![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
memorable (adj): worth remembering or easily remembered, especially because of being special or unusual
.
.
.
[baru minor editing, part panjang, mention of song lyrics]
.
.
.
Para maba masih diam, tertegun dengan apa yang mereka lihat di depan mereka. Mereka tidak sedang dikerjai kan?
Tidak sedang dalam mimpi? Entah mimpi buruk, mimpi indah, atau justru mimpi yang aneh karena mereka melihat para TPK tersenyum.
Keadaan hening selama beberapa detik. Sebelum semua panitia yang ada di sana memberikan tepuk tangan yang meriah.
Si ketua Isimaja FT maju beberapa langkah. Cowok itu tersenyum lebar. Lalu mengedarkan pandangannya ke semua maba yang menampilkan ekspresi berbeda-beda. Ada yang masih syok, bingung, tidak percaya, bahkan ada yang ikut tersenyum juga.
"Selama untuk kalian Angkatan 59!"
Sekali lagi, semua panitia bertepuk tangan.
"Tenang, kalian tidak sedang di prank kok," Naufal menenangkan, "Kalian hari ini, detik ini juga akan mendapatkan lencana gir kalian."
"Sebelumnya, kami dari segenap panitia Isimaja FT 20XX mohon maaf apabila selama kegiatan berlangsung ada tutur kata atau sikap yang bikin kalian jengkel ke kami, marah ke kami, bahkan menyinggung kalian. Dan kami juga berterima kasih karena kalian mau, bersedia repot-repot ikut inaugurasi."
"Saya juga mau menambahkan," sambung Enggar. Cowok itu terlihat lebih ramah dari sebelumnya. Tidak ada lagi sosok sangar TPK yang tadi memarahi habis-habisan para maba di tengah lapangan.
"Saya mewakili Aylin dan segenap Tim Penegak Kedisiplinan mohon maaf kalau selama Isimaja sering bikin kalian nggak nyaman, marah, bahkan takut ke kami. Apa yang kami lakukan semata-mata hanya tugas dan demi kebaikan kalian. Jangan takut atau sungkan kalau setelah ini kita ketemu di hari kuliah biasa. Sapa aja kalau pas kami nggak melihat kalian, nggak usah formal-formal, oke? Kami nggak gigit kok, hehe..."
Enggar tersenyum tiga jari lalu mengeluarkan jempol kanannya ke arah maba. Beberapa maba ada yang terkekeh melihat tingkah salah satu TPK yang ditakuti yang ternyata berbeda 180 derajat dari sebelumnya.
"Maaf ya kami tadi marah-marah..." beberapa TPK bersuara.
"Maaf ya..!"
"Oh ya, yang bertanya-tanya soal Aylin di mana, dia sekarang lagi jemput bintang tamu sama salah satu Humas. Nanti balik ke sini lagi kok. Tenang, dia nggak marah atau kecewa ke kalian karena tadi "gagal" ambil lencananya," Enggar menambahkan. Dia melihat ada beberapa maba yang terlihat celingukan mencari seseorang.
Termasuk seorang maba yang menjadi pentolan Angkatan 59.
Kembali di ambil alih Naufal. Cowok itu lalu meminta maba satu-satu pergugus maju ke depan untuk dipasangkan lencananya. Lencana gir akan diberikan langsung oleh panitia ke maba.
Dan maba boleh memilih mau dipasangkan oleh siapa dari kakak panitia yang ada. Atau kalau malas mencari, boleh tinggal antre yang sekiranya selo. Berlaku ke PDD dan Tim Medis yang lagi berjaga.
Satu per satu, maba maju ke depan. Di mana semua panitia sudah berbaris rapi menyambut mereka dengan senyum hangat.
Suasana ruangan dengan pencahayaan yang terlihat romantis dan magis menambah kesan syahdu. Dan mayoritas maba memilih antre atau mencari senior yang tidak sibuk.
Ketika lencana disematkan di dada kiri, para kakak-kakak senior kita ini menyampaikan harapan, ucapan terima kasih, dan kata maaf ke maba yang mereka pasangkan lencananya. Bahkan ada juga yang sampai berpelukan dengan mata berkaca-kaca.
Tak peduli panitia mana yang menyematkan, semua terlihat hampir sama. Tidak ada intimidasi dan rasa segan. Bahkan oleh TPK sekalipun.
