Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Give the Game Away



Give the game away (phrase): inadvertently reveal something secret


.


.


[a quite long chapter, sorry for the delay | baru minor editing]


.


.


.


"Oi, oi! Tunggu dulu," kata Budi, "Aku ingat kau."


Nala tidak bisa kabur lagi. Cowok bermata sipit itu benar-benar memastikan dirinya tidak bisa kemana-mana.


Setelah memastikan cewek berkacamata itu tidak akan kabur, Budi lalu melepas tangannya.


"Kita perlu bicara," kata Budi pada akhirnya. "Dan kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini."


Nala hanya diam, masih setia menundukkan kepalanya.


"Hei, kalau ada orang yang mengajakmu bicara, kau seharusnya nggak nunduk gitu."


"Ma-maaf..." ucap Nala lirih. Dia mengangkat kepalanya. Namun, pandangannya sengaja tidak menatap ke arah Budi.


Budi yang melihatnya hanya menghela napas. Sudahlah, setidaknya dia tidak menunduk lagi. Cowok itu jadi lebih bisa melihat wajahnya dengan seksama. Wajah yang cukup familiar di ingatannya.


Dia merasa pernah melihatnya. Tapi di mana?


Mereka tengah di tepi jalan dekat taman Fakultas Ilmu Pendidikan. Cukup banyak orang berlalu-lalang, tetapi mereka seorang tidak peduli. Sibuk dengan urusan masing-masing.


"Hei, kenapa kau pergi begitu aja waktu itu?" tanya Budi langsung. Dia memang jarang berbasa-basi. "Saat Panggung Confession, kenapa kau pergi gitu aja setelah apa yang kau lakukan?"


Nala semakin gugup. Dia kembali menundukkan kepala dan minta maaf.


"M-maaf..." cicitnya.


"Udah kubilang berhentilah minta maaf," Budi menegaskan suaranya. "Nggak ada yang salah kenapa harus minta maaf?"


Nala nyaris saja menyeploskan maaf lagi. Namun, buru-buru dia menahannya.


Budi memijat hidungnya sejenak saat melihat cewek di depannya menundukkan kepalanya lagi. Sepertinya dia salah mengambil langkah. Dia terlalu terburu-buru saat tahu dia bertemu cewek yang membuatnya kepikiran akhir-akhir ini.


.


.


.


Kai dan kawan-kawan tengah bersantai di Third House. Kebetulan mereka tidak ada jam kuliah. Sengaja di Third House memang karena lebih dekat dengan kampus daripada balik ke asrama langsung.


Lagipula, Kai memang ada janji dengan Frans, Aji, dan Aylin untuk membahas sesuatu.


Seminggu terakhir ini, Kai menjalankan perannya untuk mengorek informasi terkait kasus yang belum lama ini terjadi. Untungnya duta FGK mau-mau saja diajak kerjasama. Bahkan dia sendiri yang pertama kali menyinggung soal permasalahan kedua fakultas.


"Permasalahan FGK dari beberapa tahun terakhir itu sama Kai. Tapi karena ada 'faktor' yang 'pengaruhku' sendiri kurang ada efek jadi susah," kata Esa. Pengaruh yang dia maksud adalah posisinya sebagai duta FGK terpilih.


Sebagai seorang duta kampus, seseorang tentu akan punya pengaruh. Orang itu akan didengarkan dan tidak jarang—mau tidak mau harus—sebagai role model mahasiswa yang baik.


Di FT sendiri, Kayvan punya privilege itu. Apalagi dengan sistem tak tertulis di fakultas dengan mayoritas cowok itu, bisa dibilang Kai punya kuasa.


Namun, tentu masih di bawah si Raja Teknik. Bahkan untuk seukuran ketua BEM FT masih sedikit di bawah Raja Teknik.


Cukup aneh karena anak-anak FT lebih suka mendengarkan Raja Teknik daripada ketua BEM mereka.


Seperti gerombolan anggota geng kepada bos besar mereka. Ibaratnya seperti itu.


