Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Answer



answer (n): a thing said, written, or done to deal with or as a reaction to a question, statement, or situation


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


.


Setelah dipersilakan oleh MC untuk menjawab, kandidat dari FT bernama Kayvan Candra menjawab pertanyaan juri. Terlihat mayoritas penonton tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan cowok itu.


Aylin sudah yakin kalau cowok itu akan memilih kontra. Secara dia selama ini paling vokal menyuarakan keberatannya.


"Kegiatan inaugurasi atau lebih umum disebut Ospek memang perlu dilakukan untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kehidupan kampus yang akan dijalaninya. Hanya saja, saya kurang setuju dengan tindakan senioritas dan sewenang-wenang yang mendeskriminasi maba. Karena menurut saya, kita memilih kampus sebagai tempat belajar selanjutnya bukan untuk ditindas oleh senior-senior di kampus..." Kayvan menjeda sejenak.


Banyak yang menahan napas menunggu kelanjutan jawaban maba 0057. Sementara itu, Aylin menunggu kelanjutannya dengan tenang. Raut mukanya tidak menampilkan ekspresi apapun. Kalaupun dirinya merasa tidak terkejut dengan jawaban Kayvan yang terkesan kontra, cewek itu menyembunyikannya dengan sangat baik.


Matanya fokus ke depan. Sampai sepasang mata Aylin bertemu pandang dengan mata Kayvan sekilas. Entah apa yang dibenak keduanya.


Dengan tegas, Kayvan kembali melanjutkan.


"Tetapi, setelah mengikuti agenda pengenalan yang diadakan oleh senior untuk kami, para maba, saya memahami dan belajar banyak hal. Saya belajar bahwa para senior menyiapkan berbagai kegiatan untuk para maba memiliki maksud dan tujuan yang baik. Mereka melakukannya untuk kebaikan para maba. Cara mereka mungkin keras, karena itulah kehidupan yang sebenarnya nanti setelah lulus dari kampus. Dan saya memilih untuk mempertahankan tradisi yang ada karena ada banyak hal positif yang bisa kita ambil hikmahnya kalau saja kita mengesampingkan hal-hal yang kontra. Jangan pandang hal-hal negatifnya pertama kali, tapi cobalah cari hal positifnya. FO dan FT perlu latihan dan hukuman fisik karena ranah kerja kita yang lebih keras dari fakultas lain. Pada dasarnya peran senior disesuaikan dengan kebutuhan maba dan tujuan yang akan dicapai saat Ospek. Masing-masing fakultas memiliki kebutuhan mereka masing-masing. Ospek bukan ajang balas dendam antara senior ke juniornya. Dan saya percaya Ospek yang dilakukan di UHW memiliki dasar dan tidak seperti rumor yang beredar. Mungkin ke depannya, kita bisa melakukan alternatif pendekatan lain selain bertindak keras kepada maba. Keras memang perlu, tetapi dalam hal tertentu yang memang diperlukan untuk menegaskan sesuatu yang sangat penting. Dengan begitu, pandangan negatif mengenai Ospek akan berkurang seiringnya waktu."


Eh..?


Jawaban lugas dari seorang Kayvan di sambut oleh apresiasi yang meriah dari pada penonton. Bahkan, Naufal, Rima, Taufan, dan Budi ikut bertepuk tangan mengapresiasi.


"Yohoo! Kayvan panutanku!" teriak Budi di sela-sela keriuhan penonton. Cowok itu bahkan sampai melambai-lambaikan tangannya heboh dan bersiul.


Sementara Aylin hanya diam di tempatnya. Dia tidak ikut bertepuk tangan. Pikirannya mulai berkecambuk setelah mendengar jawaban maba 0057 yang tak terduga.


Cewek itu tidak salah dengar kan?


Iya kan?


Ini yang ngomong adalah Kayvan Candra lho?


