Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
A Blessing in Disguise?



A blessing in disguise (idiom): a good thing that initially seemed bad


.


.


.


.


[baru minor editing. ini sepertinya chapter terpanjang yang pernah kutulis, for now]


.


.


.


.


.


.


Sebenarnya Teo agak takut—lebih ke perasaan luar biasa sungkan sebenarnya—untuk meminta izin ke Aylin. Takut kalau bakal ditolak mentah-mentah.


Namun, kalau tidak dicoba kita juga tidak tahu bukan?


Apalagi dia sudah diamanahi sebagai komandan sekaligus ketua angkatan. Jangan lupa dia juga dikorbankan teman-teman gugusnya untuk jadi ketua maba gugus. Kalau mau mundur, sangat mustahil. Jadi, dengan berlapang dada, Teo berusaha mengemban amanah—meski berat dan terkadang dia bingung harus apa—sebaik mungkin agar tidak mengecewakan semua orang.


Dan saat ini Teo sedang harap-harap cemas menunggu jawaban Aylin yang masih terdiam. Waktu semakin menipis. Kalau disetujui, Teo dan komandan lainnya akan semakin mudah memetakan polanya dan mengarahkan maba yang lain. Kalau tidak, ya mau tidak mau berusaha seadanya dan menggunakan rumus sarasa dan sakira atau saya rasa dan saya kira.


Teo semakin gelisah ketika Aylin belum juga memberikan jawabannya. Ingin sekali dia berteriak untuk segera menjawab, tetapi jelas itu sangat tidak mungkin. Mustahil tingkat wahid!


Tidak sopan!


Bisa jadi malah permintaan Teo tidak hanya ditolak mentah-mentah, tetapi juga berimbas dengan semua teman-temannya mendapat hukuman.


Setelah beberapa saat—dengan Teo yang berdebar gugup menunggu jawaban—akhirnya Aylin menjawab.


Senior itu mengangguk singkat tanpa berkata apapun. Namun, Teo bisa memastikan dengan jelas kalau itu bukan ilusi matanya.


Maba itu lalu berulang kali mengucapkan terima kasih sebelum kembali minta izin ke beberapa anggota Tim PDD dan Tim Perkap yang ada di sana untuk meminjam alat yang dimaksud. Dengan mudah, mereka menyetujuinya.


Dan ternyata, menurut kata salah satu anggota PDD, panitia sengaja mengeluarkan scaffolding untuk acara seperti ini. Yang pasti bakalan dibutuhkan untuk mengambil gambar dan merekam video.


Apapun tujuan para senior itu, saat ini Teo tidak mau ambil pusing. Ada fokus yang harus segera digarap karena waktu tidak bisa menunggu.


Teo lalu kembali ke tempatnya semula untuk memberitahu para komandan lain berita baiknya. Mereka tidak buang-buang waktu lagi untuk berselebrasi sejenak karena dikejar waktu yang kini tersisa empat puluh menit lagi.


Yuda dan Bagas yang akan menaiki scaffolding untuk melihat dan memberi arahan dari atas. Dibantu dan diawasi anggota Tim Perkap yang siaga untuk keamanan. Teo yang akan di mimbar menggunakan pelantang yang dipinjamkan oleh salah satu anggota Tim Perkap. Memantau dan menyampaikan arahan yang disampaikan Yuda dan Bagas. Sementara Felix dan Ivan yang terjun langsung mengomando para maba di bantu beberapa perwakilan.


Cukup sulit dan merepotkan mengarahkan lebih dari seribu mahasiswa baru FT. Namun, kelima komandan kita ini tentu berusaha sangat keras untuk menyelesaikan tantangan kali ini.


Ada kendala tentu saja. Untung saja hal itu bisa segera teratasi dengan komunikasi yang baik dan semua maba yang telah diberitahu komandan masing-masing dengan sejelas mungkin—dengan tambahan seruan semangat—bentuk apa yang akan mereka buat sebelum dimulai.


Dan semua panitia yang hadir mengamati baik-baik usaha yang adik tingkat mereka lakukan. Penasaran juga dengan koreo apa yang akan dibentuk.


.


.


.


"Lima!"


"Empat!"


"Tiga!"


"Dua!"


"Satu! Waktu habis!"


