri pandang cewek di depannya yang fokus dengan buku bacaannya.


Siang ini, kebetulan mereka tidak ada jam kuliah, memang sengaja ke taman rektorat untuk belajar. Lebih tepatnya Kai yang belajar.


Cowok itu memang meminta Aylin untuk mengajarinya soal materi yang belum dia paham. Masuk ke teknik memang keinginannya, tetapi tetap saja dia menghadapi kesulitan di beberapa mata kuliahnya.


Dia bukan Aylin yang memang lebih cepat paham dan bisa dengan cukup mudah dapat nilai bagus di FT—yang memang cukup sulit untuk sekedar dapat nilai B di kebanyakan jurusan FT.


"Kai! Fokus ke soalmu," ujar Aylin tanpa menoleh. Masih fokus dengan novel barunya. Namun, dia merasa Kai sejak beberapa saat yang lalu malah memperhatikannya.


Cowok itu memang sejak lima menit yang lalu berhenti mengerjakan tugasnya dan memilih untuk memandangi cewek yang ada di depannya.


"Kakak tahu nggak lukisan karya van Gogh yang malam berbintang?" Kai malah bertanya.


Aylin menghentikan acara membacanya dan menatap Kai. Dia mengangguk dan berujar, "Tahu."


Kai tersenyum, "Nah makanya. Kayak orang lihat lukisan itu, aku nggak bisa berhenti memandangi Kakak."


"Kayvan!" Aylin melotot tajam ke arahnya. Gombal bener itu bocah satu!


"Hehehe... tapi emang bener Kak. Apalagi Kakak duduk di depanku, ya mana bisa aku fokus terus ke materi kalau ada mataku hanya tertuju pada Kakak."


Cewek itu menahan diri agar tidak menjitak kepala Kai. Benar-benar!


"Nyenye... alasan! Bilang aja kau belum paham," Aylin mencibir. Berusaha agar pipinya tidak memerah malu.


Si Kayvan ini mulutnya alus bener ya kalau dilihat-lihat. Sudah beberapa kali Aylin dibuat kelimpungan dengan kata-kata manis pacarnya ini. Meski hanya sesekali terjadi, tetapi tetap saja 'kan?


Apalagi gestur yang selalu Kai tunjukkan padanya benar-benar definisi gentleman. Aylin mana bisa tidak makin luluh.


Dia jadi kepikiran, apa jangan-jangan Kai juga seperti ini dengan mantan pacarnya dulu?


Ya, Aylin tahu Kai pernah pacaran ketika SMA kelas dua. Cowok itu yang cerita sendiri.


Ketika Aylin mengutarakan pikirannya, Kai berujar dengan lembut, "Kakak nggak perlu khawatir. Orang itu hanya bagian dari cerita yang udah selesai. Untuk sekarang dan semoga seterusnya, aku dan Kakak yang mengisi cerita bersama."


Meski sering kali Kai suka menggodanya—cowok itu bilang kalau dia suka melihat ekspresi marah Aylin. Memang benar-benar aneh!—dia tidak sesumbar kata-kata manis omong kosong yang sering kali Aylin dengar dari Budi dan beberapa cowok playboy.


Hal membuatnya semakin luluh pada sosoknya.


Mereka kembali melakukan aktivitas yang tertunda. Kali ini Aylin kembali menjelaskan pada Kai soal materi yang masih belum mengerti. Cewek itu dengan tegas meminta Kai untuk fokus saat cowok itu ingin menggodanya lagi.


"Fokus Kai, fokus."


Keadaan jadi hening selama beberapa saat. Sampai ponsel Aylin kembali bergetar untuk kesekian kalinya. Menandakan ada notif pesan masuk.


Kali ini, fokus Aylin yang pecah. Dia mengerang kesal dan dengan kasar meraih ponselnya.


Terlihat dia bergumam dengan nada mengomel. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat jengah. Entah karena apa.


Kai yang sejak tadi memperhatikan, ikut penasaran dan khawatir. Takut-takut kalau ada apa-apa terjadi.


"Ada apa Kak?"


Aylin menghela napas. "Biasa, pengganggu."


"Pengganggu? Kakak diganggu? Sama siapa?" cecar Kai. Dia semakin khawatir mendengar kesayangannya ini diganggu sampai membuatnya uring-uringan.


"Woa... santai-santai," kata Aylin yang menyadarinya. Dia lalu menceritakan kalau akhir-akhir ini sering menerima dm atau direct message tidak jelas dari akun instagramnya. Padahal Aylin terbilang jarang main ig dan jarang mengunggah foto. Unggahan fotonya pun bukan swafoto dia sendiri.


Bahkan ada yang sampai ke mengiriminya pesan lewat whatsapp!


Sebenarnya, jauh sebelum dirinya bertemu dan mengenal Kayvan, dia juga sudah beberapa kali mendapat pesan tidak jelas dari orang tidak dikenal melalui instagramnya. Hanya saja, semenjak dia dia jadi ketua TPK, dia mulai mengunci akunnya karena ada komentar jelek nyasar di unggahannya gara-gara dia ketua TPK FT.