Ospek dengan hukuman fisik dan senioritas memang cukup tabu karena banyak yang tidak setuju. Namun, jika diingat kembali, FO dan FT memang berbeda dari fakultas lain. Fisik mereka harus kuat dan tidak boleh teledor saat bekerja. Karena sebagian besar ranah kerja lulusan FO dan FT memang perlu kondisi fisik yang baik dan punya resiko tinggi.


Sebenarnya semua fakultas punya ciri khas masing-masing. Dan ciri khas FO dan FT dari dulu memang seperti itu konsepnya, keras dan tangguh. Hanya tinggal menyesuaikan generasi yang mengisinya, sesuai porsi dan kebutuhan.


Mau tidak mau, Aylin merasa tertegun mendengar jawaban Kayvan. Cewek itu merasa kalau ternyata sosok maba 0057 tidak seangkuh dan semenyebalkan yang dia kira. Jawaban Kayvan dari pertanyaan juri yang dilontarkan bahkan membuat Aylin kembali berpikir. Jawaban yang melenceng sangat jauh dari dugaannya.


Mulai overthingking, sepertinya.


Tentu saja, rasanya tidak mungkin orang yang sejak hari pertama selalu paling menyuarakan keberatannya soal agenda Isimaja FT, tiba-tiba memberikan jawaban yang terdengar cukup bijak seperti itu?


Hmm...


Di tempatnya, Aylin melihat cowok itu tersenyum penuh kelegaan. Bahkan, berani-beraninya dia sampai mengerling ke arahnya dengan senyuman yang cerah.


Bisa-bisanya!


Aylin langsung memalingkan mukanya. Oke, dia tidak mau terlalu memikirkan sikap aneh maba itu akhir-akhir ini. Fokus, Aylin. Fokus!


Acara kembali dilanjutkan dengan kandidat yang tersisa. Satu per satu mendapatkan gilirannya.


Aylin tidak terlalu memperhatikan peserta yang lain. Pikirannya masih berputar pada topik yang sama. Bahkan cewek itu tidak terlalu paham apa yang dibicarakan Rima ketika dia mengomentari penampilan kandidat yang lain.


Atau Budi dan Taufan yang berisik heboh ketika kedua MC mengajak ice breaking lagi.


Lamunannya terpecah ketika Andi dan Keisha menyatakan bahwa semua kandidat sudah tampil menjawab pertanyaan dewan juri. Acara dilanjutkan dengan selingan hiburan pertunjukan musik tradisional dan semi teater yang ditampilkan oleh anak-anak UKM Kamasetra UHW.


Tidak lupa juga, keduanya mengingatkan kembali bahwa voting sebentar lagi akan ditutup.


Dengan sedikit ragu, Aylin mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya. Baterainya hanya tinggal beberapa persen tetapi masih cukup untuk menyalakan data internet selama beberapa menit.


Diam-diam, Aylin membuka laman yang digunakan untuk memberikan suara ke kandidat duta kampus. Cewek itu belum memberikan vote-nya. Lalu sekarang, satu suara untuk kandidat duta kampus putri. Dia memberikannya kepada Freya. Namun, satu suara lagi belum dia berikan.


Menurutnya, dirinya baru akan memberikan vote ketika sudah mendekati akhir-akhir atau sudah melihat sesi dewan juri.


Berbeda dengan tahun kemarin, di mana Aylin tanpa pikir panjang langsung memberikan vote kepada Frans dan Vera selaku kandidat dari FT—justru di tahun kemarin, Bimala-lah yang memberikan vote di detik-detik terakhir untuk Frans—tahun ini Aylin dilema.


Jari Aylin menggulirkan layar ponselnya yang menampilkan foto-foto kandidat duta kampus. Jarinya terhenti di foto seorang kandidat duta kampus putra.


Foto Kayvan Candra dari Teknik Industri yang tengah tersenyum.


Aylin mulai ragu. Apa dia akan melakukannya? Atau tidak sama sekali? Atau malah memilih secara acak kandidat lainnya?


