![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Gang (n): a group of people, especially young people, who regularly associate together
.
.
.
.
.
"SUNNY!!"
Seorang cewek dengan jas putihnya berlari ke arah Aylin yang tengah nongkrong bareng para sahabatnya di kedai angkringan langganan mereka. Setelah memastikan semua maba tidak ada yang di area kampus lagi, mengecek beberapa keperluan lainnya, dan melakukan shalat ashar di mushola FT, Aylin dan keempat sahabatnya memutuskan untuk makan dan ngobrol santai di kedai di dekat FT untuk melepas penat setelah seharian bertugas di kepanitiaan. Apalagi Aylin hanya tidur selama tiga jam sepulangnya dari evaluasi semalam.
Menjadi bagian dari tim yang ditakuti dan dibenci para maba sungguh melelahkan. Apalagi dia adalah ketua, dobel sudah bebannya. Namun, tidak ada pikiran untuk berhenti atau mundur. Istirahat sejenak mungkin ada, tetapi tidak untuk berhenti sama sekali. Aylin sudah diamanahi di sini, maka dia harus melaksanakannya dengan sepenuh hati. Seberat apapun sampai rasanya mau menyerah.
Memang tidak main-main. Aylin harus siap mental dan fisik selama menjalankan tugasnya sebagai ketua TPK dan senior serta teman-teman satu panitia sudah mempercayainya.
"Sunny!"
"Mala!" seru Aylin mulai kesal dengan mahasiswi kedokteran tingkat dua itu yang berteriak memanggil nama panggilan khas Aylin darinya.
Secara, nama Aylin sendiri bermakna matahari.
Bimala, atau orang lain memanggilnya Bia, kecuali Aylin yang justru memanggilnya Mala, merupakan sepupu Aylin dari pihak ibu. Ibu Bia adalah kakak dari ibunya Aylin. Meski Bia dan Aylin selisih setahun, cewek cantik itu tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel 'Kak' atau 'Mbak' kepada Aylin. Bia dan Aylin sudah sangat dekat sejak kecil, seperti saudara kandung.
Bia datang bersama Frans, pacarnya, yang merupakan junior Aylin. Frans menyapa para seniornya dengan sopan sebelum bergabung dengan mereka. Naufal dan kawan-kawan sudah terbiasa dengan tingkah Bia yang bertolakbelakang dengan Aylin.
"Kudengar kau baru aja dilamar sama maba, Lin," kata Bia sambil menoel-noel pipi bulat Aylin dengan jari telunjuknya. Cewek itu tersenyum menggoda ke arah sepupunya.
Aylin yang mulai risih dengan perlakuan Bia, menepis tangan Bia. Namun, dia membiarkan sepupunya itu duduk di sebalahnya, di depan Frans.
"Darimana kau tahu?" tanya Aylin sangsi.
Wow, berita menyebar secepat itu? Aylin jadi khawatir kalau berita tentang kejadian memalukan tadi menyebar kemana-mana.
"Ada lah," kata Bia dengan misterius. Dia tetap tersenyum menggoda ke arah Aylin.
Aylin memicingkan matanya dan berujar, "Ngaku aja. Kau tahu dari Imah kan? Hayo!"
Bia dan Imah, ketua Tim Medis FT, memang kenal cukup dekat sejak mereka mengikuti workshop bersama dari PMI untuk Tim Medis dari seluruh fakultas beberapa bulan lalu. Tahun ini Bia diajak sahabatnya yang sama-sama mahasiswi kedokteran, Maul, untuk ikut menjadi bagian Tim Medis Isimaja universitas yang juga bertugas selama pemilihan Duta Universitas.
"Mala!" seru Aylin mulai gemas karena sepupunya itu tetap tersenyum mengejek ke arahnya.
"Iya, Mbak Imah yang ngasih tahu," aku Bia akhirnya.
"Dasar Imah, kenapa dia cerita ke Mala sih," gerutu Aylin sebal.
"Akhirnya Alin laku juga setelah dari bayi ngejomblo. Malah dilamar lagi," kelakar Bia. Dia kembali menoel-noel pipi sebelah kiri Aylin.
