Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Collapse



Collapse (v): (of a structure) fall down or in; give way


.


.


[minor editing | warning!violence scene, harsh word, blood and the usage of cold steel, so i decided to put the rating just in case]


I recommend you to read while listening Runtuh from Feby Putri ;)


.


.


.


Langkah keduanya terhenti. Ekspresi Rima berubah tak suka saat melihat di depannya. Sementara Ridwan tetap diam dengan wajah datar. Namun, tatapannya berkilat tajam.


Di depan mereka, sosok Vino yang terlihat tidak serapi biasanya berdiri dan menatap mereka, lebih tepatnya Ridwan, dengan penuh kebencian. Kebencian yang diselimuti amarah yang berapi-api.


Kalau tatapan itu bisa membunuh, mungkin Ridwan akan mati saat ini juga.


Sayangnya, tatapan itu tidak membuat Ridwan merasa ciut. Justru senyum kecil meremehkan tersungging di bibirnya.


"Selamat. Rencanamu akhirnya berhasil," kata Ridwan pada Vino.


Senyumnya hilang. Wajahnya kembali berubah jadi datar.


"Kau sama ibumu menghancurkan hidupku, keluargaku. Tapi kini semua berbalik pada kalian. Tuhan memang adil 'kan?"


Sementara itu, Rima yang ada tak jauh di sebelah Ridwan tetap berdiri dengan siaga. Namun, dia tidak ingin menginterupsi keduanya.


Membiarkan keduanya membuat closure.


Vino menggeram marah. Lalu dia tiba-tiba berteriak sambil menunjuk Ridwan.


"BAJ*****! SEMUA INI SALAHMU!"


"GARA-GARA KAU, AKU DIKELUARKAN!"


Rima menahan diri untuk tidak balas nyolot kepada Vino. Dia yang menyaksikan itu semua terkejut bukan main. Apalagi melihat kebencian di sorot mata Vino yang mendalam.


"Masih sama ternyata. Menyalahkan orang lain yang jelas-jelas itu salahmu sendiri," tukas Ridwan yang masih tetap tenang.


"Kau dan ibumu itu sampah!" tatapan Ridwan menajam ketika mendengar perkataan Vino barusan. Tangannya mengepal kuat-kuat. Amarah yang dia tahan sedari tadi kini rasanya seperti sebuah petasan yang dinyalakan dengan korek api.


Jangan bawa-bawa ibunya!


Sementara itu, Rima diam-diam mencoba mengirim pesan ke grup. Matanya juga awas melihat sekeliling. Khawatir kalau Vino tidak sendirian.


Matanya menangkap sesuatu. Beberapa orang berjalan ke arah mereka dengan raut muka penuh amarah. Rima memasang kuda-kudanya. Mengira kalau itu antek-antek Vino.


"Kau dengar? SAMPAH!"


Ridwan yang sudah tidak bisa menahan dirinya, melayangkan pukulan ke wajah Vino dengan keras.


"KAU YANG SAMPAH, BRENGSEK!"


Orang-orang itu semakin dekat. Terlihat benda berkilau di tangan mereka. Rima membulatkan mata terkejut saat tahu benda apa itu.


Buru-buru, dia panggil Ridwan.


"Wan! Ridwan!"


Dia meraih tangan Ridwan seusai cowok itu meninju Vino sampai terhuyung ke belakang.


Ridwan menoleh ke arah Rima dengan pandangan bertanya. Napasnya masih memburu setelah dia menyalurkan amarahnya barusan.


"Kita harus pergi," Rima menunjuk dengan dagunya. Cowok itu melihat ke arah yang ditunjuk Rima dan mengangguk mengerti.


Sayangnya, mereka terlambat melakukannya. Orang-orang itu sudah dekat beberapa langkah. Jalan yang harus mereka lalui dihadang oleh mereka. Rima dan Ridwan bersiap di posisi.


Vino yang melihatnya tersenyum senang—meski harus meringis berkali-kali dengan luka lebam di wajahnya. Mengira kalau orang-orang itu datang untuknya. Mengingat dia-lah yang menyuruh sebelumnya. Kini datang lagi untuk menghabisi saudara tirinya itu.


Dan kali ini, dia akan melihatnya secara langsung!