Ridwan berjalan maju ke depan. Cowok itu sejak tadi hanya diam mengamati. Tidak tahu harus bagaimana. Perasaannya campur aduk. Bingung bagaimana cara mendefinisikannya.
Rasanya seperti tak nyata.
Setelah beberapa saat hanya berdiam diri di tepi, akhirnya cowok itu mau juga bergabung dan ikut menghampiri senior untuk dipasangkan lencananya.
Dan kini, dia berhadapan langsung dengan salah satu anggota TPK. Cewek berambut pendek yang berwajah judes dan menjadi salah satu yang ditakuti maba. Kini, senior itu tersenyum melihat maba di depannya.
Ridwan tidak ambil pusing untuk melihat siapa senior yang akan memasangkan lencananya. Dia tadi hanya mengikuti seseorang di depannya—yang kini sudah berpindah tempat—dan akhirnya justru bertatap muka dengan Rima.
"Hai," sapa Rima dengan senyum kecil.
"Senang melihatmu mau bertahan sampai sini," katanya. Tak ada kesan negatif. Hanya ada kelegaan di sana. "Meski banyak yang membuatmu nggak suka dan nggak nyaman, tapi kau tetap kembali ke sini."
Senyum tipis terbit di wajah dingin seorang Ridwan Yudhatama ketika mendengar ucapan sang TPK.
"Aku juga senang bisa bertahan sampai sini," kata Ridwan kemudian.
Senyum Rima semakin terkembang. "Senang mendengarnya."
Cewek itu lalu memasangkan lencana yang didesain khusus itu pada Ridwan. Di tengah lencana itu terdapat simbol gir dengan angka 59. Menandakan angkatan tahun ini.
Rima menatap tepat ke arah Ridwan. Tersenyum, lalu berkata, "Aku bangga padamu."
Ada beberapa hal yang ingin dia ucapkan sebenarnya. Bahkan memberikan pelukan hangat dan berkata bahwa cowok di depannya ini sudah benar-benar bertahan di tengah-tengah hidup yang berserakan.
Kehidupan ini banyak hal yang berserakan. Melukai atau dilukai.
Pada akhirnya, Rima hanya menepuk bahu kiri Ridwan dengan lembut beberapa kali. Sebelum menurunkan tangannya.
Momennya kurang tepat.
Senyum tipis kembali terbit di bibir Ridwan. Dia balas menatap senior di depannya, lalu mengangguk kecil.
"Terima kasih."
"Kau juga. Aku juga bangga padamu karena kau tetap bertahan kuat sampai sekarang," imbuhnya dengan nada pelan. Namun, Rima masih bisa mendengarnya.
Cewek itu melemparkan senyum manis yang jarang dia perlihatkan.
.
.
.
Kayvan Candra berdiri sendirian di tengah-tengah maba dan panitia yang sibuk berlalu lalang dan bercengkrama. Neo, Teo, dan Ojan sudah lebih dulu menghampiri senior untuk disematkan lencananya. Ridwan tak tahu di mana dia sekarang.
Yang pastinya, cowok jangkung itu tidak pulang lebih dulu karena Kai sempat melihat sosoknya sekilas di pinggir aula. Sebelum menghilang entah ke mana.
Lagipula, panitia pasti akan menghalangi kalau sampai ada maba yang menyelinap pergi tanpa izin.
Kai tidak melihat sosok ketua TPK FT di mana pun saat ini.
Terakhir kali adalah ketika Aylin pergi dari lapangan dengan wajah yang kecewa. Selepas itu seperti ditelan bumi.
Apa Aylin benar-benar kecewa?
Kai akui kalau angkatannya memang banyak melakukan kesalahan. Terlepas dari kewajiban pemandu yang mengingatkan mereka dan Teo sebagai ketua angkatan.
Berbicara soal Teo, sahabatnya itu mengalami perubahan yang cukup signifikan. Yang tadinya terlihat ragu dan kurang percaya diri, kini cowok itu menjadi lebih yakin dan lebih berani. Teo adalah salah satu pemimpin yang baik. Buktinya, sejauh ini, maba mau mendengarkannya.
Teo punya cara untuk membuat orang-orang mendengarnya. Salah satu kharismanya yang mulai terlihat sebagai ketua angkatan.
"Dek Kayvan!" seseorang memanggil namanya. Menariknya kembali dari pikiran-pikirannya soal di mana Aylin, sosok Teo sahabatnya, dan keberadaan Frans yang ternyata juga tidak ada.