Selama tidak ada clash, semua akan baik-baik saja. Makanya tak jarang ketua BEM bekerja sama dengan si Raja Teknik.


Karena Esa mau bekerjasama—dia yang lebih dulu menawarkan karena dia sendiri juga bingung bagaimana menyelesaikannya—Kai dapat dengan mudah mendapatkan informasi.


Berbeda dengan Aylin. Cewek itu harus sangat berhati-hati karena ketua TPK FGK merupakan salah satu pentolannya FGK. Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa masalah tambah runyam. Apalagi ketua TPK FGK termasuk berkawan baik dengan target utama.


Alias Vino.


Lamunan Kai buyar saat umpatan lirih yang keluar dari mulut Ridwan. Cowok jangkung itu duduk di kursi di depan Kai.


Kondisi Third House terbilang cukup sepi. Hanya ada beberapa senior yang sibuk menyelesaikan tugasnya. Selain itu hanya Kai dan gengnya di sana. Neo dan Ojan sibuk bermain PS dan Teo yang memilih menyelesaikan tugasnya.


Kai menatap Ridwan dengan pandangan bertanya. Wajah sahabatnya itu tampak kusut. Dia terlihat frustasi.


"Ada apa?" tanya Kai.


"Wan?" panggilnya kepada Ridwan yang masih diam, bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Ibuku dipecat, Kai," ujar Ridwan dengan suara monoton. Cowok itu tadi memang tengah mengobrol dengan seseorang—yang mungkin adalah ibunya.


Kai menegakkan posisi duduknya begitu mendengar ucapan Ridwan.


"Ibumu yang mengabari?" tanya Kai.


Raut wajah Ridwan semakin mengeras. Ekspresi tidak senang terlihat begitu jelas.


"Orang brengsek itu yang barusan menelepon," jawabnya dengan sengit. Tangannya yang tidak digips mengepal kuat-kuat. Kai yang melihatnya jadi agak ngeri kalau ponsel satu-satunya Ridwan malah patah karena digenggam kuat-kuat.


Ayahnya lah yang menelepon Ridwan dengan nomor tidak dikenal. Cowok itu mana sudi menyimpan nomor dari orang yang sudah menghancurkan keluarganya.


Awalnya, pria itu berbasa-basi busuk seperti menanyakan keadaan Ridwan. Tidak lupa mengingatkan Ridwan tentang posisinya yang sebagai anak tidak berguna.


Tidak akan pernah jadi yang lebih baik dari anak tiri kesayangannya.


Belum sempat Ridwan memutus telepon, pria itu berbicara mengenai ibunya. Tentang ibunya yang sebentar lagi tidak punya pekerjaan.


Ridwan ingin marah. Ingin rasanya dia menyumpah serapah pria tua itu. Bahkan ketika dia mendapat pesan dari ibunya kalau ternyata memang benar ibunya dipecat.


Dipecat dari pekerjaan tetapnya selama lebih dari empat tahun ini. Pekerjaan yang menghidupi mereka bertiga, Ridwan, Kakek, dan Ibu, selama ini. Apalagi mendengar ibunya menangis di telepon.


Kenapa?


Kenapa orang itu tidak berhenti mengusik kehidupannya?


Hampir dua tahun ini Ridwan merasa cukup lega karena orang itu tidak datang lagi. Namun, kenapa sekarang harus kembali muncul?


Bahkan membuat ibunya dipecat karena kesalahan yang tidak dilakukan ibunya.


Kai yang melihat Ridwan berusaha menahan amarahnya, segera menghampiri Ridwan. Bertepatan dengan Aylin dan kawan-kawannya sampai di Third House.


Tanpa berkata apa-apa, Ridwan memilih pergi. Membuat Aylin dan lainnya yang baru datang terkejut keheranan. Bahkan Teo, Ojan, dan Neo yang sebelumnya sibuk dengan kegiatan masing-masing juga ikutan terkejut.


Ridwan pergi tanpa membawa tasnya.


Rima yang lebih cepat bereaksi. Dia lalu bertanya pada Kayvan.