Sayang seribu sayang, senyum Vino luntur seketika. Bukannya mengarah ke arah Ridwan dan cewek itu. Mereka justru malah berjalan cepat ke arahnya. Pisau dan belati teracung ke arahnya.


"Si Anj**g ini yang bikin perhitungan," kata salah satu dari mereka.


"Hoi! Kenapa kalian malah mau menyerangku?!" mata Vino membulat ketakutan.


"Kau bikin kami rugi bandar su!"


"Gara-gara kau juga, anggota lain ketangkap. Sekarang tanggung akibatnya!"


"Beraninya macam-macam sama kami!"


Ridwan dan Rima hanya terdiam. Terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Apalagi sisa-sisa orang dari geng itu menghajar Vino habis-habisan.


Belum selesai dengan keterkejutan mereka, tiba-tiba suara sirine terdengar. Beberapa aparat datang.


Kejadiannya begitu cepat. Pisau yang sebelumnya diarahkan kepada Vino yang sudah babak belur terhenti di udara. Sebagian dari mereka memilih kabur. Namun, untuk kali ini, para aparat dengan cepat bertindak mengejar mereka.


Di tengah kericuhan itu, Ridwan dan Rima yang tidak sempat menghindar. Mereka terjebak.


Sebagian yang lain terlihat berusaha melawan. Memberontak, menolak untuk diringkus. Ridwan berusaha melindungi Rima dan mencari celah untuk keluar dari kegilaan ini.


Sayangnya apes menimpanya hari ini. Salah seorang dari geng yang memegang pisau dengan brutal melawan seorang aparat. Pisau yang sebenarnya di arahkan ke aparat itu, justru mengenai hal lain.


"RIDWAN!!"


Mata Rima membulat terkejut. Fokusnya tadi teralihkan saat melihat sosok tidak asing berdiri tidak jauh dari mereka. Yang dia duga adalah orang yang menghubungi para aparat itu karena tangannya yang masih memegang ponsel.


Orang itu tampak kusut. Penampilannya tidak serapi dari yang Rima tahu selama ini.


Belum sempat cewek itu menarik Ridwan menghindar. Seseorang tiba-tiba datang. Dia kalah cepat dari orang itu.


Belum satu jam saja sudah terlalu banyak kejadian yang terjadi begitu cepat. Begitu tiba-tiba. Ditambah dengan hal-hal yang 'belum sempat'.


Sementara itu, dengan reflek, mata Ridwan terpejam. Menunggu rasa sakit itu datang.


Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Sontak, kedua kelopak matanya terbuka. Apa yang ada di depannya membuat matanya terbelalak. Dirinya membeku di tempat.


Di hadapannya kini, berdiri sosok ayahnya. Sosok pria yang dibencinya selama ini berdiri dekat di depannya.


Seolah-olah menjadi sebuah tameng untuknya.


Tidak mungkin.


Apa-apaan ini?


Hal gila apa lagi yang terjadi kali ini?!


Tidak mungkin 'kan?


Namun, sosok ayah yang dibencinya itu memang benar berdiri di depannya. Tubuhnya sedikit terhuyung. Namun, senyum di wajahnya yang kusut dan tatapan sayunya mengarah ke arah Ridwan.


Pria itu terjatuh terduduk. Sudah tidak kuat menahan tubuhnya yang payah dengan darah segar merembes keluar. Mengotori kemeja putih dengan noda merah pekat.


Ridwan masih tidak bereaksi apa-apa. Terlalu terkejut dengan apa yang terjadi barusan.


"Maaf..." kata itu terdengar lirih. Sebelum tubuh itu ambruk dengan pisau yang masih menancap.


Ridwan menatap pria tak sadarkan diri itu dengan mata yang masih membulat terkejut. Suara-suara di sekitarnya perlahan menghilang. Pikiran dan perasaan yang sulit dijelaskan menyelimuti dirinya yang membeku di tempat.


Bahkan dia tidak menyadari kalau Vino juga ikut diamankan petugas. Atau Rima yang kini sibuk menelopon ambulan. Atau anggota geng yang tersisa yang telah berhasil diamankan.


Satu pertanyaan ada di kepalanya saat ini.


Kenapa?


.


.