Aylin berseru menghitung mundur di tempatnya. Para komandan yang masih sibuk memastikan segalanya, segera menempatkan diri di barisan.


Beruntungnya, mereka bisa membentuk koreo roda gigi dan selesai satu menit dari batas waktu yang ditentukan. Nyaris saja! Setelah selesai, Teo, Yuda, dan Bagas segera kembali bergabung dengan dua yang lain untuk memastikan semuanya terakhir kali secara langsung.


Ah iya, Neo dan beberapa maba yang tadi tidak ikut dari awal sudah ikut bergabung saat pembentukan koreo. Kalau Neo beralasan kakinya sudah sembuh dan dia bisa berjalan dan berdiri lama tanpa rasa sakit. Meski terkadang masih terasa nyut-nyutan, meski samar. Diizinkan tetapi dengan syarat kalau masih terasa sakit dan belum sembuh benar harus segera mundur.


Dia juga mau ikutan bareng teman-temannya yang lain!


Aylin kembali ke mimbar. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh maba sebelum berseru keras, "Ketua angkatan, tolong beritahu apa yang kalian bentuk dan kenapa memilihnya!"


Dengan sigap, Teo keluar barisan dan berlari kecil ke arah Aylin. Dia berdiri menempatkan dirinya tidak terlalu jauh di depan Aylin. Seperti seorang pemimpin upacara yang berhadapan dengan pembina upacara.


"Saya Teo, izin berbicara," Teo memulai. Dia sudah menyiapkan kata-katanya.


"Kami memilih bentuk roda gigi yang melambangkan FT itu sendiri. Roda gigi melambangkan kerjasama yang selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas, dan FT tentu saja tidak lepas dari kerja tim dan kerja berkesinambungan. Roda gigi juga merupakan unit terkecil yang menjadi bagian paling vital dalam sebuah mesin. Tanpa roda gigi, mesin tidak bisa berfungsi. Begitupun FT, tanpa adanya unit terkecil itu, yang artinya rasa kebersamaan, FT tidak akan bergerak sampai sekarang ini."


Semua panitia yang hadir bertepuk tangan begitu mendengar jawaban Teo, termasuk anggota TPK yang hanya bertepuk tangan sopan dengan raut wajah yang tidak menunjukkan ekspresi berarti.


Aylin tersenyum miring sekilas mendengarnya, tetapi tidak ikut bertepuk tangan. Begitu suara tepuk tangan reda, ketua TPK itu berujar, "Bagus. Jawaban yang cukup impressive."


Lalu dia kembali memandang ke seluruh maba yang memperhatikannya.


Dia berseru lantang, "Selamat dan sampai bertemu di upacara penutupan! Kami harap, kalian tidak mengecewakan kami!"


Upacara penutupan itu hari terakhir Isimaja FT bukan? Itu artinya hari di mana pemberian lencana gir 'kan?


Begitu mendengarnya, semua maba bersorak gembira. Ada yang berpelukan, ada juga yang melompat-lompat girang. Mereka tersenyum lebar. Tidak menyangka kalau mereka bisa menyelesaikannya tepat waktu. Bahkan Teo kembali ke barisan dengan senyum lebarnya.


Bahkan mereka tidak sadar kalau sudah diambil alih oleh Galang, ketua Tim Pemandu yang merangkap salah satu korlap juga. Dan karena jabatannya, dia tidak memandu gugus manapun seperti para anggotanya yang terlibat langsung.


"HALO SEMUANYA!" Galang berseru semangat dengan toa pelantang. Euforia mereda secara perlahan dan fokus mereka beralih ke Galang yang ada di atas mimbar.


"Aku ucapkan selamat sekali lagi buat kalian para maba yang berhasil melalui empat hari Aqisol dengan baik. Meski ada pasang surutnya, tetapi semua itu tetap proses. Sekecil apapun dan sebentar apapun waktunya," katanya penuh semangat.


"Gimana nih, senang 'kan?"


"YAA!" jawab para maba dengan semangat.


"Capek nggak?"


"TIDAK..!"


Galang tertawa mendengarnya, "Wah, kalian bisa aja bohongnya, hahaha!"


Para maba tertawa mendengar gurauannya.


