![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
here (adv): in, at, or to this place or position
.
.
[baru minor editing, maaf baru bisa up sekarang]
.
.
.
Malam pemilihan duta kampus beberapa waktu lalu, di mana Pasha dinobatkan sebagai duta kampus terpilih dengan selisih skor yang sangat tipis dari Frans, menjadi malam yang masih diperbincangkan banyak orang sampai saat ini.
Di malam itu, seolah-olah hanya ada dua kandidat unggul yang tengah bersaing memperebutkan gelar juara. Karena keduanya terlihat lebih bersinar dan mencolok. Dua orang dengan karakter dan penampilan yang bertolak belakang.
Kedua belah pihak juga punya pamornya masing-masing.
Pasha yang merupakan bagian dari Trio Gila, punya pamor sendiri di Fakultas Kedokteran. Selain sebagai dikenal sebagai duta kampus, Pasha merupakan salah satu jajaran most wanted meski masih maba. Dia juga punya julukan si genius yang suka selebor.
Sedangkan Frans ada si pemberontak oleh para senior di Fakultas Teknik, dikenal tidak hanya karena ganteng dan kulit tan-nya, dia juga dikenal dengan penampilannya yang terkesan mengintimidasi dan sangar.
Punya karisma khas masing-masing dan menjadi idola mayoritas mahasiswi UHW dari berbagai angkatan.
Meski banyak yang mengira keduanya adalah rival dan musuh, nyatanya dua orang yang bersangkutan justru berkawan baik.
Bahkan masing-masing sahabat mereka mengenal satu sama lain.
Tak jarang kalau mereka hang out bersama atau tanding futsal dan basket untuk para cowok.
Selain berkawan baik dengan Pasha, Frans sendiri juga cukup akrab dengan Bimala. Mengejutkannya ternyata mereka punya beberapa kesukaan yang sama. Jika dengan Pasha, Frans suka sparing basket atau futsal, maka dengan Bimala lebih ke teman main PS.
Tidak banyak yang tahu kalau Bimala jago main PS dan mungkin tidak akan menyangka. Frans saja awalnya kaget saat tahu Bimala kadang suka main PS di waktu luang.
Bimala semenjak kuliah jadi jarang sekali main karena sibuk dan teman main PS yang biasanya alias Mas Gio, kakaknya, juga sama-sama sibuk.
Makanya, semenjak kenal Frans, cewek itu jadi ada teman main PS. Kedua sahabatnya tidak bisa diandalkan. Pasha yang menurutnya payah dan Maul yang memang tidak suka main PS.
Bimala yang terkadang main ke FT tanpa Pasha dan Maul sudah jadi pemandangan yang biasa. Pertama, karena menemui sepupunya alias Aylin. Kedua, tanding PS dengan Frans dan kawan-kawannya.
Tenang, Bimala tidak cewek sendirian. Ada Tiara yang memang kadang bergabung main dengan gengnya Frans. Bimala dan Maul sudah akrab dengan Tiara. Cewek tomboy berambut panjang itu memang kenal dekat dengan gengya Frans karena Asep, salah satu sahabat Frans, adalah teman sekelasnya waktu SMA.
Banyak mahasiswi FT yang merasa iri dengan keakraban Tiara dengan Frans dan kawan-kawan. Namun, Tiara hanya bersikap bodo amat menanggapinya.
Karena jadi sering mengobrol, Frans jadi tahu kalau Bimala memberikan vote untuk Frans pada detik-detik terakhir sebelum vote ditutup saat malam pemilihan duta kampus.
Cewek itu bercerita dia sengaja melakukannya karena memang mendukung Frans buat jadi juara sekaligus membalas Pasha.
Cowok itu hanya tersenyum terhibur menanggapinya. Masih cukup heran dengan persahabatan Trio Gila itu yang kadang lebih terkesan Pasha adalah bos Bimala dan Maul.
Frans memang berhasil menang menjadi duta favorit meski bukan jadi duta kampus terpilih. Perolehan suara Frans dan Pasha hanya selisih satu suara.
Tidak hanya sebagai teman main PS untuk melepas penat, beberapa kali keduanya pergi berdua.
Just casual as a friend.
Bimala mengajak Frans buat menemainya mencari buku penunjang kuliahnya di Gramedia ketika Maul dan Pasha sibuk. Dia tidak mau membawa buku-buku berat sendirian.