.


Beberapa minggu sejak kejadian itu. Kali ini, semua kembali berjalan normal. Benar-benar normal seperti biasanya. Sebelum kegilaan selama beberapa bulan itu terjadi. Vino dan anggota geng itu tengah menikmati waktunya di sel tahanan.


Ridwan kurang tahu apa yang terjadi setelah Teguh, Frans, dan yang lainnya membereskan kericuhan waktu itu. Dia belum sempat mencari tahu. Namun, sejauh yang dia tangkap, beberapa alumni yang punya pengaruh sampai turun tangan.


Masalah FT dan FGK yang semula hanya sebuah rivalitas, lalu merembet jadi masalah besar karena pengaruh satu orang, benar-benar diselesaikan. Kedua perwakilan fakultas benar-benar dipertemukan. Dan pertemuan itu juga melibatkan jajaran kampus kali ini.


Untuk proses dan hasil akhirnya, Ridwan belum tahu. Yang jelas sepertinya adalah kabar baik. Karena dia melihat wajah kelelahan Kai tempo hari. Namun, senyum kelegaan tersunggih di wajah sahabatnya itu.


Kai menjadi salah satu perwakilan FT dan juga yang berperan sebagai duta kampus bersama Freya.


Dan soal ayahnya... sejujurnya Ridwan tidak tahu harus menanggapi apa. Dia sudah mati rasa perihal pria itu. Apalagi setelah tahu apa yang diperbuat pria itu sampai sejauh ini.


Benar. Ridwan sudah tahu semuanya. Ibunya yang bercerita. Wanita dengan hati yang lapang itu menemui mantan suaminya di kantor polisi. Pria itu berhasil diselamatkan dari kehabisan darah. Kini tengah menjalani proses hukumannya.


Pria itu bekerja sama dengan baik saat diperiksa. Tidak mangkir atau melarikan diri. Seolah sudah menerima semuanya. Berharap dengan cara itu dia bisa menebus dosa-dosanya.


Meski sudah disakiti berkali-kali, ibunya tetap mau menemui pria itu. Dengan tenang mendengarkan tanpa menghakimi. Dan Ridwan tahu, dia tidak mungkin bisa seperti ibunya itu.


Sampai detik ini pun, dia memilih untuk tidak menemui pria yang merupakan ayahnya itu.


"Maaf..."


Kata itu kembali terngiang.


Ridwan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang.


"Kenapa..." kata Ridwan dengan lirih. Dia tengah berada di tepi kota yang sepi. Tempat yang tidak sengaja dia temukan dan menjadi pelarian saat dia ingin sendirian. Tidak banyak yang tahu tempat ini. Tempat yang kini menjadi safeplace untuknya. Terlebih pemandangan yang masih hijau dan jauh dari hiruk pikuk kota membuat suasananya tenang.


"Kenapa?"


"Kenapa kau melakukannya, hah?!" tanyanya tidak pada siapa-siapa. Kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Bercampur dengan memori dan luka lama yang perlahan kembali ke permukaan.


Tanpa sadar, air mata menetes pelan dari ujung matanya.


"Harusnya aku membencimu! Tapi kenapa kau melakukan itu?!"


Isakan tangis berusaha mati-matian dia tahan.


"ARGH!!!" Ridwan berteriak lepas. Memecah keheningan di tempat itu.


Air matanya semakin mengalir deras dan dirinya tidak berniat untuk menahannya.


Dulu, ayahnya pernah menjadi sosok ayah yang baik buat Ridwan. Sampai di titik di mana dirinya yang masih kecil mengidolakan sosok ayahnya itu.


Namun sosok itu dipatahkan dengan sosok lain yang menjadi salah satu mimpi buruk bagi Ridwan kecil.


Ayah Ridwan merupakan sosok yang penuh ambisi. Ambisi itu juga ditemani dengan rasa serakah yang perlahan muncul. Sosok ayah penyayang itu berubah saat pria itu berambisi ingin menduduki posisi penting di perusahaannya.


Dan satu-satunya yang bisa membantunya mendapatkan posisi itu adalah ibunya Vino.


Itulah kenapa ayahnya terseret kasus bersama wanita itu.