"Ridwan kenapa?" tanya Rima. Cewek itu terdengar panik.


Kai agak ragu untuk menceritakan. Karena ini merupakan masalah keluarga Ridwan yang tidak semua orang tahu. Kai tidak tahu apakah Ridwan akan keberatan atau tidak kalau dia menceritakan ke orang lain.


"Apa ini ada kaitannya sama pria itu?" tanpa menunggu jawaban Kai, Rima menebak dengan tepat sasaran.


Apalagi saat Rima menyebutkan nama ayah Ridwan. Membuat Aylin dan yang lain menatap Rima heran karena mereka tidak tahu siapa yang disebutkan Rima. Dan apa hubungannya dengan Ridwan yang berusan pergi.


Kai dan Neo cukup terkejut mendengarnya. Keduanya tidak tahu kalau seniornya tahu masalah itu.


Siapa Rima sebenarnya?


Oh, lebih tepatnya, ada hubungan apa Rima dan Ridwan?


Dengan perlahan, Kai dan Neo mengangguk. Tak ada pilihan lain. Tetap menyembunyikanpun juga percuma karena senior tomboy itu sudah berhasil menebaknya.


"Anj***!" Rima mengumpat dengan kasar. Cewek itu lalu menitipkan tasnya ke Aylin tanpa suara, kemudian langsung melesat pergi keluar. Membuat orang-orang yang ada di sana semakin keheranan.


"Bisa tolong jelasin apa yang terjadi?" tanya Taufan kemudian. "Kita nggak tahu siapa pria yang disebut Rima tadi dan apa hubungannya sama Ridwan yang pergi gitu aja."


Aylin, Naufal, dan Budi yang mendengar perkataan Taufan mengangguk setuju.


"Kai," panggil Aylin ke pacarnya. "Kalau kau tahu sesuatu, bisa tolong ceritakan? Karena aku punya info yang ada hubungannya sama Ridwan terkait kasus belakangan yang terjadi."


"Mbak Alin benar," mereka semua menoleh ketika mendengar suara seseorang dari arah pintu masuk. Yang ternyata orang itu adalah Frans yang barusan tiba. Dia tidak sendirian. Ada Adi, Haris, dan Asep bersamanya.


"Dari informasi yang kudapat, penyerangan itu emang sengaja diarahkan ke Ridwan nggak hanya soal basket," kata Frans. "Makanya kita juga mewanti-wanti biar Ridwan jangan sendirian di tempat yang rawan. Jangan sampai dia jadi target lagi. Ini berlaku buat semuanya, nggak hanya Ridwan."


Apalagi tangan Ridwan masih digips dan dalam proses pemulihan. Dia bisa jadi sasaran empuk bagi orang-orang yang mengincarnya seperti waktu itu.


Belum lagi ada memar di pipi kiri Ridwan yang terlihat samar. Kai dan yang lainnya belum sempat menanyakan perihal itu.


"Tapi ada hal lain yang berkaitan dengan orang bernama Vino," mata tajam Frans mengarah ke arah Kai. Sepertinya cowok berwajah dingin itu tahu informasi lebih dari apa yang dikatakannya barusan.


"Kau sepertinya punya sesuatu yang perlu dijelaskan di sini, Kai. Tentang Ridwan sama Vino."


Kini semua pasang mata mengarah ke arah Kai. Dugaannya benar, Frans ternyata tahu sesuatu. Entah dari mana.


Seniornya itu memang diam-diam berbahaya.


Pada akhirnya, Kai menceritakan semuanya, apa yang dia tahu—dalam hati dia meminta maaf pada Ridwan karena sudah lancing, tetapi mengingat karakter Ridwan akan sangat sulit cowok itu mau bercerita.


Dia juga menceritakan hubungan Vino dan Ridwan. Lalu setelah mencari-cari informasi, Kai punya dugaan kalau secara tidak langsung ada kaitannya dengan sosok pria yang disebutkan Rima.


Ayah Ridwan.


Neo juga sesekali menambahi. Karena cowok itu adalah orang yang tahu bagaimana masa lalu Ridwan selain Kai.


