Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: First Impression?



first impression (n):  what a person thinks when they first encounter or meet another person


.


.


.


[baru minor editing as always]


.


.


.


Johan Abimanyu menjadi salah satu maba yang ditandai oleh para senior selama Aqisol berlangsung. Predikat maba pemberontak dan susah diatur diperoleh cowok dengan nama panggilan Frans itu.


Ada cerita unik kenapa dia bisa punya panggilan "Frans". Cerita ini bermula dari pamannya Frans, adik dari ibunya yang memilih menetap di Belanda. Pamannya itu merupakan seorang komikus superhero yang cukup terkenal di Negara Tulip itu.


Dan Frans kecil menjadi salah satu penggemarnya. Pamannya selalu mengirimkan komik dan poster karyanya ke keponakannya itu. Komik yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi bacaan terfavorit bocah berusia enam tahun.


Pada awalnya, panggilan kecilnya adalah Jojo—ibunya yang memanggilnya begitu. Berbeda dengan pamannya yang sejak awal memanggilnya Frans.


Kata pria itu, nama panggilan itu cocok dengan keponakannya. Lalu pria itu mengadaptasi nama "Frans" menjadi salah satu tokoh superhero dari komik yang dia gambar. Komik yang pada akhirnya menjadi booming dan awal mula karir besarnya sebagai kartunis.


Dan Frans kecil suka dan bangga nama panggilan dari pamannya dipakai sebagai karakter superhero favoritnya.


Karena itu, nama panggilan "Frans" mulai melekat dalam diri seorang Johan Abimanyu sampai sekarang.


Lagipula, Frans dalam bahasa Latin memiliki makna kebebasan. Dan Frans adalah orang yang menyukai kebebasan.


Kini, cowok yang berpenampilan terlihat sangar itu terpilih mewakili fakultasnya di ajang pemilihan Duta Kampus UHW. Dia tidak terlalu senang dengan fakta tersebut.


Entah bagaimana dia bisa terpilih.


Namun, banyak yang memang mengusulkan dirinya. Lalu setelah tes penentuan, dia juga lolos.


Selain dikenal sebagai maba pemberontak, Frans itu juga terkenal cuek. Banyak yang naksir dia—kalau kata Haris teman satu gugusnya—dan entah sadar atau tidak cowok jangkung itu menjadi salah satu idola baru.


Namun Frans tetap dingin. Dia bukan player seperti Haris yang akan tak segan memanfaatkan kesempatan yang ada. Dan kalau dia dipaksa untuk beramah tamah seperti Asep yang memang terkenal ramah, dia memilih putar balik.


Bersosialisasi dan sok akrab dengan orang asing bukan sesuatu yang dia nikmati.


.


.


.


Hari ini Frans harus mengikuti pemotretan untuk profil kandidat duta kampus. Dia datang bersama Vera, partner-nya dalam kontes ini.


Suasana auditorium sudah ramai ketika mereka berdua sampai di sana. Cewek berhijab di sebelahnya itu laludipanggil oleh salah satu panitia untuk ke tempat rias. Meninggalkan Frans sendirian di sini.


Cowok itu mengedarkan pandangannya. Mencari wajah yang sekiranya dia kenal di sini. Begitu menemukannya, Frans segera berjalan menghampiri mereka.


Orang-orang yang dimaksud adalah Rio dan Farhan, perwakilan dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian. Mereka berdiri tak jauh dari tempat pemotretan.


Keduanya menyapa Frans begitu melihatnya. Semenjak temu perdana, mereka menjadi cukup akrab.


"Yo Frans!" sapa Farhan dengan senyum lebar. "Udah botak aja nih gundul," candanya. [kepala]


Frans hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sebelum Aqisol, semua maba putra harus mencukur rambut mereka hingga botak tiga senti.


"Pasti minggu ini Aqisol ya?" Rio menebak. Dia punya sudara yang kuliah di FT. Jadi cowok berkacamata itu sedikit paham dengan sistem hirearki dari Fakultas Teknik UHW itu.


"Iya," Frans mengangguk.


Mereka bertiga lalu mengobrol ringan. Sambil bergantian dijawil panitia untuk sedikit dirias agar terlihat lebih segar.


Suasana auditorium yang cukup ramai dan kondusif sedikit terganggu dengan kedatangan seseorang.


Bukan hanya seseorang, tetapi dua orang cewek yang terlihat seperti habis berlari jauh.


Frans tidak pernah melihat mereka. Pakaian yang mereka kenakan menunjukkan kalau mereka bukan dari perwakilan fakultas—karena semua perwakilan mengenakan setelan hitam putih.