Beberapa kali tadi Kai mendengar beberapa miba ingin menghampiri Frans agar dipasangkan lencana. Namun, sayang seribu sayang. Sosok yang dicari tidak ada di tempat. Ada yang bilang menemani ketua TPK dan Humas menemui pihak bintang tamu.
Entahlah.
Sebelum pikiran Kai mulai aneh-aneh, cowok itu memutuskan untuk menanggapi Santi, salah satu pemandu gugus 19 yang tadi memanggilnya.
Sambil tersenyum ramah, Kai merespon, "Iya, Mbak Santi? Ada apa?"
Santi berjalan mendekat. Dia tadi melihat anak gugusnya ini hanya berdiam sendirian. Makanya, dia memutuskan untuk menghampirinya.
"Tidak... tapi kenapa kau sendirian di sini? Nggak mau ketemu senior buat lencananya?"
Kai tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Senior yang mau kutemui lagi nggak ada di tempat Mbak. Jadi, ya udah..."
Santi tidak tahu siapa senior yang ingin anak gugusnya ini temui, dirinya tak mau ambil pusing. Beberapa panitia memang ada yang tidak ada di tempat saat ini karena mengurus bintang tamu dan lainnya.
"Yaudah, ini aku beri lencananya," Santi memberikan lencana gir ke Kayvan.
Kai tersenyum dan berujar, "Makasih Mbak."
"I-ini..?" lencana gir yang Kai terima masih ada rantai kalungnya. Lencana berwarna keemasan dengan rantai kalung berwarna perak.
"Itu lencana yang tadi di pegang Mbak Alin pas di lapangan. Jatuh tadi, jadi tak ambil aja. Rencana mau tak kasih ke Mbak Alin lagi, biar siapa tahu dia mau ngasihkan ke maba. Kan nggak lucu kalau ada satu lencana hilang sama satu maba nggak dapat. Tapi belum ketemu lagi sekarang. Terus aku lihat kau di sini, jadi tak berikan padamu aja," jelas Santi.
Senyum kembali terbit di bibir Kayvan begitu mendengar perkataan pemandunya. Kai menatap lencana gir yang ada di tangannya dengan pandangan sulit diartikan. Lalu cowok itu menoleh ke arah Santi dan sekali lagi berujar,
"Makasih Mbak Santi!"
"Sama-sama. Ya udah, aku ke sana ya?" Santi berpamitan pergi. Tak berapa lama kemudian, ada beberapa maba mendatanginya. Senior ramah itu dengan senang hati melayaninya.
Kayvan kembali memandangi lencana yang ada di tangannya dengan senyum kecil. Lalu menyimpannya di saku wearpack yang dipakainya.
Suasana hatinya menjadi jauh lebih baik. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Bahkan ketika Ojan dengan sengaja mengagetkannya, Kai tetap tersenyum.
"Kau terlihat senang saat ini," komentar Teo. Namun, Kai tidak menjawab. Dia hanya mengerling jenaka.
"Kebiasaan si Kai sok misterius," celetuk Ojan. Ridwan hanya mendengus di sebelahnya.
"Awas kesambet Kai," Neo mengingatkan dengan nada bercanda.
Ketika semua maba sudah mendapatkan lencana mereka, Galang mengambil alih. Para maba diminta kembali ke tempat semula. Berkumpul ke gugus masing-masing
Para pemandu kembali berbaur dan mendampingi gugus masing-masing.
Sementara panitia yang lain kembali ke pos masing-masing. Bedanya, para TPK terlihat lebih santai dan kini terlihat saling bercanda satu sama lain.
Pemandangan yang mungkin semua maba tak akan percaya bakal terjadi, andai saja tidak ada lencana yang kini sudah tersemat di dada kiri mereka.
Galang yang berdiri di atas panggung dengan senyum lebar mengatakan kalau malam ini—masih sore sebenarnya—ada kejutan spesial untuk semua maba. Bintang tamu istimewa.
"Kalian sudah siap?!" teriak Galang bersemangat.
"YA!!"
"Bagus, bagus. Selamat menonton semua!" setelah berkata demikian, Galang turun dari panggung.
Semua maba terlihat excited. Mereka penasaran dengan siapa bintang tamu spesial ini.
Apakah band terkenal seperti Noah? Sheila on 7? Atau malah penyanyi terkenal?