"Kita yel-yel dulu aja gimana? Sekalian nge-charge buat besok Senin dan Selasa nih di GOR," kata Galang kemudian, "Kita tunjukkan semangat Jawara kita sebagai FT besok! Kuberitahu ya, saingan terberat FT itu adalah FBS dan FO, terkadang sama FGK dan Fisipol. Kita nggak mau kalah 'kan pas adu yel-yel? Kita memang menang dalam jumlah, tapi kalau semangat ya jangan sampai kalah dong..."


"Setuju nggak kalau yel-yelan dulu?"


"SETUJU!!"


"Para korlap udah siap di tempat?" tanya Galang kepada korlap lain. Mereka sudah bersiap di beberapa titik di dekat maba yang masih dalam koreo.


Dan setelah memastikan semuanya sudah siap, Galang memulai kembali.


"Eh, sebelum mulai, kita bikin ombak dulu yuk!" katanya, "Dimulai dari barat ke timur, begitu sebaliknya ya?"


"Siap?"


"Siap, Kak!"


"Satu, dua, tiga, mulai!" begitu Galang selesai memberi aba-aba, semua maba membuat ombak dengan mengangkat kedua tangannya. Mereka melakukannya beberapa kali sebelum Galang menyudahinya dan segera memulai yel-yel yang akan dinyanyikan.


Galang berseru lantang, "Who are we?!"


"ENGINEER!" para maba menjawab serempak.


"Who are we?!"


"ENGINEER!"


"Who are we?!"


"E-N-G-I-N-E-E-R, ENGINEER! ENGINEER! HU~ HAH!"


Setiap tepukan tangan di dada sebelah kiri terdengar begitu jelas ketika mengeja kata 'Engineer'. Membuat suasana terasa sangat hidup dengan euforia yang khas.


"Kami ini jawara!" Galang kembali berseru dengan toa pelantangnya.


"KAMI INI JAWARA!" dan semua maba membalasnya tidak kalah keras secara serentak.


"Rajawali utara!"


"RAJAWALI UTARA!"


"Siap membangun bangsa!"


"SIAP MEMBANGUN BANGSA!"


"Tuk Indonesia jaya!"


"TUK INDONESIA JAYA!"


Semua maba dan korlap selanjutnya bertepuk tangan dan menghentakkan kaki sambil menyanyikan yel-yel bersama-sama. Temponya pun sedikit dipercepat. Hentakan kaki mereka yang menghantam lapangan hijau terdengar cukup keras. Seolah-olah mereka melakukannya bukan di lapangan berumput.


"KAMI INI JAWARA!"


"RAJAWALI UTARA!"


"SIAP MEMBANGUN BANGSA!"


"TUK INDONESIA JAYA!"


Ada dua yel-yel lagi yang dinyanyikan setelahnya—total ada delapan yel-yel yang terbagi antara yel-yel penuh semangat, yel-yel untuk salam, yel-yel untuk menyapa fakultas lain, dan yel-yel untuk terima kasih dan sampai jumpa. Belum lagi ada satu yel-yel tambahan dari universitas untuk semua fakultas.


Setelah menyanyikan yel-yel, mereka menutupnya dengan salam FT.


"FT..?!" Galang berseru.


"SALAM JAWARA!" semua maba berseru menjawab sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Semua panitia yang ada di sana bertepuk tangan keras. Mengapresiasi para maba yang menampilkan yel-yel dengan penuh semangat. Kecuali, tentu saja, para TPK yang mustahil ikut berselebrasi karena memang, ya seperti itu cetakannya.


Acara berikutnya kini diambil alih oleh ketua Isimaja FT itu sendiri, Naufal, begitu semua korlap undur diri. Dia berdiri di depan para maba langsung tanpa naik di atas mimbar. Lalu, cowok berperawakan gagah itu menyapa semua maba dengan lantang.


"Salam Jawara!" Naufal menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"SALAM JAWARA!" para maba membalas salamnya dengan gerakan serupa.


"Boleh mendekat lagi? Kalian bisa berbaris seperti biasa, tidak perlu kembali ke gugus masing-masing," kata Naufal, "Kalian juga boleh duduk, santai aja. Tidak perlu duduk siap buat hari ini."


Lalu, dia membiarkan para maba melakukan apa yang dia minta barusan selama beberapa saat. Setelah memastikan semua maba sudah duduk dengan nyaman dan memperhatikan, Naufal kembali angkat bicara.