Third House hanya berisi geng Aylin, Frans, dan Kai sekarang. Beberapa senior yang tadi mengerjakan tugas di sana sudah pergi setelah kedatangan Empat Serangkai. Seolah-olah mereka tahu ada pembahasan penting yang tidak semua orang boleh tahu.


Ojan, Teo, Aylin, dan orang-orang yang baru tahu setelah mendengar cerita Frans menampilkan ekpresi beragam. Ada yang kaget, tidak percaya, bahkan ikut bersimpati soal masa lalu Ridwan yang sulit.


"Oke guys," ujar Budi tiba-tiba, memecah keheningan yang kurang nyaman.


"Kita butuh rencana. Karena ternyata masalah ini jauh dari apa yang kita duga, kita harus hati-hati."


"Ada yang perlu kau sampaikan lebih dulu Frans?"


Frans mengangguk. Dia lalu menjelaskan bagaimana dia bisa tahu soal masalah Ridwan, ayahnya, dan Vino.


Seperti yang Budi bilang, masalah yang terjadi ternyata lebih rumit dari apa yang mereka kira. Bukan lagi masalah persaingan antarfakultas lagi.


Bukan lagi soal dendam dan harga diri karena kekalahan yang memalukan.


Namun, ternyata lebih dari itu. Seseorang memanfaatkan persaingan yang ada untuk balas dendam. Melibatkan orang-orang yang mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Dasar baj****n," umpat Haris setelah mendengar cerita dari Frans.


"Jatuhnya jadi adu domba nggak sih malahan?" tanya Taufan.


"Kita nggak boleh gegabah ya gaes," Naufal mengingatkan teman-teman dan juniornya.


"C*k! Ono ya wong koyo ngono," kata Ojan yang masih cukup syok dan tak habis pikir. [C*k! Kok ada ya orang kayak gitu]


Semua yang ada di Third House—yang sudah berubah seperti markas pertemuan rahasia karena hanya ada mereka—memberikan tanggapan yang berbeda-beda.


Namun, satu hal yang mereka sepakati. That the s**t is really happened.


Kai mengamati reaksi teman-teman dan para seniornya dalam diam. Entah Ridwan nanti akan marah setelah mereka tahu ceritanya atau tidak. Namun, di sisi lain, Kai merasa lega dan tersentuh.


Lega karena banyak yang peduli pada sahabatnya yang tertutup itu.


Dan tersentuh melihat mereka yang begitu kompak terlibat untuk mengurus masalah ini agar selesai. Kai jadi ingat cerita pacarnya soal anak-anak FT yang punya kebiasaan cukup unik, berbeda dari fakultas lain.


"Mungkin terdengar berlebihan, tapi di FT sini kau akan mendapatkan keluarga yang nggak akan segan membantumu. Masalah apapun itu, dari yang kelihatan sepele sampai besar. Bahkan kalau kau nggak begitu kenal, tapi kalau kau anak FT, kau otomatis jadi bagian dari keluarga besar."


Kalau diibaratkan dalam dunia Harry Potter, mungkin FT itu kombinasi dari karakteristik asrama Gryffndor dan Slytherin.


Kai tersenyum mengingat perumpaan yang dipakai Aylin.


Cowok itu lalu menoleh ke arah Aylin dan pas sekali pacarnya juga tengah melihat ke arahnya. Keduanya saling melempar senyum.


.


.


.


Apa yang sebenarnya terjadi dua hari sebelumnya.


Ridwan tengah berjalan pulang ke asrama sendirian. Dia sengaja pulang sendirian karena memang lagi ingin menyendiri.


Banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya butuh menepi sejenak.


Ridwan mencangklongkan tasnya di tangan kanannya. Mengingat tangan kirinya yang masih dalam proses penyembuhan.


Mengandalkan satu tangan untuk melakukan aktivitas memang merepotkan.