Band lokal mungkin? Ada yang berpendapat demikian karena acara ini bukan acara akbar seperti dies natalis atau event kampus yang terbuka untuk semua orang. Kalaupun para senior mengundang bintang tamu sekelas Noah atau Raisa, pasti aka nada keamanan tambahan dan penggemar yang berdatangan.
Ketika hampir semua sibuk berspekulasi tentang kejutan spesial dan bintang tamu, tiba-tiba lampu aula besar mati.
Sebagian maba menjerit terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Ketika beberapa ada yang mulai sedikit panik, para pemandu dan panitia lain yang terdekat menenangkan mereka.
Semakin di tambah penasaran karena keadaan yang gelap. Namun, mereka masih sedikit bisa melihat siluet orang-orang yang ada di aula.
Tiba-tiba, secara perlahan, musik mulai terdengar. Intro lagu yang pasti mayoritas orang yang ada di aula besar familiar.
Fokus maba ke arah panggung yang masih terlihat gelap. Namun, mereka bisa melihat beberapa siluet orang yang berada di sana ketika tirai dibuka.
Sepertinya mereka adalah kejutan spesial yang dimaksud Galang tadi.
Namun, siapa?
"Must be something in the water, feel like I can take the world. Throw the weight up on my shoulders, 'cause I won't even feel the burn..."
Suara yang mengalun indah itu sepertinya berasal dari sosok siluet tinggi yang berada di tengah panggung. Membuat maba semakin bertanya-tanya siapa dia.
Siapa orang itu?
Bahkan ada yang berpendapat agak mirip dengan panyanyi aslinya.
"Don't be afraid to dive. Be afraid that you didn't try. These moments remind us why..."
"We're here, we're so alive..." lampu kini menyorot ke arah panggung. Memperlihatkan dengan jelas siapa yang memiliki suara keren itu.
Hal itu membuat semua maba yang ada di aula terkejut bukan kepalang. Kenapa tidak? Ternyata yang menyanyi adalah salah satu anggota TPK yang paling ditakuti!
Yang menjadi salah satu tangan kanan Aylin, yang terkenal dingin, dan menjadi idola sebagian besar maba cewek FT.
Dia adalah Frans!
Hal yang membuat semakin heboh lagi adalah personil lain yang ternyata juga anak-anak TPK. Mana mereka semua masih mengenakan korsa blazer FT lagi! Mereka memegang alat musik masing-masing. Ada empat yang para maba lihat di atas panggung.
Frans sebagai vokalisnya.
Megan sebagai keyboardist-nya.
David di bass-nya.
Dan Adi di gitar.
Belum terlihat siapa yang memainkan drum karena sorotan lampu belum menjangkau sampai belakang.
Tak perlu menunggu lama, rasa penasaran semua maba terjawab ketika lampu untuk panggung dinyalakan semua sedemikian rupa. Perlu di apresiasi buat tim perkab yang berkeja berhasil membuat kesan seperti melihat konser indoor mini.
Hal itu membuat maba yang menyaksikan menjadi lebih geger mengetahui siapa yang bermain dibalik drum.
"Let's live like we're immortal, live just for tonight. We'll think about tomorrow (yeah) when the sun comes up...."
Mereka tidak sedang bermimpi 'kan?
Apa jangan-jangan mereka belum benar-benar masuk aula tadi? Semuanya terasa tidak nyata.
Hari ini mereka dibuat syok berkali-kali.
Pertama, mengetahui kalau ternyata sang ketua TPK-lah yang memegang kunci.
Kedua, para TPK tersenyum ke arah mereka.
Keempat, melihat sosok Frans yang dingin dan kharismatik berada di atas panggung sebagai vokalis. Bahkan suaranya sangat keren dan terdengar seperti vokalis band profesional—para maba belum tahu kalau Frans memang anak band kecuali Freya dan Kayvan.
Dan kini yang kelima, yang benar-benar membuat geger dan mengira semua hanya mimpi adalah siapa yang memainkan drum dengan ciamiknya.
Orang itu adalah Aylin!
Benar, kalian tidak salah dengar ataupun salah lihat.
Di sana, di panggung sana, sosok ketua TPK FT yang galak dan ditakuti maba, terlihat fokus dan menikmati menabuh drum mengiringi lagu yang dinyanyikan Frans bersama tiga TPK lain.