Bia suka sekali menganggu sepupu kesayangannya itu. Benar-benar kekeluargaan yang rekat!
Meski sangat dekat, keduanya memiliki kepribadian yang cukup berlawanan. Di mana Bia yang bisa dibilang social butterfly dan suka jail, sedangkan Aylin lebih pendiam. Ketika Aylin lebih memilih hobi dan bukunya, Bia malah sejak SMA kelas dua cukup sering menjadi petualang cinta, alias gonta-ganti pacar. Sampai akhirnya dia menetap pada sosok Frans yang merupakan juniornya Aylin.
Yah.. Kisah Bia dan Frans tidak ada yang tidak tahu di UHW. Kisah romantis antara mahasiswa FT dan FK yang cukup fenomenal.
Meski dia juga jadi saksi kisah sepupunya itu, asalkan tidak mengganggu zona nyamannya dan Frans benar-benar menjaga Bia—Aylin tahu Bia meski ramah ke semua orang, Bia hanya punya dua sahabat dari jaman mereka masih kecil—Aylin mah bodo amat. Aylin termasuk orang gang cuek.
Rima yang dikenal agak tomboy pun dulu pernah punya pacar waktu SMA. Namun, tidak lama karena Rima yang di asrama dan banyak kegiatan di kampus sebagai maba, jadi kehilangan kontak. Apalagi Rima ganti nomor karena hp yang lama hilang dicuri. Memang tidak ada kata putus, tetapi cewek itu menganggapnya sudah putus karena hilang kontak.
"BUDIIII!!!" teriakan Rima dibarengi gebrakan pada meja yang tiba-tiba mengagetkan semua yang ada di sana. Cewek itu terlihat sangat kesal. Sementara tersangka utama hanya cengengesan dengan watados (wajah tanpa dosa).
"Medhit!" kata Budi. "Pokel!"
Rima hanya memeletkan lidahnya tanda tidak peduli. Lalu dia mengamankan magelangan yang dia pesan tadi agar jauh dari jangkauan tangan Budi. Dia belum sempat memakannya, tetapi cowok itu malah memakannya beberapa suap tanpa izin. Bahkan dia sudah menghabiskan setengah gelas es jeruk punya Rima!
Siapa sih yang tidak kesal?
Budi itu meski slengekan dan suka iseng, mantan pacarnya udah banyak. Fakta lain tentang Budi adalah dia itu sepupunya Rima dari pihak ayah. Sejak kecil mereka memang cukup dekat karena sering main layangan bareng dulu. Bahkan mereka secara kebetulan berada di jurusan yang sama, Teknik Sipil. Rima saja tidak menyangka Budi yang sukanya main itu bisa diterima di Teknik Sipil UHW. Budi juga satu-satunya anak di lima sekawan yang dari SMK atau dulu disebut STM.
"Pal, traktir mie dokdok dong," kata Budi pada cowok yang duduk di depannya. "Entar tak ganti."
"Yang kemarin aja belum kau bayar," sahut cowok yang tahun ini menjabat sebagai ketua Isimaja FT, Naufal.
"Yaelah, besok deh sekalian. Duitku habis belum ke ATM," kata Budi.
Namun, Naufal tetap bergeming, sibuk dengan ponselnya untuk memantau perkembangan 'anak buahnya'. Bahkan soto yang barusan dia pesan belum dia sentuh sama sekali.
"Ya? Ya? Ya?" Budi tetap keukeuh. Dia sudah sangat lapar dan lagi pengen mie dokdok. Biasanya cowok itu mana peduli memohon seperti itu, dia akan langsung pesan apa yang dia inginkan bahkan sebelum orang yang dia utangi menyetujui.
Kali ini beda! Orang itu adalah Naufal, yang meski kalem dia itu cukup perhitungan. Dulu pernah Budi nekat pas mereka lagi kumpul. Alhasil dia berakhir harus membayar sendiri karena Naufal sama sekali tidak mau. Cowok itu bahkan mempengaruhi yang lain biar tidak meminjamkan uang untuk membayar saat itu.
Budi tidak mau menanggung malu seperti saat itu. Meski begitu, dia tidak kapok berutang pada Naufal tetapi harus memastikan mau atau tidaknya si Naufal terlebih dulu.