Cowok itu memandang tangannya yang dibalut gips. Dua kali ini dia mengalami patah tulang. Yang pertama dulu saat dia masih SD kelas enam, kakinya patah karena jatuh dan berakhir dia mendapat makian dari ayahnya karena dianggap ceroboh.


Langkah kakinya terhenti sejenak saat melihat siapa yang dia lihat. Ekspresinya terlihat datar, tetapi batinnya sudah berkecambuk dengan berbagai perasaan yang sulit dijelaskan.


Tak jauh darinya adalah sosok ayahnya dan Vino. Benar, kalian tidak salah melihat namanya.


Tanpa menggubris keduanya, Ridwan kembali melanjutkan langkahnya. Bersikap seperti orang asing yang tidak saling kenal.


Karena demi apapun, Ridwan tidak mau berurusan dengan ayahnya.


Jarak mereka semakin dekat. Namun, Ridwan tetap dalam pendiriannya. Menganggap mereka orang asing.


"Lihat, siapa yang kita temui di sini," terdengar suara Vino dengan nada mengejek.


"Si pencundang dengan tangannya yang patah, haha. Gimana rasanya? Sakit 'kan? Kau emang pantas mendapatkannya."


Ridwan berhenti sejenak. Merogoh saku celananya untuk mengecek ponselnya yang bergetar. Ada pesan masuk dari Kai dan yang lainnya di grup. Mereka mengajak ketemu di angkringan—tempat yang sama dengan Lima Sekawan biasanya nongkrong—sore nanti.


Cowok itu lalu mengirim jawaban singkat "oke" lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Benar-benar menghiraukan celotehan Vino. Dia tidak mau terprovokasi. Makanya Ridwan berusaha menahan dirinya.


Vino terlihat tidak senang karena Ridwan tidak menggubrisnya.


"Bahkan saat kau patah tulang kayak gitu, ayah nggak menjengukmu 'kan?" Vino kembali bersuara.


Vino meremehkan. "Kasihan sekali."


Ridwan mengepalkan tangan kanannya. Ekspresi wajahnya mengeras. Hatinya memanas seperti terbakar.


"Kekanakan," gumamnya lirih dan kembali melanjutkan jalannya.


Dia tidak peduli kalau pria tua itu tidak mengurusi kabarnya. Malahan Ridwan senang karena dia tidak perlu berurusan dengan pria brengsek itu.


Demi apapun, dia tidak peduli omongan Vino yang kekanakan.


"Kau tuli ya?" Vino terdengar jengkel.


"Ridwan. Mana sopan santunmu?" kali ini Ridwan mendengar pria itu akhirnya bersuara.


'Cih! Bisa bicara juga pria tua itu. Kukira bisanya nurut Vino.'


"Ibumu nggak mengajarimu buat nyapa ayah sama kakakmu, hah?"


"Ibumu emang nggak becus mendidik anak nggak guna sepertimu."


Sudah cukup! Jangan bawa nama ibu di sini.


Ridwan menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh ke arah mereka berdua dengan raut wajah datar. Namun, matanya berkilat menahan marah.


"Ayah saya sudah lama mati," Ridwan berujar dengan formal, "Sejauh yang saya tahu, saya cucu laki-laki pertama di keluarga. Jadi terdengar mustahil tiba-tiba ada kakak seperti yang Anda sebutkan."


Ekspresi Ridwan terlihat meremehkan. Dia tidak takut dengan ayahnya.


Bahkan ketika ekspresi wajah pria yang jadi ayahnya itu terlihat marah, Ridwan tidak takut.


"Dasar anak nggak tahu diri!" kepalang tersulut emosi, pria itu memukul Ridwan. Rasa sakit dan perih menjalar cepat di pipi kirinya.


Sepertinya akan muncul memar di sana.


Cowok itu memilih diam, tidak membalas. Sudah bukan hal baru baginya.


"Terima kasih," Ridwan berujar datar. Dia menahan perih di pipi kirinya. Entah dia nanti jadi ikut berkumpul dengan Kai dan lainnya atau tidak. Ada memar yang harus segera dia kompres begitu sampai di kamarnya.