Dan sepertinya bukan panitia juga karena tidak memakai tanda pengenal.


Mata tajamnya menelisik mereka penasaran. Tatapannya mengikuti mereka yang berjalan ke tempat seseorang setelah terlihat celingukan beberapa saat.


Mereka menuju ke tempat salah satu perwakilan Fakultas Kedokteran, Pasha.


Frans cukup kenal dengan orang itu. Cowok jangkung yang sepertinya jadi idola baru di sini.


"Siapa mereka?" tanya Frans murni penasaran. Dia tidak tahu kalau orang luar boleh masuk begitu saja ke dalam ruangan gedung.


"Oh mereka," balas Farhan yang tahu siapa yang dimaksud cowok jangkung di sebelahnya.


"Mereka itu Bimala sama Maulida, sahabatnya Pasha. Mereka dikenal sebagai Trio Gila di FK, kembaranku yang cerita," Farhan menjelaskan. Dia punya adik kembar cewek yang jadi maba di Fakultas Kedokteran.


Frans mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Trio Gila?"


"Mereka kadang suka berbuat ulah. Dan untuk seukuran maba seperti kita, mereka sudah memiliki pamornya di FK," jawab Farhan.


"Wew..." celetuk Rio yang menyimak di sebelah mereka.


"Seperti Frans berarti, hahaha..." katanya. "Saudaraku bilang kau punya julukanmu tersendiri di FT."


"Si Pemberontak kalau kata saudaraku," imbuhnya.


Farhan menatap Frans penuh ingin tahu. Dia pikir temannya ini orang yang kalem dan tidak neko-neko. Namun setelah mendengar julukan yang terlihat tidak seharusnya dimiliki Frans membuatnya penasaran.


"Kau hutang cerita padaku, bro."


Frans hanya meringis. Dia hampir lupa kalau Rio punya saudara di FT, entah sebagai panitia atau bukan. Frans belum tahu.


"Kau lihat dia?" Farhan kembali menunjuk geng kedokteran yang disebut Trio Gila itu kemudian.


"Yang berambut panjang," Farhan secara spesifik menunjuk seorang cewek berwarjah cantik dengan senyum tengilnya.


"Dia yang bernama Bimala, atau Bia kalau orang-orang memanggilnya. Dia terkenal sebagai player. Aku kurang paham sebenernya kenapa dia dijuluki begitu, tapi kata Fina yang emang cukup akrab dengan trio itu, kalau Bimala ini juga dijuluki the heartbreaker. Dan anehnya, tidak pernah ada yang dendam atau benci padanya. Seperti iblis cantik."


"Dan Bimala ini pernah dijadikan calon kandidat putri untuk FK. Tapi cewek itu menolak mentah-mentah."


Frans menatap cewek bernama Bimala dalam diam. Sebelah alisnya terangkat ketika mendengar penjelasan dari Farhan.


Hmm...


"Lalu yang pendek itu Maulida. Terkenal galak orangnya kata Fina. Tapi bisa dibilang dia juga yang paling netral di antara mereka bertiga. Nggak neko-neko sederhananya," lanjut Farhan yang kini membahas cewek berambut sebahu dan memakai jepit rambut.


"Dan yang terakhir cowok satu-satunya dalam geng. Yang udah kita kenal sebagai perwakilan dari FK," kata Farhan kemudian.


"Orangnya agak sableng, tapi jenius."


Ah iya, siapa yang tidak tahu sosok Pasha Kuncoro, perwakilan FK yang kini menjadi idola baru—entah Frans sadar atau tidak, cowok itu juga jadi salah satu idola baru. Banyak yang bilang kalau keduanya adalah pesaing terberat masing-masing untuk merebutkan gelar duta kampus.


Frans cukup kenal baik dengan Pasha. Tidak ada persaingan di antara keduanya meski banyak yang bertaruh siapa yang akan jadi pemenang antara Pasha dan Frans.


Obrolan mereka terpotong ketika kini tiba giliran Frans untuk sesi foto.


Cowok itu tidak sadar kalau Vera sudah selesai dengan gilirannya barusan. Bahkan Pasha, yang tadi sempat di bahas Farhan, sudah selesai dengan sesi fotonya sejak tadi.


Frans menempatkan diri di tempat sesi foto. Membiarkan si tukang foto mengarahkan pose yang diinginkan untuk pe-release­-an profil nama-nama kandidat beberapa hari lagi.


Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika kamera diarahkan padanya. Membiarkan ada kesan ramah di wajah yang kalau kata orang-orang terlihat dingin.


Persetan dengan segala julukan dan pamor yang ditempelkan padanya. Biarkan orang-orang menilainya sesuka mereka. Toh mereka cuman bisa melihat dari luar, dari apa yang nampak.


Begitu selesai dengan sesi fotonya, Frans berjalan menuju meja yang menyediakan minuman—yang memang disediakan di sana untuk diambil siapapun yang butuh. Dia mengambil satu untuk dirinya sendiri.


"Oi, Frans!" seseorang memanggilnya.


Frans menoleh dan mendapati Pasha-lah yang memanggilnya.


Setelah menuntaskan dahaganya, cowok jangkung berpotongan cepak itu berjalan menghampiri kandidat dari Fakultas Kedokteran itu.


"Yo, Bro," sapa Pasha. Frans mengangguk menanggapinya.


"Agak pangling juga melihatmu potong rambut," komentar Pasha. Baru kemarin dia bertemu perwakilan dari FT itu rambutnya masih agak sedikit gondrong.


"Biasa Aqisol," balas Frans. Pasha mengangguk paham. Dia cukup tahu aturan di FT dan FO bagaimana.


Pasha lalu menoleh ke kedua sahabat ceweknya.


"Oiya, kenalin guys, ini Frans dari FT," kata Pasha kemudian.


"Dan Frans, ini Bia sama Maul," Frans mengangguk sebagai tanda salam kenal. Dibalas hal yang serupa.


"Dua babuku," Pasha menambahkan.


"Brengsek," Maul menendang kaki Pasha tidak terima. Sementara cewek bernama Bia memukulkan map yang dia bawa ke belakang kepala Pasha.


Cowok yang bersangkutan yang meringis kesakitan.


"Kalian ini kejam sekali sama calon duta kampus," kata Pasha yang sok memelas.


"Ra urus!" Maul menjulurkan lidahnya. [nggak ngurus]


Setelah drama aneh barusan, Pasha lalu merangkul Frans. Tinggi badan mereka hampir sama—lebih tinggi Frans sedikit. Lalu Pasha berujar dengan nada bercanda, "Antara aku sama Frans siapa yang bakal menang?"


"Pasti aku 'kan?" imbuh Pasha sambil memainkan sebelah alisnya.


"Euw!" Maul mengerutkan muka jijik.


"Pede bener bakalan menang," komentar Bia dengan sinis. Di sisi lain, Frans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiganya.


Kemudian, cewek cantik itu mengalihkan pandangannya ke Frans sesaat.


"Hei, aku dukung kau buat ngalahin si Pasha," ujarnya ke Frans kemudian. "Kau lebih pantes soalnya."


Hal yang membuat Frans agak terkejut mendengarnya.


Pasha melepaskan rangkulannya dari Frans. "Harusnya kau mendukungku sebagai sohib sendiri," katanya pura-pura tersinggung.


Dia lalu berujar ke Frans, "Sejak tadi Bia bilang dia lebih mendukungmu buat jadi duta kampus terpilih pas kita lihat sesi fotomu dari sini."


Mendengar pengakuan Pasha, membuat Frans mengangkat kedua alisnya tak menyangka.


"Karena Frans emang lebih pantes daripada kau si tukang narsis. Dia punya kharisma, dan ku akui dia lebih keren darimu," seloroh Bia. Setelah itu mereka sedikit ribut. Pasha yang tak terima dibilang tukang narsis dan Bia yang malah semakin menantangnya.


"Hah... mulai lagi," komentar Maul yang sepertinya sudah lelah dengan tingkah keduanya.


"Maaf ya Frans malah melihat ginian," katanya pada Frans. "Mereka emang suka ribut nggak jelas. Maklumin aja."


"Santai," balasnya singkat.


Tatapan tajam Frans memandang ke arah cewek bernama Bimala dengan sedikit menilai. Selain itu, sorot matanya tak tertebak. Tidak ada yang tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.


.


.


.


"Si Sialan Pasha, ngerepotin banget jadi orang," gerutu Maul.


"Kapan sih dia nggak hobi nyuruh-nyuruh kita?" sahut Bimala.


Mereka berdua tengah berjalan cepat menuju gedung auditorium. Tempat di mana sohib mereka berada sekarang.


Hal ini bermula ketika kedua maba Fakultas Kedokteran itu tengah mengerjakan tugas individu untuk Isimaja FK di foodcourt dekat perpustakaan digital. Sekalian sarapan dan numpang WiFi.