"Sebelumnya, saya mau mengapresiasi kalian yang telah menunjukkan kepada kakak-kakak kalian, semangat seorang Teknika Jawara," Naufal memulai, "Tidak hanya dengan yel-yel kalian yang menggelegar, tapi juga perjuangan kalian dari hari pertama Aqisol, atau TPK Aylin tadi bilang, di lapangan penyiksaan. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu dengan berangkat pagi-pagi, tidak sempat sarapan, sampai di sinipun masih harus disuruh-suruh dengan keras sama senior kalian yang kadang nggak masuk akal. Bela-belain ikut di kegiatan yang, mungkin, banyak dari kalian berpikir, buat apa sih?"


"Tepuk tangan untuk kalian semua!" Naufal bertepuk tangan mengapresiasi. Lalu diikuti semua maba.


"Sebelumnya, saya mau tanya, ada nggak diantara kalian yang ada rasa enggan atau terpaksa ikut Aqisol tapi kalian tetap memaksakannya?" tanyanya. Pandangannya menyapu ke seluruh maba.


"Jawab saja dengan jujur nggak apa-apa. Kakak senior yang ada di sini tak akan menghukum kalian kok."


Kemudian, beberapa maba ada yang mengangkat tangannya. Naufal yang melihatnya mengangguk mengerti dan meminta mereka menurunkan tangannya kembali.


"Terima kasih sekali lagi atas waktu luang kalian buat hadir di Aqisol. Meskipun ada rasa terpaksa, tapi kami sangat menghargai usaha kalian," katanya kemudian, "Tanpa kalian, kami bukan apa-apa. Dan tanpa kami, mungkin kalian akan baik-baik saja, tapi jarak antara kami dan kalian mungkin tidak akan sedekat ini."


"Saya mau bertanya ke kalian. Setelah mengikuti Aqisol ini, apa yang kalian pelajari? Pastinya kalian belajar sesuatu meski hanya satu atau dua hal bukan? Yang mau menjawab silakan angkat tangan."


Naufal mengedarkan pandangannya. Mencari-cari ada tidaknya maba yang mau menjawab.


"Tidak harus ketua angkatan, komandan, atau ketua gugus ya," tambahnya.


Setelah beberapa saat, hampir saja Naufal mulai bicara lagi, seorang maba di barisan sebelah timur mengacungkan tangannya.


Kemudian, Naufal mempersilakannya.


"Saya Rangga dari Gugus lima belas Makasar izin bicara, Kak," katanya dengan keras sambil berdiri di tempatnya.


"Menurut saya, hal yang kita pelajari dari mengikuti agenda Aqisol adalah, di sini kita belajar kerjasama dalam sebuah tim, Kak. Kerjasama dalam menyelesaikan tiap latihan dan tantangan. Kita juga belajar solidaritas, Kak. Di mana kita adalah satu kesatuan yang sama meski kita berasal dari tempat yang berbeda-beda."


Beberapa maba ada yang bertepuk tangan mendengar jawabannya.


"Saya izin mau menambahkan, Kak!"


Seorang maba yang berada di barisan tengah mengacungkan tangannya. Naufal mengangguk mempersilakan.


"Saya Wahid dari gugus satu Aceh. Saya mau menambahkan bagian solidaritasnya. Di Aqisol, kita belajar saling menanggung beban. Kalau dalam Islam, itu termasuk tingkatan teratas dalam ukhuwah yang disebut tafakul atau saling menanggung beban. Kebetulan kemarin saya bantu PR agama adik saya jadi sedikit tahu, Kak, hehe. Jadi, selama latihan, kenapa kita selalu disuruh mengulang-ulang tiap kali ada kesalahan, itu artinya secara nggak langsung, kita disuruh peduli sama tidak meninggalkan teman yang belum berhasil. Kita juga belajar untuk tidak saling menyalahkan dan menjatuhkan karena kita menanggung beban yang sama dan bekerja dalam tim yang sama. Capek-capek bareng, panas-panasan bareng, dan berjuang bareng. Itu saja, Kak, dari saya.."


Banyak maba yang berdecak kagum dan bertepuk tangan mendengar jawaban panjang dari Wahid. Bahkan, Naufal tersenyum bangga dan ikut bertepuk tangan juga.