Dia menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan buruk ketika cewek itu sedang dilema atau tengah berpikir keras.


Sambil memejamkan sebelah matanya, Aylin memencet tombol vote di bawah foto Kayvan Candra. Lalu cewek itu buru-buru mengunci suaranya dan segera menyimpan ponselnya. Berharap dalam hati kalau Rima dan yang lainnya tidak melihat apa yang dia lakukan.


Fyuh~!


.


.


.


Acara yang paling ditunggu-tunggu adalah pengumuman pemenang duta kampus tahun ini. Begitu selesai jeda pertunjukan dari anak-anak UKM Kamasetra, kedua MC segera mengambil alih untuk membacakan pengumumannya.


Hingar bingar kembali hidup ketika kedua MC memanggil para pendukung dari masing-masing fakultas yang mereka sebutkan.


"Apakah para juri sudah selesai menilai...?" pertanyaan Andi dibalas anggukan oleh para juri.


Lalu seorang panitia memberikan kertas dari dewan juri ke Andi. Panitia itu membisikkan sesuatu selama beberapa sebelum kembali ke tempatnya.


"Baik," Andi kembali memulai, "Tanpa banyak membuang waktu, kami akan mengumumkan pemenang kategori, juara favorit dan pemenang duta kampus Universitas Hayam Wuruk tahun 20XX."


Keadaan menjadi hening. Semua menunggu dengan jantung berdebar-debar.


"Yang pertama, pemenang Kategori Penampil Bakat Terbaik, adalah..." Keisha memberi jeda beberapa detik.


"Riansyah Abdurrahman dan Galuh Puspita dari Fakultas Bahasa dan Seni!"


Gemuruh tepuk tangan menyambut kedua perwakilan maju ke depan untuk menerima penghargaan. Sebuah selempang dan papan yang menunjukkan nominal uang diberikan oleh perwakilan tokoh masyarakat yang diundang menjadi dewan juri.


"Nggak kaget sih," kata Rima sambil ikut memberikan tepuk tangan. "Dari semua penampil, emang mereka berdua yang paling wah."


"Bener. Yang paling totalitas," Aylin menimpali, ikut bertepuk tangan mengapresiasi juga.


Setelah sedikit sesi foto dan ucapan selamat, acara kembali dilanjutkan.


"Selanjutnya," Andi memulai, "Pemenang Duta Favorit dengan nilai vote tertinggi jatuh kepada..."


"Kayvan Candra dari Fakultas Teknik dan Resti Adiningrum dari Fakultas Psikologi!"


Tepuk tangan yang tak kalah heboh menyambut dua kandidat yang dimaksud. Kai berdiri bersisian dengan duta berwajah yang sedikit bule saat menerima penghargaan yang diberikan oleh ketua BEM univ yang menjadi dewan juri.


"C*k, FT jadi pemenang favorit lagi!" seru Budi dengan heboh. "Kita menang!"


"Tapi kemungkinan si Kayvan buat jadi duta kampus terpilih semakin tipis nggak sih?" tanya Taufan.


"50:50 perbandingannya," sahut Naufal. "Tapi sejauh ini, nggak pernah ada kandidat yang punya gelar juara favorit sama terpilih."


"Dulu si Frans yang juara favorit bisa jadi runner up karena katanya total poinnya cuman selisih satu sama yang dari FK. Dan soal juara favorit bisa jadi runner up itu udah beberapa kali kejadian. Jadi yah..." kata Taufan.


"Si Kayvan masih punya kesempatan buat jadi runner up. Masih ada Freya juga. Semoga aja dari FT bisa menang tahun ini," Naufal berucap dengan optimis.


"Psst.. Lin!" panggil Rima ke Aylin.


"Hmm?"


"Si Kayvan kayak kurang bahagia gitu dapat juara favorit," kata Rima sambil memperhatikan Kayvan yang terlihat agak kecewa dibalik senyum sopannya.