Tiba-tiba Pasha menelepon mereka, meminta (baca: memaksa) mereka membelikan makan karena dia lupa sarapan. Katanya tidak ada makan berat di auditorium dan katanya juga dia tidak bisa sembarangan keluar.


Kawan jangkung mereka itu memang suka sekali memerintah seenaknya. Anehnya, keduanya juga mau-mau saja jadi pesuruh (baca: dengan amat sangat terpaksa).


Jadi, mereka membelikan sarapan untuk Pasha di foodcourt setelah membereskan kertas-kertas tugas dan memasukkannya ke dalam map. Untung mereka tidak membawa laptop—mereka harus menulis tangan di kertas folio tugas mereka—jadi beban mereka tak berat-berat amat.


Jarak foodcourt dan perpustakaan digital dengan auditorium tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat. Mana dia tadi ke sini nebeng Pasha pakai mobil. Alhasil mereka tepaksa jalan ke auditorium sambil menenteng map berisi tugas dan menu sarapan.


Mereka mempercepat laju jalan mereka ketika Pasha kembali menelepon menanyakan keberadaan mereka.


Dasar tidak sabaran!


Jadinya mereka sampai di auditorium dengan terengah-engah dan sedikit berkeringat. Agak menimbulkan sedikit kegaduhan karena Bimala terlalu kuat mendorong pintu masuknya.


Para panitia sudah cukup terbiasa dengan kehadiran mereka. Gara-gara Pasha tentu saja—cowok itu terkadang memang sering meminta Bimala dan Maul buat menemaninya. Buat support system dari sahabat alasannya.


Sebenarnya tidak ada larangan khusus orang luar untuk masuk saat ada kegiatan semacam ini. Namun, memang sedikit diwanti-wanti agar tidak bocor konsep yang sudah mereka rencanakan sebelum tanggal yang ditentukan.


Untungnya Pasha sudah selesai dengan sesi fotonya. Dia sudah duduk di salah satu sudut ruangan yang agak lengang dengan botol minum di tangannya.


Bimala dan Maul lalu bergegas menghampirinya.


"Nih!" Maul mengulurkan kantong keresek berisi makanan yang diminta Pasha.


Cowok ganteng itu tersenyum manis. "Makasih sayang, hahaha...!"


"Cih!" Maul mendecih lalu mengeluarkan ekspresi mau muntah. Jijik dengan panggilan Pasha yang sok genit.


"Merepotkan tahu nggak?" kata Bimala. Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Maul yang sudah duduk duluan.


"Hehehe, maaf. Beneran laper banget, mana jam ishoma masih beberapa jam lagi," kata Pasha lalu membuka makanan yang sudah dia terima.


"Makanya jadi orang itu jangan lupa sarapan," Maul mulai menasehati dengan nada menyindir. "Calon dokter kok ceroboh bener."


"Hehehe..." Pasha hanya cengengesan. Sebenarnya dia tidak selalu lupa sarapan. Hanya kebetulan hari ini dia kesiangan untuk ke auditorium jadi tidak sempat sarapan.


Membiarkan Pasha menikmati sarapannya, Bimala dan Maul memilih melihat-lihat sekeliling. Sesi foto masih berlangsung dan sekarang adalah giliran dari Fakultas Teknik.


Giliran pertama adalah kandidat putrinya. Cewek manis dengan behel yang mengenakan hijab, yang kalau tidak salah namanya Vera kalau kata Pasha.


Lalu tiba giliran kandidat putranya. Cowok bertubuh bongsor —mungkin yang paling tinggi di sini, bahkan dia lebih tinggi sedikit dari Pasha yang jelas-jelas bongsor juga—berjalan ke tempat foto.


Sosok karismatik yang terkesan badass dan berandal dianggap sebagai pesaing terkuat Pasha.


Bimala akui, memang dari semua kandidat yang ada, Pasha dan cowok itulah yang memang lebih mencolok. Bukan berarti kandidat lain biasa saja.


Hanya, apa ya, aura mereka terkesan lebih dominan.


Pasha yang meski kadang bossy dan slengekan, dia punya kharisma tersendiri saat cowok itu sedang serius.


Apalagi kandidat dari FT itu, Frans namanya.


"Saat potong cepak begini, kharisma dia makin kentara ya?" komentar Maul sambil memperhatikan Frans yang tengah berfoto.


Bimala mengangguk setuju. Dia tidak buta dan tidak mau menyangkal juga. Kalau diibaratkan dalam cerita fantasi macam werewolf, Frans itu ibarat alfa-nya.