Ibunya Vino bisa dengan mudah membantu ayahnya mendapatkan posisi penting apapun di perusahaan. Karena wanita itu adalah anak dari pemilik perusahaan tempat ayahnya bekerja. Namun, syarat yang diberikan tidak main-main. Kalau ayah Ridwan tidak melakukan apa yang diminta, sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah itu kepadanya atau keluarganya.


Iya, wanita itu selicik itu. Dia juga yang selama ini mendidik Vino selepas kepergian ayah Vino. Kata ibunya, Vino sebenarnya dulu adalah anak yang baik. Namun, dia adalah korban dari cara didik orang tua yang buruk.


Dan ayah Ridwan lebih memilih mengejar ambisinya daripada keluarga kecilnya. Yang katanya dengan dia bisa mendapatkan posisi yang diinginkan, kehidupan jadi lebih terjamin.


Sebuah kesalahan fatal yang justru melukai putra semata wayangnya.


Namun, jauh di dalam dirinya, rasa bersalah itu ada. Rasa bersalah yang semakin lama semakin membesar.


Hingga puncaknya saat melihat anak dan mantan istrinya diincar secara terang-terangan oleh ibunya Vino.


Rasa bersalah terus menghantuinya. Apalagi dengan pria itu yang kemudian terseret kasus. Sampai pada titik di mana dia melihat sebuah foto usang yang berisi dirinya, mantan istri, dan sosok Ridwan yang masih kecil.


Dia pergi ke Jogja. Tiba tepat di hari saat kejadian itu terjadi. Berawal dari membututi Vino, lalu menelepon polisi.


Aksi dirinya melindungi Ridwan beberapa waktu lalu itu merupakan aksi nekat tanpa pikir panjang. Bahkan dia tidak mempedulikan sosok Vino yang babak belur di sana.


Dipikirannya kala itu adalah anaknya ada di sana.


Begitulah kira-kira yang diceritakan ibunya Ridwan tempo hari. Membuat perasaan Ridwan begitu campur aduk sampai sulit didefinisikan.


Terlalu banyak yang dicerna hingga membuatnya merasa sangat sesak.


"Ibu nggak minta kamu buat memaafkan ayahmu. Semua itu keputusanmu. Tapi ibu hanya ingin kamu juga dengar cerita ini. Mendengar dari sisi lain."


"Hahaha...!" sebuah tawa keluar dari mulutnya. Namun, air matanya masih tak berhenti mengalir. Sebuah tawa yang getir.


"Kita cuman manusia, Wan. Nggak bisa mengontrol keadaan. Kita terluka karena keadaan yang diluar kendali kita."


Ridwan lelah membohongi dirinya sendiri. Dia mungkin selalu bilang bahwa dia sangat membenci ayahnya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada secuil keinginan. Keinginan untuk, setidaknya, pria itu memandangnya sebagai anak kebanggaannya.


Sama seperti satu dekade lalu.


"Kau capek nggak sih Wan? Aku capek, jujur. Capek bohong sama diri sendiri kalau aku baik-baik aja."


Ya, dia juga lelah. Kita sama.


"Aku pengen belajar menerima keadaan. Meskipun aku selalu kangen sama ayah dan masih nggak rela ayah pergi begitu aja. Tapi, hidup harus tetap jalan. Masih ada ibu di sini."


Apakah dia juga bisa belajar menerima keadaan? Legawa dengan keadaan dirinya?


.


.


.


.


.


..."You fool! I'm still into you too!"...


.


.


.


a.n.


there is one sentence as a glimpse for the next episode :D


jadi... bagaimana menurut kalian? maaf kalau aneh ya


cerita Ridwan bentar lagi bakal selesai ya (bukan selesai secara harfiah). as i said before (i forgot, but i think i'e said it before someway in preious chapters), Ridwan merupakah salah satu karakter utama. yeah his story is a complex one. semua udah aku rencanakan bakal ada beberapa chapter yang fokus ke dia. yah.. meskipun agak sedikit berbeda eksekusinya :')


ada cerita lain yg belum selesai dinarasikan di sini. siapa? yap betul Frans dan Bimala. and maybe Maul sama Malik (side story 'The Pool') atau Nala (ada yang ingat dia siapa?)


satu demi satu ya


see you!