Cewek itu bahkan melemparkan senyum tipis sekilas ke semua maba. Membuat mereka semakin berteriak heboh tak percaya.
.
.
.
"The record spinning we don't notice, fill this room with memories. Everybody's chasing something, but we got everything we need..."
"Edan cuy! Kak Aylin woy yang main drum!" seru Ojan dengan raut wajah yang terlihat masih tidak percaya.
Sebagian yang sudah bisa mengatasi keterkejutan mereka mulai menikmati musik yang ditampilkan. Bahkan ada yang ikut bernyanyi mengikuti liriknya.
Benar-benar seperti konser. Mereka dibuat kagum dengan penampil kelima TPK saat ini.
"Siapapun tolong cubit aku biar tahu kalau aku nggak mimpi," kata Neo dengan raut wajah syok.
"Jadi ini yang dimaksud Kak Galang tadi ya? Keren, keren..." komentar Teo, "Aku nggak nyangka kalau suara Kak Frans sebagus ini. Apalagi melihat Kak Aylin main drum, seperti mimpi."
"Sepertinya aku pernah melihat Kak Frans nyanyi, tapi di mana ya?" Ojan terlihat berpikir keras.
Ridwan juga cukup terkejut. Cowok itu akui kalau Frans terdengar begitu profesional. Suaranya juga tidak kalah dengan vokalis band terkenal. Seolah-olah sudah sangat sering melakukannya.
Dan satu lagi sang ketua TPK itu sendiri. Cewek itu terlihat memainkan drum dengan baik. Belum bisa dikatakan profesional, tapi sudah sangat baik.
Benar-benar membuat kesan.
"I don't wanna wait, I don't want a wasted night..."
"I don't wanna wait, I don't want a wasted night..."
Di sisi lain, Kai masih terdiam di tempatnya. Pandangannya fokus tertuju pada orang yang memainkan drum.
Aylin.
Melihatnya memainkan drum membuatnya terlihat berbeda. Benar-benar berbeda.
Ada desiran aneh yang kembali menyusup masuk. Rasanya hangat dan menenangkan. Namun, juga membuat berdebar-debar.
Fokusnya buyar ketika seseorang menepuk pundaknya. Dengan agak enggan, Kai menoleh dan mendapati ternyata Ojan yang melakukannya.
"Diam aja? Masih kaget?" tanya Ojan dengan suara yang agak dikeraskan. Suasana yang meriah membuat siapa saja akan kesulitan kalau bicara dengan nada normal.
Neo juga menatapnya penasaran.
Kai menggeleng. "Nggak juga. Aku udah tahu kalau Bang Frans punya suara bagus."
"Temenku, Damar, yang jadi duta FH, dia pernah cerita kalau Bang Frans itu kakak kelasnya di SMA. Bang Frans anak band. Dia juga gabung di band kampus kok."
"Oh, pantesan kayak pernah lihat Kak Frans tampil," tukas Ojan seolah baru mengingat sesuatu.
"Maksudnya?" tanya Neo bingung.
"Tahun lalu pas ada event gede-gedean acara Dies Natalis kampus yang dibuka untuk umum, aku pernah lihat Kak Frans tampil sama band-nya. Dia juga punya penggemar lumayan banyak pas aku nonton langsung."
"Wih... keren ya," komentar Teo kagum.
"Pantes," kata Ridwan.
"Kok kita nggak sadar ya? Apa emang nggak tahu?" tanya Neo penasaran.
Damar bercerita kalau dulu dia satu sekolah dengan Frans, hanya beda jurusan saja. Pas SMA, Frans juga terkenal sebagai anak band. Apalagi semenjak mengikuti lomba band antarsekolah di Surabaya dan menjadi juara pertama dua kali berturut-turut.
Mengisi hiburan di acara sekolah-sekolah. Baru setelah masuk kuliah dan merantau, kegiatan itu berhenti.
Namun tidak terhenti sepenuhnya karena saat kuliah pun, Frans bergabung di band kampus. Dia juga masih kontak-kontakan dengan teman seband-nya saat SMA yang sudah menyebar ke mana-mana. Ada yang kuliah dan ada yang kerja.
Karena menjadi mentornya selama pemilihan duta kampus kemarin, Kai menjadi lebih mengenal seniornya yang terkesan cuek itu.
"They think we are made, of all of our failures. They think we are foolish, and that's how the story goes..."