"Ada lagi?" tanya Naufal kemudian.


Beberapa maba lalu mengungkapkan jawaban mereka masing-masing. Ada yang dari salah satu komandan, ketua angkatan alias Teo sendiri, dan beberapa maba lain.


"Kita juga belajar mengatur waktu juga, Kak! Dan bekerja sebaik mungkin dalam tekanan."


"Belajar untuk jangan mudah ngeluh."


"Belajar tahan banting, apapun dan gimanapun kondisinya. Kita harus siap dan nggak mudah berkecil hati. Intinya tetap semangat walau banyak kritikan dan hinaan."


"Agar lebih sehat dan punya fisik kuat saat nanti mengerjakan tugas-tugas kuliah, Kak! Biar kuat pas lembur tugas bagai quda," jawaban itu mengundang gelak tawa sebagian maba. Bahkan maba itu sengaja mengganti huruf 'k' dengan 'q' saat mengucapkan kata 'kuda'.


Dan berbagai jawaban lain yang dilontarkan oleh para maba. Namun, tidak ada satupun yang berasal dari Kayvan. Cowok itu memilih diam dan mendengarkan yang lain di tempatnya. Lagipula, jawaban Kai juga sudah terwakilkan semua kok. Dia hanya tersenyum dan sesekali tertawa saat ada jawaban nyeleneh yang terlontarkan.


Setelah sekiranya tidak ada yang mau berpendapat lagi, Naufal lalu menyimpulkan semua jawaban yang ada. Para maba mendengarkan dengan seksama.


Naufal berkata bahwa dengan adanya Aqisol, semua maba bisa memahami mengenai gerak cepat dan ketepatan waktu di situasi yang menekan karena kelak saat mereka melakukan tugas dan bekerja, mereka akan menghadapi hal serupa. Bahkan lebih. Kemudian, maba juga diharapkan memahami pentingnya kerjasama tim karena ada kalanya mereka akan dihadapkan disituasi yang harus mengandalkan kerja kelompok. Komunikasi yang baik juga menjadi salah satu kuncinya. Lalu, mereka diharapkan bisa paham pentingnya mendengarkan kata pimpinan sekiranya itu baik dan belajar memegang amanah. Selain itu, para maba diharapkan untuk selalu siap sedia serta punya fisik dan mental yang kuat. Tumbuhnya rasa solidaritas dan semangat korsa adalah bonus yang sangat berharga dan selayaknya dijaga. Dan yel-yel adalah penyemangat selama berlatih.


Mendengarkan penjelasan Naufal barusan, para maba memiliki pandangan baru. Mereka secara perlahan mengerti kenapa mereka melakukan Aqisol. Setidaknya, mereka tidak menyesal mengikutinya. Dan bahkan mendapat hal-hal baru diluar dugaan.


Ikut Aqisol itu ternyata tidak begitu buruk. Sayang, teman-teman mereka yang membolos melewatkan semua ini. Dan beruntung mereka yang memutuskan kembali bisa mendapat pengalaman baru.


"Pegang baik-baik kuncinya. Karena Aqisol itu adalah salah satu wadah menemukan kunci yang bisa jadi tiket mendapatkan lencana roda gigi kalian. Ajak lagi teman-teman kalian yang belum bisa ikut. Kesempatan ini, sekali seumur hidup 'kan?" Naufal berkata.


"Dan jangan lupa, tetap jaga kesehatan. Hari senin adalah Isimaja sesungguhnya. Jangan lupa semangatnya juga, tetap jaga kekompakan. Jangan sampai kalah sama fakultas lain, siap?"


"SIAP, KAK!!"


Naufal mengangguk puas. "Bagus. Saya tahu kalian memang FT Jawara."


"Oh iya, jangan lupa dukung perwakilan kita dalam pemilihan duta universitas. Sudah tahu 'kan siapa? Yang belum tahu, monggo kepada Kayvan dan Freya silakan maju ke depan. Sampaikan beberapa patah kata kepada teman-teman kalian..."


Merasa dipanggil, Kayvan dan Freya lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar barisan. Mereka berdiri di sebelah Naufal menghadap para maba yang lain. Tidak berselang lama, seorang anggota Tim Perkap berlari-lari ke arah mereka dan menyerahkan pelantang ke perwakilan duta FT. Setelah itu, panitia itu kembali ke tempatnya.