"Mungkin," jawab Aylin yang juga ikut memperhatikan cowok itu. Memang benar, Kayvan terlihat agak lesu.


Aylin jadi ingat soal perjanjiannya dengan cowok itu tempo hari. Di mana Kayvan dengan percaya diri akan memenangkan pemilihan duta kampus dan keluar sebagai kandidat terpilih. Namun, sepertinya janji itu tidak akan terjadi. Apalagi setelah mendengar perkataan Naufal tadi. Yang memang belum pernah ada kejadian kandidat yang memiliki gelar juara dobel antara juara favorit dan terpilih.


Pada akhirnya, hanya isapan jempol saja. Tidak masalah, itu artinya Aylin tidak perlu menuruti permintaan Kayvan yang entah bakal apa nanti.


Lagipula, menjadi juara favorit itu sudah cukup bagus. Masih ada Freya yang semoga saja bisa menyabet gelar duta kampus terpilih tahun ini.


"Runner-up Duta Universitas Hayam Wuruk dimenangkan oleh..." Keisha kembali berkata.


"Riansyah Abdurrahman dari Fakultas Bahasa dan Seni dan Wirda Nur Setyorini dari Fakultas Kedokteran Hewan!" Andi melanjutkan.


"Yaahh...." terdengar keluhan kecewa dari Naufal, Budi, dan Taufan. Budi yang paling keras. Sementara Rima menggingit kuku jarinya geregetan. Lain halnya dengan Aylin yang terlihat tetap tenang. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Ekspresi terkejut terlihat di raut wajah kandidat putra dari FBS yang tidak menyangka dirinya bakal menang. Sekali lagi, dia maju ke depan dan berdiri di sebelah maba berhijab dari FKH. Mereka menerima penghargaan dari perwakilan dosen yang merupakan salah satu dewan juri.


Selanjutnya merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Pengumuman juara duta kampus.


Andi dan Keisha mengumumkan secara bersama-sama.


"Pemenang Duta Universitas Hayam Wuruk yang akan meneruskan estafet amanah tahun ini, adalah...."


Semua menahan napas. Beberapa detik terasa begitu lama. Beberapa penonton ada yang menyerukan nama jagoan mereka. Tentu Budi, Taufan, Rima, dan Naufal tak kalah menyerukan nama Freya untuk jadi pemenangnya. Beberapa yang lain memilih diam menunggu. Termasuk Aylin.


"...Kayvan Candra dari Fakultas Teknik dan Freya Sukma Palupi dari Fakultas Teknik!"


Suasana menjadi pecah. Gemuruh tepuk tangan, siulan, dan teriakan dari hingar-bingar penonton menyambut pemenangnya. Beberapa ada yang tidak menyangka tahun ini FT kembali juara pertama.


Bahkan kedua kandidat menjadi pemenangnya!


Wow!


Terdengar teriakan serempak yel-yel Jawara dari bangku penonton menyambut perwakilan mereka yang menang jadi duta kampus.


Freya bahkan sampai harus menjawil Kayvan yang masih terdiam ditempatnya setelah diumumkan pemenangnya. Terlihat melamun sepertinya. Cewek itu bahkan sampai memberitahukan ke Kayvan soal kemenangannya. Raut wajah cowok itu terlihat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengar barusan.


"Cuy! FT tahun ini hatric coy!" seru Budi tak percaya.


"FT MENANG! KITA MENANG! WOO... HAHAHAHA!"


"Gila, gila, gila! Kita menang banyak nih!" timpal Naufal.


"Edan sih Kayvan. Bisa-bisanya dia nyabet dua gelar sekaligus. Udah juara favorit, sekarang kepilih jadi duta kampus," Taufan menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Namun, raut wajahnya menunjukkan rasa bangga yang begitu besar atas pencapaian yang FT raih hari ini. [Gila]


"Secara nggak langsung dia matahin "mitos" kalo juara favorit nggak bakal jadi juara terpilih," kata Rima.