Secara tidak langsung cewek itu memanfaatkan Frans. Toh, Frans juga tidak keberatan membantu.
Kalau kalian menduga ada sesuatu di antara keduanya, jawabannya tidak.
Mereka akrab dan nyaman sebagai teman. Meski dalam kesan pertama saat bertemu ada rasa penasaran, tetapi itu tidak serta merta melibatkan hati.
Frans memang bersikap akrab dan ramah dengan orang yang membuatnya nyaman. Dia orangnya memang dingin dan terlihat jarang tersenyum. Makanya saat dia hanya sebatas tersenyum ramah untuk basa-basi menyapa, efeknya begitu berpengaruh di kalangan para cewek.
Sampai-sampai ada rumor yang beredar kalau cowok itu tengah menyukai seseorang dari FMIPA.
Awalnya cowok itu cuek dan masa bodoh. Namun, lama-lama jengah juga karena hal itu tidak benar.
Frans tidak sedang menyukai siapa-siapa saat ini, oke? Dia hanya ingin berkuliah dengan tenang.
Entah siapa yang mulai menyebarkannya.
Dia sendiri saja tidak kenal satupun anak FMIPA kecuali duta fakultas mereka tahun ini. Dan Frans cukup mengenal baik dua duta FMIPA itu tidak mungkin membuat rumor murahan.
Membuat rumor itu jadi bahan guyonan dalam geng. Bahkan Trio Gila yang kadang ikut hang out jadi ikut-ikutan.
Terutama Bimala.
Frans tahu dari Pasha, Maul, dan Aylin kalau Bimala itu orangnya memang suka iseng.
Kenapa Frans bisa akrab dengan Aylin, salah satu TPK FT?
Awal mula cowok itu akrab dengan Aylin selepas Isimaja karena cewek itu jadi salah satu TPK yang berhadapan dengan Frans.
Frans juga baru tahu kalau Aylin dan Bimala adalah sepupu. Keduanya punya karakter yang berbeda. Namun, dibalik itu Frans bisa langsung tahu kalau mereka punya hubungan keluarga.
Selain itu, Frans ada rencana bergabung ke TPK saat oprec panitia Isimaja untuk tahun depan.
Cowok itu juga tahu kalau Bimala itu dijuluki player seperti Haris. Meski tidak separah Haris yang memang terkesan brengsek. Banyak rumor yang beredar. Trio Gila juga suka bercanda tentang mantan-mantan Bimala dan bagaimana tidak ada orang yang dendam padanya.
Lucunya, Frans juga mendapat julukan seorang player meski tidak seratus persen benar. Dirinya memang pernah dekat dengan beberapa cewek tetapi tidak pernah sampai berhubungan resmi.
Lagipula, Bimala adalah temannya. Sahabat Pasha yang juga sudah jadi temannya.
Di sisi Bimala, cewek itu memang tidak ingin berhubungan lebih dengan laki-laki manapun. Bisa mengenal dan cukup akrab Frans dan teman-temannya saja cukup membuatnya terkejut dengan dirinya sendiri.
Frans juga sudah dia anggap sebagai temannya.
.
.
.
Frans tengah nongkrong dengan teman segengnya—ada Adi juga—ketika ponselnya berbunyi.
Ada panggilan masuk dari Pasha.
Tumben sekali orang itu menelepon.
Frans menduga kalau Pasha akan mengajaknya sparing seperti biasanya. Namun, tidak ada salahnya mengangkat telepon.
Begitu sambungan terhubung, belum sempat Frans membuka mulutnya, Pasha sudah tebih dulu menodong pertanyaan. Nada bicaranya terlihat mendesak.
"Frans, Bia lagi ada di FT nggak sekarang?"
Frans mengerutkan dahi bingung. Sedari tadi dia tidak melihat Bimala. Cewek itu juga tidak ada menghubunginya buat mengajak main PS.
"Tidak. Sejak tadi nggak lihat, Sha," jawab Frans apa adanya.
"Tolong tanyain Haris atau siapa gitu. Setengah jam lagi kita ada kuis dan nggak boleh bolos," pinta Pasha dengan nada mendesak. "Kita harus kumpul depan ruangan setengah jam sebelum mulai."
"Oke, bentar," Frans lalu berpaling ke teman-temannya dan bertanya apa mereka ada yang melihat Bimala atau tidak.
"Nggak lihat aku," jawab Haris. Di sebelahnya Adi dan Asep juga ikutan menggeleng.