Ridwan melanjutkan jalannya ke asrama. Bahkan ketika hatinya sekali lagi patah setelah mendengar makian dari ayahnya dan pukulan yang jadi oleh-oleh pertemuan hari ini setelah hampir dua tahun.


Cowok itu sudah tidak peduli dan mengharapkan apapun lagi pada ayahnya. Bahkan ketika bagaimana pria itu lebih membela Vino yang kalah di pertandingan basket karena kecurangannnya sendiri, Ridwan sudah tidak peduli.


Hatinya sudah mati rasa.


Tanpa sepengetahuan Ridwan, Vino tersenyum puas melihatnya. Dia lalu bilang ke ayah kalau dia akan menyusulnya sebentar lagi. Kedatangan ayah Ridwan bukan tanpa alasan. Dia ditelepon Vino untuk hadir di acara rapat pertemuan wali di prodi.


Dan betapa puasnya cowok itu saat ayah Ridwan langsung setuju. Jauh dari Bekasi demi datang sebagai wali Vino di sini.


Setelah memastikan pria itu berjalan lebih dulu ke mobil, Vino lalu mengambil ponselnya.


Dia ingin menghubungi seseorang.


Begitu teleponnya diangkat, tanpa basa-basi, Vino langsung berkata ke orang di seberang sana, "Rencana bisa kita mulai sekarang."


Lalu telepon ditutup. Dengan raut wajah tenang, Vino berjalan menyusul ke arah mobil.


Hal yang tidak Vino, Ridwan, dan ayahnya sadari adalah ada seseorang yang diam-diam mendengar itu semua.


Sebuah kesalah besar Vino yang dengan cerobohnya tidak memastikan lebih dulu keadaan sekitar.


Frans keluar dari tempat persembunyiannya setelah memastikan semua keadaan aman.


"Hmm... menarik," gumam cowok jangkung itu. Dia lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya. Meminta orang itu untuk memastikan kebenaran dan mengawasi gerak-garik Vino yang mencurigakan.


Fakta yang didengar Frans barusan berhasil membuatnya terkejut. Apalagi nyaris saja Frans membongkar tempat persembunyiannya saat melihat juniornya itu dipukul oleh pria yang ternyata merupakan ayahnya.


Benar-benar gila!


Bukan tanpa alasan Frans berada di dekat wilayah itu. Awalnya Frans hanya ingin mengambil motornya yang terpakir di sisi utara FT karena parkiran penuh hari ini. Dia rencana ingin pergi ke Fakultas Kedokteran untuk makan bersama bareng pacarnya.


Namun, dia tidak sengaja melihat Ridwan, Vino, dan seorang pria paruh baya. Apalagi ketika Vino terlihat memprovokasi juniornya dengan sengaja.


Awalnya dia tidak mau ikut campur, tetapi dia ingat juniornya itu pernah bilang sesuatu dengan Vino yang merupakan salah satu orang yang melakukan pengeroyokan padanya.


Ternyata setelah memutuskan untuk mencuri dengar, Frans mendapatkan sesuatu yang tak terduga.


Sepertinya ada yang perlu dia konfirmasi ke Kayvan mengingat juniornya itu adalah sahabat dekat Ridwan. Dia ingin mendengar sudut pandang dari teman dekat lebih dulu karena mengingat Ridwan yang membangun tembok yang tinggi.


"Tolong awasi gerak-gerik Vino," Frans bicara kepada seseorang di telepon. "Laporkan setiap gerakan yang mencurigakan. Kita punya ikan besar yang harus ditangkap."


.


.


.


.


.


a.n.


maaf lama sekali baru bisa up :'


tiga minggu lebih apa ya? karena sibuk bikin tugas + membangun mood buat nulis lagi (sempat writer block dan draft awal ada banyak plot hole jadi aku harus baca lagi beberapa part terakhir)


so.. jadi seperti ini chapter kali ini. semakin kompleks atau tercerahkan? atau malah membingungkan?


chapter ini dan chapter depan akan fokus pada cerita Ridwan


so see you on next chapter i guess?