Prinsipnya Budi itu, uang sahabat adalah uangnya juga.
Termasuk Aylin yang meski pendiam tetapi galak banget kalau Budi sudah berulah.
Yah... meski sering bilang dia lagi kere tak punya uang dan sering utang sana sini, tetapi Budi tetap akan membayarnya kok. Dia itu menghafal siapa yang meminjam dan meminjaminya uang. Katanya sih.
"Hshshshs perhitungan banget sama sohib sendiri," gerutu Budi, "Beres nanti tak traktir balik."
Naufal, cowok dengan tubuh atletis karena sering ke tempat fitnes dan ikut UKM sepak bola adalah orang yang kalem. Dia adalah sahabat Aylin dari TK dan bahkan bertetangga. Ucapan tidak ada sahabatan murni antara cowok dan cewek memang benar adanya. Naufal pernah suka dengan Aylin cukup lama. Bahkan pernah nembak Aylin. Sayangnya ditolak karena Aylin hanya menganggap Naufal seperti saudara laki-lakinya. Tentu Naufal pernah patah hati dan hubungan mereka sempat canggung. Namun, karena mereka tidak mau merusak persahabatan yang sudah lama terjalin, mereka sepakat melupakan pengakuan Naufal.
Bahkan mereka satu jurusan, hanya berbeda kelas. Aylin yang memang dari awal milih Teknik Industri, sementara Naufal hanya asal-asalan milih karena bingung mau jurusan mana. Namun, cowok itu memang niat masuk FT kok, cuman awalnya bimbang mau jurusan apa.
"Pal, operin kecap dong," kata Rima pada Naufal yang kini sudah meletakkan ponselnya.
"Nih."
Fakta lainnya, Rima dan Naufal itu adalah saudara tiri! Ayah Naufal adalah duda dengan dua anak sepeninggal istrinya yang meninggal sewaktu melahirkan adik Naufal, Aziz yang sekarang kelas tiga SMP. Sementara ayah Rima meninggal delapan tahun lalu karena penyakit yang sudah lama diidapnya, meninggalkan Rima dan ibunya. Orang tua mereka bertemu saat sama-sama menghadiri diklat sekitar empat tahun lalu. Padahal, saat maba dan awal bertemu, Rima sempat sedikit naksir Naufal yang datang bersama Aylin. Beberapa tahun setelah pertemuan, dengan rentetan bertukar kabar dan ketemuan beberapa kali, Ayah Naufal dan Ibu Rima memutuskan untuk menikah, beberapa bulan setelah Rima dan Naufal jadi maba. Bahkan, Aziz, adik Naufal, menjadi lebih dekat dengan Rima daripada Naufal sendiri! Yah... mereka jadi keluarga yang bahagia.
"Gila! Kok budget buat hari-H malah geseh gini," celetuk cowok bertubuh agak tambun tengah memegang ponselnya di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang pulpen. Terlihat selembar kertas dengan coret-coretan angka.
"Pan, jangan sampe melebihi anggaran dari bendahara lho ya. Udah mau mepet nih. Konsumsi udah banyak anggarannya, kalau bisa ditekan buat anggaran lain," timpal Naufal yang mendengarnya.
"Siap, Bos!" Kemudian cowok itu kembali berkutat dengan ponsel, kertas, dan pulpennya.
"Ternyata cuman salah angka," gumamnya setelah beberapa saat, "Bikin panik aja. Lain kali kalo disuruh si Risa megang duit anggaran, ogah banget."
Risa yang dimaksud adalah ketua Tim Konsumsi Isimaja FT. Kemarin Risa meminta Taufan jadi PJ sementara buat ngitung uang anggaran konsumsi hari-H Isimaja. Dikarenakan bendahara tim sedang sakit selama dua hari ini, sementara laporan RAB (rancangan anggaran belanja) harus diserahkan ke bendahara malam ini. Urusan pengumpulannya, biar Risa nanti sekalian finishing dan pengecekan.
"Bud, pesenin mie dokdok sekalian! Sama es teh."