Frans lalu berkata ke Pasha, tak lupa meletakkan ponselnya di tengah meja dan menyalakan fitur pengeras suaranya biar Haris dan yang lainnya bisa ikutan dengar, "Nggak ada yang lihat Sha. Tadi Bia bilangnya mau kemana?"
"Bia tadi bilang mau ngambil barang di tempatnya Mbak Alin. Tapi sampai sekarang belum balik-balik."
Asep terlihat berpikir.
"Bilangnya ke asrama atau kampus Sha?" tanya Asep setelah ingat sesuatu. "Soalnya kalau mau ketemu di kampus itu nggak mungkin. Setahuku kelasnya Mbak Alin ada kunjungan industry hari ini. Baru balik bentar lagi kayaknya."
"Kok kau tahu Sep?" tanya Haris heran. Dia saja baru tahu ini jurusan Teknik Industri tahun kedua ada kunjungan ke lapangan.
"Tadi pagi nggak sengaja papasan sama Mbak Alin," jawab Asep.
"Kurang jelas tadi. Udah hampir sejam. Bentar lagi kelas masuk buat kuis," kata Pasha.
"Udah coba kau hubungi nomornya?" tanya Adi.
"Udah. Tapi nggak aktif. Barusan Maul bilang dia juga habis chat-an sama Mbak Alin, emang bener lagi di jalan balik kampus dia."
Frans terdiam. Tidak terdengar seperti Bimala yang berbulan-bulan ini dia kenal. Cewek itu termasuk orang yang ambis jadi tidak mungkin nekat membolos dari kuis sesulit apapun.
Paling kalau terpaksa tidak bisa hadir, Bimala akan menemui dosen yang bersangkutan guna minta kuis untuknya sendiri.
Dan Bimala hanya akan membolos kelas biasanya saat kelas teori yang isinya hanya materi atau jamkos alias jam kosong.
Kemana cewek itu sekarang?
Pada akhirnya, Frans dan kawan-kawan membantu mencari teman mereka. Sementara Pasha dan Maul sudah disuruh masuk oleh dosennya yang terkenal killer.
Karena FT begitu luas, keempatnya memutuskan berpencar sambil bertanya ke siapa saja yang mereka temui andai melihat mahasiswi kedokteran.
Frans menuju sisi utara FT. Sambil menghubungi Tiara yang sedang berada di asrama, bertanya apakah Bimala ada berkunjung ke sana atau tidak. Secara Aylin satu asrama dengan Tiara.
"Iya, tadi ke sini anaknya. Ketemu di lobi. Bia izin mau ambil barang di kamarnya Mbak Alin. Belum lama balik kok dia. Katanya ada kuis. Oh iya, dia naik sepeda tadi aku lihat."
Setelah berterima kasih ke Tiara, Frans menutup ponselnya. Mendapat titik terang pada akhirnya. Dia jadi punya gambaran Bimala lewat jalan mana.
Cowok jangkung itu lalu berjalan keluar gerbang utama dan menuju ke arah FGK berada. Jarak FT dan FGK memang cukup berdekatan. Jalan di wilayah itu juga sering di lalui anak-anak FK karena memang jaraknya lebih dekat alias memotong jalan kalau mau ke taman kuliner dekat FT atau yang ada di Klebengan—utara seberang jalan tak jauh dari FGK.
Sambil menyisiri jalan, Frans tak lupa bertanya ke mahasiswa yang ditemuinya kalau ada yang melihat mahasiswi kedokteran lewat pakai sepeda.
Frans sempat kepikiran, bisa jadi Bimala sudah sampai kelas. Namun, hal itu terpatahkan karena barusan saja Pasha mengirim pesan kalau dosen mereka mencari-cari Bimala karena kuis mau dimulai.
Sepertinya cowok itu sembunyi-sembunyi membuka ponselnya.
Frans sampai di dekat jalan setapak di dekat FGK yang tumben sepi. Dia berhenti sejenak sambil melihat sekeliling. Sampai matanya menangkap punggung seseorang yang familiar. Orang itu tengah menuntun sepedanya.
Seseorang dengan setelan hitam putih yang biasa dipakai anak-anak FK di hari ini.
Sayangnya, ada yang janggal. Banyak cowok mengitarinya. Beberapa ada yang familiar bagi Frans karena anak-anak FT.