Aylin terdiam di tempatnya. Dia masih terkejut dan cukup speechless dengan pengumuman yang baru saja diumumkan. Kandidat dari FT terpilih jadi duta kampus.


Cewek itu lalu kembali teringat soal perjanjian itu.


Oh sial!


Pada akhirnya dia benar-benar harus melakukannya!


.


.


.


"Aku iseh ora ngandel lho, nek FT dadi juara," ucap Taufan. Raut wajahnya masih terlihat tak percaya. [Aku masih tidak percaya lho, kalau FT jadi juara]


"Iyolah! Apa maneh agi pisan iki ta favorit kepilih dadi juara siji," sahut Rima. [Iyalah! Apa lagi baru pertama ini kan favorit terpilih jadi juara satu]


"Pertama dalam sejarah," Naufal menambahkan.


"Si Kayvan pakai pelet apaan ya? Kok bisa-bisanya gitu," celetuk Budi.


"Pelet, pelet. Dikira apaan!" tukas Rima. "Tapi iya sih... for the first time in forever. Rumor kalau juara favorit itu nggak bisa jadi juara satu itu berhasil terpatahkan berkat Kayvan."


"Hooh. Yah... walau pas TM sama Aqisol kemarin nggak pernah absen nyari masalah, apalagi sama Alin," Naufal melirik Aylin dengan kerlingan jahil tetapi dibalas decihan kesal, "But he can prove that he can be the winner."


"Mana temanya tahun ini ajep banget kan yak?" tanya Budi.


"Hooh. Soal anti bullying sama deskriminasi," Naufal mengangguk. "Ya jelas bakal kena lah soal ospek mengospek. Mana FO sama FT yang paling keras sistemnya."


Naufal mengutip dengan dua jarinya pada kata "keras".


"Keren sih emang Kayvan," puji Rima.


"Hahahaha... suka ngakak kalau pas inget gimana tuh maba selalu aja nyari masalah sama si Alin," Taufan tertawa.


"Caper kali!" tukas Budi.


"Wooo bisa jadi! Ahahahaha!"


Rima menyenggol pundak Aylin sambil tersenyum menggoda. Namun, cewek itu hanya mendecih lalu membuang muka dengan kesal.


"Kita langsung pulang kan?" tanya Taufan memastikan.


"Iyalah," sahut Budi cepat. "Eh tapi mampir beli minum dulu deh, haus banget coy. Mana tadi teriak-teriak di dalam."


"Yeee itu mah salahmu sendiri ngapain sok heboh teriak-teriak nggak jelas," tukas Rima.


"Itu namanya selebrasi!"


"Terserah deh."


"Eh iya gaes," Aylin tiba-tiba bersuara setelah sejak tadi hanya diam saja. Mereka tengah berjalan keluar dari Lab Karawitan setelah kondisi tidak terlalu ramai dan berdesakan karena banyak orang yang mau keluar.


"Kalian duluan aja ke tempat parkir. Nanti tak susul. Ada urusan tapi cuman bentaran doang kok," katanya. Belum sempat keempat sohibnya merespon, cewek itu sudah ngacir pergi terlebih dulu ke arah yang berlawanan dari tempat parkir. Lebih tepatnya kembali ke Lab Karawitan.


"Kenapa tuh?" tanya Budi heran.


"Auk," Taufan mengangkat kedua bahunya.


"Ada yang ketinggalan kali," kata Naufal. "Yaudah yok. Kita tungguin aja di tempat parkir."


Yang tidak diketahui para sohibnya, Aylin sebenarnya berniat menemui duta kampus terpilih. Tahulah ya siapa.


Dan sebelum kalian berpikir aneh-aneh soal kenapa Aylin ingin menemui Kayvan Candra sang duta kampus terpilih? Cewek itu ingin segera menuntaskan langsung janjinya.