Pandangannya kembali fokus ke depan. Ke arah band yang kini menyanyikan lagu yang kedua. Lagu yang sama dari band yang punya lagu pertama tadi.
Lagu yang lebih upbeat. Apalagi permainan musik yang mereka mainkan keren bukan main. Ditambah suara Frans yang super ciamik.
Kedua matanya menatap lurus ke pemain musik paling belakang. Sudah berapa kali orang itu mengejutkannya. Dari awal bertemu, sampai saat ini. Tak pernah tak membuatnya terus memandang ke arahnya.
'Kejutan apa lagi yang akan kau tunjukkan nanti, Kak?' batin Kayvan.
.
.
.
.
.
.
Berbulan-bulan sebelumnya...
"Gimana Lin?" tanya Enggar sekali lagi.
"Nggak. Aku nggak mau!" tolak Aylin mentah-mentah.
"Gila apa?"
Para TPK kita ini tengah berkumpul untuk rapat rutin. Mereka sejak tadi tengah membahas penampilan kejutan pada closing Isimaja nanti.
Penampilan spesial dari TPK untuk para maba.
Tahun ini niatnya memang dibuat beda dari sebelum-sebelumnya. Dan hal baru yang akan dilakukan oleh para TPK kita ini adalah menampilkan sebuah band kejutan.
Ide berasal dari Enggar. Sudah ada nama-nama siapa yang tergabung dalam band ini nantinya.
Yang paling penting adalah Frans jelas termasuk karena dia anak band dan tentunya lebih profesional.
Semua anggota setuju dengan ide tersebut. Toh, sesuatu yang baru dan berbeda dari sebelum-sebelumnya tidak buruk juga.
Apalagi beberapa dari mereka bisa musik, terutama Frans.
"Lagian kenapa harus aku sih?" tanya Aylin dengan kesal. "Kenapa nggak kau aja? Jelas-jelas kau itu jago main drum."
Sejak beberapa menit yang lalu, Enggar dan beberapa anggota lain tengah membujuk ketua mereka untuk menempati posisi sebagai drummer. Awalnya mau Enggar saja karena dia sendiri jago main drum. Namun, Enggar langsung berubah pikiran dan menyarankan biar Aylin saja.
Enggar mendapat ide itu dari Seno dan cowok yang bersangkutan dengan asyik makan sambil menonton drama yang terjadi di depan. Memang kurang ajar si Seno itu.
Seno tadi datang nimbrung bersama Naufal karena niatnya mau sekalian bahas jobdesk yang berkaitan.
Sedangkan Naufal kini juga ikut menonton bagaimana Enggar dan anggota TPK lain membujuk sahabatnya yang keras kepala ini. Hitung-hitung hiburan.
Rima saja tak jauh beda dari saudaranya itu. Dia hanya tertawa saja melihat sahabatnya dipojokkan begini.
Sialan memang.
"Nggak papa Lin," Seno bersuara akhirnya. "Kapan lagi kan bisa jadi idola maba? Bakal terkenal nanti, hahaha!"
"Aku-nggak-mau-jadi-idola!" Aylin menekankan setiap kata di kalimatnya.
"Ayolah Lin..." Enggar pantang menyerah untuk membujuk ketuanya ini.
"Daripada kau jadi vokalis, hayoo... pilih mana?"
"Nggak dua-duanya."
Dia itu benci jadi pusat perhatian. Dia aja baru bisa benar-benar legawa menerima nasib, sudah plong gitu rasanya, sebagai ketua TPK akhir-akhir ini.
Lah ini malah disuruh ikut main band. Yang ada nanti Aylin malah tremor dan demam panggung.
"Dulu kan pas SMP, kau pernah main drum Lin," Naufal berceletuk. Membuat semua pasang mata menatap ke arahnya ingin tahu, kecuali Aylin.
"Hah? Gimana-gimana?" Seno bertanya dengan kepo.
Lalu Naufal bercerita dulu pas SMP, dia dan Aylin satu sekolah waktu itu hanya beda kelas, Aylin sering kali diminta buat praktik main drum saat pelajaran seni musik oleh guru musik mereka.
Cowok itu diceritakan temannya yang sekelas dengan Aylin. Guru mereka, Pak Tugirun, sering sekali menargetkan Aylin buat main drum saat praktik. Bapaknya memang cukup eksentrik dan random. Sering meminta siswa yang sekiranya tidak akan mau atau terlalu malu buat praktik main musik.