Frans berjalan cepat menghampiri sambil menatap mereka awas. Dia tidak bisa melihat raut wajah Bimala sekarang, tetapi tubuh Bimala terlihat bergetar hebat.
Sampai ada tangan salah satu dari mereka berusaha meraih kemeja putih yang dikenakan Bimala, Frans langsung bereaksi keras.
"WOI!"
Tanpa babibu, Frans memukul orang itu dengan keras. Beberapa ada yang melawan, lalu cowok itu tidak segan melawan balik.
Kalem-kalem begitu, Frans jago berkelahi.
Kata-kata kasar keluar dari cowok jangkung itu saat menangani kelimanya. Dua anak FT dan tiga anak FGK.
Pada akhirnya, Frans bisa mengalahkan mereka dengan cukup mudah. Emosinya yang sudah memuncak membuatnya lebih brutal.
"Awakmu kabeh tak tandai, s*!" ujar Frans kepada kelimanya sesaat sebelum mereka memilih kabur. Namun, Frans sudah mengingat baik-baik wajah-wajah mereka. [kalian semua aku tandai – logat Jawa Timur]
Frans lalu berbalik ke arah Bimala yang kini terduduk di trotoar. Sepedanya ambruk di sisinya.
Dengan perlahan, cowok itu mendekati Bimala yang masih mematung dengan raut wajah pucat. Matanya membelalak terkejut.
"Bia—"
"JANGAN SENTUH AKU!" belum sempat Frans memastikan keadaannya, Bimala sudah berteriak. Menampar tangan Frans yang hendak meraihnya. Lalu beringsut ketakutan dengan pandangan yang tidak fokus.
Frans yang melihat reaksi Bimala sempat terdiam. Raut wajahnya terkejut, lalu sorot matanya terlihat khawatir.
"Bia..."
"Jangan sentuh... jangan..." racau Bimala sambil berusaha memeluk dirinya sendiri.
Apa yang terjadi padanya? Apa yang mereka lakukan sampai membuat Bimala yang dia kenal jadi seperti ini. Terlihat begitu ketakutan.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya...
"Sial, kenapa bannya harus kempes segala sih," gerutu Bimala yang tetap mengayuh sepeda yang ditungganginya.
Dia baru saja balik dari asrama Aylin—sudah bilang ke orang yang bersangkutan—buat mengambil buku anatomi yang akan digunakan di jam setelah kuis nanti.
Dua hari lalu, dia memang sengaja menginap di tempat Aylin buat numpang belajar. Dia butuh tempat yang lebih tenang agar lebih berkonsentrasi karena Maul kalau belajar kadang diucapkan keras-keras, apalagi saat menghafal.
Mana topik yang dijadikan tes beda-beda sesuai undian. Jadinya dia dan Maul tidak bisa saling belajar.
Jadi saat ada jeda cukup banyak waktu sebelum kuis hari ini, Bimala memanfaatkannya untuk mengambil buku ke tempat Aylin. Sepupunya itu sedang ada kunjungan industri jadi tidak bisa menemui atau mengantarkan bukunya.
Alhasil Bimala langsung datang ke asrama saja.
Kenapa pakai sepeda?
Bimala malas mengeluarkan motornya karena sudah bisa ditebak terhalang motor mahasiswa lain yang berangkat lebih siang darinya. Kalau pakai mobil lebih ribet lagi.
Jadinya dia pinjam sepeda salah satu teman sekelasnya.
Kini cewek itu melalui jalan yang sebelumnya dia lewati.
Sayangnya, dia dihadang oleh beberapa cowok yang tidak dikenalnya. Raut wajahnya semakin masam.
Oh ayolah! Dia ada kuis setelah ini. Dia tidak punya waktu meladeni cowok-cowok tidak jelas yang hobi menghadang orang.
Bimala ingin menerabas, tetapi dihalangi mereka.
"Woih santai dong," ucap salah satu dari mereka sambil menyeringai. "Mau kemana sih buru-buru?"
Firasat Bimala jadi tidak enak.
Dan benar saja. Awalnya kelima laki-laki tak dikenal, yang sepertinya mahasiswa bangkotan dilihat dari penampilan mereka, menggodanya dengan kata-kata yang membuat Bimala merinding sendiri.
Oke, dia masih bisa mengatasinya. Sambil mencari celah untuk kabur. Walau kenyataannya, dia sudah merasa sangat tidak nyaman. Apalagi mereka terlihat mengerubunginya, mempersempit jarak.