Dan jujur, Bimala akui, dia kagum dengan sosok Frans. Dia terkesima dengan aura dan kharisma dari sosok perwakilan Fakultas Teknik itu.


Bimala dan Maul belum pernah benar-benar berkenalan dengan cowok itu secara langsung. Hanya mendengar sosoknya dari cerita Pasha serta beberapa kandidat dan panitia. Dan tambahan dari Aylin kalau untuk Bimala.


"Banyak yang bilang dia itu juga player," Maul melanjutkan sambil mengangkat kedua bahu, tanda kurang begitu yakin. "Tapi aku nggak heran sih kalau emang rumor itu beneran. Kalau di novel-novel, mungkin dia itu tokoh yang digambarkan seperti iblis yang menawan."


"Kau terlalu banyak baca novel," sahut Bimala mendengar perkataan Maul.


"Tapi Alin bilang kalau Frans itu punya julukan di FT," katanya kemudian, "Si Pemberontak katanya. Maba paling keras kepala dan paling susah tunduk saat Aqisol."


Ya, Aylin, sepupunya yang kini jadi salah satu anggota Tim Penegak Kedisiplinan FT dan salah satu tangan kanan ketuanya kemarin bercerita kalau ada maba yang paling bandel di FT—sebenarnya ada banyak, tetapi dia yang paling bandel.


Yang membuat semua senior, terutama TPK geregetan.


Banyak rumor yang beredar kalau Frans adalah ketua geng yang menyamar jadi maba—FT UHW sering diidentikkan dengan adanya geng oleh anak fakultas lain. Di kalangan FT sendiri, Frans digadang-gadang bakal jadi raja teknik berikutnya.


"Dan semua orang bilang kalau di FT itu salah satu yang paling keras di UHW ospeknya," kata Maul menanggapi. "Gila."


"Dia punya nyawa kucing sepertinya," komentar Maul kemudian.


Bimala hanya diam tak menanggapi. Dia masih memperhatikan sosok Frans dikejauhan dengan pandangan menilai.


"Menurutku dia keren," celetuk Bimala kemudian.


"Aku dukung dia kalau jadi duta kampus terpilih."


Pernyataan Bimala yang di luar dugaan membuat kedua sahabatnya cukup terkejut.


"Hah? Kau serius?" tanya Maul memastikan.


"Kenapa nggak?" Bimala balik bertanya. "Menurutku, ketimbang si brengsek Pasha—Hei!—dia lebih pantes jadi duta kampus terpilih."


"Heh! Harusnya kau mendukungku," kata Pasha, "Sahabatmu itu Frans atau aku sih?"


"Nggak mau! Kau itu terlalu narsis dan sok kecakepan buat jadi duta kampus," tukas Bimala.


"Brengsek."


"Tapi emang sih, Pasha itu kadang terlalu narsis, euwh!" timpal Maul lalu tertawa.


"Sialan kalian berdua," kata Pasha, "Sahabat macam apa ini sekongkol begini."


"Siapa ya?" tanya Mual pura-pura tidak kenal.


"Orang asing sok akrab Ul, biasa," timpal Bimala mengompori.


Untung Pasha sudah selesai dengan sarapannya. Jadi, dia dengan mudah menjitak kepala kedua sahabatnya dengan dua tangannya.


"Au!" seru Bimala dan Maul bersamaan saat kepala mereka dijitak cukup keras.


"Ini nih, alasanku makin bertambah buat dukung Frans," kata Bimala sambil mengusap-usap kepalanya.


Pasha hanya mencibir mendengarnya. Dia melihat orang yang jadi topic pembicaraan mereka selesai dengan sesi fotonya. Dia cukup akrab dengan perwakilan dari FT itu. Dan memang tidak ada rivalitas di antara keduanya—mereka bersaing secara sportif dan fair, no ill feeling. Pasha tadi hanya bercanda. Menurutnya, tidak masalah kalau Frans jadi duta kampus terpilih nanti.


Toh, itu nanti juga bakal jadi keputusan dewan juri dan vote dari semua mahasiswa UHW yang menentukan.


Kemudian Pasha memanggil Frans.


"Oi, Frans!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


nah itu dia part di mana Frans dan Bimala pertama kali bertemu wkwk. ada sudut pandang frans di awal dan ada interaksi trio gila juga di sini


bakal ada part berikutnya. di sini belum ada rasa suka di antara keduanya, jadi bukan love at first sight


see you on the next part^^