Ditambah pas ada tugas disuruh nyanyi lagu bebas buat nilai waktu kelas delapan, Aylin—dengan terpaksa dan malu-malu demi nilai—suskses menyanyikan lagu Lenka yang Trouble Is a Friend.
Aylin waktu SMP memang suka lagu-lagu Lenka.
Alhasil Aylin ditawari ikut ngeband buat jadi vokalis. Sempat menolak mentah-mentah sampai akhirnya Pak Tugirun turun tangan dan meminta langsung. Jadinya, Aylin sempat ikut ngeband buat acara perpisahan.
Dan itu hanya sekali saja. Setelah itu Aylin tidak mau lagi.
Mendengar cerita Naufal, Enggar dan yang lainnya semakin gencar membujuk Aylin.
Sementara Aylin menatap penuh permusuhan ke arah Naufal yang malah bercerita. Cowok itu hanya nyengir tanpa dosa.
"Apa kau jadi vokal saja? Eh udah ada Frans ding," Enggar berkata.
"Aku main drum nggak papa sih, tapi udah lama nggak ngedrum," kata Frans yang justru membuat Aylin menatapnya horor.
"Udah Alin main drum aja, nanti Enggar yang ngajarin. Vokalnya tetep Frans. Seenggaknya Alin udah punya basic-nya dari pas SMP," Seno memutuskan.
Entah Aylin merasa berterima kasih ke Seno atau justru semakin ingin mengutukinya.
"Kenapa nggak Enggar aja sih?" tanya Aylin dengan nada memelas. Plis, jangan libatkan dia.
"Aku kan pj buat sidang di lapangan, Lin, pas penutupan. Kau sendiri kan yang ngasih mandat," Enggar memberi alasan. "Kalau nggak salah bilang gini, 'Nggar, kau ya yang mimpin TPK bayangan masuk lapangan pas penutupan. Bacakan kesalahan maba.' Tuh!"
"Ish!" Aylin pas diawal pembagian jobdesk memang bilang begitu. Sekarang malah jadi bumerang untuknya.
Rima semakin terbahak melihat Aylin semakin disudutkan dan Aylin tak bisa berkutik. Sahabat yang sangat baik memang.
Apalagi kini semua anggota TPK membujuk ketua mereka dengan semangat.
"Biar nggak dibenci maba lagi nantinya," Enggar memberi 1001 alibi untuk membujuk Aylin, "Biar nggak ada yang dendam atau sebel karena selama ospek nanti kau bentak-bentak mereka sampai kena mental."
"Biar ada kesan baiknya juga pas ospek udah selesai."
"Kau kan nanti bakalan lebih banyak dikenal juga Lin. Kalau aku kan nggak terlalu nantinya."
"Gunakan ilmumu pas dulu SMP Lin," Naufal ikut mengompori, "Sekarang ada untungnya juga kan dulu pernah disuruh-suruh main drum? Hahaha!"
"Tenang Lin, nanti bakal tak bantu latihan kok! Biar tambah jago," kata Enggar, "Sekalian nanti nyari guru profesional juga boleh deh."
"Nggak usah aneh-aneh!" seloroh Aylin dengan cepat.
"Demi kita bersama, Lin," Seno ikut-ikutan.
Karena semakin terpojok dan tak ada yang membantunya sama sekali, dengan berat hati akhirnya Aylin setuju.
Hal itu mendapat respon heboh dari semua anggota TPK. Mereka bersorak kegirangan. Mereka sukses meluluhkan hati ketua mereka.
Pada akhirnya, personel band telah terbentuk. Terdiri dari Frans sebagai vokalis, Megan yang main keyboard, Adi yang jadi gitaris, David sebagai bassist—awalnya mau Burhan tetapi dia ada alasan yang tidak bisa diganggu gugat, dan yang terakhir Aylin yang jadi drummer.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
semoga nggak terlalu mengecewakan bagi yg baca kalo ada
maaf lama dan baru sempat up
sosok Pak tugirun beneran ada, beliau guru seni musik pas smp. dulu pas kelas 8 pernah disuruh buat main drum wkwk gegara kelihatan kayak anak kecil akunya :'v kabar beliau gimana ya sekarang:'
kira-kira hubungan rima dan ridwan itu kayak apa sih?
terus di sini juga kai makin terlihat mencurigakan gelagatnya XD
see u on next chap!