Lalu salah satu dari mereka ingin mengajaknya ke suatu tempat. Namun, Bimala menolak dengan keras. Tetap berusaha waspada.
Keringat dingin mulai bercucuran saat tangan-tangan mereka berusaha menggapainya. Pandangan Bimala sudah mulai tidak fokus. Jantungnya berdebar begitu kencang.
"Ayo dong, cantik, kita ke tempat enak buat ngobrol," tangan orang itu meraih ujung kemeja putihnya.
"Tolong... jangan sentuh..."
.
.
.
"Bia..." panggil Frans perlahan, selembut mungkin. Berusaha menggapai Bimala yang terkena serangan panik.
Namun, Bimala tetap menepisnya. Tubuh cewek itu menggigil hebat. Matanya terlihat tidak fokus, wajahnya terlihat begitu ketakutan.
Frans sudah menghubungi teman-temannya, Pasha—tidak peduli orang itu sedang kuis sekarang, dan Aylin. Cowok itu juga menjelaskan sebisanya apa yang terjadi.
Frans tetap berusaha menenangkan Bimala. Melontarkan kata-kata lembut yang menenangkan. Berusaha kembali menyadarkannya kembali kalau dia sudah di sini.
Mereka sudah pergi.
Baru kali ini dia melihat Bimala seperti ini. Bahkan dirinya tidak menyangka akan jadi seperti ini.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Para baj**g*n itu akan mendapatkan balasannya! Dia jamin itu.
Melihat orang yang dia kenal selalu tersenyum kini terlihat ketakutan membuat hatinya tersayat.
Dia merasa sangat sedih.
Bohong kalau Frans tidak peduli pada Bimala.
Dia peduli. Bahkan sekarang benar-benar tak tega melihat keadaannya seperti ini. Diam-diam, dirinya memang sesekali lebih memperhatikan teman main PS-nya ini.
Berteman baik dengan Bimala membuatnya sedikit demi sedikit mengenalnya. Membuatnya merasa nyaman. Ada rasa ingin melindungi karena mungkin Frans tidak akan menemukan teman yang mirip seperti sosok Bimala.
Tidak, mungkin lebih dari itu.
Frans ahirnya berhasil memeluk Bimala. Tidak peduli celananya kotor karena duduk di trotoar. Cewek itu sudah mulai berhenti menepisnya.
"Aku di sini... Aku di sini. Kau udah aman... mereka udah pergi."
Tidak. Hatinya semakin sakit saat isakan pilu mulai terdengar.
"Aku janji, mereka nggak akan menyakitimu lagi."
Berulang kali Frans membisikkan kata-kata yang sama. Berharap bisa lebih menenangkan cewek dipelukannya.
Bimala terlihat kesulitan bernapas sebelum pada akhirnya tidak sadarkan diri.
"Bia?—"'
"MALA!"
Frans mengalihkan pandangan khawatirnya dari Bimala yang terkulai tak sadarkan dipelukannya ketika mendengar seseorang berteriak.
Orang itu adalah Aylin, yang berlari ke arah mereka dengan wajah panik. Bahkan cewek itu masih menggendong tasnya, terlihat baru balik dari kunjungan industrinya.
Tak jauh di belakangnya adalah Haris, Adi, dan Asep.
"Ya Allah kenapa ini terjadi lagi," gumam Aylin pilu yang sangat jelas terdengar Frans.
Terjadi lagi? Apa maksudnya?
Pada akhirnya, mereka membawa Bimala langsung ke rumah sakit UHW memakai mobil Adi. Jadi yang ikut ke rumah sakit ada dirinya yang membopong Bimala, Aylin, dan Adi yang menyetir. Haris dan Asep mengurus sisanya.
Aylin sudah menghubungi petugas medis yang biasa menangani sepupunya di sana.
Seniornya itu juga terlihat menghubungi seseorang lagi. Cukup lama sampai akhirnya diangkat oleh orang yang bersangkutan.
"H-halo Mas Gio..."
.
.
.
.
.
.
a.n.
part ini lebih menjelaskan hubungan pertemanan frans dan bimala, maaf kalau ada scene yang aneh (aku akan edit nanti)
there will be part two. karena kalau kuteruskan bakal kepanjangan
actually i want to make heartbreaking story, but i'm not sure apakah bisa jadi atau nggak :')
see u on next part i guess? hopefully soon