Namun, entah kenapa tetap ada dm masuk. Mungkin itu salah satu pengikut di akunnya yang tidak sempat Aylin blokir karena tidak tahu yang mana.


"Kakak sayang," bahkan Aylin belum terbiasa dengan panggilan mesra dari Kai.


"Ini udah termasuk keterlaluan lho... udah mengganggu privasi Kakak," kata Kai dengan lembut setelah dirinya melihat bukti pesan yang ada di ponsel Aylin.


"Lagian mereka kenapa sih sok akrab banget ke Kakak ngajak kenalan sambil pamer pekerjaan," Aylin tersenyum mendengar nada bicara Kai yang terdengar cemburu.


"Mereka nggak tahu kalau Kakak udah punya pacar?"


"Udah aku blokir semua, kok," kata Aylin menenangkan. "Aku juga udah bilang kalau aku ada pacar tanpa nyebutin nama. Takut kamu nggak setuju kalau aku sebutin namamu sembarangan ke orang asing. Dan mereka udah nggak pernah menghubungiku lagi. Pesannya masih kusimpan buat barang bukti kalau suatu saat dibutuhin."


Kai selalu luluh saat mendengar Aylin bicara lembut begitu. Apalagi menggunakan aku-kamu.


"Tapi?" Kai menunggu kelanjutannya.


Ekspresi Aylin berubah kesal. "Yang satu ini bebalnya minta ampun! Udah kubilang berkali-kali kalau aku udah punya pacar, tetep aja ngeyel."


Mana orang itu dengan besar kepalanya memamerkan pangkat dan pendapatannya lagi! Lalu menuduh Kai tidak ada apa-apanya dengannya.


Oh, Aylin sudah tahu tipe-tipe orang seperti itu. Bapak dan Mas Gio juga sudah pernah bercerita kalau akan ada orang dengan template mindset yang serupa. Yang akan membanggakan pangkat dan pekerjaan mereka. Apalagi yang tidak jujur dan punya back up. Bakal lebih besar kepala dan bebal.


Dasar orang ini. Sampai membawa-bawa kalau keluarganya yang berada itu dan punya backing-an kuat. Lalu bilang kalau Aylin akan aman dan terjamin kalau memilihnya. Tidak tahu saja kalau ayah Aylin itu lebih tinggi pangkatnya dan Kayvan?


Jangan ditanya. Aylin terkadang masih merasa "kok bisa ya" seorang tuan muda seperti Kayvan Candra justru jatuh hati dan menjalin hubungan dengannya.


Entah dari mana orang itu bisa dapat nomor teleponnya. Dia juga tahu kalau ayahnya sama-sama bekerja di instansi yang sama. Namun, sepertinya tidak benar-benar tahu sosok ayah Aylin sebenarnya.


"Pfft..!" Kai menahan tawanya saat membawa pesan dari orang bebal itu. Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Kupikir itu hanya cerita yang dilebih-lebihkan orang-orang. Ternyata beneran ada ya Kak."


"Banyak Kai, asal kamu tahu aja," sahut Aylin.


"Sini biar aku aja yang bales, boleh?" Aylin mengangguk dan membiarkan Kayvan mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Ayo kita foto berdua dulu buat dikirim," ajak Kai.


Aylin terdengar ragu, "Apa nggak masalah?"


Kai tersenyum. "Nggak papa. Kalau makin macem-macem, Kakak nggak perlu khawatir, oke?"


Dan Aylin tahu kalau Kai tidak pernah bermain-main dengan ucapannya itu. Namun, yang belum dia tahu, sampai sejauh dan seluas mana?


Pada akhirnya mereka melakukan swafoto berdua. Aylin tersenyum kecil sedangkan Kai berekspresi datar—dia benar-benar masih merasa jengkel dengan orang yang mengganggu Ayli ini. Namun, sorot mata Kai terlihat tajam. Seolah menantang kalau orang itu macam-macam.


'Saya pacarnya.'


Setelah memastikan orang itu sudah membacanya dan tidak lagi membalas, Kai menyerahkan ponsel Aylin kembali.


Hal yang tidak Aylin tahu, sebenarnya Kai berniat mengirimkan pesan 'I know your family' tetapi dia urungkan.


Tidak perlu sejauh itu. Namun, Kai minta izin ke Aylin untuk mengirimkan bukti pesan dan nomor telepon itu ke ponselnya. Seperti kata Aylin, siapa tahu suatu hari diperlukan untuk barang bukti.


Jejak digital itu lebih menyeramkan.


.


.


.


.


.


.


a.n. 


maaf baru bisa update, karena beberapa hari ini bener-bener sibuk :')


rencana mau update dalam waktu dekat untuk part selanjutnya, tapi aku nggak bisa janji karena belum bisa memastikan


btw, sebenarnya meme yang dikirim Rima itu beneran ada, tapi aku lupa nyimpen di mana. nanti kalau udah ketemu aku bakal masukin di part ini :')


aandd.. bagian bonus itu terserah kalian asumsikan sebelum pesta atau sesudah pesta :D


part ini terinspirasi dari banyak hal


see u on next chapter i guess?