Alias masalah deal-dealan tempo hari. Biar segera rampung dan tidak perlu berurusan lagi dengan maba itu.


Setelah bertanya ke panitia yang ia temui di jalan, Aylin lalu segera menuju tempat di mana kira-kira duta kampus berada.


Ketika Aylin berjalan melewati lorong di dekat ruang ganti, cewek itu malah bertemu sang tersangka utama di sana.


"Kak Aylin!" seru Kayvan dengan wajah sumringah. Dan dengan bangga, cowok itu memamerkan hasil kemenangannya. Di mana dia mengenakan selempang bertuliskan duta kampus dan membawa buket bunga besar.


Aylin mendecih kesal ketika cowok itu bisa-bisanya tersenyum angkuh ke arahnya. Dia juga mengerling dengan jenaka.


"Jangan lupa sama janjinya Kakak ya," kata Kayvan.


Aylin memberengut kesal. "Iya, iya!" ucapnya dengan enggan.


"Dan aku ke sini juga mau menyelesaikan itu. Jadi, cepat katakan! Apa yang kau inginkan?"


Kayvan terkekeh melihat seniornya terlihat begitu tidak ikhlas.


"Tapi Kak, kalau saya bilang sekarang jadinya kurang pas," katanya. "Saya juga belum memikirkan apa yang saya mau."


Terlihat Aylin semakin kesal mendengarnya. Kalau diibaratkan sedang dalam kartun, mungkin akan muncul perempatan imajiner di kepala Aylin. "Hoi! Bisa nggak sih nggak usah main-main? Cepat katakan!"


"Tapi sebelum itu, saya mau bertanya pada Kakak. Lagu yang saya nyanyikan tadi menurutmu bagaimana Kak?" tanya Kayvan sambil tersenyum.


Aylin mengerutkan dahinya bingung. "Lagu? Yang mana?"


"Yang kedua Kak."


Cewek itu terlihat berpikir. "Hmm... lumayan." Iya kan? Maksud juniornya ini soal penampilannya di lagu kedua itu kan? Suaranya cukup bagus kok.


Sayangnya, Aylin tidak melihat senyum Kayvan yang sedikit luruh. Oh, sepertinya bukan itu yang dimaksud oleh seorang Kayvan Candra.


"Sudahlah. Cepat kata—," perkataan Aylin terpotong.


"Permisi... Mohon maaf menganggu, kami dari LPM Narasi boleh minta waktunya sebentar untuk mewancarai duta kampus terpilih?"


Dua orang mahasiswa yang mengaku dari LPM Narasi datang mendekat. Yang satu membawa kamera dan yang satunya lagi membawa buku catatan dan alat perekam. Keduanya mengenakan kartu pengenal dari Lembaga Pers Mahasiswa Narasi.


"Aku pergi saja."


"Eh?! Tunggu dulu Kak—!"


Belum sempat Kayvan mencegah kepergian Aylin, tetapi cewek itu sudah berjalan menjauh. Sementara kedua orang dari LPM Narasi tersebut menahannya untuk meminta waktu untuk wawancara.


"Kak, bisa ceritakan mengenai...."


"Bagaimana menurutmu terkait...."


Pada akhirnya, dengan terpaksa Kayvan melayani sesi wawancara itu dengan sopan. Sesekali matanya menatap arah ke mana seniornya pergi sebelum fokus ke wawancara.


Sayang sekali ya.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


sengaja lebah cepat up karena emang part ini udah siap. sebenernya mau dia hari yg lalu, tapi baru sempat sekarang. untuk part berikutnya blm tau mau side story dulu apa lanjutan ini.


btw, ini bagian final dari part aylin ya. ke depannya bakal balik ke kayvan, tapi bakal selang-seling gitu tergantung alurnya gimana


aannnddd..... uhuy maksud si kayvan apaan tuh, wkwk. so, dari chapter ini apa yang bisa disimpulkan? 🤭


see you^^


p.s. masih slowburn, nikmati aja prosesnya