Taufan, partner in crime-nya Budi sejak SMP tetapi, berpisah sekolah saat SMA, diam-diam punya orang yang disukai yaitu teman masa kecilnya. Temannya dulu adalah tetangga di daerah asal, Maluku, sebelum Taufan pindah ke Jawa bersama orang tua dan saudaranya saat memasuki SMP. Namun, dia dan teman kecilnya masih sering bertukar kabar sampai sekarang. Lalu katanya Taufan, teman kecilnya itu sekarang kuliah di luar negeri dengan beasiswa dan tetap menunggu Taufan. Wow, benar-benar pasangan yang loyal!
Ketika orang lain bertanya apakah ada di antara mereka yang naksir atau jadian—abaikan perihal Naufal yang dulu pas jaman SMA/K pernah nembak Aylin dan Rima yang dulu sempat sedikit naksir Naufal, lima sekawan akan tertawa dengan pertanyaan absurd itu. Mereka itu sudah seperti saudara dan sering menghabiskan waktu bersama. Meskipun geng mereka baru terbentuk pada saat mereka maba.
"Tapi, kayaknya maba yang ngelamarmu itu suka padamu," ujar Bia kepada Aylin disela-sela obrolan ringan dan candaan mereka.
"Mana ada!" Aylin menyangkal dengan cepat. Suasana hatinya kembali memburuk ketika teringat dengan maba bernama Kayvan yang selalu mempertanyakan otoritasnya sebagai ketua TPK disetiap kesempatan yang ada. Terlebih kejadian tadi pagi! Ugh, benar-benar rasanya Aylin ingin menyuruh maba itu untuk lari keliling wilayah UHW yang luasnya tidak kira-kira.
"Baru dua hari TM, dia udah bikin masalah dan membuatku kesal!" gerutu Aylin dengan wajah cemberut.
"Ya, bisa aja 'kan?" kata Bia sambil mengangkat kedua bahunya tak acuh.
"Setahuku, tanda orang suka sama kita itu, mereka akan cari cara buat dapetin perhatian kita," tambahnya sambil mengerling ke arah Frans. Frans membalasnya dengan cengiran khasnya.
"Wah bener tuh!" Rima berseru menimpali. Ikut menggoda sahabatnya yang kini mukanya memerah entah karena apa.
"Jangan-jangan..."
"EMOH!" seloroh Aylin tidak membiarkan Rima meneruskan kalimatnya.
"Orang nyebelin kayak gitu. Dan aku nggak kayak kau ya, Mala," tambahnya ke Bia alias Mala.
"Udah, udah," Naufal buru-buru melerai ketika melihat Budi dan Taufan membuka mulutnya. Bisa-bisa semakin tambah ribut nanti kalau dua orang idiot itu ikut-ikutan memanasi suasana.
"Alin, tetap jaga emosimu ya," katanya pada Aylin.
"Jangan sampai kau malah kepancing emosi karena maba itu. Kita baru selesai TM kedua, masih jauh. Di antara kita berlima, kau itu orang yang paling sabar dan nggak suka marah-marah. Jadi, aku percayakan padamu, kau bisa me-manage emosimu dengan baik sebagai ketua TPK."
Aylin mengangguk mengerti.
"Oh iya, Bud. Udah dapat izin buat nggunain aula besar buat posko kesehatan selama pelatihan fisik? Atau kita perlu bikin tenda?" tanya Naufal pada Budi.
Selama pelatihan fisik yang akan terus di luar ruangan, rencananya aula bakal disulap buat posko kesehatan karena luas. Cuman sebagian, tidak semua. Sisanya untuk dibuat tempat shalat.
"Soal itu, belum ada konfirmasi lagi dari Pak Bagyo, Pal. Nanti coba tak tanyain lagi. Kalau terpaksa bikin tenda, aku udah suruh anggotaku buat jaga-jaga nyari tenda sewaan," jawab Budi.
Naufal mengangguk paham.
Sore itu, mereka habiskan untuk bersantai dan mengobrol sejenak di kedai. Pukul lima, mereka kembali ke asrama masing-masing. Bimala yang datang bersama Frans juga diantar kembali ke asrama kedokteran yang jaraknya lumayan jauh.
Bersiap-siap untuk evaluasi besar nanti malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.