"Cek. Assalamu'alaikum, teman-teman," Kai memulai.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh..." dan maba yang lain menjawabnya.


"Sebelumnya, perkenalkan bagi yang belum mengenal kami. Saya Kayvan Candra dari Teknik Industri, dan rekan saya...?" ujar Kai dengan jenaka sambil mengerling ke arah Freya.


"Saya Freya Sukma Palupi dari Pendidikan Teknik Sipil," sambung Freya. Cewek itu tersenyum ramah.


"Kami adalah perwakilan terpilih Duta FT yang akan maju ke pemilihan duta universitas tahun ini. Mohon dukungannya ya teman-teman semua!"


Kai menoleh ke arah Freya yang dibalas anggukkan meyakinkan.


"Kami juga ingin menyampaikan pengumuman penting, yang mungkin banyak dari kalian yang belum tahu. Hari ini, tepat pukul satu siang adalah perilisan resmi poster acara, foto dan video dari semua duta fakultas. Kalian bisa mengeceknya di web dan akun resmi sosmed kampus kita. Dan juga, hari ini pukul tiga sore, sudah bisa dimulai untuk memilih duta favorit melalui voting. Nanti akan disediakan link-nya dan kalian masukkan NIM untuk bisa login lalu pilih duta yang kalian dukung. Voting kalian sangat berarti bagi kami, karena itu tanda kalian percaya kepada kami sebagai wakil dari fakultas dan universitas," Kai menjelaskan.


Terlihat beberapa maba mulai berbisik-bisik semangat mengenai perilisan resmi pemilihan duta kampus. Semua maba terlihat tidak sabar.


Pelantang lalu diambil alih oleh Freya.


"Mohon dukungan suaranya ya teman-teman! Dan jangan lupa untuk menyempatkan hadir di malam pemilihan, besok Sabtu pukul tujuh malam di Lab Karawitan FBS. Atau kalian bisa streaming di akun YouTube atau halaman Facebook milik UHW. Sekali lagi mohon dukungannya ya, kawan-kawan semua. Semoga selempang duta universitas bisa dimenangkan oleh FT tahun ini!"


Banyak maba yang berseru menyemangati kedua perwakilan mereka.


"Semangat Kai, Freya!"


"Yo, pasti bisa!"


"Love you, guys!"


"Yok bisa yok!"


"Semangat sayang-sayangku!"


Kedua yang bersangkutan tersenyum lebar mendengarnya.


"FT?!" Kai berseru keras sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal ke atas.


Lalu dibalas tak kalah keras dari semua maba yang ada, "JAWARA!" mereka juga mengacungkan kepalan tangan kanannya.


"FT?!"


"JAWARA!"


"FT?!"


"JAWARA!!"


Lalu semua bertepuk tangan keras. Bahkan ada beberapa yang berteriak heboh terbawa suasana. Naufal yang sejak tadi diam memperhatikan juga ikutan tepuk tangan. Senior itu tersenyum lebar melihat antusiasme dan semangat para mahasiswa baru FT tahun ini.


"Bagus!" Naufal berbicara setelah suasana perlahan mereda.


"Jangan lupa dukung perwakilan kita. Semoga selempang duta universitas kita dapatkan tahun ini! Dan jangan lupa istirahat yang cukup dan jaga kesehatan selalu buat Dek Kayvan dan Dek Freya."


Freya dan Kai mengangguk mantap.


"Jangan sampai kalah, oke? Siap-siap ada konsekuensi menanti buat kalian berdua kalau sampai kalah, haha..." tambahnya dengan nada bergurau. Beberapa maba juga terlihat ikut tertawa mendengarnya. Sementara Kai dan Freya saling melirik sambil tetap tersenyum. Mereka tahu apa yang sebenarnya.


"Kalian juga jaga kesehatan dan istirahat yang cukup. Kita masih harus bertempur besok Senin. Jangan sampai loyo dan malah melempem, jangan kalah sama fakultas lain. Sepakat?!" Naufal beralih ke seluruh maba yang ada di depannya.


"Siap, sepakat, Kak!" jawab para maba.


"FT?!"


"JAWARA!"


"Salam Jawara!"


"SALAM JAWARA!"


.


.


.


.


.


ps. yel-yel Jawara is credited to FT